
Shay, kayaknya kamu dipelet deh!
Kalau kamu menikah karena warisan, bisa dong sambil selingkuh denganku. Toh pernikahan kalian hanya kontrak. Warisan di dapat, kita kabur. Bagaimana?
Ngapain sama cewek tua jutek pula sih Riel? Aku lebih kaya dari dia kali, kamu mau apa bisa kubelikan! Warisan yang dikasih paling juga nggak seberapa dibanding duitku di rekening!
Ariel sayang, tahu tidak? Survey membuktikan kalau pernikahan karena warisan biasanya tidak bertahan lama? Setahun dua tahun paling cerai.
Perlu aku sebar foto kita waktu di club? Tangan kamu pas difoto terlihat jelas lagi masuk G-5trin9 ku loh.
Dan banyak lagi pesan singkat dari cewek-cewek di hape Ariel yang membuatku geleng-geleng kepala.
Lalu kulihat sisa WA yang menurutku menarik.
Foto pas lagi pesta gituan. 1 vs 4. Anggota tubuh Ariel terpampang jelas sedang masuk ke dalam mulut seorang wanita.
Apa yang dipikirkan Ariel saat hal ini terjadi? Apakah ia melakukannya dengan sadar?
Lalu ada lagi foto Ariel saat berada di kantor polisi, duduk di depan petugas kronologis dengan wajah babak belur. Kondisi seperti itu dia masih sempat tersenyum sinis dan memasang tanda ‘peace’ di tangannya.
Kelakuan brengsek seperti ini membuatku memaklumi kalau tak ada sekolah yang menerima Ariel sehingga Papah harus minta bantuanku untuk memasukan Ariel ke Bhakti Putra. Keberadaan cowok ini bagai benalu, contoh buruk bagi semua siswa.
Lainnya adalah kiriman wa dari cewek-cewek, seperti sedang ciuman, sedang mabok, sedang di atas podium lagi ngeband, sedang di dalam kolam renang... hm? Kenapa banyak foto di dalam kolam renang? Lalu banyak lagi fotonya sedang di ‘atas’ atau di ‘bawah’ penari s tripx. Ariel mengenakan celananya saat sedang penari itu, tapi entahlah bagaimana kejadian di balik panggungnya. Yang jelas ia ‘bekas’ banyak cewek.
Semakin kulihat semakin kesal saja.
Namun... perasaan marahku berubah saat melihat jawaban Ariel ke cewek-cewek itu.
Hampir semua pesan ia jawab : Makasih atas semua perhatian kamu selama ini, kuharap kamu juga menemukan seseorang yang baik untukmu.
Astaga... suamiku. Betapa jawabannya membuatku langsung berbunga-bunga.
Dia menganggap aku ‘baik’ untuknya. Dia menggunakan kata ‘baik’ dan bukannya ‘sempurna’. Dan aku senang akan hal itu Karena kata ‘sempurna’ kurasa maknanya ambigu. Selera kita sebagai manusia yang diciptakan tidak pernah puas pasti memiliki standar sempurna yang berbeda-beda seiring dengan waktu yang berjalan.
Waktu kecil aku menganggap Nicholas Saputra itu cowok sempurna, sekarang kuanggap Sandiaga Uno yang sempurna. Udah ganteng, pengusaha, pejabat pula... tapi seandainya dapat yang sempurna seperti mereka pun, apakah baik untukku? Bisa melengkapi diriku?
Jadi kata-kata Ariel kuanggap benar adanya.
Suami bocahku masih tidur di sebelahku, tangannya masih melingkar di pinggangku. Aku bangun duluan karena biasa bangun subuh. Karena nggak bisa turun juga, kaitan lengan Ariel lumayan kencang, jadi aku ambil hapenya di atas nakas dan kubuka-buka saja untuk mengatasi kebosanan.
Tadinya pas baca WA di awal sih emosi. Ingin sekali membangunkannya untuk marah-marah.
Tapi sekarang aku malah jadi senyum-senyum sendiri.
Bagaimana kalau ia kupancing? Bagaimana kalau kubilang aku ingin diperlakukan sama seperti wanita-wanita di foto ini, karena kupikir ia menikmati servis wanita-wanita ini padanya. Apakah ia akan setuju?
Kucondongkan tubuhku ke arah wajahnya dan kukecup dahinya.
“Bangun, solat,” gumamku.
Lalu kutunjuk-tunjuk pipinya, hidungnya, kugelitiki lehernya.
“Hmmmh!” dia menggeliat, melepaskan lengannya di pinggangku, dan malah berbalik arah ke samping sana. Memunggungiku.
Lanjut tidur.
__ADS_1
“Ariel, Ariel...” panggilku.
“Hmmmm...” gumamnya.
“Kenapa foto kamu sama cewek-cewek kebanyakan di kolam renang?”
“Biar cepet h0rny-nya.” Jawabnya.
“Oooh...” desisku sambil manggut-manggut. Mungkin lain kali akan kucoba praktek-kan. Bercinta di dalam kolam.
Gratak!!
Ariel langsung bangun dan duduk tegak sambil menatapku dengan kening berkerut. Lalu ia merebut ponselnya yang masih berada di tanganku.
“Lupakan semua yang kamu lihat di dalam sini,” geramnya.
“Nggak mau lupa.” jawabku
“Tolonglah Claudia, itu semua hanya masa lalu. Tidak ada hubungannya dengan kita. Aku bahkan belum ada di Bhakti Putra. ”
“Aku mau diperlakukan se-seru itu...”
“Hah?!”
Aku menyeringai.
“Ini, ini...” aku menunjukkan fotonya bersama salah satu wanita yang tampak berada di pangkuannya, aku mau coba ini, aku di atas,” desisku.
“Hah?!”
“Nggak usah! Kamu bukan mereka,”
“Tapi aku mau coba,”
“Malah akan membuatku membanding-bandingkan kamu dengan mereka. Aku nggak mau, lagian nggak seenak itu, aku lagi mabok, liat tuh mukaku beler gitu! Saat dalam pengaruh alkohol, kotoran pun terasa enak!”
Aku lalu tersenyum.
Dan mengecup bibirnya sekilas.
“Terima kasih sudah menyayangiku.” Kataku.
Aku hanya bercanda tadi. Ingin saja lihat reaksinya.
Dan ternyata, ia lagi-lagi berhasil membuatku luluh. Ia tidak ingin menyamakanku dengan wanita-wanita murahan di sekitarnya.
Ia masih terpana memandangiku.
Aku tiba-tiba salah tingkah sendiri. Kenapa dia menatapku seakan sedang turun bidadari tercantik dari khayangan di depannya?
“Aku menyukaimu dari dulu, aku menyayangimu saat kita bertemu lagi, dan kini aku mencintaimu sekakan kamu bagian dari diriku.” katanya selanjutnya.
“Bagaimana kalau-“
“Tidak ada bagaimana, itu takdir Tuhan." Ia memotong ucapanku. "Saat ini yang kutahu, aku ingin bersamamu. Itu saja. Tidak usah memikirkan hal-hal buruk lain.”
__ADS_1
Aku menyeringai.
“Ya sudah, sana bangun, mandi, sholat. Mumpung masih jam segini. Aku sedang haid, tapi kayaknya besok sudah selesai Jadi kita sholat jamaah, belum pernah sholat jamaah kan kita.”
"Iya ya, hehe," dan selanjutnya dia turun dari ranjang dan masuk kamar mandi.
**
Saat Ariel sedang di Sholat, aku mendapat telepon dari Raden Arya.
“Ya Baron?”
“Hey, ganggu nggak?”
“Kamu telepon tengah malam pun pasti akan kurespon,” kataku.
“Suatu kehormatan Bu Guru. Jadi... kamu tahu siapa yang namanya tertera disertifikat induk rumah Rawamangun?”
“Siapa?!”
“Rejo Prastowo.”
“Serius kamu?! Itu rumah Mbah Rejo?!”
“Ya, dan lalu dicoret satu garis, sebagai tanda kalau Sertifikat itu dibalik nama kemudian. Tebak siapa pemilik barunya?”
“Siapa? Bu Kencana?”
“Bukan. Bu Kencana malah pemilik ketiga. Kamu kenal... Dewi Rukmini?”
Seketika bulu kudukku langsung meremang.
“Tahu... aku tahu nama itu. Dia hantu penunggu gapura.”
“Hantu penunggu gapura?! Bukan, aku tidak pernah menemui satu pun hantu di gapura itu.” Kata Baron terdengar yakin.
“Aku sering dirasuki dan tidak sadar berhari-hari. Kamu kan tahu aku sedikit sensitif dengan hal-hal ghaib,”
“Aku mau membahas sedikit yang kamu suka pingsan di depan gapura itu, yang di seberang Kebon pisang. Di dalam darah kamu tercampur kandungan propofol yang melebihi dosis, makanya kamu bisa tidur berhari-hari! Kamu tidak kerasukan, tapi ada seseorang yang mencampurkan itu ke dalam minumanmu sebelum kamu pergi, atau bahkan menyergapmu dengan Chloroform.”
“Hah?! Gimana?! Gimana?!” Seruku.
“Dokter memberikan laporan itu ke ibu kamu seharusnya. Coba kamu tanya beliau. Aku terakhir diberikan laporan medis kamu selama ini. Kupikir tadinya kamu sengaja menegak obat-obatan karena depresi dengan pernikahan ini dan segala hal berkaitan dengan warisan ini.”
“Aku tidak akan bertindak sebodoh itu Baron. Se-stress-stressnya aku.”
“Kalau begitu... ada yang ingin mencoba membunuhmu.”
“Hah?!”
Saat itu Ariel sudah selesai Sholat dan ia sedang menatapku, penasaran kenapa aku berteriak, jadi dia masih dengan sarungnya ikut mendengarkan dan duduk di sebelahku.
“Kami di kantor dari semalam menelusuri silsilah keluarga Bu Kencana. Kami belum menghubungi Pak Abel dan Pak Johan karena saat ini aku tidak percaya lagi kepada mereka. Dan salinan sertifikat itu mengarah ke satu nama. Dewi Rukmini. Anak Bu Kencana... Anak Bu Kencana bersama dengan Mbah Rejo atau Mbah Rangga dari hasil pemerkosaan waktu itu.”
“Anak yang tidak diinginkan!” seruku kaget.
__ADS_1