Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 1 : Mr.Assassin & Mrs.Cop


__ADS_3

Disuatu tempat, disebuah kota, dan disebuah negara. Tampak hiruk pikuk kota yang sepertinya biasa saja jika diperhatikan.


Tapi, tidak untuk sekumpulan orang-orang yang sedang merayakan sebuah pesta didalam sebuah gedung mewah bergaya inggris. Bangunan besar tersebut tampak memiliki pilar-pilar besar yang menjulang tinggi sebagai pondasi sekaligus pemanisnya.


Cukup dengan penjelasan tentang bangunannya. Karena yang lebih menarik adalah apa yang terjadi di dalam bangunan tersebut. Ya, didalam sana sedang diadakan sebuah pesta. Tidak tahu pesta dalam rangka apa, yang pasti didalam sana terdapat banyak petinggi negara yang mempunyai pengaruh besar di negara tersebut.


Beberapa diantaranya adalah presiden dan mentri-mentrinya, ketua anggota dewan, dan beberapa petinggi negara lainnya seperti para diplomat.


Tampaknya semua orang di dalam sana sangat senang dan menikmati pestanya. Tapi, tidak untuk seorang pemuda berkaca mata yang sepertinya terlihat sangat bosan sambil melihat ke arah jendela.


Dia adalah adalah Aldo, pemuda berusia 31 tahun, belum menikah, dan memiliki tinggi 165cm. Untuk seorang pria, tinggi badannya sangat standard. Yah, sangat standard.


Pemuda berambut coklat bergaya cepak ala boyband korea ini sedang menunggu. Tapi entah apa yang dia tunggu. Yang pasti, kini dia berjalan menyusuri karpet merah elegan yang sepertinya dibuat disalah satu negara di timur tengah sana.


Memperhatikan sekitarnya sambil mencicipi cemilan yang sudah disediakan oleh para pelayan, Aldo tersenyum kepada siapa saja yang bertatapan dengannya.


"Tch, membosankan sekali," cibir Aldo lelah karena harus bersikap ramah kepada semua orang.


"Oh, benarkah?" tanya seorang wanita cantik nan anggun yang menggunakan dress biru gelap disampingnya dengan pelan.


Aldo mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Yang aku lihat dari tadi kau sepertinya sangat menikmati pesta ini," ujar wanita anggun pemilik bola mata berwarna kehijauan tersebut.


"Awku semwakin twidwak mwengwerti," cerocos Aldo tak jelas sambil mengunyah makanan.


"Ini maksudku," timpal wanita pemilik wajah keorientalan itu menunjuk ke arah mulut Aldo, sementara empunya hanya bisa memasang wajah cengo.


Wajah Aldo pun sedikit memerah, kemudian menelan makanan yang ada di dalam mulutnya dengan terpaksa.


"De-dengar, Syndi ... dengan cara inilah aku meminimalisir kebosananku," ucapnya sebelum melahap cemilan yang berikutnya.


"Haahh ... terserah lah," keluh Syndi melihat temannya tersebut.


"Aldo, cukup main-mainnya," ucap Syndi yang kini sudah memasang raut wajah serius sambil melihat kearah panggung kecil namun tampak begitu elegan.


Aldo sedikit melirik. "Saatnya pekerjaan dimulai."


Tak membalas ucapan Aldo, Syndi hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian mereka berjalan kearah yang berlawanan dan mem-blending kedalam Kerumunan orang-orang yang juga mulai memperhatikan panggung kecil tersebut.


"Teman-teman bersiaplah," ujar Aldo entah kepada siapa dengan suara pelan.


"Ok," balas 5 suara berbeda jenis kelamin di telinga Aldo.


Ternyata Aldo berbicara dengan 5 temannya yang lain melalui earphone wireless.


"Membunuh pak tua diplomat satu ini rasanya sangat merepotkan." Tiba-tiba terdengar suara anggun seorang wanita di telinga Aldo.


Membunuh, itulah yang akan dilakukan Aldo sekarang. Karena, sebenarnya mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran kelas kakap yang sudah banyak sekali merenggut nyawa orang lain di dunia ini. Pekerjaan yang sangat tercela, tapi mereka memiliki alasan dan syarat tertentu untuk melakukan pekerjaan tersebut.


"Ayolah Nana ... namanya juga pekerjaan, kita harus melakukannya sebersih mungkin," timpal suara lembut seorang pria di telinga aldo.


"Tch ... aku benci mengakuinya, tapi kau memang benar, Zedd!"


"Hey - hey ... ajak-ajak donk kalau kalian ingin bertengkar," sela suara imut seorang gadis yang sepertinya masih terbilang sangat muda.


Aldo dan Syndi hanya bisa tersenyum masam dan sweatdrop mendengar percakapan yang tidak penting dari teman mereka melalui earphone.


"Ayolah tema-"


Belum sempat Aldo menyelesaikan kata-katanya, sepertinya pembawa acara dari pesta tersebut mulai berbicara karena pesta akan segera sampai pada puncaknya.


"Ladies and Gentlemen, terima kasih sudah menghadiri pesta yang meriah ini! Kali ini, mari kita sambut pak Gino Domingo selaku diplomat negara kita untuk menyampaikan sepatah dua patah katanya. Karena, pesta ini diadakan untuk merayakan pencapaian besarnya yang juga sangat besar pengaruh positifnya untuk negara kita."


"Pencapaian besar dengkulmu!" umpat Aldo asal tapi tak terdengar oleh orang lain.


"Terima kasih kepada seluruh hadirin yang sudah data-" Pria paruh baya itu mulai mengutarakan kata-katanya. Tapi, sepertinya Aldo tak mau ambil pusing untuk hal tersebut.


"Taka, bagaimana?" tanya aldo kepada salah satu temannya yang bernama Taka.


"Ok, semua aman ... aku sudah meretas semua cctv yang ada disekitar gedung," balasnya dengan suara tenang.


"Bagus ... Syndi aku rasa sekarang giliranmu," sambung Aldo memberi arahan kepada wanita bermata layaknya giok tersebut yang kini melenggang keluar dengan anggun.


"Baiklah, Leader!"


Tak lama setelah itu, pidato tak penting dari diplomat pun selesai. Aldo yang dari tadi masih memperhatikan diplomat kini mulai mengikuti pria paruh baya tersebut berjalan keluar.


Sepertinya pak tua diplomat ingin segera pulang kerumahnya. Tapi, sebelum pria paruh baya itu benar-benar pergi. Dia berpamitan dengan Presiden dan para petinggi negara lainnya.


Pada saat yang sama, mobil mewah nan elegan bermerk Rolls Royce tiba di depan lobby gedung. Mobil tersebut di antarkan oleh petugas valet parkir wanita.


Dia memberikan kunci mobil tersebut kepada salah seorang pengawal pak tua diplomat dan tersenyum manis sebelum beranjak pergi dari sana.


"Pak Gino, kendaraan anda sudah siap," ujar Aldo yang kini berlagak seperti sopir pribadi sang diplomat.


Tapi, entah bagaimana caranya sumber suara Aldo keluar dari wajah orang yang berbeda. Suara Aldo keluar dari seorang pria berkulit putih berjas hitam rapi yang memiliki rambut hitam klimis rapi pula.


Pak tua diplomat hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian tersenyum sembari bersalaman kepada petinggi negara lainnya kemudian beranjak kearah Aldo.


"Ayo berangkat!" ucap pak tua diplomat kepada Aldo yang dibalas dengan anggukan.


Setelah mempersilahkannya masuk, Aldo melenggang kearah seat sopir untuk mengemudikan benda beroda empat tersebut.


"Ok teman-teman, saatnya beraksi," ucap Aldo sebelum masuk ke dalam mobil kepada teman - temannya.


"Semangat, Leader!" seru suara imut di telinga aldo yang membuatnya tersenyum tanpa sadar.


Tak lama kemudian mobil pun mulai berjalan meninggalkan gedung mewah bergaya inggris itu.


Sudah sekitar 20 menit mobil berjalan. Itu berarti sudah setengah perjalanan mobil melaju ketempat kediaman diplomat.


Suara musik jazz yang nyaman didengar telinga pun menemani perjalanan mereka. Tidak hanya untuk Aldo dan diplomat, tetapi juga untuk dua pengawal lainnya.


"Bagaimana pesta hari ini, Pak?" tanya Aldo untuk membuat suasana lebih nyaman lagi.


Diplomat Gino pun menoleh kearah Aldo yang sedang mengemudi. "Lumayan ... setidaknya tidak membuatku bosan."


"Baguslah kalau begitu," balas Aldo ramah dengan senyuman.


"Oh iya, sepertinya kau orang baru?" diplomat gantian bertanya.


"Anda benar pak, saya baru 1 bulan dipekerjakan menjadi pengemudi untuk petinggi negara," jawab Aldo.


"Begitu ... tapi dari caramu mengemudi, kau seperti orang yang sangat perofesional?" sambung diplomat seperti mengintrogasi.


"Wah ... terima kasih atas pujiannya pak, Saya sangat tersanjung mendengarnya."


"Hm, sama-sama."


Dua pengawal lainnya hanya diam dan memperhatikan. Merasa takkan ada bahaya yang datang menjelang. Dua pria bertubuh kekar tersebut pun mengendurkan sedikit pengamanannya. Itu tampak dari tubuh mereka yang mulai dilemaskan seperti memanjakan diri di sandaran kursi mobil.


"Anda tahu pak ... saya benar-benar tersanjung oleh ucapan anda yang mengatakan kalau saya adalah seorang pengemudi yang profesional," ujar aldo tiba-tiba sambil menyeringai.


Diplomat Gino hanya diam dan mulai menyimak kata-kata Aldo dari kursi penumpang yang ada di belakang.


"Tapi ..." dengan sengaja Aldo memberikan jeda untuk kalimat yang akan dia ucapkan. "Saya akan lebih senang jika anda mengatakan kalau saya adalah pembunuh profesional."


"Ap-apa maksudmu?" tanya diplomat Gino terbata-bata.


Tanpa banyak kata, Aldo mencubit pipinya sendiri kemudian mengoyak pipinya dan menarik kulit yang terkoyak tersebut kearah samping. Alhasil, setelah menyingkirkan topeng sintetis dan wig yang dianggapnya merepotkan itu, tampaklah wajah Aldo yang sesungguhnya.


"Ap-apa yang kau lakukan? Chriss, Dominic!" Diplomat tampak mulai histeris sambil menyerukan nama kedua pengawalnya.


Tak dijawab oleh Aldo, ia pun mulai menghentikan mobil tersebut karena kebetulan lampu lalu lintas kini sedang merah.


"Astaga ... apa kau masih belum mengerti juga, Pak Diplomat Gino Domingo yang terhormat?"


"Lagi pula, percuma kau meminta bantuan mereka berdua," ucap Aldo sambil menunjuk kedua pengawal Gino.


"Apa pun yang terjadi, mereka tak akan bangun hingga dua jam kedepan," sambungnya


Setelah Aldo melihat kebelakang, Diplomat Gino semakin merasa ketakutan. Itu tampak dari keringat yang mungucur di kepalanya.


"Ka-kau? Bagaimana bisa wajahmu berubah?"


"Jangan-jangan ... ka-kau adala-"


"Yup ... sepertinya dugaan mu sangat tepat," sahut Aldo penuh dengan senyuman.


"Pembunuh berseribu wajah ..." dengan lirih suara diplomat keluar dari mulutnya.


"Baiklah, langsung ke intinya. Ada kata-kata terakhir?" tanya Aldo tanpa basa-basi.


"Sebelum itu, tolong beri tahu aku siapa yang menyuruhmu?" Diplomat malah balik bertanya.


Aldo pun tersenyum hangat. "Maaf, tapi itu rahasia."


"Tapi, kau akan ku beri waktu 90 detik untuk merenungi semua tindak kejahatanmu," sambung Aldo datar.


"Haah ... terima kasih," setelah menghela nafas panjang sepertinya diplomat Gino sudah siap menerima apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Tapi kumohon ... jangan sentuh keluargaku," lanjutnya.


Aldo sedikit menaikkan alisnya. "Setelah apa yang telah kau lakukan selama ini, ternyata kau ini sosok suami dan ayah yang penyayang."


"Karena aku juga seorang manusia ..." jawab diplomat dengan suara yang semakin parau.


"Tch ... baiklah jika itu kata - kata terakhirmu, aku akan mengabulkannya."


Diplomat Gino melirik kearah dua pengawalnya dan bertanya-tanya bagaimana caranya seorang pria berpostur standard bisa melumpuhkan dua orang elit militer seperti mereka.


"Kau pasti bertanya-tanya, kan?" tanya Aldo, "Bagaimana caraku membungkam mereka berdua?"


Merasa semakin lemas Diplomat Gino mengangguk.


"Baiklah akan kuberitahu sebelum kau menutup matamu untuk selamanya."


"Semua ini sudah terencana dengan matang dimulai dari kau menginjakkan kakimu di pesta barusan. Mulai dari mobil, gedung, bahkan orang-orang yang kau lihat. Termasuk dua anak buahmu yang terkulai lemas ini," jelas Aldo.


"Jadi kau meracuni mereka?" tanya Diplomat.


"Yup ... termasuk kau," jawab Aldo enteng.


Diplomat hanya bisa tersenyum miris. "Pantas saja."


"Baiklah, Rest In Piece Pak Diplomat yang terhormat," ujar aldo sembari tersenyum layaknya iblis.


DOORR ...


Suara tembakan dilepaskan namun lebih cenderung suara tembakan yang menggunakan alat peredam.


Detik itu juga, Diplomat Gino Domingo kehilangan nyawanya dan terkulai lemas di kursi penumpang. Tepat di tengah dahinya, terdapat lubang tembakan. Dilihat dari sisa peluru kosong dan ukuran lubang tembakannya, sepertinya Aldo menggunakan pistol sejenis Desert Eagle. Pistol berukuran kecil yang memiliki daya rusak yang luar biasa. Jika ditinjau dari daya rusaknya mungkin sekarang otak diplomat sudah hancur berkeping-keping di dalam.


Lampu lalu lintas pun kini sudah berubah menjadi hijau, Aldo mulai melajukan kendaraan beroda empat tersebut kearah kediaman diplomat sambil menghubungi teman-temannya.


"Baiklah teman-teman, pekerjaan selesai. Terima kasih untuk semuanya!" ucap Aldo melalui earphone.


"Terima kasih kembali, Leader!" seru keenam temannya membalas secara bersamaan.


"Taka, bagaimana titik pengantaran?" tanya Aldo.


"Aman terkendali. Kau bisa dengan aman dan nyaman membuang mereka disana," jawab Taka.


"Baiklah, terima kasih."

__ADS_1


"Oh iya, sampai jumpa besok di acara nenekku," sambung Aldo.


"Bukan acara nenekmu Aldo, tapi acara perjodohanmu," timpal suara nyaring seorang gadis dari earphone aldo.


"Yah ... terserah kau, Myra!"


Aldo sepertinya sedikit kesal karena mendengar dengan jelas suara cekikikan teman-temannya melalui earphone. Setelah itu dia pun menutup sambungan tersebut.


Selang lima belas menit Aldo tiba di titik pengantaran. Tempat itu sangat sepi. Maklum saja, karena sekarang sudah hampir tengah malam. Dia meninggalkan kendaran beroda empat yang mewah tersebut disana bersama dengan isinya. Namun, Aldo tidak membunuh kedua anak buah diplomat. Karena, pada dasarnya pekerjaannya hanya membunuh sang diplomat saja.


Tiba-tiba handphone Aldo berdering saat ia sedang berjalan pulang kerumahnya. Tanpa banyak kata, Aldo meraih handphone tersebut dari sakunya dan melihat tulisan di layar handphone tersebut.


"Nenek ... ada apa dia menghubungiku selarut ini?" ujar Aldo.


"Halo, Nek?"


"Dimana kau sekarang?" tanya suara khas seorang wanita tua melalui smabungan telepon.


"Aku baru saja kembali dari supermarket," jawab Aldo bohong.


Jelas saja, karena sebenarnya dia baru saja menghabisi nyawa seseorang.


"Haah ..." terdengar suara helaan nafas dari telepon. "Yang penting jangan lupa acara perjodohanmu besok, mengerti?"


"Baik, Nek!" balas Aldo singkat.


"Baiklah, nenek cuma ingin mengingatkan itu saja."


"Terima kasih, Nek."


"Hm ... selamat malam." Tak lama kemudian nenek Aldo menutup sambungan telepon mereka.


"Haah ... kenapa perjodohan ini harus terjadi," keluh Aldo sedikit kesal.


"Tapi jika itu demi nenek, aku rasa tak masalah."


"Lagi pula, jika wanita pilihan nenek itu cantik, itu bisa jadi keuntungan untukku."


Sambil membayangkan hal-hal tak senonoh, Aldo cengengesan dan mulai berjalan menuju halte tanpa tahu apa yang akan menantinya di depan.


Pada waktu yang sama, dilain tempat. Tampak seorang wanita sedang berkutat dengan komputer di dalam kamarnya sambil berbicara melalui earphone. Wanita itu memiliki rambut panjang indah berwarna indigo. Kulit putih dan bibir tipis peachnya menambah kesan imut namun tetap anggun untuknya. Wanita tersebut sedang mengenakan celana hotpant dan tanktop biru muda. Tampak sexy, namun kesan imut tak bisa lepas darinya apapun yang ia kenakan.


"Ya, sudah kuterima emailnya," ujar wanita berambut indigo tersebut.


"Baik ... terima kasih!" sambungnya kemudian menutup sambungan telfonnya.


"Thousand Face Reaper ... kali ini aku lah yang akan menangkapmu," dasis wanita bertanktop.


Ia mulai membuka isi laporan yang barusan diterimanya. Tampaknya, isi laporan tersebut berisi tentang pembunuh berantai bernama Thousand Face Reaper. Setidaknya begitulah pihak berwajib menyebutnya. Karena, selama 15 tahun terakhir belum ada yang bisa mengungkap siapa sebenarnya identitas asli dari pembunuh berantai ini.


Sambil menyeruput minuman kotaknya melalui sedotan, ia memperhatikan isi laporan tersebut dengan wajah yang serius. Tapi tetap saja, keimutan tetap terpampang disana. Kali ini, wanita berambut indigo tersebut sedang membuka file yang berisi laporan tentang bentuk penyamaran sang pembunuh.


Berdasarkan hasil laporan tersebut, lebih dari 100 wajah yang berhasil tertangkap, baik itu melalui cctv ataupun foto amatir yang diambil dari orang-orang yang kebetulan ada disana saat kejadian berlangsung.


"Aku akan mempertaruhkan reputasiku untuk menjebloskanmu ke dalam penjara ... tunggu saja, brengsek!" Desisnya lagi dengan suara seram.


Kepala gadis itu tiba - tiba menoleh kearah handphone miliknya karena berdering.


"Halo?" sapanya lembut.


"Kau belum tidur, Nak?" balas lawan bicaranya.


"Belum Mam, ada sedikit pekerjaan yang harus ku selesaikan," jawab gadis itu.


Sepertinya yang menghubungi gadis imut ini adalah ibunya.


"Ooh begitu ... tapi jangan terlalu lama kau tidur, ingat besok adalah acara perjodohanmu," dengan suara yang terdengar sangat lembut sang lawan bicara gadis bertanktop tersebut menasehati.


"Mam, apa perjodohan ini benar-benar harus dilakukan?" tanya gadis itu memelas pada ibunya.


"Rikka, bukankah kau sudah berjanji pada Mama?"


Ternyata nama gadis itu adalah Rikka. Nama yang sangat cocok untuknya. Dan nama tersebut sungguh menambah nilai keimutan pada dirinya.


"Iya ... aku memang pernah melakukan hal itu. Tapi-"


"Tidak ada tapi-tapian. Kau sendiri yang berjanji pada Mama. Saat umurmu tepat 28 tahun kau belum juga membawa calon suami pada mama, kau bersedia Mama jodohkan!" Belum sempat sang gadis selesai berbicara ibunya langsung menimpalinya dengan penjelasan yang panjang dan lebar.


Rikka hanya bisa sweatdrop mendengar ibunya yang tiba-tiba menaikan intonasi bicaranya.


"Ba-baik," ucapnya karena tak bisa membantah lagi.


"Baiklah, Mama tutup teleponnya ... selamat malam."


"Malam."


Setelah sambungan telepon tertutup dia hanya bisa menghela nafas, kemudian meraih minuman kotaknya dan beranjak menuju balkoni kamar lalu mentap kosong kearah langit.


"Kenapa hal ini harus terjadi?" ujarnya entah kepada siapa sambil meratapi dirinya.


Kemudian gadis bernama Rikka itu melihat handphonenya yang berlayar sentuh dan mulai mengacak-acak storage gallery miliknya


"Dijodohkan dengan orang yang tidak aku cintai ... memangnya ini zaman Siti Nurbaya!?" pekiknya sedikit kesal.


Setelah berhasil mencari sesuatu di handphonenya, Rikka pun mulai memperhatikan layar handphonenya dengan wajah sendu.


"Aldo ..." ucapnya lirih sambil memperhatikan foto di dalam handphonenya.


"Demi mama, mungkin aku akan mencoba menerimamu."


Yah, foto Aldo lah yang sedari tadi diperhatikan oleh Rikka. Foto Aldo yang sedang mengenakan blazer coklat senada dengan warna rambutnya. Tak lupa kacamata aldo juga setia bertengger di dalam foto tersebut menambah kesan keren untuknya. Bagaimana caranya foto Aldo ada di handphone Rikka adalah pada saat kesepakatan Rikka dan ibunya tentang perjodohan, ibu Rikka langsung mengirim foto tersebut pada Rikka untuk meyakinkan anaknya.


"Tidak buruk ... malah cukup tampan," ucapnya sambil tersenyum tak jelas.


Malam pun semakin larut dan Rikka memutuskan untuk tidur setelah menutup jendela kaca kamarnya. Tampak bulan purnama yang terang menjadi teman setia untuk gelapnya malam hari ini. Dan hiruk pikuk padatnya kota pun sudah mulai berkurang karena malam yang semakin larut.


Vrooom...


Suara mobil terdengar melaju kencang di jalan yang terbilang masih sepi. Tapi tetap saja hal itu sudah melanggar aturan lalu lintas. Tampak disana, jarum indikator kecepatan mobil tersebut sudah menyentuh angka 100km/jam.


Tak disangka ternyata Aldolah yang sedang mengemudikan mobil tersebut. Dia sudah terlambat untuk datang ke acara perjodohan yang diadakan oleh neneknya.


"Gawat ... lima menit lagi acara dimulai," ucapnya sedikit khawatir mengingat bagaimana cerewet neneknya tentang kedisiplinan.


"Nenek pasti akan sangat marah," ucapnya lagi ditambah rasa takut yang semakin menyelimuti dirinya.


"Aku harap nenek belum datang," ujar Aldo memohon entah kepada siapa sembari menginjak pedal gas lebih dalam lagi untuk menambah kecepatan mobilnya.


Cepat, sedan putih yang dikemudikan oleh Aldo kini sudah mencapai kecepatan 160km/jam. Semoga saja Aldo tidak ditilang oleh polisi karena tindakannya. Atau semoga tidak ada hal buruk yang akan menimpanya.


Sementara itu, tempat diadakannya acara perjodohan Aldo dan Rikka belum banyak orang yang berdatangan. Yah, karena pada dasarnya hanya keluarga terdekat saja yang diundang oleh neneknya Aldo dan ibunya Rikka untuk datang keacara tersebut.


Lokasinya tepat berada di taman salah satu restoran ternama di kota tersebut. Restoran bernuansa taman. Disana, para tamu yang sudah melakukan reservasi akan menikmati makanan mereka sambil dimanjakan oleh keindahan taman ditempat terbuka. Walaupun sewaktu-waktu hujan turun, restoran tersebut memiliki sensor cuaca yang akan membuat bagian taman tersebut tertutupi oleh atap yang terbuat dari kaca menggunakan teknologi paling mutakhir. Sehingga hal tersebut juga menjadi nilai plus untuk restoran ternama itu.


Dan untuk acara ini, neneknya Aldo sudah repot-repot menyewa seluruh penjuru taman agar acaranya berjalan dengan lancar tanpa ada tamu lain yang mengganggu. Tapi jika ada tamu yang ingin makan di restoran ini, mereka masih bisa menikmatinya dibagian dalam restoran. Karena neneknya Aldo hanya menyewa tamannya saja.


Tampak di sana Syndi beserta kelima teman lainnya sudah menghadiri acara. Mereka duduk di meja bundar berselimut putih dengan hiasan yang menawan. Mereka pun sedang menikmati makanan yang sudah tersedia.


"Leader sepertinya terlambat," ucap gadis mungil berwajah imut dengan bola mata coklat terang.


"Bukankah itu hal yang biasa untuk Aldo, Kawa?" tanya Syndi memastikan.


"Yah itu benar!" Seru gadis yang tampak masih remaja disebelah Syndi.


Gadis tersebut mengenakan dress belang hitam putih yang cantik. Ditambah bando bermotif serupa dan tas yang juga bermotif sama menambah kecantikan gadis berambut panjang itu menjadi maksimal.


Sedangkan syndi mengenakan dress brokat berwarna biru gelap dengan panjang selutut dan mengembang. Biru gelap memang sangat cocok untuk menghiasi tubuh elegannya. Apalagi wajah oriental miliknya membuat dress yang ia kenakan semakin cocok.


"Oh ayolah ... Syndi, Myra ... setidaknya khawatirlah sedikit pada Aldo," timpal seorang pria yang cukup tampan dan memiliki perawakan hampir mirip dengan Aldo.


"Benar ... Zedd benar!" sambung Kawa dengan dress imut berwarna hitam yang melekat pada tubuhnya mendukung Zedd.


Pria yang sedang mengenakan blazer putih dengan bawahan yang juga putih itu tersenyum melihat gadis imut yang sedang membelanya.


"Hey Kawa ... ayo kita cari makanan enak lagi?" ajak seorang pria berambut sedikit panjang ala tao ming tse.


Pria ini tiba-tiba saja muncul entah dari mana dengan pakaian yang sedikit slengekan. Namun, kemeja hitam dan celana jeans biru gelap yang ia kenakan tampak keren. Membuat gaya slengekannya pun terlihat keren.


"Siap laksanakan, Taka!" seru Kawa sang gadis imut ala militer yang membuat semua tersenyum.


CKKIIIITTT....


Tiba-tiba terdengar suara rem mobil di luar taman.


"Aku rasa itu dia," ucap seorang wanita berambut gonjes yang dari tadi hanya diam saja sambil mengotak - atik ponselnya.


Wanita itu mengenakan pakaian yang sedikit unik. Dress bernuansa ungu yang memiliki banyak ornamen. Dibagian lengannya sedikit panjang dan melebar. Sedangkan bagian bawahnya panjang hingga menutupi kakinya. Sepatu khas wanita yang berwarna senada itu pun terlihat anggun. Seakan-akan wanita tersebut adalah seorang model yang akan berjalan di panggung catwalk untuk memamerkan design pakaian yang ia kenakan.


"Nana ... apa kau punya sensor leader dikepalamu?" tanya Taka asal setelah kembali dari berburu makanan bersama Kawa.


"Mungkin?" balas Nana singkat sembari mengangkat pundaknya.


"Benar itu dia ... Leader!" Pekik Kawa memanggil Aldo sambil melambaikan sebelah tangannya.


Karena tangan gadis imut yang sebelah lagi ini sedang memegang piring kecil berisi cemilan.


Aldo menoleh kearahnya, kemudian tersenyum dan langsung menghampiri mereka.


"Tak kusangka kalian datang lebih cepat," ujar aldo sembari merapikan blazer coklat andalannya dan melihat celana jeansnya, memastikan tidak ada kotoran atau benda lain yang melekat.


"Kau saja yang terlalu lambat!" timpal Nana sambil memutarkan bola matanya bosan.


"Maaf - maaf ... aku kesiangan tadi," balas Aldo yang diiringi dengan cengiran khasnya.


"Ngomong-ngomong ... nenek dan kakak-kakakku sudah datang?" tanya Aldo setelahnya.


"Kalau kedua kakakmu sih aku tadi melihatnya disana," tunjuk Myra kearah meja dimana tempat makanan disediakan.


"Tapi kalau nenekmu ... belum terlihat sama sekali," sambungnya sempat menjeda kalimat.


"Tumben dia terlambat?"


"Kalau begitu aku mau mencicipi makanannya," sambungnya asal dan sukses membuat teman-temannya sweatdrop.


"Kawa, lets go!" seru Aldo mengajak Kawa dengan penuh semangat.


Karena tak mau kalah Kawa pun mengucapkan hal yang sama. "Lets go, Leader!" dengan penuh semangat.


Dengan penuh antusias bak hewan buas mereka pun menyerbu meja tempat dimana makanan tersedia. Tapi tetap saja, walaupun mereka menyerbu makanan tersebut, mereka masih menggunakan istilah table maner disana. Sedangkan teman - teman yang lain melanjutkan obrolan mereka.


Disaat yang sama dan di tempat yang sama, ketidakdisiplinan terhadap waktu pun berlaku untuk orang lain. Dan orang itu adalah Rikka yang baru saja datang ke acara. Padahal acara yang diadakan itu khusus untuk dirinya dan Aldo.


"Astaga Rikka ... kenapa kau baru datang, Nak?"


Tampak disana Ibu Rika sedang menceramahi anaknya yang tidak tepat waktu.


"Maaf Mam ... tadi taxi onlineku terjebak macet saat ingin menjemputku," jawab Rikka merasa bersalah.


"Mama sempat khawatir, Mama kira terjadi sesuatu yang buruk padamu di jalan," balas Ibunya khawatir.


"Aku baik - baik saja, Mam!" Tegasnya menenangkan sang ibu.


"Ya sudah ... sekarang ayo kita kesana, sepertinya Nyonya Isana juga sudah datang," ajak sang ibu dan sang anak hanya menganggukkan kepalanya menurut.


Mereka pun berjalan dengan elegannya kearah nyonya Isana yang kebetulan juga berjalan kearah Aldo yang sedang menikmati makanannya tanpa dosa.

__ADS_1


Dihari yang cerah ini, Rikka berdandan sangat cantik. Ia mengenakan dress terusan yang terbilang imut namun elegan berwarna merah maroon. Dress tersebut tidak terlalu panjang, panjangnya hanya 5cm dibawah lutut. Namun dibagian dada sebelah atas dress tersebut terbuat dari jaring-jaring hitam yang menawan. Jadi, masih terlihat sopan karena masih menutupi bagian buah dadanya dengan rapi dan menawan.


Terlihat biasa saja, namun memiliki nilai elegan yang tinggi dan bisa membuat siapa saja ingin melihat kearahnya.


Apalagi dengan rambutnya indigo panjangnya yang di curly. Membuat dirinya semakin anggun karena rambut menawannya tersebut sangat mendukung wajah imutnya. Kulit putih mulusnya merata dari atas hingga kebawah. Wajah imut yang diberi blush on membuat kecantikan dirinya semakin sempurna. Matanya yang dihiasi dengan belaian eye liner, membuat bola mata hitam pekatnya sangat hidup dan cerah. Yah, walaupun penampilannya terbilang sederhana. Tapi, penampilan Rikka lah yang paling membuat mata nyaman saat memandangnya.


Sedangkan ibunya mengenakan dress indah yang menawan berwarna senada dengan anaknya namun lebih cerah. Sangat cocok dengan usianya saat ini, dan membuat penampilannya sangat elegan.


Dan ayah Rikka yang sedari tadi diam saja hanya melangkah mengikuti mereka berdua dari belakang dengan gaya ala pengusaha muda namun cocok untuk usianya saat ini. Jas hitam dan bawahan yang juga hitam.


Dilain pihak, nyonya Isana yang tak lain adalah nenek dari pemuda bernama Aldo sedang berjalan kearahnya bersama kedua kakak tercintanya.


"Aldo, hentikan kegiatanmu sekarang. Keluarga beserta calon istrimu sudah tiba!" ujar nenek Aldo setibanya didekat Aldo.


"Hm?" dengan wajah cengo Aldo menoleh kearah neneknya, "Nenek?"


Tak memperdulikan cucunya, sang nenek terus meluncur kearah tamu yang sudah ditunggunya dari tadi.


Aldo sedikit meringis karena tiba-tiba sudut dari tas wanita membentur kepalanya.


"Aduh ... kakak?" sapa Aldo kearah kedua kakaknya bergantian sambil mengelus kepalanya yang sedikit sakit.


"Cepat rapikan wajah dan mulutmu kalau tidak ingin nenek menghajarmu!" desis Kakak tertua Aldo dengan pelan yang sedang mengenakan dress coklat namun penuh dengan keindahan tersebut.


"Ba-baik!" tanpa banyak kata aldo langsung meraih sapu tangan yang ada di sakunya dan membersihkan wajahnya dari sisa-sisa makanan.


"Astaga Kawa ... sini kakak bersihkan wajahmu yang kotor!" ujar kakak kedua Aldo yang mengenakan dress cantik berwarna senada dengan kakaknya.


"Hehehe ..." Kawa hanya bisa cengengesan sambil menikmati perhatian dari kakak kedua Aldo.


Setelah melakukan ritual pembersihan diri, mereka pun berjalan mengikuti sang nenek yang kini sedang menyambut tamu agung mereka.


"Kakak ... nenek dari mana saja, kenapa baru kelihatan?" tanya Aldo polos tanpa dosa.


"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu ... dari mana saja kau, jam segini baru memperlihatkan batang hidungmu?" Bukannya dijawab, Aldo malah ditimpali oleh pertanyaan.


"Maaf ... aku kesiangan," jawabnya merasa bersalah.


"Ya sudah kalau begitu ... yang pasti dari tadi nenek sudah menunggu kalian didalam," sahut kakak tertuanya.


"Kalian?" tanya aldo tak mengerti.


"Maksudnya adalah kau, calon istrimu, dan keluarganya," ujar kakak kedua Aldo menjelaskan.


"Oooh ..." balas Aldo sambil menganggukan kepalanya.


"Lalu, dimana suami dan anak kalian?" tanya Aldo lagi setelah menyadari ada hal yang kurang.


"Mereka menyusul ... dan sekarang sedang dalam perjalanan," jawab kakak tertua Aldo.


"Vivi dan ayahnya juga dalam perjalanan," sambung sang kakak kedua setelah lirikan Aldo pindah ke dirinya.


Mereka akhirnya berhasil menyusul sang nenek tercinta dan ikut menebarkan senyuman manisnya. Sedangkan Kawa, dia pun ikut tersenyum sambil menggandeng lengan kakak kedua Aldo.


Kawa tampak sangat imut. Apalagi saat menggandeng tangan seseorang seperti sekarang ini. Tubuhnya yang mungil membuat siapa pun pasti meleleh saat melihatnya.


Tapi, banyak sekali yang tertipu dengan penampilan Kawa. Sebenarnya Kawa bisa dibilang remaja. Karena sebenarnya dia sudah berumur 18 tahun. Atau bisa dibilang dia sekarang duduk di bangku kuliah dan menjadi Mahasiswi universitas ternama di kota tersebut. Dan jurusan yang ia ambil adalah sains. Jadi, tubuh mungil dan wajahnya yang imut itu saling bertolak belakang. Alhasil, banyaklah orang yang tertipu.


"Aldo?" tiba-tiba sang nenek memanggilnya.


Aldo mengangguk tanpa menjawab dan berjalan dengan gagah kearah neneknya yang sedang mengenakan dress yang juga berwarna coklat menawan tapi lebih muda tersebut.


Entah apa tujuan Aldo melakukan hal itu. tapi yang pasti, ia sedang menunjukkan sisi kerennya pada semua orang dan juga ia ingin membuat neneknya bangga akan prilakunya.


"Ini dia cucuku yang sering ku bicarakan," kata nenek Aldo kepada calon besannya.


"Wah ... lebih tampan dari pada yang ada di foto," sahut ibunya Rikka sedangkan ayahnya hanya tersenyum puas.


"Hihi ... Nyonya Rina benar - benar pandai kalau memuji," balas nenek Aldo sambil tertawa kecil.


Kemudian Aldo menjulurkan tangannya. "Salam kenal, saya Aldo cucu termuda nenek Isana, senang bertemu dengan kalian."


"Wah ... tidak hanya tampan, tapi juga sangat sopan. Benarkan, Pa?" tanya Rina kepada suaminya yang dibalas dengan anggukan dan senyuman puas.


"Terima kasih ... anda berdua juga terlihat sangat serasi dan menawan," balas Aldo tak mau kalah.


Sontak pipi Rina pun merona. "Wah-wah ... sudah tampan, sopan, pandai dalam mengambil hati pula. Benar - benar menantu idaman!"


"Rikka ... kemari, Nak?" panggil sang ibu.


Akhirnya, sedari tadi aldo yang penasaran dengan calon istrinya. Kini sosok gadis bak malaikat yang turun dari langit itu menampakkan dirinya dari balik punggung sang ibu.


Aldo pun terpukau melihat kecantikan makhluk ketiga yang ada didepannya tersebut. Dengan senyuman manis nan imut, Rikka berhasil membuat Aldo hampir meleleh dan berserakan dilantai.


"Ini adalah anak kami satu - satunya ... perkenalkan dirimu, Nak?" ujar sang ibu.


"Perkenalkan, nama saya Rikka anak tunggal dari Tuan Roberto dan Nyonya Rina ... senang bertemu dengan kalian," ucap Rikka memperkenalkan diri dengan senyuman terbaik miliknya.


"Wah ... akhirnya aku memiliki adik ipar perempuan!" sela kakak tertua Aldo tiba - tiba.


Sedangkan kakak kedua Aldo hanya bisa terpukau melihat kecantikan calon adik iparnya. Sementara Kawa, tampak seperti mengingat - ingat wajah cantik milik Rikka tersebut.


"Sepertinya aku pernah melihatnya," ujar Kawa dalam hati sambil berfikir keras.


"Oh iya ... perkenalkan juga cucuku yang lain. Mereka adalah kakaknya Aldo, Mega dan Chika," ucap sang nenek menjawab tatapan bingung tamu mereka.


"Sedangkan simungil ini ... adalah cucu angkatku," sambung Isana sambil mengelus kepala Kawa yang kini sedang tersenyum sumringah.


"Salam kenal ... senang bertemu dengan kalian," ucap mereka bertiga serentak.


Setelah membalas salam tersebut mereka pun sedikit mengobrol. Tapi saat Aldo hendak menghamipiri calon istrinya, Isana sang nenek mengacaukan segalanya.


"Aldo, segera kumpulkan semua anggota keluarga kita di tengah taman karena acara akan segera dimulai!" ujar sang nenek cantik tersebut.


"Ba-baik!" balas Aldo sedikit kesal. Namun itu masih bisa disembunyikan olehnya.


Melihat tingkah Aldo dan menduga apa yang akan dilakukan calon suaminya, Rikka hanya terkikik kecil dan mulai beranjak mengikuti yang lain.


Hanya Aldolah yang masih berada disana dengan tatapan bingung ketika melihat kikikan imut dari calon istrinya. Padahal dia sudah diberikan misi oleh sang nenek.


"Boss ... aku rasa nenekmu hebat dalam memilihkan pasangan," ucap Zedd asal yang tiba - tiba muncul di sebelah kanan Aldo.


"Hehe ..." Aldo hanya bisa cengengesan tak jelas.


"Benar boss ... lihat tubuhnya yang ideal dan menawan itu, aku rasa dia memiliki ukuran dada D-cup ... tidak, E-cup lebih tepatnya!" sambung Taka menimpali dari sebelah kiri.


"Hehehe ..." Aldo semakin cengengesan tak jelas.


"Aku rasa aku akan meminta nenek Isana untuk mencarikan ku jodoh," ucap Zedd asal sekali lagi.


"Hehehehe ..." Aldo pun semakin dan semakin cengengesan tak jelas.


BLETAK ...


Suara jitakan yang sangat nyaring pun menggema diseluruh taman.


"Suara apa barusan?" tanya Chika terkejut sembari ia berjalan.


Sedangkan ditempat Aldo dan kawan - kawan. Ketiga pria dari kelompok pembunuh kelas kakap ini hanya bisa meringis kesakitan dan kembali sadar dari fantasi mereka masing-masing.


"Adududuh!" teriak mereka bertiga serentak sambil meringis.


Yah, mereka bertiga baru saja mendapatkan jitakan dahsyat dari tiga orang wanita cantik yang tidak lain adalah teman sekelompok mereka sendiri.


Myra menjitak Aldo, Nana menjitak Taka, sedangkan Syndi menjitak Zedd. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan. Tapi untung saja tak ada satu pun orang yang menyaksikannya.


"Hentikan pemikiran mesum kalian!" seru Nana kesal hingga mukanya sedikit memerah.


"Ke-kenapa kau marah, Nana?" tanya Taka bingung masih meringis kesakitan. Sedangkan Aldo dan Zedd mengangguk ria ikut membela diri.


Sambil menepuk jidatnya pelan Nana pun berkata, "Apa kalian tak tahu dia siapa?"


"Memangnya siapa dia?" timpal Zedd masih bertanya.


"Astaga, Zedd ... dari semua orang yang ada disini kenapa harus kau yang bertanya?" cerocos Nana semakin tampak kesal.


"Rikka ... kolonel Rikka ... kepala intelijensi kepolisian," sela Syndi ikut menimpali. Sementara Zedd hanya melotot dan terkejut.


"Aaaah ... benar!!!" pekik Kawa yang tiba tiba muncul entah dari mana.


"Pantas saja aku merasa pernah melihatnya ... kolonel Rikka, pemimpin intelijensi kepolisian negara ini. Atau lebih tepatnya ..." Kawa menjeda kalimatnya sejenak sembari melirik kearah semua teman-temannya.


"Dia adalah musuh bebuyutan kita!"


Kawa pun mulai menyambung penjelasannya. "Makhluk paling genius yang pernah ada ... berhasil mendapatkan prestasi di bagian intelijen pada usia yang sangat muda, tepatnya 3 bulan setelah dia berhasil masuk kebagian intelijen. Dan di usia yang ke 28 tahun, dia berhasil menduduki bangku pimpinan itelijensi kepolisian."


"Tidak hanya itu, dia juga pernah menjadi agen rahasia CIA yang bertugas membasmi seluruh tindak kriminal yang ada di seluruh penjuru benua Asia."


"Dan yang lebih parah adalah ... apa kalian tahu siapa yang mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang?" tanya Kawa pada teman-temannya yang masih shock mendengar kenyataan pahit ini. Tapi, teman - temannya hanya diam agar Kawa terus melanjutkan.


"Andreas Anderson, suami dari kakak ibunya. Dengan kata lain ... dia adalah paman dari kolonel Rikka." Dengan wajah horor, Kawa pun berhasil membuat teman - temannya terkejut.


"Apa kau yakin?" tanya Myra sedikit ragu.


"Sangat yakin ... karena aku pernah membaca biografinya!" jawab Kawa tegas.


"Andreas Anderson ... maksudmu Andreas Anderson yang itu?" tanya Zedd meyakinkan dirinya.


Sambil menganggukkan kepalanya Kawa berkata, "Yup ... Andreas Anderson. Pimpinan FBI yang bermarkas di Amerika."


Setelah mendengar semua kenyataan pahit ini, Aldo hanya bisa menepuk jidat layaknya orang frustasi sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


Syndi dan Kawa menghampirinya. "Selamat, Leader ... Kau mendapatkan calon istri yang sangat hebat!" sindir Syndi sedangkan kawa hanya mengangguk - anggukkan kepalanya bangga sambil menepuk punggung leadernya.


Merasa seperti orang frustasi, Aldo mulai membungkukkan tubuh Karena mengingat apa profesinya. Rencana pernikahan dia dan Rikka sepertinya akan menjadi bencana untuknya.


"Aku rasa aku akan membatalkan niatku untuk meminta bantuan nenek Isana dalam mencari jodoh," kata Zedd menarik semua kata - katanya barusan.


Suasana hening sejenak. Wajah mereka yang tadinya shock, kini tertegun setelah mendengar kenyataan pahit yang ada di dunia ini. Tapi tidak untuk Aldo. karena, sedari tadi dia hanya menutup wajahnya entah kenapa.


Tiba-tiba Aldo berdiri tegak dan berkata, "Aku pikir ini akan menjadi hal yang menarik ... menikah dengan musuh bebuyutan?" seringaian mulai tercuat di wajah Aldo.


"Aku rasa itu bukanlah hal yang buruk!" ujarnya setelah itu.


Bagaikan tersambar petir, semua teman-teman Aldo kembali shock mendengar kenyataan pahit yang baru saja terlahir dari mulut pemimpin mereka.


"Leader kita benar-benar sudah gila!" kali ini Taka yang asal dalam berkata-kata.


"Kurasa begitu!" Zedd mengangguk membenarkan.


"Aku rasa kini aku mengerti, kenapa selama ini aku menerimanya sebagai pemimpin kita," Myra pun ikut - ikutan asal dalam berbicara.


"Yeah!!!" seru Kawa semangat. "Itu baru namanya leaderku!!!" sambungnya sambil mengepalkan salah satu tangannya di udara.


"Kau juga sama gilanya, Kawa!" ucap Nana sambil tersenyum miris ke arah Kawa.


"Hihihi ..." Syndi tertawa kecil. "Aku tak percaya kalau aku semakin betah dengan kelompok kecil ini," desis Syndi sambil tersenyum.


Yah, itulah mereka. Sekelompok orang gila yang hobi dalam mencabut nyawa seseorang. Semoga saja mereka tidak mendapatkan nasib yang buruk.


Bayangkan saja, seorang pembunuh kelas kakap menikah dengan kepala intelijensi kepolisian. Mungkin rumah tangga mereka akan menjadi neraka nantinya. Setiap hari akan ada baku tembak seperti peperangan.


Tapi, entah kenapa Aldo sangat menantikan hal tersebut. Senyuman semakin terpampang di wajahnya seperti seorang remaja yang baru diterima cintanya. Yah, hanya dia dan Tuhan lah yang tahu apa yang ada di pikiran pria berkepala coklat tersebut.


"Baiklah teman - teman ... ayo kita kesana, acara segera dimulai!" ujar aldo mengajak teman-temannya dengan antusias.

__ADS_1


"Ok, Leader!"


Layaknya menjalankan misi yang seperti biasa, teman - temannya menurut dan ikut berjalan dibelakang Aldo sang Thousand face Reaper.


__ADS_2