
Tak terasa sebulan pun berlalu sejak hari perjodohan Aldo. Di pagi hari yang cerah ini adalah hari dimana pernikahan Aldo ditetapkan. Tepatnya tanggal 8 Mei.
Sehari sebelumnya, Isana menyuruh Aldo untuk menginap di rumahnya. Supaya Aldo tidak akan terlambat ke acara yang membahagiakan tersebut. Lagi pula, akan sangat baik jika pengantin laki-laki didampingi oleh keluarganya sampai ke acara pernikahan.
Setelah persiapan yang sempurna, mereka pun memutuskan untuk segera berangkat menuju ke tempat acara pernikahan.
Pada hari itu, Aldo mengenakan setelan Tuxedo berwarna putih. Dasi pita berwarna hitam pun mendukung penampilannya. Tak lupa kacamata yang selalu setia bertengger diwajahnya juga ikut andil dalam menyempurnakan penampilan pria berkepala coklat tersebut.
Sedangkan pendamping Aldo yang tak lain adalah keluarganya, juga menggunakan atribut khas acara pernikahan dengan warna yang senada. Tapi, agar tidak terlalu mencolok, mereka mengimbangi penampilan Aldo dengan pilihan pakaian yang sesederhana mungkin tapi tetap elegan saat dipandang.
Tampak di sana mobil sudah mulai beranjak dari kediaman Isana. Tepatnya tiga mobil mewah berwarna putih.
Di posisi paling depan, sedan mewah bermerk BMW keluaran terbaru yang berisi Mega bersama keluarganya. Lalu diikuti oleh mobil yang serupa berisi Aldo bersama dengan neneknya. Kemudian disusul oleh mobil yang masih bermerk sama, bentuk, dan warnanya berisi Chika beserta keluarganya.
Selang dua puluh menit, mereka pun tiba di acara. Tapi, belum banyak orang yang berdatangan. Itu sengaja mereka lakukan, karena Isana ingin memastikan sekali lagi semua persiapan benar-benar sempurna.
"Yo, Boss ... penampilanmu sangat keren!" sapa Zedd sambil berjalan ke arah leadernya bersama kelima teman yang lain.
Aldo menoleh ke arah Zedd yang selalu berpenampilan rapi dengan stelan blazer putih dan bawahan hitam yang membuatnya tampak berwibawa. Kemudian Aldo juga sedikit terkejut melihat sahabat-sahabat setianya yang lain juga sudah hadir disana.
"Teman - teman ... Kalian sudah datang duluan?" ujarnya.
"Begitulah," jawab Myra singkat sambil ikut berjalan menggunakan dress handless cantik berwarna putih.
"Aku tak menyangka kalian akan menggukan dress code yang sama dengan kami!" kata Aldo.
"Kemarin nenek Isana menghubungi kami supaya kami menggunakan pakaian serba putih begini."
Syndi menjelaskan sembari berjalan di sebelah Zedd dan mengenakan dress yang hampir mirip dengan dress Myra. Hanya saja dress Syndi mimiliki bagian lengan yang lebih panjang.
"Bagaimana penampilan kami, hm?"
Setelah berhasil menghampiri Aldo, tiba - tiba Nana berpose sedikit menggoda di depan leadernya tersebut.
"Seperti biasa ... penampilanmu sangat eksentrik!" balas Aldo dengan senyum kikuk.
Benar apa yang dikatakan Aldo. Penampilan Nana sungguh menarik perhatian banyak orang yang perlahan mengisi acara tersebut. Bagaimana tidak, wanita berambut gonjes itu sedang mengenakan dress bergaya kimino berwarna putih. Dengan bagian lengan yang semakin ke bawah semakin membesar membuat gayanya semakin terlihat eksentrik. Apa lagi motif bunga anggrek yang menghiasi dresss tersebut, Besar dan indah.
Tapi kali ini Nana tidak mengenakan dress yang panjang. Panjang dress nyentriknya hanya sebatas lutut. Sehingga menampilkan kaki mulusnya yang dihiasi wedges bertapak tebal berwarna putih. Wedges unik itu memiliki ornamen seperti tali berwarna lila, senada dengan motif anggrek dressnya dan berfungsi sebagai pengikat pada kaki Nana. Ornamen tali tersebut menjulang tinggi di kaki Nana hingga betis bagian atasnya dan sukses membuat kakinya terlihat anggun dan sexy.
Dibandingkan dengan kedua temannya yang lain, penampilan Nana benar-benar menarik perhatian.
"Apa kau tergoda, hm?" goda Nana pada Aldo yang masih tersenyum kikuk.
"Hentikan itu, wanita rubah!" celetuk Kawa yang berjalan dengan imutnya menggunakan dress putih imut yang menawan. Jika saja disana ada seorang lolicon, maka orang tersebut pasti akan langsung meleleh.
Semua orang menoleh kearah Kawa pada saat itu juga dan tersenyum hangat ke arah gadis itu.
"Tentu saja Aldo akan lebih tergoda padaku!" celetuknya lagi dengan pose imut yang menggoda.
"A-apa - apan kalian!" ujar Aldo yang tak tahu harus berkata apa lagi.
"Yo, Boss!" sapa Taka sambil mengunyah makanan yang entah dari mana dia dapatkan.
Seperti biasa Taka bergaya biasa saja namun tampak keren dengan kemeja putih dan celana jeans hitam yang ia kenakan.
"Aaah ... curang!" pekik Kawa dengan air liur yang mulai mengintip dari sudut bibirnya.
"Nih!" ucap Taka menawarkan cemilan pada Kawa yang langsung disambar oleh gadis imut tersebut.
Tak lama kemudian, Rikka dan keluarganya tiba disana. Nenek Aldo yang bernama Isana itu langsung menyambut mereka dan membawa Rikka ke sebuah ruangan. Ruangan make up mungkin lebih tepatnya.
Pada saat itu, sebenarnya Aldo ingin menghampiri Rikka. Tapi langsung dicegah oleh kedua kakaknya dan diberikan tatapan tajam oleh neneknya seperti berkata 'jangan dekati dia'.
Hal itu sukses membuat Aldo membeku seketika di tempat lalu ditinggalkan begitu saja oleh kedua kakaknya. Hanya keenam teman Aldo lah yang masih setia disana.
"Sabar ... sebelum matahari tepat diatas, dia akan menjadi milikmu selamanya," ucap Zedd dengan bijaksana sambil memegang pundak Aldo.
Setelah beberapa menit berbincang dengan teman-temannya, Aldo memutuskan untuk menghampiri keluarganya karena acara sebentar lagi akan dimulai.
Itu tampak dari orang-orang yang sudah memenuhi acara. Semua tempat duduk yang disediakan sudah banyak diisi oleh para undangan.
Sepertinya peserta undangan acara tersebut banyak dari kalangan elit. Tentu saja, karena rata-rata dari peserta undangan adalah teman Isana. Hanya sedikit teman Aldo dan kolega-koleganya.
Sedangkan tamu dari keluarga Rikka tidak terlalu banyak. Hanya rekan-rekan bisnis ayahnya dan kolega dari ibunya saja. Teman Rikka juga tidak banyak diundang. Hanya beberapa assistennya termasuk Shasha dan juga Andro yang ikut hadir disana.
Acara pun dimulai. Yang awalnya tempat tersebut ramai akan pembicaraan para undangan, kini berubah menjadi hening dan sepi.
Keheningan tersebut disebabkan oleh kehadiran sosok Rikka yang mulai menampakkan diri disana.
Rikka pun mulai berjalan ke altar pernikahannya di atas karpet merah sembari digandeng oleh sang ayah.
Kakinya indahnya kini dihiasi dengan sepatu highheels khas pengantin berwarna putih seperti susu dan memiliki ornamen bunga di bagian mata kaki sebagai penghiasnya.
penampilan Rikka benar-benar sangat menakjubkan. Sekarang ia sudah dipermak dan menggunakan gaun pengantin yang sangat indah. Gaun pengantin berjenis Cathedral Length Train itu dihiasi dengan ornamen seperti diamond di sekitar perut dan punggungnya. Dibagian bawah gaun tersebut memiliki dua lipatan yang menawan sebagai penghiasnya. Sementara dibagian ekornya, terlihat sangat panjang juga sangat indah. Apa lagi dengan ornamen-ornamen pendukung gaun tersebut yang sudah pasti akan menambah rasa iri para tamu wanita.
Akibat gaun yang sangat panjang dan membuat Rikka seakan menyapu jalur jalannya, di bagian ekor gaun tersebut sudah ada dua orang gadis kecil yang siap membantu. Dua gadis kecil itu tak lain adalah keponakan Aldo. Anak satu - satunya Chika dan putri ke dua dari Mega.
Karena suara yang tiba - tiba hening, Aldo mulai heran dan membalikkan tubuhnya kebelakang. Ia pun melihat sosok Rikka yang sedang berjalan ke arahnya. Aldo terpukau dan terdiam saat melihat ada malaikat yang begitu anggun sedang menghampirinya.
Tampak oleh Aldo, di sana Rikka berjalan dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya yang sudah dihiasi oleh mahkota tiara dan veil indah yang senada dengan gaunnya.
Walaupun wajah Rikka tertutupi oleh veil tersebut, mata Aldo masih bisa menangkap dengan jelas wajah cantik nan mulus Rikka yang dihiasi dengan lipstick merah menawan.
Aldo pun tersenyum puas saat menyaksikan pemandangan yang ada dihadapannya itu. Begitu juga dengan nenek dan kedua kakaknya beserta suami mereka.
Lain pula halnya dengan keenam sahabat Aldo. Zedd dan Taka hanya bisa melongo saat menyaksikan keindahan dari malaikat yang sedang melewati mereka dengan langkah yang anggun. Sedangkan Kawa terbelalak seperti terkena sihir dan membuatnya tak bisa berkata-kata, Syndi hanya diam dan tersenyum kecil dan entah apa yang ada di dalam pikirannya.
Sementara untuk Myra dan Nana, mereka sukses dibuat iri oleh penampilan Rikka yang begitu menakjubkan. Seakan-akan mereka ingin menggantikan posisi Rikka di sana. Tapi tentu saja hal itu tak akan mungkin terjadi.
Setelah Rikka sampai di tempat Aldo berdiri, pria berkaca mata itu tersenyum ke arah wanita yang tak lama lagi akan menjadi istrinya.
"Kau sangat cantik," ujar Aldo sambil mengulurkan tangannya ke arah Rikka.
"Terima kasih, kau juga terlihat tampan," sahut Rikka sambil tersenyum dan meraih tangan Aldo.
Setelah beberapa saat, ritual pernikahan pun dimulai. Semua keluarga, kerabat, rekan, dan para tamu yang lainnya pun terlihat ikut bahagia melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka.
"Bu Rikka sangat cantik!" terdengar Shasha yang ikut menghadiri acara tersebut.
"Begitulah," Ucap Andro datar yang tak disangka-sangka juga ikut menghadiri acara pernikahan tersebut.
Tampak disana Aldo dan Rikka saling menyematkan cincin pernikahannya di jari pasangan masing-masing.
__ADS_1
"Dengan ini, kalian resmi menjadi sepasang suami istri," ucap pendeta yang menikahkan mereka.
Aldo dan Rikka pun saling bertatapan.
"Kalian boleh mencium pasangan masing-masing."
Seketika itu juga, wajah Aldo dan Rikka berubah menjadi merah dan saling mengalihkan pandangan mereka ke arah lain.
Kemudian Aldo memberanikan diri menatap Rikka sekali lagi dan memberikan kode kepada pengantin wanitanya tersebut seperti meminta izin untuk menciumnya.
Rikka terdiam sesaat, lalu menganggukkan kepalanya pelan sambil mengalihkan matanya ke sebelah kanan karena malu. Kemudian memejamkannya dengan rapat.
Mendapat izin dari wanita yang sudah menjadi istri sahnya itu, Aldo langsung menyambar bibir peach Rikka dengan mantap.
Ciuman itu tidak berlangsung lama, karena Aldo tak ingin membuat istrinya merasa risih, karena pria berkacamata itu sadar, pernikahan mereka adalah hasil dari perjodohan. Jadi, Aldo tak ingin seperti terkesan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Rikka sedikit terkejut, karena merasa kecupan bibir Aldo terasa sangat singkat. Ekspresi Rikka seperti menginginkan ciuman itu berlangsung lebih lama lagi. Setelah sadar dan merasa malu dengan pemikirannya sendiri, Rikka mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk kesekian kalinya.
Lalu terdengarlah suara tepukan tangan dari para undangan yang menjadi saksi upacara pernikahan tersebut. Senyuman dan air mata kebahagiaan tampak mengisi suasana di barisan keluarga Aldo.
"Delapan!" celoteh Nana entah apa maksudnya.
Teman satu timnya menoleh kearah wanita nyentrik itu dengan tatapan bertanya dan Nana pun ikut menoleh kearah teman-temannya.
"Maksudku, adegan ciuman barusan kuberi nilai delapan!" Sambungnya menjelaskan.
"Memangnya kau pernah ciuman?" Taka menimpalinya dengan pertanyaan.
Tak mendendapatkan jawaban, Taka malah mendapat jitakan mantap dari Myra yang kebetulan berada tepat di sebalahnya.
"Aduh ... kenapa kau memukulku!" pekik Taka kesal.
"Jangan menanyakan hal aneh pada wanita!" desis Myra tanpa menatap Taka sedikit pun.
"Kau mau mencobanya dengan ku, Taka?" kata Nana menggoda sambil membungkuk.
Spontan wajah Taka memerah dan tak bisa berkata-kata melihat tingkah salah satu temannya tersebut.
Jitakan pun kembali mendarat mulus di kepala gondrong Taka yang sukses membuatnya meringis kesakitan.
"Kenapa kau memukulku lagi, Myra!" cerocos Taka semakin kesal.
"Karena kau memasang wajah mesum, jadi kau pantas mendapatkannya!" desis Myra lagi tanpa melihat sedikit pun ke arah Taka.
Melihat tingkah aneh dari teman-temannya, Syndi hanya tersenyum sambil menyentuh bibirnya seperti menahan tawa. Sedangkan Nana malah terlihat menyeringai ke arah Myra dan Taka.
"Bagaimana kalau kalian coba berciuman seperti Aldo barusan?" kata Nana sambil menunjuk ke arah Aldo yang berada di Altar.
"A-apa!?" pekik Myra dan Taka.
"Ci ... u ... man!"
Dengan kakunya Myra dan Taka saling bertatapan, dan pada saat itu juga wajah mereka menjadi lebih merah lagi.
"Ma-Mana mungkin!" kata Myra sambil membuang mukanya.
"Be-Benar, mana mungkin aku mau!" Begitu pula dengan Taka.
"Ahahaha ... kenapa kalian tidak pacaran saja?" Gelak tawa Nana pun terdengar.
Sementara Kawa dan Zedd masih fokus mejadi saksi pernikahan Aldo dan Rikka tanpa menggubris pembicaraan teman-teman mereka.
Acara pun berlanjut ke ritual pelemparan bunga. Kini para undangan yang ingin ikut berpartisipasi menangkap bunga yang dilempar oleh pengantin wanita sudah berbaris rapi disana.
Termasuk keenam teman Aldo yang juga meramaikan ritual tersebut. Sedangkan tamu yang tidak ikut, langsung beranjak menghampiri keluarga kedua mempelai untuk mengucapkan selamat. Ada juga yang langsung menghampiri makanan yang sudah dihidangkan.
Taka dan Myra masih tampak berdebat disana, entah apa yang mereka perdebatkan. Yang pasti, walaupun mereka terlihat seperti bertengkar, mereka juga ikut berpartisipasi dalam ritual itu.
Rika dan Aldo yang melihat kelakuan temannya, saling bertatapan dan menganggukan kepalanya bersamaan setelah tersenyum. Lalu Rikka membalikkan badannya dan mulai menghitung mundur.
"3 ... 2 ... 1!" Pekik Rikka bersemangat sambil melemparkan bunga buket yang ada di tangannya ke belakang.
Awalnya, Rikka ingin mengarahkan buket tersebut ke arah Myra dan Taka. Tapi entah kenapa, buket yang sedang melayang itu malah mengarah ke Kawa yang sedang berdiri di sebelah kiri Zedd.
Setelah mendarat dengan indahnya di pelukan Kawa, bunga itu pun di angkat oleh gadis mungil tersebut ke atas sambil memarkan pose kemenangan kepada semua tamu yang ada di sana.
"Yeah!!" teriak Kawa merasa menang karena mendapatkan bunga buket yang indah.
Para undangan yang melihat hal tersebut tertawa, ada juga yang hanya tersenyum, serta ada pula yang merasa kecewa karena tak bisa mendapatkan bunga buket indah itu.
"Kawa, kau tahu arti dari bunga buket ini?" tanya Nana yang kebetulan berada di sebelah kiri Kawa.
Mendengar Nana yang bertanya, Kawa hanya bisa memiringkan kepalanya dengan tatapan bingung dan berharap Nana segera memberitahukannya.
Melihat tatapan polos sang gadis mungil, Nana pun tersenyum.
"Artinya adalah kau juga akan segera menikah setelah mereka berdua," ucapnya sambil menunjuk kearah Aldo dan Rikka.
Kawa pun tersipu setelah mendengar ucapan Nana, lalu tersenyum sumringah seperti mendapatkan mainan yang sudah lama diinginkannya.
"Kalau begitu ... aku ingin Zedd yang menjadi pengantin pria ku nanti!" celetuk Kawa ngasal.
Mendengar penuturan polos Kawa, Zedd sedikit terkejut dan melihat ke arah sniper mungil tersebut. Lalu tersenyum setelahnya.
"Apa kau mau, Zedd?" tanya Kawa dengan senyuman polos.
"Tentu!" jawab Zedd dengan senyuman sembari mengelus kepala Kawa.
"Ehehehe ... " Kawa hanya bisa cengengesan tidak jelas.
"Kau yakin, Kawa?" tiba - tiba suara Myra terdengar di telinga Kawa sebalah kanan.
"Tentu saja!" Seru kawa bersemangat.
"Zedd itu punya banyak simpanan, kau tahu?"
"Akan ku tembak dia kalau berani selingkuh!"
Melihat pose menembak Kawa yang imut, Zedd hanya bisa sweatdrop. Karena pose yang ditampilkannya sekarang sangat tidak cocok dengan kenyataan jika mengingat bagaimana mengerikannya Kawa saat sedang membidik targetnya.
Zedd pun mulai berfantasi tentang bagaimana jika suatu saat kawa benar-benar menjadi istrinya, lalu ketahuan selingkuh. Sudah pasti sebuah peluru Riffle kesayangan gadis mungil itu akan bersarang di kepalanya.
Membayangkannya saja sudah membuat Zedd merinding, Apa lagi mengalaminya. Untuk mengucapkan kata 'pisang' saja mungkin tak akan bisa dia lakukan.
__ADS_1
"Bilang saja kau iri, Myra!" desis Syndi tiba-tiba yang sedari tadi hanya diam saja.
"A-apa maksudmu!?" kata Myra sedikit terbata setelah menoleh ke arah Syndi.
Syndi hanya tertawa kecil dan kembali diam tak bersuara.
"Kalau untuk menikah, mudah saja bagiku" lanjut Myra.
"Mudah?" tanya Syndi yang sedikit penasaran.
"Yah, apa kalian lupa kalau aku ini populer di kalangan para pria di kampusku?" ucap Myra sambil menyibak rambutnya kebelakang.
"Memangnya siapa yang suka padamu? Melihatmu saja semua orang pasti sudah lari!" kali ini Taka menimpali.
"Apa maksudmu, hah!?"
"Yah, memangnya siapa yang suka pada wanita bertanaga badak sepertimu?" ucap Taka nyeleneh sambil menggaruk pipinya.
BBUUAAGH...
Bogeman mentah pun mendarat tepat di uluhati Taka yang membuat maniak komputer itu spontan meringkuk dilantai. Sementara Myra tersenyum puas dengan tangan yang masih terkepal di depan wajah cantiknya
"I-inilah ... y-yang ... kumaksud dengan.. t-tenaga badak!"
"Dan ini lah yang membuat Myra populer di kampus!" ucap Kawa dengan tatapan ngeri ke arah Myra.
"Ssstt."
Myra memberikan kode dengan jari telunjuk yang dilengketkan di bibir manyunnya pada Kawa supaya tak berkata lebih banyak lagi.
"K-Kawa, beritahu semua rahasia Myra padaku! Kau satu kampus dengannya, kan?" Kata Taka yang masih meringis kesakitan.
"Humph, ayo kita tinggalkan makhluk tak berguna ini?" cerocos Myra pergi sambil menggandeng tangan Kawa yang melihat iba ke arah Taka.
Di sisi lain, Aldo hanya bisa cengo melihat tingkah teman-temannya.
"Apa - apaan mereka?" ucapnya.
"Kau bilang sesuatu?" tanya Rikka yang sedang berada di sebelahnya.
"Tidak apa-apa," sahut Aldo dengan senyuman.
Acara pun terus berlanjut, semua tahap berjalan dengan mulus. Termasuk acara hiburan yang sudah ditata rapi oleh Event Organizer sewaan Isana neneknya Aldo.
Semua tampak bahagia disana tanpa terkecuali. Tapi, tiba-tiba Syndi memasang wajah serius sembari menyambar makanan di meja kemudian berjalan ke tempat Zedd berada.
"Zedd, apa kau melihatnya?"
"Tentu!" balas Zedd singkat sambil berdiri santai di pojok minuman yamg tertata rapi.
"Tak kusangka orang seperti mereka akan menghadiri acara ini," desis Syndi.
"Bagaimana tidak, Rikka adalah salah satu elit militer kebanggaan mereka. Sebagai paman, tentu saja Andreas akan datang ke pernikahannya," sahut Zedd panjang lebar.
"Kau benar, apa perlu mereka kuberi tahu?" tanya Syndi sambil menunjuk ke arah Kawa dan lainnya.
"Tidak usah, selagi mereka belum menyadarinya, biarkan saja mereka menikmati pesta ini,"
"Baiklah."
Setelah itu, Syndi menerima Cocktail yang ditawarkan Zedd untuknya dan mulai menikmati minuman tersebut dengan sepenuh hati.
Pada saat sesi foto dengan kedua mempelai, keluarga dan para tamu tampak bergantian untuk berfoto. Tak terkecuali dengan Zedd dan kawan-kawan yang kini sedang mengantri giliran mereka.
Tapi, pemandangan yang ada di depan mereka sekarang sukses membuat Myra, Nana dan Taka mengedutkan alisnya beberapa kali.
"Kenapa dia harus ada di sini?" ujar Nana.
"Bukankah sudah jelas, menghadiri pernikahan keponakannya," sahut Zedd.
"Pria tua itu merusak pemandangan!" cerocos Myra yang merasa tidak nyaman.
"Tenanglah! sebagai seorang professional, kita harus bersikap sebaik dan setenang mungkin."
Yang dimaksud Zedd dan kawan-kawan adalah kehadiran Andreas Anderson. Salah satu musuh bebuyutan mereka yang berbahaya, kini sedang ikut berfoto ria bersama kedua mempelai.
Zedd terus memperhatikan tingkah laku leadernya. Dia khawatir, aura mengintimidasi dari pimpinan FBI itu akan membuat Aldo gelisah.
Tapi sepertinya kekhawatiran Zedd hanya sia-sia. Itu tampak jelas dari tingkah Aldo yang ramah saat menyapa Andreas Anderson dan juga elit militer yang lainnya.
Malah, yang terlihat gelisah adalah Rikka sendiri. Wanita yang mengenakan gaun pengantin itu tampak kikuk dengan senyuman anehnya.
"Selamat atas pernikahanmu, Rikka!" kata Andreas sembari memeluk keponakannya.
"Terima kasih, Paman," balas Rikka dengan senyuman kikuknya.
Andreas hanya mengangguk menanggapi Rikka, kemudian beralih ke Aldo.
"Tolong jaga keponakan kesayanganku. Jika kau membuatnya menangis, hanya Tuhanlah yang tahu apa yang akan terjadi."
Mendengar hal itu, Aldo pun ikut tersenyum kikuk pada Andreas sambil menjabat tangannya.
"I-iya."
Tak lama kemudian, tibalah giliran Zedd dan kawan-kawan untuk berfoto dengan kedua mempelai.
Sembari jalan kearah Aldo, pria berpakaian rapi itu memberikan kode padanya dengan kedipan mata dan dibalas dengan anggukan kecil oleh Aldo.
Kode yang diberikan Zedd tersebut bertujuan supaya Aldo tetap santai dan tak usah terlalu memikirkan keadaan teman satu timnya.
Karena Aldo tahu, kehadiran Andreas pasti akan membuat teman satu timnya merasa tidak nyaman disana. Tapi, hal itu sudah bisa diatasi oleh Zedd.
Zedd memperingatkan teman-temannya untuk santai dan biasa saja. Karena, selagi identitas mereka tidak diketahui, maka semuanya akan berjalan dengan lancar.
"Katakan cheese!" ucap Fotografer.
"CHEESE!" kata aldo dan kawan-kawan termasuk Rikka saat difoto.
Posisi berfoto mereka sedikit unik, simungil Kawa berada di antara kedua mempelai. Kemudian diikuti dari sebelahkanannya ada Rikka, Myra, Nana, dan Syndi. Lalu disebelah kirinya ada Aldo, Taka, dan Zedd.
Tak lupa pose jari yang membentuk huruf 'V' di kedua tangan Kawa dan senyuman lebarnya menambah keunikan tersendiri untuk foto tersebut.
-----
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan comment nya ya teman-teman
Thank you... 😊😊😊