Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 21 : Kawa and Zedd ( Part 1 )


__ADS_3

ZRUASH ... ZRUASH ...


Suara ombak terbelah akibat bertabrakan dengan kapal Feri yang sedang melintas di laut lepas.


Tampak di sana ada dua sosok orang dengan fisik yang sangat bertolak belakang sedang berdiri di deck bagian haluan kapal.


Padahal sudah malam dan mereka sedang berada di laut, tapi dua sosok orang itu terlihat hanya mengenakan pakaian casual saja.


"Kau tidak kedinginan dengan baju setipis itu, Zedd?"


Sosok yang satu adalah seorang pria berbadan kekar dengan rambut cepak seperti tentara. Dan pria itu bernama, Zedd.


Ia menggunakan T-Shirt hitam ketat yang memiliki kerah baju berbentuk V dengan bawahan skinny jeans khas pria berwarna biru gelap. Tas Ransel di punggungnya juga setia menemani di sana.


Zedd menggeleng. "Bagaimana denganmu, Kawa? Apa kau kedinginan?"


Sedangkan sosok yang satu lagi adalah seorang gadis dengan tubuh pendek, atau mungil lebih tepatnya, yang memiliki rambut panjang di kucir dua. Dan gadis itu bernama, Kawa.


Sang gadis mungil tampak sedang membawa tas ransel yang cukup besar. Terkadang saat ia berjalan, tas yang terlihat sangat menganggu itu malah membuatnya jadi terlihat semakin imut.


Gadis itu juga menggunakan pakaian casual berupa T-Shirt putih dengan bawahan skinny jeans khas wanita yang memiliki lubang di setiap sisi lututnya. Tapi gadis mungil tersebut menutupi tubuhnya dengan tambahan jaket hoodie berwarna coklat.


"Tidak, jaket ini sudah cukup untuk menghangatkanku!" balas Kawa.


Sepertinya mereka sedang menuju ke suatu tempat yang ada di sebuah pulau. Sehingga mereka harus menggunakan jasa transportasi seperti kapal Feri untuk melewati laut tersebut.


"Zedd, apa tidak masalah membuat Myra dan Taka berpasangan untuk misi pengalihan ini?"


Kawa tampak sedikit ragu dan khawatir dengan fakta bahwa Myra dan Taka akan berpasangan dalam satu tim untuk menjalankan misi.


Zedd kembali menggeleng. "Tidak ... karena aku sudah mengestimasi semua kemampuan dan keterampilan para goblin sebelum membentuk timnya."


"Lalu bagaimana dengan Nana dan Syndi? Kenapa kau tidak membuat mereka berpasangan?" tanya Kawa.


"Nana lebih cocok bekerja sama dengan asistennya, apa lagi misi yang kuberikan padanya berhubungan dengan alkimia," balas Zedd.


"Asisten? maksudmu pelanggan Green Goblin yang selalu menggunakan jaket hoodie itu?" tanya Kawa lagi.


Zedd tersenyum sebelum memberi anggukan kepala pada rekan mungilnya.


"Jadi kau menyadarinya juga?"


Kawa mengangguk. "Tentu saja ... setiap kali pria itu datang, Nana selalu melayani dan ikut berbincang dengannya. Malah aku kira mereka itu berpacaran!"


"Pria itu datang untuk memberikan informasi yang berguna bagi Goblin's," jelas Zedd.


"Begitu ... Apa dia juga mata-mata Goblin's?"


"Bisa dikatakan begitu. Tapi ..."


"Tapi?" Kawa memiringkan kepalanya.


"... dari pada ke Goblin's, aku rasa dia lebih berorientasi ke Nana saja!" tegas Zedd.


"Aku rasa juga begitu, jika dilihat dari cara mereka berinteraksi!"


Sembari berbincang, Zedd tampak mulai menyalakan rokok yang diambil dari saku celana jeansnya sebelum menghembuskan asap ke udara.


"Lalu bagaimana dengan Syndi?"


Kawa kembali bertanya pada rekan satu timnya itu sembari melihat asap putih yang sedang terbang di udara.


Zedd menoleh. "Syndi hanya cocok berpasangan dengan Aldo. Tapi karena leader telah mempercayakan misi ini pada kita, dia meminta padaku untuk bekerja sendirian."


"Apa tidak masalah?"


"Jika itu adalah Syndi, aku rasa tidak akan ada masalah. Lagi pula, misi yang kuberikan pada Syndi memang sangat cocok untuk keterampilannya dalam menyamar."


"Jadi begitu ..."


Setelah itu, Kawa meletakkan tas yang ia bawa di lantai tepat di sebelah kaki mungilnya.


"Apa tasmu berat?" tanya Zedd setelah melihat tas tersebut.


Kawa menggeleng. "Tidak juga."


"Mainan apa yang kau bawa kali ini?" tanya Zedd lagi.


Mendengar pertanyaan Zedd, gadis mungil itu pun tersenyum lebar sebelum menarik tubuh Zedd dan membisikkan sesuatu di telinga pria kekar tersebut.


"AS50 Sniper Rifle ..."


Zedd tampak mengangkat sedua alisnya seperti orang tertarik.


"Mainan yang terakhir kali kau modifikasi itu?"


Kawa mengangguk. "Tepat sekali!"


Setelah kurang lebih satu jam berlalu, mereka akhirnya tiba di sebuah pelabuhan, atau dermaga unik lebih tepatnya. Kemudian, mereka turun dari kapal dan mulai berjalan di sebuah tempat yang menyerupai pasar malam bergaya medieval atau bisa dikatakan abad pertengahan.


"Aku baru tahu di sini ada tempat unik bergaya medieval," cetus Kawa.


Sembari mereka berjalan, sepertinya Kawa menoleh ke sana kemari dengan mata yang berbinar untuk melihat suasana pasar malam tersebut.


"Tempat ini dijuluki Kota Hitam!" tegas Zedd.


"Kota hitam?"


Sepertinya Kawa tidak pernah mendengar nama yang diucapkan oleh Zedd. Sehingga ia bertanya dengan ekspresi bingung sambil memiringkan kepala mungilnya.


Zedd mengangguk. "Dijuluki kota hitam karena kota ini akan terasa hidup saat malam hari saja. Selain itu, setiap barang yang ada dijual di sini berasal dari black market."


"Pantas saja," ujar Kawa.


"Tak hanya itu, setiap tempat yang ada di sini, seperti tempat judi, tempat prostitusi, dan tempat hiburan lainnya juga masih di ragukan kelegalannya," sambung Zedd.


Kawa mengernyit. "Lalu kenapa pemerintah masih membiarkan mereka?"


Zedd mengangkat bahunya masih sambil berjalan di sebelah Kawa.


"Entahlah ... tapi dari informasi yang kudengar, selagi masih membayar pajak, mereka akan tetap diberikan izin untuk beroperasi tanpa harus memiliki sertifikat legalitas dari pemerintah."


"Entah kenapa aku tidak mengerti."


"Apa kau lupa tujuan kita ke sini?"


Kawa tampak sedikit terbelalak dan menghentikan langkah kakinya setelah menyadari maksud dari ucapan pria kekar bernama Zedd.


"Benar juga ... ini pasti ada hubungannya dengan Organisasi Revolusi!"


"Begitulah kira-kira."


Mereka kembali berjalan dengan santainya menyusuri pasar malam yang ramai. Banyak sekali yang menjual pernak-pernik unik di sana. Ada juga yang menjual makanan khas di tempat itu, dan tak lupa, Kawa segera membeli makanan tersebut setelah berhasil membujuk Zedd.


"Kau mau?"


Kawa terlihat sedang menawarkan makanan berupa kebab tusuk yang dipadu dengan beberapa jenis sayuran hijau dan merah kepada rekan satu timnya.


Zedd menolak dengan kode menggunakan goyangan tangan sembari menikmati sebatang rokok yang entah sejak kapan sudah ia nyalakan lagi.


"Kau yakin? Padahal ini enak, lho!" ucap Kawa meyakinkan.


Zedd tidak menjawab, pria kekar itu hanya memberikan anggukan sebagai respon.


"Baiklah kalau begitu ... sekarang, kemana tujuan kita?"


Kawa kembali bertanya sambil menggigit dan mengunyah kebab yang ada di tangan mungilnya.


Zedd kembali menghembuskan asap putih ke udara setelah ia menghisap rokok yang ada di sela jari telunjuk dan jari tengah di tangan sebelah kirinya.


"Kita akan ke penginapan untuk bermalam dan membahas rencana besok," ucapnya setelah itu.


Wajah imut Kawa mendadak berubah menjadi sedikit merah setelah mendengar penuturan Zedd.


"Penginapan?"


Zedd mengangguk sambil kembali mengajak Kawa berjalan mencari penginapan.


Tak lama setelah itu mereka tiba di sebuah penginapan yang tidak terlalu besar namun terlihat nyaman dengan suasananya.


Setelah mereka melakukan check in di sana, kedua orang itu berjalan ke kamar yang ada di lantai dua dengan bimbingan dari petugas penginapan tersebut.


"Zedd, kenapa cuma memesan satu kamar?" bisik Kawa saat di tangga.


Zedd melirik. "Untuk menghemat biaya!"


"Tapi aku ini seorang wanita!" cerocos Kawa dengan semburat merah di wajah.


Zedd tersenyum. "Tenang saja, aku tak akan melakukan apapun padamu."


Kawa tampak mengalihkan pandangan masih dengan semburat merah yang sedang menari di wajahnya.


"Padahal aku lebih senang jika kau melakukan sesuatu padaku ..." lirihnya.


"Kau bilang apa?"


Zedd bertanya dengan sedikit membungkukkan tubuh kekarnya karena tidak mendengar ucapan sang gadis mungil.


"Tidak ada!" jawab Kawa dengan bibir yang sudah dikerucutkan.


CKLEK ...


Suara pintu yang kuncinya telah dibuka oleh petugas penginapan terdengar.


Kemudian mereka masuk ke dalam kamar tersebut. Kamar itu cukup luas dengan dua buah tempat tidur yang terpisah sejauh satu meter.


"Baiklah ... ini kamar kalian. Dan jika kalian membutuhkan sesuatu, cukup menghubungi pihak penginapan menggunakan pesawat telepon yang ada di meja itu."


Petugas penginapan yang ternyata adalah seorang wanita mulai menjelaskan kepada mereka berdua sambil menunjuk ke arah meja yang ada di antara kedua tempat tidur.


Kawa hanya menganggukkan kepalanya seolah mengerti.


"Baik, terima kasih," ucap Zedd.


"Hmmm ..."


Bukannya beranjak dari sana, petugas penginapan malah bergumam seperti menunggu sesuatu.


Zedd langsung tersadar dan segera memberikan tips untuk petugas hotel yang ternyata sedang memberikan kode untuk mereka berdua.


"Maaf ..." kata Zedd.


Petugas penginapan tersenyum menggoda sembari mengambil tips pemberian Zedd.


"Kalau anda bosan dengan gadis kecil itu, anda bisa menghubungi saya ..."


Wanita petugas penginapan berbisik tepat di telinga Zedd dengan nada menggoda sambil menyelipkan sebuah kertas kecil di saku celana Zedd.

__ADS_1


"Aku akan mempertimbangkannya," balas Zedd datar.


Wanita petugas mengangkat kedua bahunya sebelum pergi meninggalkan kamar tersebut masih dengan senyuman menggoda.


"Tch ... dasar wanita kurang ajar!" cibir Kawa.


Sepertinya Kawa mendengar perbincangan Zedd yang barusan. Wajah gadis mungil itu tampak memerah. Bukan karena tersipu, tapi karena kesal melihat wanita seksi sedang menggoda rekan satu timnya.


Zedd sweatdrop. "Sudahlah, jangan kesal begitu."


"Hmph ... kau juga terlihat sangat menikmatinya!" tukas Kawa.


"Sedikit," celetuk Zedd.


"ZEDD!!"


Kawa membentak sambil menghentakkan sebelah kakinya di lantai.


Zedd tersenyum. "Aku hanya bercanda."


"Hmmph!"


Setelah sedikit menggoda Kawa yang semakin tampak kesal, Zedd mengambil laptop dari dalam ransel dan meletakkannya sebelum menyalakan benda berbentuk kotak tersebut.


Sepertinya Kawa masih kesal akibat godaan Zedd barusan. Itu tampak dari ekspresi wajahnya dengan pose bersedekap layaknya putri raja yang sedang mengambek.


"Kau marah?" tanya Zedd polos.


Kawa memalingkan wajah. "Tidak!"


"Lalu kenapa seperti acuh tak acuh begitu?" Zedd bertanya lagi.


"Itu hanya perasaanmu saja!" balas Kawa ketus.


Zedd menghela nafas. "Kalau begitu, aku minta maaf."


Kawa hanya diam tanpa menjawab dengan pose yang masih sama seperti sebelumnya.


Zedd kembali menghela nafas, lalu berdiri dan menghampiri Kawa.


"Aku akan membelikan hadiah untukmu jika kau kembali menjadi Kawa yang seperti biasanya," cetus Zedd.


Kawa sedikit melirik ke arah rekan satu timnya yang kekar tersebut.


"Benarkah?" ucapnya.


"Tentu," balas Zedd enteng.


"Baiklah, aku akan memaafkanmu kali ini!" ujar Kawa.


Zedd cengo. "Memangnya aku salah apa?"


"Kalau itu ... yah ..."


Kawa mulai kebingungan karena ucapannya sendiri dan kembali mengeluarkan semburat merah yang tampak sangat manis.


Zedd hanya tersenyum, lalu menghampiri laptop yang telah selesai booting di atas tempat tidur.


"Kawa, kemarilah ... Aku akan menjelaskan tentang misi kita!" tegas Zedd.


Tak banyak kata lagi, Kawa menghampiri Zedd dan duduk di atas kursi yang entah dari mana dia dapatkan.


"Kau bisa lihat, ini adalah peta Kota Hitam yang sudah dipersiapkan Taka sebelumnya."


Zedd mulai menjelaskan sembari menunjuk sebuah gambar peta 3D di monitor laptop. Sementara Kawa hanya memperhatikan tanpa berkomentar.


"Ada empat titik bangunan yang cukup tinggi dan bisa kau gunakan saat beroperasi ..."


Zedd menunjuk ke gambar bangunan yang anglenya diambil dari atas menggunakan telunjuk.


"... jika kau menggunakan bangunan-bangunan ini, maka pandanganmu akan bebas dari halangan apapun."


Kawa masih diam tidak berkomentar. Sepertinya gadis itu sedang berkonsentrasi untuk mencari posisi yang tepat saat beroperasi esok hari.


"Jadi ... posisi mana yang akan kau ambil?" tanya Zedd.


"Bisa kau jelaskan dimana dan kemana saja kau saat nanti kita akan beroperasi?"


Tidak menjawab, Kawa malah gantian bertanya pada rekan satu timnya yang kekar itu.


"Baiklah ... kira-kira aku akan meletakkan bomnya di lima titik. Tepatnya di gambar bangunan yang sudah diberi tanda merah ini!"


Zedd kembali menjelaskan sambil menunjuk gambar di dalam laptop yang sudah diberi tanda lingkaran merah.


"Okay, karena kita dekat dengan pantai, aku akan mengambil posisi tepat di puncak mercusuar!" tegas Kawa.


Zedd mengernyit. "Kau yakin? Bukankah tempat itu berjarak 4 sampai 5 kilometer dari target-target kita?"


Kawa mengangguk. "Tenang saja, jika aku menggunakan mainan biasa dengan kaliber yang biasa juga, mungkin aku tak akan bisa menggapainya ..."


"Tapi, karena aku membawa AS50 yang sudah dimodifikasi, jarak segitu tidak akan menjadi masalah untukku!" lanjut Kawa.


Zedd kembali mengernyit dan sedikit meragukan keyakinan sahabat mungilnya.


"Tapi kalau tidak salah, bukankah AS50 milikmu itu paling jauh hanya bisa mencapai 4 kilometer saja?" Tanya Zedd.


Kawa tersenyum sombong dengan dada yang sedikit dibusungkan kedepan.


"Jika aku menggunakan kaliber standard, maka yang kau katakan itu benar. Tapi, aku sudah menyiapkan kaliber spesial yang bisa membelah angin, serta bisa menembus jarak lebih dari 6 kilometer."


"Enam kilometer?!" Zedd terbelalak.


"Jangan bilang ... kau sudah berhasil membuat set peluru untuk rifle modifikasimu?" tebak Zedd.


"Hebat! Kau bisa menebaknya dalam satu kali percobaan!" seru Kawa.


"Sekali lagi aku tanya ... apa kau benar-benar yakin, Kawa?"


Zedd berusaha meyakinkan sahabatnya. Tapi jika dilihat dari cara ia bertanya, pria kekar yang perawakannya mirip Aldo itu malah seperti ingin meyakinkan dirinya sendiri.


"Kau meragukanku?" tanya Kawa datar.


Setelah mengucapkan itu, Kawa menatap Zedd dengan intens. Seolah menunjukkan sebuah kebulatan tekad melalui matanya yang berwarna hitam kecoklatan tersebut.


Zedd tersenyum sembari menghela nafas panjang. Sepertinya tidak akan berguna berdebat dengan Kawa jika gadis mungil itu sudah memasang ekspresi serius di wajahnya.


"Jika kau sudah seyakin itu, maka aku tak akan berkomentar lagi."


Kawa hanya tersenyum setelah mendengar penuturan Zedd.


"Kalau begitu, kau bisa meledakkannya satu persatu dengan senapanmu setelah aku memasang bom itu di setiap satu titiknya." lanjut Zedd.


Kawa menggeleng. "Tidak, aku akan meledakannya sekaligus setelah kau memasang semua bom yang diperlukan!"


"Oi oi, apa kau sudah gila?" ucap Zedd.


"Aku tak akan mengambil resiko untuk membahayakanmu, jika kau masih di sana saat aku sedang menembak!" tegas Kawa.


Zedd tersenyum kecut mendengarkan pernyataan sahabat mungilnya.


"Aku rasa kau terlalu meremehkanku?"


"Ini bukan masalah remeh atau tidak. Tapi ini masalah keselamatan yang harus diprioritaskan!" sangkal Kawa.


"Tapi target kita bukan cuma satu, Kawa!"


Zedd mengucapkan argumennya kepada Kawa yang tampak sangat bersikeras.


"Tapi target kita itu tidak bergerak, kan?" balas Kawa.


"Lagi pula, AS50 yang sudah kumodifikasi ini, bisa menembakkan 20 peluru secara bergantian tanpa harus melakukan reload!"


"Bahkan getaran dari hempasan di setiap tembakannya hampir tidak terasa!" lanjut Kawa kembali menegaskan.


Zedd akhirnya menyerah untuk berdebat dengan Kawa sambil kembali menghela nafas panjang.


"Baiklah, kau yang menang."


Kawa segera memasang pose kemenangan dengan dada yang kembali dibusungkan ke depan.


"Kalau begitu kau istirahatlah, besok tepat jam 8 pagi kita akan bergerak!" perintah Zedd.


Kawa menganggukkan kepala dengan senyuman manis sembari melangkahkan kaki. Tapi, gadis mungil itu segera menghentikan langkahnya seperti teringat akan sesuatu.


"Kau sendiri? Tidak tidur?"


Zedd menggeleng. "Aku ingin menghirup udara segar sebelum tidur."


Detik itu juga, Kawa memasang ekspresi yang sangat tidak enak untuk dilihat dengan dahi berkerut yang dibuat secara paksa.


"Kau ingin menghirup udara segar atau ... ingin menemui wanita penggoda yang tadi?"


Zedd cengo di tempat seperti orang yang sedang tertangkap basah.


"Tentu saja menghirup udara segar!"


"Tidak bohong?" tanya Kawa curiga.


"Tentu saja aku tidak berbohong!" balas Zedd.


"Kalau kau berbohong, akan kuadukan pada leader!" ujar Kawa.


Kemudian gadis itu masuk ke kamar mandi dengan pintu yang sengaja di banting.


Zedd hanya bisa kembali menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum keluar meninggalkan kamar tersebut.


Kini, pria kekar itu tampak sedang menyalakan rokoknya sembari berjalan di luar penginapan ke arah pasar malam yang sebelumnya telah mereka lewati.


Pasar malam tersebut masih terasa sangat hidup, walaupun waktu sudah menujukkan hampir tengah malam. Biasanya di kota yang dijuluki sebagai Kota Hitam itu, tepatnya pada saat hampir tengah malam seperti sekarang, para pekerja prostitusi akan berkeliaran untuk mencari pelanggan.


Dan benar saja, Zedd dihampiri oleh beberapa wanita cantik nan seksi sambil menggoda dengan dandanan menor andalan mereka.


Tapi Zedd menolaknya dengan halus sembari berjalan. Sepertinya godaan beberapa wanita prostitusi itu tidak mempan untuk Zedd. Atau mungkin pria kekar itu kebal karena sudah terlatih oleh godaan Nana yang selalu berdandan eksentrik.


Yang manapun penyebabnya, Zedd tetap berjalan di sana tanpa memperdulikan godaan-godaan wanita prostitusi itu.


Saat sedang berjalan untuk menghirup udara di pasar malam, Zedd tidak sengaja melihat sebuah stand pernak-pernik. Atau lebih tepatnya, sebuah benda yang dijajakan di stand tersebut.


Benda itu adalah sebuah gelang berwarna hitam kilat seperti sebuah berlian hitam. Hanya saja gelang itu terbuat dari logam.


Dengan sedikit ketertarikan, pria yang sedang merokok itu pun menghampiri stand penjual pernak-pernik tersebut.


Setelah sampai di sana, Zedd memperhatikan gelang itu secara instens. Gelang yang terbuat dari logam hitam itu memiliki aksesoris memanjang seperti liontin. Hanya saja, aksesorisnya berbentuk kucing berwarna hitam. Detail bentuknya juga sangat sempurna. Benar-benar mirip seperti kucing asli.


"Mata anda benar-benar sangat tajam, Tuan! Itu adalah gelang spesial yang terbuat dari Zirkonium hitam dengan titik lebur yang tinggi. Sehingga gelang itu tidak akan mudah tergores."


Tiba-tiba, seorang pria paruh baya datang menghampiri Zedd dan menjelaskan tentang gelang hitam yang dipegang olehnya.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Zedd dengan sebelah alis yang terangkat.


"Tentu saja, Tuan! Tak cuma itu saja, gelang itu hanya dijual di stand kami, anda tidak akan menemuinya di tempat lain!" kata penjual kembali menjelaskan.


"Tentu saja ... tipikal black market ..." lirih Zedd.


"Anda bilang apa tuan?" tanya penjual dengan wajah bingung.


Zedd menggeleng. "Aku beli ini, tolong dikemas sebaik mungkin!"


Penjual tersenyum lebar. Entah itu senyuman ikhlas, atau hanya seringaian orang licik. Yang pasti, barang yang dijualnya adalah barang asli yang berasal dari black market.


"Terima kasih! Dan ini kembalianmu ..."


"Kau boleh menyimpannya!"


Zedd tidak menerima kembaliannya, kemudian pergi meninggalkan tempat itu bersama bingkisan kecil berisi gelang hitam yang memiliki aksesoris berbentuk kucing.


●●


Keesokan harinya, Kawa dan Zedd sudah mulai bergerak untuk melakukan operasi mereka. Kini gadis mungil itu sedang mempersiapkan rifle miliknya yang berwarna putih bersih di puncak mercusuar.


Sungguh telaten sang Invicible Sniper mempersiapkan semua peralatan di sana. Termasuk tablet berukuran 7 inci yang di hubungkan ke senapan miliknya. Mungkin tablet itu juga salah satu modifikasi yang telah dilakukan oleh Kawa.


Dan hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 5 menit, AS50 Sniper Rifle sudah siap untuk beroperasi.


Tak lupa sniper imut itu juga memasang sebuah benda berbentuk headphone di kepalanya. Mungkin itu berguna untuk mengurangi suara tembakan yang akan dikeluarkan oleh rifle tersebut.


Dengan T-Shirt hitam ketat yang ditutupi oleh jaket berwarna coklat dan bawahan hotpant biru terang, Kawa mulai mengambil pose telungkup untuk mengecek jarak pandang melalui teleskop rifle. Sepatu sneaker hitam putihnya juga tak ketinggalan untuk mendukung penampilannya di sana.


Kemudian ia tersenyum dengan sebelah mata yang tertutup.


"Aku bersyukur tak banyak bangunan tinggi di tempat ini," gumamnya.


Seperti yang dikatakan Kawa, daerah Kota Hitam tidak banyak memiliki bangunan tinggi. Sejauh mata gadis itu memandang menggunakan teleskop, yang bisa dia lihat hanya pemandangan kota bergaya kuno di sebuah pulau yang dikelilingi oleh air laut.


Di sana, sniper imut itu hanya bisa melihat tiga bangunan tinggi lainnya, tidak termasuk tempat dia berada sekarang. Dan bangunan-bangunan tinggi itu adalah sebuah kincir angin dan dua menara pemantau kota di sisi timur juga barat.


Dari semua bangunan itu, sepertinya mercusuarlah yang posisinya paling tinggi. Mungkin karena itulah Kawa memutuskan untuk memilih mercusuar sebagai tempat operasinya.


"Kepada White Cat ganti ..."


Terdengar suara Zedd melalui earphone wireless milik sang Invicible Sniper.


"Sejak kapan code nameku berubah?"


Sniper imut itu terdengar komplain pada Zedd melalui earphone karena dengan sesuka hati mengganti code name miliknya


"Ini bukan saluran pribadi buatan Pixel, setidaknya bersabarlah sedikit. Lagi pula, sosok kucing sangat cocok untukmu!" cerocos Zedd.


"Baiklah, Jetplane! Apa ada masalah di tempatmu berada?" ujar Kawa.


"Jetplane?"


sepertinya Zedd mengeluarkan ekspresi cengo di tempatnya berada sekarang.


"Code name dariku untukmu!" cetus Kawa.


"Okay, apa kau lihat dua menara pemantau yang ada di sisi barat dan timur?" ujar Zedd.


Kawa mengangguk masih dengan posisi telungkup sembari memperhatikan dua menara menggunakan teropong.


"Aku melihatnya ... ada dua orang di setiap menara."


"Bisa kau lumpuhkan mereka? Itu juga untuk kenyamananmu nanti!" perintah Zedd dengan sedikit komentar.


Kawa kembali menganggukkan kepala mungilnya yang sudah dihiasi dengan headphone besar berwarna abu-abu.


"Baiklah ... 'Death or Stun'?" tanya Kawa datar.


"Kurasa 'Stun' sudah cukup," balas Zedd.


"Okay!" seru Kawa.


Kawa tampak sedang mengotak-atik tablet yang ada di sebelah senapan miliknya. Lalu mulai membidik target dengan sebelah mata yang tertutup setelah ia menukar magasin senapan itu dengan yang lain. Mungkin salah satu magasin spesial buatannya sendiri.


Walaupun dalam mode serius, wajah gadis berjaket coklat itu masih terlihat sangat imut.


DOOR ... DOOR ...


Suara tembakan melalui senapan miliknya melesat. Tapi untung saja, senapan putih tersebut sudah dimodifikasi termasuk suara yang sudah diredam.


Walaupun begitu, Kawa tetap harus menggunakan alat safety tambahan berupa headphone agar sisa suara tembakan tersebut tidak berpengaruh pada telinga mungilnya.


Tanpa melihat hasil tembakan, Kawa beralih ke sisa targetnya yang ada di sebelah barat.


DOOR ... DOOR ...


Tembakan kembali melesat ke arah targetnya. Setelah itu Kawa mengganti magasin yang ada di senapan putih tersebut.


"White Cat ... peluru apa yang kau gunakan? Mereka tampak seperti tak bernyawa?" Suara Zedd kembali terdengar.


Sepertinya semua tembakan Kawa tepat mengenai sasaran tanpa meleset 1 inci pun.


"Tenang saja, mereka tidak akan mati ... aku menggunakan Rounded Bullet yang terbuat dari timah lunak!" jelas Kawa.


"Kau yakin?" Zedd terdengar ragu.


"Tentu saja, peluru itu tidak akan mampu menembus daging mereka. Paling-paling hanya robekan di kulit saja. Tapi ..."


Kawa ikut-ikutan ragu seperti rekan satu timnya yang bernama Zedd.


"Tapi apa?" tanya Zedd.


"Karena rasa sakit di titik vital mereka, mungkin para penjaga itu tidak akan bangun sampai besok pagi dan akan mengalami kelumpuhan seperti mati rasa jika tidak di bawa ke rumah sakit dalam 12 jam," ungkap Kawa.


"Aku rasa saat waktu makan siang nanti, mereka akan di temukan oleh salah satu rekannya," ujar Zedd.


"Baguslah kalau begitu," respon Kawa.


"Baiklah, aku akan bergerak menuju titik A, koordinat 189,333!" cetus Zedd.


"Okay, aku akan melindungimu dari atas sini!" celetuk Kawa.


Beralih ke tempat Zedd berada. Kini, pria kekar itu sedang berjalan dengan santai ke arah bangunan seperti pembangkit listrik.


Tak lupa, rekan Aldo yang bijaksana itu sudah mengenakan penyamaran yang sama persis seperti sosok Thousand Face Reaper. Hanya saja topeng yang ia gunakan berbentuk burung gagak.


Tampak olehnya ada sekitar sepuluh tower yang memiliki ketinggian 10 meter dikelilingi oleh pagar kawat dan bertuliskan. 'HATI-HATI TEGANGAN TINGGI'.


Zedd menoleh ke sana kemari seperti mencari sesuatu. Lalu pandangannya berhenti tepat ke arah sebuah benda berbentuk kotak besar seperti kubus yang memiliki volume 5 meter kubik.


"Aku yakin itu tempat alat distribusinya," gumam Zedd.


Zedd berjalan ke benda kubus tersebut dan mulai melakukan aksinya. Yaitu meletakkan sebuah bom berbentuk kotak yang ditempelkan pada dinding tempat alat penyaluran listrik berada.


Tak lupa ia juga meletakkan sebuah poster bergambar Thousand Face Reaper di pagar kawat sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


"Apa targetnya sulit untukmu, White Cat?"


Zedd bertanya pada rekan satu timnya melalui sambungan earphone.


"Tidak, sangat mudah menembaknya dari sini," balas suara Kawa.


Zedd mengangguk. "Okay, selanjutnya titik B!"


"Okay!"


Tak membutuhkan waktu lama bagi Zedd untuk pindah ke titik selanjutnya. Yaitu sebuah bangunan seperti aula atau gedung serba guna lebih tepatnya. Mungkin bangunan itu biasa digunakan untuk pertemuan atau acara-acara tertentu saja.


Kali ini Zedd menuyusup menggunakan penyamaran topeng sintetis yang biasa dipakai oleh Aldo. Dia meletakkan 8 unit bom di fondasi utama bangunan tersebut secara berkeliling. Tak lupa poster kebanggaan mereka juga ikut ditempelkan di sana.


"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Zedd lagi.


"Yang mana yang harus kutembak?" Kawa balik bertanya.


"Posisi tengah yang ada lambang X. Sisanya akan terpicu dengan bom yang meledak pertama kali," balas Zedd.


"Okay, no problemo!" tegas Kawa.


"Bagus, sekarang titik C!"


"Roger!"


Zedd mulai berpindah lagi ke titik selanjutnya. Yaitu titik C. Titik C adalah sebuah bangunan tempat perjudian. Bangunan itu sedikit unik seperti rumah panggung yang terbuat dari beton.


"Beton, ya?" gumam Zedd.


"Tenang saja, bom buatanku juga bisa menghancurkan beton!" sela Kawa dari earphone.


"Baiklah, aku akan meletakkan 3 unit di fondasi tengah bangunan ini, bagaimana?" tanya Zedd meyakinkan.


"Piece of cake!" jawab Kawa sombong.


Setelah itu Zedd kembali melanjutkan misinya menuju titik D berupa bangunan tempat prostitusi dan titik E berupa gudang penyimpanan.


"Aku yakin tempat ini adalah gudang persenjataan ilegal," gumam Zedd saat berada di titik E.


"Dari pada gudang itu, bukankah lebih mengkhawatirkan tempat prostitusi di titik D, Jetplane?" sela suara Kawa.


"Aku mengerti maksudmu ... tapi semua aman, tidak ada orang di sana sekarang. Semua pekerja prostitusi sepertinya tidak tinggal di sana. Aku sudah memastikannya tadi!" ujar Zedd menegaskan.


"Baiklah kalau begitu ... sekarang kau boleh menyingkir dari target-targetku!" ucap Kawa.


"Roger!"


Tak banyak kata lagi, Zedd menyingkirkan dirinya dari gedung tempatnya berada. Ia berlari menuju sebuah semak sebelum menghilangkan penyamaran, lalu berjalan kembali ke jalur pejalan kaki dan menghilang di sana setelah ia kembali ke sosok Zedd yang sesungguhnya.


Kembali ke tempat Kawa berada. Sniper imut itu mulai berkutat lagi dengan tabletnya seperti membuat sebuah settingan untuk AS50. Lalu ia mengecek target-targetnya sekali lagi menggunakan sebuah teropong Infra merah berteknologi canggih buatan sendiri.


Kemudian gadis yang bernama Kawa itu kembali menelungkupkan tubuh mungilnya sambil membidik melalui teleskop senapan tersebut dengan wajah yang serius.


"Targetnya milikmu!" seru Zedd melalui earphone.


"Okay ..." desis Kawa.


Mendengar aba-aba dari Zedd, sang Invicible Sniper mulai merasakan kecepatan angin yang bergerak ke arah timur sambil memejamkan kedua matanya.


"12 knot, masih tidak masalah ..." desisnya lagi.


Lalu, untuk sejenak saja, sebelah mata Kawa bersinar terang seperti kuning keemasan. Dan setelah sinarnya meredup, jari mungil gadis itu mulai menarik pelatuk senapan kebanggaannya.


DOOR ...


-----


Oops.. sabar ya besok thor up lagi

__ADS_1


Jangan lupa dukung terus ya dengan LIKE VOTE DAN COMMENT nya


Thank you...😊😊😊


__ADS_2