
“Kamu suka banget ya berdiri depan jendela...” Ariel memelukku dari belakang dan membenamkan wajahnya di leherku. Kami masih berada di Polsek Metro Pulogadung untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Aku dalam rangka mengistirahatkan otakku dari berbagai kemungkinan yang terjadi. Hanya berdiri di depan salah satu jendela di depan tangga darurat dan menatap ke arah jalanan di depanku yang macet.
Kuamati saja para pengguna jalan. Dengan pikiranku yang masih kosong.
Aku tak ingin memikirkan apa pun.
Kecuali satu hal...
“Pingin pulang dan tidur.” gumamku. Aku menoleh ke arah Ariel dan perlahan kusentuh bibirnya dengan bibirku.
Aku menciumnya di depan jendela, di kantor polisi.
Di depan orang-orang yang sedang bekerja dan berlalu-lalang.
“Claudia,” desisnya memperingatkanku.
"Mau pulaaang, mau tiduuur. Tapi sebelum itu kita mampir dulu ke Bakso Wonogiri ya? Ya? Ya?” aku mulai merajuk. Aku butuh makan yang enak.
“Bakso di depan sana aja ya? Enak juga kok aku dikasih tau Pak Ipda-“
“Nggaaaak mau bakso wonogiriiiii” aku mulai merengek.
“Iyaaa iyaaa, tapi pemeriksaan belum selesai.”
“Kita bukan pesakitan Arieeeel, nggak bakalan kabur! Nanti sore aja balik lagi ke sini boleh nggak?!”
“Aku tanya dulu yaaaaa, sabar,” dia melepaskan pelukannya.
“Orang lain aja yang nanya, kamu di sini aja temenin aku.” Aku kembali menarik lengannya dan kukalungkan di sepanjang pinggangku.
“Lah gimana coba?! Masa aku nanya sambil teriak-teriak dari sini?!”
“Oh gini toh ternyata kalau kamu lagi manja.” Arka sudah ada di belakang Ariel. Dia datang sambil membawa setumpuk dokumen. “Selama ini kamu di depanku sok-sok’an kuat ternyata.”
Aku sebal melihat wajahnya, jadi kubuang mukaku ke samping.
“Tergantung siapa yang kuhadapi. Kamu pernah bilang nggak suka cewek manja.” kataku.
“Iya maksudku kan manja yang drama dan selalu bergantung pada orang lain.” Timpal Arka
“Aku sedang jadi diriku sendiri saat ini, suamiku membolehkanku apa adanya.” Maaf saja kalau ucapanku ini menohok. Tapi aku ingin dia segera pergi dari sini.
“Hm...” Arka sedikit mengangguk. Aku hafal pose ini, dia sedang berpikir sesuatu yang serius. “Kurasa kalau benar-benar cinta, apa pun yang terjadi ke pasangan pasti terlihat baik saja dimata kita ya?”
“Aku menerimamu apa adanya dulu.” Gumamku.
“Maafkan aku. Aku yang salah.’
“Kumaafkan, tapi tidak kulupakan. Tolong jauhi aku.”
Lalu keadaan hening sesaat.
Sampai salah satu polisi berpakaian casual menghampiri kami, “Mas Arka, berkas dibutuhkan di ruang investigasi.” Katanya.
“Ah, baik Pak.” Jawab Arka.
“Untuk saksi, kalau mau pulang sebentar silakan, nanti kami panggil kembali kalau ada pemeriksaan lebih lanjut.”
Kupikir pasti Mas-mas polisi ini mendengar rajukanku ke Ariel barusan.
Maka segera kami hanya berdua saja, duduk diam di dalam mobil Raden Arya, dengan driver adalah teman-temannya yang bertampang sangar dan bertatto.
“Ariel, aku mau ngomong.” Kataku di mobil.
“Nggak bisa di rumah aja?”
“Kalau di rumah aku bakal lupa.”
“Omongannya susah nggak?”
Aku menghela nafas. “Ariel, kumohon...” aku mencengkeram tangan Ariel sambil menatap matanya, kuharap dia mengerti keinginanku saat ini. “Ini terakhir kalinya kita melakukan sesuatu demi keinginan orang lain. Mulai sekarang, tolong lakukan sesuatu berdasarkan keinginan kita saja, keluarga kecil kita sendiri saja. Kita juga memiliki mimpi sendiri Ariel. Aku capek begini terus...”
“Aku berpikiran sama sepertimu.”
“Mimpimu apa? Selama ini aku tidak pernah tahu.”
“Aku... entahlah aku punya banyak keinginan. Keliling dunia, Kulineran ke luar negeri, mendaki gunung, Nyewa sirkuit Mandalika untuk balap motor, loncat dari atas air terjun ke bawah, memelihara Macan...”
“Mimpimu, Ariel. Bukan keinginanmu. Mimpimu untuk kehidupan masa depanmu.” Desisku.
“Mimpiku... tapi jangan ketawa.”
Aku diam sejenak, “Boleh ketawa duluan nggak? Walau pun aku belum tahu jawabanmu.”
“Ya udah aku diam saja.”
“Ditanya malah diam.”
“Ya sudah.”
“Apa mimpimu? Janji aku nggak tertawa.” Aku membentuk tanda ‘damai’ dengan tanganku.
“Mimpiku... Aku ingin membuatmu selalu senang. Kamu tersenyum padaku setiap hari, bahkan di saat-saat kita bertengkar. Senyum dipaksakan pun tak apa asal aku jangan dianggap Tak Ada.”
Aku diam
Dia diam.
Yang terbahak malah dua orang di depan kami.
Kurang ajar.
Ya salahku sih ngobrol beginian di dalam mobil yang dikemudikan orang lain.
__ADS_1
“Susah kuwujudkan Ariel. Kalau marah aku nge-reog.” Jawabku.
“Nggak kuharapkan terkabul semua kok, namanya juga mimpi.”
“Mimpimu sederhana. Tapi sulit sekali.”
“Begitulah.”
Dan selanjutnya keadaan mobil hening.
Mereka membawaku ke rumah Papah. Dalam kondisi begini aku butuh banyak orang untuk menjaga kami, dan rumah Papah adalah pilihan yang tepat.
Kurasa sebentar lagi aku akan pindah ke sana. Tentunya kuharapkan, dengan ibuku juga.
**
Tidak, aku tidak pindah ke rumah papah.
Ibuku bilang, aku dan Ariel harus memiliki rumah sendiri walau pun ngontrak.
“Nduk, Mohon maaf, kamu dan Ariel harus tinggal terpisah dari Papah dan ibuk. Kalian ini sudah memiliki keluarga sendiri. Ya ngontrak boleh, ngekos boleh, atau tempati saja rumah Bapakmu itu loh. Renovasi sedikit sudah akan bagus lagi.”
Dan Papah ternyata setuju dengan ucapan ibuku.
Namun perasaanku seakan tidak rela melihat ibuku tinggal terpisah denganku.
Aneh deh aku.
Karena sehari-harinya dia tinggal bersamaku, rasanya aneh kalau tiba-tiba kami tinggal terpisah.
Ada rasa khawatir, ada rasa jengah, lebih banyak merindingnya sih saat melihat dia melihat ke arah Papah dengan tatapan penuh keromantisan. Apalagi saat mereka ngobrol berdua, rasanya kami ini hanya nyamuk.
Makanya kami disuruh tinggal terpisah.
“Kalian nikah dulu yang Sah baru aku mau disuruh tinggal misah,” kataku.
Pokoknya akan kuawasi mereka berdua. Aku ingin ibuku ini tetap ‘suci’ pokoknya.
Dalam posisi begitu, ponsel Ariel berdering. Ia mengangkat teleponnya namun tidak bilang apa-apa. Hanya kata ‘Ya Pak’ dan ‘kami segera ke sana’. Ariel mengangkat teleponnya. Wajahnya tampak berkerut.
“Sayang,” desisnya padaku, “Bu Kencana masuk rumah sakit lagi. Lapas bilang sepertinya sudah tidak bisa ditempatkan di kamar biasa, harus di bawah pengawasan psikiater.”
“Maksudnya...?” tanyaku.
“Rumah Sakit Jiwa. Dia mencoba bunuh diri. Dia membenturkan kepalanya di dinding berkali-kali, kencang sekali sampai napi lain ketakutan. Dia terus menerus meneriakkan nama Dewi Rukmini.”
Miris rasanya hati ini. Nyeri rasanya dada ini.
Harus jadi seperti ini akhirnya.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain sebisa mungkin menengoknya dan memberikan support padanya.
Sampai di RS Polri aku bahkan tidak bisa mendekat, Bu Kencana ada di dalam ruang operasi. Kepalanya retak parah.
Kami sama-sama terpukul.
“Apakah mungkin menghadirkan anak-anaknya di Italy ke Indonesia untuk memberikannya support?” tanyaku.
“Sudah kucoba. Dan herannya mereka malah tidak ingin berurusan dengan Bu Kencana lagi. Katanya Bu Kencana membawa sial.” Ujar Baron
“Astaga... padahal semua yang ia lakukan adalah untuk keluarganya! Bagaimana bisa...’
“Tampaknya kelakuannya di Italy juga tidak beda dengan yang di Indonesia. Mungkin sudah sejak lama ia mengalami gangguan jiwa...” desis Baron.
Kami sama-sama menghela nafas. “Kita lindungi saja dia sebisanya.”
Kulihat pintu ruangan operasi di depan kami. Aku duduk ruang tunggu sambi memikirkan banyak hal.
Banyak pertanyaan yang kupikir tak akan bisa terjawab.
Bagaimana bisa begini, bagaimana bisa begitu... sering kali otak manusia terlalu rumit untuk diselami.
Terus terang saja... aku ingin bertemu lagi dengan Dewi Rukmini. Tapi sudah lama ia tidak muncul. Entah itu hal baik atau buruk. Kuanggap saja hal baik, karena berarti si qorin sudah tenang di alamnya.
Lalu...
“Bu Kencana bagaimana?” Arka menghampiri kami setengah berlari. Ia tampak terengah-engah.
“Masih di dalam, bro.” Kata Baron.
“Astaga parah...” desisnya. “Sorry aku telat. Tadi habis ngambil ini.” Arka menyodorkan map coklat dan menyerahkannya ke Ariel.
Sertifikat rumah Rawamangun.
Atas nama Ariel Clodio.
“Akhirnya pake namaku Mas?” tanya Ariel.
“Ya nasabnya di kamu. Mbah Rejo, Dewi Rukmini, Bu Kencana, ya kamu yang berhak.”
“Nggak apa nih yang?” tanya Ariel padaku.
“Aku setuju dengan Arka.” Kataku.
“Mau kujual lagi sih setelah ini, rumah itu mengeri-“
“Aku ingin tinggal di sana.” potongku cepat.
“....”
“Haaaah?!”
“Aku serius.” Tegasku. Aku suka desain dan layoutnya. Aku juga suka perabotan di dalamnya. Sebulan berlalu kami sudah tidak kembali ke sana. Kata Baron sudah dibersihkan sebersih-bersihnya oleh Tim Pembersih TKP.
__ADS_1
“Kita masih bisa tinggal di rumah ibu, Claudia!”
“Tapi itu milik ibuku. Bapakku memberikannya ke ibuku. Sementara rumah Rawamangun milik kamu. Milik kamu ya milikku. Jadi itu rumah kita.”
“Itu TKP bekas pembunuhan.”
“Lalu?”
“Astaga... banyak setannya Claudiaaaa,”
“Masa? Satu-satunya setan yang kulihat selama ini hanya Dewi Rukmini. Itu pun kamu nggak percaya dia ada.”
“Nah,itu dia, rumah bekas kuburan.”
“Jangan lihat kuburannya, tapi kenangan di dalamnya. Yang jelas, Dewi Rukmini merawat rumah itu sepenuh hati. Mbah Rejo juga menumpahkan kasih sayangnya di rumah itu untuk merawat Dewi Rukmini. Bahkan Bu Kencana menginginkan rumah itu. Kenapa kita tidak?” aku bersikeras. Entah bagaimana aku dari awal seakan memiliki ikatan batin dengan rumah itu. Seakan rumah itu ingin kujelajahi dengan lebih seksama.
Ariel pun menarik nafas panjang dan menggaruk kepalanya, “Kita kesana dulu deh. Garis polisi sudah di lepas kan ya?” tanyanya ke Baron.
“Sudah. Aku sempat ke sana sih minggu lalu. Dan nyatanya rumah itu memang lebih luas dibanding yang terlihat.”
Aku jadi teringat percakapanku dengan Dewi Rukmini saat aku pingsan di depan Gapura.
**
“Rukmi, kamu tahu Kencana tidak?”
“Tahu.”
“Dia itu siapa?”
“Dia yang sering disebut Rangga dengan julukan ‘harta kesayanganku’.”
“Kok seperti film? Mbah Rangga selingkuh dari Mbah Putri atau gimana?!”
“Ini hanya hikayat mencintai tapi tak bisa memiliki.”
“Aku akan di sini menjagamu,” Dan Dewi Rukmini waktu itu berkata demikian sambil membelai rambutku.
**
Ya...
Kisah cintaku dan Ariel memang unik. Seorang guru yang terpaksa menikah dengan siswanya. Karena warisan. Tapi ternyata kisah cinta leluhur kami tidak kalah mencengangkan. Kalau dijadikan novel bisa-bisa Tante Author mabok sendiri mikirin konfliknya.
Topaz Kencana RR akhirnya kami jual ke Praba Grup. Mereka butuh perusahaan yang mengurusi emas dan logam mulia. Intinya perusahaan itu semacam investasi emas. Sudah tahu kan emasnya dari mana asalnya? Ya Mafia-mafia Italy itu.
Ratusan Miliar kami dapat dari hasil penjualan, kami bagikan ke keluarga kami masing-masing 10 miliar sesuai perjanjian. Semua itu terjadi setelah 3 tahun berlalu dan obligasi dapat dicairkan sehingga perusahaan bisa dijual.
3 tahun kami tinggal di rumah Rawamangun. Kami nyaman-nyaman saja.
Ya rumah itu ternyata sangat besar. Di dalam kamarku sendiri ada dua kamar lagi. Saat kudorong dinding di samping ranjang kamar utama, ternyata itu sebuah pintu rahasia. Ada lorong, dan di samping-samping lorong itu ada dua kamar.
Sekarang salah satu kamar dijadikan ruang game oleh Ariel, sementara kamar yang satunya kujadikan closet. Ruangan dengan banyak lemari yang menyimpan baju-bajuku, tas-tasku, dan perhiasan-perhiasanku.
Ada dua kamar lagi di pintu rahasia konter dapur, kujadikan kamar pembantu dan gudang penyimpanan makanan.
Hal unik yang terjadi, seringkali ada brankas rahasia di dalam dinding. Di dalamnya tersimpan banyak uang tunai dan perhiasan emas. Kemungkinan hasil penjualan obat yang mereka niatkan untuk digelapkan. Kami diam-diam saja, karena mohon maaf, perhiasannya cantik-cantik.
Warung warmindo di seberang sana itu akhirnya kami beli. Kami hubungi pemilik lamanya dan dia bersedia bekerjasama lagi dengan kami untuk berjualan di sana. Yah bisa jadi penghasilan tambahan selain kos-kosan.
Rumah ibuku kujadikan Kos-kosan. Lumayan hasilnya, kami bagi dua dengan ibuku.
Iya... ibuku sudah menikah lagi dengan Papah. Tapi memang tidak bisa memiliki anak lagi. Mereka juga santai saja hidup berdua.
Di lain pihak, anakku sudah...
Hem... bagaimana mengatakannya ya.
Anakku 6.
Nggak salah lihat kok. Tiga pasang anak kembar. Kulahirkan yang dua pasang normal, yang satu pasang lagi sesar. Setelah itu aku menjalani operasi steril adalah metode kontrasepsi permanen, tuba falopi atau saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim akan diikat atau ditutup. Sementara Ariel menjalani Vasektomi.
Enam anak... mencengangkan bukan?
Mungkin itu sebabnya aku bersikeras memiliki rumah ini. Karena luas dan bisa kami tinggali beramai-ramai.
Menjalani hari-hari mengurusi anak-anak yang aktif membuatku dan Ariel selalu merasa muda.
Bu Kencana meninggal setelah setahun berada di rumah sakit jiwa. Amanah terakhirnya, ia minta dimakamkan secara Katolik di Itay, di sebelah makam suaminya. Kami menyanggupinya. Prosesnya tidak usah diceritakan di sini karena ribet bin njelimet. Kami harus mengurus ini itu di Kedutaan, ditambah ternyata pihak Pemerintah Italy sebenarnya kurang berkenan karena Bu Kencana dianggap pihak yang bekerja sama dengan Mafia. Sudah begitu, tanda pengenal Bu Kencana adalah Islam, tapi dia minta dimakamkan dalam prosesi Katolik.
Terbayang sulitnya?
Yang jelas dana miliaran kami gelontorkan untuk menyogok sana-sini. Tentu saja dana yang kami gelontorkan adalah porsi Bu Kencana di saham obligasi. Aku tak mau memakai porsi kami. Tadinya kubilang kalau dananya melebihi budget, bawa balik saja mayatnya ke Indonesia, makamkan di sebelah Mbah Rejo, Mbah Rangga dan Dewi Rukmini sekalian.
Tapi untung saja akhirnya bisa.
Berkat Felix dan Hector yang malas dihantui.
“Sudahlah kami urus saja birokrasinya! Daripada berempat berantem di alam kubur dan akhirnya malah menghantui anak cucunya!” begitu kata mereka.
Mana ada coba cerita seperti itu...
Dan yah...
Aku dan Ariel tidak pernah lagi berkunjung ke Rumah Mbah Rangga.
Baron juga tidak pernah lagi.
Bagi kami bertiga tempat itu hanya berisi kenangan buruk. Amanah sudah tuntas kami laksanakan. Warisan sudah dibagi, perusahaan sudah dijual.
Aset sudah masing-masing. Silakan mengelola dengan bijak. Dan biarkan kami dengan kehidupan masing-masing.
Kuharap setelah ini, tidak akan ada lagi yang tersakiti karena cinta.
__ADS_1
(TAMAT)