
Tepat tengah malam yang sangat cocok untuk mengistirahatkan diri, sepertinya waktu Aldo untuk mengisi tenaganya terganggu dengan deringan handphone yang dari tadi sangat mengganggu.
Awalnya Aldo tak mendengarnya. Tapi setelah dibangunkan oleh Rikka yang merasa terganggu dengan deringan ponsel tersebut, mau tak mau Aldo mengangkat panggilan itu dengan suara mengantuk. Sedangkan Rikka kembali tidur.
"Halo ..." ucap Aldo menjawab telepon tanpa melihat siapa yang menghubungi.
"Maaf mengganggu momen indahmu, Boss!" balas suara dibalik sambungan telepon yang sepertinya milik Zedd.
Setelah mengenali siapa pemilik suara bariton tersebut, Aldo melirik Rikka sedang membelakanginya, lalu berjalan menjauhi istrinya yang tampak sedang tertidur.
Sembari berjalan, Aldo mengambil sebuah benda lonjong berbentuk seperti guci kecil berisikan sake. Kemudian membuka pintu pembatas kamarnya dengan teras berupa lorong yang disebut engawa.
Dengan santainya, pria yang bernama Aldo itu duduk di teras berlantaikan kayu sambil meneguk sakenya.
"Ada apa malam-malam begini, Zedd?"
"Sekali lagi maaf mengganggu."
"Iya tidak masalah. Lalu, apa keperluanmu malam-malam begini?" ucap Aldo maklum dan diakhiri dengan pertanyaan.
"Jangan bilang kau sudah kangen padaku," lanjutnya nyeleneh.
Zedd mendesah malas. "Goblin mendapatkan misi baru, Boss!"
Padahal suara Aldo cukup pelan. Tapi sepertinya, suara milik suaminya itu telah membangunkan Rikka dan membuatnya ingin pergi ke toilet.
Mendengar percakapan Aldo yang sepertinya rahasia, membuat Rikka sedikit curiga dan mulai menguping dari balik dinding yang hanya terdengar samar-samar.
Tatapan Aldo berubah menjadi tajam. "Apa yang diinginkannya dari Para Goblin?"
Setelah mendengar kata goblin dengan cukup jelas, Rikka beranggapan bahwa itu hanya urusan yang berhubungan dengan kedai kopi milik suaminya, Green Goblin. Kemudian dengan santainya ia melenggang ke arah kamar mandi.
"Menuai sebuah padi yang sepertinya sangat merepotkan!"
"Kau tahu aku lagi ada di jepang, kan?" ucap Aldo yang sepertinya agak kesal.
"Justru itu, Aldo!"
"Justru kenapa?"
"Padinya sedang berada di jepang. Tepatnya di Tokyo!" Zedd menegaskan.
Aldo sedikit tersentak. "Lanjutkan!"
"Jika kau bersedia, aku akan meminta Taka mengirim detailnya lewat e-mail."
"Apa ini permintaan dari orang itu?" tanya Aldo sedikit ambigu.
"Begitulah!" sahut Zedd.
"Baiklah, kirim semua detailnya!"
"Ok, dan peralatanmu akan tiba besok tepat jam delapan pagi."
Aldo terheran. "Jam delapan?"
"Aku yakin kau mau melakukannya. Jadi, peralatanmu sudah ku kirimkan dari sore tadi," jelas Zedd.
"Sudah kuduga!"
"Maaf merepotkanmu, Boss!"
"Mau bagaimana lagi. Kebetulan aku ada disini, ya sekalian saja."
"Baiklah, selamat menikmati bulan madumu!" ucap Zedd lalu menutup sambungan teleponnya.
Aldo meneguk sakenya lagi, dan tak lama kemudian notifikasi e-mail masuk di smartphonenya. Lalu pria berambut coklat itu langasung membuka isi e-mail tersebut.
"Elga Victoria ... wanita, ya?" ucap Aldo pelan setelahnya.
"Mantan agen rahasia CIA yang sekarang bekerja sebagai pesuruh Organisasi Revolusi?"
"Tch ... organisasi ini semakin merepotkan saja!"
Kemudian Aldo semakin berkutat dengan smartphonenya untuk melihat informasi lebih lanjut.
"Kemampuannya adalah ahli bela diri sekaliber Myra."
"Tch ... benar-benar target yang merepotkan!" Lagi-lagi Aldo mendecakkan lidahnya.
"Dua hari lagi jam tujuh malam waktu setempat ... di hotel XXX Tokyo?"
Karena tak tahu dimana posisi hotel tersebut, Aldo mulai mencarinya melalui GPS. Sepertinya hotel bintang 5 itu berjarak 3,5 km dari posisinya sekarang. Tepatnya ke arah pusat kota.
Lalu Aldo melihat bentuk bangunan hotel tersebut melalui foto yang terpampang melalui GPS miliknya.
"Wow ... megah sekali bangunannya!" ucapnya kagum.
Pria berkapala coklat itu meneguk sakenya sekali lagi. Dan tanpa sengaja, pandangan Aldo menangkap sebuah bangunan yang menjulang tinggi di sebelah timur dari tempatnya duduk sekarang.
Kemudian dia melihat bangunan tinggi tersebut dengan foto yang ada di smartphonenya secara bergantian untuk mencocokkan.
Aldo pun tersenyum. "Lucky ... sepertinya aku tak perlu repot untuk mencari hotel ini."
Menyadari botol sake yang dipegangnya sudah kosong, Aldo memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
Didapatinya di sana Rikka sedang berdiri sambil meminum sebotol air mineral dengan posisi mulut yang dikerucutkan dan menyentuh bibir botol tersebut. Rikka tampak imut dan lucu dengan posisi itu.
"Haus?" tanya Aldo.
Tak menjawab, Rikka hanya menganggukkan kepalanya masih dengan posisi yang sama.
"Siapa tadi?" kata Rikka bertanya setelah itu.
"Zedd ... dia minta izin untuk memasok persediaan Green Goblin besok pagi karena persediaan mendadak habis," ucap Aldo mengarang cerita.
"Apa kalian jarang memperhatikannya?"
"Tentu saja persediaan selalu diperhatikan!"
"Lalu?"
"Biasanya ini ulah Nana dan Taka!" tegas Aldo kembali mengarang cerita.
"Kenapa ulah mereka?"
"Nana dan Taka suka begadang di malam hari, jadi habisnya persediaan sering di luar perkiraan."
Sangat pandai Aldo mengarang cerita hingga membuat Rikka bisa begitu mempercayai suaminya.
"Pantas malam-malam begini menghubungimu."
Setelah mengatakan itu, Rikka berjalan menuju sisi kamar tempat futon berada sembari menyelipkan rambut indigonya di sela telinga.
"Itu saja?" tanya Aldo cengo.
"Lalu?" Kata Rikka menoleh ke arah Aldo.
"Aku kira kau terbangun karena ingin mendapatkan kehangatan dari suamimu ini?" celetuk Aldo sembarangan.
"Selamat tidur!" jawab Rikka ketus.
Karena merasa terlalu malas menanggapi candaan suaminya, Rikka langsung menutup shoji yang berfungsi sebagai pemisah kedua sisi kamar tersebut dengan kasar dan meninggalkan Aldo yang terbengong sendirian.
"Tu-tunggu ... Rikka ..." ujar Aldo dengan nada yang sedikit menggoda lalu ikut masuk ke dalam dan kembali tidur.
●●
Matahari pun mulai terbit dan menampilkan pemandangan kota tokyo yang menjadi salah satu kota terbesar di jepang. Tampak suasana kota mulai dipenuhi oleh hiruk-pikuk penduduknya yang ramai.
Beberapa aktivitas yang bisa dilihat di pagi hari adalah orang-orang yang ingin berangkat kerja dan muda-mudi yang ingin berangkat ke sekolah.
Suasana di stasiun kereta kota tersebut pun mulai dipenuhi oleh warganya yang ingin segera berangkat dan melakukan altivitasnya sehari-hari. Tapi, ada juga yang menggunakan mobil, sepeda motor, bahkan sepeda yang dikendarai oleh anak sekolah.
Sementara di hotel tempat Aldo dan Rika menginap, nampaknya Aldo masih mendengkur di dalam selimutnya. Sedangkan Rikka sedang berada di kamar mandi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 a.m waktu setempat. Tapi Aldo masih belum juga membuka matanya.
"Bangun, Aldo!" ujar Rikka sedikit berteriak setelah selesai mandi dan berdandan rapi.
Penampilan Rikka sekarang sungguh enak dilihat. Pakaian casual berwarna abu kebiruan yang senada membuat kulit putih mulusnya seperti bercahaya.
Apa lagi dengan rambut yang di tata dengan model ponytail dan poni panjang menyampingnya. Membuat sosok wanita itu bagaikan bintang K-pop masa kini.
Tak lupa sepasang anting-anting berbentuk lingkaran yang berdiameter 5 cm di telinganya membuat kuping mungil Rikka tampak manis seperti dango.
Setelah beberapa kali dipanggil namanya, Aldo tak kunjung bangun juga. Lalu dengan sedikit rasa kesal, Rikka menghapirinya dan menggoyang-goyangkan tubuh Aldo yang masih dibalut kimono.
"Ayo bangun, Aldo!"
"Mmmmhhhh ..." Aldo malah mendesah sambil memalingkan tubuhnya.
"Sudah pagi, cepat bangun!"
"Sepuluh menit lagi ..." jawab Aldo dengan nada malas.
Melihat suaminya yang tak kunjung bangun membuat Rikka semakin geram dan menarik tubuh Aldo ke arahnya dengan kasar.
"Cepat bangun, Aldo!"
Rikka sukses membuat tubuh Aldo bergeser dan menghadap ke arahnya. Lalu wanita pemilik iris onix tersebut membuka tirai dan membuat sinar matahari masuk menyinari wajah maskulin Aldo.
Karena sinar matahari yang dipaksa masuk ke dalam matanya, Aldo refleks menutupi mata coklat tersebut dengan sebelah tangan. Lalu, secara perlahan mata coklat itu pun terbuka.
Sejenak mata Aldo melotot. kemudian pembunuh berantai itu mengedip-kedipkan matanya seolah dia melihat sesuatu yang luar biasa.
"Ada malaikat!" ucapnya kagum setelah melihat sosok Rikka yang sudah berpenampilan cantik.
Rikka terbengong sejenak karena penuturan Aldo. Tapi, semburat merah di pipinya tak bisa ditutupi dan tampak mulai menari di wajah mulus tersebut.
"Jangan menggombal, cepat bangun!" kata Rikka sambil melempar bantal ke wajah Aldo.
__ADS_1
"Aku kira wanita yang tadi itu malaikat ... ternyata dia adalah istriku," tutur Aldo yang kini sudah duduk di atas futon.
Mendadak ekspresi wajah Rikka berubah datar. "Maaf kalau aku tak secantik malaikat khayalanmu!"
"Justru sebaliknya!"
"Sudah cukup basa-basinya. Cepat mandi dan temani aku jalan-jalan!" cerocos Rikka.
"Apa aku harus ikut?"
"Tentu saja. Kau laki-laki, kan?"
"Kau itu po- ... baiklah!"
Hampir saja Aldo terceplos menyebutkan kata polisi kepada Rikka. Kalau sempat kata itu terucap, maka Aldo terpaksa harus membuat karangan cerita yang baru.
"Kau bilang apa barusan?" tanya Rikka penasaran setelah mendengar kalimat suaminya yang terpotong.
"Malaikat?" balas Aldo dengan wajah poker face.
"Bukan, setelahnya!"
"Justru sebaliknya?" kata Aldo masih dengan wajah poker facenya.
"Bukan, yang satu lagi."
"Wanita yang membangunkanku yang kupikir adalah malaikat, ternyata wanita itu adalah istriku?"
Rikka pun semakin semakin geram melihat tingkah suaminya.
"Cukup, cepat mandi sana!"
Karena kesal, Rikka hanya bisa pasrah dan berusaha melupakan perkataan Aldo yang barusan.
Tak banyak kata lagi Aldo langsung beranjak ke kamar mandi dan mulai melakukan ritualnya.
"Perasaan tadi dia mau bilang polisi ... apa perasaanku saja, ya?" ucap Rikka berbisik.
Tiba-tiba kepala Aldo mencul di ambang pintu kamar mandi. "Tolong handukku?"
Dengan senang hati Rikka mengantarkan handuk milik Aldo. Lalu, pria yang kini telah menjadi suami dari kepala intelijensi tersebut kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Sudahlah, itu pasti hanya perasaanku saja!" tegasnya.
Lalu ia berjalan mengambil remot TV dan menyalakannya sambil menunggu Aldo. Tak lupa matcha hangat yang sudah disediakan oleh Rikka tadi, menjadi teman di pagi hari untuk wanita pemilik rambut indigo tersebut.
Setelah selesai melakukan aktivitas seperti mandi, berdandan, dan sarapan pagi, pengantin baru itu memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kota.
Pertama-tama mereka memutuskan untuk berkunjung ke Kuil Meiji. Awalnya Aldo ingin menggunakan taksi kesana, tapi istrinya Rikka mengatakan itu akan sangat membosankan dan ingin menggunakan kereta monorail. Alhasil, Aldo hanya bisa menuruti permintaan istrinya.
Tak membutuhkan banyak waktu untuk mereka sampai kesana. Setelah turun di stasiun kereta monorail, mereka melanjutkannya dengan berjalan kaki ke kuil tersebut.
Sesampainya di Kuil Meiji, Aldo melongo dan terkagum melihat sebuah bangunan besar yang terbuat dari kayu. Bangunan etnik khas jepang itu sepertinya berfungsi sebagai pintu gerbang kuil tersebut.
"Bangunan apa ini?" ucap Aldo kagum.
Rikka menoleh. "Bangunan ini disebut Torii."
"Tori ... Burung?" balas Aldo.
"Bukan Tori ... tapi Torii!
Seolah mengerti, Aldo menganggukkan kepalanya dan masih memperhatikan bangunan tersebut dengan kagum.
Tak lama kemudian mereka pun masuk ke dalam dan melanjutkan wisatanya. Aldo yang celingak-celinguk sedari tadi masih merasa kagum dengan kebersihan dan keindahan tempat tersebut.
Setelah sampai di bangunan utama, Aldo dan Rikka mulai mengabadikan momen bulan madu mereka menggunakan kamera ponselnya. Dari total jumlah foto yang berhasil diabadikan, 60%-nya adalah foto Aldo, 30%-nya foto Rikka, dan sisanya foto mereka berdua.
Merasa sudah puas dengan kuil bersejarah tersebut, Rikka mengajak Aldo untuk pergi ke tempat wisata yang selanjutnya. Tapi, sebelum mereka berjalan ke stasiun Aldo membuka ranselnya dan mengambil beberapa permen khas jepang, melahapnya, lalu memberikannya beberapa pada Rikka.
Rikka pun mengambil permen tersebut dan ikut melahapnya dengan wajah yang sangat manis. Mungkin wajah manisnya sekarang berasal dari permen yang ia makan.
"Selanjutnya ke Imperial Palace East Garden!" seru Rikka bersemangat sambil berjalan.
Aldo yang melihat istrinya sedang bersemangat hanya bisa mendengus pasrah dan mengikuti Rikka dari belakang.
"Tempat apa itu?" kata Aldo dengan wajah tak bersemangat.
"Taman istana kekaisaran jepang," balas Rikka.
Tiba-tiba ekspresi Aldo berubah karena merasa tertarik. "Istana?"
Rikka hanya mengangguk sambil menggandeng dan menarik lengan suaminya agar berjalan lebih cepat.
"Apa ada samurainya?"
Rikka menghentikan langkahnya dan menghadap ke keatas seolah berfikir. "Entahlah ... tapi mungkin saja!"
"Baiklah, ayo segera meluncur kesana!" tegas Aldo bersemangat sambil memasang pose terbang ala superman.
Rikka pun ikut tersenyum melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil. Lalu kembali berjalan.
Lagi-lagi Aldo memandang kagum dengan keindahan tempat wisata yang ada di negeri sakura tersebut.
Tampak olehnya jembatan-jembatan indah menjadi penghubung antara kastil utama dengan taman hijau disekitarnya. Pemisah kedua tempat tersebut adalah aliran air yang tampak seperti parit raksasa.
Tak banyak yang bisa mereka lakukan di sini kecuali berkeliling mengitari istana dan Aldo yang berusaha mencari seorang samurai yang sedari tadi dibicarakannya bersama Rikka.
Setelah berkeliling selama setengah jam. Aldo pun menyerah dengan ambisinya mencari samurai dan duduk di sebuah taman dekat salah satu jembatan pemisah bersama Rikka.
"Samurainya tidak ada ..." ujar Aldo lirih.
"Jangan kecewa begitu. Mungkin mereka sedang ganti shift!" balas Rikka asal.
"Memangnya mereka satpam!"
Rikka hanya tersenyum ke arah Aldo dengan niat menggoda.
"Ayo kita berfoto?" kata Rikka mengajak.
Aldo menoleh ke arah istrinya. "Baiklah."
Setelah Aldo berdiri, mereka pun mulai berfoto bersama. Tapi Aldo tampak tidak puas dengan hasil tersebut. Seperti ada yang kurang menurutnya.
Lalu ia celingak-celinguk dan melihat dua orang wanita sedang duduk tak jauh dari sana. Jika diperhatikan, sepertinya kedua wanita itu adalah orang lokal.
Aldo pun menghampiri mereka dan meninggalkan Rikka yang terlihat bingung.
"Excuse me ..." sapa Aldo kepada kedua wanita tersebut.
Kedua wanita jepang itu pun menoleh ke arah Aldo dengan tatapan bingung.
"Can you take one or two of picture the two of us?" mohon Aldo dengan bahasa inggris sambil menunjuk ke arah Rikka.
Kedua wanita yang sepertinya masih remaja itu memiringkan kepalanya dan semakin terlihat bingung.
"So-sorry ... we dont ... speak... english!" ucap salah satu wanita yang berambut pendek.
Sepertinya gadis itu menggunakan aplikasi translator dari ponsel miliknya. Itu tampak dari caranya berbicara sambil melihat ke arah smartphone.
Aldo pun memasang ekspresi aneh yang sulit di ungkapkan dengan kata - kata. Lalu ia menghadap ke arah Rikka.
"Rikka, apa bahasa jepangnya foto?" tanya Aldo sedikit berteriak.
"Shashin!" pekik Rikka dari sana.
Lalu Aldo kembali menoleh ke arah dua gadis yang ada di sebelahnya.
"Shashin ... watashitachi ... ii?" kata Aldo terbata sembari menggunakan bahasa tubuh yang sedikit aneh.
Seakan mengerti, kedua gadis tersebut menganggukkan kepalanya memberi persetujuan. Lalu Aldo memberikan ponselnya dan mulai berpose bersama Rikka.
Selama lima menit mereka berfoto dan merepotkan kedua gadis itu. Tapi, tampaknya kedua gadis jepang itu dengan senang hati melakukan permintaan Aldo.
Mereka pun berterima kasih pada kedua penduduk lokal tersebut dengan sopan setelah acara berfoto mereka selesai.
"Thank you," ucap Aldo berterima kasih
"Arigatou gozaimasu," ujar Rikka dalam bahasa jepang sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Douitashimashite," balas kedua wanita jepang tersebut yang juga membungkukkan tubuhnya.
"Bye-bye ..." lanjut mereka sambil melangkah menjauh.
"Sayonara!" ucap Rikka lagi sementara Aldo hanya bengong.
Kemudian Rikka melirik suaminya yang sedang bengong. "Kenapa?"
"Aku tak tahu kau lancar bahasa jepang?"
"Kau tak pernah bertanya ... Lagi pula yang ku ucapkan itu bahasa sehari-hari yang mudah diucapkan," kata Rikka menjelaskan.
"Kau sendiri, bisa bahasa jepang barusan!" lanjutnya.
"Aku mengambilnya dari anime yang pernah ku tonton!" tegas Aldo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rikka melihat Aldo dengan tatapan yang sedikit aneh, sementara Aldo malah cengengesan dengan cengiran khasnya.
"Aku lapar!" celetuk Aldo.
Mendengar hal itu, Rikka langsung melihat jam tangan kecil yang melingkar dengan indah di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.45 a.m waktu setempat.
"Benar juga, sudah hampir tengah hari!"
"Kalau begitu, ayo kita ke Ginza?" lanjut Rikka mengajak
"Kau tahu banyak tentang jepang, ya?" tanya Aldo.
"Apa karena kau pernah ke sini?" lanjutnya sambil berjalan bersama Rikka.
Rikka mengangguk, "Tidak juga!"
__ADS_1
"Lalu?" tanya Aldo lagi.
Kemudian Rikka tersenyum lebar di depan Aldo sambil memerkan aplikasi panduan berwisata yang ada di ponsel miliknya.
"Pantas saja!" cetus Aldo lalu beranjak dari sana dan pergi menuju Ginza Shopping Street untuk makan siang.
Tepat jam satu siang, mereka sudah berada di salah satu restoran yang terletak di Ginza Shopping Street dengan posisi duduk di dekat jendela.
Distrik Ginza dipenuhi oleh gedung-gedung besar modern namun tak terlalu tinggi. Sepertinya bangunan besar tersebut adalah mall-mall pusat perbelanjaan barang bermerk yang saling berkompetisi.
Disiang hari yang cukup terik ini, Ginza Shopping Street tampak ramai akan orang-orang yang mengunjunginya. Tak hanya orang lokal, tetapi juga orang-orang dari seluruh mancanegara juga terlihat memadati salah satu pusat perbelanjaan terbesar di dunia tersebut.
Saat Aldo bertanya dimana tempat untuk membeli Action Figure Miku yang diminta oleh Taka, istri dari pria berkacamata itu mengatakan kalau mereka bisa membelinya di daerah Akihabara.
Dan setelah menghabiskan makanannya, Rikka pun sedikit berbelanja disana. Seperti membeli baju, tas, dan lain sebagainya. Kemudian, mereka langsung pergi menuju Akihabara, surganya para Otaku.
Sesampainya disana, Aldo takjub melihat keadaan tempat tersebut. Benar-benar cocok dikatakan sebagai surganya para Otaku. Apa lagi setelah ia melihat orang-orang yang sedang bercosplay, terutama cosplayer wanita.
Tak banyak kata Aldo langsung berfoto bersama cosplayer tersebut dengan ekspresi wajah yang tampak sumringah. Rikka pun sedikit jengkel melihat tingkah suaminya yang aneh itu.
Sama seperti Ginza, Akihabara atau yang biasa disebut Akiba itu dipenuhi oleh banyak orang. Termasuk warga asing yang ingin mencari barang-barang elektronik seperti game konsol.
"Aku akan memamerkan foto ini pada Taka nanti!" celetuk Aldo dengan senyuman licik.
Rikka hanya bisa menghela nafas pasrah melihat tingkah suaminya yang semakin aneh seperti Otaku tingkat akut.
"Hey, Rikka?" ucap Aldo memanggil dan Rikka hanya menoleh.
"Bagaimana kalau kita juga ikut bercosplay dan berfoto disana?"
Aldo menunjuk sebuah toko yang sepertinya menawarkan jasa berfoto sebagai cosplayer.
Rikka menoleh ke arah Aldo menunjuk. "Maksudmu aku harus berdandan seperti itu?"
Aldo tak menjawabnya dengan kata-kata. Tapi menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
"Ta- tap-"
Belum sempat Rikka menyelesaikan kalimatnya, Aldo langsung menarik lengan istrinya itu dan melangkah menuju sebuah toko yang dimaksudkan oleh Aldo tadi.
Didalam toko tersebut, Aldo dan Rikka pun mulai memilih cosplay karakter yang akan mereka gunakan.
Rikka tampak bingung karena terlalu banyak macamnya, sedangkan Aldo tampak sangat bersemangat dan ingin menggunakan cosplay karakter sebanyak mungkin. Tapi setelah dimarahi Rikka, Aldo pun hanya bisa memilih satu karakter saja.
Setelah sepuluh menit berlalu, akhirnya mereka memilih karakter kesukaan masing-masing dan masuk ke ruang ganti untuk dipermak oleh petugas toko tersebut.
Membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam untuk mendandani sepasang suami istri itu. Tapi, sepertinya Aldo duluan yang keluar dan berjalan menuju studio foto dengan cosplay Naruto dari anime, The last : Naruto the Movie.
Tak lama kemudian, Rikka juga telah selesai didandani dan mulai berjalan ke studio foto menyusul Aldo dengan cosplay karakter pilihannya.
Mendengar langkah Kaki Rikka berjalan kearahnya, Aldo menoleh dan mendapati sosok Rikka yang kini sudah menggunakan atribut cosplay dengan lengkap.
Aldo terdiam, Aldo terbelalak, Aldo terpukau, dan mata Aldo tampak berbinar-binar melihat Rikka yang bercosplay sebagai Hinata dari anime yang sama seperti Aldo.
"Hinata ..." ucap Aldo lirih.
Tak hanya Aldo, semua crue yang ada di sana juga terpesona melihat penampilan Rikka yang sangat cantik dan sangat mirip dengan Hinata.
Rambut indigonya yang kebetulan senada dengan warna rambut Hinata membuat blush on di wajah Rikka terasa hidup. Rona merah itu seperti menggoda siapa saja yang melihatnya.
Padahal mereka tidak membuat kesepakatan dalam memilih karakter. Tapi sepertinya, hati mereka bersatu dalam pemilihan karakter tersebut.
Setelah semua orang termasuk Aldo tersadar dari lamunan mereka akibat penampilan Rikka yang menakjubkan, salah satu kru toko tersebut mengarahkan mereka untuk langsung melakukan sesi foto.
Karena penampilan Rikka yang sangat fantastis, Fotografer pun berjanji kepada Aldo untuk membuat foto mereka sesempurna mungkin. Sementara Rikka tak ambil pusing, karena ia hanya ingin memuaskan hasrat suaminya dan segera kembali ke hotel.
Sesuai arahan sang Fotografer, mereka mulai bergaya ala film Naruto. Seperti tingkah malu-malu kucingnya Hinata yang diperagakan oleh Rikka dengan sangat sempurna. Begitu juga dengan pose keren Naruto saat mengeluarkan jurus seribu bayangan andalannya yang diperagakan oleh Aldo.
Sesi foto pun berjalan dengan lancar tanpa ada masalah. Fotografer menunjukkan hasil foto yang belum di cetak kepada mereka berdua melalui laptopnya. Sepertinya Aldo sangat puas dengan hasil tersebut dan tak lupa ia juga meminta salinan foto dalam bentuk data.
Mereka berdua pun berkehendak untuk mengganti pakaiannya. Tapi, salah satu pengunjung pria toko tersebut yang tampak seperti otaku tingkat dewa mendadak menjatuhkan barang bawaanya setelah melihat penampilan Rikka.
Aldo dan Rikka hanya bisa terbengong melihat pria otaku yang ada di hadapan mereka.
"Hinata ..." ucap pria otaku lirih.
"MINAAAA .... HINATA GA KITAAAA!" lanjutnya berteriak dan mengagetkan semua orang dalam bahasa jepang.
Spontan dari balik tubuh pria otaku tersebut, satu persatu bermunculan kepala orang seperti jamur barat saat musim hujan.
Kemudian kumpulan otaku yang semakin banyak bermunculuan itu berjalan mendekati Rikka seperti harimau yang sedang melihat daging segar.
Rikka mulai pucat dan melangkah mundur perlahan-lahan kebelakang.
"Rikka, dimana barang bawaanmu?" ucap Aldo seperti memahami situasi.
Rikka menoleh heran masih dengan wajah yang pucat. "Di ruang ganti, kenapa?"
Tak menjawab, Aldo langsung beranjak untuk mengambil barang bawaan mereka dan meninggalkan Rikka sendirian.
"Aldo, tung-"
"Hinata!"
"Hinata!!"
"HINATAAA!!!"
Belum sempat Rikka menyelesaikan kata-katanya, kumpulan otaku tersebut berlari dan menerjang ke arahnya dengan nafas yang terengah-engah seperti banteng yang melihat kain berwarna merah.
Alhasil, Rikka pun dikerubungi oleh kumpulan otaku seperti semut yang mengerubungi makanan manis. Rikka hampir saja terjungkal, tapi dia masih bisa mengamankan posisinya dengan kedua kaki langsingnya.
Para petugas toko tersebut berusaha mengamankan situasi dan mencoba menyelamatkan Rikka. Tapi, usaha mereka sia-sia karena keagresifan kumpulan para otaku yang membuat petugas-petugas itu terjungkir balik ke segala arah.
Rikka panik dengan situasinya sekarang. Banyak sekali terdengar suara jepretan kamera di telinganya dan ada juga yang memaksanya untuk foto selfie bersama. Yang lebih parah lagi, ada juga yang ingin membawa Rikka pulang ke rumah.
Wajah Rikka semakin pucat dan berusaha melangkah mundur. Tapi usahanya sia-sia, karena ternyata di belakangnya adalah dinding.
Lalu gadis yang berperan sebagai Hinata itu mulai menarik nafasnya dalam. "ALDOOOO TOLOOOOONG!!!"
Terdengar suara teriakan Rikka menggema di toko tersebut. Tiba-tiba, mata Rikka terbelalak karena ada yang meraih dan menarik lengannya dan membuat ia berhasil keluar dari kerumunan.
Orang itu adalah Aldo yang kini sudah menyelempangkan tas besar berisi bawaan mereka dipunggungnya. Kemudian pria yang berdandan ala Naruto tersebut tersenyum hangat ke arah Hinatanya a.k.a Rikka.
Rikka pun tersenyum lega melihat sosok Narutonya a.k.a Aldo dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa kau meninggalkanku tadi?"
"Nanti kuceritakan, sekarang ayo lari!" tegas Aldo mulai berlari bersama Rikka.
"HINATAAAAA!!!" teriak kumpulan otaku dengan bringas ke arah Aldo dan Rikka.
"Hey, photograph-san. I'll wait for your work!" pekik Aldo sambil melemparkan sebuah kertas.
Kemudian sepasang kekasih yang sudah berubah menjadi ninja tersebut lari secepat mungkin meninggalkan toko dengan pose berlari ala ninja di film Naruto.
Dilihat oleh fotografer tulisan di atas kertas yang dilempar Aldo tadi. Kertas tersebut bertuliskan nomor handphone Aldo dan alamat hotelnya. Lalu ada note yang bertuliskan, 'kirimkan nomor rekeningmu untuk pembayaran' dalam bahasa inggris.
Fotografer pun tersenyum puas dan kembali bekerja setelah suasana di dalam studionya kembali seperti semula.
Kembali ke tempat Aldo dan Rikka. Kini mereka masih berlari ala ninja di film Naruto menyusuri Akihabara. Kelakuan mereka yang menarik perhatian banyak orang pun menjadi pertunjukan gratis bagi orang-orang yang ada di sana.
Itu tampak dari pengunjung Akihabara yang sangat bersemangat untuk mengambil foto mereka yang sedang berlari ala ninja.
Saat Rikka menoleh kebelakang, wajahnya kembali pucat fasih akibat pemandangan yang disaksikannya.
"Mereka masih mengejar kita!" seru Rikka yang semakin menambah kecepatannya.
Aldo ikut menoleh, lalu merinding seketika setelah melihat kumpulan para otaku yang bergerombolan mengejar mereka.
"APA-APAAN INI!!!" teriak Aldo yang juga menambah kecepatan larinya.
Mereka pun terus berlari tunggang-langgang untuk menghindari kejaran gerombolan otaku yang semakin banyak. Akibatnya, Sepasang ninja tersebut malah kesasar entah kemana.
Tapi, secara tak sengaja sudut mata Aldo melihat sebuah stasiun monorail dan mengajak Rikka untuk berlari ke arah sana.
Setelah sampai di stasiun monorail tersebut, Aldo menarik dan menggiring Rikka untuk masuk kedalam kereta. Dan pada saat yang sama, pintu kereta itu kebetulan menutup dengan rapat pertanda kereta akan segera berangkat.
kereta pun mulai berjalan meninggalkan stasiun yang entah sejak kapan sudah dipenuhi oleh kumpulan para otaku.
Didalam kereta, mereka tampak tersengal-sengal sambil sedikit membungkukkan tubuhnya dengan posisi berdiri.
Butiran keringat Rikka mulai meluncur mulus dari pelipis hingga ke lehernya. Hal tersebut membuat Rikka tampak seksi. Tapi sayang, karena kerah baju ninja Hinata yang dikenakan oleh Rikka cukup tinggi, membuat butiran yang sedang meluncur tersebut berakhir sampai di sana saja.
Awalnya Aldo sedikit kecewa karena pemandangan tersebut berakhir tanggung. Tapi karena Rikka memberikan tatapan dingin, Aldo hanya bisa menggaruk-garuk pipinya sambil melirik ke arah lain dengan tampang pura-pura bodoh.
Tanpa mereka sadari, ternyata sedari tadi puluhan pasang mata sedang memperhatikan mereka. Baik itu milik orang tua, anak remaja, bahkan anak kecil sekalipun.
Bermacam-macam ekspresi orang di dalam kereta tersebut saat memperhatikan mereka. Ada yang tersenyum bahagia, ada yang tertawa kecil karena merasa lucu, dan ada juga yang takjub.
JEPRET...
Suara kamera dari seorang gadis atau lebih tepatnya anak sekolah yang baru pulang dari sekolahnya membuat sepasang ninja itu akhirnya tersadar akan posisi mereka.
"Nice cosplay!" ucap gadis itu sambil tersenyum ramah ke arah mereka.
Aldo dan Rikka pun menoleh dan menyusuri bagian dalam kereta dengan mata kepalanya seperti tanpa dosa. Lalu tersenyum kikuk setelah mendapati puluhan pasang mata dan ekspresi sedang mengarah ke mereka.
Tanpa terasa hari mulai gelap, pengantin baru itu akhirnya tiba di hotel dengan selamat. Tapi, mereka masih menjadi pusat perhatian karena pakaian yang mereka kenakan.
Saat Aldo dan Rikka berjalan ke arah kamarnya, pria yang mengenakan cosplay Naruto itu teringat akan paket yang dikirimkan oleh Zedd. Lalu menyuruh Rikka untuk pergi ke kamar duluan dengan alasan ingin membeli cemilan.
Seperti yang dikatakan Zedd, paketnya sampai sejak pukul delapan pagi tadi. Resepsionis pun segera mengambil barang titipan tersebut dan memberikannya kepada Aldo. Kemudian pembunuh berantai itu pergi membeli cemilan dan kembali ke kamar.
-----
Terima Kasih karena terus mengikuti ceritanya
Jangan lupa dukungannya ya untuk terus LIKE, VOTE DAN COMMENT
ditunggu ya...
Thank you...😊😊😊
__ADS_1