
"Kutangkap kau!"
Setelah mengucapkan kalimat kemenangan, Rikka melompat ke bawah, ke arah Aldo lebih tepatnya, sambil mengarahkan sebuah belati yang baru diambil dari holster pisau di paha mulus miliknya.
"A-apa-apaan ka-"
Pria berkepala coklat itu pun terbelalak tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya.
Rika melesat dengan sangat cepat menerjang Aldo yang tepat berada di bawah. Seringaian juga menghiasi wajah cantiknya karena merasa sudah menang dari sang pembunuh berantai.
Tapi sayang, saat Rikka sudah sedikit lagi menikam wajah Aldo yang tertutup topeng, pria berkepala coklat itu segera menangkis belati tersebut menggunakan tangan kanannya. Alhasil, sabuk lengan di pergelangan tangan kanan itu ikut rusak akibat tusukan belati.
Pisau pun jatuh ke sungai dan tenggelam. Kini Rikka malah ikut bergelantungan sembari berusaha memukul dada dan wajah Aldo menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kiri wanita itu sedang berusaha berpegangan.
"Kau benar-benar wanita yang keras kepala!" cibir Aldo.
"Tentu sa-"
PRANG ...
Bersamaan dengan suara itu Rikka terbelalak dan mulai tak sadarkan diri.
Tampaknya suara seperti keramik pecah itu adalah topeng rubah milik Aldo yang juga ikut pecah berkeping-keping. Sengaja ia membenturkannya ke kepala Rikka tepat di ubun-ubun agar istrinya tidak melakukan hal yang lebih sembrono lagi.
Wajah Aldo tanpa penyamaran pun terlihat jelas di sana. Untungnya, Rikka sudah tak sadarkan diri. Sehingga penyamaran pembunuh berantai itu masih belum terbongkar.
"Bagus ... sekarang, apa yang harus kulakukan?"
Dengan posisi bergelantungan sembari memeluk sang istri yang sedang tak sadarkan diri, Aldo pun mulai tampak bingung.
"Kedua sabuk lenganku sudah rusak, dan kedua tanganku tak bisa bergerak! Bagus! Bagus sekali!" cerocos Aldo.
Sepertinya pria berkepala coklat itu sangat kesal dengan kondisinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tangan kiriku sudah jelas tak bisa diandalkan sekarang!" ujar Aldo.
Seperti yang dikatakan Aldo, lengan kirinya kini berfungsi sebagai sarana berpegangan pada tali berwarna perak yang dulu pernah dipakai untuk membunuh Elga. Ternyata tali perak itu juga bisa digunakan untuk bergelantungan. Benar-benar alat yang efisien.
Sedangkan tangan kanannya sedang memeluk Rikka yang sedang terkulai lemas.
"Tapi ... jika aku sedikit saja melepaskan pelukan di tubuh Rikka, sudah pasti dia akan jatuh!"
Nampaknya kali ini Aldo harus pasrah dan menunggu bantuan rekannya datang atau menunggu bantuan polisi yang datang.
"Benar-benar menjengkelkan!" umpat Aldo.
Entah kenapa setelah Aldo mengumpat, angin malah menerpa mereka yang sedang bergelantungan di sana hingga membuat tubuh mereka ikut berayun beberapa kali.
TRRRENG ... TRRRENG ...
Suara mencurigakan sukses membuat Aldo menoleh dan membelalakkan matanya ke atas.
"Oi oi ... yang benar saja!" kata Aldo mulai panik.
Tentu saja Aldo akan panik. Bagaimana tidak, tali berwarna perak yang terbuat dari gulungan timah itu mulai terputus perlahan-lahan.
"Aku akan komplain pada Kawa soal tali ini!"
TREEENG ...
Tali pun akhirnya terputus dengan sempurna.
"AAAAAAAAAAAGGGHH!!!" teriak Aldo histeris.
Dengan indah, pria itu terjun dari ketinggian 30 meter menuju sungai bersama Rikka yang masih tidak sadarkan diri di pelukannya.
BYUUURRR ...
Suara benda yang jatuh ke sungai pun terdengar. Tidak, manusia lebih tepatnya.
Aldo bersyukur karena sungainya cukup dalam. Sehingga mereka tak mengalami benturan di dasar sungai. Karena pada saat terjun, kepala merekalah yang duluan menyentuh air.
Aldo segera menutup hidung dan mulut Rikka menggunakan tangan supaya tidak ada air yang masuk ke saluran pernafasan istrinya. lalu berusaha berenang ke tepian secepat mungkin.
Setelah berhasil keluar dari sungai, Aldo merebahkan tubuh langsing Rikka yang kini sudah basah kuyup di atas rumput.
Setelah itu Aldo juga merebahkan diri tepat di sebelah istrinya yang masih belum juga sadarkan diri.
"Hhah ... hhah ..."
Aldo terdengar seperti orang yang kelelahan.
"Kau tahu, Rikka ... aku tak menyangka kau ak-"
Aldo langsung berhenti berucap setelah menoleh dan menyaksikan tubuh molek istrinya yang tembus pandang akibat basah kuyup.
Dengan paksa, pria berkepala coklat itu mulai menelan ludahnya.
Bra berwarna merah muda yang sedang melekat tepat di dada E-Cup istrinya pun terlihat jelas di mata coklat Aldo.
Sekali lagi ia menelan ludahnya dengan paksa. Kemungkinan Aldo sedang memikirkan hal jorok di sana. Itu tampak dari wajah maskulinnya yang tiba-tiba mengeluarkan seringaian.
Tapi Aldo segera menepis pikiran itu dengan cara menggelengkan kepala coklatnya beberapa kali.
"Sekarang apa yang harus kulakukan?"
Aldo duduk setelah mengucapkan kalimat tersebut. Lalu bergerak menghampiri Rikka yang masih pingsan di sebelahnya.
"Mungkin benturan tadi terlalu keras untuknya," ucap Aldo sedikit khawatir.
Tak lama kemudian, Aldo menggendong tubuh langsing istrinya ala bridal style dan berjalan menuju jalan raya yang tampak sangat sepi.
Tapi sepertinya dewi fortuna belum meninggalkan sisi Aldo. Karena tiba-tiba taksi lewat dan berhenti tepat di depannya setelah ia memberhentikan kendaraan roda empat tersebut.
Supir taksi terlihat bingung melihat sosok Aldo yang sedang menggendong seseorang. Tapi, tanpa banyak kata, supir tersebut segera menjalankan mobilnya menuju tempat yang Aldo perintahkan.
Butuh waktu setengah jam untuk mereka sampai di tempat tujuan. Dan tempat tujuan mereka adalah kantor polisi. Atau bisa dibilang, kantor tempat Rikka bekerja.
Untungnya, Kantor pusat Badan Intelijen Kepolisian itu sangat sepi pada malam hari. Jadi Aldo tidak terlalu banyak mendapat masalah di sana.
Tapi Aldo juga harus berhati-hati. Karena masih ada beberapa penjaga dan CCTV yang sedang memantau.
Tak lupa dengan topeng cadangan yang sudah ia kenakan, Aldo berhasil melumpuhkan penjagaan tersebut. CCTV juga berhasil dirusaknya menggunakan pistol kedap suara.
Lalu ia kembali menggendong tubuh Rikka yang sebelumnya di letakkan di balik sebuah dinding saat pembunuh berantai itu melumpuhkan penjaga dan CCTV pemantau.
Tak membutuhkan waktu lama hingga Aldo masuk ke dalam gedung tersebut, karena penjagaannya tidak seketat yang ia kira. Hanya saja, ia harus benar-benar merusak CCTV yang ada di sana untuk menghilangkan jejak.
Aldo melihat sebuah sofa, lalu menghampirinya dan mulai merebahkan tubuh Rikka dengan rapi.
Tapi sayang, sesaat setelah ia ingin beranjak meninggalkan tempat itu, seseorang sudah mengacungkan pistol ke arahnya dalam jarak yang cukup dekat. Yaitu sekitar dua meter.
"Aku tak menyangka kau berani masuk ke sarang musuhmu?" desis seorang wanita bermata sayu.
Aldo sedikit terkejut. Tapi ia malah tersenyum di balik topeng penyamarannya tanpa bergerak sedikit pun.
"Aku hanya sedang melihat-lihat," jawab Aldo asal.
Wanita bermata sayu yang memiliki nama Shasha itu mengangkat alisnya sebelah.
"Benarkah?" ujarnya.
"Seperti yang kau lihat!"
"Apa yang telah kau lakukan pada, Bu Rikka?" tanya Shasha masih mengacungkan pistol.
"Aku hanya mengantarnya pulang," Aldo menjawab.
"Apa maksudmu?"
Aldo tampak mendengus malas karena harus menjawab pertanyaan Shasha yang menurutnya tidak penting.
"Aku tak tahu dimana rumahnya, yang kutahu hanya tempat dia bekerja!" jawab Aldo berbohong.
"Lalu kenapa dia terlihat basah?"
Aldo menyeringai, tapi tidak berniat untuk menjawab pertanyaan wanita bermata sayu tersebut.
"Jawab aku!" seru Shasha mulai kesal.
Aldo menghela nafas. "Tadi aku tidak sengaja melihatnya sedang berenang di sungai, lalu dia mengajakku berenang ... ya karena sepertinya menarik, aku juga ikut berenang di sana ... tapi dia malah pingsan saat kami sedang asyik berenang."
Aldo malah menjawab dengan sebuah karangan bebas yang sukses membuat Shasha cengo di tempat.
Setelah mendengar penuturan sang pembunuh berantai, Shasha mulai mengarahkan sebuah walkie talkie ke mulutnya sembari tetap mengacungkan pistol ke arah Aldo.
"Hey, lebih baik kau hentikan itu kalau tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi." Aldo mengancam dengan nada yang dingin.
Sepertinya pembunuh berantai itu mengetahui apa yang ingin dilakukan oleh Shasha.
Shasha mengernyit. "Kau mengancamku?"
"Aku tak ada urusan dengan kalian. Kalian juga bukan target pembunuhanku. Jadi ... biarkan aku pergi dari sini setelah melakukan perbuatan terpuji pada atasanmu!" jelas Aldo sambil menunjuk Rikka menggunakan jempolnya.
Shasha semakin menajamkan matanya masih dengan pose yang sama.
"Kenapa kau tidak langsung menghabisi kami yang hanya berdua?"
Aldo kembali menghela nafasnya malas.
"Berapa kali harus kukatakan ... kalian bukanlah targetku, Nona bermata sayu yang cantik!"
Sejenak, hanya untuk sejenak saja, Shasha tersipu dengan ucapan terakhir Aldo yang terkesan memuji.
Melihat hal itu, Aldo menyeringai sambil perlahan berjalan ke arah Shasha.
"Jangan bergerak!" perintah Shasha.
Aldo masih berjalan dengan seringaian di balik topengnya tanpa memperdulikan peringatan sang wanita bermata sayu.
"Kurasa matamu yang sayu itu, termasuk salah satu daya tarikmu, ya?" ujar Aldo menggoda.
Bukannya segera menembak, rona merah di wajah Shasha malah semakin menampakkan diri. Mungkin jantungnya sedang berdetak kencang sekarang.
"Ahahahaha ..." Aldo tertawa setelah berada tepat di sebelah Shasha.
"Kenapa kau tertawa?β
Wajah Shasha yang tadinya tersipu, tiba-tiba berubah panik dan tak bisa bergerak sama sekali. Keringat dingin juga mulai mengucur deras di dahi mulusnya.
"Tidak perlu panik begitu, aku tak akan melakukan apapun. Dan ..."
Ucapan Aldo membuat Shasha kembali mengernyitkan dahinya karena terdengar menggantung.
" ... terima kasih, Nona cantik bermata sayu!" lanjut Aldo menegaskan.
Setelah itu Aldo pergi dan menghilang di balik kegelapan. Entah kemana pria berkepala coklat itu pergi. Semoga saja ia tidak tersesat di sana.
"Haaaaahhhhh ..."
Shasha menghela nafas lega yang sangat panjang sembari melemaskan tubuhnya dengan cara membungkuk.
Rasanya ia baru saja seperti melewati jembatan tipis yang menyeberangi sebuah lautan api di bawahnya.
"Apa-apaan itu tadi!?" cerocos Shasha.
"Baru kali ini aku dipuji oleh seorang pria selain ayahku!"
Wajahnya kembali mengeluarkan semburat merah yang manis.
"Tapi kenapa harus pembunuh sialan itu yang mengatakannya!" umpat Shasha kesal.
Setelah beberapa saat ia mengumpat akan perlakuan sang pembunuh berantai, Shasha kembali teringat dengan atasannya yang sedang pingsan.
"Benar juga ... Bu Rikka ...!" katanya sembari berlari ke arah Rikka.
Shasha bisa melihat dengan jelas tubuh atasannya yang sedang terbaring di sana. Kemudian dengan sigap ia mencari sebuah benda yang bisa membuat Rikka tersadar.
Benda itu seperti minyak angin aroma terapi. Shasha mendekatkan minyak angin tersebut ke hidung atasannya dan membiarkan pernafasan Rikka menghirup aromanya yang cukup kuat hingga ia tersadar.
Tak lama kemudian, perlahan Rikka membuka kelopak matanya dan mulai tersadar.
Shasha pun tersenyum lega setelah melihat atasannya mulai membuka mata.
"U-uuugghh ..." gumam Rikka.
"Bu Rikka ... apa anda terluka?" tanya Shasha khawatir.
"Dimana aku?"
Rikka bertanya sambil mencoba duduk di sofa.
"Jangan memaksakan diri," kata Shasha.
__ADS_1
"Kepalaku sakit sekali!" keluh Rikka.
Shasha membantu atasannya untuk membenarkan posisi duduknya. Tapi Rikka masih tampak seperti kesakitan. Terutama di bagian kepala.
"Bagaimana kalau kita ke ruangan anda supaya anda bisa lebih rileks?" ujar Shasha menawarkan.
Rikka menjawab dengan anggukan di kepala.
"Baiklah, ayo?"
Setelah mengatakan itu, Shasha membantu Rikka berjalan dengan cara memapahnya.
Di ruangan pribadi Rikka, ia duduk di atas sofa yang sudah tersedia di sana dengan kaki yang diselonjorkan.
"Akan saya buatkan teh hangat," cetus Shasha.
Rikka mengangguk. "Terima kasih."
Shasha segera beranjak dan menyeduh teh hijau untuk atasannya. Sepertinya teh hijau itu salah satu oleh-oleh yang di bawa Rikka dari Jepang.
Selang beberapa menit, Shasha kembali menghampiri Rikka dan memberikan teh hijau tersebut.
"Kau belum pulang?" tanya Rikka sembari meraih secangkir teh.
Shasha menggeleng. "Bagaimana bisa saya pulang jika misi kita belum selesai."
Rikka mulai menyeruput tehnya sambil mendengarkan ucapan Shasha.
"Bagaimana, Bu Rikka?" lanjut Shasha bertanya.
Setelah menikmati beberapa tegukan, Rikka meletakkan minumannya di meja.
"Seperti yang dikatakan oleh Reno Schwart, Thousand Face Reaper ada di sana untuk membunuh Baron Seagate," ungkap Rikka.
Shasha hanya diam dan berusaha menyimak penjelasan atasannya.
"Awalnya kami berhasil mengepungnya di sana ... tapi dia berhasil melarikan diri menggunakan mobil yang sangat cepat ..."
"... dan seperti yang dilaporkan Andro padaku, dia tidak bekerja sendirian!" lanjut Rikka.
Shasha mengernyit. "Jadi dia punya anak buah yang melindunginya?"
"Sepertinya begitu ... saat dia terpojok, ada saja peluru yang melesat entah dari mana dan bisa melumpuhkan pasukan yang aku kerahkan ..."
"... bahkan setelah tim pelacak mencari posisi si penembak, jejaknya sama sekali tidak ditemukan seperti hantu!" balas Rikka kembali menjelaskan.
"Lalu, apa anda tahu nomor polisi mobil yang ia gunakan?" tanya Shasha.
"TFR-GTR ... aku rasa itu bukan seri nomor polisi yang ada di negara ini."
"Benar juga," respon Shasha.
"Aku juga tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya ... yang pasti, dia benar-benar orang yang memiliki talenta ..."
"... tidak hanya membunuh, menyusup, dan bertarung, bahkan caranya mengemudi juga sangat profesional," lanjut Rikka menjelaskan.
"Dan dia berhasil melumpuhkan semua anggota Tim Omega!"
Shasha terbelalak. "Semua!?"
"Tidak hanya itu, Helikopter kepolisian juga berhasil dihancurkannya!"
Shasha semakin terbelalak. "Dihancurkan?"
Rikka mengangguk lagi. "Sebelum aku pingsan, aku hampir saja menangkapnya. Tapi ..."
"Tapi?" Shasha memiringkan kepalanya.
"Dia berhasil melumpuhkanku entah bagaimana caranya."
"Jadi anda pingsan saat anda hampir menangkapnya?"
"Benar ..." balas Rikka mengangguk.
"Ngomong-ngomong, terima kasih karena kau telah menjemputku, Shasha." lanjut Rikka.
"Bukan saya yang menjemput anda," respon Shasha sambil menggeleng.
"Lalu, bagaimana aku bisa sampai di sini?" tanya Rikka bingung.
"Thousand Face Reaper yang mengantar anda!" tegas Shasha.
Rikka terbelalak. "Pembunuh sialan itu?"
Shasha hanya menganggukkan kepala untuk membenarkan.
"Dia juga bilang kalau anda pingsan karena habis berenang bersamanya,"
Shasha menambahkan komentarnya sambil menunjuk tubuh Rikka yang masih lembab akibat terjun ke sungai.
"Berenang?" Rikka mengernyit.
Shasha kembali mengangguk untuk membenarkan.
"Lalu kenapa kau tak menangkapnya?"
"Maafkan saya, Bu Rikka ..."
Shasha mengeluarkan ekspresi menyesal di wajahnya.
"... awalnya saya ingin menangkapnya dan memanggil bantuan dari markas. Tapi dia mengancam akan terjadi sesuatu yang buruk!" lanjutnya menegaskan.
"Bagaimana bisa kau termakan oleh ancaman murahan seperti itu?" komplain Rikka.
"Saya hanya tak ingin dia menggunakan anda sebagai alat untuk melarikan diri!" tegas Shasha lagi.
"Tapi dia tetap melarikan diri, kan?"
"Maafkan saya," sesal Shasha.
Sebenarnya Shasha ingin menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Tapi karena tak mungkin gadis bermata sayu itu mengatakan kalau ia hampir meleleh akibat godaan dari sang pembunuh, jadi mau tak mau ia harus sedikit berbohong.
Rikka menghela nafas. "Ya sudahlah ... lagi pula itu sudah terjadi."
"Sekali lagi maafkan saya, Bu Rikka."
Sepertinya Shasha sangat menyesali perbuatannya yang dengan mudah termakan oleh godaan Aldo. Di dalam hati ia pun mengumpat dirinya sendiri menggunakan segala jenis umpatan yang ada di dunia ini.
"Lalu, bagaimana dia bisa menyusup ke sini?" Rikka bertanya lagi.
"Sepertinya dia berhasil melumpuhkan penjaga dan menghancurkan beberapa CCTV," jawab Shasha.
"Kalau begitu, kuserahkan masalah itu padamu!" perintah Rikka.
Shasha mengangguk. "Siap, Bu Rikka!"
"Tapi aku jadi penasaran ... kenapa dia tidak menghabisiku sewaktu aku pingsan?" lanjut Rikka mulai berasumsi.
"Dia juga bilang begini tadi, 'Aku tidak punya urusan dengan kalian, kalian juga bukan targetku, jadi biarkan aku pergi setelah melakukan perbuatan baik di sini ...'." ungkap Shasha dengan menirukan mimik sang pembunuh.
"Pfftt ..."
Rikka tampak sedang berusaha mati matian menahan tawa ketika melihat penampilan kocak asistennya.
"Kenapa anda tertawa?" tanya Shasha bingung.
"Caramu menirukan pembunuh sialan itu benar-benar lucu!"
Shasha tersenyum. "Terima kasih."
Rikka malah cengo. "Ini bukan pujian!"
"Tapi ..." Rikka mulai berpikir.
"... apa maksud dari ucapannya it- ADUH!!"
Tiba-tiba Rikka memekik sambil memegang kepalanya.
"Anda kenapa, Bu Rikka?"
Shasha mulai panik sembari bergerak cepat menghampiri atasannya.
βKe-Kepalaku sakit sekali!β ucap Rikka meringis.
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" Shasha menawarkan.
Rikka menggeleng. "A-aku rasa aku akan pulang saja."
"Kalau begitu saya akan mengantar anda!"
"Apa kau yakin?"
"Tentu!"
"Baiklah, terima kasih."
"Sama-sama, Bu Rikka."
Setelah itu mereka pun beranjak dari sana menuju mobil kesayangan Rikka di parkiran.
"Tapi aku tidak bisa mengantarmu pulang nanti," ucap Rikka di perjalanan ke sana.
Shasha mengembangkan senyuman manisnya sembari menggeleng.
"Aku bisa naik taksi nanti!" balasnya.
ββ
Sementara itu di rumah Aldo, pria berkepala coklat itu tampak sedang masuk ke dalam rumah setelah membuka pintu utama rumahnya.
Dengan penyamaran yang sudah dihilangkan, ia berjalan di lorong rumah dengan santainya.
"Selamat datang di rumah, Kak Aldo."
Dengan ramahnya, Eriya menyambut dan menghampiri kakak laki-lakinya yang baru saja pulang.
Aldo tersenyum lalu mengelus pelan kepala adiknya yang pirang itu.
"Aku pulang, Eriya ... dimana yang lain?"
"Mereka sudah tidur di kamarnya," jawab Eriya.
Aldo berjalan ke dapur dan mengambil minuman botol dari dalam kulkas lalu menenggaknya seperti orang yang sangat kehausan. Sedangkan Eriya malah mengikutinya seperti anak ayam.
"Kenapa kau belum tidur?"
Aldo bertanya pada adiknya sembari melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul 11:30 p.m.
"Aku menunggu kalian berdua pulang ... tapi Kak Rikka sepertinya lebih terlambat dari pada Kak Aldo." balas Eriya.
Aldo kembali tersenyum sembari berjalan ke arah ruang keluarga. Eriya masih mengikutinya.
"Sebentar lagi juga dia akan pulang!" cetus Aldo.
"Benarkah?"
TING .. TONG ...
Bel rumah pun mulai bernyanyi.
"Benar, kan?" ucap Aldo.
Eriya hanya mengangguk dengan senyuman.
Mereka berdua beranjak menghampiri pintu untuk menyambut Rikka yang baru saja datang.
"Aku pulang!" ucap Rikka.
βPermisi~β salam Shasha.
"Selamat datang," sambut Eriya.
Sedangkan Aldo hanya diam dengan dahi yang dikerutkan.
"Silahkan masuk," ucapnya setelah itu.
"Tidak usah repot-repot ... saya cuma mengantarkan Bu Rikka saja," ungkap Shasha.
Aldo kembali mengernyit. "Mengantar?"
"Kepalaku sedikit pusing setelah bekerja lembur tadi. Jadi, aku minta Shasha mengantarku sampai ke rumah," jelas Rikka pada suaminya.
"Kalau begitu, terima kasih!" ucap Aldo.
__ADS_1
"Aldo, kau bisa mengantarnya pula-"
BRUKK ...
Rikka terjatuh di lantai tepat di ambang pintu sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Kak Rikka!" pekik Eriya.
"Bu Rikka!" Shasha juga tak mau kalah.
Sedangkan Aldo malah kembali mengkerutkan dahinya.
Setelah itu Aldo berusaha menggendong istrinya. Dan pada saat yang sama, pria berkepala coklat itu merasakan panas yang berasal dari tubuh Rikka.
"Tinggi sekali demamnya?"
"Benar!" kata Eriya yang ikut mengecek suhu tubuh kakak perempuannya.
"Eriya, cepat siapkan kompres dan obat-obatan!" perintah Aldo.
"Baik!"
"Kau ..." kata Aldo sambil menatap wanita bermata sayu.
"... ikut aku ke dalam!" lanjutnya memberi perintah.
"Ba-baik," jawab Shasha bingung harus berbuat apa.
Tak lama kemudian, Rikka pun sudah berada di dalam kamar dengan pakaian yang sudah diganti. Kompres juga sudah di letakkan tepat di dahinya. Dan semua itu di lakukan oleh Eriya dengan cekatan.
Kini Eriya sedang menemani Rikka yang sedang terbaring di atas tempat tidur sambil menggenggam tangan mulus kakak perempuannya itu.
Wajah gadis bermata emerald itu sangat khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan kakaknya. Apa lagi setelah ia menyadari sebuah benjolan yang ada di kepala Rikka tepat di ubun-ubun.
Tapi apa mau di kata, Rikka sudah tak sadarkan diri. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa agar sang wanita berkepala indigo tidak kenapa-kenapa.
Sementara Aldo, pria berkepala coklat itu sedang berada di ruang tamu bersama wanita bermata sayu yang bernama Shasha. Tak lupa dua cangkir teh hangat juga ikut menemani mereka di sana.
"Apa yang terjadi padanya?" Aldo mulai bertanya.
Shasha tampak menundukkan kepala, seperti merasa takut akan intimidasi dari sang lawan bicara.
"Di-dia terjatuh di tangga saat sedang bekerja," cetus Shasha berbohong.
"Apa yang dia lakukan, sampai bisa terjatuh seperti itu?" tanya Aldo lagi.
"Hari ini kami sangat sibuk, hingga membuat Bu Rikka harus ikut turun tangan untuk menyelesaikan pekerjaan."
"Lalu?" Aldo kembali bertanya.
"Saat ia ingin kembali ke ruang kerja, dia terpeleset di tangga dan jatuh ke bawah setelah berguling beberapa kali."
"Kalian sudah ke rumah sakit?"
Shasha menggeleng. "Bu Rikka menolak tawaran saya."
"Bagaimana kalau ada yang patah?" ucap Aldo.
Shasha menggeleng kembali. "Saya rasa tidak."
"Dari mana kau tahu?"
Aldo terus melemparkan pertanyaan yang sepertinya tidak diperlukan. Tapi ia juga harus sedikit beracting sebagai suami yang perhatian di sana.
"Dokter pribadi direktur datang untuk mendiagnosa Bu Rikka, dan hasil diagnosanya mengatakan bahwa Bu Rikka hanya akan merasa sedikit pusing akibat hempasan yang ia alami."
Aldo bingung harus tertawa atau merasa takjub. Bagaimana tidak, penuturan Shasha tentang kebohongan mereka sangat sempurna tanpa cacat. Hingga membuat pria berkacamata itu tak tahu harus berkata apa lagi.
"Begitu, ya ..." gumam Aldo.
"Ada lagi yang ingin anda tanyakan Pak Aldo?" tanya Shasha.
"Aku belum punya anak dari Rikka!" balasnya.
"Kak Aldo?"
Shasha sepertinya sedang berusaha mengkoreksi panggilan yang tepat untuk diucapkan ke Aldo.
"Aku bukan kakakmu!"
"Aldo?"
"Itu terdengar keren!" balas Aldo sambil menunjuk wanita bermata sayu.
Shasha hanya bisa cengo melihat tingkah suami atasannya yang seperti tanpa beban itu.
"Terima kasih karena sudah repot-repot mengantar istriku pulang."
Shasha menggeleng. "Tidak masalah, ini juga salah satu tugas saya sebagai asisten."
"Kalau begitu menginaplah di sini malam ini," Aldo menawarkan.
"Eeeh ...?" Shasha tampak bingung.
"Kenapa?" tanya Aldo heran.
"Me-menginap?"
Aldo mengangguk. "Iya, menginap!"
"Uummm ..."
Sepertinya Shasha bingung harus berkata apa.
"Memangnya ada masalah?" tanya Aldo memastikan.
"A-aku tak pernah menginap di rumah seorang pria," ungkap Shasha malu-malu.
Aldo sweatdrop. "Tapi atasanmu itu seorang wanita, kan?"
Sontak wajah Shasha memerah seperti kepiting rebus yang baru saja dimasak.
"Be-benar juga ... ehehe ... ehehehe ..."
Aldo masih cengo melihat tingkah aneh asisten istrinya.
Setelah menyuruh Shasha menginap, Aldo masuk ke dalam kamar untuk melihat istrinya.
"Bagaimana keadaannya, Eriya?"
Eriya menoleh. "Nafasnya sudah stabil, mungkin besok demamnya sudah turun. Tapi ..."
Aldo menghela nafas setelah mendengar adik angkatnya itu menjeda sebuah kalimat.
"Jangan bilang kalau ada masalah yang lebih serius?"
"Aku tak tahu ini serius atau tidak ... tapi ada benjolan di kepala Kak Rikka!" Eriya menegaskan.
Aldo sedikit tersentak lalu bergerak cepat ke atas tempat tidur sebelum duduk tepat di sebalah Rikka yang sedang berbaring.
"Benjolan apa ini?"
Aldo mengernyitkan dahi setelah meraba kepala istrinya tepat di ubun-ubun.
Eriya menggeleng. "Aku pun tidak tahu. Aku juga baru mengetahuinya saat membersihkan tubuh kak Rikka tadi."
Kemudian Aldo berusaha mengingat seluruh kronologi yang terjadi sebelumnya dengan pose ala detektif yang sedang berpikir.
Lalu ekspresi Aldo berubah setelah terbersit sesuatu di benaknya.
"Aku rasa ini salahku," lirih Aldo.
"Salah Kak Aldo?" Eriya bertanya.
Aldo hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Aku menghantam kepalanya."
"Memukul kepala Kak Rikka?!"
Aldo kembali menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.
"Kenapa kakak memukulnya?"
"Karena dia terlalu sembrono ..." jawab Aldo masih lirih.
"Dengan apa Kakak memukulnya?"
"Dengan kepalaku!" cetus Aldo.
"Eeh?" Eriya cengo seketika.
"Maksudnya?" lanjut Eriya bertanya.
"Apa kau pernah melompat dari ketinggian tiga puluh meter tanpa pengaman?" Aldo malah balik bertanya.
"Te-tentu saja tidak!"
"Itulah yang ingin dia lakukan sebelum pingsan!" Aldo menegaskan.
"Jadi kakak memukul kepala Kak Rikka supaya dia tidak jadi melompat?"
Aldo mengangguk. "Kau boleh mengatakannya seperti itu!"
Detik itu juga Eriya menepuk jidatnya sekeras mungkin menggunakan telapak tangan.
"Kau juga ingin seperti Rikka?" tanya Aldo polos.
"Ti-tidak."
Suasana hening sejenak. Tampak di sana Eriya masih setia menggenggam tangan kakak perempuannya.
Sementara Aldo tampak sesekali mengelus kepala benjol Rikka saat ia sedang berkutat dengan ponselnya. Sepertinya pembunuh berantai itu sedang berinteraksi dengan rekan satu timnya menggunakan chat pribadi.
"Kak Aldo ..." panggil Eriya.
"Ya?" sahut Aldo masih berkutat dengan ponselnya.
"Inilah yang kutakutkan ..." lirih Eriya.
Mendengar hal itu, Aldo langsung menghentikan aktivitasnya di smartphone.
Aldo menghela nafas "Tenanglah, tidak ada yang perlu ditakutkan. Rikka begini karena kecerobohannya sendiri."
"Tapi ..." ucap Eria.
"Hilangkan rasa khawatirmu. Aku tahu, kau begini karena kau menyayangi kami berdua ... tapi ini sudah menjadi risiko untuk kami ..."
"... jadi kumohon padamu. Percayalah pada kami berdua, ok?" jelas Aldo meyakinkan.
"Kakak janji? Janji akan selalu menjaga kak Rikka?" Eriya memastikan.
Aldo tersenyum "Tentu saja ... kalau tidak, Rikka pasti sudah tenggelam di sungai."
"Lagi pula, tidak hanya Rikka, tapi kalian berempat akan selalu kujaga apa pun yang terjadi!" tegas Aldo
"Terima kasih!" balas Eriya dengan senyuman manis andalannya.
"Oh iya ... bisa kau beritahu dimana letak kamar mandi pada wanita kepolisian itu?"
Sepertinya Aldo telah melupakan sosok Shasha yang masih ada di rumahnya.
"Maksudnya, Kak Shasha?"
Aldo mengangguk. "Benar ... dia akan menginap di sini malam ini. Jadi, kuserahkan dia padamu!"
"Ok,"
"Dan setelah itu, kau pergilah tidur!"
"Baik, kak Aldo!"
"Terima kasih!"
Setelah itu Eriya hanya tersenyum menanggapi Aldo sebelum keluar dari kamar tersebut.
Ketika di dalam kamar benar-benar tinggal dia dan sang istri saja, pria berkepala coklat itu mengecup kepala indigo Rikka sebelum berbaring di sebelahnya.
-----
Jangan lupa LIKE, VOTE DAN COMMENT ya
Thank you...πππ
__ADS_1