
Hembusan angin yang cukup kencang menerpa sosok Kawa yang sedang memejamkan matanya.
Sepertinya gadis itu sedang merasakan ke mana angin berhembus dan seberapa cepat pola angin itu berhembus.
Rambut panjangnya ikut beterbangan ke samping akibat terpaan angin. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat dirinya bergeming.
"12 knot, dari barat ke timur ... aku rasa ini tidak akan menjadi masalah ..." desisnya.
"Targetnya milikmu!" suara Zedd terdengar melalui earphone.
"Okay ..."
Setelah mengucapkan itu, gadis mungil bernama Kawa mulai membidik targetnya. Lalu, untuk sejenak saja, sebelah matanya bersinar terang seperti kuning keemasan. Dan setelah sinarnya meredup, jari mungil gadis itu mulai menarik pelatuk senapan tersebut.
DOOR ...
seperti slow motion, peluru berwarna perak keluar dari moncong senapan dengan kecepatan tinggi dan melesat cepat ke arah bom di titik A setelah membelah angin dengan putaran lebih dari 10.000 Rpm.
DUUARRR ...
Ledakan dahsyat terjadi setelah peluru itu mengenai bom dalam waktu tidak lebih dari tiga detik.
Kawa membidik target yang selanjutnya dengan menggeser sedikit senapan putih tersebut sejauh 1 inci ke kanan.
Sama seperti sebelumnya, Kawa melakukan pose layaknya penembak jitu profesional. Mata milik gadis itu bersinar lagi sebelum kembali menarik pelatuk senapan dengan jari telunjuk mungilnya.
DOORR ...
peluru kembali melesat ke arah bom yang ada di titik B.
DUARR ... DUARR ... DUARR ...
Suara ledakan yang saling bersambut terdengar nyaring di telinga Kawa. Padahal jarak dia dengan tempat itu kurang lebih 5 kilometer jauhnya.
Masih dengan konsentrasi tingkat tinggi, Kawa kembali menggeser senapannya untuk membidik bom di titik C.
DOOR ...
Puluru perak berkecepatan tinggi meluncur dengan indahnya ke arah bom di titik C dan berhasil meledak di sana.
Kemudian Kawa berpindah ke titik D lalu ke titik E tanpa mengalami masalah sedikit pun.
Benar-benar penembak jitu yang sangat jenius. Gadis mungil itu berhasil meledakkan seluruh targetnya hanya dalam waktu 20 detik.
"Rekor baru!" serunya entah kepada siapa.
Kawa membenarkan posisi, yang awalnya telungkup, sekarang sedang duduk bersila sambil memperhatikan semua targetnya yang terbakar api menggunakan teropong.
Dari tempat Kawa berada, ia bisa melihat suasana histeris yang ada di Kota Hitam akibat ledakan beruntun barusan. Tapi, para petugas setempat segera menuju ke lokasi untuk mengamankan.
Tanpa sengaja, sniper mungil itu melihat ada beberapa petugas sedang berlari ke arah Zedd yang sedang berjalan dengan santainya.
Dengan sigap, ia pun menghubungi rekan satu timnya yang kekar tersebut melalui sambungan earphone.
"Jetplane, ada beberapa rudal sedang menuju ke arahmu!" ujarnya.
"Roger!"
Masih dengan santai, Zedd membalas peringatan Kawa setelah suara hembusan asap rokok terdengar di sana.
"Aku akan segera bersiap dan pergi ke titik temu," lanjut Kawa.
Tanpa menunggu jawaban, sniper mungil itu memutuskan sambungan earphone dan mencopotnya dari telinga. Lalu membereskan semua peralatan perangnya, kemudian beranjak pergi dari mercusuar tersebut.
Gadis itu juga tidak lupa mengenakan topeng sintetis untuk menyamar sebagai orang lain sebelum melepas jaket cokelat yang ada di tubuh mungilnya.
Beralih ke tempat Zedd berada, pria kekar itu tampak sedang menjatuhkan puntung rokok di depan kakinya lalu menginjak puntung rokok tersebut, kemudian ia kembali berjalan sembari mengenakan topeng berbentuk burung gagak.
"Tunggu!"
Dengan suara yang lantang, salah satu dari 3 orang petugas menghentikan Zedd yang ingin melangkah dengan menahan pundak pria kekar tersebut.
"Sepertinya aku harus mengurus mereka sebelum pergi ke titik temu!" gumam Zedd.
"Kau sangat mencurigakan, segera ikut kami untuk introgasi!" seru petugas.
Zedd membalikkan tubuhnya secara perlahan ke arah petugas yang sedang menahannya.
"Apa aku punya urusan dengan kalian, Pak Petugas?"
Dengan polos seperti tanpa dosa, Zedd bertanya di balik topengnya.
Spontan para petugas terbelalak melihat sosok yang ada di hadapan mereka. Yaitu sosok pria bertopeng yang sangat familiar.
"To-topeng aneh itu ..." ujar salah satu petugas berkumis terbata.
"Tho-Tho-Tho-Thousand Face Repaer!" seru petugas berwajah muda ikut terbata.
"Kenapa kalian diam saja!? Bantu aku meringkusnya!" cerocos petugas senior yang tadi memegang pundak Zedd.
"Maaf ... tapi itu tak akan mungkin terjadi ..." desis Zedd.
KRETAK ...
Suara tulang patah terdengar setelah Zedd mengucapkan kalimatnya.
Sepertinya Zedd berhasil memelintir lengan petugas senior yang tadi menahannya. Lalu memberikan pukulan telak tepat di ulu hati.
Alhasil, petugas pingsan di atas tanah tanpa bisa melakukan perlawanan.
"Jangan bergerak!" perintah petugas muda.
Petugas muda itu tampak sedang mengacungkan pistol bersama petugas berkumis ke arah Zedd.
Zedd menyeringai di balik topengnya, lalu menerjang petugas muda dengan secepat kilat dan berhasil melepaskan pistol tersebut dari sang petugas.
Tak lupa, ia juga berhasil menendang pistol yang dipegang oleh petugas berkumis dengan kaki kanannya. Karena kebetulan jarak mereka tidak lebih dari 2 meter.
Setelah merasa aman dari bidikan senjata api, Zedd memberikan pukulan bertubi tepat di dada petugas muda. Pukulan berupa tinju itu terlihat sangat menyakitkan, itu tampak dari ekspresi petugas muda yang sepertinya sangat menderita.
Tapi, tanpa disadari oleh Zedd, petugas berkumis melompat dan menerjangnya menggunakan sebuah baton berwarna hitam.
Pada saat yang sama, Zedd seperti merasakan adanya hawa membunuh dari belakang kepalanya. Seketika itu, pria kekar tersebut melirik dan menahan pukulan baton tersebut dengan kepalan punggung tangannya.
Jika diperhatikan, seharusnya pukulan itu akan terasa sangat sakit. Tapi entah kenapa, Zedd sama sekali tidak merasakan sakit sedikit pun. Mungkin pria itu sudah kehilangan saraf sakitnya.
Setelah menangkis pukulan, Zedd segera berputar ke belakang lalu mengantukkan kepalanya tepat di dahi petugas berkumis. Detik itu juga, sang petugas berkumis pun roboh di tempat.
Ujung mata Zedd tak sengaja menangkap sosok petugas muda sedang berusaha meraih pistol yang tadi ditendang olehnya dengan penuh derita karena rasa sakit akibat pukulan bertubi di dada.
Zedd kembali berseringai di balik topeng gagaknya sembari berjalan menghampiri sang petugas muda.
"Selamat tidur," ucap Zedd santai.
Kemudian, masih dengan santainya, pria kekar itu menendang kepala petugas muda dan berhasil membuatnya pingsan seketika. Tib-tiba, tak sengaja Zedd melihat ada sepasang mata yang memandangnya dengan tatapan aneh.
"To-to-to-to-tolong ... a-a-ampuni aku ..."
Pemilik sepasang mata hitam cerah itu adalah seorang wanita cantik berwajah oriental seperti Syndi, sedang terduduk tak berdaya dengan mata terbelalak akibat aksi yang barusan ia lakukan. Dan wanita itu juga bergetar hebat sembari memohon ampun.
Bukannya memberikan respon pada orang yang ketakutan, Zedd malah menghampirinya lalu ikut berjongkok di hadapan wanita oriental tersebut.
"Hiks... huu huu ... Ku-ku-kumohon ... a-a-ampuni aku ... ja-ja-jangan bunuh aku ... hiks..."
Dengan penuh linangan air mata, wanita berwajah oriental itu menangis tersedu-sedu dan masih memohon ampun pada sosok Zedd yang tampak seram di matanya.
Zedd meraih dagu dan mengangkat wajah wanita itu menggunakan tangan kirinya, lalu memberikan kode untuk diam menggunakan jari telunjuk di tangan kanannya.
Bersama isakan tangis yang terdengar memilukan, wanita berwajah oriental itu menganggukkan kepalanya perlahan dengan gerakan yang patah-patah.
Zedd masih tak bersuara, dengan sedikit paksaan, salah satu pegawai di Green Goblin itu menarik wanita berwajah oriental untuk berjalan di sampingnya.
"Ka-kau ingin membawaku kemana?" tanya wanita oriental.
Zedd hanya diam dan kembali memberikan kode yang seperti sebelumnya. Yaitu kode diam menggunakan jari telunjuk.
Karena takut akan terjadi hal buruk, wanita oriental itu hanya diam dan menuruti Zedd yang berjalan di sampingnya.
Sementara itu, kawa yang berada di lain sisi, tampak sedang berjalan dengan penyamaran topeng sintetis di wajahnya.
Dan saat ia berjalan, banyak orang sekitar yang memperhatikan dirinya. karena hal itu, Kawa jadi merasa risih dan tidak nyaman.
"Apa ada yang salah denganku? Kenapa semua orang memperhatikanku?" gumamnya bertanya-tanya.
Bagaimana tidak, penyamaran yang ia gunakan saat itu bisa dibilang sangat tidak cocok dengan bentuk tubuhnya. Karena wajah yang gadis itu gunakan adalah paras wanita dewasa berumur sekitar 30 tahunan. Benar-benar tidak sinkron dengan tubuh dan pakaian yang ia gunakan.
"Sudahlah ... yang penting misi kami berhasil! Sekarang, tinggal menunggu Zedd di titik temu," gumamnya lagi.
Tak lama kemudian gadis mungil itu tiba di titik temu. Yaitu tepi pantai di dekat dermaga. Kawa menoleh ke ke sana kemari, tapi tidak menemukan sosok Zedd.
"Mungkin dia terlambat gara-gara petugas tadi," gumam Kawa.
Karena merasa sedikit bosan, Kawa berjongkok dan mengambil sebuah ranting yang tergeletak di sana. Lalu menggambar seekor kucing di atas pasir pantai tersebut.
"Cat ..." lirihnya.
Mata Kawa terpaku pada gambar kucing yang baru saja ia lukiskan di atas pasir. Pada saat yang sama, ia juga teringat ucapan Zedd saat gadis itu berada di puncak mercusuar.
"Sosok kucing itu cocok untukku ... ya?" gumamnya lagi.
Kali ini sniper mungil itu tersenyum sembari melanjutkan lukisannya di atas pasir pantai.
Selang lima belas menit, akhirnya mata hitam kecokelatan milik Kawa menangkap sosok Zedd yang mengenakan topeng sedang berjalan ke arahnya bersama seorang wanita cantik sekaliber Syndi.
__ADS_1
Pada saat itu juga, wajah Kawa kembali mengeluarkan ekspresi yang sangat tidak enak untuk dilihat. Apa lagi dengan kerutan di dahinya itu, benar-benar sangat dipaksakan.
Dengan jelas Kawa melihat, di sana Zedd sedang merangkul wanita cantik berwajah oriental sembari berjalan. Benar-benar pemandangan yang membuat wajah gadis mungil itu sukses memerah seperti tomat di musim panas.
Tatapan Kawa masih tidak lepas dari Zedd. Kini ia bisa melihat pria kekar itu meminta wanita oriental untuk pergi setelah mengucapkan terima kasih.
Di mata kecokelatan Kawa, terpantul sosok Zedd yang sedang memiringkan kepalanya seperti orang bingung. Hanya saja, ekspresi pria itu tidak terlihat karena masih menggunakan topeng.
"Kau kenapa?" tanya Zedd setelah menghampiri Kawa.
Kawa hanya diam masih dengan pose yang sama dan ekspresi yang juga masih sama.
"Kau itu ... kawa, kan?" tanya Zedd lagi.
"Tentu saja aku Kawa!" balasnya.
"Kenapa kau menyamar sebagai wanita dewasa?"
Dengan sedikit menahan senyuman, Zedd masih bertanya pada rekan satu timnya yang mungil tersebut.
"Mungkin saja kau akan tergoda padaku jika aku menggunakan wajah ini ..." celetuk Kawa asal.
"... seperti saat kau tergoda dengan wanita cantik berwajah oriental yang tadi!" cibirnya melanjutkan.
Zedd cengo seketika dengan senyuman aneh di wajah maskulinnya.
"Kenapa kau marah?" ucapnya sambil melepas topeng.
"Tidaaak~!" balas Kawa dengan intonasi yang sengaja di tekan.
"Nada bicaramu saja aneh," ujar Zedd.
"Hanya perasaanmu saja!" kata Kawa.
"Kalau begitu lepaskan topeng itu, wajah imutmu jadi tak bisa kulihat," pinta Zedd enteng.
"Hmph!" umpat Kawa.
Walaupun gadis mungil itu tampak sedang mengumpat, ia tetap melepaskan topeng sintetis yang sedang melekat di jawahnya.
Zedd tersenyum. "Kalau begini, wajah imutmu bisa kunikmati!"
Zedd memuji dengan intonasi menggoda, Hal itu sukes membuat Kawa tersipu malu dan memalingkan wajahnya.
"Sejak kapan kau jadi seperti leader?"
Kawa bertanya pada Zedd dengan pose yang masih memalingkan wajah.
"Maksudmu?" tanya Zedd bingung.
"Suka menggoda wanita!" tegas Kawa.
"Apa aku seperti sedang menggoda?" tanya Zedd masih bingung.
"Te-tentu saja!" seru Kawa.
TOOOOOOOOONTT ...
Suara keras seperti terompet dikeluarkan oleh kapal feri.
Zedd menoleh ke arah suara keras tersebut. Begitu juga dengan Kawa, tapi dengan ekspresi terkejut yang tampak sangat lucu.
"Aku rasa kapalnya akan segera berangkat," cetus Zedd.
Kawa hanya diam tak merespon. Tapi pandangannya tetap tertuju pada kapal feri masih dengan ekspresi terkejut.
Zedd tersenyum melihat ekspresi lucu tersebut, lalu menariknya kemudian menggandeng lengan mungil milik Kawa ke arah dermaga.
"Ayo kita bergegas?" ajak Zedd.
Kawa mengangguk bersama rona merah di wajahnya, mata gadis itu juga sengaja dialihkan ke arah lain karena merasa terlalu malu untuk bertatapan dengan pria kekar yang sedang menggandengnya.
●●
Sama seperti saat mereka pergi ke pulau Kota Hitam, kini Kawa dan Zedd kembali menaiki kapal feri untuk menyeberangi lautan menuju pusat kota.
Semua penyamaran mereka berdua sudah dihilangkan. Bahkan pakaian atasan mereka juga sudah di ganti.
Jika Kawa mengenakan atasan T-Shirt khas wanita berwarna kuning, maka Zedd mengenakan baju kaus kerah berwarna hijau. Sedangkan bawahannya, mereka menggunakan skinny jeans berwarna senada. Yaitu biru gelap.
"Kenapa kau terlambat datang ke titik temu, Zedd?"
Kawa memulai percakapan dengan bertanya. Gadis mungil itu tampak sedang menumpukan kedua lengannya di pembatas seperti pagar tepat di haluan kapal.
"Apa kau lupa aku dikejar oleh petugas setempat?" Zedd menjawab dengan pertanyaan.
"Benar juga," balas Kawa.
"Sepertinya misi kita kali ini bisa dibilang cukup mudah," cetus Zedd.
"Kau benar," kata Zedd
"Apa lagi gangguan wanita berwajah oriental yang dengan mesranya kau rangkul!" cerocos Kawa.
Zedd kembali cengo akibat ucapan Kawa yang mengungkit masalah wanita cantik berwajah oriental tadi.
"Kau masih mengungkitnya?"
"Tidak, hanya teringat saja!" tegas Kawa.
"Kenapa kau marah?" tanya Zedd.
Kawa tampak sedikit panik, entah kenapa Zedd selalu saja bisa memberikan argumen dengan ekspresi yang sangat santai seperti itu menurutnya.
"A-aku tidak marah!" sangkal Kawa.
"Kalau kau tidak marah, kenapa wajahmu memerah? Apa kau demam?"
Dengan polosnya Zedd kembali melempar pertanyaan untuk Kawa.
"Sudah kubilang aku tidak marah! Aku hanya kesal!" ungkap Kawa.
"Lalu kenapa kau kesal?" Zedd bertanya lagi.
"Habisnya ..."
Kawa tampak menggantungkan kalimatnya bersama rona merah di wajah yang masih menghiasi.
"Habisnya?" kata Zedd.
"Aku saja tak pernah kau rangkul seperti itu ..." lirih Kawa.
Zedd mengangkat alisnya sebelah dan memasang ekspresi bingung di wajah maskulin tersebut.
"Jadi ... kau ingin kupeluk seperti wanita yang tadi?"
"Kalau itu kau ... kurasa aku akan dengan senang hati menerimanya ..."
Masih dengan suara lirih, Kawa memberikan respon yang terdengar sangat imut. Apa lagi bibir mungil itu sudah dikerucutkan olehnya.
Zedd tersenyum sebelum mengelus kepala Kawa dengan lembut dan penuh perhatian.
"Kau tak perlu kesal begitu ... wanita itu menolongku supaya aku tidak terlihat mencurigakan di sana."
"Dengan cara merangkulnya?!" cibir Kawa.
"Aku rasa tindakan itu sangat efektif untuk mengelabui petugas setempat. Tapi ..."
"... aku tak menyangka kau akan marah ketika melihatnya," ungkap Zedd.
"Tentu saja aku marah!"
Kawa berseru kepada Zedd sebelum membalikkan tubuhnya untuk membelakangi pria kekar tersebut.
"Maka dari itu, kenapa kau marah?" tanya Zedd enteng.
"Rahasia!" balas Kawa ketus.
Zedd tersenyum ketika melihat tingkah Kawa yang benar-benar sangat cocok untuknya.
"Hey ..." panggil Zedd.
Kawa menoleh. "Apa?"
Setelah sang gadis sniper menoleh ke belakang, ia mendapati lengan Zedd sudah menjulur ke arahnya sembari memegang sebuah kotak bingkisan berwarna hitam kilat bercorak bintang.
Mata lentik Kawa berkedip beberapa kali seperti orang yang terheran.
"Apa ini?" ucap Kawa.
"Hadiah untukmu, seperti yang kujanjikan!" jawab Zedd menegaskan.
Spontan wajah Kawa mendadak sumringah dengan senyuman imut yang mengembang.
"Terima Kasih, Zedd!"
"Sama-sama," balas Zedd.
"Aku boleh membukanya?" tanya Kawa.
"Tentu," kata Zedd enteng.
Setelah mendapat persetujuan dari sang pria kekar, gadis mungil bernama Kawa membuka bingkisan itu dengan semangat.
__ADS_1
Seketika, mata Kawa berbinar-binar saat melihat isi di dalam kotak tersebut. Yaitu sebuah gelang unik berwarna hitam yang memiliki Aksesoris berbentuk kucing.
"Boleh langsung kupakai?"
Masih dengan mata yang berbinar, Kawa meminta izin pada Zedd.
"Silahkan ... kaulah pemiliknya sekarang," respon Zedd masih dengan entengnya.
Kawa mulai mengeluarkan gelang tersebut dari kotak. Lalu ia berusaha memakaikannya di pergelangan tangan. Tapi, kelihatannya gadis itu sedikit kesulitan.
"Biar kubantu,"
Melihat sahabat mungilnya yang kesulitan, Zedd pun menawarkan bantuan untuk memakaikan gelang tersebut di pergelangan tangan milik Kawa.
Bersamaan dengan aksi Zedd yang terbilang sangat romantis. Wajah Kawa tak henti-hentinya mengeluarkan semburat merah.
"Terima kasih," ucap Kawa tersipu.
"Sama-sama," balas Zedd dengan senyuman.
Setelah selesai dengan aksi yang romantis itu, Zedd menyalakan rokok kesukaannya sebelum menghembuskan asap pertama ke udara.
"Aku tak menyangka, kau akan benar-benar memberikanku hadiah," celetuk Kawa.
Di sana, tepatnya di haluan kapal, gadis mungil bernama Kawa itu tak henti-hentinya memperhatikan gelang hitam yang sedang menghiasi pergelangan tangannya.
Ia juga bisa melihat dengan jelas, Aksesoris berbentuk kucing sedang bergelantungan di lengannya.
"Kenapa kucing?" ucap Kawa bertanya.
Zedd menoleh. "Bukankah sudah kubilang, sosok kucing sangat cocok untukmu!"
Dengan penuturan tersebut. Kawa sang Invicible Sniper pun tak lagi bisa membendung senyumannya yang semakin mengembang.
Selang satu jam, kapal feri yang sedang membawa Kawa dan Zedd akhirnya tiba di pelabuhan kota tempat mereka tinggal.
Jika dibandingkan, pelabuhan tempat mereka sekarang jauh lebih maju dari pada pelabuhan di Kota Hitam yang hanya berbentuk seperti dermaga saja.
Tanpa basa-basi lagi, dua orang pegawai Green Goblin itu segera bergegas pergi dari sana dan menuju markas mereka. Yaitu Green Goblin Cafe.
Karena hari masih terang, atau sore pukul 04.00 p.m lebih tepatnya, Kawa membujuk Zedd untuk menggunakan transportasi umum seperti bus dari pada taksi.
Entah apa tujuan gadis mungil itu. Mungkin saja ia ingin membuat kesempatan emas ini jadi ajang untuk berkencan dengan Zedd.
Selama perjalanan, Kawa terus mengembangkan senyumannya. Apa lagi ketika dia sedang mengobrol dengan Zedd saat di bus. Senyuman itu bisa membuat siapa saja merasa damai di dalam hati layaknya sebuah sihir.
Tanpa disadari, akhirnya Kawa dan Zedd sampai di sebuah halte bus di dekat markas kesayangan mereka.
Setelah mereka turun dari bus tersebut, kedua orang yang fisiknya sangat bertolak belakang itu berjalan dengan santai di jalur pejalan kaki.
Mereka tampak berjalan beriringan. Tapi keduanya tidak mengeluarkan suara dari mulutnya sedikit pun. Mungkin itu dikarenakan rasa lelah akibat misi yang baru saja mereka selesaikan.
Tapi, tiba-tiba gadis mungil itu menghentikan langkah kakinya. Sedangkan Zedd sama sekali tidak menyadari, sehingga mereka terpisah dengan posisi Kawa yang tertinggal dua meter di belakang.
"ZEDD!" pekik Kawa.
Spontan Zedd terkejut dan menoleh ke belakang, tepat ke sumber suara. Yaitu Kawa.
"Aku suka padamu!"
Dengan lantang bersama rona merah di wajah imut tersebut, Kawa mengutarakan perasaannya pada Zedd yang sedang berdiri terpaku di sana.
"Eh?"
Zedd cengo di tempat. Tanpa disadarinya, wajah maskulin itu juga ikut mengeluarkan semburat merah walaupun sedikit.
"Aku tahu, mungkin ini terlalu mendadak ..." kata Kawa mulai menjelaskan.
"... tapi aku menyukaimu, Zedd! suka bukan sebagai sahabat, keluarga, ataupun rekan kerja! Tapi aku menyukaimu sebagai seorang pria!"
Dengan tegas dan lantang Kawa semakin mengutarakan isi hatinya untuk pria kekar bernama Zedd.
Zedd mengedipkan mata beberapa kali, sepertinya otak pria kekar itu berusaha mencerna apa yang sedang terjadi sekarang.
"Sejak kapan?" tanya Zedd.
"Mu-mungkin sejak pertama kali aku bergabung dengan Green Goblin ..."
Zedd hanya diam masih memperhatikan Kawa yang sepertinya ingin kembali berbicara.
"... kebaikanmu, kesabaranmu, kebijaksanaanmu, semua tentang dirimu telah membuatku suka padamu ...!"
"... awalnya aku tak tahu perasaan apa ini. Tapi, setiap kali aku bersamamu, hatiku terasa hangat dan aku merasa sangat nyaman ..."
"... pernah aku ingin menepis perasaan ini. Tapi aku tidak bisa ... wajahmu selalu saja terbayang di kepalaku."
Kawa menjelaskan dengan panjang dan lebar, lalu senyuman lembut mengakhirinya.
Pria yang berjuluk Apostle itu ikut tersenyum, kemudian berjalan menghampiri Kawa dengan langkah yang pasti.
Setelah sampai di tempat Kawa berdiri, Zedd mengelus kepala mungil itu dengan penuh kasih sayang. Sementara, yang dielus hanya bisa memejamkan mata bersama rona merah yang belum juga menghilang dari wajahnya.
"Kawa ..." panggil Zedd pelan.
Kawa melirik ke wajah Zedd dengan sebelah mata yang terpejam.
"Ya?" sahutnya.
"Jika kau mengatakan itu lima tahun lagi, maka aku akan memberikan jawaban untukmu!" tutur Zedd dengan suara lembut.
Mendengar penuturan Zedd, gadis mungil itu menggigit bibir bawahnya seperti ingin menangis.
"Lima tahun lagi ...?" lirihnya.
Zedd mengangguk. "Benar, lima tahun lagi ... setelah kau menyelesaikan pendidikanmu, setelah kau berkarir, dan setelah kau melakukan apapun yang ingin kau lakukan ..."
"... jika saat itu kau masih memiliki perasaan yang sama, datanglah padaku ... maka aku pasti akan menjawabnya!" tegas Zedd melanjutkan.
Air mata mulai mengalir secara perlahan di pipi mulus Kawa.
"A-apa selama lima tahun itu ... kau bersedia untuk menunggu?" tanya Kawa dengan suara yang sedikit bergetar.
Zedd tersenyum kembali sembari mengusap air mata yang mengalir di kedua sisi pipi mulus Kawa menggunakan jempolnya.
"Tentu! Aku akan tetap berada di Green Goblin sampai saat itu tiba!" tegas Zedd.
Kawa ikut tersenyum. Walaupun perasaannya sedikit hancur pada saat itu, setidaknya Zedd tidak meninggalkan sisi gadis mungil tersebut.
"Ka-kalau begitu, anggap ini sebagai janji!"
Dengan suara yang masih bergetar, Kawa mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Zedd dengan niat untuk mengikat janji mereka.
Zedd tersenyum lagi kemudian menautkan jari kelingking kekarnya di kelingking Kawa yang mungil.
"Aku berjanji!" kata Zedd lantang.
Masih dengan senyuman, Kawa menerjang dan memeluk tubuh kekar Zedd yang tepat berada di depannya.
"Terima kasih, Zedd!" ucap Kawa.
"Sama-sama," balas Zedd.
senyuman pun semakin menghiasi wajah maskulin pria tersebut sembari mengelus kepala Kawa yang sedang memeluknya.
Tapi siapa sangka, adegan romantis mereka ternyata menjadi tontonan untuk seluruh pegawai Green Goblin. Termasuk Aldo bersama pekerja sambilan yang baru mereka recruit.
Dan tanpa disadari oleh Kawa dan Zedd, mereka ternyata sudah sampai di markas. Tepatnya di seberang jalan dimana Cafe Green Goblin berada.
"Lolicon!" umpat Myra.
"Benar, Lolicon!" timpal Taka.
"Pedophile!" Nana ikut menimpali.
"Hihihi ... aku tak tahu Zedd bisa seromantis itu," Syndi malah menyindir.
"Hebat sekali, Kawa!" Eriya tampak menyemangati kawa.
BRUKK ...
Tas Kawa terjatuh ke bawah. Wajahnya juga mendadak berubah suram dan penuh kegelapan.
"Ka-kawa?" panggil Zedd sedikit takut.
"JANGAN BERI ZEDD JULUKAN ANEH!!!"
Kawa berteriak sekuat mungkin sambil mengacungkan senapan AS50 kesayangannya pada semua pegawai Green Goblin yang menonton.
"Selamatkan diri kaliaaaan!" pekik Myra berlari.
Bersamaan dengan peringatan itu, semua orang yang ada di seberang jalan berlari tunggang langgang memasuki cafe.
"JANGAN LARI!!!" teriak Kawa mengejar teman-temannya.
Tapi, tidak semua kru Green Goblin meninggalkan tempat itu. Masih ada Aldo yang sedang berdiri sambil memperhatikan Zedd di sana.
Tak lama kemudian, bersamaan dengan senyuman lebar andalannya, pria berkepala cokelat itu mengacungkan jempol ke arah sahabatnya yang bernama Zedd.
Sementara Zedd, hanya bisa cengo di tempat tanpa mengerti maksud dari aksi yang dilakukan oleh leadernya.
-----
Serukan ceritanya.. ayo terus dukung thor ya..
__ADS_1
jangan lupa LIKE VOTE DAN COMMENT
Thank you...😊😊😊