Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 15 : Kehangatan Sebuah Keluarga


__ADS_3

Hari minggu, adalah hari yang sangat cocok untuk memanjakan diri bagi siapa saja yang ada di dunia ini. Baik itu di rumah, di tempat hiburan, bahkan di pegunungan sekalipun.


Hal itu juga berlaku untuk Aldo dan istrinya, Rikka. Di pagi hari yang sangat cerah ini, walaupun suara burung-burung sudah dengan indahnya menghiasi suasana, sepasang suami istri itu masih berada di dalam kamarnya. Padahal waktu sudah menunjukkan 09:12 a.m.


Di dalam kamar tersebut, tampak Rikka masih menutup matanya dengan posisi menghadap ke sebelah kiri. Tapi, perlahan dan pasti, mata lentik itu pun terbuka dan menampilkan sepasang iris onix yang indah.


Rikka tampak berusaha meraih ponselnya dengan malas di atas meja. Setelah berhasil diraih, ia pun melihat penunjuk jam disana. Secara spontan mata Rikka pun terbelalak.


"Aku terlambat!!!" teriaknya sembari duduk tiba-tiba.


"Kenapa kau berisik sekali, Rikka?" balas baritone milik Aldo dengan nada malas.


"Aku harus bergegas!"


"Kemana?" tanya Aldo.


"Ke kantor!"


"Ini hari minggu!"


Rikka terdiam sejenak lalu meraih dan melihat ponselnya lagi untuk memastikan.


"Benar juga ... aku lupa."


"Bodoh!"


Tak merespon sang suami, wanita beriris onix itu kembali merebahkan diri dengan santainya tanpa memperdulikan apapun.


Satu menit berlalu, Rikka mulai mengantuk.


Dua menit berlalu, Rikka mulai mengedip-kedipkan matanya.


Dan di menit ketiga, wanita berambut indigo itu akhirnya menyadari sesuatu.


"Aldo~?" Suara Rikka memanggil.


"Hhmm~?"


"Kenapa kau ada di sebelahku!?" pekiknya kembali duduk secara tiba-tiba, lagi.


Aldo terkejut seketika akibat tingkah istrinya yang tiba-tiba berteriak.


"Kenapa kau berteriak?"


"Jawab aku!"


"Jawab apa?"


Rikka melotot ke arah suaminya. "Kenapa kau tidur di sebelahku?"


"Ini sudah yang kesekian kalinya kau bertanya," balas Aldo malas.


"Maksudmu?"


"Kau sendiri yang bilang kalau kau ingin membiasakan diri untuk tidur satu kamar denganku, kan?"


"Tapi tidak di tempat tidur yang sama. Kita sudah sepakat kalau kau tidur di kasur yang ada di bawah!" cerocos Rikka.


"Tapi aku butuh kehangatanmu~." sangkal Aldo dengan nada yang dibuat-buat.


"Bo-bodoh!"


"Jangan cerewet kalau tak mau ku cium!" ancam Aldo.


"A-apa kau bilang?" tanya Rikka tak terima dengan wajah merona.


"Kau mau kucium?"


"Coba kalau kau berani!"


CUUPP ....


Kecupan Aldo yang berhasil mendarat di bibir peach milik istrinya.


Entah bagaimana caranya pria berkepala coklat itu bisa bergerak cepat tanpa di sadari oleh Rikka. Tapi, jika mengingat profesi Aldo yang sesungguhnya, itu bukanlah hal yang sulit.


Setelah mencium mesra istrinya, Aldo langsung melarikan diri dari sana dan pergi entah kemana.


"BERANINYA KAAAUUUU!!!!" amuk Rikka sambil mengejar sang suami.


"Hahaha ..." Gelak tawa Aldo pun terlepas sembari ia berlari di lorong rumahnya.


"JANGAN LARIII!!!" Rikka masih mengamuk dengan wajah seperti iblis.


Tak lama kemudian, Aldo tertangkap dan di sudutkan ke dinding oleh istrinya yang masih memasang wajah horor


"Wow ... aku rasa, posisi ini terbalik," celetuk Aldo.


Rikka tak menjawab. Istri Aldo itu hanya menatap ke bawah sambil bernafas dengan kasar seperti penuh dendam.


"Ri-Rikka?"


Aldo tampak sedikit ketakutan dan tersenyum kikuk setelah melihat wajah istrinya yang seseram ratu iblis dari neraka.


"Beraninya kau ..." desis Rikka


"Ma-maaf,"


"Beraninya kau mencuri ciuman pertamaku tanpa izin ..." Rikka masih mendesis.


Aldo mengernyit. "Pertama? Bukankah ini yang kedua?"


Seketika ekspresi Rikka berubah menjadi lugu dengan matanya yang di kedipkan beberapa kali.


"Kedua?" tanya Rikka polos.


"Oopss ..." ucap Aldo menyeringai.


Sepertinya pembunuh berantai itu ingin memulai aksinya untuk menggoda sang istri.


"Apa maksudmu dengan yang kedua, ALDOOOO!!??" Rikka kembali masuk ke mode ratu iblis.


Aldo berhasil melepaskan diri dari istrinya dan berlari menuju dapur. Sedangkan Rikka tampak masih mengejar suaminya yang berlari.


Saat di depan pintu dapur, Aldo pun kembali tertangkap dengan kerah baju yang di cengkram istrinya.


"Jawab aku, apa maksudmu dengan yang kedua ..." desisan Rikka terdengar semakin menyeramkan.


"Tak akan kuberitahu, itu adalah hartaku yang berharga!"


Layaknya wanita yang sedang dilecehkan, Aldo menyangkal dan meronta-meronta di cengkraman Rikka.


"Selamat pagi, Kak Aldo, Kak Rikka?" salam suara lembut seorang gadis.


"Eeh?" Aldo dan Rikka menoleh bersamaan.


Pengantin baru itu mendapati sosok gadis super duper cantik berambut pirang emas, bermata hijau emerald, dan berkulit seputih mutiara sedang tersenyum ke arah mereka dengan ramah. Gadis itu juga tampak sedang mengenakan pakaian casual anak remaja. Mungkin pakaian itu milik Rikka dulunya.


"Pa-pagi," kata Aldo dan Rikka kikuk.


"Aku lupa kalau kalian tinggal bersama kami," lanjut Aldo.


"Dimana yang lain?" tanya Rikka.


"Mungkin masih berganti pakian di kamar," jawab Eriya.


Kemudian Aldo dan Rikka memutuskan untuk berdamai dan masuk ke dapur, lalu duduk bersebelahan di depan meja makan setelah membersihkan muka dan mulutnya.


Saat duduk di depan meja makan, Aldo dan Rikka tak henti-hentinya memandang sosok cantik Eriya.


"Rikka, dia ini Eriya, kan?" tanya Aldo memastikan.


Rikka menggeleng. "Entahlah, mungkin dia orang lain."


Eriya tersenyum kikuk. "Te-tentu saja aku Eriya, memang siapa lagi?"


"Rikka, beri dia pertanyaan!" bisik Aldo.


Rikka mengangguk seolah mengerti maksud suaminya.


"Hey, coba jawab ... siapa namaku?"


Mendengar pertanyaan polos sang istri, Aldo malah menjatuhkan kepalanya di meja. Sementara Eriya semakin berekspresi aneh.


"Apa tak ada pertanyaan yang lebih bodoh lagi?" cerocos Aldo menyindir.


Rikka malah memberikan tatapan bingung kepada suaminya.


"Biar aku saja!" cetus Aldo.


"Siapakah aku yang sebenarnya?" lanjutnya.


Tak mau kalah, Rikka juga menjatuhkan dirinya ke lantai secara refleks. Sedangkan Eriya terkejut dan bingung harus menjawab apa.


"Uumm ... Kak Aldo adalah ... uuumm ..."


Eriya semakin kebingungan harus menjawab apa. Apa lagi dengan tatapan intens dari Aldo yang mengintimidasi.


Tapi, sedetik kemudian Eriya seperti mengingat sesuatu yang membuat ekspresinya berubah dan tersenyum lebar.


"Rahasia~ ..." bisiknya sedikit membungkuk ke Aldo.


Aldo tersenyum puas. "Bagus ... kau adalah Eriya yang asli!"


Rikka yang baru membenarkan posisinya semakin terlihat bingung.


"Selamat pagi, semuanya?"


Suara khas anak-anak pun terdengar dari ambang pintu. Di sana Aldo dan Rikka melihat sosok Elli dan Leon berjalan masuk ke dalam dapur yang sudah mengenakan pakaian casual khas anak-anak pula.


"Selamat pagi!" Balas Aldo dan Rikka serentak. Begitu juga dengan Eriya.


Bersamaan dengan itu, Rikka bangkit dari kursinya dan menuju rak lemari di atas wastafel lalu meraih bungkusan saset teh hijau. Kemudian mulai menyeduhnya untuk lima orang.


"Kalian bertiga sudah sarapan?" Rikka bertanya.


Dengan polos, ketiganya menjawab dengan gelengan kepala.


Rikka tersenyun sendu, lalu bertanya, "kenapa?"


"Karena ..." kata Eriya ragu.


Rikka hanya memeringkan kepala indigonya pertanda heran.


"Kami sudah sepakat untuk sarapan bersama kalian."


Kali ini Leon yang berbicara dengan pose seperti anak kucing yang meminta makanan pada ibunya.


Rikka kembali tersenyum, lalu menghampiri adik-adiknya, kemudian mengelus pelan kepala mereka sebelum memeluk ketiganya bersamaan.


"Aku tidak dipeluk, Rikka?" celetuk Aldo sambil menunjuk dirinya.


Rikka memalingkan wajahnya tanpa menjawab. Mungkin wanita kepolisian itu masih kesal dengan perlakuan suaminya belum lama ini.


"He-hey ..." Aldo pun merasa seperti anak yang terbuang.


Tanpa disangka-sangka, Elli berlari kecil menghampiri Aldo. Lalu sedikit melompat dan memeluk erat pria berkepala coklat itu.


Aldo pun tak bisa membendung senyumannya. Kemudian ia mengelus kepela kecil Elli sebelum mencubit pipi tembem tersebut.


"Terima kasih," ujar Aldo yang dibalas dengan anggukan.


Semua orang yang ada di dapur juga ikut tersenyum ketika melihat pemandangan yang menenangkan hati tersebut.


Jika diperhatikan lagi, mata Elli persis seperti Aldo. Berwarna coklat tapi lebih terang. Bahkan rambut mereka pun hampir sama, hitam kecoklatan.


Mungkin itu sebabnya Elli sangat lengket pada Aldo. Padahal mereka tidak mengenal satu sama lain sebelumnya.


Sedangkan Leon, dia memiliki rambut dan warna yang senada. Yaitu hitam pekat. Tapi bocah laki-laki itu memiliki wajah yang tirus. Mungkin Leon sudah berhari-hari tidak makan, sehingga wajahnya bisa tirus seperti itu.


Setelah itu, mereka pun mulai menyantap sarapan paginya, yaitu roti panggang buatan Rikka. Walaupun sudah terlambat, setidaknya suasana di tempat tersebut masihlah terbilang pagi.


●●


TING TONG ...


Suara bel terdengar di seluruh penjuru rumah. Karena Rikka yang kini sedang mandi dan Aldo yang entah sedang apa di kamar, Eriya-lah yang pergi beranjak menuju pintu masuk rumah tersebut untuk melihat siapa yang datang.


"Selamat datang."


Eriya pun memberi salam dengan ramah setelah melihat beberapa sosok orang di depannya.


"Cantiknya ..." kata seorang anak perempuan di gendongan.

__ADS_1


"Akhirnya Aldo selingkuh ..." ucap wanita cantik di sebelah kiri.


Pada saat yang sama, kepala Elli dan Leon juga muncul dari balik tubuh Eriya.


"Bahkan mereka sudah memiliki anak," celetuk wanita montok di sebelah kanan.


Eriya tersenyum kikuk. "A-anda semua siapa, ya?"


"Dimana Aldo?" desis wanita yang di tengah.


"Dia di dalam," balas Eriya.


"Nenek, Kak Mega, Chika?" sela Aldo setelah melihat keluarganya dari lorong rumah.


"Panggil aku kakak juga!" oceh Chika.


Aldo berjalan menghampiri mereka tanpa memperdulikan ocehan Chika.


"Kapan nenek pulang dari Italy?" tanya Aldo.


"Aku akan menjawabnya setelah kau menjelaskan ini!" cerocos sang Nenek sambil menunjuk keluarga baru Aldo.


Aldo tampak cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bisa kita bicara di dalam saja?" ajak Aldo.


"Baiklah ..." kata Isana dan mulai berjalan masuk.


"Humph!" cibir Chika berjalan masuk sambil menggandeng anaknya.


"Aldo ... Aldo ..." Mega menggeleng dan masuk ke dalam sembari menggendong anaknya.


"Halo, Om Aldo!"


Anak laki-laki seusia Leon menyapa Aldo dengan semangat. Sepertinya anak laki-laki tersebut anak sulung dari Mega.


"Kenny, cepat ganti bajumu!" perintah Mega.


"Ok, Mama!" sahut Kenny sambil berlari mengikuti ibunya dari belakang.


Kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga rumah milik Aldo. Di sana juga sudah hadir sosok Rikka yang tadinya sedang mandi. Mereka berdua didudukkan bersebelahan dan menghadap ke neneknya yang bernama Isana.


Mega dan Chika pun ikut duduk di sana mendampingi sang nenek yang sedang bersedekap menghadap ke cucunya.


Elli, Eriya, dan Leon juga ada disana. Karena merekalah kenapa rapat mendadak ini harus terjadi.


"Jadi?" Isana mulai buka suara.


Rikka menghela nafas, kemudian Aldo menggenggam tangan mulusnya seperti memberikan kode 'serahkan padaku'.


"Apa yang harus kujelaskan?" kata Aldo.


"Semuanya!" balas Isana.


Aldo mengangguk. "Baiklah ... perkenalkan mereka Nek, Kak Mega, Chika ..."


"Sudah ku bilang, panggil aku Kakak!" sela Chika tak terima


Aldo Sweatdrop, tapi tetap melanjutkan tanpa mengambil pusing tingkah kakaknya yang bernama Chika.


"Mereka adalah Keluarga baru kami. Yaitu, Eriya ..."


"Saya Eriya, salam kenal," sapa Eriya sopan.


" ... Leon ..." lanjut Aldo.


"Halo,"


" ... dan Elli!" kata Aldo selesai memperkenalkan.


"Sa-salam kenal," sapa Elli malu-malu.


"Maksudmu kau menambah istri?" tanya Mega asal dengan telunjuk mengarah ke Eriya.


"Bu-bukan!" sangkal Aldo.


"Lalu?" timpal Isana.


"Mereka adalah anak terlantar yang aku temukan di jalan bersama Rikka!"


Isana mengernyit. "Anak terlantar?"


"Korban Human Trafficking!" jelas Aldo.


Isana beserta kedua cucu perempuannya terbelalak seketika.


"Terlantar atau memang sengaja kau membelinya? Lihat saja, gadis itu sangat cantik, bahkan jauh melebihiku!" tukas Chika.


Aldo menghela nafas. "Aku tidak bohong ... awalnya mereka ingin kubawa ke panti asuhan. Tapi mereka tak mau kembali kesana karena takut akan di adopsi oleh pelaku Human Trafficking lagi!"


"Lagi pula, bagaimana mungkin aku memperistri gadis yang masih remaja, sedangkan aku sudah punya istri cantik di rumah!" jelas Aldo melanjutkan.


Semburat merah di wajah Rikka mulai tampak menari akibat pujian dari sang suami.


"Tapi, aku masih belum percaya?"


"Kalau Nenek tidak percaya, tanyakan saja pada Leon!" balas Aldo menunjuk Leon.


Isana melirik ke Leon dan dibalas dengan anggukan oleh si bocah laki-laki.


"Benar ... Kak Aldo tidak bohong. Aku sudah menceritakan semua kisah hidup kami padanya," ungkap Leon penuh percaya diri.


Sejenak Rikka terkagum melihat acting yang dilakukan oleh suaminya. Tanpa adanya briefing, mereka bisa membuat sandiwara tanpa cacat sedikitpun, pikir Rikka.


Walaupun pada kenyataannya, Leon memang sudah pernah menceritakan alasan di balik itu semua kepada Aldo sewaktu di pelelangan.


Isana menghela nafas panjang lalu menyandarkan diri di sofa empuk berwarna cream.


"Baiklah aku percaya. Tapi, ada satu hal yang ingin kukatakan padamu!" cetus Isana dengan tatapan tajam.


Aldo menganggukkan kepalanya setelah mengerti arti dari tatapan tajam neneknya.


"Eriya, bawa Leon dan Elli bermain bersama keponakanku!" perintah Aldo.


"Baik, Kak Aldo," angguk Eriya menurut.


Semua anggota grup anak kecil termasuk Eriya yang terbilang masih remaja pergi meninggalkan ruang keluarga menuju ruang tamu. Sepertinya mereka mulai berkenalan satu sama lain sembari berjalan.


"Apa kalian yakin dengan keputusan ini?" tanya Isana setelah memastikan grup anak kecil tak hadir disana.


"Kalian ingin mengadopsi mereka, kan?" jelas Isana.


Aldo mengangguk. "Apa ada masalah dengan mereka, Nek?"


"Tentu saja ada ... apa kalian sudah siap untuk memberikan mereka kehidupan yang layak?" sela Mega.


"Aldo, Mereka itu tiga orang ... apa kau siap dengan semua risikonya, seperti mencukupi kehidupan mereka, memberi pendidikan mereka, mengatasi kenakalan mereka?" timpal Isana.


"Lagi pula, Apa kalian tahu asal-usul mereka?" Chika ikut menimpali.


Tiba-tiba Rikka berdiri dengan tegap layaknya seorang kesatria.


"Nenek, Kak Mega, Kak Chika ... aku siap dan akan melakukannya sebaik mungkin. Lagi pula, akulah yang meminta Aldo untuk memperbolehkan mereka tinggal bersama kami ..."


"... dan kami akan mengurus segala urusan surat menyurat untuk identitas mereka yang baru. jadi tolong, berikan restu kalian untuk kami!?" tegas Rikka menjelaskan.


Suara Rikka sepertinya terdengar oleh Eriya yang tak sengaja sedang berjalan di lorong untuk mengambil cemilan. Seketika mata emerald itu berkaca-kaca seperti ingin menangis. Lalu gadis pirang itu mengigit bibir bawahnya sambil mengepalkan tangan di dada.


Aldo tersenyum setelah mendengar penuturan istrinya. Tampaknya Aldo sangat puas dengan kesungguhan hati Rikka yang ingin mengadopsi Leon, Elli, dan Eriya.


"Bagaimana? Nenek, Kak Mega, Chi-"


"KAKAK CHIKA!" tegas Chika menekankan setelah memotong kalimat adiknya.


Aldo Sweatdrop. "Ya baiklah, Kakak Chika~ ..."


Chika tersenyum. "Bagus!"


Isana ikut tersenyum puas. "Kalau kalian sudah yakin, maka tidak ada lagi yang perlu kupermasalahkan. Tapi ..."


"Tapi apa, Nek?" Rikka bertanya sembari kembali duduk.


"Pasti Nenek penasaran dengan gadis bermata hijau itu, kan?" cetus Chika.


Isana mengangguk. "Benar .... seumur hidupku, baru kali ini aku melihat ada orang secantik dia!"


"Aku juga berpikir seperti itu awalnya, Nek," respon Aldo.


"Apa kalian tahu asal-usul mereka, Aldo?" Mega bertanya.


Aldo tampak memegang dagunya seolah berfikir sambil bergumam.


"Secara garis besar, kami mengetahuinya. Tapi khusus untuk Eriya ..."


"Kenapa dia?" Chika penasaran.


"Bagaimana kalau kita tanyakan detailnya bersama?" cetus Aldo.


Mendengarnya Rikka sedikit panik. Karena, dari semua orang yang ada disana, kemungkinan hanya dia yang tahu asal-usul Eriya yang sebenarnya. Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, gadis berkepala indigo itu juga penasaran dengan sosok Eriya.


"Boleh juga!" kata Neneknya Aldo mengangguk.


"Kalau begitu, aku akan memanggilnya sekaligus mempersiapkan cemilan," ujar Rikka.


"Biar kubantu!" tegas Chika menawarkan diri dan dibalas dengan senyuman oleh sang adik ipar.


Sekitar lima belas menit setelah itu, Chika dan Rikka bersama anggota keluarga lain datang membawa minuman beserta cemilan untuk disantap bersama-sama.


Tapi pada waktu yang sama, terdengar juga bel rumah yang sedang bernyanyi di seluruh penjuru ruangan.


"Biar aku yang buka," Rikka menawarkan diri.


Tak lama setelah Rikka pergi membuka pintu, ia kembali bersama dua orang pria yang mengikuti dari belakang. Yang pertama adalah Vincent, pria misterius yang menjadi suami kakaknya Aldo, Chika.


Dan yang kedua adalah ...


"Papa!" teriak Kenny.


Kenny berlari menerjang pria kedua yang mengikuti Rikka dari belakang. Pria itu menggunakan T-Shirt berwarna hitam seperti yang dipakai oleh Vincent. Hanya saja, memakai celana ponggol jeans berwarna senada.


Sepertinya pria tersebut adalah suami kakaknya Aldo, Mega. Dengan kata lain, dia adalah kakak ipar Aldo yang tertua. Pria itu memiliki paras biasa saja. Namun, mata sipit, wajah yang tegas, dan rambutnya yang rapi membuat pria itu terlihat sangat berwibawa.


Kakak ipar tertua Aldo tersenyum ke arah anaknya, lalu mengelus pelan kepala kecil tersebut sebelum menggendongnya.


"Yo, apa kabar, Kak Adam?" Aldo menyapa.


Pria yang ternyata bernama Adam itu tersenyum sehangat mentari. Entah kenapa, Elli yang kebetulan melihat senyuman itu bisa merasakan sebuah kehangatan merasuk ke dalam hatinya.


"Lama tidak ketemu, Aldo?" balasnya.


"Ada angin apa semuanya bisa berkumpul?" tanya Rikka setelah menyadari sesuatu.


"Benar juga ... sebenarnya kami berdua ingin membawa nenek berkunjung ke rumah kalian setelah dia pulang dari Italy. Tapi, karena kebetulan ini hari minggu, ya sekalian saja suami dan anak-anak juga ikut!" ungkap Chika sambil menyuguhkan minumam ke suaminya.


"Begitu ..." gumam Aldo.


"Lalu bagaimana bulan madu kalian di jepang, Aldo, Rikka?" Isana kembali bertanya.


Rikka tersenyum lebar. "Tentu saja sangat menyenangkan, Nek!"


"Bahkan kami sempat melihat festival kembang api!" timpal Aldo.


"Wah ... terdengar sangat menyenangkan," respon Chika.


"Tentu saja!"


"Nenek sendiri, untuk apa pergi ke Italy?" tanya Aldo.


"Menghadiri pameran lukisan sahabatku," Isana menjawab.


"Oh, begitu ..."


"Lalu, siapa mereka?" sela Adam bertanya sambil menunjuk ketiga adik Aldo.


"Baiklah, karena kalian semua sudah berkumpul, aku akan memperkenalkan mereka ..." kata Aldo setelah menarik nafas.


" ... mereka adalah, Eriya, Elli, dan Leon ..." sambung Aldo sambil menunjuk ketiga adiknya satu persatu.


"... mereka ini anak adopsi kami-tidak, adik angkat lebih tepatnya. Mereka akan kami rawat seperti keluarga kami sendiri." Aldo menjelaskan.


"Jadi, kami harap. Nenek beserta kakak dan semua anggota keluarga memberikan restunya untuk kami," sela Rikka memohon dengan sopan.


Semuanya pun tersenyum seperti memberikan restunya. Eriya, Elli, dan Leon juga ikut tersenyum melihat senyuman yang hangat tersebut.

__ADS_1


"Tentu saja kami akan merestuinya


... asalkan kalian, terutama kau Aldo, mau bertanggung jawab dengan keputusan ini!"


Aldo dan Rikka mengangguk serentak. "Terima kasih, Nenek!"


"Kalau begitu, bawa kemari cucu-cucuku yang baru," pinta Isana dengan senyuman.


Bersamaan dengan itu, Eriya, Elli, dan Leon akhirnya diterima secara resmi di keluarga tersebut. Ketiganya juga tampak mulai mengakrabkan diri dengan keluarga baru mereka. Dan Senyuman pun tak henti-hentinya menghiasi wajah mereka.


Leon tiba-tiba meneteskan air matanya di pipi. Padahal dia tidak sedang bersedih. Tapi entah kenapa, perasaan hangat di hatinya malah membuatnya ingin menangis. Begitu juga dengan Elli dan Eriya. Mereka ikut meneteskan air mata bersama Leon.


Isana yang menyadari hal itu langsung menghampiri ketiganya dan memberikan pelukan khas seorang ibu. Tidak, pelukan khas seorang nenek lebih tepatnya. Lalu menarik mereka agar duduk di sofa bersama untuk menikmati suguhan yang sudah di persiapkan.


Rikka ikut mengembangkan senyumannya di dekapan Aldo yang juga tersenyum di sana. Awalnya Aldo heran kenapa istrinya tidak komplain saat disentuh. Tapi pria berkepala coklat itu sadar, mungkin karena ada sosok sang nenek di dekat mereka. Tapi setidaknya, Aldo menikmati setiap momen yang ada pada saat itu.


"Eriya?" panggil Isana dan sukses membuat suasana menjadi hening.


"Iya, Nek?" sahut Eriya.


"Boleh aku bertanya?"


"Tanya apa, Nek?"


"Bisa kau ceritakan, dari mana asal-usulmu?" dengan senyuman sang nenek kembali bertanya.


Rikka tampak gelisah, sementara Eriya bingung harus menjawab apa. Tapi ia segera menoleh ke arah Aldo dan mendapatkan sebuah anggukkan yang diikuti dengan senyuman disana.


Eriya menghela nafas dan mencoba memantapkan diri. Lalu mengangguk setelahnya.


"Ceritanya panjang, apa nenek mau mendengarnya?"


Isana mengangguk. "Tentu."


"Baiklah kalau begitu ..."


Semua orang yang ada di sana memasang tampang serius saat menunggu Eriya mulai bercerita. Bahkan mereka sudah menggenggam minuman dan cemilan seperti menonton bioskop.


"Sejauh aku bisa mengingat ... aku adalah seorang anak yang tidak memiliki orang tua ..." Eriya mulai bercerita.


Isana terlihat menatap sendu Eriya, begitu juga dengan yang lain kecuali anak-anak.


"Aku diadopsi oleh seorang dokter bernama Ethan. Dia sangat baik padaku, dia bahkan membesarkanku seperti anaknya sendiri ..."


"... dia mengajari segala hal yang ada di dunia ini, seperti ilmu pengetahuan, mengurus rumah, bahkan cara bercocok tanam ..."


Aldo, Chika, dan Adam tampak mulai mengunyah snack seperti sedang menyaksikan sebuah adegan film.


"... aku tidak mengerti apa tujuan dia melakukan itu. Tapi karena aku masih kecil, aku hanya menurut layaknya seorang anak yang menurut pada orang tua ..."


"... beberapa tahun setelah itu, entah kenapa tubuhku berubah. Tapi, dokter Ethan malah terlihat sangat antusias." jelas Eriya.


"Berubah?" Isana menyela.


Eriya mengangguk. "Sebenarnya, kondisi fisikku awalnya tidak seperti ini ..."


Semua orang yang ada di sana terbelalak. Kecuali anak-anak tentunya.


"... dulu aku seperti anak perempuan biasa. Tapi setelah beberapa tahun aku di adopsi oleh Dr.Ethan, tiba-tiba tampilan fisikku berubah. Rambutku yang awalnya hitam menjadi pirang. Kulitku yang awalnya berwarna kuning langsat, berubah menjadi putih, dan warna mataku tiba-tiba berubah menjadi hijau ..."


Isana dan Rikka menyipitkan matanya seperti seorang peserta seminar yang sedang serius menyimak.


"... waktu itu aku sangat takut akibat perubahan yang sangat signifikan ini. Tapi, karena kasih sayang yang diberikan Dr.Ethan, aku pun mulai menerima kondisi fisikku seiring berjalannya waktu." jelas Eriya lagi.


"Lalu kau tidak bertanya, apa penyebab perubahan kondisi fisikmu?" tanya Mega.


Eriya kembali mengangguk. "Tentu saja aku bertanya ... tapi, saat aku bertanya, dia malah tersenyum dan mengatakan, 'ternyata hipotesaku benar'."


"Hipotesa?" Isana semakin penasaran.


Eriya mengangguk lagi. "Lalu, dia juga bilang, 'jika kau ingin mengetahui penyebabnya, teruslah hidup, Eriya'."


"Apa maksudnya itu?" cibir Chika tampak kesal.


Eriya menggeleng. "Kemudian, waktu terus berjalan ... aku pun mulai mencari tahu penyebab kondisi fisikku dari semua laporan kerja Dr.Ethan ..."


"... saat itu barulah aku sadar, siapa sosok ayah angkatku yang sebenarnya."


"Siapa dia?" tanya Aldo.


"Dia seorang peneliti dari sebuah eksperimen yang aku tidak tahu namanya, dan pada saat itu juga aku mengetahui sebuah fakta baru tentang diriku!" tegas Eriya.


"Fakta?" Isana kembali bertanya.


Eriya mengangguk. "Aku adalah hasil dari eksperimen yang di lakukan oleh Dr.Ethan bersama timnya!"


Bagaikan adanya sambaran petir, seluruh isi ruangan syok mendengar penuturan Eriya yang terakhir. Tapi tidak untuk Rikka yang sudah menduga hal tersebut.


"E-eksperimen?" kata Chika dengan ekspresi aneh.


"Benar ... itulah sebabnya kenapa tampilan fisikku bisa berubah seperti ini. Tapi ..."


"... setelah aku mengetahui segalanya, Dr.Ethan di tangkap atas tuduhan penyelundupan subjek terlarang oleh sekelompok orang yang mengaku kalau mereka dari pemerintahan ..."


Rikka mengernyit, seolah memikirkan sesuatu.


"... kami pun berusaha melarikan diri. Tapi sayang, Dr.Ethan terbunuh dan akhirnya aku tertangkap. Tapi sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Dr.Ethan bilang, 'Aku senang, bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Eriya. Tetaplah hidup apapun yang terjadi, wahai Produk Sempurna kebanggaanku' ..."


"... awalnya aku tidak mengerti apa maksudnya. Tapi saat aku tertangkap, aku malah di bawa ke sebuah tempat yang baunya sedikit aneh dengan mata tertutup."


Semua orang yang ada disana masih menyimak cerita dari Eriya sembari menikmati makanannya. Tapi tidak untuk anak-anak yang sudah tertidur.


"Apa kau tahu siapa yang membawamu?" Rikka bertanya.


Eriya menggeleng. "Dari cara mereka berbicara, sepertinya mereka adalah polisi atau orang yang berhubungan dengan pemerintahan."


Aldo menatap Eriya dengan intens, entah apa yang dipikirkan oleh pria berkepala coklat tersebut.


"Lanjutkan," perintah Isana dengan lembut.


Eriya menganggukkan kepalanya lagi. "Pada saat itulah aku baru mengetahui apa maksud dari semua perkataan Dr.Ethan ..."


"... kalau tidak salah, orang yang membawaku mengatakan, 'subjek nomor 5.189.251 fix dinyatakan sebagai produk gagal' , kode yang dimaksudkan itu ternyata adalah namaku. Jika mengingat kembali bagaimana sifat Dr.Ethan, maka dia pasti memberikan nama untukku dari kode tersebut ..."


"... 5 untuk E, 18 untuk R, 9 untuk I, 25 untuk Y, dan 1 untuk A. Maka jika digabungkan akan menjadi E-R-I-Y-A." ungkapnya masih menjelaskan.


"Dan pada saat itulah aku berkesimpulan, bahwa aku adalah sebuah eksperimen yang gagal!"


Isana bersama semua cucunya semakin menatap Eriya dengan sendu.


"Setelah itu, aku pun di buang dan dijual kepada sindikat Human Trafficking lalu dijual lagi dan lagi kepada orang yang mengaku dirinya sebagai pemilikku. Aku pun berfikir, mungkin aku pantas mendapatkan kehidupan seperti ini karena telah menjadi produk yang gagal ..."


Chika tampak menggigit bibir bawahnya, seolah dia yang mengalami hal tersebut.


"... beberapa tahun setelahnya, aku pun mulai tumbuh dewasa. Orang-orang bejat semakin banyak yang menginginkanku karena bentuk tubuhku yang seperti ini. Hingga akhirnya aku pun berakhir di sebuah pelelangan ..."


Eriya terus melanjutkan ceritanya tanpa berhenti. Mungkin dia mengingat kembali rasa sakit semasa hidupnya dulu.


"Saat itu aku mulai pasrah dan merasa tak peduli apa pun yang akan terjadi. Tapi, pada saat itu juga, tepatnya setelah aku dijual di pelelangan untuk yang kesekian kali, aku bertemu seseorang yang membuatku kembali tersadar akibat aksi yang dilakukan olehnya ..."


"... kemudian, aku bertemu dengan Kakak Rikka yang mau mebawa kami kerumahnya. Dan pada saat itu, aku pun kembali mengingat perkataan Dr.Ethan. Yaitu, Aku harus tetap hidup!" tegasnya.


Melihat sang adik menjelaskan cerita masa lalunya yang menyiratkan sebuah kebulatan tekad, Aldo pun tersenyum bangga kepadanya.


Sedangkan Rikka malah terharu seperti seorang ibu yang melihat anaknya telah tumbuh dewasa. Tidak hanya Rikka, bahkan Chika juga tampak terisak.


"Hiks ... hiks ... kenapa kehidupanmu tak seindah fisikmu, Eriya?!" celoteh Chika dengan isakan tangis.


Eriya hanya menjawab dengan senyuman lembut dan kepala yang sengaja dimiringkan


"Huuueeee.... Eriyaaa~ ...!" pekik Chika sambil menerjang Eriya dengan pelukan.


"Eksperimen ... ya?" ujar Isana sembari menopang dagunya seolah berfikir.


"Apa Nenek tahu sesuatu?" tanya Rikka.


Isana menggeleng. "Aku hanya teringat dengan kasus yang pernah heboh di TV lima belas tahun yang lalu."


"Aaaah!! Aku ingat, kasus itu adalah kasus eksperimen gila yang diduga sebagai eksperimen pembuatan manusia!" tegas Chika.


"Benar-benar!" Mega ikut menyetujui.


"Kesampingkan masalah itu ... Intinya sekarang, Eriya, Elli, dan Leon bisa hidup tenang bersama keluarga kita!" kata Isana menegaskan.


Semua anggota keluarga kembali menganggukkan kepala mereka.


"Lalu, apa rencana kalian kedepannya, Aldo?' tanya Isana.


"Aku berpikir untuk memasukkan mereka ke sekolah, tapi aku juga harus berembuk dengan Rikka untuk masalah ini," balas Aldo.


"Aku setuju! Biarkan aku saja yang mendaftarkan mereka!" sela Rikka bersemangat


"Kau yakin?" tanya Aldo memastikan.


Rikka mengangguk dengan penuh percaya diri. "Tentu!"


"Kalau begitu, untuk masalah pendidikan mereka kuserahkan padamu,"


"Uumm ... Kak Aldo, Kak Rikka?" sela Eriya.


"Kenapa Eriya?" tanya keduanya.


"Kalau boleh, aku tak perlu di masukkan ke sekolah. Karena semasa hidupku dengan Dr.Ethan, aku selalu dan sudah banyak belajar," jawab Eriya.


"Benarkah?" Aldo tampak ragu.


"Benar ... mungkin jika diukur, ilmu pengetahuan yang kudapat dari Dr.Ethan sudah setara dengan guru di sebuah sekolah tingkat SMA." jawab Eria dengan senyuman.


Aldo tercengang. "Kau ... anak jenius?"


"Maklum saja untuk seseorang yang hidupnya diabdikan untuk seorang dokter penelitian!" jelas Mega.


"Kalau begitu kau ingin melakukan apa, Eriya?" Isana bertanya lagi.


"Kalau bisa, aku ingin bekerja atau melakukan hal yang lebih berguna," kata Eriya.


"Bagaimana kalau dia bekerja di tempatmu, Aldo?" cetus Chika.


Aldo tersentak. "Benar juga ... aku sedang butuh karyawan tambahan. Tapi ..."


"Tapi apa?" Mega menyela dengan pertanyaan.


"Apa aku harus mempekerjakan adikku sendiri?" ujar Aldo dengan dahi berkerut.


Isana menghela nafas. "Anggap saja ini proses sosialisasi untuk dia agar bisa hidup normal seperti orang pada umumnya!"


"Tapi, Nek ..." Rikka menyela.


"Biarkan dia tumbuh dan menjadi orang yang berguna seperti keinginannya!" tegas Isana.


"Kalian benar, Tapi ..." ucap Keduanya.


"Orang tua macam apa kalian yang menentang keinginan anaknya untuk hal yang baik!" oceh Mega.


"Benar, Kalian harus mendukung keputusannya jika itu adalah hal yang baik!" timpal Isana.


"Inilah salah satu risiko yang di katakan oleh nenek tadi, Aldo!" Chika ikut menimpali.


Aldo dan Rikka masih terdiam di tempat mereka.


"Kenapa tidak dicoba saja dulu, Aldo?" Adam ikut menyela.


"Benar, setidaknya kau coba saja dulu untuk beberapa minggu," Vincent yang sedari tadi diam, kini ikut menimpali.


"Dari semua orang, kenapa harus suamiku yang pendiam yang mengatakan hal itu!?" Chika seolah syok dengan perkataan suaminya.


Vincent malah menatap istrinya tanpa berekspresi sedikitpun.


"Baiklah ... sudah kuputuskan!" kata Aldo setelah menetapkan hatinya.


"Leon dan Elli akan kami sekolahkan supaya mendapatkan pendidikan yang layak!" tegas Aldo menatap istrinya.


"Serahkan padaku!" balas Rikka dengan anggukkan seperti mengerti arti tatapan suaminya.


"Dan untuk Eriya, dia akan ikut bekerja bersamaku di Green Goblin!" lanjut Aldo menegaskan.


Semua anggota keluarga kembali tersenyum untuk kesekian kalinya.


"Terima kasih, Kak Aldo, Kak Rikka!" ujar Eriya dengan senyuman terbaiknya.


-----


Dukung terus ya teman - teman dengan LIKE, VOTE DAN COMMENT kalian

__ADS_1


Thank you... 😊😊😊


__ADS_2