
Pak Rendi menatap kami berdua dengan kening berkerut.
“Bu Ariel,” ia memangggilku, “Saya rasa hari ini terakhir ibu mengajar di sini ya, manfaatkan sebaik mungkin kondisinya, buat perpisahan yang berkesan dengan teman-teman.”
Aku menarik nafas, lalu mengangguk, “Maafkan saya Pak, saya egois selama ini.”
“Apa boleh buat, tapi saya yakin kamu akan kembali ke sini kok. Semakin saya pikirkan saya semakin memihak kamu. Karena menurut saya, kalian melakukan semua itu demi kebaikan banyak orang.”
Aku mengangguk.
Aku melirik Ariel yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Di saat begini dia malah mainan hape? Aku benar-benar harus menegurnya untuk masalah sopan santun.
“Claudia...” panggilnya.
“Apa?” aku agak emosi saat menjawab.
“Kamu viral.”
“Hah?”
“Kamu vital di TikTok.”
“Viral gimana?”
“Nih,” dan ia menyerahkan ponselnya.
**
“Tante ini sudah menikah dengan orang lain, tapi menginginkan pacarku kembali padanya. Poliandri tuh dilarang woy Tante!”
Caption ini tertulis dengan huruf capital di layar ponsel. Sudah dilihat sebanyak 400k pengguna.
Aku marah.
Jelas saja aku marah, aku sampai gemetar marahnya.
“Siapa Sierra?” aku menunjuk penyebar video.
“Itu influencer yang lagi booming, cewek yang di sebelah Arka,”
“Ooooh, ini pacar Arka,” aku mengucapkan kalimat ini dengan nada mengejek. “Influencer kok viralnya karena menyebarkan berita negatif.”
“Tapi dilihat dari mana pun, captionnya sih benar, kamu tidak bisa mengelak. Kesalahan kita di masa lalu.” Kata Ariel.
“Aku sudah tidak peduli sama Arka.”
“Kalau begitu jangan marah. Toh kita mau keluar dari sini,”
“Ya tapi gimana?! Mana mungkin aku nggak marah!” semburku.
Pak Rendi terkekeh, “Kali ini saya memihak Ariel yang Clodio. Terima saja bulat-bulat semua hujatan Bu Ariel, toh itu ladang pahala. Hahahahah!”
“Astaga... bapak ini...”
“sebentar, sini kamu...” Pak Rendi melambaikan tangan padaku, aku menghampirinya. Lalu ia mengulurkan tangan padaku dan menjabat tanganku. “Terima kasih untuk dua tahun yang berkesan, saya sangat terbantu selama ini dengan keberadaan kamu, melebihi karyawan yang lain. Belum ada guru yang mengajar sebaik kamu, di lain pihak menyelesaikan masalah dengan gagah berani tak gentar untuk masalah murid dan walmur.”
Aku hanya diam tak bisa berkata-kata.
“Di luar sana, tetap dukung suami kamu. Dunia ini keras, dan kalian berdua masih muda. Kalian perlu mendorong satu sama lain untuk move on. Heh, bocah ileran, jaga istri kamu nih! Nggak beres saya ambil nanti!” seru Pak Rendi.
“Eh, jangan dong Paaak! Laaah selama ini memendam perasaan rupanya ya! Lancang benar Anda iniii!” seru Ariel sewot.
Kalau dengan Pak Rendi, jelas dia akan kalah di segala bidang.
“Makasih Pak Rendi karena sudah mengakui saya.” desisku. “Dari semua orang disekitar saya, bapak adalah teman terbaik saya.”
Lalu Aku dan Ariel meninggalkan ruangan Pak Rendi dengan hati lega.
Satu masalah selesai.
Tinggal satu lagi...
**
Saat kami kami keluar dari ruangan Kepsek, dan berjalan sampai tiba di koridor sekolah....
Semua orang menatapku.
Pandangan mereka sinis sekali.
Beberapa bahkan bisik-bisik.
Tatapan itu terus menerpaku saat memasuki ruang guru.
Saat itu memang dalam keadaan sedang waktunya istirahat siang, jadi suasana sangat ramai di sekitar kami. Ariel berjalan di sebelahku sambil mesem-mesem.
Sementara aku bahkan tidak ingin berjalan terburu-buru. Aku sedang merekam suasana sekolah, karena pasti akan merindukannya setelah resign.
__ADS_1
Seperti Gazebo di sana itu, tempat aku digeret Anggun karena dikira aku memiliki hubungan cinta dengan Rio. Lalu podium tempat Ariel disemprot Apar. Lalu aula tempat aku pertama kali melihat Ariel.
Ruang BK tempat aku sering menyeret murid-murid semprul yang bisanya membully murid lain.
Dua tahunku cukup bermakna di sekolah ini.
“Guru kok murahan...” terdengar desisan anak di sekitarku.
Aku menoleh padanya.
Davina...
Lagi-lagi dia.
Aku lupa dia masih ada di sini.
Keysha dan Hana sudah dikeluarkan dari sekolah, dan Davina masih harus menyelesaikan banyak tugas untuk mengharumkan nama sekolah ini. Tingkahnya memang begitu, tapi dia pintar dan cerdas. Andai saja ia memakai sedikit bagian otaknya untuk mengangkat derajatnya juga. Pasti sudah sempurna packagingnya.
“Apa? Coba ucapkan dengan lantang, Davina.” Tantangku.
Kudengar Ariel terkekeh di belakangku.
“Saya lagi mau cari ribut nih, boleh juga lah saya bully kamu, secara sudah bukan guru di sini lagi ya,”
“Hah? Bukan guru di sini lagi?!”
“Nikmati kelulusan kamu, saya tidak akan ada di sini. Tapi Pak Rendi akan mengawasi kamu secara intens menggantikan saya. “
“Pak... Pak Rendi? Nggak bisa guru lain saja? Seharusnya kan Bu Jenny!”
“Jenny akan diminta memegang matpel Bahasa Inggris karena keberadaannya sebagai guru BK tidak berfungsi. Jadi posisi Guru BK langsung dibawah Pak Rendi!” desisku.
Wajah Davina langsung pucat.
“Mam pus kau...” gumamku sambil terkikik licik. Sengaja dia kutakut-takuti. Siapa pun tahu Jenny juga pembully. Tapi belum ada buktinya saja. Tingkahnya juga nyeleneh, jadi harus diambil tindakan tegas untuk memberinya ‘healing’ sementara waktu.
“i-i-ibu juga tindakannya tidak pantas sebagai guru! Suci di depan, binal di belakang! Nih buktinya! Jejak digital akan selalu ada!!” serunya mencoba mempermalukanku.
Tampak siswa lainnya menganggukkan kepala mendukung Davina.
“Ya kamu kan juga pernah ketemu Arka waktu di cafe Davinaaaaa! Waktu kamu french kiss Ariel di depan kami! Kamu kan juga tahu Arka itu pacar saya! Semua di sini juga tahu Arka pacar saya! Dia kan sering jemput saya di sekolah! Yang datangnya pakai BMW 5 Series itu loooh!”
Kulihat Davina langsung mencibir.
Sebagian anak-anak langsung bilang “Oh iya... ini cowok kacamata yang sering jemput Bu Ariel.”
“Yah, nggak beres nih!”
“Yah tapiii...” aku berujar lagi. “Dia benar sih! Saya sudah menikah tapi tetap mengharapkan dia kembali. Karena dijodohkan. Saya menikah karena dijodohkan oleh keluarga saat saya pacaran sama Arka. Sudahlah, anggap saja video itu benar. Yang salah itu hanya kata-kata ‘Tante’ ya! Saya ini masih 24 tahun, belum jadi Tante! Enak saja!!”
“Tapi bu-“
“Nggak usah komen apa-apa tentang video itu, mungkin itu caranya si influencer cari uang, dengan sensasi. Sebentar lagi juga kana ada yang menghubungi saya minta konfirmasi. Kalian baik-baik ya di sekolah... belajar yang bener, kalian semua ini calon Boss! Makan tuh strategy manajemen sampe pingsan!” seruku sambil melenggang ke arah ruang guru untuk membereskan barang-barangku.
“Bu tunggu dulu dong bu!” Merry mengejar-ngejarku, “Ibu resign jadi guru? Kenapa bu?!”
“Yaa banyak insiden,”
Aku membuka pintu ruang guru. Kulihat teman-temanku sedang berbicara berkumpul. Mereka langsung menegakkan tubuh saat aku masuk.
Mereka pasti sedang membicarakanku.
Terutama tampang Jenny yang mode nyinyir sekali.
“Insiden macam apa yang bisa membuat guru sebaik ibu resign?! Kami semua butuh pengajaran ibu untuk bisa lulus!” seru Merry. Tampak Davina juga masuk sambil panik.
“Buuu! Bu! Saya nggak bisa kalau sama Pak Rendi! Mau sampai jungkir balik dia bakal nyiksa pakai tugas yang menggunung! Otak saya juga punya kapasitas walau pun peringkat saya tinggi! Mending ibu aja lah yang ngajar saya!” serunya.
Kenapa dia jadi merajuk padaku?! Dasar labil...
“Masih banyak guru lain woy! Itu berderet tuh!” desisku.
“Ini SMA Bhakti Putra Bangsa bu! Sekolahnya para pebisnis muda! Pengajaran ekonomi yang ibu terapkan banyak dipakai di realita!” seru Merry makin panik.
“Guru yang lain payah bu, hanya ngajarin teori karena mereka bukan praktisi! Dilepas dikantor juga mereka hanya jadi staff biasa!” seru Davina.
Aku tidak terbayang wajah teman-temanku mendengar penuturan Davina yang kasar namun makjleb. Yah... guru jaman sekarang memang harus lebih kritis, kalau perlu On The Job training dikantor-kantor dulu sebelum benar-benar terjun ke bidang mereka.
“Kalau Bu Ariel resign gara-gara viral, saya akan hubungi pihak yang bisa dibayar buat buzzer ya, asal ibu tetap di sini!” seru Davina
“Media sosial banyak berita bohong bu, jangan terpengaruh!” ujar Merry.
“Saya resign bukan gara-gara viral! Enak saja... saya juga masih punya harga diri kali!” desisku.
“Lalu kenapaaa?!” seru Merry dan Davina serempak.
Merry dan Davina... mereka mungkin setelah ini akan jadi sahabat. Saling melengkapi soalnya. Musuh tapi Teman.
Aku menghela nafas panjang.
__ADS_1
Lalu tersenyum ke arah mereka.
Mencoba tegar untuk membuat semua tenang. “Suami saya, butuh saya.” Hanya itu yang kukatakan.
Tanpa menyebut kalau suamiku ada di sampingku.
Biar mereka tahu sendiri saja, kalau pun tidak tahu ya sudah, lebih baik lagi. Aku tidak ingin SMA ini tercoreng karena perbuatanku.
Siapa suamiku, biarlah jadi rahasia.
“Jadi ibu benar-benar menikah karena dijodohkan?!” tanya Davina.
“Ya,”
“Kok ibu mau!? Kan ada Arka -Arka itu! Bagaimana sih bu?!”
“Warisannya 10 miliar.”
“Oh ya jelas mau ya. Saya juga akan begitu.” Jawab Davina cepat. “Kalau perlu kongsi sama Arka biar tunggu sampai saya cerai...”
Lah kenapa persis sekali dengan niatku dari awal.
“Tadinya begitu, Vina... Tadinya begitu. Percayalah saya berulang kali minta cerai.” Aku mulai membereskan barang-barangku ke plastik sampah hitam yang besar. Sulit mencari kardus secara mendadak, yang ada hanya plastik.
“Lalu apa yang terjadi? Pernikahan ibu hanya membuat semua rencana kacau! Saya dengar ibu mau ambil gelar di Inggris, itu jadi atau tidak?!” tanya Merry khawatir.
Manis sekali ya dia, mengkhawatirkanku sampai seperti ini.
Ariel membantuku memasukkan barang-barangku ke plastik, sementara aku menghadap Davina dan Merry.
“Impian saya masih bisa diraih lain waktu. Gelar itu bisa segera datang seiring waktu. Yang penting, kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan ke Tuhan, terpenuhi dulu.”
“Ibu, masih bisa menjadi istri sekaligus menjadi guru. Tidak harus resign. Tolong berilah pengertian ke suami ibu,” desis Merry.
“Saya sudah berjanji kepadanya untuk melalui ini semua bersama-sama. Kalau dia keluar, saya juga harus keluar, demi nama baik semuanya,”
“Saya nggak ngerti maksudnya, Mana suami ibu?! Biar saya yang ngomong!!” seru Davina muali tak sabar.
“Apa?” terdengar kalimat Ariel menanggapi Davina.
Astaga... aku padahal berharap dia tak ambil suara.
Kacau semua rencanaku.
Sabar sedikit kenapa sih...
Tapi aku juga tak bisa menyalahkannya juga sih.
“Suaminya Bu Ariel ada di sini, udah ngomong aja,” kata Ariel.
“Mana?” tanya Davina sambil melayangkan pandangan ke seluruh ruangan.
“Aku.” Ariel mengeluarkan Kartu Nikah sialan dari dalam dompetnya.
Kenapa sih kartu itu harus dia bawa kemana-mana...
Kenapa juga harus ada teknologi yang bisa menjadikan buku nikah berwujud seperti kartu biar bisa dibawa kemana-mana?! Tadinya ku pikir itu praktis, tapi di saat seperti ini aku malah mengeluhkan teknologi semacam ini. Ariel membawa-bawa itu di dompetnya seakan-akan pamer dan bangga akan statusnya. Cute, sekaligus bikin malu.
Tapi... kenapa aku harus malu ya? Memang kenyataannya begitu.
Duh, aku dong yang plin-plan sekarang?!
Davina sampai limbung saat melihat kartu itu, yang begitu dibalik ada fotoku dan foto Ariel, juga tanggal akad kami, dengan QR Code yang kalau diklik langsung menampilkan info lengkap mengenai pernikahan kami yang terhubung ke dengan aplikasi SIMKAH Web Kemenag.
“Astaga... a-a-astaga.. Ya Tuhan... nafasku sesak!” Davina merogoh inhaler di kantong roknya dan menghirupnya dalam-dalam.
“Saya baru tahu kamu punya asma,” tanyaku
“Nggak suka kambuh, tapi sejak kemarin saya ditampar Papa, jadi kambuh lagi...” Davina tampak mengatur nafasnya sambil duduk.
Dan saat aku sadar kartu nikah itu sudah beredar sampai ke ujung ruangan.
Semua menatapku kami dengan terperangah.
“Ini sih memang harus keluar dua-duanyaaaaa,” keluh Merry.
“Kan?” gumam Ariel.
“Kak Ketos bikin gara-gara aja sih!!” seru Merry mesal. “Sudah saya digebuki gara-gara Kak Ketos, sekarang saya kehilangan pijakan gara-gara kakak juga!” Ia memukul Ariel dengan buku dia tas mejaku.
Baru kali ini aku melihatnya emosi.
Mungkin ekskul taekwondo yang ia ikuti juga mengajarkan bagaimana cara melampiaskan emosi agar jadi lebih pede menjalani hidup.
“Rejoprastowo... Ranggasadono... Ya Ampuun gue baru inget doooooong!! Ah gilaaaa!! Wajar kalo dijodohiiiin! Nama depannya sama pulaaaa itu pertanda dari awal! Ah bego banget gueeeeee!! Ah Elaaaahhh! Patah hati lagi gueee!!” seru Davina frustasi.
Lucu ya cara anak-anak ini melampiaskan emosi.
hehe
__ADS_1