
"Rikka~ ...!" teriak seorang gadis berdada besar tengah berlari di sebuah ruangan besar seperti lobby.
Tempat tersebut adalah bandara internasional kota Tokyo. Sepertinya hari ini adalah hari kepulangan Aldo dan Rikka dari jepang karena waktu berbulan madu mereka sudah selesai.
Aldo dan Rikka tampak sedang berdiri melihat ke arah wanita berdada besar tersebut bersama Erin dan keluarganya.
Rikka juga tampak sedang menggendong gadis kecil yang bernama Hikari. Gadis kecil itu terlihat sangat sedih. Kesedihan Hikari mungkin disebabkan oleh Aldo dan Rikka yang sebentar lagi tidak akan bisa dilihat olehnya lagi.
"Maaf, aku terlambat!" kata gadis berdada besar sambil tersengal-sengal.
"Tidak apa-apa, Shion," balas Rikka tersenyum kepada sahabatnya.
"Eeh ...?" ucap Shion terkejut.
"Eeh?" Rikka juga mengucapkan hal yang sama sambil memiringkan kepalanya.
"Kau sudah punya anak?"
Rikka pun tersenyum setelah mengerti maksud sahabatnya.
"Bu-"
"Bagaimana? Anak kami lucukan?"
Tiba-tiba Aldo memotong kalimat istrinya dan berbicara sok akrab dengan Shion.
"Rikkaaaa~ ... kenapa kau tidak bilang kalau sudah punya anak semanis ini~!" Kata shion gemas melihat anak di gendongan Rikka.
"Aldo ... jangan membuatnya salah paham!" oceh Rikka pada sang suami.
Aldo, Erin, dan Hiroshi hanya bisa tertawa melihat Shion yang sepertinya semakin bingung. Sementara Hikari juga ikut bingung di gendongan Rikka.
"Hikari anak mereka berdua!" lanjut Rikka menegaskan sembari menunjuk ke arah Erin dan Hiroshi.
"Hikari?"
"Nama anak yang ku gendong ini."
Erin dan suaminya lalu tersenyum ke arah gadis berdada besar setelah ia melihat mereka.
"Aku kira kau sudah punya anak di luar nikah," celetuk Shion asal.
"Bodoh!"
"Oh iya, Aldo, Erin, Hiroshi ... perkenalkan sahabatku, namanya Shion!" kata Rikka mulai memperkenalkan sahabatnya.
"Haloo ..." ujar Shion sambil melambaikan tangan.
Erin dan Hiroshi tersenyum dan menganggukkan kepala. Sementara Aldo hanya menatap Shion seakan memikirkan sesuatu.
Tak mau kalah, Shion juga melihat ke arah Aldo dengan tatapan intens sambil bersedekap.
Seolah ada aliran listrik yang mengalir, tatapan mereka pun semakin intens dan semakin mendekat dengan mata yang juga semakin disipitkan.
"Rikka, pasti pria ini yang jadi suamimu, kan?"
"Be-begitulah,"
"Ada masalah?" kata Aldo menyela.
"Tentu saja, kau pendek!"cibir Shion.
"A-apa kau bilang?"
"Pendek?"
"Kurang tinggi! Itu lebih tepatnya!"
"Lalu apa bedanya?"
Mendengar penuturan Shion yang semakin membuat kesal, Aldo hanya bisa mengedutkan alisnya beberapa kali.
"Seperti biasa, Aldo selalu bisa akrab dengan siapa saja ..." kata Erin lirih.
"Sudah-sudah ... kenapa kalian malah bertengkar?" ujar Rikka melerai.
"Siapa yang bertengkar?" sangkal Aldo dan Shion bersamaan.
"Shion, perkenalkan ... namaku Aldo. Boleh aku bertanya?" kata Aldo setelahnya.
"Salam kenal, Aldo ... tanya apa?"
"Beri tahu aku semua rahasia Rikka."
Mendengar ucapan Aldo, wanita berdada besar tersebut langsung tersenyum licik dan melirik Rikka yang sedang kebingungan. Lalu memberi Aldo kode untuk mendekat dengan sebelah tangannya.
Dengan semangat Aldo mencondongkan kepalanya ke samping dengan telinga yang menghadap ke Shion sambil menyilangkan tangan di dada.
Shion pun mulai memasang pose berbisik dan mengucapkan sesuatu.
"Rikka ... dia itu ... washweshwosh ..." katanya samar-samar.
"Hum hum ... lalu?" Seolah mengerti, Aldo pun memasang wajah serius.
"Lalu ... washweshwosh ..." lanjut Shion.
"Benarkah?" Aldo sedikit terbelalak dengan mata yang berbinar-binar.
Shion mengangguk beberapa kali. "Kemudian ... washweshwosh ..."
Masih dengan tampang seriusnya, Aldo terus mendengarkan penjelasan Shion dengan hikmat.
BLETAKK ... BLETAKK ...
Jitakan pun mendarat di kepala mereka berdua.
"ADAOWH!!!" pekik Aldo dan Shion serentak.
Sepertinya yang memberikan mereka jitakan Adalah Rikka. Itu tampak dari tangannya yang masih mengepal di depan wajah dengan tampang kesal.
"Apa yang kalian bicarakan?" desisnya masih menggendong Hikari.
Aldo dan Shion saling pandang, lalu tersenyum licik layaknya iblis sambil menoleh ke arah Rikka.
"Rahasia~ ... benar 'kan, Aldo?"
"Benaar~ ..."
Rikka mendesah pasrah. "Terserahlah."
Sementara duo yang baru saja terbentuk itu malah tertawa licik. Lalu Shion tampak merogoh tas ranselnya seperti mencari sesuatu.
"Rikka ... ini!" ujar Shion sambil memberikan sebuah kotak untuk sahabatnya.
"Apa ini?"
"Maaf terlambat ... tapi ini hadiah pernikahanmu!" tegas Shion.
Rikka tersenyum. "Terima kasih."
Lalu gadis beriris onix itu meraih benda yang memiliki bentuk seperti kubus dari tangan sahabatnya.
Hadiah itu dibungkus dengan rapi menggunakan kertas kado berwarna pink bercorak hati yang saling bertautan.
Rikka pun tampak menggoncang kotak tersebut karena penasaran dengan isi yang ada di dalamnya.
"Baiklah ... sudah waktunya kami berangkat!" ucap Aldo setelah melihat arloji di lengannya.
"Tante Rikka ..." rengek Hikari berlinang air mata di pelukan Rikka.
Rikka pun terharu dan mengelus lembut kepala sang gadis kecil.
"Tante pulang dulu, ya?" kata Rikka
"Tante Rikka .... huuueeeeeeeee ... !!!" Tangisan Hikari pun menggelegar.
"Ja-jangan menangis ... nanti, kapan-kapan tante datang lagi," bujuk Rikka.
"Hiks ... benarkah?"
Melihat tatapan sedih sang makhluk kecil, Rikka pun memberikan anggukan dengan penuh semangat.
"Huuueeeeeeee ...!!!"
"Hikari ... cup cup ..." ucap Erin meraih anaknya dari gendongan Rikka.
"Safe flight, Aldo, Rikka!" kata Hiroshi.
Aldo dan Rikka mengangguk. "Terima kasih."
"Aldo, Sampaikan salamku pada Chika!" ujar Erin sembari memeluk anaknya yang masih menangis.
"Ok!" balas Aldo dengan jempol yang diacungkan.
"Hueee~ ... Rikka~ ... kabari aku kalau sudah sampai, ya?" kali ini Shion yang merengek dan memeluk Rikka.
"Kenapa kau jadi mirip Hikari?" ucap Rikka sambil mengelus kepala sahabatnya.
Aldo hanya bisa ber-sweatdrop ria melihat Shion yang bermanja-manja dengan Rikka.
"Sampai jumpa, teman-teman!" ucap pengantin baru itu bersamaan lalu berjalan masuk kedalam.
"Huuueeeeee..... tante Rikkaaa~ ..."
Suara tangisan Hikari semakin kuat sembari ia menggeliat di pelukkan ibunya.
Sementara Shion tampak mengembangkan senyuman setelah melihat sahabatnya bergandengan tangan bersama sang suami.
7 jam pun berlalu, kini pesawat yang di tumpangi Aldo dan Rikka telah berhasil mendarat dengan sempurna di sebuah lapangan terbang di kota tempat mereka tinggal.
Layaknya penumpang lain, setelah turun dari pesawat, mereka juga langsung bergegas mengambil bagasi masing-masing.
Dan setelah yakin barang bawaan mereka sudah ada di tangan, pengantin baru tersebut berjalan menuju terminal kedatangan.
Tidak disangka-sangka ada seorang pria tampan berbadan tinggi yang sudah menunggu mereka disana.
Pria tampan itu memiliki rambut hitam cerah yang disisir rapi ke belakang. Bibirnya sangat merah seperti menggunakan lipstik. Tatapannya tajam dan sedingin Es. Kulitnya yang putih juga sangat mendukung tatapan dingin tersebut. Benar-benar sosok yang sangat misterius.
Pria tampan yang menggunakan setelan jas itu tampak sedang melambaikan tangan ke arah Aldo setelah menutup panggilan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Vincent?" kata Aldo pelan sementara Rikka hanya menatap bingung suaminya.
Pria yang diduga bernama Vincent itu berjalan mendekati mereka masih dengan tatapan sedingin es.
"Selamat datang," katanya datar setelah sampai di tempat Aldo berdiri.
"Tumben?" tanya Aldo singkat.
"Kami pulang, Kak Vincent!" kata Rikka ramah.
"Chika memintaku untuk menjemput kalian," balas Vincent setelah tersenyum singkat ke arah Rikka.
__ADS_1
"Lalu dimana mereka?" tanya Aldo lagi.
"Nenek pergi ke Italy, dan yang lainnya ada di rumah nenek,"
"Kenapa tidak ikut ke sini?" lagi-lagi Aldo bertanya.
"Karena akan merepotkan jika aku harus pulang dulu ke rumah,"
"Jadi kau baru pulang dari kantor?"
"Begitulah,"
Mereka pun mulai berjalan ke tempat parkiran sambil mengobrol.
"Ada urusan apa nenek ke italy?" tak henti-hentinya Aldo bertanya.
"Entahlah,"
"Vincent ... berekspresi lah sedikit, kau membuat Rikka takut!" cerocos Aldo.
Tampaknya sedari tadi Rikka melihat Vincent dengan tatapan aneh. Entah itu tatapan takut atau yang lain hanya Rikka lah yang tahu.
"Panggil aku kakak ... Rikka, maaf," ucap Vincent datar dengan wajah yang datar pula.
Mendengar namanya dipanggil, Rikka hanya tersenyum hangat.
"Ayolah, aku dan Chika hanya beda dua tahun. Dan kalau tidak salah, kau juga lebih muda satu tahun dari Chika!"
"Tetap saja aku masih lebih tua darimu, dan jangan lupa, aku adalah kakak iparmu,"
"Baiklah baiklah, Kakak Vincent~!" Kata Aldo sedikit menggoda.
Tiba-tiba Vincent memandang Aldo dengan tatapan jijik. "Hentikan ... aku jijik mendengarnya."
"Apa-apaan kau!" kata Aldo mulai mengamuk.
"Panggil aku Vincent seperti biasa,"
"Hey ... Tuan Pria Tampan ..." kata Aldo menyentuh pundak Vincent dan menghentikan langkahnya.
Vincent menoleh, begitu juga Rikka yang ikut menghentikan langkahnya karena melihat sang suami tiba-tiba berhenti.
"Bolehkah kupukul wajah tampanmu yang menyebalkan itu?" tanya Aldo tanpa dosa.
"Coba saja jika kau bisa," masih dengan nada datar, Vincent berkata dan mulai melangkah lagi.
"Brrreeeeeenggggseeeeekkkkk ..." Aldo tampak menahan amarah sambil menggerutu.
"... akan ku katakan pada Chika kalau kau adalah seorang masokis!" lanjutnya mengoceh.
Spontan Rikka terbengong, sedangkan Vincent yang tadinya melangkah di depan kini menghilang seperti asap dan muncul kembali di belakang Aldo dengan posisi memiting kepala sang adik ipar sembari menusuk pelan lehernya menggunakan jari telunjuk yang tampak sangat tajam.
"Hooo~ ... mau berkelahi?" tantang Aldo tanpa bergeming.
Suasana pun menjadi sunyi untuk sejenak.
"Tch ..." decak Vincent lalu berjalan kembali.
"... aku suka hanya jika istriku yang melakukannya," lanjutnya datar yang membuat Aldo cengo seketika.
"Se-setidaknya kau mengakui hobi gilamu itu," balas Aldo masih dengan tatapan bodoh.
Rikka yang dari tadi terbengong akhirnya mengeluarkan suara. "A-aku benar-benar tak menyangka."
Aldo tak merespon, lalu menatap istrinya, kemudian memberikan sebuah senyuman yang hangat.
"Ayo pulang?"
Dengan senyuman manis, Rikka menganggukkan kepala dan berjalan disebelah Aldo sambil meraih lengan sang suami yang dijulurkan ke arahnya.
Tepat jam 7 malam mereka sampai dirumah Isana. Karena sang Nenek tidak hadir pada malam itu, jadi hanya kedua kakak Aldo bersama keluarganya saja yang menyambut pengantin baru tersebut.
Pada saat Aldo bertanya pada kakaknya dimana sang nenek. Kedua kakak Aldo hanya menjawab menghadiri pameran lukisan sahabatnya.
Rikka juga sepertinya akan bermalam di rumah itu bersama suami dan kakak iparnya.
Kini mereka sedang makan malam bersama. Perbincangan tentang bulan madu mereka pun jadi topik utama. Rikka tampak sangat bahagia, karena dia tidak pernah merasakan kehangatan keluarga seperti itu. Maklum, Rikka adalah anak tunggal dari kedua orang tuanya.
Aldo juga menceritakan keadaan sahabat kakaknya Chika, yaitu Erin. Pria berkepala coklat itu juga menceritakan bagaimana tingkah anak sahabat kakaknya yang sama persis seperti Erin.
Canda dan tawa semakin mengisi ruang makan di rumah Isana sampai malam semakin larut. Aldo dan Rikka pun memutuskan untuk segera tidur setelah mandi tanpa merapikan barang-barangnya. Mungkin karena mereka merasa lelah akibat perjalanan yang jauh.
●●
Di pagi yang cerah beberapa hari setelah itu, tepatnya di rumah Aldo. Tampak Rikka sedang memberi arahan kepada petugas jasa pindah rumah untuk meletakan barang-barang miliknya.
Sepertinya Rikka memutuskan untuk segera pindah ke rumah Aldo sebelum kembali bekerja dan melakukan rutinitasnya.
Aldo juga tampak ikut membantu mengarahkan dan mengangkat kotak dus berisi peralatan dan perlengkapan sehari-hari Rikka.
"Apa sudah semuanya?" tanya Aldo di teras rumahnya.
Rikka menggeleng. "Sepertinya masih ada beberapa kotak lagi."
"Aku juga sudah meminta petugas untuk merapikan kamar kalian di atas ..." sela Mega kakak tertua.
"... jadi kalian tinggal menatanya saja nanti!" sambungnya sambil berjalan keluar menuju teras.
Rikka tersenyum "Terima kasih, kak."
"Sama-sama!" balas Mega.
"Tumben kau tak bersama Chika?" kata Aldo.
"Oh, begitu."
VROOMM ... VROOMMMM ...
Tiba-tiba terdengar suara geberan mobil yang sangat keras.
"Berisik sekali!" cibir Mega.
"Sepertinya sengaja," balas Aldo.
"Akhirnya datang juga ..." kata Rikka sambil melangkahkan kaki ke pintu gerbang.
Aldo dan Mega saling bertukar pandang dengan tatapan bingung. Lalu mereka berdua mengangkat bahunya secara serentak.
Tak lama setelah itu, sebuah mobil sport keluaran Italia berwarna biru masuk ke pekarangan rumah Aldo dan parkir tepat di belakang mobil sedan putih miliknya.
"Di situ saja!" kata Rikka sedikit berteriak setelah kembali ke teras rumah.
"Wow ..." kata Aldo sedikit kagum sementara Mega mengangkat alisnya sebelah.
"Mobil milikmu?" tanya Mega yang di respon dengan anggukkan oleh Rikka.
"Aventador ... model SVJ ... aku tak tahu kau punya selera yang tinggi?" ujar Aldo.
"Hehehe ..." Rikka hanya cengengesan karena tak tahu harus berkata apa.
"Boleh juga!" Sepertinya sang kakak tertua tertarik dengan mobil tersebut.
Bersamaan dengan itu, seorang wanita bermata sayu yang menggunakan pakaian kantor keluar dari mobil tersebut dan berjalan ke arah Rikka yang masih cengengesan.
"Maaf aku terlambat, Bu Rikka ..." ucap gadis bermata sayu.
"...aku tak berani melaju kencang dengan mobil itu. jantungku hampir copot saat mendengar suaranya!" lanjutnya dengan ekspresi yang sangat lega.
Sepertinya wanita itu sangat menderita ketika mengendarai mobil milik Rikka. Maklum saja, jika mengingat bagaimana cepatnya mobil tersebut, seorang wanita biasa pasti akan takut untuk menungganginya.
Rikka menggeleng. "Tidak apa-apa ..."
"... dan terima kasih karena kau mau mengantarkannya ke sini," ucap Rikka.
"Oh iya, pengelola apartement tadi mencarimu,"
Rikka mengangguk. "Nanti aku akan menghubunginya."
"Sekarang perkenalkan ... ini suamiku Aldo, dan kakak iparku Mega," lanjut Rikka memperkenalkan keluarga barunya.
"Halo," ujar Wanita bermata sayu sambil berjabat tangan.
"Kau yang waktu itu datang ke pesta pernikahan kami, kan?" tanya Aldo memastikan.
Sedangkan Mega hanya tersenyum ramah.
"Benar, namaku Shasha!" kata wanita bermata sayu.
Setelah beberapa saat, petugas jasa pindah rumah pun selesai dengan pekerjaannya lalu berpamitan pada Aldo dan Rikka sambil menatap kagum mobil sport biru yang sedang berteduh di pekarangan rumah.
"Masuklah, akan kubuatkan kopi untuk kalian," kata Aldo menawarkan.
"Ti-tidak perlu repot-repot!" balas Shasha menolak dengan sopan.
"Tidak apa-apa ... kopi buatan suamiku enak, kau harus mencobanya!" ujar Rikka menegaskan.
"Benarkah?" tanya Shasha sedikit ragu.
"Tentu saja ... karena dia adalah pengelola sekaligus pemilik salah satu cafe di pusat kota!"pamer Rikka dengan bangga.
"Benarkah??"
Dengan penjelasan Rikka yang sedikit dilebih-lebihkan, Shasha pun jadi semakin penasaran dan ikut masuk ke dalam rumah tersebut.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Aldo ketika membuat kopi untuk empat orang. Dan tampaknya kopi yang dibuat oleh pria berkepala coklat itu adalah kopi espresso yang nikmat dan harum baunya.
"Silahkan dinikmati!" ujar Aldo sembari meyuguhkan gelas berisi kopi.
"Te-terima kasih," kata Shasha malu-malu.
"Ahhh~ ... seperti biasa, kopi buatan adikku tiada duanya!" tegas Mega setelah menyeruput kopi.
"Kakak benar!" Rikka ikut menyetujui.
"Jadi ... kau temannya Rikka?" tanya Aldo memulai percakapan.
"Saya ... dan Bu Rikka ..." Shasha bingung harus menjawab apa.
"Tak perlu formal dan gugup begitu, santai saja," ujar Aldo.
"Benar, santai saja ..."
"... dia ini adalah Asistenku di kantor!" lanjut Rikka menjelaskan kepada suami dan kakak iparnya.
"Oh, begitu?" Seolah mengerti Aldo menganggukkan kepalanya.
Shasha yang masih memegang cangkir kopinya menganggukkan kepala. Sementara mega tak memperdulikan sekitar dan tetap menikmati kopi buatan sang adik.
"Sejak kapan kau bekerja dengan istriku?" tanya Aldo lagi.
"Semenjak Bu Rikka naik jabatan."
__ADS_1
"Sejak kapan kau naik jabatan, Rikka?" Kali ini pertanyaan dilempar ke Rikka.
"Dua tahun terakhir ... hehehe ..." kata Rikka sambil memamerkan cengirannya.
"Sebelumnya kau bekerja dimana?" Pertanyaan kembali di lempar ke Shasha.
"Masih di tempat yang sama ... hanya saja dulu saya beda divisi dengan Bu Rikka. Lalu setelah Bu Rikka naik jabatan, dia meminta saya untuk menjadi asistennya!" jelas Shasha panjang lebar sebelum menyeruput kopi nya lagi.
"Bagaimana bekerja dengan Rikka? Apa dia cerewet?"
Shasha menggeleng. "Tidak. Malah Bu Rikka terlalu sering minta maaf saat kami bekerja!"
"Oh, begitu," kata Aldo yang sepertinya sudah kehabisan pertanyaan.
Awalnya Rikka sempat khawatir dengan pernyataan anak buahnya tersebut. Tapi berkat briefing melalui telepon yang mereka lakukan sebelumnya, introgasi dari Aldo pun berjalan mulus.
Sebenarnya Aldo ingin membuat kedua wanita kepolisian itu melakukan pengakuan dari mulut mereka sendiri. Tapi kemampuan mereka cukup tangguh dalam bermain kata-kata.
Setidaknya wanita yang matanya terlihat seperti mengantuk itu tidak berbohong tentang pekerjaannya, pikir Aldo.
"Jangan terlalu banyak bertanya, Aldo! Kau kira ini kantor polisi?" cibir Mega pada adiknya.
"Maaf ..." kata Aldo yang dibalas senyuman oleh Shasha.
Setelah cukup lama mengobrol, jemputan Shasha akhirnya tiba. Aldo dan Rikka pun ikut mengantarkannya sampai ke teras. Sementara Mega masih asyik menikmati kopi sambil menonton televisi.
Aldo kembali melihat sosok benda beroda empat yang memiliki warna sebiru langit itu sedang asyik berteduh di garasinya. Kemudian ia berjalan kesana lalu mengitari benda tersebut.
Melihat sang suami yang tampak sedang serius memperhatikan mobil miliknya, Rikka pun ikut menemani sambil duduk di anak tangga yang meghubungkan teras dan garasi.
"Berapa detik sampai 100 km?" tanya Aldo.
"Kalau tidak salah, hampir tiga detik."
"Tentu saja, Aventador~ ...! ucap Aldo kagum.
Lalu ia mengintip bagian interior mobil tersebut melalui kaca jendela yang sudah terbuka. Dengan tema Biru hitam yang menawan, interior mobil sport milik sang istri berhasil membuat Aldo terkagum-kagum.
"Kalau tidak salah ... mobil ini hanya diproduksi delapan ratus unit, kan?" tutur Aldo sambil berjalan ke kerah istrinya.
Rikka mengangguk. "Kau benar!"
"Bagaimana caramu mendapatkan dia?" Aldo kembali bertanya setelah duduk di sebelah Rikka.
"Dia?"
"Makhluk eksotis ini!"
"Makhluk eksotis?"
"Astaga Rikka ... mobil ini maksudku!" tegas Aldo mulai kasal.
"Oooh, maaf. Aku tidak mengerti maksudmu tadi ..."
Rikka pun mulai memutar otaknya untuk membuat sebuah karangan bebas.
"... aku ... aku sudah menabung sejak lama untuk membeli mobil ini, lalu kekurangannya aku minta dari papa!" Dengan semangat Rikka berbohong.
Pada kenyataannya adalah, Rikka mendapatkan mobil tersebut melalui pamannya Andreas Anderson selaku pimpinan FBI yang berhasil menyita aset seorang mafia judi.
Karena kebetulan waktu itu Rikka ada di sana dan melihatnya, wanita bermanik onix itu pun langsung jatuh cinta dengan benda eksotis tersebut dan membelinya dari pihak berwajib lalu meminta Shasha untuk mengurus surat-surat kelengkapannya.
"Entah kenapa aku tidak percaya!" ucap Aldo dengan tampang aneh.
"Ya sudah!" cibir Rikka dengan pipi yang menggembung.
"Kalau kau rajin menabung, kau juga bisa membelinya," sambung Rikka setelah itu.
Aldo menggelengkan kepalanya. "Aku lebih memilih si putih itu!"
Aldo menunjuk ke arah mobil sedan putih di depan mobil Rikka dengan tulisan M8 di belakangnya.
"Kenapa?" tanya Rikka heran.
"Selain terlalu mahal, Aventador terlalu liar untuk dikendalikan. Tidak seperti M8 yang cukup stabil dan memiliki dimensi yang cukup luas!" jelas Aldo panjang lebar.
"Lagi pula, kalau untuk kecepatan, M8 juga tidak akan kalah ..."
"... ngomong-ngomong boleh ku coba?" sambung Aldo meminta izin pada istrinya.
"Tentu!" balas sang istri.
"Ok tunggu sebentar, sekalian kita singgah ke Green Goblin untuk pamer!"
Aldo tampak berlari kecil masuk ke dalam rumahnya dan mengambil sebuah tas.
Rikka pun menatap suaminya dengan bingung. "Apa itu?"
"Oleh-oleh untuk Zedd dan kawan-kawan!"
Setelah pamit dengan Kakak tertua, Aldo langsung menyambar kunci mobil tersebut dan menungganginya bersama Rikka.
Benda biru yang dikendarai Aldo pun tampak memasuki jalan tol dengan santainya.
"Kenapa kita lewat jalan tol?" tanya Rikka bingung.
"Lihat saja nanti ..." balas Aldo.
VROOOOOM .... VROOOOOOOOM ...
Aldo mulai menggeber mobil tersebut dan tampak mengebut dengan kecepatan tinggi setelah menapakkan keempat rodanya di jalan tol.
"ALDO ALDO ALDO ALDOOOOOO!!" teriak Rikka histeris sambil berpegangan pada tali sabuk pengaman.
Bagaimana tidak, dengan santainya Aldo sudah mencapai kecepatan 200 km/jam dengan waktu tidak sampai 15 detik.
Aldo tidak memperdulikan Rikka yang mulai ketakutan dan terus menginjak pedal gas mobil sport tersebut dengan santainya.
"Benar-benar kencang dan liar ..." desis Aldo.
"Su-sudah jangan ditambah lagi!" seru Rikka dengan wajahnya yang sudah tampak pucat.
Masih tak memperdulikan istrinya yang ketakutan. Aldo menambah kecepatan hingga 300 km/jam dengan seringaian di wajahnya.
Untunglah jalan tol yang mereka lalui sangat sepi, sehingga tingkat kecelakaan mungkin akan sangat rendah. Tapi tetap saja, tingkah Aldo tersebut sangat tidak patut untuk di contoh.
"Aku akan mati ... aku akan mati ... aku akan mati ..." Rikka pun merapalkan kalimat kematian sambil menutup matanya.
Mendengar rapalan sang istri, Aldo hanya tersenyum dan mulai mengurangi kecepatan mobil yang ia kendarai.
"Kau kenapa?" tanya Aldo polos.
Rikka membuka sebelah matanya perlahan untuk memastikan sekitarnya setelah mendengar suara Aldo.
Ia pun menghela nafas lega. "Kenapa kau bilang?"
Tak menjawab, Aldo hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa kau bodoh?"
"Maksudmu?"
"Siapa saja pasti akan ketakutan kalau dibonceng dengan kecepetan seperti itu!" Rikka mulai mengoceh karena tingkah suaminya.
"PFTT ... bonceng? Kau kira ini sepeda motor?"
Rikka merona karena malu. "Y-ya ... po-pokoknya begitu!"
Aldo tertawa terbahak-bahak sebelum membawa mereka keluar dari jalan tol dan memasuki area perkotaan. Pusat kota lebih tepatnya.
Mungkin karena mobil yang mereka kendarai sangat mencolok, sepasang suami istri tersebut menjadi pusat perhatian saat berhenti di lampu merah. Jika boleh dikatakan, mobil tersebut lah yang menjadi pusat perhatian. Bukan orang yang berada di dalam.
Setelah lampu lalu lintas berubah hijau, Aldo berjalan lagi dan tampak mengarahkan mobilnya ke sebuah bangunan semi ruko bergaya belanda dan memarkirkan makhluk eksotis yang ia kendarai tepat di depan bangunan itu.
Nampak dengan jelas tulisan 'Green Goblin Caffe' di plang merek pada bangunan bergaya belanda tersebut. Sepertinya mereka sudah sampai tujuan.
"Wawawawawa ..." terdengar suara bersemangat milik seseorang keluar dari cafe.
Aldo dan Rikka menoleh ke sumber suara tersebut setelah turun dari mobil. Tampaklah Kawa yang sedang berlari kecil menghampiri mereka.
"Sejak kapan kau punya makhluk eksotis ini, Aldo!?"
"He ... he ... he ... bagaimana?" balas Aldo dengan sombongnya.
"Jawab aku!" pekik Kawa.
"Sejak kembali dari jepang kemarin?" kata Aldo polos dengan nada bertanya.
"Kenapa kau malah seperti orang yang sedang bertanya!?" cerocos Kawa.
"Hahaha ... mobil ini milik Rikka!" jelas Aldo setelah tertawa.
Perhatian Kawa beralih ke Rikka dengan ekspresi kagum dan mata yang berbinar-binar. Tak lupa mulutnya yang ternganga membuat Rikka ikut tersenyum melihat gadis mungil tersebut.
"Halo, Kawa ... apa kabar?" sapa Rikka.
"Rikka~ ...!"
Kawa langsung melompat dan memeluk Rikka setelahnya. Sang kepala intelijen pun mengelus kepala gadis mungil yang sedang memeluknya.
"Rikka~ ... boleh aku mencoba si cantik ini?" kata Kawa.
"Si cantik?" tanya Rikka bingung.
"Mobilmu!" tegas Aldo menyela.
Kawa hanya diam dengan tatapan memohon dan Rikka tersenyum, lalu menganggukkan kepala setelah itu.
"Yeeeee~ ...!" seru Kawa dengan girangnya.
Tak banyak menunggu lagi, Kawa melepas celemek seragamnya dan langsung menyambar kunci yang ada di tangan Aldo. Lalu masuk ke dalam mobil dan pergi entah kemana setelah memberikan beberapa kali geberan.
"Bukannya menyambutku, dia malah bolos bekerja," ujar Aldo dengan ekspresi bengong.
"Hahaha ... itulah Kawa dari Green Goblin!" tegas seseorang yang berjalan menghampiri mereka.
Setelah dilihat, tampak Zedd sedang tersenyum sambil berjalan menghampiri mereka dari arah cafe.
"Selamat datang, Aldo, Rikka? Bagaimana kabar kalian?" lanjutnya menyapa.
"Baik. Kalian bagaimmana, Zedd?" balas Aldo.
Rikka hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala indigonya.
"Ayo masuk ... di dalam saja kita mengobrolnya," ajak Zedd yang di respon dengan anggukan oleh pengantin baru tersebut.
"Selamat datang di Green Goblin!" kata Aldo pada istrinya sembari mereka berjalan masuk.
-----
Jangan lupa LIKE, VOTE DAN COMMENT ya
__ADS_1
Thank you ... 😊😊😊