Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Pertengkaran Kami


__ADS_3

“Jadi kamu ternyata inti masalahnya? Kamu pacaran sama empat anak sekaligus?” Pak Darsono menanyai Ariel dengan tangan terkepal. Aku yakin sebentar lagi bogem mentah itu sudah menyerang rahang Ariel. Mengingat ke Davina yang anak perempuannya sendiri saja ia tidak segan-segan.


“Saya tidak pernah pacaran dengan mereka Pak, saya punya pacar, tapi bukan mereka.” Kata Ariel tegas.


“Siapa Riel? Selama ini kita-“


“Davina,” aku memperingatkan Davina agar ia tidak keceplosan. Bisa-bisa nanti dia malah celaka. Ia harus ingat kalau habis dari sini ia masih akan tinggal serumah dengan ayah ibunya. Jadi ia harus bisa jaga sikap. “Pak Darsono, yang saya baca, semua anak ini suka sama Ariel dan mereka memperebutkan Ariel tapi cinta monyet secara sepihak. Arielnya sendiri tidak responsif. Betul begitu Mas Ariel?!” tanyaku.


“Ya begitu.” Kata Ariel. “Saya bahkan sangsi Merry suka sama saya, muka ditekuk melulu kalau ketemu saya.”


Tapi aku melihat wajah Merry merah.


Ternyata dia juga suka Ariel. Aku semakin memonyongkan bibirku, mencibir.


“Saya melarang Merry pacaran karena bisa mengganggu kegiatan belajarnya.” Kata papa Merry.


“Saya juga tidak pernah berinteraksi dengan Hana dan Keysha Pak, bu...” kata Ariel.


“Memang kamu suka sama yang mana?” iseng Pak Rendi bertanya.


Ariel melirikku sekilas, “Pokoknya saya sudah punya pacar dan itu bukan mereka berempat ini.” Jawab Ariel tegas.


Pak Rendi terkekeh, “Lagi-lagi pertengkaran yang tak ada dasarnya... perebutan cinta yang tak nyata. Bosan ah. Sekali-kali perebutan warisan gitu biar seru.” Gumamnya.


Tapi terus terang saja aku kasihan menatap wajah Davina yang langsung tampak bodoh. Dia menatap Ariel dengan nanar, dan tampak berkaca-kaca. Tampak sekali kalau ia begitu mendambakan Ariel.


Aku pernah di posisinya, saat hatiku tertambat pada mantan kekasih.


Boleh jadi, Ariel lah penyemangat hidupnya selama ini, sumber keceriaannya.


Pelampiasannya dari keluarganya yang kejam.


Dan kini gadis ini malah tak diakui.


Mungkin perbuatan mereka sudah dinilai terlalu jauh oleh Davina, sampai gadis ini sangat yakin kalau ia adalah pacar Ariel, padahal Ariel tak menjanjikan apa pun padanya,


Karena terkadang ada gadis baper yang menganggap sebuah sapaan sebagai rasa cinta, dan ciuman adalah klaim hubungan. Padahal bukan. Untuk Ariel... dia sudah sampai berciuman dengan Davina bahkan nonton bareng dan dengan kata-kata mesra, sepertinya...


Ah tidak! Tidak! Jangan berprasangka buruk dulu.


“Dilihat dari video, Merry sudah tersungkur di lantai. Davina datang belakangan. Siapa yang menendang Merry?”

__ADS_1


Tidak ada yang mengaku, semua menunduk.


“Kalau tidak ada yang bilang, Hana dan Keysha akan kami kel-“


“Keysha yang mendorong.” Jawab Hana cepat.


“Apa sih lo! Lo kan juga pernah nyundut rokok ke betisnya!” seru Keysha panik


“Mana buktinya? Heh? Ada jejak sosial medianya nggak? No video, hoax!” seru Hana.


“Heh, An jing lo ya! Banyak saksinya!”


“Davina yang menyuruh kami. Kami nurut saja karena takut. Kalau kami tak lakukan, dia akan membuat posisi kami sama seperti Merry!” kata Hana lagi mengaku ke kami semua.


“Heh Ba bi lo ye! Lo yang ngusulin! Lo yang ngomporin gue!” bentak Davina. Di sini dia sudah kehilangan sopan santun karena posisinya terancam.


“Ngusulin bukan berarti lo terima, lagian kalo gue nggak pura-pura pro ke elo, lo pasti bakal nyuruh follower lo buat ngebully gue juga kan?!” seru Hana.


“Kali lo bakalan mati di tangan gue kalo ini semua udah selesai ya!” ancam Davina.


Pak Darsono akan buka suara, tapi aku cegah. Dia harus tahu bagaimana kelakuan anaknya di sekolah. Anak adalah cerminan orang tuanya, bukan guru. Orang tua mewariskan 10x kebaikan dan 10x keburukan mereka ke anaknya. Walau pun anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah atau pun bersama teman-temannya, tapi yang namanya hubungan batin orang tua tetap terjalin sampai akhir.


“Ariel bukan milik lo denger tuh! Kayak orang bego selama ini gue ngalah sama lo! Cuma karena lo maksa Ariel buat ciuman sama dia! Lo bukan siapa-siapa Vin!” seru Keysha


“Gue juga udah ciuman sama Ariel, lo aja yang kegatelan!” desis Hana.


“Sejak kapan!”


“Di club banyak yang terjadi! Lo semua ke-GR-an!!”


Dan berikutnya mereka bertiga terdiam


Menyadari kalau curhat mereka ke sesama adalah di waktu yang salah dan tempat yang salah.


Orang tua mereka ada di sini.


Ariel benar-benar biang kerok ternyata.


Kami semua akhirnya menatap Ariel yang hanya duduk santai di pinggir meja Pak Rendi.


“Apa? Ditawari gratis ya saya ambil saja. Yang penting saya nggak balas dan nggak pernah duluan minta.” Katanya enteng.

__ADS_1


Aku hanya menatapnya tajam.


Ia balas menatapku dengan pandangan tak terima.


“Apa bu? Fokuslah ke Merry, saya nggak membully Merry, mereka sendiri yang seenaknya suka dengan saya!” sahut Ariel menyadari kalau aku kesal padanya.


Tak perlu dijelaskan juga, aku sudah muak dengannya.


“Keputusan di tangan Pak Rendi.” desisku. Aku berniat melangkah ke pintu keluar, tapi tangan Ariel mencengkeram lenganku.


“Ini bukan salah saya!” ujar Ariel kepadaku.


“Kamu selalu begitu dari dulu! Dari sejak Papah- Pak Aaron meminta bantuan saya untuk memasukkan kamu ke sini saya sudah berpikiran buruk tentang kamu! Tak bisakah kamu kalem sedikit saja nggak bikin gara-gara Ariel?!”


“Lalu saya terima-terima saja dipukuli, dibegal dan diterjunkan ke lubang lumpur begitu? Saat saya membela diri malah saya yang dituduh salah! Yang ini juga! Nggak ada angin nggak ada hujan mereka duluan yang menyerang saya!”


“Ariel! Di pukuli preman dan diajak ciuman dirayu untuk gre pe gre pe, berbeda jauh! Yang ini kamu bisa tolak langsung! Dasar kamunya aja kucing garong, amis dikit kamu garap!”


Entah ada apa dengan diriku.


Aku begitu emosi mendengar hubungan Ariel dan ketiga gadis ini.


Di lain pihak sebenarnya aku percaya Ariel tidak berbuat apa pun lebih jauh dari ciuman dan membelai kepada teman satu sekolahnya. Dia pernah bilang hubungan semacam itu dalam satu sekolah bisa berbahaya.


Lalu... dengan siapa Ariel biasa memadu kasih? Siapa yang ia sering ajak ke hotel...


Astaga kepalaku langsung pusing saat memikirkannya.


Aku pun tak tahan lagi, dadaku sesak.


Aku akhirnya keluar dari ruangan Pak Rendi.


Tapi sempat aku mendengar Ariel berteriak depresi ke Davina dan yang lain kata-kata.


“Awas lo semua ganggu-ganggu hidup gue lagi! Nggak ada dua kali gue mau kenal lo semua!!”.


Kudengar dari luar, tangis Davina langsung pecah. Cewek itu meraung meminta Ariel kembali.


Aku segera lari ke tempat yang tak bisa dijangkau Ariel.


Aku tahu dia sedang mengejarku.

__ADS_1


**


__ADS_2