
Seminggu setelah acara perjodohan, seperti biasa Aldo melakukan aktivitasnya. Melakukan tindakan kriminal, yaitu membunuh salah satu pejabat negara.
Nama pejabat tersebut adalah Tony. Berdasarkan informasi dari clientnya, Tony sudah melakukan tindak korupsi yang merugikan banyak pihak, Termasuk rakyat negara tersebut. Dan terlebih lagi, dengan berinteraksi dengan Tony, Aldo akan selangkah lebih dekat dengan targetnya. Apakah itu target Aldo, hanya dia dan Tuhan lah yang tahu.
Sepertinya pekerjaan Aldo kali ini terbilang mudah. Itu bisa dilihat dengan jelas, karena yang bergerak kali ini hanya Aldo sendirian. Tapi, tak lupa Taka yang membantunya dari markas untuk mengamankan CCTV.
Tanpa dosa sedikitpun, Aldo keluar dari sebuah kamar hotel ternama dengan penyamarannya sebagai pegawai hotel. Memasuki lift dengan santainya, berjalan keluar melewati lobby hotel, lalu menghilang ke dalam gelapnya malam di kota tersebut.
Benar - benar professional. Tidak ada yang menyadari tindakan Aldo, bahkan jejak Aldo sama sekali tidak terlihat sedikit pun.
Kematian sang pejabat korup pun baru diketahui setelah wanita simpanannya masuk ke kamar tersebut. Melihat Tony yang sudah tergeletak tak bernyawa dengan sebuah pisau tertancap di dadanya, sang wanita menjerit histeris disana. Seketika, semua orang yang kebetulan berada di sana menghampirinya dan bergegas memanggil pihak yang berwajib.
Tak membutuhkan waktu lama untuk pihak berwajib tiba. Pada saat itu juga, posisi lantai kamar hotel sang pejabat korup berada langsung diamankan dan disegel dengan garis polisi yang khas.
Pihak forensik kepolisian tampak sedang sibuk dalam menganalisis mayat Tony disana. Diduga bahwa Tony telah dibunuh menggunakan pisau yang tertancap di dadanya.
"Bagaimana? Apa ada petunjuk disana?" tanya seorang wanita yang sepertinya pimpinan mereka.
Pria yang ditanyai menggeleng. "Tidak ada, Bu Rikka."
Ternyata wanita tersebut adalah Rikka. Ia sedang mengenakan pakaian khas seorang intelijen dengan rok span menawan yang membuat pingggulnya tampak sangat sexy.
Rikka tak memberikan respon kepada lawan bicaranya. Hanya diam dan menatap mayat Tony dengan tajam.
"Tidak ada ciri khas, sidik jari, atau pun hal - hal yang mencondong kearah petunjuk, Bu Rikka!" lanjut sang lawan bicara.
Rikka mengangguk. "Baik, terima kasih!"
Lalu Rikka berdiri dan berjalan ke arah jendela kemudian menyusuri jendela dengan tujuan mencari petunjuk.
"Bahkan di jendela tidak ada sedikit pun jejak!" desisnya sambil meraba jendela dengan tangannya yang sudah dilengkapi dengan sarung tangan.
"Shasha, bagaimana dengan CCTV?" Kata Rikka bertanya pada assistennya yang bernama Shasha.
"Biro Analisis sedang bekerja sama dengan pihak hotel untuk memeriksa CCTV, Bu Rikka," sahut wanita cantik bermata sayu bernama Shasha.
Rikka mengangguk untuk merespon ucapan bawahannya.
"Bu Rikka?" Shasha memanggil sembari berjalan mendekat ke arah Rikka.
"Ya?" sahut Rikka singkat.
"Apa mungkin ini perbuatan Thousand Face Reaper?" bisik Shasha.
Rikka mengangguk. "Aku juga berfikir seperti itu."
"Karena jika dilihat dari semua bukti yang ada di TKP, semuanya sama persis seperti kasus pembunuhan diplomat Gino yang lalu!" lanjutnya menjelaskan.
"Tidak ada ciri khas, sidik jari, atau pun jejak yang lainnya," ucapnya kembali melanjutkan.
Shasha yang melihat atasannya sedang berfikir keras hanya diam. Karena ia merasa tak akan banyak membantu jika terus berbicara.
Kemudian, datanglah dua orang dari Biro Analisis Intelijen ke kamar tersebut bersama dengan seorang detektif yang ikut membantu pekerjaan mereka.
"Nona Rikka!" panggil detektif tersebut, sedangkan Rikka hanya menoleh dengan tatapan berharap ada petunjuk yang ditemukan.
"Ikutlah dengan kami ke ruangan pemantau!" ucap detektif.
"Baik, Detektif Andro!" sahut Rikka diikuti oleh Shasha yang berjalan dibelakangnya.
Diperjalanan ke ruang pemantau, Rikka dan Andro sedikit berbincang.
"Terima kasih telah memenuhi panggilanku, Andro!" ujar Rikka sambil berjalan.
"Ayolah, sudah sahurusnya seorang teman itu membantu temannya, kan?" balas Andro.
"Kau benar ... sekali lagi terima kasih!"
Andro melirik ke arah Rikka. "Karena kau bersikeras, baiklah ... terima kasih kembali!" ucapnya diiringi dengan senyuman.
Sepertinya, Andro adalah seorang teman yang dipercayai oleh Rikka. Karena menurut Rikka, Andro adalah salah satu detektif terbaik yang dia kenal. Andro sudah banyak memecahkan segala macam kasus seperti pembunuhan, penculikan, pencurian, dan lain sebagainya. Dan terlebih lagi, ternyata Andro adalah teman Rikka semasa SMA.
Pria kekar tersebut sepertinya memiliki perasaan khusus terhadap Rikka. Tapi tidak ada yang tahu perasaan yang bagaimana. Hanya saja, setiap kali pria berparas tampan nan rapi itu melirik Rikka, lirikannya seperti mengandung sebuah arti tertentu.
"Bagaimana dengan perjodohanmu?" bisik Andro tiba-tiba tapi tampak acuh.
Rikka pun sedikit terkejut, dan semburat merah langsung terpancar di pipi mulusnya.
"Tolong ... jangan bahas itu disini, Kita sedang bekerja!" cetus Rikka menyudahi pembicaraan yang dianggapnya tidak penting untuk saat ini.
"Baiklah," balas Andro enteng sembari mengangkat kedua bahunya.
Selang beberapa menit, mereka pun tiba di ruangan pemantau. Lalu, Andro segera meminta petugas yang ada disana untuk memperlihatkan rekaman CCTV yang dianggapnya tidak normal.
"Lihat, Nona Rikka!" ucap Andro dengan professional sambil menunjuk ke arah layar kaca.
Mata Rikka mengikuti arah jari telunjuk Andro. Tapi dia hanya diam dan memperhatikan.
"Aku merasa ada yang aneh dari rekaman di pukul delapan lewat delapan belas menit."
"Coba kau perhatikan ... tepat di detik ke dua puluh, seperti ada jeda yang memisahkan rekaman ini!" tegasnya melanjutkan.
Seperti yang dikatakan Andro. Hal tersebut memang tampak disana. Tepat di detik ke dua puluh, rekaman tersebut seperti berkedip. Walaupun kedipan tersebut tampak samar, tapi jika diperhatikan dengan seksama, maka siapa saja pasti akan bisa menyadarinya.
"Kau benar!" kata Rikka yang masih memperhatikan rekaman CCTV.
"Hey, coba perlihatkan rekaman sehari sebelumnya, seminggu lalu, dan sebulan yang lalu secara terpisah!" perintah Andro kepada salah satu petugas CCTV.
"Baik, pak!" balasnya dengan tegas.
Tak lama setelah itu, tampaklah melalui tiga buah layar kaca rekaman CCTV yang diminta oleh Andro barusan.
"Kau bisa melihatnya disini. Rekaman kemarin, seminggu lalu, dan sebulan yang lalu sangat mulus ... bahkan jika kau mempercepatnya beberapa kali!" kata Andro mulai menjelaskan.
"Sedangkan khusus untuk yang satu ini," Andro menunjuk rekaman pada hari dimana Tony dibunuh.
"Ada kedipan aneh yang menganggu pikiranku!"
"Apa ada ahli software disini?" celetuk Andro tiba-tiba.
"Maksudmu rekaman CCTV ini diretas?" Kata Rikka memastikan dugaannya.
"Mungkin ... tapi itu hanya hipotesa ku saja!" balas Andro.
Tak lama setelah itu, datanglah seorang ahli softwere dari Biro Analisis Intelijen yang baru kembali dari toilet, "Ada yang bisa dibantu, Pak?" ucapnya.
"Coba kau lakukan analisa pada software CCTV hotel ini. Lalu, analisa juga rekaman CCTV yang aneh ini!" Perintah Andro lagi.
"Jika memang seperti yang kau katakan ... apa kita bisa mengungkap siapa pembunuhnya, Andro?" ujar Rikka kembali bertanya.
"Entahlah ... lagi pula ini kasusmu, kan?" Jawab Andro sambil tersenyum.
"Aku hanya membantu disini. Soal kita bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhan ini, hanya kau lah yang bisa melakukannya!" lanjut Andro menegaskan.
"Percaya dirilah ... kita semua tahu, siapa yang paling jenius disini," sambungnya lagi sambil menepuk pelan pundak Rikka.
Rikka sedikit tersipu, lalu tersenyum ke arah teman SMAnya tersebut, Kemudian berjalan mendekati petugas yang sedang menganalisa softwere CCTV hotel.
"Lakukan analisanya dari minggu lalu," desis Rikka pada anak buahnya dari Biro Analisis.
"Baik!" sahut sang petugas,
selang lima menit, petugas itu pun berkata, "Sudah Bu, sepertinya tidak ada masalah pada softwarenya."
"Kalau begitu, lakukan analisa pada rekaman CCTV yang barusan!" tegas Rikka yang membuat anak buahnya terkejut.
"Baik!"
Setelah beberapa menit, ahli software itu berbicara kembali, "Bu, sepertinya hasil rekaman ini diproteksi!"
Rikka mengernyit. "Bisa kau retas?"
"Apa anda yakin, Bu Rikka?" tanya sang petugas meyakinkan.
"Hmm!" ucap Rikka tegas dengan tatapan tajam.
Tanpa banyak kata, sang petugas langsung mengindahkan perintah dari atasan cantiknya itu. Jari sang petugas dari Biro Analisis tersebut menari dengan indah di atas keyboard komputer yang ada dihadapannya. Kemudian, jari lentik yang dimiliki pria itu mendadak berhenti karena sesuatu yang sepertinya sedikit mengejutkan. Itu terlihat dari raut wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit aneh.
"Ada apa?" cetus Rikka mencurigai sesuatu.
"Hmmm ... bagaimana mengatakannya, ya?" ujar sang petugas sedikit ragu. Tapi Rikka hanya diam dan menunggu kelanjutannya.
"Ini ... seperti ada polisi yang berjaga di depan pintu."
"Tidak usah pakai pengandaian disini!" seru Andro kesal.
"Maksudmu ada antivirus?" tanya Rikka mulai penasaran.
"Bukan, Bu ... lebih tepatnya virus yang menjaga rekaman ini!" jelas petugas sesingkat mungkin.
"Virus?" ucap Andro sambil mengernyit dan membungkukkan tubuhnya di sebelah petugas.
__ADS_1
"Bagaimana bisa virus yang menjaga hasil rekamannya? Bukankah itu biasanya dilakukan oleh antimaleware?" Rikka mulai mengajukan pertanyaan secara bertubi.
"Aku juga tidak mengerti, Bu Rikka ... ini seperti bumi dan langit yang bertukar posisi."
"Sudah kubilang jangan pakai pengandaian!" bentak Andro sembari menjitak sang petugas.
"Andro!" tegur Rikka pada Andro yang mulai semena - mena.
"Maaf ... maafkan aku juga Pak Petugas, aku sedikit kesal tadi!" kata Andro meminta maaf sambil memegang pundak petugas tersebut.
"Kalau begitu ... bisa kau netralisir virus itu?" perintah Rikka dengan suara lembut.
"Baiklah, akan ku coba!"
"Bagus!"
Sang petugas pun mulai membuat jarinya kembali menari di atas keyboard. Apa lagi setelah mendengar suara atasannya yang sangat lembut, ia pun menjadi lebih bersemangat.
Andro, Rikka, dan Shasha beserta petugas yang lainnya hanya bisa diam sambil memperhatikan sang ahli software dan layar kaca secara bergantian.
Tak lama setelah itu, sepertinya sang ahli software berhasil meretas dan menetralkan virus yang menganggu tersebut dan menampilkan hasil rekaman CCTV yang seharusnya.
Tampak disana beberapa orang sedang berlalu lalang, baik itu tamu hotel, maupun pegawainya. Tapi, ada tingkah yang mencurigakan dari salah satu pegawai hotel yang terlihat di rekaman CCTV.
Pegawai hotel itu adalah seorang laki - laki tampan berwajah mulus seperti pemain film drama korea. Kemudian laki - laki mencurigakan tersebut berjalan kearah CCTV dan melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Tiba-tiba, seluruh layar kaca yang ada disana mati total. Dan secara serentak seluruh layar kaca tersebut berkedip seperti mengeluarkan cahaya flash yang biasanya dikeluarkan oleh kamera.
Kemudian secara serentak pula, seluruh layar kaca kembali hidup dan menampilkan sebuah rekaman yang membuat setiap orang di sana terkejut.
Rekaman itu menampilkan kumpulan pixel seperti game Tetris yang membentuk tulisan 'CONGRATULATION' lalu diikuti dengan 'WE PRESENT' dan diakhiri dengan 'THOUSAND FACE REAPER' beserta gambar sabit yang dipegang oleh tengkorak berjubah ungu gelap.
Kemudian terpampanglah seorang pria yang mengenakan pakaian khas pegawai hotel dan dilatar belakangi dengan dinding cerah berwarna serba putih.
Pria yang ada di dalam rekaman tersebut awalnya membelakangi mereka. Kemudian secara perlahan dan pasti, dia menghadap ke arah mereka dan pria itu ternyata memakai topeng.
Topeng yang ia kenakan adalah topeng putih berbentuk seperti rubah dengan motif garis melengkung berwarna merah di kedua sisi pipinya.
"Halooo ..." ucap pria tersebut menyapa dengan suara yang terdengar aneh sambil melambaikan tangan.
Sedangkan para penonton hanya bisa terbelalak karena terkejut dan tak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.
"Aku kagum pada kalian yang berhasil membuka rekaman rahasia ini!" ucap pria bertopeng dengan semangat.
"Baru kali ini ada yang berhasil sampai ke tahap ini. Padahal, kami sudah dengan sangat hati - hati menyembunyikan rekaman ini agar tidak sampai terbuka."
"Tapi, sekali lagi kuucapkan selamat untuk kalian!" sambungnya diiringi dengan tepuk tangan yang meriah.
"Salam kenal ... aku adalah Thousand Face Reaper kesayangan kalian!" pria bertopeng tersebut kembali bebicara.
"Aku tahu apa yang ada dipikiran kalian sekarang ... jadi lebih baik kalian diam saja!"
"Kalian ingin menangkapku, kan?" ujar Thousand Face Reaper mengolok yang sukses membuat Rikka menggertakan giginya kesal.
"Percuma ... kenapa?" ucapnya masih dengan nada yang mengolok.
"Karena aku sudah berada di rumah sekarang! Hahaha ..." sambungnya tertawa.
"Ok ok ... cukup bercandanya," kata sang pria bertopeng melalui rekaman.
"Aku akan memberitahu kalian sebuah fakta disini,"
"Alasan kenapa aku membunuh pejabat korup itu adalah ..." lanjutnya sengaja dijeda sambil menunjuk ke arah penonton.
"Kerena dia memang pantas mendapatkannya! Hahaha ..." celotehnya asal dan semakin membuat Rikka kesal.
"Maaf maaf ... aku kelewatan bercandanya!"
"Kalau kalian ingin tahu detailnya ... tetap ikuti chanel ini! Hahaha ..." lanjutnya.
"Kalau begitu, sampai jumpa di kasus berikutnya, bye-bye!" seru Thousand Face Reaper memberi salam dan diikuti dengan layar kaca yang tiba-tiba mati.
Tapi, tiba-tiba layar kaca menyala kembali dan menampilkan rekaman yang sama.
"Oh iya, ada yang lupa kukatakan!" ujar pria bertopeng yang tiba-tiba muncul kembali di layar kaca.
"Kudengar ada petugas baru yang memburu kepalaku ya?" katanya sambil celingak-celinguk ke arah kamera.
"Salam kenal petugas baru!"
Dengan semangat, pria bertopeng itu menyapa entah kepada siapa dengan lambaian tangannya.
"Dan, kau ... Hacker handal yang berhasil membuka rekaman ini!" ujar pria bertopeng menyindir sang petugas sambil menunjuk.
"Hebat juga kau! Kurasa targetku berikutnya adalah ... kau! Hahaha... bye - Bye!"
kali ini rekaman sang pria bertopeng pun benar - benar selesai dan mengembalikan tampilan CCTV yang normal disetiap sudutnya seperti tidak terjadi apa - apa.
Semua orang yang ada disana merasa seperti sedang dipermainkan, termasuk Rikka.
Setelah menyaksikan apa yang ada dihadapannya, Rikka pun semakin geram dan ingin segera melubangi kepala sang pembunuh berantai tersebut menggunakan pistol.
Andro dan Shasha hanya bisa melirik ke arah Rikka dan menduga - duga apa yang akan dikatakannya. Sedangkan sang kepala intelijen itu, hanya menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan melalui mulutnya.
Tapi siapa sangka, kalimat perpisahan yang terakhir sukses membuat sang petugas merinding, gemetar, dan duduk tegak terpaku dengan tatapan yang kosong.
"Hey ... tenanglah," ucap Rikka dengan lembut kepada sang petugas.
"Si brengsek itu hanya bercanda ... tak usah diambil pusing!" lanjutnya.
Sepertinya Rikka mengerti perasaan sang petugas yang ada dihadapannya.
Setelah yakin telah menenangkan bawahannya, Rikka pun beranjak keluar dari ruangan tersebut dan diikuti oleh Andro dan Shasha.
"Dasar brengsek ... sudah kuduga itu dia!" desis Rikka kesal sembari berjalan di koridor hotel tepatnya di lantai lima belas.
"Rikka ... apa kau butuh bantuan untuk misimu kali ini?" tanya Andro setelahnya.
Rikka menoleh kemudian tersenyum. "Terima kasih tawaranmu, Andro!"
"Aku pasti akan menghubungimu lagi jika aku butuh bantuan," sambungnya.
Tak merespon, Andro hanya menatapnya dengan intens dan sulit untuk diutarakan dengan kata - kata apa maksud tatapannya tersebut.
"Terima kasih!" ucapnya mengakhiri dan tersenyum. Kemudian wanita berparas cantik itu kembali berjalan ke arah lift bersama Shasha assistennya.
"Baiklah ..." kata Andro pelan setelah melihat Rikka memasuki lift. Lalu ia berjalan kearah lain dan menghilang entah kemana.
Di dalam lift tampak Rikka dan Shasha hanya diam dan sukses membuat suasana menjadi tenang. Hanya suara mesin lift saja yang terdengar. Dan setelah mendengar suara 'TING' pintu lift pun terbuka dan mereka langsung keluar dari sana secara bersamaan.
"Shasha, segera bereskan semuanya dan pulanglah ... sudah tak ada lagi hal yang perlu kita selidiki disini!" ujar Rikka tegas.
"Bagaimana dengan laporan kasus kali ini, Bu? Apa perlu aku yang menyelesaikannya?" Shasha balik bertanya.
"Kau benar ... kirimkan saja semua file terkait tentang kasus ini ke e-mailku, nanti aku yang akan membereskan laporannya!" perintah Rikka.
"Baik, Bu!" sahut wanita bermata sayu tersebut.
"Aku juga akan segera pulang ... maaf, karena selalu saja merepotkanmu!" lanjutnya.
"Dari pada kata maaf ... bukankah lebih baik kalau terima kasih, Bu Rikka?" balas sang assisten.
Rikka tertegun. "Kalau begitu ... Terima kasih, Shasha!" ucapnya diiringi dengan senyuman.
Shasha hanya mengangguk dan tersenyum lebar kemudian beranjak meninggalkan Rikka yang kini sedang membenahi barang - barangnya. Karena dia juga ingin segera pulang ke rumah.
Setelah beberapa saat, Rikka tampak sedang berjalan di Lobby hotel dan mengarah ke parkiran. Tapi, tiba-tiba ponselnya berdering dan didapatinya nama Aldo yang muncul di layar sentuh ponselnya.
"Halo?" sapa Rikka setelah menggeser simbol telepon berwarna hijau kearah kanan.
"Rikka, hari ini kau lembur?" tanya Aldo dibalik sambungan telepon.
"Iya ... kau tahu dari mana?" Rikka balik bertanya sambil tetap berjalan ke arah parkiran.
"Tadi nenek menghubungiku ... dia bilang, kata ibumu kau lembur. Apa perlu kujemput?" kata Aldo menawarkan.
"Tidak perlu ... aku bawa mobil, kok!"
"Apa kau yakin?" tanya Aldo lagi memastikan.
"Iya, tidak apa-apa."
"Baiklah kalau begitu ... hati - hati dijalan, ya?" lanjut Aldo sedikit perhatian.
"Iya ... sampai dirumah nanti aku akan mengabarimu," ucap Rikka membalas perhatian Aldo.
"Ok!"
"Hm, terima kasih."
"Sama - sama," balas Aldo singkat kemudian menutup sambungan telepon.
__ADS_1
Tanpa disadari, kini Rikka sudah berada disebelah mobilnya, dan tanpa menunggu lagi, calon istri Aldo itu segera masuk ke dalam mobil sport keluaran Italia berwarna biru miliknya dan langsung beranjak meninggalkan tempat parkiran hotel tersebut
Di lain sisi, sedari tadi ternyata ada orang yang memperhatikan Rikka dari dalam mobil sport berwarna hitam.
Siapa sangka, orang tersebut adalah Andro. Entah apa tujuan dia melakukan hal yang biasa dilakukan oleh stalker itu. Yang pasti, setelah sosok Rikka meninggalakan parkiran, pria kekar yang bernama Andro tersebut juga beranjak dari sana tapi dengan arah yang berlawanan.
Tak butuh waktu lama bagi Rikka untuk sampai ke apartemennya. Mengingngat waktu sudah malam dan jalanan sepi, hal itu menjadi kesempatan bagus baginya untuk menancap gas.
Setelah wanita pemilik iris mata hitam pekat itu membuka pintu apartemennya, ia langsung menyalakan komputer dan mengambil sekotak minuman dari dalam kulkas. Kemudian duduk di depan komputer dan mulai berkutat dengan pekerjaannya.
Laporan yang dimaksudkan Shasha tadi juga sudah dikirim ke e-mailnya dalam bentuk file. Tanpa menunggu lagi, Rikka langsung mengunduh dan membuka isi file tersebut, kemudian mulai mengerjakan laporan yang harus diselesaikannya tentang kasus pembunuhan Tony.
Saat jari lentik Rika sedang mengetik di atas keyboard, tiba-tiba dia sedikit tersentak seperti menyadari sesuatu dan menghentikan jemarinya seketika.
Dibuka nya lagi file - file lawas yang terkait dengan Tony. Dan gadis yang masih mengenakan pakaian kerjanya itu menemukan sebuah kejanggalan yang saling bersinkronisasi.
"Apa maksudnya ini?" katanya sambil menggigit bibir bawah miliknya.
Kemudian Rikka menggelengkan kepala dan melanjutkan pekerjaanya. Selang 15 menit kemudian pekerjaannya pun selesai dan wanita berparas cantik itu merengganggkan tubuhnya di atas kursi karena merasa pegal.
"Lebih baik aku segera mandi," katanya melanjutkan sambil melihat kerah jam dinding.
Tapi bukannya beranjak ke kamar mandi, wanita cantik itu malah meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.
Ternyata, Rikka sedang menulis sebuah pesan untuk seseorang. Setelah diperhatikan lagi, tujuan pesan tersebut adalah Aldo.
Setelah itu, barulah Rikka beranjak ke kamar mandi untuk melakukan ritual seorang wanita yang biasa ia lakukan setelah pulang kerja.
Di lain tempat dan di waktu yang sama. Tampak Aldo dan teman-temannya sedang berkumpul disebuah bar. Tapi, hanya Myra yang tidak hadir disana.
Anehnya, entah kenapa bar tersebut sangat sepi dan hanya diisi oleh Aldo dan teman-temannya saja. Lalu, Merasa ada notifikasi, Aldo langsung memeriksa ponselnya dan tersenyum sumringah.
'Aku sudah sampai dirumah.
Setelah ini aku mau mandi dan tidur.
Selamat malam :)'
Kira-kira begitulah isi pesan yang diterimanya. Pesan itu berasal dari Rikka calon istrinya.
"Hey ... kenapa kau cengengesan sendiri, Aldo?" tanya Nana heran.
Setelah sadar dari fantasinya, wajah Aldo sedikit memerah karena malu.
"Tidak apa-apa!" jawabnya sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Paling-paling itu pesan dari calon istrinya," celetuk Zedd yang tepat sasaran.
"Pantas saja!" kata Nana sambil melenggang ke arah sofa setelah mengambil segelas minuman yang sudah diracik Zedd.
"Boss ... apa kau yakin dengan keputusanmu?"
Tiba-tiba Zedd bertanya pada Aldo layaknya mengintrogasi seorang penjahat.
Aldo melirik kearahnya lalu meneguk segelas minuman. "Tentu saja."
"Aku tak menyangka kau akan mengambil keputusan seperti ini," Zedd melanjutkan.
"Aku juga butuh masa depan, Zedd!" balas Aldo.
"Lagi pula, aku sudah lama mengenal Rikka. Terlebih lagi, Rikka adalah pilihan nenek Isana!"
"Kau tahu sendiri bagaimana intuisi nenek Isana dalam memilih, kan?" sambungnya.
Zedd menganggukkan kepalanya. "Yang kau katakan memang benar, tapi-"
"Apa aku tak takut sama sekali?" kata Aldo menyambung kalimat Zedd yang dipotongnya. Sedangkan Zedd hanya mengangguk.
"Bukankah pekerjaan kita selama ini lebih menakutkan?" lanjut Aldo.
"Lagi pula, entah kenapa aku ingin selalu berada disisinya, Zedd!" sambungnya dengan tatapan sendu ke arah gelas.
Zedd hanya bisa tersenyum dan merasa akan selalu mendukung apa pun keputusan leadernya tersebut.
"Bagaimana jika suatu saat identitasmu ketahuan olehnya?" Syndi datang menghampiri mereka sambil memberikan kode kepada Zedd untuk membuatkannya minuman.
"Ketahuan?" Aldo bertanya yang direspon dengan anggukan oleh Syndi setelah duduk di sebelahnya.
"Bukankah dia juga memiliki rahasia?" sambung Aldo dengan intonasi bertanya.
"Karena itulah ... apa tak masalah bagimu?" balas Syndi.
Aldo menggeleng. "Tidak ... jika memang suatu saat itu akan terjadi dan dia menangkapku, aku akan memberikan argumen yang sama padanya."
"Apa menurutmu dia akan menerima argumenmu?" Kali ini Zedd yang bertanya setelah memberikan minuman Pesanan Syndi.
Aldo tersenyum. "Entahlah ... yang pasti aku merasa yakin, kalau dia itu pilihan yang tepat!" ucapnya.
"Hey, Boss... sepertinya rekaman video yang kau minta itu sudah di lihat oleh mereka," Taka tiba-tiba menyela dan mengubah topik pembicaraan.
"Maksudmu video keren yang berkaitan dengan Tony?" tanya Aldo setelah menoleh ke arah Taka dan dibalas dengan anggukan.
"Keren apanya, Video bodoh iya!" cibir Nana sambil bersantai di sofa tapi sama sekali tidak digubris oleh yang lainnya.
"Luar biasa ... ini adalah kemajuan untuk mereka, bukan?" lanjut Aldo tampak bahagia.
"Pasti ini ada hubungannya dengan kolonel Rikka!" tutur Kawa yang sedari tadi asyik berkutat dengan mainannya kini ikut bergabung.
"Wow ... sepertinya Sniper andalan kita punya mainan baru?" ucap Zedd.
Tampaknya Kawa sedang membawa senapan berjenis AS50 Sniper Riffle berwarna putih dipelukannya.
"Oi oi ... ukurannya sangat tidak cocok dengan mu, anak muda!" kata Aldo sedikit mengolok.
Syndi hanya tersenyum sedangkan Taka benar - benar tidak peduli dengan hal tersebut dan tetap menatap game konsol kesayangannya.
"Hm hm ... si imut ini sudah aku modifikasi dengan gaya ku sendiri. Jadi, hanya ukurannya yang besar tapi bobotnya ringan!" seru Kawa bangga akan kerja kerasnya.
"Ini adalah AS50 Sniper Riffle yang sudah aku kembangkan. Biasanya hanya mampu mencapai jarak 1.8km. Tapi setelah ku modifikasi, kini ia mampu mencapai 3 - 4 km!" sambungnya menjelaskan.
"Wah ... hebat!" kata Aldo kagum.
"Warnanya sangat cocok denganmu, Kawa!" puji Zedd bangga kepada temannya yang mungil itu.
"Hehehe ... terima kasih." Kawa pun cengengesan.
Kemudian Kawa duduk di antara Aldo dan Taka sambil meraih minuman yang sudah disediakan oleh Zedd.
"Kalau dipikir lagi, aku rasa yang dikatakan Kawa tadi benar!" ujar Zedd kembali ke pembahasan video yang dianggap keren oleh Aldo tadi.
"Rikka yang berhasil membongkar virus buatan Taka?" tanya Aldo memastikan.
"Aku rasa juga begitu!" timpal Syndi.
"Benar ... apa kalian tak tahu? Intuisi wanita itu sama persis seperti nenek Isana!" desis Kawa dengan tatapan horor setelah meneguk minumannya.
"Aku juga sempat berpikiran seperti itu," ujar Zedd yang lagi-lagi mendukung Kawa.
"Itu memang benar, pasti ini ulah dia! Kalau tidak, tak mungkin kode rumit itu bisa dipecahkan dengan mudah!" sela Taka.
"Selama ini, hanya nenek Isana yang bisa menebak semua puzzle yang pernah aku buat!" lanjutnya.
"Tapi sayang ..." cetus Taka sengaja menjeda.
"Sayang?" tanya Aldo, Kawa, dan Zedd serentak.
Sementara Syndi hanya diam dan memperhatikan. Sedangkan Nana masih asyik bersantai di sofa tanpa menggubris pembahasan teman-temannya.
"Bakat mereka tidak diimplementasikan dengan benar!" sambung Taka santai.
Teman-teman yang lain hanya bisa sweatdrop mendegar penuturan Taka yang berbanding terbalik dengan kenyataan sesungguhnya.
"Aku rasa bakatmu lah yang tidak diimplementasikan di tempat yang seharusnya, Taka!"
Syndi pun menimpali sahabatnya yang berambut ala Tao Ming Tse tersebut dan direspon dengan tawa kecil oleh teman-temannya.
"Ngomong - ngomong di mana Myra?" tanya Aldo.
"Seperti biasa, gadis bodoh itu sedang kencan dengan korban yang lainnya!" jawab Taka cuek.
Di tempat Myra berada sekarang, tampaknya gadis centil itu sedang bersin - bersin disebelah teman kencannya.
Saat ditanya apa dia baik - baik saja, Myra hanya menggeleng dan menoleh ke arah lain dengan tatapan kesal sembari menggosok-gosok hidungnya.
Setelah perbincangan yang cukup panjang malam itu, Aldo memutuskan untuk pulang kerumahnya. Waktu sudah menunjukan pukul 01.15 dini hari. Jalanan sudah sangat sepi, tapi masih tampak di sana mobil yang berlalu-lalang di sekitar kota.
Selang 15 menit, mobil putih milik Aldo tiba di rumah. Dan pria berambut coklat tersebut memutuskan untuk segera tidur di kasur kesayangannya.
Mengingat Aldo yang tinggal sendiri di rumah yang cukup besar untuk sebuah keluarga, dia pun membayangkan, bagaimana kehidupannya nanti jika sudah menikah dan tinggal serumah dengan Rikka.
Tanpa sadar senyuman pun langsung tercuat di wajah Aldo sembari ia menutup matanya dengan rapat dan berdoa dalam hati agar hari esok dan seterusnya akan baik - baik saja untuk dirinya, keluarga, dan sahabat - sahabatnya termasuk Rikka.
__ADS_1