
5 tahun yang lalu.
ZAAAAAAASSSHH ...
Hujan yang cukup deras tampak membasahi bumi.
Tak hanya bumi, hujan itu juga Membasahi dua sosok orang yang sedang berada di sana. Tepatnya di sebuah hutan kecil, namun tidak sebelantara hutan yang asli.
Dua sosok di sana adalah sepasang pria dan wanita yang tampak seperti bermesraan. Tapi jika di lihat dari dekat, mereka tidaklah bermesraan. Walaupun posisi wanita sedang memangku kepala pria yang tergeletak di tanah.
Wanita itu tampak mengeluarkan air mata bersama air hujan yang ikut membasahi wajah cantiknya.
"... kumohon, Loki ... bertahanlah ..." lirih wanita berambut gonjes itu.
Sepertinya wanita itu sedang menangis akibat kondisi seorang pria yang berada di pangkuannya.
"... Nana ..." lirih pria bernama Loki memanggil.
"... y-ya?"
Wanita berambut gonjes yang ternyata adalah Nana menyahut dengan suara yang sedikit bergetar.
"Jangan menangis ... ini sudah menjadi takdirku sebagai subjek eksperimen," ungkap Loki.
"Kenapa? Kenapa kau harus sekejam ini, Loki!?" balas Nana.
"... maaf ..."
Loki meminta maaf dengan suara parau. Tapi air mata masih berlinangan di pipi mulus Nana.
"Setelah kau mengisi hari-hariku yang kelabu dengan tingkah bodohmu di laboratorium, kau malah seenaknya saja meminta maaf dan ingin pergi meninggalkanku!?" oceh Nana.
Loki tersenyum. "Ayolah ... sebagai seorang pria, bukankah wajar, untuk membuat wanita yang dicintainya agar selalu tersenyum?"
"Hiks ... hiks ... bodoh ... huuu ..." balas Nana dengan tangisan yang tersedu-sedu.
"... dalam keadaan begini, kau masih saja bertingkah sok kuat ... hiks ..." lanjutnya.
"... bukankah aku memang kuat?" celetuk Loki.
"Hiks ... ya ... kau kuat ... sangat kuat hingga bisa menembus dinding es pertahananku ... hiks ..." ucap Nana terisak.
Loki tersenyum lagi. "Aku bersyukur, dinding es itu akhirnya meleleh ... kalau tidak, aku tak akan pernah bisa melihat senyumanmu ..."
"Loki ... huuu ... hiks," balas Nana.
Suasana hening sejenak. Hanya suara isakan tangis dan hujan yang masih setia mengisi suasana mereka pada saat itu.
"... Nana ..."
Loki kembali memanggil Nana sembari dia meraih wajah wanita kesayangannya.
Nana tak merespon. Wanita itu hanya memandang Loki sembari menikmati sentuhan lembut di pipinya.
"Terima kasih, dan ..." ucap Loki lirih.
"... aku mencintaimu ..."
Loki mengakhirinya dengan ungkapan cinta bersama lengan yang terjatuh lemas tak berdaya.
Melihat hal itu, Nana menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin. Matanya yang hitam cerah pun semakin dibanjiri oleh air mata.
"Lo-Loki ... hiks ... huuu ... Loki ..."
Nana meraih kepala pria itu sebelum mendekapnya di dalam pelukan.
"LOKIII!!!" pekik Nana.
"Jangan bergerak ..."
Tiba-tiba terdengar suara bisikan di telinga Nana bersama acungan pistol yang menempel tepat di kepalanya.
Nana terbelalak dengan linangan air mata di pipinya. Sesaat kemudian, ia menundukkan kepala secara perlahan.
"Kepalamu bisa berlubang, lho ..." bisik suara itu lagi.
Suara bisikkan itu terdengar seperti suara laki-laki.
"Bisa kau bunuh saja aku?" pinta Nana.
"Eh?"
Suara yang tadi berbisik, kini terdengar seperti suara orang yang kebingungan.
"Aku bilang, bunuh aku!" tegas Nana.
Tiba-tiba, tampak seorang pria yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu kekar duduk tepat di sebelah Nana.
Nana menoleh ke arahnya. Tapi pria itu tampak sedang mengenakan topeng aneh yang berbentuk seperti wajah hewan.
"Nana ... code name, Poison Ivy ... seorang ahli alkimia yang sangat jenius. Bisa membuat racun hanya dalam sekejap mata, pernah bekerja di kemiliteran sebagai pembuat senjata biologi di usia yang sangat muda ... apa aku salah?" ungkap pria bertopeng.
Nana terdiam, lalu kembali menoleh ke arah kepala Loki yang masih di pangkuannya dengan tatapan kosong.
"Hey ... aku benar atau salah?!" tanya pemuda bertopeng sedikit kesal.
"Siapa kau?"
Bukannya menjawab, Nana malah memberikan pertanyaan.
"Aku akan menjawabnya jika kau bersedia bergabung denganku!" tegas pria bertopeng.
"Untuk apa?" tanya Nana lagi.
"Aku membutuhkan keahlianmu di dalam kelompokku," jawab pria bertopeng.
Nana mengernyit, lalu terbersit sebuah pemikiran yang mungkin akan bisa berguna untuknya.
"Dengan satu syarat!" balasnya.
"Syarat?"
Pria bertopeng bingung sembari memiringkan kepalanya.
"Setelah aku bergabung denganmu, bantu aku menghancurkan eksperimen gila yang telah membunuh pria ini!"
Nana menjelaskan dengan tegas sembari menunjuk pria bernama Loki yang sedang berada di pangkuannya.
"Eksperimen Homunculus ...?" desis pria bertopeng.
Nana tak menjawab. Wanita itu masih menatap wajah pucat Loki masih dengan tatapan kosong.
Pria bertopeng pun menyeringai di balik topeng aneh andalannya.
"Baiklah ..." kata pria bertopeng.
Nana terbelalak. "Kau yakin?"
Pria bertopeng mengangguk. “Tentu ... lagi pula, aku juga ingin melakukan hal yang sama!”
“Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita kuburkan dulu kekasihmu?” lanjut pria bertopeng.
Nana mengangguk. Lalu segera bergerak dari sana untuk menguburkan tubuh Loki bersama pria bertopeng.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Nana.
Pria bertopeng kembali berseringai di balik topeng anehnya.
"Kau bisa memanggilku ... Thousand Face Reaper ..." desisnya.
Nana terbelalak dan terkejut bukan kepalang setelah mendengar nama tersebut.
Present Time.
Masih dengan mata yang terbelalak, Nana mengedip-kedipkan iris hitam tersebut beberapa kali dengan posisi tergeletak di atas tempat tidur nyaman miliknya.
Nana menghela nafas. "Mimpi itu lagi ..."
Nana bergumam, lalu duduk di atas tempat tidurnya dengan buliran keringat yang sudah membasahi wajah mulus tersebut.
Nana melirik ke arah jendela, lalu bangkit dan membuka gorden jendela tersebut dengan pelan.
"Matahari sudah terbit, ya?" gumamnya lagi.
Setelah itu, Nana melihat jam dinding di kamarnya. Penunjuk jam digital itu sudah menunjukkan pukul 06.25 a.m.
Kemudian wanita berambut gonjes itu mengambil ponselnya dan mengutak-atik benda tersebut untuk melihat agenda apa yang harus dia lakukan hari ini.
Nana tampak mengangkat alisnya sebelah.
"Hampir saja aku lupa ... hari ini adalah hari menjalankan misi pengalihan," ucapnya.
Tak lama kemudian, Nana segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum berbenah dan pergi menjalankan misi.
Selang 30 menit, Nana tampak sedang menuruni tangga, kemudian berjalan menuju ke arah cafe yang berada di ruang utama di bangunan semi ruko tersebut.
"Kau berangkat sekarang?" tanya suara baritone yang tidak asing.
"Zedd, selamat pagi ..."
Nana tak menjawab pertanyaan, malah mengucapkan salam kepada salah satu rekan satu timnya.
Zedd mengangguk. "Selamat pagi ..."
"Kau berangkat sekarang?" tanya Zedd lagi.
Nana mengangguk. "Begitulah."
__ADS_1
"Kalau begitu, semoga berhasil!" balas Zedd.
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Myra?" tanya Nana.
"Berkat perawatan darimu, kondisinya membaik hanya dalam waktu singkat," jawab Zedd.
"Syukurlah ..." ucap Nana.
"Baiklah, aku berangkat!" lanjut Nana pamit.
Zedd mengangguk. "Hati-hati."
Nana segera melangkahkan kakinya keluar dari Green Goblin dan menuju ke arah sebuah halte bus.
Sesampainya di sana, gadis berjuluk Poison Ivy itu sudah ditunggu oleh seorang pria kurus, berwajah pucat, rambut keriting, dan mengenakan jaket hoodie tapi bagian hoodienya tidak dipakai di kepala. Melainkan dibiarkan menggantung di belakang leher.
“Selamat pagi, Dokter Nana,” Sapa pria itu semangat.
Nana menghela nafas. "Aku bukan lagi mentormu, Kiriya!"
Pria itu bernama Kiriya, dan dia hanya tersenyum tanpa membalas Nana yang sedang komplain.
"Jadi tolong, jangan panggil aku dokter! Panggil aku Nana saja!" Tegas Nana.
"Baiklah, Dok-ehm ... Nana!" kata Kiriya menurut.
Nana tersenyum. "Bagus!"
"Bagaimana? Apa semua persiapan sudah OK?" lanjut Nana bertanya.
Kiriya mengangguk. "Tentu saja!"
"Bagus, ayo berangkat!" ajak Nana.
Pada saat yang sama, bus yang akan mereka naiki pun tiba di halte. Lalu mereka pergi ke suatu tempat bersama kendaraan panjang tersebut.
Setelah memakan waktu di perjalanan selama 1 jam. Kini mereka tampak sedang berjalan di sebuah hutan di salah satu bukit yang ada di kota tersebut.
Hutan itu tidaklah lebat, masih banyak jalan setapak yang terlihat di sana, pohon-pohon rindang, dan juga semak-semak yang tidak begitu mengganggu saat berjalan.
Sekitar 15 menit, akhirnya mereka tiba di sebuah pemakaman. Sepertinya, hanya satu makam saja yang tampak di sana. Tepat di batu nisan di makam tersebut terdapat tulisan 'Loki'.
Di sana, mereka mulai melakukan sebuah ritual yang biasa dilakukan oleh orang pada umumnya. Yaitu berdoa untuk sang ahli kubur, meletakkan buket bunga, dan lain sebagainya.
Suasana sangat hening pada saat itu. Kedua orang tersebut juga tampak sangat khusuk ketika memanjatkan doa untuk sang ahli kubur sembari memejamkan mata.
"Dokter ... tidak, maksudku ... Nana ..." ucap Kiriya memanggil.
Nana masih memejamkan mata. Tapi, telinga wanita eksentrik itu bisa mendengarkan dengan jelas Kiriya sedang memanggilnya.
"Apa kau masih belum bisa melupakan Loki?" tanya Kiriya melanjutkan.
Nana sedikit mengerutkan dahinya, lalu menghela nafas sebelum membuka pejaman mata lentik tersebut.
"Kau harus bisa move on, Nana! Ini sudah tahun kelima setelah kematian Loki!" kata Kiriya menegaskan.
Nana berdiri, tapi tidak memberikan respon terhadap ucapan dari mantan asistennya tersebut.
"Nana ..." ucap Kiriya lirih.
"Kiriya ... apa kau pernah bertemu seseorang yang pernah mengubah seluruh hidupmu?"
Nana akhirnya buka suara dengan mengajukan sebuah pertanyaan untuk pria keriting.
"Tentu aku pernah! Sekarang dia ada di-"
"Kalau begitu, apa kau pernah mencintai orang tersebut?"
Nana segera menyela perkataan Kiriya sebelum pria itu bisa menyelesaikannya.
"Tentu saja aku pernah!" balas Kiriya.
"Lalu, apa kau pernah merasakan, betapa sakitnya saat orang yang kau cintai itu pergi meninggalkanmu ke suatu tempat yang tidak bisa kau gapai?"
Nana semakin menimpali Kiriya dengan pertanyaan yang sulit untuk di jawab.
"Kalau itu ..."
Kiriya bingung harus menjawab apa. Pria berambut keriting itu hanya bisa menundukkan kepalanya menghadap kuburan Loki.
"Jika kau bisa menjawab itu, maka aku akan move on detik ini juga!" tegas Nana.
"Tapi ... setidaknya lihatlah dirimu ..." lirih Kiriya.
"Apa yang harus kulihat dari diriku?" tanya Nana.
"Apa kau tidak sadar, bahwa sejak kepergian Loki kau selalu menggunakan topeng?" jawab Kiriya dengan pertanyaan.
Nana tersenyum kecut. "Lihat siapa yang sedang bicara ..."
"... apa kau tidak berkaca sebelum mengucapkan itu?" lanjutnya.
Nana terdiam sesaat. Seperti orang yang sedang bermain catur, Nana terkena skakmat yang membuat dirinya tak bisa berkutik.
"Aku tak pernah menyuruhmu untuk mengikutiku!" ucap Nana setelah itu.
"Tapi itu adalah tekadku untuk mengikuti ke mana pun kau pergi, Dokter Nana!" ungkap Kiriya dengan tegas.
"Sudah kubilang, jangan panggil aku dokter!" komplain Nana.
"Kita hanya berdua di sini, jadi aku rasa itu tidak masalah," balas Kiriya.
Nana menghela nafas. "Terserahlah!"
"Lagi pula ... aku akan berhenti memanggilmu dokter, setelah aku berhasil menggantikan posisi Loki di hatimu!" ungkap Kiriya lagi.
Nana kembali terdiam, Nana kembali terkena skakmat, dan Nana kembali tak bisa berkutik dengan ucapan mantan asisten keritingnya itu.
"Apakah aku benar-benar tidak memiliki kesempatan, Dokter Nana?" sambung Kiriya.
"Maaf ... aku tak bisa menjawabnya ..." balas Nana lirih.
Kiriya tersenyum setelah menarik nafas dalam melalui hidungnya.
"Kalau begitu, izinkan aku untuk terus mengikutimu sampai aku bisa menciptakan kesempatan itu!" ucapnya.
Nana menatap ke arah Kiriya dengan tatapan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
"Bodoh!" kata Nana.
"Aku memang tak sepintar dirimu, Dokter Nana!" celetuk Kiriya asal.
Nana kembali diam, lalu kepalanya menoleh kembali ke arah makam Loki yang sudah dihiasi dengan buket bunga.
"Sekarang ayo kita bergegas, sebelum matahari semakin tinggi," ajak Kiriya.
Nana hanya memberikan anggukkan sebagai jawaban.
Kiriya mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Nana masih terdiam memandangi batu nisan makamnya Loki.
"Loki ..."
Suara Nana terdengar lirih seperti ingin bertanya.
"Nana~! jangan melamun terus! Ayo berangkat!"
Kiriya memanggil dengan suara yang cukup keras karena mereka sudah terpisah dengan jarak 15 meter.
"Loki, kumohon ... doakan aku!" ucap Nana sebelum menyusul mantan asistennya dari belakang.
●●
TAP ... TAP ...
Langkah kaki terdengar cukup cepat di sebuah lorong koridor laboratorium.
Terlihat di sana ada sepasang laki-laki dan perempuan sedang berjalan menggunakan pakaian yang disebut snelli. Atau bisa dibilang, sebuah jas berwarna putih yang biasa di pakai oleh dokter.
Sembari berjalan, sepertinya mereka juga sedang berbincang di sana.
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta ... sekarang kau sudah terdaftar sebagai salah satu staf bagian penelitian di laboratorium ini!" Kata seorang pria berkacamata berambut keriting.
"Terima kasih, Kiriya!" balas seorang wanita berambut gonjes yang juga mengenakan kacamata.
"Namaku bukan Kiriya di sini! Tapi, Kira ..." kata pria berkacamata.
"Dan namamu adalah Nino, dokter Nana!" lanjutnya menegaskan.
Seperti yang dikatakan oleh Kira alias Kiriya, mereka sedang menyamar sebagai salah satu staf penelitian di laboratorium tersebut. Tak lupa, topeng sintetis juga sudah bertengger di wajah mereka sebagai penyamaran.
Nino alias Nana memberikan anggukan untuk merespon.
"Lalu, apa rencananya, Nino?" tanya Kiriya.
"Cukup simpel. Kita hanya perlu meledakkan laboratorium ini, setelah aku mendapatkan beberapa informasi yang diperlukan," jelas Nana.
"Informasi?" tanya Kiriya lagi.
Nana mengangguk. "Benar. Informasi tentang hubungan laboratorium ini dengan Organisasi Revolusi!"
Kiriya menghentikan langkahnya dengan tatapan tajam lurus ke depan.
"Seperti biasa, Thousand Face Reaper dan krunya selalu melakukan pekerjaan yang merepotkan!" cerocos Kiriya.
Nana tersenyum sembari ikut menghentikan langkahnya di depan Kiriya.
"Itu sudah menjadi tugas kami," balas Nana.
__ADS_1
Setelah itu mereka kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang cukup besar dan berisi peralatan kimia. Seperti gelas ukur, pembakar bunsen, gelas beaker, dan lain sebagainya.
Di dalam ruangan itu tidak ada siapa pun kecuali mereka berdua.
"Kau masukkan cairan kimia ini ke alat penyulingan yang ada di sana!"
Nana memberikan sebuah kotak kubus sebesar kotak musik berisi kumpulan kapsul yang mengandung cairan kimia kepada Kiriya, sembari ia menunjuk ke arah sebuah alat penyulingan cairan kimia tersebut.
"Aku akan memeriksa data-data yang ada di ruangan ini," lanjut Nana.
"Baik!" kata Kiriya menurut.
Setelah itu mereka bergerak secara terpisah tapi masih dalam satu ruangan.
Nana mulai membongkar file kertas yang ada di dalam filling kabinet. Cukup banyak map arsip yang ada di dalam benda itu. Tapi wanita yang sedang menyamar sebagai Nino itu segera menyortir map tersebut berdasarkan judul filenya saja.
"Organisasi Revolusi ..." gumamnya sembari menyortir.
"Ok! Hanya ada satu map arsip yang menyebutkan Organisasi Revolusi di sini!" ucapnya setelah menemukan sesuatu.
"Kiriya, aku akan segera pergi ke ruangan lainnya. Kau lakukan saja pekerjaan yang sama di ruangan lain yang persis seperti ini, ok?" perintah Nana.
"Okay!" balas Kiriya.
Nana segera meninggalkan ruangan itu dan memasuki ruangan lainnya. Jika terdapat banyak orang di ruangan yang ia ingin masuki, Maka wanita itu akan melewatinya dan mencari ruangan selanjutnya yang kemungkinan memiliki file mengenai hubungan Organisasi Revolusi dengan laboratorium tersebut.
"Lab ini pernah dihancurkan oleh Aldo. Tapi kenapa mereka masih mengoperasikannya, ya?" gumam Nana bertanya-tanya.
Di ruangan kedua, Nana tidak menemukan apa pun. Karena hasilnya Nihil, wanita yang biasa berpakaian eksentrik itu segera beranjak dari sana dan mencari ruangan sepi yang lain.
Di ruangan ketiga, Nana hanya mendapati seorang pria dengan setelan pakaian yang sama dengannya. Lalu, tanpa ragu Nana memasuki ruangan tersebut sebelum menghampiri pria yang ada di dalam.
"Selamat siang?" sapa Nana ramah.
Dari pada ramah, sapaan Nana terdengar lebih condong ke arah menggoda. Pria rapi itu memiliki kulit tan atau kulit yang agak gelap tapi tidak hitam.
Wanita itu menyentuh pundak pria tersebut kemudian turun secara perlahan ke arah pinggang seperti meraba.
"Se-selamat siang," sahut pria berkulit tan.
Dengan sentuhan seperti itu, bisa dipastikan kalau pria tersebut sedang merinding dalam artian yang lain.
Nana tersenyum ke arahnya, begitu juga dengan pria berkulit tan. Tapi, tiba-tiba pria itu jatuh terkulai lemas di lantai.
Nana masih tersenyum melihat tubuh pria itu sembari memegang sebuah alat seperti tabung berukuran setengah jengkal tangan. Sepertinya itu ada sebuah alat injeksi tanpa jarum.
"Selamat tidu~r," ucapnya sambil menghampiri file kabinet.
"Aku harus cepat sebelum Kiriya selesai dengan pekerjaannya," gumam Nana.
Nana menemukan sebuah file berguna di sana, dan tampak mengembangkan senyuman lebar dengan bibir merahnya sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Wanita yang sedang mengenakan snelli itu kini kembali berjalan di lorong laboratorium. Tapi tanpa sengaja, matanya menangkap sebuah pintu ruangan yang mencurigakan saat berjalan.
"Aku rasa ruangan itu tempat mereka mengumpulkan semua hasil kerja laboratorium ini," gumamnya sembari menyentuh bibir.
"Akan kucoba memeriksanya," gumamnya lagi sebelum berjalan ke sana.
Setelah di depan pintu ruangan itu, Nana berusaha membukanya. Tapi sayang, pintunya terkunci dengan sistem sidik jari. Hanya sidik jari yang sudah teridentifikasi saja yang bisa membuka pintu berwarna hitam tersebut.
"Sidik jari, ya?"
Nana bergumam sembari mengangkat alisnya yang sebelah kiri.
"Lemah sekali pertahanan mereka," ucapnya.
Kemudian, wanita berjuluk Poison Ivy itu segera mengambil sebuah kertas seperti kertas minyak berwarna putih bening hampir menyerupai plastik.
Dengan gerakan gemulai, Nana memotong kertas itu menjadi persegi empat berukuran 2x2 centimeter. Lalu menempelkannya tepat di atas pemindai sidik jari yang mengeluarkan cahaya hijau tersebut.
Sekitar satu menit ia menempelkan kertas tersebut, Nana mengacungkan jempolnya ke arah pemindai sidik jari sebelum ikut menempelkan jempol lentik itu tepat di atas kertas bening yang ada di sana.
TING ...
Suara seperti sebuah elevator berbunyi nyaring bersama lampu hijau pemindai sidik jari yang telah berubah menjadi warna biru.
Sepertinya Nana dengan mudah berhasil membuka ruangan tersebut tanpa harus menggunakan kekerasan.
Nana menyeringai. "Tak kusangka, cara lama ini berhasil dengan sempurna."
Tanpa banyak membuang waktu lagi, wanita eksentrik itu pun segera memasuki ruangan.
"Seperti dugaanku ... ruangan ini adalah kumpulan arsip mengenai seluruh penelitian laboratorium," gumam Nana.
Melalui iris hitam tersebut, Nana bisa melihat dengan jelas rak tempat penyimpanan arsip sudah berjejer rapi di dalam sana.
Bahkan, mereka sudah memberikan label yang bertuliskan tentang nama penelitian dan juga tanggal awal hingga akhir penelitian tersebut dilakukan.
"Rapi sekali ... kalau begini, mencari informasi mengenai Organisasi Revolusi akan sangat mudah ..." desisnya.
Nana kembali berkutat untuk mencari informasi yang berhubungan dengan Organisasi Revolusi. Dan tak sampai lima belas menit, wanita itu sudah mendapatkan sejumlah map arsip yang cukup banyak dalam satu tumpukan.
Dengan tumpukan arsip yang sedang dipeluknya, Nana berjalan ke arah meja untuk mengamati isi arsip tersebut.
Nana merogoh saku snellinya untuk mengambil ponsel di sana. Setelah itu dia memfoto kumpulan arsip menggunakan kamera ponsel. Sembari ia memfoto, wanita berambut gonjes itu sesekali juga membaca hasil penelitian tersebut.
"Dugaan Aldo dan Zedd ternyata benar, mereka masih melakukan eksperimen gila itu dari balik bayangan ..." gumamnya.
Nana melanjutkan aktivitasnya untuk memfoto arsip tersebut. Tapi, tiba-tiba mata hitam wanita itu terbelalak ketika melihat laporan yang dituliskan di arsip terakhir.
"Organisasi Revolusi berencana ingin membuat hasil Eksperimen Homunculus sebagai senjata militer untuk menguasai dunia?" ucap Nana.
Nana mencoba fokus pada tulisan arsip yang ada di hadapannya.
"... riset penelitian QQ17 berhasil mengembangkan serum untuk meningkatkan persentase keberhasilan dalam pengembangan subjek Eksperimen Homunculus ..."
"... setelah mengalami banyak kegagalan menggunakan kelinci percobaan, dan berkat hasil laporan dari ahli alkimia bernama Poison Ivy, riset penelitian QQ17 berhasil membuat sebuah serum bernama 'Rising Cell' ..."
"... 'Rising Cell' ini pernah diterapkan pada subjek 11.234.344 bernama Loki. Tapi mengalami kegagalan karena adanya pemberontakan dari subjek tersebut ..."
"... 'Rising Cell' sempat ditunda pengembangannya karena pemimpin riset yang tak lain adalah Poison Ivy itu sendiri menghilang bersama subjek 11.234.344 ..."
"... diduga Poison Ivy dibunuh oleh subjeknya sendiri karena telah melakukan pengembangan serum 'Rising Cell' tersebut ..."
“... tapi, berkat ketekunan para staff di riset penelitian QQ17, serum 'Rising Cell' berhasil di sempurnakan berdasarkan data peninggalan Poison Ivy.”
Nana mendikte sembari membaca laporan yang tepat ada di hadapannya. Pada saat yang sama, tatapan Nana menjadi kosong.
"Jadi ... aku ... aku punya andil besar di sini ...?" ucapnya lirih.
"Dan Loki ... dijadikan ... kelinci percobaan ... oleh ... mereka ... untuk menguji ... hasil temuanku ..." lanjutnya lirih dan terbata.
Nana mengepalkan tangannya sembari memejamkan matanya dengan paksa bersama tetesan air mata yang mulai jatuh di pipi.
"Ternyata ... Loki bukanlah salah satu subjek utama mereka ..."
" ... Loki mati karena menjadi kelinci percobaanku ..."
"... kenapa Loki ... kenapa kau tak mengatakannya dari dulu ..."
"... jika tahu akan begini ... aku tak akan pernah menyetujui tawaran mereka ..."
Nana tampak seperti seseorang yang sedang menyesali perbuatannya sambil menatap kosong ke depan. Wanita itu juga terlihat sangat syok di dalam batinnya.
"Wah wah ... ternyata ada tikus yang sedang menyusup ke sini ..."
Tiba-tiba terdengar suara seorang pria menggunakan setelan pakaian yang sama dengan Nana masuk ke dalam ruangan tersebut dan di ikuti oleh dua pria lainnya.
Nana tak merespon. Ia hanya bisa terduduk lemas di atas lantai ruangan tersebut. Bersamaan dengan itu, ketiga pria yang memergoki Nana segera mengikatnya dan membawa wanita itu pergi dari sana.
"Aku sudah membunuh Loki ... Loki telah mati karenaku ..."
Ketika mereka berempat sedang berjalan di lorong laboratorium. Nana terus bergumam tidak jelas seperti orang mabuk.
Salah satu staff laboratorium tersebut mendorong Nana dengan kasar hiingga ia jatuh tersungkur.
"Apa yang kau gumamkan, wanita ******!" umpat staf lab tersebut.
"Loki ..." lirih Nana.
"Sialan kau! Ini bukan tempat untuk tidur!"
Salah satu staf lab lain yang sedang bersamanya berjalan ke arah Nana dan ingin memukul wanita itu dengan kepalan tangan.
"Loki ... loki ... to ... long ... oki ... ki ..." gumam Nana masih dengan tatapan kosong.
"Diam kau, brengsek!"
Staf itu mulai melesatkan kepalan tangannya sekeras mungkin ke arah Nana.
"KIRIYAAAAA!!!! pekik Nana tiba-tiba.
DOORR ... DOORR ... DOORR ...
Suara tembakan dilepaskan dan membuat ketiga staf terjatuh tak berdaya di lantai.
"Kau memanggilku?"
Dengan pose heroic, Kiriya berkata layaknya seorang pahlawan.
Bola mata Nana yang tadinya tampak sangat kosong seperti mayat hidup. Kini sudah berisi kembali dan memantulkan sosok Kiriya yang sedang berpose di sana.
-----
tunggu kelanjutannya ya...
Jangan lupa LIKE, VOTE DAN COMMENT
__ADS_1
Thank you...😊😊😊