
"Selamat datang di Green Goblin!"
Aldo berbalik menghadap istrinya setelah mereka menginjakkan kaki di dalam cafe tersebut.
Tampak oleh Rikka interior ruangan yang rapi dan cantik. Ruangan yang ditata rapi itu memiliki tema warna hijau gelap dan coklat yang di padu padankan.
Set meja dan kursi yang memiliki warna serupa itu juga terlihat menawan dengan model trembesinya. Dinding berwarna senada yang dihiasi dengan ornamen unik juga menjadi penarik perhatian di sana. Ornamen-ornamen unik tersebut sepertinya berasal dari beberapa negara yang sengaja di beli Aldo sebagai penghias ruangan.
Tampak juga tulisan besar 'Green Goblin' yang unik ikut menghiasi ruangan tersebut. Dan tak lupa dengan set meja barista memanjang yang juga memiliki tema serupa dengan isi ruangan.
Dan yang paling menarik perhatian adalah, rak bulat besar berisikan kumpulan Action Figure yang di lapisi oleh kaca tebal sedang dipajang di tengah ruangan. Sepertinya rak tersebut dijadikan fasilitas untuk berfoto. Dan kumpulan Action Figure yang dipajang dengan rapi itu sepertinya kepunyaan Taka.
Tidak seperti Myra, Nana dan Syndi yang sedang melayani pelanggan, nampaknya Taka sedang asyik bermain game konsol dengan tatapan malas.
Ketika pria gondrong itu menyadari kehadiran sang leader, ia langsung berdiri dan menghampirinya.
"Mana Action Figure-ku?" katanya tanpa basa-basi.
Aldo menatapnya dengan tampang kesal. "Adakah sambutan untukku?"
"Itu tidak penting ... serahkan Action Figure-ku!"
Aldo menghela nafas. "Dasar!"
Dengan malas Aldo menyerahkan Action Figure tersebut. Maniak komputer itu langsung menyambarnya dan membuka kotak pembungkusnya. Lalu memajangnya bersama kumpulan Action Figure lain pada rak yang ada di tengah ruangan. Taka pun tampak tersenyum puas sambil memandangi kumpulan boneka koleksinya.
"Selamat datang!" ujar Nana sambil berjalan menghamipiri leadernya yang diikuti oleh Myra dan Syndi.
Aldo dan Rikka menoleh ke arah mereka lalu tersenyum.
"Bagaimana bulan madu kalian?" tanya Syndi.
Sedangkan Myra malah menghampiri Taka yang sedang asyik memandangi koleksi Action Figure miliknya.
"Tentu saja sangat menyenangkan. Benarkan, Rikka?" balas Aldo sembari duduk di depan meja barista.
Rikka pun ikut duduk di sebelah suaminya setelah di persilahkan oleh Nana.
"Benar," kata Rikka menyetujui.
"Kelihatannya belum ramai?" kata Aldo setelah memperhatikan sekitar.
"Maklum ... belum lewat tengah hari," jawab Zedd.
"Oh iya, ini oleh-oleh untuk kalian!" ucap Rikka menyela sambil meletakkan sebuah tas di atas meja.
Satu persatu Rikka mulai menyerahkan oleh-oleh tersebut. Untuk Nana yang suka nyentrik dalam berpakaian Rikka memberikan sebuah Yukata cantik berwarna ungu.
Untuk Syndi yang memiliki rambut panjang, Rikka memberikan sebuah konde khas jepang bernama kanzashi dengan ornamen bulu ekor merak berwarna hijau gelap yang sangat cocok dengan warna matanya. Tampaknya oleh-oleh untuk Syndi sangat mewah dan mahal.
Lalu untuk Myra, Rikka memberikan sebuah kipas khas jepang bernama Sensu dengan lukisan bunga sakura yang sangat indah. Cocok untuk Myra yang katanya sering kepanasan saat berada di kampus. Dan sepertinya, lukisan tersebut dilukis oleh seniman terkenal jepang.
"Untukku juga?" kata Myra heran sambil meraih oleh-oleh untuknya.
"Untukku~ ...!?" Suara Kawa tiba-tiba terdengar dan muncul di ambang pintu masuk.
Sepertinya gadis mungil itu sudah puas jalan-jalan dengan mobil eksotis milik Rikka.
"Tidak ada oleh-oleh untuk gadis yang mengabaikan bossnya!" celoteh Aldo.
Mendengar hal itu Kawa hanya bisa memasang tampang sedih ke arah Rikka dengan mata yang berkaca-kaca.
Rikka tersenyum. "Ini untukmu."
"Yeeey~ ..." Kawa kembali bersemangat setelah menerima sebuah Yukata imut berwarna pink.
"... akan langsung kupakai!" lanjutnya sambil berlari ke sebuah ruangan.
Aldo dan Rikka hanya tersenyum melihat tingkah maskot Green Goblin tersebut.
"Kawa~ ... apa kau bisa memakainya sendirian?" ucap Nana menyusul kawa.
Sepertinya, wanita nyentrik itu juga ingin langsung menggunakan oleh-olehnya.
"Dan ini untukmu, Zedd"
Rikka memberikan Zedd beberapa set teh hijau khas jepang dari berbagai jenis. Karena Zedd adalah barista di cafe tersebut, Rikka ingin pria itu meracik segelas minuman untuknya.
"Hooo~ ... sepertinya kau menantangku?" kata Zedd.
"Apa kau takut?" balas Rikka memprovokasi.
"Baiklah ... kuterima tantanganmu!"
Zedd kemudian mengambil satu jenis teh hijau pemberian Rikka lalu memasang pose ala barista dan mulai meracik minuman tersebut dengan gaya yang keren.
Sementara Syndi tampak sedang menyanggul rambut dan ingin mencoba oleh-olehnya yang dibantu oleh Myra.
"Hey, Taka ... aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu!" sela Aldo sambil mengotak-atik ponselnya.
"Apa?" kata Taka malas.
"Lihat,” Dengan semangat Aldo memamerkan foto cosplayer ke arah Taka.
Spontan Taka terbelalak sambil merampas ponsel tersebut dan mulai memperhatikan isinya satu-persatu.
"Boleh kuminta?" mohon Taka pada leadernya yang dibalas anggukan oleh Aldo.
Dengan mata berbinar, maniak komputer itu pun kembali berkutat dengan ponsel milik leadernya.
"Silahkan dinikmati," ujar Zedd tiba-tiba.
Sepertinya Zedd telah selesai meracik teh hijau yang diminta oleh Rikka.
Rikka melirik gelas berisi teh hijau yang disuguhkan oleh Zedd untuknya. Lalu ia meraihnya, kemudian menikmati aroma khas teh tersebut.
"Aromanya menenangkan hati," kata Rikka.
"Tentunya!" balas Zedd singkat.
"Akan ku coba!"
Zedd memberikan kode 'silahkan' kepada Rikka menggunakan tangannya dengan santai.
"Enak!" ucap Rikka setelah meneguk minuman.
"Benarkah?" tanya Aldo menyela.
Rikka hanya mengangguk ria sembari menikmati minumannya lagi.
"Biar ku coba."
Aldo meraih gelas yang digenggam oleh Rikka lalu menyeruput minuman tersebut dengan santainya. Sementara Rikka hanya terdiam dan mengeluarkan rona merah di wajahnya saat melihat sang suami minum dari gelas yang sama.
"Kau benar ... enak sekali!" kata Aldo kagum.
"Yang enak tehnya atau bekas bibir Rikka?" celetuk Myra setelah selesai membantu Syndi.
Mendengar hal itu, Rikka menundukkan kepalanya karena malu.
"Apa maksudmu?" tanya Aldo heran.
"Lihat itu ..." Tidak menjawab, Myra hanya memberikan sebuah petunjuk.
Aldo menoleh. "Kau kenapa Rikka?"
Ditanya oleh sang suami, Rikka malah semakin menundukkan kepalanya.
Zedd pun menghela nafas. "Maksud Myra ... yang enak itu rasa tehnya atau rasa bibir istrimu yang melekat di gelas itu, Aldo!"
Wajah Rikka semakin merah padam, sedangkan Aldo malah sumringah mendengarnya.
"Hey ... Rikka?"
"Ya?" balas Rikka dengan lirih sambil menoleh.
SLRUUPPP...
Aldo malah semakin menjilat dan menikmati bekas bibir istrinya di ujung gelas tersebut dengan tatapan menggoda.
Rikka sedikit terbelalak, lalu dengan refleks menjitak kepala coklat suaminya tanpa dosa.
Melihat tingkah leadernya bersama sang istri, Syndi tertawa kecil sambil menghampiri mereka bersama kanzashi yang sudah bertengger di atas kepalanya.
Aldo menoleh. "Wow ... benda itu cocok sekali denganmu, Syndi."
"Terima kasih," balas Syndi dengan senyuman.
"Tentu saja, aku sengaja memilihnya sesuai dengan warna mata Syndi!" tegas Rikka menyela.
"Terima kasih, Rikka," kata Syndi untuk istri leadernya.
Tak lama kemudian, Kawa dan Nana selesai mendandani diri dengan penampilan ala wanita jepang. Kini mereka sedang memasang pose ala geisha di depan Aldo dan kawan-kawan.
"Bagaimana~?" ucap Kawa dan Nana menggoda.
Kawa yang sudah dibalut kimono tampak menggoda. Tapi pose itu sangat tidak cocok untuk tubuh mungilnya. Jadi malah terlihat lucu dan menggemaskan.
Lain halnya Nana yang memiliki tubuh proporsional, sehingga membuat kimono yang melekat di tubuh moleknya tampak indah. Tapi sayang, Aldo, Taka, dan Zedd sama sekali tak bergeming. Malah pengunjung Green Goblin yang tercengang dengan kecantikan wanita tersebut.
"Biasa saja," kata Aldo datar.
"Benarkah~ ...?" kata Nana mulai menggoda Aldo sambil mencondongkan tubuhnya.
Aldo tetap tak bergeming sama sekali, dan mulai membuat Nana semakin kesal.
"Membosankan!" cibir Nana.
"Bukankah sudah jelas ... ada istrinya disini!" sela Zedd.
"Benar juga!" umpat Nana sambil memalingkan wajahnya kesal.
Sementara Rikka hanya tersenyum kikuk dan tak tahu harus berkata apa.
Di lain sisi, Kawa tampak sedang menggoda Taka yang asyik melihat foto cosplayer di ponsel Aldo bersama Myra.
"Boss, kau harus melihat ini!" kata Zedd sambil menyerahkan sebuah buku besar berisi laporan.
"Sudah waktunya?"
"APA-APAN INI!!!" teriak Aldo setelah melihat laporan tersebut.
"Kenapa kopi Tanzania Peaberry dan Colombian bisa habis dalam waktu seminggu!?" lanjutnya menggerutu entah pada siapa.
Rikka yang mulai bingung mencoba bertanya pada Zedd. Tapi pria yang perawakannya mirip Aldo tersebut malah memberikan kode dengan mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Nana ... Taka ..." desis Aldo dengan nada suara yang menyeramkan.
Merasa namanya dipanggil, Nana pura-pura sibuk membereskan meja yang tidak kotor. Sementara Taka hanya bersiul-siul tidak jelas.
Sepertinya sandiwaranya pada Rikka sewaktu di jepang menjadi kenyataan. Dan pemilik cafe tersebut hanya bisa menghela nafas sambil memijat kepalanya.
"Gaji kalian bulan ini akan kupotong!" cetus Aldo.
"APA!?" teriak kedua tersangka bersamaan.
"Gaji kalian kupotong setengah!"
"Tolong jangan. Aku sedang butuh uang untuk mengembangkan software yang berguna bagi cafe ini," jelas Taka membela diri.
"Tidak perlu!" balas Aldo ketus.
"Aldo~ ... penelitianku tentang menu baru cafe ini bisa terganggu, lho~ ..." Nana membela diri dengan cara menggoda.
"Kau kira aku peduli!"
Sepertinya Aldo sudah kebal dengan godaan maut Nana yang menggoyahkan iman.
"Selama aku pergi ternyata kalian malah merajalela, ya?" oceh Aldo pada anak buahnya.
"Maaf!" ucap kedua tersangka bersamaan.
"Tidak ada maaf kali ini ... gaji kalian tetap akan kupotong!"
Kedua tersangka sepertinya sudah menyerah. Karena usaha mereka untuk membela diri sudah tidak akan berarti apa-apa bagi Aldo.
"Ubah sikap kalian jika tidak mau gaji bulan depan kupotong juga!"
"Baik, pak."
Tak lama kemudian beberapa pelanggan pun memasuki cafe. Dengan cekatannya, Myra dan Syndi melayani pesanan mereka bersama senyuman yang enak dilihat.
"Caramel Macchiato dan Cinnamon Roll," ucap Myra ke barista.
Dengan sigap, Zedd dan Nana langsung mempersiapkan pesanan tersebut. Setelah selesai, Myra langsung menyuguhkannya ke pelanggan.
Begitu juga untuk pesanan yang di bawa oleh Syndi. Tanpa kesalahan sedikit pun mereka bisa membuat pelanggan tersenyum dan merasa puas.
"Aldo ... entah kenapa aku merasa pernah melihat wanita cosplayer ini," kata Taka sambil memperlihatkan sebuah foto.
Aldo menoleh. "Itu Rikka!"
Tampaknya yang dimaksudkan Taka adalah foto Rikka yang bercosplay sebagai Hinata sewaktu mereka di Akihabara.
"Rikka?"
"Rikka istriku!" tunjuk Aldo ke arah sang istri.
"Kau pasti bercanda."
"Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja langsung pada orangnya!"
"Benar begitu, Rikka?" Taka beralih ke Rikka.
"Be-begitulah," jawab Rikka sedikit tergagap.
Setelah di tanya oleh Taka, wanita berambut indigo tersebut mengingat kembali kejadian sewaktu mereka di kejar-kejar oleh segerombolan otaku. Seketika, Rikka pun merinding di tempat.
"Bisakah kau melakukannya lagi untukku?" tutur Taka mulai memohon.
"A-apa maksudmu?"
"Bercosplay sebagai Hinata untukku."
"Maafkan aku, Taka. Itu adalah yang pertama dan terakhir untukku!" tegas Rikka.
"Kumohon, Rikka."
"Maaf, tapi tetap tidak bisa."
"Rikka ..."
"Tidak!"
"Rikka~ ..." Taka mulai merengek dengan ekspresi menggebu.
"Aku bilang tidak tetap tidak!"
"Ri-"
BUUAAAGGHHH...
Tendangan pun menerjang dan melesat serta mendarat di kepala Taka dengan mulus sebelum ia menyelesaikan kalimatnya dan sukses membuat beberapa kursi rusak.
"Hentikan wajah mesummu itu, Taka!"
Myra mengoceh sambil menginjakkan kakinya di punggung Taka yang kurus setelah berhasil menerjang sahabatnya tersebut.
"Setidaknya izinkan aku mati setelah melihat Rikka bercosplay, Myra," kata Taka pasrah.
"Diam kau!" balas Myra semakin menghentakkan kakinya di tubuh Taka.
"Gajimu juga akan kupotong untuk perbaikan kursi, Myra!" cetus Aldo santai sambil memegang kursi yang sudah rusak.
"APAAAA!!??" teriak Myra tak terima.
"Ta-ta-tapi ini ulah Taka!"
"Tidak ada tapi-tapian. Aku harus tegas pada kalian kali ini!"
Syndi dan Kawa yang cepat tanggap pun memohon maaf kepada pelanggan yang merasa terganggu lalu memberikan sedikit cemilan berupa potongan kue bolu sebagai kompensasi.
"Ini semua salahmu!"
Tampang Myra pun berubah sangat menyeramkan seperti ratu iblis dan menyerat Taka yang tidak berdaya ke belakang.
"Ikut aku!"
"Sampai jumpa di neraka teman-teman," kata Taka semakin pasrah sambil melambaikan tangan.
Rikka hanya bisa menatap iba ke arah Taka yang sedang terseret dengan kasarnya.
Aldo menghela nafas panjang. "Aku bingung harus berkata apa!"
"Aku rasa tindakanmu sudah benar," ucap Zedd sambil menyuguhkan kopi untuk bosnya.
"Oh iya ... kenapa kalian tidak bisa menjemputku?" lanjut Aldo bertanya.
"Maaf, Boss. kita sangat sibuk mengurus pelanggan Green Goblin kemarin," balas Zedd menjelaskan.
"Apa kita butuh pekerja tambahan?"
Zedd mengangguk. "Aku rasa begitu ... tapi ada baiknya jika kita merekrut pekerja sambilan saja."
Aldo ikut mengangguk. "Coba tanyakan ini pada Kawa dan Myra. Siapa tahu teman mereka mau menjadi kandidatnya."
"Baiklah," kata Zedd merespon ide dari bosnya
Beberapa saat kemudian, Aldo dan Rikka memutuskan untuk pulang dan berpamitan pada Zedd dan kawan-kawan. Lalu mereka berterima kasih atas oleh-oleh pemberian leader dan sang istri sebelum mengantarnya ke depan pintu.
Tak terasa malam pun tiba. Setelah mandi dan membersihkan diri, mereka tampak sedang makan malam berdua di rumah Aldo.
Setelah itu mereka menonton televisi bersama layaknya sepasang pengantin baru yang saling mencintai. Tapi sayang, perasaan mereka berdua belum ada yang mengetahuinya, bahkan diri mereka sendiri.
"Kau ingin tidur di kamar yang mana?" kata Aldo bertanya.
"Aku ingin tidur satu kamar denganmu."
Rikka pun menjawab dengan semburat merah di wajahnya tanpa menoleh ke arah sang suami.
Aldo menyeringai. "Jadi ... kau sudah siap untuk melakukannya?"
"Bo-bodoh!"
"Tak perlu malu begitu,"
"Kita ini sudah menikah. Menikah adalah sebuah komitmen. Jadi aku tak mau mengecewakan keluarga kita. Makanya, aku ingin membiasakan diri untuk tidur satu kamar denganmu ..." kata Rikka menjelaskan.
"... tapi bukan berarti aku mau melakukan itu!" tegasnya di akhir kalimat.
Setelah mendengar penuturan istrinya, pembunuh berantai itu pun tertegun sejenak. Tapi seringaian tiba-tiba muncul di wajahnya.
"Melakukan itu?" tanya Aldo lagi pura-pura bodoh.
"I-iya ... itu ..."
"Itu apa?"
"Itu ... jika sepasang kekasih sudah menikah ... mereka akan ... itu ..."
"Iya ... itu apa, Rikka?" masih dengan acting bodohnya Aldo terus menggoda sang istri.
"Melakukan hubungan s*x di atas tempat tidur dengan hiasan bunga mawar di sekitarnya!" pekik Rikka tanpa jeda dengan mata tertutup.
Aldo pura-pura terkejut. "Kau vulgar sekali, Rikka?"
"Kau yang mulai!"
"Dan aku tak menyangka kau ingin nuansa bunga mawar di malam pertama kita," lanjut Aldo menggoda.
"Bo-bodoh! Aku tidur duluan!" cerocos Rikka dan beranjak ke kamar di lantai dua.
Gelak tawa Aldo pun terdengar sangat nyaring mengisi ruang keluarga di rumah tersebut.
Masih dengan wajah yang memerah, Rikka masuk ke dalam kamar yang sudah di tata rapi. Lalu ia teringat dengan hadiah yang di berikan oleh sahabatnya Shion.
"Benar juga ... aku belum membuka kado dari Shion."
Rikka tampak mencari kado tersebut setelahnya. Lalu ia duduk menghadap pintu di atas tempat tidur sambil memangku kotak kubus berwarna pink.
"Aku jadi penasaran.”
Perlahan Rikka membuka bungkus kado tersebut. Lalu membuka tutupnya secara perlahan juga. Setelah itu, ia melihat sebuah note kecil di sana dan mulai membacanya.
'Semoga hubunganmu dan suami semakin harmonis'
Kira-kira seperti itulah bunyi dari note tersebut. Rikka pun tersenyum manis setelah membacanya.
Kemudian Rikka melihat isi kadonya lagi dan mendapati sebuah pakaian berwarna ungu pucat yang di lipat.
Lalu, masih secara perlahan, ia membentangkan pakaian tersebut di depan wajahnya yang menghadap ke pintu kamar.
__ADS_1
Terpampanglah sebuah camisole transparan yang seksi berwarna ungu pucat di hadapan Rikka. Seketika itu juga wajah Rikka berubah drastis menjadi sangat merah seperti kepiting rebus.
Pikiran liar Rikka pun mulai membayangkan hal-hal mesum bersama suaminya. Bukannya segera menepis fantasi tersebut, Rikka malah semakin terbuai dengan pemikiran liarnya sendiri.
Pada saat yang sama, Aldo masuk ke dalam kamar. lalu terpaku setelah melihat istrinya sedang membentangkan sebuah camisole dengan ekspresi yang sangat aneh.
Kedua iris mereka pun bertemu. Wajah Rikka semakin memerah dan tak bisa berkutik seperti pencuri yang tertangkap basah. Sementara Aldo malah melebarkan seringaiannya.
"Jadi ... kau ingin menggunakan itu malam ini?" ujar Aldo dengan tatapan mesum.
"PERGI DARI SINIIIII!!! teriak Rikka sekeras mungkin sambil melempar kotak kado.
Dengan gesitnya Aldo berhasil menghindar dan melarikan diri dari kamarnya sendiri.
Aldo tampak menghela nafasnya sambil berjalan ke arah kamar yang lain. Sangat di sayangkan memang, padahal ia sudah mendapatkan lampu hijau untuk tidur bersama Rikka. Dan Kesempatan itu malah hancur hanya gara-gara sepotong pakaian seksi.
Sementara Rikka yang masih berada di dalam kamar tampak sedang mengotak-atik ponselnya. Sepertinya ia sedang menuliskan pesan untuk sahabatnya Shion dengan segala umpatan yang ada di dunia ini.
"Awas kau Shion!" gerutunya lalu merebahkan diri dengan kasar di atas tempat tidur.
●●
Sementara itu di lain tempat, tampak sekelompok orang yang terdiri dari beberapa wanita dan beberapa pria dewasa sedang melakukan rapat.
Sekelompok orang tersebut sedang duduk di kursi dengan meja besar setengah lingkaran yang menghadap ke sebuah layar besar seperti teater bioskop.
Layar besar itu tampak sedang menampilkan foto abstrak berjumlah enam orang yang berbeda gender. Di sebelah foto-foto tersebut juga terdapat barisan tulisan seperti biografi singkat.
"Baiklah, akan kumulai!" ucap pria kekar sambil berjalan mendekati layar.
Pria kekar tersebut kemudian mengambil sebuah benda seperti senter laser lalu menyalakannya kemudian mengarahkan laser itu ke layar.
"Seperti yang kalian lihat, mereka adalah kriminal kelas kakap atau yang biasa kita bilang kriminal peringkat S!" kata pria kekar menjelaskan.
"Apa kau sudah mengetahui identitas mereka?" tanya seorang wanita dengan suara menawan sambil mengangkat tangannya.
Pria kekar menggeleng. "Maaf ... sejauh ini, aku hanya mendapatkan sedikit informasi yang mungkin akan menarik perhatian kalian."
"Apa maksudmu?" kata seorang pria kurus dan tinggi.
Sepertinya pria kurus itu juga salah satu peserta rapat di sana.
"Ada hubungannya dengan kematian Elga Victoria?" tanya pria bersuara lembut yang juga salah satu peserta rapat.
Pria bersuara lembut itu memiliki rambut pirang panjang sebahu yang di gerai. Tampaknya pria tersebut memiliki kebiasaan menyibak rambutnya saat sedang berbicara.
Pria kekar menggeleleng lagi.
"Lalu?" tanya seorang wanita rapi berkaca mata.
"Ve, Blanc, Ren, Bian ... biarkan dia melanjutkan!" tegas seorang wanita berwajah tegas dengan rambut yang sangat panjang berwarna hitam.
Keempat orang yang namanya disebutkan hanya diam seolah menuruti perkataan wanita berwajah tegas.
"Terima kasih, Nona Vivian," ujar Pria kekar.
"Tak perlu basa-basi. Lanjutkan presentasimu, Agen A!" cibir seorang pria berambut cepak yang tampak mulai bosan.
"Baik, Tuan Dion ... seperti yang kalian lihat, foto-foto ini adalah kriminal peringkat S yang selalu meresahkan negara kita ..." ujar Pria kekar dengan sebutan Agen A.
"... berdasarkan informasi yang kudapat, sebagian kriminal peringkat S ini pernah menjadi elit militer yang di segani dunia." lanjutnya menjelaskan.
Mendengar penuturan sang pria kekar, semua peserta rapat yang hadir di sana mengernyitkan dahinya. Kecuali seorang pria berkumis putih yang hanya menopang dagu di atas meja.
"Yang pertama adalah ..." pria kekar mulai menjelaskan lagi.
"... seorang wanita dengan tinggi 168 cm, berat 56 kg, kemampuan Alchemist, dengan Code Name, Poison Ivy. Pasti kalian pernah mendengarnya, kan?" jelas Agen A.
"Tch ... jadi dia masih hidup?" desis pria berambut pirang.
"Tentu saja, Tuan Ren ... tapi sayang, tidak ada yang mengetahui indentitas wanita ini termasuk pihak militer. Kecuali asistennya yang sudah raib entah kemana," balas Agen A pada pria berambut pirang.
"Lalu yang kedua ..." pria kekar dengan sebutan Agen A mulai menjelaskan lagi.
"... seorang mantan programer handal yang pernah menghancurkan sebuah kerajaan kecil di daerah barat hanya dengan sebuah software, dengan Code Name, Pixel Figure. Dia juga salah satu elit militer yang pernah bekerja di CIA," lanjutnya.
"Hooo~ ... aku tertarik dengan orang ini!" sela wanita berkaca mata.
Agen A tersenyum. "Mungkin suatu saat nanti kau bisa berkenalan dengannya, Nona Bian."
"Selanjutnya adalah penembak jarak jauh yang tak pernah diketahui keberadaannya saat beroperasi. Diduga ia selalu menembak targetnya dengan jarak lebih dari 3 km, dengan julukan Invisible Sniper."
"Wow ... lebih dari 3 km? Apa dia manusia?" celetuk pria bernama Dion.
"Lalu, seorang ahli bela diri yang pernah melumpuhkan sekelompok FBI berjumlah 30 orang seorang diri, julukannya adalah Princess Violent."
"Aku pernah bertemu dengannya!" kata pria kurus yang menarik perhatian peserta rapat lainnya.
"Benarkah, Tuan Blanc?" tanya Agen A.
Pria kurus bernama Blanc menangguk. "Waktu itu dia menggunakan penyamaran sebagai laki-laki dengan pakaian serba ketat. Tapi jika dilihat dari bentuk tubuhnya dia adalah seorang wanita ..."
Peserta rapat yang lainnya mulai mendengarkan penjelasan dari pria bernama Blanc.
"... seperti yang kau katakan, dia membantuku melumpuhkan 30 orang FBI seorang diri dengan tangan kosong saat aku sedang terluka. Entah apa tujuannya waktu itu. Yang pasti dia bukan di pihak kita!" lanjutnya menjelaskan.
Suasana pun hening sejenak. Entah apa yang mereka pikirkan pada saat itu.
"Lanjutkan, Agen A," perintah pria berkumis putih.
Agen A mengangguk. "Yang kelima adalah seseorang yang sangat misterius, keahliannya menyamar. Sepertinya dia seorang wanita, itu terbukti dari setiap penyamarannya yang juga sosok wanita. Dia juga mantan agen rahasia dengan Code Name Señorita."
Mendengar penuturan Agen A, pria berkumis tersenyum kecut. Sedangkan peserta lainnya hanya diam tak bersuara.
"Dan yang terakhir adalah seseorang yang terbilang berbahaya untuk kita ..."
Agen A sengaja menjeda kalimatnya dan entah apa tujuannya melakukan hal tersebut.
"... mantan elit militer yang sengaja di rahasiakan identitasnya oleh negara. Dengan Code Name, Apostle ..."
Setelah Agen A menyebutkan code name tersebut, semua orang kecuali pria berkumis putih membelalakkan matanya. Ada juga orang yang spontan berdiri di tempat.
"... dan kemampuannya adalah, segalanya!"
"Wah wah ... apa benar pria itu sudah menjadi seorang kriminal sekarang?" tanya wanita bersuara menggoda.
"Sepertinya begitu, Nona Ve ..." balas Agen A sambil mengangkat pundaknya.
"... dan berdasarkan rumor yang kudapatkan, mereka membuat sebuah tim bernama Goblin's!" lanjutnya sembari kembali duduk.
"Jadi kelompok yang dianggap ******* itu memiliki anggota berjuluk Apostle? Ok, ini hebat sekali!" cibir Dion tampak kesal.
"Dan berdasarkan hipotesa yang sudah kusimpulkan ..."
Agen A kembali menjeda kalimatnya dengan sengaja.
"Mereka berenam bekerja sama dengan ... Thousand Face Reaper!" tegasnya melanjutkan sambil menampilkan foto sosok Thousand Face Reaper dalam sebuah penyamaran di layar.
Semua orang disana kembali membelalakkan matanya karena terkejut mendengar hipotesa dari sang pria kekar.
"Oi oi ... jangan sembarangan menyimpulkan, Agen A!" komplain pria berambut pirang.
"Maafkan aku, Tuan Reno yang terhormat ..." Agen A sedikit menyindir.
"... berdasarkan penyelidikanku, beberapa diantara aksi yang dilakukan Thousand Face Reaper, pasti selalu menyisakan bukti seperti peluru senapan yang di modifikasi, racun dengan teknologi tinggi, data yang dimanipulasi, dan lain sebagainya ..."
" ... Bukankah bukti itu adalah ciri khas dari anggota Goblin's selaku kriminal peringkat S?" lanjutnya dengan tanda tanya di akhir kalimat.
"Yang dikatakan dia benar, Reno!" timpal Vivian.
"Jika memang begitu, berarti lawan kita kali ini sangat tangguh!" kata Dion menyela.
"Apa kalian takut?"
Tiba-tiba pria berkumis putih mendesis dengan nada bertanya dan menatap semua peserta rapat dengan tatapan dingin.
"Takut? Apa aku, seorang Veranda Lianca terlihat takut di matamu, Tuan Alejandro?" sangkal wanita dengan panggilan Ve.
Wanita pemilik nama lengkap Veranda Lianca itu berdiri sambil menghadap pria berkumis putih.
"Ve, jaga sikapmu!" tegur pria bernama Blanc.
Tak mendapat jawaban, wanita bersuara menggoda itu menoleh ke arah salah satu peserta rapat yang memakai kacamata.
"Hey, Bianca ... apa aku terlihat takut?"
Wanita dengan sebutan Bian menghela nafas. "Kau tak perlu merasa kesal begitu, Ve!"
"Benar kata Bianca. Kita semua tahu, tak ada orang yang penakut disini," kata Vivian menimpali.
"Tenanglah, Ve," kata pria pirang sambil menyentuh lengan Ve.
"Jangan sentuh aku, Reno!" cibir Ve lalu kembali duduk.
"Aku tak mengatakan kalau kalian penakut. Aku hanya bertanya apa kalian takut atau tidak ..." tutur pria berkumis putih yang sepertinya memiliki nama Alejandro.
"... dan aku percaya, kalau kalian adalah orang-orang yang hebat ... jadi aku hanya ingin memastikan, apa kalian siap jika suatu saat kalian harus berhadapan dengan mereka?" lanjutnya.
Dion tampak tersenyum remeh. "Ayolah, Tuan Alejandro ... seharusnya kau sudah tahu jawabannya, kan?"
"Jika sekumpulan orang bodoh itu harus kita hadapi, pedangku siap kapan saja untuk menebas mereka!" Vivian menegaskan.
"Lihat, kan?"
Alejandro menyeringai. "Kalau begitu, kuserahkan semuanya pada kalian!"
"Siap, Tuan Alejandro!" seru semua anggota rapat tersebut secara bersamaan.
Bersama dengan itu, pria berkumis putih yang juga memiliki rambut putih tersebut keluar dari ruang rapat dan diikuti oleh beberapa anak buahnya dari belakang.
"Kenapa kau tampak begitu kesal, Ve?" tanya wanita bernama Bianca.
"Aku hanya tak suka jika aku dianggap penakut ... apa lagi harus takut pada orang itu!" balas Ve.
"Apostle?" tanya Bianca memastikan.
"Siapa lagi?"
Tak menjawab, Bianca hanya menghela nafas. Sementara anggota rapat lain mulai beranjak pergi dari sana.
"Yang penting jangan sampai lepas kendali," kata Bianca lalu ikut meninggalkan Ve di ruangan tersebut.
-----
Terus dukung karyaku ya teman teman dengan LIKE, VOTE DAN COMMENT
__ADS_1
Thank you... 😊😊😊