
"... Okay, aku sudah mengirim semua datanya ke e-mail Goblin's ... baik ... terima kasih!"
Terdengar suara baritone pria sedang berbincang melalui telepon sebelum memutuskan sambungannya.
Pria itu berkulit putih agak pucat, rambut panjang sebahu ala Tao Ming Tse, memiliki bola mata hitam kelabu, dan tinggi badan kurang lebih 175 cm.
Pria itu bernama Taka. Seorang maniak komputer, atau bisa dibilang dia adalah seorang programmer handal yang tak pernah diketahui jejaknya setelah melakukan sebuah tindakan, baik itu tindakan terpuji maupun tindakan kriminal, melalui jaringan internet.
Jaringan internet sudah seperti taman bermain untuknya. Di mana pun dan kapan pun, pria gondrong itu pasti selalu terlihat sedang memegang gadget untuk berseluncur di jejaringan internet. Baik itu bermain game ataupun melakukan pekerjaannya.
Intinya, pria programmer tersebut tidak bisa hidup tanpa adanya internet. Begitulah kira-kira penjelasan yang cocok untuk Taka.
Sama seperti yang ia lakukan sekarang, pria beriris kelabu itu sedang berjalan di sebuah taman universitas ternama di kota tempat ia tinggal sambil membawa ransel dengan mata yang tertuju pada gadgetnya. Dan sudah pasti, isi ransel tersebut adalah beberapa alat elektronik seperti laptop dan benda serupa lainnya.
Pria itu menoleh ke sana kemari, lalu berjalan ke arah sebuah set meja permanen yang diletakkan di taman tersebut. Sesampainya di sana, pria itu duduk dan mulai mengeluarkan laptop dari ransel hitamnya, kemudian menyalakan benda elektronik itu sambil kembali memperhatikan gadget.
Sembari duduk, Taka melihat arloji di pergelangan tangannya sebelum mendengus malas.
"Sudah jam 11 siang ... kira-kira jam berapa mata kuliah Myra selesai, ya?" gumamnya.
"Bahkan telepon dan pesan dariku tidak dibalas," gumamnya lagi.
Mata kelabu pria gondrong itu melihat layar laptop yang telah selesai booting. Lalu ia mulai berkutat dengan serius bersama benda elektronik kesayangannya itu.
"Sudahlah ... aku akan menunggu di sini saja sampai dia selesai," ucapnya enteng.
Beralih ke tempat seorang gadis berparas cantik yang memiliki hidung mancung, mata lebar berwarna hazel tapi dominan kecokelat. Bisa dibilang hampir mirip seperti mata milik Aldo namun dengan kecerahan yang lebih.
Kulit kuning langsatnya juga sangat menggoda, apa lagi dengan gaya berpakaiannya yang sangat khas milik anak remaja. Padahal umurnya kurang lebih sudah 20 tahun.
Gadis itu adalah Myra, gadis berambut hitam pekat panjang yang sekarang sudah ditata dengan model ponytail. Dan tak lupa, dia juga salah satu anggota dari Goblin's.
Gadis itu memiliki kemampuan unik. Yaitu martial art atau bisa dibilang ahli bela diri. Setiap kali ada turnamen di kota tempat dia tinggal, gadis beriris hazel itu pasti akan selalu mengikutinya.
Dan kini, sepertinya gadis itu masih berada di dalam kelas. Padahal mata kuliah sudah selesai. Wajahnya tampak bosan, mungkin karena salah satu mata kuliah yang baru diikutinya itu terasa sangat membosankan.
Atau bisa jadi, karena gadis itu sama sekali tidak mengerti dengan materi yang sudah disampaikan oleh dosen pembimbingnya.
"Myra, sebelum pulang, bagaimana kalau kita nongkrong di taman sambil minum kopi?"
Salah seorang gadis berambut gonjes mengenakan pakaian casual berwarna kuning yang duduk di sebelah kiri Myra mengajaknya untuk bersantai di taman universitas tersebut.
Myra tersenyum lalu memberikan anggukan untuk mengindahkan ajakan dari teman sekelasnya.
"Baiklah."
"Kuharap penjual kopi di kantin sudah menyediakan roti kesukaanku."
Seorang gadis berambut panjang yang mengenakan bando di sebelah kanan Myra tampak sedang berdoa sambil menyatukan kedua tangannya.
"Kalau begitu, ayo bergegas?" ajak Myra.
"Ayo!" balas kedua temannya serentak.
Setelah membeli minuman berupa kopi dan cemilan lainnya, trio gadis remaja itu segera beranjak ke taman kampus.
Sembari berjalan, terkadang mereka tertawa, terkadang diam, bahkan terkadang menunjukkan ekspresi antusias.
Tak lama setelah itu, mereka bertiga pun sampai di taman dan mulai mencari tempat duduk di sana. Tapi sayang, di waktu pagi menjelang siang seperti itu, sudah banyak mahasiswa lain yang sudah mengisinya.
Trio gadis remaja itu berkeliling sekali, kemudian melihat ada set meja kosong di sebelah pria berkemeja putih yang sedang berkutat dengan laptopnya.
Dengan senyuman yang mengembang, mereka menghampiri set meja permanen yang terbuat dari kayu jati tersebut.
"Kalian tahu, aku benar-benar tidak mengerti dengan materi yang di sampaikan dosen tadi!"
Gadis yang memakai bando memulai percakapan dengan topik materi mata kuliah sambil duduk di atas bangku.
"Bukan kau saja, Aku juga begitu! Cara dosen itu menjelaskan membuatku ingin tidur!" cerocos gadis baju kuning ikut duduk.
"Aku kira, hanya aku saja yang merasakan hal itu," Myra ikut menimpali sambil duduk.
Tapi, ujung iris hazel milik Myra tak sengaja menangkap sosok yang sangat familiar di matanya. Bahkan, gadis ahli bela diri itu sampai dua kali menoleh ke arah sosok tersebut sebelum mengernyitkan dahi.
"Tch ... apa yang kau lakukan di sini, Taka?"
Myra mendecak kesal setelah melihat sosok familiar itu adalah rekan satu timnya yang bernama Taka.
Taka menoleh. "Apa-apaan dengan 'tchβ mu itu!?"
"Aku tanya, sedang apa kau di kampusku?!" ucap Myra.
"Tentu saja aku menunggumu!" balas Taka tampak kesal.
Myra mengernyit sekali lagi, sepertinya gadis berponytail itu sama sekali tidak mengerti maksud dari rekan gondrongnya itu.
"Menungguku?"
Taka mengangguk, lalu menoleh ke minuman yang di pegang oleh Myra. Dan pada saat yang bersamaan, pria gondrong itu menyambar minuman kopi yang sepertinya berjenis capuccino blend dari tangan gadis berhidung mancung tersebut.
"Sruuutt ... aahhh ... terima kasih minumannya."
Dengan entengnya Taka menyeruput kopi milik Myra sebelum meletakkan wadah berbentuk gelas yang terbuat dari plastik di sebelah laptopnya. Kemudian kembali berkutat dengan benda elektronik tersebut.
"Berani sekali kau merampas minumanku?" desis Myra dengan tatapan horor.
"Bukannya ini kau belikan untukku?" balas Taka polos tanpa menoleh.
"Siapa yang bilang aku membelikannya untukmu?"
Masih dengan tatapan horor, Myra berdiri dan menghampiri Taka yang sedang asyik dengan laptopnya.
"Kembalikan ..." desis Myra lagi.
Taka hanya diam tanpa menoleh ke arah rekan satu timnya yang berjuluk Princess Violent tersebut.
Tak mendapat jawaban dari pria gondrong, Myra pun semakin kesal.
KREK ... KREK ...
Suara tulang sendi yang di renggangkan terdengar dari jari-jari lentik Myra.
Sesaat setelah Taka menoleh, bogeman mentah sudah mendarat di pipi pucatnya dengan sempurna.
Alhasil, Taka si pria gondrong terbang sejauh 5 meter dari tempatnya duduk ke arah tanaman hias.
Gadis baju kuning dan gadis bando yang tak lain adalah teman Myra di kampus hanya bisa menghela nafas dengan arti yang sulit di utarakan dengan kata-kata.
"Dan untuk yang ke sekian kalinya, Myra berhasil menerbangkan seorang cowok keren!" celetuk gadis bando.
Gadis baju kuning mengangguk ikut menyetujui.
"Keren? Aku lebih setuju jika kalian menyebutnya bodoh!"
Myra mencibir sambil menyambar kembali minuman yang di rampas Taka barusan. Lalu menyeruputnya menggunakan sedotan yang sama.
Gadis baju kuning tersenyum. "Kau pacarnya?"
Dengan lugu Myra menggelengkan kepalanya beberapa kali, sehingga membuat ponytail itu ikut berayun.
"Tidak," jawabnya enteng.
"Lalu kenapa kau minum dari tempat yang sama?"
Gadis bando bertanya sambil menunjuk minuman yang sedang di genggam oleh Myra.
Myra tampak bingung, lalu melihat gelas plastik yang ada di tangannya.
"Memangnya kenapa?"
Kedua teman Myra cengo dengan mulut yang menganga. Mereka seakan tak percaya dengan ketidakpekaan sang gadis bermata Hazel itu.
"Dari sekian banyaknya pria yang sudah kau kencani ... aku masih tidak percaya kau bisa tidak sepeka ini!" ucap gadis bando sampil menepuk jidatnya.
"Maksu-"
"GADIS BADAK!!! KENAPA KAU MEMUKULKU!!!???"
Ketika Myra ingin bertanya pada teman kampusnya, jeritan Taka sudah menggelegar di seluruh taman.
"Ba-badak?" ucap kedua teman Myra serentak.
Sepertinya mereka tampak sedang berusaha menahan tawa agar Myra tidak tersinggung.
Myra tersenyum kecut sembari menutup kedua kelopak mata lentiknya dengan alis yang terus berkedut.
"APA KAU BILANG!!??" jerit Myra tak terima.
"BA~DAK!!" balas Taka kesal.
Myra melompat, menerjang, dan kembali meluncurkan bogemannya ke wajah Taka. Tapi kali ini, pria itu berhasil menghindar layaknya seorang akrobat.
"Aku tak akan jatuh ke lubang yang sama!" cerocosnya.
"Tarik ucapanmu tadi!" seru Myra.
"Yang mana? Tentang badak?" tanya Taka polos.
"Yang mana lagi ...!?" desis Myra mulai geram.
"Tidak akan ...!" desis Taka tak mau kalah.
"TAKAA ..."
Myra menggeram seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya.
"Sialan ... sepertinya aku sudah membangunkan badak yang sedang tidur," gumam Taka menggunakan istilah aneh.
Taka menelan ludah secara paksa setelah melihat sosok Myra yang sudah di selimuti oleh kegelapan abadi.
TULULUT ... TULULUT ...
Suara ponsel Taka berbunyi di saku celana jeansnya.
"Tahan, Myra!"
Taka menghentikan aksi Myra yang sudah bersiap untuk melakukan terjangan ke arahnya.
Myra hanya bisa mengedip-kedipkan matanya dengan kuda-kuda yang terlihat amat sangat kokoh.
"Sekarang? ... baik ... aku akan segera ke sana ..."
Ekspresi Taka tampak sangat serius ketika sedang berbicara melalui sambungan telepon. Melihat itu, Myra mengernyitkan dahinya.
"Myra ... sudah tak ada waktu, ayo berangkat!"
Taka memberikan penjelasan ambigu pada rekan satu timnya, sembari membereskan semua peralatan elektronik di atas meja.
"Ke mana?" tanya Myra masih dengan dahi yang berkerut.
Taka mengernyit. "Jangan bilang kau lupa?"
"Lupa apa?" tanya Myra lagi dengan kepala yang dimiringkan.
"Astaga ..."
Taka menepuk jidatnya dengan keras setelah mendengar jawaban dari Myra.
"Akan kujelaskan di jalan, Ayo ..." kata Taka.
Setelah membereskan semua alat perangnya, Taka menarik lengan Myra yang masih terbengong heran.
"Maaf Nona-Nona, aku pinjam sebentar teman kalian!" sambung Taka berpamitan sebelum beranjak dari sana.
"Silakan ..." balas gadis bando.
"Selamat berkencan ..." ucap gadis baju kuning sambil melambai.
Tanpa bisa berkomentar, Myra hanya pasrah dengan aksi Taka yang menarik lengannya sambil berlari.
VROOM ... VROOOOM ...
Kini, mereka sedang duduk bersebelahan di dalam mobil dengan Taka yang menjadi pengemudinya.
"Taka, kenapa kau tiba-tiba mengajakku pergi?" tanya Myra sambil melihat Taka yang sedang mengemudi.
Taka melirik. "Kau lupa, hari ini kita akan menjalankan misi pengalihan?"
"Memangnya hari ini?" tanya Myra memastikan.
__ADS_1
Taka menghela nafas pasrah. "Coba lihat ponselmu!"
Myra mengernyit, tapi tetap melakukan apa yang diminta oleh rekan gondrongnya, lalu sedikit melebarkan kelopak matanya karena terkejut.
"Maaf ... aku tidak membaca pesanmu tadi," balas Myra.
"Sudah kuduga!" cibir Taka.
"Baiklah ... bisa kau jelaskan misi kita?" ujar Myra.
Taka mengangguk. "Misi kita kali ini cukup mudah. Yaitu meledakkan sebuah server jaringan di salah satu gedung milik Organisasi Revolusi."
"Kalau begitu, serahkan padaku!" seru Myra.
"Tapi ini berisiko!" tegas Taka
"Berisiko? Bukankah misi kita selama ini berisiko?"
Sepertinya Myra tidak mengerti maksud Taka yang barusan.
Taka menghela nafas. "Aku tak bisa membobol sistem inti software gedung itu! Jangankan inti softwarenya, CCTV-nya saja tidak bisa kuretas!"
"Kenapa?" balas Myra bertanya.
"Sepertinya mereka memiliki ahli software sekaliberku!" tegas Taka.
"Bagiku, hanya kau saja programmer terhebat yang ada di dunia ini," cetus Myra.
Taka tersipu setelah mendengar penuturan Myra yang terkesan memuji.
"Ka-kalau kau bandingkan dengan manusia biasa, mungkin jawabannya benar."
Sepertinya Taka jadi tergagap akibat pujian dari Myra yang barusan.
"Maksudmu?" Myra tampak bingung.
"Selain aku, masih ada satu orang lagi yang bisa melakukan proteksi gila seperti ini ..." jawab Taka.
Myra kembali mengernyit. "Siapa?"
"Bianca Wilona ..." lanjut Taka.
"Bianca? Wanita dari Organisasi Revolusi itu?" Myra bertanya.
Taka mengangguk lagi. "Benar ... salah satu petinggi Organisasi Revolusi yang bertanggung jawab atas segala informasi maupun pendataan terhadap siklus pergerakan mereka ..."
"... dia juga seorang programmer gila sepertiku. Dan kalau tidak salah, julukan dia adalah, Lady Proxy!" lanjut Taka.
"Apa benar sehebat yang kau katakan, wanita bernama Bianca itu?" tanya Myra.
"Sebenarnya, aku bisa membobolnya secara paksa. Tapi itu akan membuat posisi kita jadi semakin rumit," jelas Taka.
Myra hanya memandang dengan tatapan polos seperti anak kecil ke arah rekan gondrongnya.
Lagi-lagi Taka menghela nafas akibat ekspresi Myra yang tampak tidak mengerti dengan semua penjelasannya.
"Jika diibaratkan dengan teknik bela diri ... Maka, pada saat aku melakukan serangan ke arah musuh, aku juga akan membuka celah pada pertahananku. Sehingga, musuh bisa membalikkan keadaan dengan memanfaatkan seranganku itu!" ucap Taka menjelaskan.
Ekspresi Myra berubah seketika seolah mengerti.
"Seperti jargonnya Muhammad Ali, 'Float Like Butterfly, Sting Like a Bee'!" balas Myra.
"Benar, aku harus seperti Muhammad Ali ... melayang seperti kupu-kupu untuk mengalihkan perhatian, lalu menyengat seperti lebah ketika ada kesempatan ..." ungkap Taka.
Tiba-tiba Taka membelalakkan matanya entah karena apa. Senyuman yang lebih cenderung ke seringaian itu mengembang di wajah pucatnya.
"MYRA!!" pekik Taka.
"A-apa!" balas Myra membentak karena terkejut.
"Kau jenius!" cetus Taka.
Myra cengo. "Haaaaa?"
"Apa kau bersedia, menjadi kupu-kupu sekaligus lebah di saat yang sama seperti kata Muhammad Ali?"
Taka mengajukan pertanyaan untuk Myra yang masih terbengong di sebelahnya.
"Asal ada kaitannya dengan berkelahi, aku rasa itu tidak masalah!" balas Myra enteng.
Taka kembali menyeringai. "Akan kubuat kau bisa menyengat di sana!".
VROOOM ... VROOOM ...
Taka menambah kecepatan mobilnya di jalan raya dengan suara deru knalpot yang menggema.
ββ
Tampak seorang wanita berparas manis dengan rambut ala ponytail mengenakan setelan jas hitam sedang berjalan masuk ke dalam sebuah gedung yang cukup mewah.
Di dalam gedung itu, tepatnya di dinding di belakang meja resepsionis terdapat tulisan, 'FENRIR CORPS sponsored by : Organization Revolution'.
Wanita bermata sipit itu sempat melirik ke arah tulisan besar tersebut.
"Sepertinya Organisasi Revolusi punya andil besar di sini," gumamnya sambil berjalan.
Wanita bermata sipit itu adalah Myra. Kini, ia sedang menyamar sebagai salah satu pegawai di perusahaan tersebut.
"Seperti kata Taka ... pertama aku harus mencari komputer yang bisa digunakan tanpa menarik perhatian," gumam Myra.
Sepertinya gadis itu sedang mendikte kembali penjelasan Taka tentang rencana mereka.
Gadis bermata hazel itu menoleh ke sana kemari, lalu tersenyum setelah melihat sesuatu yang bisa berguna untuknya. Yaitu tulisan 'I-Net Corner'.
Dengan santai ia melenggang di lobby kantor tersebut seperti rumah sendiri tanpa beban sedikit pun menuju tulisan yang dilihatnya barusan.
Di sana, tepatnya di sudut lobby bertuliskan 'I-Net Corner', terdapat jejeran 5 unit komputer berlayar flat dengan fitur 4k sedang menampilkan rekaman video berkonten demo produk sebuah perusahaan seperti iklan.
Kelihatannya, produk yang berupa alat-alat canggih seperti Smartphone itu adalah produk buatan Fenrir Corps. Itu terbukti dari setiap produk yang di tampilkan terdapat tulisan yang sama seperti di meja resepsionis.
Myra pun duduk di sebuah kursi kosong di depan komputer tersebut, lalu mengoperasikan komputer itu untuk berseluncur di jejaringan internet.
"Kedua, aku harus bisa menghubungkan Flash Disk ini ke sambungan USB komputer," gumamnya lagi.
"Tapi di mana kabelnya?"
Myra mulai mencari kabel USB di sana. Tapi dia tidak bisa menemukannya. Karena, sambungan USB komputer tersebut tidak berupa kabel. Melainkan sudah bersatu secara permanen di layar monitor di samping sebelah kanan.
Gadis Ahli bela diri itu pun mencolokkan Flash Disk berukuran kecil pemberian Taka, lalu menunggu beberapa detik agar sistem bisa mendeteksinya.
Myra mengembangkan senyuman setelah Flash Disk terdeteksi oleh sistem.
"Okay ... lalu, mengoperasikan aplikasi yang sudah dipersiapkan!"
Gadis berponytail itu segera mengoperasikan aplikasi buatan Taka agar pria gondrong itu bisa berbuat sesuka hatinya di Fenrir Corps.
"Okay ... aplikasi berjalan!" gumamnya lagi.
"Myra ..."
Suara Taka terdengar di telinga sebelah kiri Myra yang sedang memakai earphone.
"Ya?" sahut Myra pelan.
"Sesuai dugaan, wanita Bianca itu tak membiarkanku menyelinap masuk tanpa identitas," balas Taka.
Sepertinya tidak semudah yang Taka bayangkan untuk meretas sistem informasi di gedung tersebut.
Myra mengernyit. "Lalu bagaimana?"
"Tunggu ... berkat virus yang kau instal barusan, sepertinya aku bisa meretas CCTV tanpa harus meninggalkan jejak ..." respon Taka.
"Okay ... tetap pada rencana, setelah aku meretas CCTV gedung itu, kau ikuti instruksiku, mengerti?" lanjutnya melalui earphone.
Myra mengangguk. "Okay!"
"Sebentar ..." kata Kawa.
TRETEK ... TRETEK ...
Suara keyboard komputer atau laptop terdengar di earphone milik Myra. Mungkin sekarang pria gondrong bernama Taka itu sedang melakukan aksinya.
Selagi menunggu, gadis martial art tersebut kembali menolehkan kepalanya ke sana kemari seperti mencari sesuatu. Tapi tidak ada hal yang bisa menarik perhatiannya di sana.
"Okay ... Myra, aku berhasil meretas CCTV! Sekarang aku punya mata di sana!" ucap Taka tiba-tiba.
Sangat singkat waktu yang dibutuhkan oleh maniak komputer itu untuk meretas seluruh CCTV di gedung Fenrir Corps. Benar-benar hacker yang sangat berbahaya.
"Benarkah?" tanya Myra.
"Coba lakukan sesuatu, aku pasti bisa menebaknya," kata Taka.
Mendengar permintaan Taka, gadis bermata hazel mencoba melambaikan tangannya.
"Ok, kau sedang melambaikan tangan!" cetus Taka.
"Benar!"
Myra tersenyum setelah rekan gondrongnya bisa menebak dengan mudah apa yang dia lakukan.
"Apa langkah berikutnya?" lanjutnya bertanya.
"Baik, sekarang kau pergilah ke lantai basement menggunakan tangga!" perintah Taka.
"Kenapa tangga?"
Myra tampak bingung dengan perintah Taka. Padahal ada elevator yang lebih memudahkan di dekat sana.
"Kau harus sedikit menyusup. Karena di depan pintu elevator, ada beberapa penjaga yang mengawasi!" tegas Taka.
"Okay, aku mengerti." balas Myra mengangguk.
Tak banyak menunggu lagi, Myra segera beranjak dari sana setelah mencabut Flash Disk yang tadi ia hubungkan dengan komputer.
Perlahan ia berjalan menuju tangga yang ada di ujung lobby, tepatnya sebuah ruangan khusus tangga darurat.
Setelah membuka pintu ruangan, gadis itu langsung menutupnya secara perlahan. Lalu kembali berjalan melalui tangga menuju lantai basement.
Lantai basement sedikit gelap. Tapi lampu-lampu yang bersinar di lantai bisa menjadi panduan untuk berjalan tanpa harus membuat seorang mahasiswi itu kesulitan.
"Taka, Aku sudah berada di lantai basement," ujar Myra.
"Maaf, aku lupa mengatakannya ... target kita ada di dua lantai bawah lagi!" balas Taka.
"Tch ... kenapa kau tidak bilang dari awal!" cibir Myra.
"Maaf ... sekarang kau bisa menggunakan tangga yang ada di tengah ruangan. Karena tangga darurat hanya sampai di situ saja!" ungkap Taka.
"Okay!" balas Myra.
Ahli bela diri itu kembali berjalan menuju tangga yang ada di ruangan sembari melihat sekitar.
"Myra, stop!" perintah Taka tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Myra segera.
"Sembunyi di balik benda berbentuk balok si sebelahmu! Ada penjaga!" ungkap Taka.
Myra segera melirik ke sana kemari sembari mengindahkan perintah taka.
"Jangan bersandar! Benda itu mengalirkan listrik, kau bisa tersetrum!" kata Taka memperingatkan.
"Hampir saja."
Myra menghela nafas lega, karena ia hampir saja melakukan pose ala militer yang sedang menyusup dengan menyandarkan tubuhnya pada benda tersebut.
"Kenapa kau bisa tahu? Apa CCTV itu tembus pandang?" lanjutnya bertanya.
"Aku cuma membayangkannya saja!" jawab Taka.
"Entah kenapa aku jadi merasa seperti kau sedang mengintipku!" celetuk Myra.
"Aku akan mengintipmu saat kau sedang mandi saja!" balas Taka asal.
"Jadi kau sering mengintipku saat aku mandi?!" cerocos Myra.
"Ka-kalau itu ... tidak ... sungguh tidak!"
Sepertinya Taka terjebak dengan ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Dari pada membahas hal itu, lebih baik kau fokus dengan instruksiku!" tegas Taka.
Myra tampak berekspresi aneh dengan dahi yang dikerutkan.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Taka!"
"Ba-baik, kau bisa menginterogasiku nanti!" kata Taka gagap.
"Baiklah ... ngomong-ngomong berapa orang?"
Myra kembali ke inti permasalahan dengan bertanya.
"Dua orang," jawab Taka.
"Posisi?"
Myra kembali bertanya dengan ekspresi serius.
"Jam dua, sedang menghadap ke arah jam delapan!" ungkap Taka.
"Okay ..." desis Myra.
"Aku tahu niatmu, tapi tunggu ..." kata Taka.
"Kenapa?" tanya Myra.
"Aku akan menggeser sedikit titik pandang CCTV yang menghadap ke arahmu!" jelas Taka.
"Okay!" balas Myra.
Setelah itu, Myra bisa melihat dengan jelas dari tempatnya bersembunyi, salah satu CCTV yang menghadap ke arahnya bergeser menghadap ke arah lain secara perlahan.
"Okay, silakan!" ujar Taka.
Setelah mendengar instruksi dari Taka, gadis ahli bela diri itu berjalan menghampiri penjaga di arah jam 2 dari tempatnya berada.
Lalu, dengan kecepatan di atas rata-rata, Myra menyerang kedua penjaga tersebut dengan cara memukul mereka tepat di tepi leher. Alhasil, kedua penjaga itu terbelalak sebelum terkulai lemas di lantai.
"Okay, clear!" ucapnya.
"Bagus, untuk sementara kau sembunyikan tubuh mereka di tempatmu bersembunyi tadi!" perintah Taka.
"Tch ... merepotkan sekali!" decak Myra.
"Ini demi keberhasilan misi," kata Taka.
Mau tak mau Myra harus mengikuti instruksi Taka dengan menyeret tubuh kedua penjaga ke tempat ia bersembunyi sebelumnya.
Selang beberapa menit, Myra kini sudah berada di B2 lantai basement. Ia kembali menolehkan kepalanya ke sana kemari untuk melihat sekitar.
"Okay, titik pandang CCTV sudah berubah, jalanmu clear!" ungkap Taka masih melalui earphone.
Sepertinya Taka kembali beraksi dengan menggeser titik pandang CCTV agar Myra bisa leluasa untuk bergerak tanpa harus terpantau kamera canggih berbentuk seperti persegi panjang tersebut.
Sesuai instruksi, Myra kembali berjalan. Tapi, tiba-tiba ada seorang penjaga yang kebetulan menoleh ke arahnya.
"Siapa di sana!?" teriak penjaga namun tidak terlalu keras.
Sontak Myra segera melompat mundur seperti seorang akrobat menggunakan salah satu teknik bela diri miliknya. Lalu bersembunyi di balik tangga dengan pose bertekuk lutut.
"Tch ..." decak Myra kesal.
"Ada apa?" suara Taka terdengar seperti orang bingung.
"Ada penjaga yang melihatku!" cerocos Myra.
"Kau tinggal melumpuhkannya saja, kan?" balas Taka.
Myra hanya diam dan berusaha membaca situasinya pada saat itu.
"Siapa di sana?"
Penjaga tersebut menghampiri posisi Myra yang sedang bersembunyi di balik tangga. Dengan cekatannya, salah satu pegawai Green Goblin itu bergerak secepat kilat ke belakang penjaga yang kini sudah berada di ujung anak tangga.
BUGH ... DUUNNNGGG ...
Myra menendang lutut bagian belakang penjaga tersebut agar terjatuh, lalu mengantukkan kepala pria penjaga itu ke pegangan tangga yang terbuat dari besi putih sekeras mungkin hingga menghasilkan dengungan.
Tak sampai satu detik, penjaga itu roboh di lantai dengan sedikit benjolan dan darah yang mengalir di kepalanya.
"Dari suara itu, sepertinya seranganmu terasa sangat sakit!" Taka berkomentar.
"Tch ... dari pada berkomentar, lebih baik kau membantuku menyembunyikan tubuh menjengkelkan ini!"
Myra mengocehkan keluhannya kepada Taka melalui earphone.
"Kalau aku ke sana, siapa yang akan memantau misi kita?" balas Taka enteng.
"Tch ..." lagi-lagi Myra mendecak.
"Ayolah ... jangan kesal begitu," bujuk Taka.
"Setelah ini, kau harus mengajakku kencan sebagai kompensasi!" pinta Myra masih kesal.
"Eh?"
Dari suara dan respon Taka melalui earphone, sepertinya pria itu sedang salah tingkah sekarang.
"Kencan! Ajak aku kencan!" tegas Myra.
"Ba-baiklah, a-aku akan mengajakmu kencan," kata Taka terbata.
"Bagus ... bagus ... begitu baru seorang pria namanya!" kata Myra dengan senyuman.
Pria gondrong bernama Taka tak merespon. Entah apa yang dilakukannya sekarang. Tapi Myra tak peduli, gadis itu kembali melanjutkan misinya dan berjalan menuju ke B3 lantai basement.
Berbeda dengan lantai B1 dan B2, lantai B3 tampak sangat futuristik, banyak sekali perangkat elektronik di sana. Lampu berwarna-warni yang dihasilkan oleh perangkat elektronik tampak bersinar seperti lampu diskotik. Jika saja ada musik disko di sana, Myra pasti sudah menari sekarang.
"Entah kenapa, aku sangat iri melihat suasana futuristik di lantai B3!" celetuk Taka.
"Kau bisa memintanya dari Zedd dan leader, kan?" balas Myra.
"Aku ragu leader akan mengizinkannya tanpa memotong gajiku," kata Taka polos.
"Pfftt ..."
Myra berusaha menahan tawa akibat penuturan polos dari rekan gondrongnya.
"Okay, sekarang mari kita cari perangkat servernya," cetus Taka.
"Okay!"
Myra merespon singkat sebelum berjalan menyusuri B3 lantai basement tersebut.
"Perhatikan arah jalanmu, aku sedikit kesulitan mengatur pergerakan titik pandang CCTV dari sini," kata Taka.
"Sulit?" Kata Myra bertanya.
"CCTV di sini lebih banyak dari pada lantai yang ada di atas. Lagi pula, aku tak punya waktu untuk menyelipkan rekaman palsu sebagai pengalihan!" jelas Taka.
"Okay, baiklah!"
Myra memperlambat langkah kakinya dan mulai kembali menyusuri lantai tersebut.
"Setelah tiga meter di depan, kau belok ke arah jam 3. Ada sejumlah perangkat besar berbentuk kotak di sana, coba kau cek selagi aku mengubah titik pandang CCTV yang lainnya," ungkap Taka menjelaskan.
Myra mengangguk. "Roger!"
Setelah mengindahkan instruksi tersebut, perlahan Myra mendekati perangkat-perangkat itu. Melalui mata hazel miliknya, gadis berponytail itu bisa melihat dengan jelas ada 6 buah kotak besar seperti balok berwarna putih yang saling terhubung dengan kabel.
Kabel penghubungnya cukup besar. Tapi Myra sama sekali tidak mengerti apa fungsi kabel tersebut. Lalu ia berkeliling sekali lagi untuk memeriksa sejumlah perangkat itu.
"Taka, sepertinya balok-balok ini adalah perangkat keras servernya," ungkap Myra sambil menyentuh earphone.
"Bagus, sesuai dugaanku ..."
Gumaman Taka terdengar di earphone yang Myra gunakan.
"Sekarang, kau hubungkan tablet yang kuberikan padamu tadi ke salah satu perangkat itu!" lanjutnya.
Myra mengernyit. "Tablet? Tunggu ... di mana aku meletakkan tablet itu? Yang aku ingat hanya Flash Disk saja!"
Myra mulai merogoh setiap kantong yang ada di setelan jas hitam yang ia kenakan.
"Astaga, Myra ... jangan bilang kau menjatuhkannya?"
Suara Taka terdengar seperti orang yang frustasi melalui earphone.
"Taadaaa~! Ini dia~!"
Dengan nada yang sedikit dibuat-buat, Myra membuat pose seperti orang yang sedang memberi kejutan sembari memegang sebuah tablet di tangannya.
"Apanya yang, tadaa~? Aku bahkan tak bisa melihatmu sekarang!" oceh Taka.
Walaupun sedikit mengoceh, Myra bisa mendengar dengan jelas Taka sedang menghela nafas lega melalui earphone.
"Memangnya CCTV-nya rusak? Kenapa kau tidak bisa melihatku?" tanya Myra.
"Bukankah sudah kubilang, aku mengalihkan semua CCTV di ruangan itu ke titik pandang yang lain!" cerocos Taka.
Myra tersenyum. "Oh iya ... maaf!"
"Okay, sekarang hubungkan tablet itu pada salah satu perangkat keras server menggunakan kabel yang sudah kupersiapkan!" Taka kembali memberikan Instruksi.
Myra kembali mengernyit. "Kabel USB yang sedang menempel di tablet ini?"
"Benar! Lebih tepatnya itu adalah Micro B Superspeed!" respon Taka.
"Ke mana aku harus menghubungkannya?" tanya Myra lagi.
"Benda kotak yang kau bilang balok itu sebenarnya sama seperti CPU komputer. Jadi, pasti ada lubang USB di sana jika kau melihatnya dengan teliti ..."
"... tapi hati-hati dengan aliran listriknya!" tegas Taka menjelaskan.
Myra tak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali sembari mencari lubang USB yang dimaksudkan oleh Taka.
"Okay, aku menemukannya!"
Myra tampak mengembangkan senyuman di sana setelah menemukan apa yang dia cari. Yaitu lubang USB untuk menghubungkan tablet pemberian Taka.
"Bagus ... sekarang hubungkan, setelah itu, gunakan penyamaran Thousand Face Reaper untuk menyambut gerombolan petugas yang akan segera datang ..."
"... kau boleh mengamuk sepuasnya di sana!" ungkap Taka kembali menjelaskan.
"ROGER!"
Mendengar penjelasan Taka yang terakhir, Myra benar-benar terlihat sangat bersemangat. Lalu segera mengenakan topeng bentuk kelinci di wajahnya yang masih mengenakan penyamaran wanita bermata sipit.
"Dasar, Battle Junkie!" umpat Taka lirih.
"Aku bisa mendengarmu!" cibir Myra.
TJEENG ... TJEENG ...
Beberapa detik kemudian terdengar suara seperti generator yang tiba-tiba mati secara bersambut.
Pada saat yang sama, semua lampu bersama seluruh perangkat elektronik yang ada di gedung tersebut mati total termasuk CCTV. Hal itu membuat semua pegawai panik dan frustasi karena ada pekerjaan yang tanggung untuk diselesaikan.
TJEEEEENNNNGGGG ....
Beberapa detik setelah itu, terdengar kembali suara yang sama dan membuat semua lampu di sana kembali menyala, termasuk CCTV.
"Okay, Myra! Sekarang menjauhlah dari sana, aku akan mengaktifkan mode Self Destruction di tablet yang ku berikan padamu tadi!" perintah Taka.
"Self destruct?"
Sepertinya Myra bingung maksud dari rekan satu timnya yang bernama Taka itu.
"Benar, aku akan meledakkan keenam perangkat keras server itu," jelas Taka.
Setelah mendengar penjelasan itu, Myra segera berlari ke arah tangga menjauhi perangkat keras server. Tapi pada saat yang sama, sesuai prediksi Taka, di sana sudah ada segerombolan petugas yang juga sedang berlari ke arahnya.
"Penyusup!" seru salah seorang petugas Fenrir Corps.
-----
Tunggu cerita selanjutnya ya..
Jangan lupa LIKE VOTE DAN COMMENT
__ADS_1
Thank you...πππ