Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 8 : Assassination


__ADS_3

Dengan santai, Aldo menonton anime di TV sambil menikmati sake yang setia menemaninya. Tiap teguk ia nikmati dengan sepenuh hati seperti orang yang tak memiliki beban sama sekali.


"Aldo, aku berangkat!" pamit Rikka padanya.


"Ok. Hati-hati di jalan ..." sahut Aldo tanpa menoleh sembari melambaikan tangan.


Setelah beberapa menit istrinya pergi, Aldo memastikan bahwa Rikka sudah benar-benar tak terlihat lagi. Lalu, ia pun segera bersiap-siap untuk menjalankan misi pembunuhan.


Pembunuh berantai itu tampak sedang melengkapi diri dengan peralatan canggih andalanya seperti pistol, pisau tersembunyi yang berada di pergelangan tanggannya, dan beberapa peralatan canggih yang lain.


Lalu ia mengenakan pakaian rapi seperti butler dan menata rambutnya dengan rapi hingga tampak klimis. Topeng sintetis juga tak lupa ia kenakan untuk mengubah penampilannya secara total.


"Topeng sintetis yang dikirim Zedd terlalu sedikit ..." ucap pria bermata coklat itu entah pada siapa.


"... Aku harus menggunakannya sebijak mungkin!" lanjutnya.


Sekitar lima belas menit, Aldo pun selesai berdandan dan melangkah keluar dari kamarnya lalu meninggalkan hotel tempat ia menginap. Ia tampak mengenakan sebuah jaket seperti mantel musim dingin berwarna hitam dan topi berjenis Fedora dengan warna yang senada.


Saat ini Aldo sedang duduk di dalam taxi dan menuju ke hotel tempat dimana targetnya berada. Setelah sampai di sana, Aldo berterima kasih kepada supir dan melenggang masuk ke dalam hotel lalu berjalan di lobby menuju meja resepsionis.


"Can i help you, Sir?" tanya Resepsionis dengan ramah.


"Yes, i've made an appointment with Miss Elga Victoria. Can you tell me wich floor her room?" balas Aldo menjelaskan.


"And your name?" tanya Resepsionis lagi.


"Dominic!"


"Your ID card please?"


Aldo kemudian menyerahkan tanda pengenal palsu yang sudah dipersiapkan oleh teman satu timnya.


"Ok, Wait a minute."


Aldo menganggukkan kepalanya dan mulai melepas topi serta mantelnya lalu menggantungkannya di lengan sebelah kanan.


"Sorry to keep you waiting, Sir? Miss Victoria had left a note to let you go straight to her room at 17th floor, room number 1707."


Aldo mengagguk kepada Resepsionis. "Thank you!"


"You're welcome."


Tak banyak kata lagi Aldo bergegas menuju elevator yang berada tak jauh dari sana. Setelah masuk, ia menekan tombol dengan angka 17.


"Terima kasih, Taka ... tak kusangka, hotel di salah satu negara paling mutakhir di dunia ini bisa kau retas dengan mudah!" desisnya sambil menunggu lift yang sedang beranjak naik ke atas.


Elevator pun tiba di lantai 17, Aldo melangkah keluar dan mencari kamar bernomor 1707. Setelah mendapatkannya, Aldo menekan bel yang sudah tersedia di sana.


"Siapa?" kata sebuah kepala yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Kepala tersebut adalah kepala milik seorang wanita cantik berambut pirang seperti emas yang dicocang besar dan menjuntai dengan indahnya ke samping.


"Maaf Nona, apa anda memesan jasa pijat?"


"Haah?" ucap gadis pirang itu melalui bibir merahnya yang seksi dengan tatapan heran.


"Aku tak pernah memesan hal seperti itu!" lanjutnya dengan suara serak-serak basah.


Sepertinya wanita yang ada di hadapan Aldo tersebut memiliki suara yang terdengar seksi. Sangat jarang Aldo menemukan sosok wanita seperti itu.


"Kalau begitu ... apa anda memesan tiket ekspres ke neraka?" balas Aldo dengan wajah polos.


Gadis itu pun sedikit terbelalak. "Tch ..."


Gadis bersuara seksi akhirnya menyadari pembicaraan tersebut ke arah mana. Dan berusaha menutup pintu kamar dengan cara membantingnya.


Namun usahanya sia-sia saja. Karena dengan gesitnya Aldo menghentikan tindakan tersebut dan ikut masuk ke dalam kamar.


Supaya aksinya tetap berjalan dengan lancar, Aldo mengunci kamar tersebut agar tak ada yang mengganggu.


Gadis seksi berambut pirang tampak berlari ke sudut kamar di dekat meja yang sepertinya terbuat dari kayu jati.


"Hey ... kenapa ekspresimu seperti melihat om-om mesum yang ingin memperkosamu?" celetuk Aldo sambil berjalan ke arah targetnya.


"Diam kau ..." desis gadis pirang sambil meraih pistol di dalam laci.


"... jangan bergerak!" ucapnya sambil mengarahkan pistol berjenis Glock Meyer 22 dengan tangan langsing miliknya.


Aldo menghentikan langkah dan mulai berbicara, "Elga Victoria ... seorang mantan agen rahasia sepertimu seharusnya tahu, kalau Meyer 22 tak akan bisa menyentuhku!"


"Bukankah lebih baik jika kau menyerangku dengan teknik bela diri andalanmu?" lanjut Aldo.


"Atau kau ingin pasrah dan merelakan nyawamu padaku?" sambungnya lagi.


Sedetik kemudian, sosok pirang Elga menghilang dari sana dan berpindah tempat tepat di bawah dagu Aldo seperti ingin melakukan Upper Cut dengan tinjunya.


Aldo melirik. "Woah!" ucapnya sambil menghindar dengan gesit.


"Cepat se-"


Aldo tak sempat menyelsaikan kata-katanya. Karena Elga sudah bergerak menerjang pembunuh berantai tersebut dengan tendangan menggunakan kaki kirinya.


Aldo tak tinggal diam. Dia menangkis tendangan maut itu dengan lengan kiri, lalu menangkap kaki langsing milik Elga dengan tangan yang sama dan berusaha menariknya.


Tapi Elga segera berputar ke bawah dan melakukan tendangan yang berikutnya menggunakan kaki kanan. Dengan teknik yang sama, Aldo berhasil menangkis tendangan tersebut dengan lengan kanannya.


Elga sudah menduga hal itu, lalu membungkukkan tubuhnya dengan ujung kepala menghadap ke lantai dan mengarahkan pistol ke dada Aldo.


DOORR ...


Tembakkan dilepas oleh Elga. Namun Aldo segera menghindar dengan melepas kaki Elga dan berjongkok sebelum peluru pistol tersebut tepat mengenainya.


Elga berguling kebelakang lalu berdiri dan memasang kuda-kuda khas karate. Tubuh seksi Elga tampak menakjubkan dengan posisi tersebut.


Tak sampai disitu saja. Elga kembali menerjang Aldo dengan tinjunya secara bertubi-tubi sembari memegang pistol. Namun, dengan gesit Aldo terus menghindar dan menangkis pukulan seribu tersebut.


Saat tangan Elga tertangkap, gadis bersuara seksi itu sekali lagi berusaha menarik pelatuk pistol ke arah Aldo. Tapi sayang, Pada saat yang sama, kegesitan Aldo berhasil mengeluarkan isi pelurunya.


"Tch ..." Elga mendecak kesal.


Elga akhirnya berhasil mendaratkan tendangan ke arah Aldo dan melepaskan diri dari tangan pembunuh berantai tersebut, kemudian melompat mundur ke arah jendela.


"Sakitnya ..." kata Aldo meringis.


"Hatiku lebih sakit karena kau merusak momen liburanku!" desis Elga tak mau kalah.


"Kalau begitu menyerah saja, supaya kau bisa berlibur di alam sana!" tegas Aldo dengan suara kesal.


"Oh ya?" kata Elga sembari melemparkan kursi yang entah sejak kapan ada di sana.


"Woah!" Aldo kembali berhasil menghindari serangan Elga.


Tapi, setelah melihat ke arah gadis pirang tersebut, sosoknya sudah melompat keluar jendela.


Aldo terbengong sesaat. "Apa bedanya mati di tanganku dengan melompat dari lantai 17?"


Aldo berlari ke arah jendela dan mendapati Elga sedang bergalantungan di balkoni kamar yang sepertinya berada di lantai 16.


"Hey, bertahanlah. Aku akan segra membantumu ..." ucap Aldo.


"... membantu pergi ke neraka!" sambungnya tanpa dosa.


Mendengar penuturan Aldo yang sangat ironis, kekesalan Elga semakin memuncak. Gadis pirang itu pun berhasil bertumpu di sebuah balkoni kamar dengan kakinya. Lalu berlari entah ke mana.


"Tch ..." Aldo mendecakkan lidahnya dan berlari menyusul Elga dari dalam.


Elga tampak sedang berlari di koridor hotel yang dihiasi dengan karpet biru gelap. Ia menuju elevator dan setelah sampai disana, dengan kasar gadis itu menekan kedua tombol tanda panah.


Salah satu elevator pun singgah di lantai tempat Elga berada. Sepertinya Elevator tersebut datang dari atas. Lalu secara perlahan, pintu elevator tersebut terbuka dan menampilkan sosok Aldo yang sedang tersenyum menggunakan penyamarannya.


"Hai?" sapa Aldo enteng.


"Tch ..." lagi-lagi Elga mendecakkan lidah.


Ketika Aldo ingin menarik Elga ke dalam elevator, tendangan maut Elga menerjang ke arahnya. Pembunuh berantai tersebut menghindar secara refleks dan merapat ke dinding elevator.


Elga segera menekan tombol penutup pintu. Bersamaan dengan menutupnya pintu, Elga langsung melompat keluar dan mulai berlari lagi.


"Benar-benar merepotkan!" desis Aldo mulai bosan karena harus menunggu elevator yang bergerak lambat.


"Informasi yang diberikan Taka sepertinya tidak akurat."


"Ilmu bela dirinya tak sehebat Myra, tapi kecepatan dan responsifnya sangat menakjubkan!"


"Haaah ... kemana dia perginya, ya?" keluh Aldo sambil melihat indikator lantai di dalam elevator.


Tampaknya sekarang Elga sedang berlari menuju lantai bawah menggunakan tangga darurat.


"Sialan, kenapa aku harus berurusan dengan pembunuh brengsek itu?" Di tempat yang berbeda, Elga pun mengeluh akan keadaannya.


Setelah berlari selama beberapa menit, Akhirnya Elga tiba di lantai basement hotel. Kemudian ia berlari ke arah sebuah sepeda motor sport berwarna hitam.


Saat tepat berada di sebelah sepeda motornya, Elga langsung membuka jersey putih yang ia kenakan beserta celana Legging hitamnya juga. Alhasil, Terpampanglah tubuh seksi Elga yang sedang mengenakan pakaian cat suit ketat, kilat, dan letur.


Tampaknya gadis itu selalu memakai pakaian tersebut kemana pun ia pergi dan apa pun yang ia lakukan.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Elga menyalakan mesin sepeda motornya, memasang helm hitam full face di kepala, lalu beranjak meninggalkan tempat tersebut.


Elga memacu sepeda motornya secepat mungkin. Padahal tempat itu adalah fasilitas parkir. Tapi ia sama sekali tak segan untuk menancap gas benda beroda dua tersebut.


Elga pun berhasil keluar dari tempat parkir basement. Dan hanya tinggal melewati lorong tak beratap yang berupa tanjakan di depannya, maka Elga berhasil sampai di jalan raya.


Tapi sial bagi Elga. Tiba-tiba sosok Thousand Face Reaper melompat dari atas. Tepatnya dari arah teras hotel dan berdiri tepat di depannya.


Tak memperdulikan sosok tersebut, Elga semakin mencapkan gas sepeda motornya dan menabrak pembunuh berantai yang berusaha menghindar. Kemudian pergi menjauh sekencang mungkin setelah ia dan sepeda motor tersebut menyentuh aspal jalan raya.


Nampaknya topeng sintetis yang digunakan oleh Thousand Face Reaper terkoyak saat ia berusaha menghindari sepeda motor tadi.


"Sialan!" kata Aldo Geram.


Aldo berlari ke arah targetnya pergi sambil merobek topeng sintetis di wajah maskulin tersebut. Setelah beberapa langkah lagi sampai di jalan Raya, Aldo pun mulai memasang topeng rubah andalannya.


Ketika berada di tepi jalan, Aldo yang sudah memakai topeng kini menoleh ke sana kemari mencari jalan pintas untuk mengejar Elga.


Tapi, yang ia dapati di sana malah sosok istrinya yang sedang berdiri dengan tatapan dingin bersama seorang wanita berdada besar.


"Wow ... aku yakin dada itu berukuran F-Cup!" Sempat-sempatnya Aldo menyeleneh.


Pandangan matanya kemudian beralih ke wajah istrinya yang semakin tampak menyeramkan.


"Kenapa aku harus bertemu istriku disini?" sambungnya.


Dengan santai, Aldo memberikan penghormatan kepada sosok Rikka yang masih berdiri dengan dua jarinya. Lalu berlari menyeberangi jalan raya untuk mengejar Elga.


Sosok Aldo tampak sedang menyusuri jalur pejalan kaki sambil memperhatikan Elga yang sedang melaju kencang di jalan Raya. Saat berlari, pembunuh berantai itu hampir saja menabrak pejalan kaki lainnya. Ada yang marah dan ada juga yang merasa takut melihat Aldo memakai topeng. padahal saat itu bukanlah festival.


Dengan gigihnya, Aldo terus berlari mengejar Elga tanpa merasa lelah sedikitpun. Ia menaiki jembatan penyeberangan lalu masuk kedalam celah-celah bangunan untuk menyamakan posisinya agar tak terpaut jauh dari sang target.


Berkat jalanan kota tokyo yang banyak memiliki simpang, Aldo berhasil menyusul Elga dan kini ia sedang berdiri di salah satu jembatan penyeberangan untuk menunggu sosok gadis pirang.


Setelah sosok Elga mulai terlihat, Aldo mengarahkan pistol ke arah gadis tersebut dan melepaskan tembakan. Tapi sayang, Elga berhasil menghindarinya dengan cara menundukan kepala dan mulai pergi menjauhi Aldo setelah berbelok ke kiri di simpang empat yang ada di depannya.


"Tch ... aku harap Kawa ada disini sekarang!"


Setelah melontarkan keluhannya entah pada siapa, Aldo kembali berlari untuk menyusul Elga. Di setiap langkahnya ia membayangkan senyuman gadis mungil bernama Kawa. Hal itu juga membuat Aldo ikut mengembangkan senyuman di balik topeng rubah yang ia kenakan.


Aldo kembali menyusuri jalur pejalan kaki dan masuk ke dalam celah-celah gedung untuk kesekian kalinya. Alhasil, pemilik cafe bernama Green Goblin tersebut dapat melihat sosok gadis pirang sedang melaju kencang ke arah bangunan pencakar langit.


Tanpa membuang banyak waktu lagi, Aldo berlari menyusulnya dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Setelah pria itu sampai di sana, yang ia dapati hanya sepeda motor yang di parkir dengan rapi.


Aldo menoleh ke sana kemari. Tapi tak menemukan sosok Elga sama sekali. Lalu saat ia melihat gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di depannya, Aldo menyeringai dan mulai berjalan ke sana. Sepertinya gedung tersebut adalah Skytree.


Aldo tampak sudah melepas topeng rubah andalannya dan kini telah memakai topeng sintetis untuk merubah penampilan wajahnya agar tak mencolok dan menarik perhatian.


Dengan santainya Aldo memasuki elevator dan menuju lantai teratas bangunan tersebut. Entah kenapa, pria itu sangat yakin kalau sang target sedang bersembunyi disana.


Selang beberapa menit, Aldo pun keluar dari elevator dan berjalan di sebuah ruangan yang sangat sepi.


DOOORR ...


Tembakan kembali dilepas ke arah Aldo tapi sama sekali tak mengenainya. Karena pria yang biasanya mengenakan kaca mata itu berhasil menghindar.


Aldo berlari ke arah sumber suara dan mendapati sosok Elga sedang berlari dan melompat ke arah jendela kemudian mendarat dengan mulus seperti seorang akrobat di besi melingkar yang tampak seperti balkoni.


Aldo ikut melompat ke sana dan terus mengejar Elga yang sedari tadi menembakkan pistolnya.


"Ayolah ... kau bisa lari, tapi kau tak bisa bersembunyi selagi pria ini masih memiliki ribuan bentuk wajah!" celetuk Aldo sombong.


DOORRR ...


Tembakan dilepas dan hanya mengenai besi yang ada di sebelah Aldo.


"Kalau begitu, tangkap aku jika kau bisa!" balas Elga tak mau kalah.


"Baiklah, kau yang minta!" desis Thousand Face Reaper.


Sembari berlari mengejar Elga yang berjarak 4 meter di depannya, Aldo sedikit menarik lengan kemejanya yang panjang dan menampakkan sebuah sabuk lengan yang terlihat sangat futuristik.


Dia tampak sedang menyodorkan lengan kanannya ke depan seperti membidik sesuatu. Kemudian pria tersebut menekan sebuah tombol kecil di sabuk lengannya.


Pada saat yang sama, keluarlah benda kecil berbentuk kerucut seperti anak panah namun memiliki diameter melalui sabuk tangan tersebut. Benda itu memiliki ekor berupa tali yang terbuat dari timah dan terhubung dengan sabuk lengan sebagai rumahnya. Tali berwarna perak itu terlihat sangat lentur dan fleksibel.


Benda kerucut itu pun terbang menerjang kaki langsing Elga dan menembus daging beserta tulangnya seperti sebuah agar-agar.


Setelah berhasil menembus kaki Elga, benda tersebut berubah bentuk menjadi seperti cakar dan mencengkram kaki gadis itu sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan.


"AAAKKKHHH!!!" teriak Elga merasakan sakit yang amat sangat luar biasa.


Melihat Targetnya yang sudah berhasil di lumpuhkan, Aldo menarik tali tersebut dan mengayunkannya ke kanan dan sukses membuat Elga melayang ke samping.


Tak sampai disitu saja, Aldo memutar tubuhnya ke belakang masih mengayunkan tubuh Elga di udara dan berniat membenturkan targetnya ke kaca bangunan yang mereka panjat


Elga yang tersadar apa tujuan pembunuh berantai tersebut menoleh ke jendela kaca dan mengarahkan pistolnya kesana lalu melepaskan tembakkan agar benturan yang diterimanya tidak terlalu keras.


PRAANG ...


Kaca pun pecah bersamaan dengan tubuh seksi Elga yang terlempar masuk ke dalam ruangan.


Aldo berjalan mendekati gadis itu dengan santai sembari menginjak serpihan kaca yang sudah berserakan di lantai.


Elga tampak sedang berusaha untuk melarikan diri dengan susah payah. karena kaki sebelah kanan yang seksi itu sepertinya sudah tak bisa di andalkan lagi.


DOORR ...


Aldo melepaskan tembakkan ke kaki kiri Elga dan pelurunya sukses bersarang tepat di tulang fibula milik gadis pirang tersebut.


"AAAAKKHHH!!!" Elga kembali menjerit histeris.


"Sudah kubilang, lebih baik kau menyerah dari pada harus menderita begini!" ucap Aldo enteng masih berjalan ke arah targetnya.


Tubuh seksi Elga bergetar karena menahan sakit. Titik air mata mulai keluar dari sudut matanya yang ia pejamkan.


Aldo yang sudah berada tepat di depan targetnya mulai membalikkan tubuh seksi tersebut dan membuatnya berbaring menghadap ke atas.


Tapi sepertinya Elga tak mau menyerah begitu saja. Gadis itu berusaha meraih pistol yang tergeletak di sebelahnya secara perlahan, supaya Aldo tak menyadari niatnya.


DORR ... DORR ...


Peluru pistol Aldo pun melesat dan merusak kedua lengan Elga tepat di siku.


Sepertinya Aldo dapat menyadari dengan jelas gerakan dan niat Elga. Sehingga Aldo juga harus melumpuhkan kedua lengan tersebut.


"AAAAAKKKKHHHHHH!!!!!" untuk kesekian kalinya Elga menjerit kesakitan akibat luka yang diterimanya.


"Berapa kali harus kukatakan padamu, hah?" cerocos Aldo masih dengan posisi menembak.


Elga hanya terdiam dan terbaring lemah dengan tatapan menghadap ke atas. Tepatnya ke langit-langit ruangan. Lalu ia pun tersenyum pahit sambil memejamkan matanya yang mulai mengalirkan air mata.


"Aku tak akan luluh dengan air mata buayamu!" seru Aldo setelah melihat ekspresi targetnya.


Elga masih tersenyum. "Cepat bunuh aku ... itu tujuanmu, kan?"


Sejenak Aldo terdiam. "Sebelum itu ..."


Sepertinya Aldo sengaja menjeda kalimatnya untuk sedikit mengintrogasi sang gadis pirang.


"... kenapa wanita sekaliber dirimu mau bergabung dengan Organisasi Revolusi?" sambung Aldo bertanya.


"Bukankah sudah jelas ... kalau aku tak akan mengatakannya!" tegas Elga dengan suara seksi andalannya.


"Benar-benar wanita yang merepotkan."


"Baiklah ... ada kata-kata terakhir?" lanjut Aldo.


"Siapa yang menyuruhmu?" balas Elga.


Aldo tersenyum hangat ke arah targetnya. "Bukankah sudah jelas ... kalau itu rahasia!"


DOORR ...


Tembakkan melesat cepat ke dahi Elga setelah Aldo mengucapkan jargon andalannya.


Dengan itu, Elga pun sudah tak bernyawa lagi dan hanya bisa terkulai lemas di lantai.


"Akhirnya selesai juga!" ucap Aldo merasa lega sambil melepas topeng sintetis yang ia kenakan.


Setelah itu, Aldo terus memperhatikan tubuh Elga yang terkulai lemas dengan tatapan sendu. Entah apa yang ia pikirkan saat itu. Yang pasti, ia telah berhasil menjalankan misi untuk yang kesekian kalinya.


Aldo mulai merogoh saku celananya dan mengambil sebuah smartphone dari sana. Kemudian memfoto mayat Elga lalu berkutat dengan smartphone tersebut. Sepertinya ia sedang membuat laporan tentang keberhasilan misinya dan mengirim laporan itu entah kepada siapa.


Saat Aldo kembali memperhatikan mayat Elga yang terbaring di lantai, tiba-tiba terdengar suara yang sangat tidak asing di telinganya.


"Jangan bergerak!" ucap suara tersebut dengan lantang.


Aldo hanya diam dan tetap menghadap ke arah mayat yang ada di depannya.


"Letakkan tanganmu di atas kepala, dan segera berbalik!" lanjut suara itu yang semakin mendekat secara perlahan.


Sebelum Aldo menuruti menuruti perintah tersebut, pria yang sedari tadi menggunakan pakaian butler itu memasang topeng rubah andalannya terlebih dahulu. Kemudian meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berbalik menghadap ke sumber suara.


Benar saja dugaan Aldo, suara yang tak asing di telinganya itu adalah suara milik Rikka yang kini sedang berdiri tegap bersama seorang wanita berdada besar yang dilihatnya tadi.

__ADS_1


Aldo dapat melihat dengan jelas ekspresi Wajah Rikka yang sangat dingin. Seperti predator yang sedang bersiap menangkap mangsa.


"Sudah kuduga..." desis istrinya.


"...Lepaskan topengmu dan letakkan di lantai, lalu tiarap dengan tangan tetap di kepala!" lanjut Rikka.


Aldo memiringkan kepalanya sedikit dengan posisi tangan yang masih diletakkan di atas kepala.


"Maaf, Nona-Nona ... jika aku melepas topeng ini, kalian berdua pasti akan jatuh cinta padaku!" celetuk Aldo dengan suara Ventriloquisme yang terdengar sangat aneh.


"PPFFTT ... pria ini lucu, Rikka!" ucap wanita berdada besar sambil menahan tawa.


"Shion!" desis Rikka.


"Oops ... maaf!" kata Shion dengan entengnya.


"Hey, Nona yang membawa pisau ... tunjukanlah sedikit rasa humor seperti temanmu itu," kata Aldo sembari membaca situasi.


"Tak hanya di negaraku ... tapi kau juga mengacau di jepang. Dasar ********!"


Tak menggubris perkataan tersebut, Rikka malah menghujat suaminya yang kini dalam wujud pembunuh bernama Thousand Face Reaper.


"Negaramu? Memangnya di mana negaramu?"


"Kau tak perlu tahu!" umpat Rikka.


Aldo terdiam sejenak. "Aaah, aku tahu ... kau pasti petugas baru itu, kan?"


"Wah, aku senang sekali akhirnya kita bisa bertemu. Salam kenal, petugas baru!" lanjutnya.


"Salam kenal, Tuan Thousand Face Reper!" Malah Shion yang menjawab sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Salam kenal, Nona berdada besar!" balas Aldo.


DORR ...


Peluru pistol pun ditembakkan di lantai tepat di sebalah kaki kiri Aldo.


"Namaku Shion!" ucap Shion setelahnya.


"Maaf maaf ... lalu, siapa nama Nona yang satunya lagi?" tanya Aldo dengan polos.


"Dia Rikka!" tegas Shion memperkenalkan sahabatnya. Sementara Rikka hanya diam dan berusaha mencari celah untuk menerjang Aldo.


"Halo, Rikka?" sapa Aldo ramah.


"Cepat lakukan yang ku perintahkan!" teriak Rikka mulai kesal.


"Baiklah ... baiklah ..." ucap Aldo mulai membungkuk.


"Shion, cepat hubungi polisi setempat!" perintah Rikka pada temannya.


"Ok," sahut Shion sambil berusaha menghubungi polisi dengan posisi tangan kiri yang masih mengarahkan pistol ke Aldo.


"Kalian terlalu naif ..." desis Aldo.


Pada saat yang sama, dengan secepat kilat Aldo berlari dan menerjang kedua wanita yang ada di hadapannya. Shion pun mulai melepaskan tembakkan, tapi Aldo dengan mudah berhasil menghindari peluru yang sedang melesat tersebut.


Pertama, Aldo menendang pistol yang dipegang oleh Shion ke udara dan membuang benda tersebut setelah ia menangkapnya. Lalu ia menerjang Rikka yang sedang menggenggam sebuah pisau.


Aldo berniat untuk merebut pisau yang digenggam oleh istrinya. Tapi, dengan gesit Rikka berhasil menangkis terjangan sang suami dan menghindar dengan cara melompat sedikit kebelakang, lalu memasang kuda-kuda, kemudian bergerak menerjang Aldo kembali.


Sembari mundur kebelakang, Aldo menghindari serangan bertubi istrinya. Terkadang Aldo bisa menangkap tangan Rikka, tapi terlepas begitu saja karena kegigihan wanita berambut indigo tersebut.


Mereka terlihat seperti berdansa disana. Gerakan indah sepasang suami istri itu saling bersinkronisasi hingga membuat Shion merasa takjub saat melihatnya.


Shion menggeleng, lalu menoleh ke sana kemari berusaha mencari pistol yang dilemparkan oleh Aldo tadi. Setelah gadis berdada besar itu melihat posisi senjata api tersebut, ia berlari kesana untuk meraihnya.


Lengan Shion tampak sedang mengarahkan pistol ke arah Aldo dan mulai menarik pelatuk pistol berwarna hitam tersebut. Tapi yang ia dapatkan hanya suara 'klik'.


"Sialan, kemana pelurunya?" umpat Shion setelah melihat Magasin pistol tersebut tak ada di tempatnya.


Di lain sisi, Aldo dan Rikka yang masih bertarung dengan gerakan indah dan mereka tampak sangat menikmatinya. Keluesan tubuh Rikka yang terus memberikan serangan ke arah sang suami membuat Aldo sedikit kewalahan.


Aldo pun mulai mencari celah sambil menghindari serangan tersebut. Tapi setiap pukulan dan tebasan pisau dari istrinya benar-benar merepotkan. Sehingga Aldo harus benar-benar serius saat bertarung melawan Rikka.


Tak lama kemudian, Aldo akhirnya berhasil menghentikan dan mengunci gerakan Rikka dengan pose menawan seperti orang yang melakukan tarian Waltz.


Tangan kanan Aldo mengunci gerakan tangan kiri istrinya di pinggang. Sedangkan tangan kiri pembunuh berantai itu mencengkram tangan kanan Rikka yang sedang mengarahkan pisau di udara. Benar-benar teknik pengunci gerakan yang sangat menawan.


Mereka saling tatap, lalu Aldo tersenyum hangat pada sang istri dibalik penyamarannya. Tapi Rikka malah mendengus kesal.


Kemudian Aldo berputar untuk mendapatkan gaya pegas lalu melemparkan istrinya masih dengan pose yang sama. Hal itu sukses membuat Rikka ikut berputar dan bergerak mendekat ke arah Shion dengan cukup cepat. Alhasil, kedua mantan agen rahasia itu bertabrakan sebelum jatuh dengan posisi saling bertumpang tindih.


"Kau mencari ini?" kata Aldo sambil memamerkan magasin yang berhasil ia rampas.


Sepertinya saat sedang bertarung dengan Rikka, pria bermata coklat itu menyadari tingkah Shion yang kebingungan mencari magasin pistol miliknya.


"Sejak kapan?" kata Shion masih terbaring di lantai bersama Rikka yang menimpa dirinya.


Tak menjawab, Aldo hanya tersenyum hangat sambil melangkah mendur ke arah jendela yang sudah pecah akibat benturan tubuh Elga.


"Waktu bermain selesai ... sampai jumpa lagi, Rikka!" pamit Aldo sebelum melompat keluar.


Rikka terbelalak, lalu berusaha mengejar suaminya yang sedang melompat. Tapi sayang, Aldo sudah terlanjur terjun ke bawah dengan indahnya.


"Tch ... sialan!"


Rikka pun medecakkan lidahnya kesal saat melihat Aldo yang kini sudah terbang menjauh menggunakan Gantolle berwarna hitam di langit cerah Tokyo pada malam hari. Sosok pembunuh berantai tersebut pun semakin mengecil dan tak terlihat lagi.


Rikka tampak lemas saat berjalan ke arah sahabatnya Shion yang sedang terduduk di lantai .


"Maafkan aku, Rikka ..." ucap Shion lirih.


"Kenapa kau minta maaf?" tanya Rikka heran sambil membantu sahabatnya berdiri.


"Kau gagal menangkap pria itu."


"Apa ini salahmu?" tanya Rikka lagi.


"Ku rasa begitu," Shion menundukkan kepalanya.


Rikka tersenyum. "Bodoh ... lagi pula masih ada hari esok, kan?"


"Rikka ..."


"Tenang saja, aku pasti akan menangkapnya di lain waktu!" tegas Rikka dengan penuh semangat.


"Apa kau sudah menghubungi polisi setempat?"


"Sudah," sahut Shion mengangguk.


Kemudian mereka mendekati mayat Elga bersama dan mulai memeriksanya. Sesaat mata Shion terbelalak ketika melihat mayat tersebut.


"Bukankah dia Elga Victoria?"


"kau mengenalnya?" Kata Rikka bertanya.


Shion mengangguk. "Dia mantan agen rahasia ... dulu aku pernah menjalankan misi bersamanya."


"Jadi dia juga sudah pensiun?"


"Tidak sepertiku, wanita ini pensiun tapi tetap melakukan aksi yang sama untuk sebuah organisasi mencurigakan!" jelas Shion.


"Organisasi?"


Shion kembali mengangguk. "Apa kau pernah dengar nama Organisasi Revolusi?"


"Aku kira itu hanya rumor ... Karena sampai sekarang belum ada yang berhasil mengusutnya."


"Awalnya aku juga merasa seperti itu. Tapi, organisasi itu sama seperti Thousand Face Reaper ... identitasnya sangat rahasia dan terselebung!" lanjut Shion.


"Apa menurutmu Thousand Face Reaper ada hubungannya dengan mereka?" tanya Rikka sekali lagi.


Shion menggeleng. "Entahlah ... yang aku tahu, Organisasi Revolusi itu benar-benar ada!"


Tak lama kemudian, datanglah segerombolan polisi ketempat mereka berada. Awalnya polisi tersebut mencurigai mereka berdua. Tapi, setelah Rikka menunjukkan kartu pengenalnya. Polisi itu pun tak banyak bertanya lagi.


Rikka dan Shion terpaksa harus ikut ke kantor polisi untuk menjelaskan seluruh kronologi yang terjadi kepada pimpinan pihak berwajib setempat


Wanita yang sudah menjadi istrinya Aldo itu juga membuat permohonan maaf kepada pihak berwajib setempat karena melakukan tindakkan semena-mena di wilayah yang bukan menjadi Yuridiksinya.


Setelah melewati hari yang melelahkan, Rikka dan Shion memutuskan untuk pulang. Wanita berdada besar bernama Shion itu ikut mengantar sahabatnya ke hotel menggunakan taksi. Awalnya ia ingin singgah. Namun, karena malam sudah semakin larut, Shion hanya menitipkan salam untuk suami Rikka lalu pergi meninggalkan hotel tersebut.


Rikka berjalan memasuki hotel lalu menyusuri koridor yang terbuat dari kayu jati. setelah sampai di depan kamar, wanita beriris onix itu perlahan membuka kunci pintu kamarnya.


Tepat saat Rikka mulai memasuki ruangan, sosok Aldo sudah berdiri tegap seperti pohon kelapa dengan melipatkan kedua tangannya di dada.


Aldo memasang tampang horor, sangat mengerikan. Bahkan kengerian wajah pemilik manik berwarna coklat itu sekarang sudah menyerupai Raja Iblis yang membuat siapa saja merinding saat melihatnya.


"A-aku pulang ..." kata Rikka terbata dengan senyuman kikuk yang terpaksa setelah melihat tampang horor suaminya.


-----


Jangan Lupa LIKE, VOTE DAN COMMENT YA

__ADS_1


Thank you... 😊😊😊


__ADS_2