
Beberapa hari pun berlalu semenjak Eriya, Elli, dan Leon resmi menjadi keluarga besar Aldo. kini, mereka tampak sedang berada di dalam mobil. Mobil putih kebanggaan Aldo lebih tepatnya
Sepertinya mereka berencana untuk mendaftarkan Leon dan Elli untuk sekolah.
Awalnya mereka bingung harus mendaftar kemana, tapi setelah berembuk dengan anggota keluarga yang lain, sepasang suami istri itu pun sepakat untuk mendaftarkan kedua adik kecilnya ke sekolah yang sama dengan Kenny dan Vivi yang tak lain adalah keponakan Aldo.
"Kau yakin tidak ingin ditunggu?" tanya Aldo pada sang istri yang duduk di sebelahnya.
Rikka menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa menggunakan Taxi Online nanti."
"Tapi hari ini cuma mendaftar saja, kan?"
"Setelah mendaftar, mereka akan ikut ke kantor bersamaku ..." kata Rikka menjelaskan.
"... lagi pula, proses pendaftarannya sedikit rumit. Mereka juga harus melakukan fitting untuk seragam yang akan di gunakan nanti!" lanjutnya.
Sementara di baris belakang, Leon dan Elli malah memandang Eriya dengan tatapan bingung.
Gadis bermata Emerald itu pun menjawab dengan jari telunjuk yang ditempelkan ke bibir sebagai kode untuk tetap diam.
Kedua bocah yang akan segera bersekolah itupun hanya bisa menurut dengan anggukkan kepala.
"Baiklah jika kau bersikeras," balas Aldo.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah sekolah dengan bangunan besar bergaya inggris. Dari pada menyebutnya dengan sekolah, mungkin lebih cocok kalau bangunan itu disebut istana.
Setelah berpamitan dengan Aldo, Rikka pun melenggang masuk ke dalam bangunan tersebut dengan pakaian kantor khas wanita bersama kedua adik kecilnya.
"Baiklah, Eriya ... kita berangkat!" kata Aldo bersemangat.
Eriya yang kini sudah duduk di sebelah Aldo menggantikan istrinya menganggukkan kepala tak kalah semangat.
Sedan putih pun mulai berjalan cukup cepat. Tapi masih dalam batasan tertentu. Karena Aldo tak mau harus berurusan dengan polisi nantinya jika ia mengebut di jalanan kota.
"Kak Aldo?" panggil Eriya.
"Hhmm?" sahut Aldo sembari mengemudi.
"Ummm ... boleh aku bertanya?"
"Silahkan."
"Ini tentang Kak Aldo dan Kak Rikka."
"Kenapa dengan kami?"
"Apa tidak masalah?"
"Dengan pekerjaanku?" tanya Aldo memastikan.
Eriya merespon hanya dengan anggukkan kepala yang membuat rambut pirangnya yang digerai ikut bergoyang.
"Tentu saja tidak masalah ... aku cuma pengelola cafe biasa, kok!" jawab Aldo polos.
"Bu-bukan yang itu maksudku ..."
"Lalu?" Aldo pura-pura bodoh.
"Pe-pembunuhan ..."
Aldo menyeringai. "Sebelum kujawab ... bagaimana denganmu? Apa kau punya masalah dengan itu?"
"Aku sedikit takut!" tegas Eriya.
"Takut kalau aku akan membunuhmu?" Aldo memastikan masih dengan seringaian.
Eriya menggeleng. "Takut jika terjadi apa-apa dengan kalian berdua!"
"Memangnya kenapa dengan kami ber-"
"Kak Rikka adalah polisi, kak Aldo adalah pembunuh profesional. Bukankah kalian itu seperti musuh bebuyutan?" ujar Eriya memotong kalimat Aldo.
"Benar. Lalu?"
"A-aku takut ... jika suatu saat nanti kalian berdua akan berpisah hanya karena pekerjaan kalian."
Aldo hanya bisa tertegun mendengar penuturan adiknya yang menyerupai makhluk dunia fantasi tersebut.
"Kenapa Kak Aldo tidak berhenti saja, lalu menjalani hidup normal seperti seorang suami pada umumnya?" cetus Eriya melanjutkan.
Aldo tampak mengembangkan senyumannya kemudian mengelus kepala pirang Eriya dengan lembut.
"Kalau soal itu aku masih belum bisa, Eriya ... masih ada sesuatu yang harus kuselesaikan ..." balas Aldo.
"... tapi kalau untuk masalah aku dan Rikka berpisah suatu saat nanti, bukankah itu tanggung jawab kalian?"
Eriya menatap kakak laki-lakinya dengan bingung.
"Tanggung jawab kami?"
Aldo mengangguk tapi tidak menjawab pertanyaan adiknya.
"Maksud kak Aldo apa?" Eriya masih bingung.
"Jadilah perekat seperti lem agar aku dan Rikka tetap bersatu selamanya!" tegas Aldo.
"Kak Aldo ..."
"Apa bisa, kalian kuberi tanggung jawab seperti itu?"
Eriya menganggukkan kepalanya dengan penuh kepercayaan diri.
"Baik! Kami akan menerima tanggung jawab ini!"
"Apa kau yakin?" tanya Aldo sedikit ragu.
"Tentu saja, aku sangat yakin!"
"Kalau begitu, kuserahkan semuanya padamu."
"Siap, Pak!" teriak Eriya lantang layaknya tentara.
"Oi oi ... kenapa mendadak jadi tentara?"
Eriya hanya tersenyum manis tanpa menjawab Aldo yang sedang menyetir.
Tak lama setelah itu, akhirnya mereka tiba di sebuah cafe bernama Green Goblin.
"Selamat datang di Green Goblin!" ujar Aldo sambil membuka pintu.
Eriya hanya diam dan berjalan mengikuti kakak laki-lakinya dari belakang tanpa banyak bicara.
"Kebetulan sekali! Leader, coba lihat ini!?" teriak Kawa dengan ekspresi kesal.
Aldo hanya mengernyit lalu berjalan menghampiri Kawa, Myra, Nana, dan Zedd yang sedang menonton berita di televisi. Tak lupa Eriya yang masih setia mengikuti dari belakang.
Sementara Syndi tampak sedang melayani pelanggan. Dan Taka seperti biasa, bermain game konsol tanpa peduli dengan sekitarnya.
"Pembunuh berantai berjuluk Thoudand Face Reaper diduga bekerja sama dengan kepolisian?" ucap Aldo saat membaca tulisan di televisi.
"Apa-apaan ini?" lanjutnya mulai tampak kesal.
"Ya, kan? Benar-benar menyebalkan, bukan?" kata Kawa memanasi.
"Aku rasa mereka berhasil mengusut kasus pembunuhan Hugo, Boss!" bisik Zedd.
"Kurasa juga begitu," Nana ikut menyetujui.
"Tapi yang benar saja, predikat Thousand Face Reaper akan jatuh kalau begini!" cerocos Myra.
Aldo sedikit khawatir dengan ucapan Myra, lalu ia melirik keadaan sekitar memastikan tidak ada yang mendengar.
"Sudahlah, yang penting kita bisa tetap menjalankan bisnis di Green Goblin!" respon Aldo.
"Apapun itu, yang penting aku masih bisa main game!" celetuk Taka.
PANG ...
Talam yang terbuat dari alumunium dihempaskan oleh Myra di kepala gondrong Taka.
"MYRAA!!! amuk Taka tak terima.
"APA!?"
"Tch ..." decak Taka kesal.
"Wah wah ... sepertinya ada wajah baru disini?" sela Syndi.
Sepertinya gadis bermata giok itu berjalan menghampiri Eriya yang sedari tadi diam saja di belakang Aldo.
Akhirnya Aldo tersedar kalau sosok Eriya juga hadir disana. Lalu ia meminta gadis pirang itu untuk berdiri di sebelahnya.
"Maaf, teman-teman ... perkenalkan, dia adalah Eriya, anggota baru keluarga kita!" ucap Aldo memperkenalkan.
Zedd menajamkan tatapannya ke arah sang leader. "Keluarga?"
Aldo mengangguk seakan mengerti tatapan dari sahabatnya yang satu itu.
"Benar, keluarga!" tegas Aldo.
"Apa kau yakin, boss?" bisik Zedd.
"Nanti akan ku ceritakan."
Zedd merespon dengan kedua bahunya yang diangkat secara bersamaan.
"Eriya, perkenalkan dirimu," perintah Aldo.
"Salam kenal semuanya, Namaku Eriya. Aku adalah adik angkat Kak Aldo. Dan mulai sekarang aku akan bekerja disini," ucap Eriya ramah.
"Seperti yang kalian dengar, mulai sekarang dia akan menjadi bagian dari Green Goblin dan berkerja bersama kita disini!" jelas Aldo.
"Salam kenal, namaku Zedd!"
"Halo gadis cantik~ aku Nana!"
"Syndi, salam kenal."
"Cantiknyaa~ ... halo Eriya, aku Kawa."
Sepertinya Kawa tak henti-hentinya tercengang melihat sosok indah dari Eriya.
"My-myra, sa-salam kenal!"
Wajah Myra malah merona ketika menyaksikan sosok Eriya yang cantik di hadapannya.
"Taka disini!" katanya cuek.
Tapi, setelah tak sengaja pria gondrong itu melirik sosok Eriya. Ia langsung melompat dan berdiri tepat di hadapan sang gadis pirang tanpa memperdulikan nasib game konsolnya yang terjatuh.
"Elf ... aku melihat Elf ... aku sedang berhadapan dengan Elf ... Elf sedang ada di depanku ... Elf Elf Elf ..."
Mulut Taka mulai komat-kamit seperti dukun yang sedang merapalkan mantra untuk mengusir setan.
Aldo menghela nafas. "Sudah kuduga ..."
"Myra!?" perintahnya dengan lantang.
"Ok, Leader!" Myra menyeringai seakan mengerti maksud leadernya.
PANG ... PANG ... PANG ... PANG ...
Hantaman talam alumunium mendarat di wajah Taka. Sepertinya, Myra sangat menikmati tugas yang diberikan padanya sekarang.
"Mwirwaa ... hwentkkawwaann... Ewlwf ..."
Padahal sudah sulit berbicara, tapi Taka masih bisa bertahan akan siksaan dari Myra tersebut.
Bukannya merasa iba, Eriya malah cengo melihat Taka yang sedang disiksa.
"Eriya, mulai sekarang mereka juga keluargamu. Jaga hubungan kalian agar tetap akur seperti makhluk gondrong yang sedang disiksa oleh kekasihnya itu!" jelas Aldo menegaskan.
"SIAPA YANG KEKASIH SIAPA!?" sangkal Myra tak terima.
"Ba-baik, kak Aldo," balas Eriya.
"Lalu dimana pekerja sambilan yang baru, Zedd?" tanya Aldo.
"Mereka akan mulai bekerja di shift siang," balas Zedd
Aldo mengangguk. "Baiklah kalau begitu."
"Myra, Syndi, Kawa. Tolong ajarkan Eriya bagaimana cara kerja di Green Goblin. Eriya, bekerjalah dengan rajin!" perintah Aldo.
"Ok, Leader!"
"Baik, Kak Aldo."
"Nana, Taka, Zedd ikut aku!" perintah Aldo lagi.
"Siap, Boss!"
Setelah itu Aldo berjalan ke belakang meja barista, atau ke arah dapur lebih tepatnya. Kemudian menuruni tangga dan menuju ke ruang bawah tanah bersama beberapa rekan satu timnya.
Ruangan bawah tanah itu tampak gelap, lalu Zedd meraih stop kontak dan menyalakan lampu agar ruangan menjadi terang. Tapi tindakannya tak begitu membuahkan hasil, karena ruangan masih tampak remang-remang.
Tiba-tiba, pancaran cahaya dari sebuah proyektor muncul di sana dan membuat ruangan menjadi sedikit lebih terang.
Taka tampak duduk rapi dan mulai membuka laptopnya, begitu juga dengan Nana, tapi ia terlihat sedang mamainkan sebuah ballpoint di jari lentiknya sembari menunggu laptop selesai booting. Sedangkan Zedd tampak sedang berbincang dengan Aldo sambil melihat layar komputer berukuran 40 inci.
"Hey, Aldo?" Nana memanggil.
"Hm?" sahut Aldo masih melihat ke layar komputer.
"Apa istrimu tidak marah, kau membawa pulang gadis secantik itu?"
Aldo tersenyum singkat. "Justru dia yang memintaku untuk mengizinkan mereka tinggal di rumah kami!"
"Mereka?"
"Apa kau ingat misi kita di tempat lelang kemarin?"
"Pantas saja aku seperti pernah melihat gadis itu. Rupanya dia gadis yang di tawar hingga lima puluh ribu dolar itu, kan?" sela Zedd memastikan.
Aldo mengangguk. "Benar ... tapi ada dua orang anak kecil lagi yang ada di rumahku ..."
"Awalnya mereka bertiga ingin ikut bersamaku setelah menyaksikanku mencabut nyawa Hugo. Tapi, agar suasana tak semakin kacau nantinya, aku menitipkan mereka pada Rikka!" sambungnya.
"Lalu Rikka berniat mengadopsi mereka?" tanya Nana.
__ADS_1
"Begitulah ... dengan begitu aku tak perlu harus repot mengarang cerita untuk Rikka. Dengan kata lain, sekali tepuk dua nyamuk!" kata Aldo menegaskan.
Nana tersenyum kecut. "Seperti biasa, kau sangat licik!"
"Terima kasih!" Aldo menyeringai.
"Baiklah, aku akan mulai mereview misi pembunuhan Hugo yang lalu!" sela Taka tiba-tiba.
Sepertinya pria gondrong itu ingin menjelaskan sesuatu.
"Seperti yang Zedd laporkan pada kita melalui e-mail. Client sangat puas akan hasil kerja kita, apa lagi dengan ikut campurnya pihak kepolisian disana. Tapi ..."
"... berdasarkan data yang kudapatkan, sepertinya kepolisian mulai curiga dengan keberadaan kita." jelas Taka panjang lebar.
Aldo tampak mengkerutkan dahinya.
"Maksudku adalah, mereka menduga kalau Thousand Face Reaper tidak bekerja sendirian ..."
"... pihak kepolisian sepertinya sedang melacak keberadaan Goblin yang lain dan ingin meringkus mereka!" lanjutnya.
"Dari mana data itu kau dapatkan?" tanya Zedd.
"Sebelumnya maaf Aldo ... beberapa waktu yang lalu aku meretas e-mail Rikka dan melihat sebuah pesan masuk dari seseorang bernama Andro yang mengirimkan sebuah laporan mengenai kinerja Thousand Face Reaper."
"Andro?" Nana tampak seperti memikirkan sesuatu.
"Detektif gadungan itu?" Zedd bertanya.
Aldo menyeringai. "Jadi bocah itu ingin ikut campur juga, ya?"
"Bocah?" tanya Taka bingung.
"Umurnya saja masih lebih muda dari pada Rikka. Tentu saja akan kupanggil bocah!" umpat Aldo.
"Kau mengenalnya?" tanya Zedd.
"Salah satu teman lama yang jenius dan selalu berprestasi," ungkap Aldo sembari sedikit mengingat.
"Sudah kuduga, Rikka juga punya banyak kartu AS di tangannya!" cerocos Taka.
"Kau benar! Rikka sangat merepotkan!" timpal Nana.
"Oi oi ... ada suaminya disini!" tegur Zedd
Sementara Aldo hanya tersenyum kikuk karena tak tahu harus merespon bagaimana.
"Ada lagi?" tanya Aldo.
"Sisanya urusanmu, Zedd!" Taka berkata.
Zedd memberi anggukkan. "Untuk misi selanjutnya kita mendapatkan tiga target yang bisa dipilih."
"Tiga? Jarang sekali bisa sebanyak ini?" ucap Aldo.
Zedd kembali menganggukkan kepala. "Yang pertama adalah Vino Voughn. Pria keturunan perancis yang bekerja sebagai anggota parlemen di negara ini."
"Ada kecacatan?" tanya Aldo.
"Seperti biasa, pejabat korup yang ada hubungannya dengan Gino."
"Selanjutnya," perintah Aldo yang kini telah duduk di sebuah kursi.
"Yang kedua Kyra Joline, salah satu politikus negara ini yang disegani oleh hampir seluruh negara di asia ...
"Kecacatan, selalu mematahkan langkah mata-mata Goblin's untuk melalukan pendekatan!"
"Selanjutnya,"
"Baron Seagate, kerabat jauh dari Hugo. Tapi juga memiliki peran yang sama dengan pria gendut itu, yaitu salah satu donatur terbesar untuk Organisasi Revolusi."
"Kabarnya dia selalu di jaga oleh Reno Schwart yang juga salah satu Elit militer negara ini!"
"Hmmmm ..." Aldo bergumam.
Ketiga rekan Aldo yang berada di ruangan tersebut hanya diam dan menunggu keputusan dari sang leader.
"Sebelum itu ..." kata Aldo menjeda.
"... Nana, bagaimana dengan racun yang kau kembangkan?" lanjutnya.
"Aku baru ingin mengatakannya ..." ujar Nana.
"Aku berhasil menggabungkan racun dengan reaksi super cepat ke peluru pistol seperti yang kau minta. Tapi, benda itu memiliki kelemahan."
"Kelemahan?"
Nana mengangguk. "Walaupun reaksinya tidak sampai dua detik, jika peluru itu tidak berinteraksi dengan darah secara langsung, maka semuanya tak akan ada artinya," kata Nana menjelaskan.
"Jadi ... jika peluru itu hanya menggores maka racunnya tak akan bereaksi?"
"Betul, maka dari itu kau harus benar-benar membuat peluru itu bersarang di tubuh manusia bagian manapun yang mengalirkan darah."
"Terdengar rumit memang, tapi selama kau bisa membuat peluru itu tidak menembus targetmu, setidaknya paling lama 2 detik, maka racunnya akan bereaksi ..."
"... karena, sifat racun itu kubuat akan bereaksi setelah berinteraksi dengan darah. Bukan sebaliknya!" tegas Nana menjelaskan.
"Kenapa kau mau melakukan hal serepot itu?"
"Itu demi kenyamananmu juga, Leader!"
Aldo tersenyum. "Aku jadi tersanjung ... tapi, terima kasih, Nana!"
"Sama-sama~," balas Nana ikut tersenyum dengan nada yang dibuat-buat.
"Dan tolong, jangan minta padaku untuk melakukan hal yang sama pada Rifle milik Kawa!"
"Ba-baiklah," Respon Aldo kikuk.
"Taka, bagaimana pengembangan GTR?" Aldo melemparkan pertanyaan untuk Taka.
Taka mendengus malas. "Seharusnya kau tanyakan hal ini pada Kawa. Tapi, baiklah ..."
"... semua perangkat yang dibutuhkan GTR sudah dipersiapkan dan diinstal oleh Kawa. Hanya saja, aku butuh beberapa hari lagi untuk menyempurnakan software pendukungnya," kata Taka menjelaskan.
Aldo mengernyit. "Berapa hari kira-kira?"
Taka tampak sedang bergumam sembari memegang dagunya seolah berpikir keras dengan mata yang dipejamkan.
"Paling lama dua hari," cetus Taka.
Aldo mengangguk. "Baik, aku akan menggunakan GTR untuk misi yang selanjutnya!"
"Misi yang mana, Boss?" sela Zedd bertanya.
"Baron Seagate, aku juga tertarik dan ingin bertemu dengan pria bernama Reno itu."
"Kapan?"
"Tiga hari lagi mulai dari sekarang!" kata Aldo menyeringai.
"Ok, Boss!"
"Kenapa kalau aku boleh tahu?" Nana bertanya dengan mengangkat sebelah tangannya.
"Vino membosankan, serahkan saja dia pada Rikka dan anak buahnya ..."
"... Dan untuk Kyra, mungkin suatu saat dia akan berguna, jadi kita tunda dulu untuk mengakhiri hidupnya," kata Aldo tanpa dosa sedikit pun.
Terlihat ia mondar-mandir untuk memberikan order pelanggan kepada Myra yang menggantikan tugas Zedd dan Nana untuk sementara. Lalu kembali mengantarkan pesanan tersebut ke pelanggan.
Syndi dan Kawa tampak sangat puas dengan pekerjaan yang dilakukan oleh sang gadis bermata emerald itu. Padahal ia masih terbilang baru tapi kinerjanya sudah seperti seorang profesional.
Tiba-tiba suara ponsel Eriya berdering. Ia melihat panggilan tersebut dan mendapati nama Rikka sedang meminta Video Call padanya.
Sepertinya Eriya baru saja dibelikan smartphone oleh kedua kakaknya. Supaya memudahkan dia untuk berkomunikasi dengan yang lain.
Dengan sigap, Eriya meminta izin kepada Myra untuk mengangkat panggilan tersebut sebelum berjalan ke ruang karyawan.
"Halo," kata Eriya sambil melambaikan tangan ke ponsel.
"Halooo, Kak Eriya!" kata Adik-adik kecilnya ikut melambaikan tangan.
Tampak melalui layar ponsel kedua makhluk kecil berada di sebelah kiri dan kanan Rikka sedang melambaikan tangan dengan semangat.
Sepertinya mereka sedang berada di dalam mobil menuju kantornya Rikka.
"Bagaimana hari pertamamu, Eriya?" tanya Rikka dengan senyuman.
"Sangat menyenangkan, Kak Rikka. Semua teman-teman Kak Aldo sangat ramah padaku tanpa memandang status senior dan junior," jawab Eriya.
Rikka mengangguk masih dengan senyuman.
"Ingat, kau harus rajin dan jangan mengecewakan Aldo, ya?" Rikka memberi nasehat.
Eriya balas menganggukkan kepala pirangnya dengan semangat.
"Baik, Kak Rikka ... Kalian bagaimana? Apa ada masalah dengan pendaftarannya?" Eriya gantian bertanya.
"Semua lancar, tidak ada masalah. Hari senin pekan depan mereka sudah bisa masuk sekolah dengan seragam barunya."
Eriya tersenyum. "Wah, aku tidak sabar ingin melihatnya."
"Hey ... kenapa kalian menganggu adikku bekerja!?" sela Aldo dari belakang Eriya dengan mata yang melotot.
"Kak Aldo~!" sapa Kedua makhluk kecil.
Bukannya takut, kedua makhluk kecil itu malah dengan semangatnya melambaikan tangan.
"Halo~," Aldo malah ikut melambaikan tangan.
"Bagaimana Rikka?" tanya Aldo.
"Semuanya aman. Tenang saja ..."
"... kami sudah hampir sampai, sudah dulu, ya? ... dan Eriya, ingat, jangan malas-malasan!"
Eriya menganggukkan kepalanya lagi untuk merespon sang kakak perempuan.
"Hey ... kau tak merindukan suamimu ini?" Aldo tampak tidak terima.
"Bo-bodoh!"
Dengan itu, panggilan Vidio pun di tutup dan sukses membuat Aldo berjalan ke meja barista seperti orang depresi.
Sementara itu, Taka berdiri tegak memandang sosok Eriya dengan kagum tak jauh dari sana sambil merapalkan kalimat yang tidak jelas.
"Ayo kembali bekerja!" cerocos Zedd sembari menarik Taka dengan paksa.
●●
Tiga hari pun berlalu semenjak Eriya mulai bekerja di Green Goblin bersama Aldo. Gadis itu sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya dan membuat Aldo bangga akan hal tersebut.
Begitu pula dengan Rikka, ia sangat puas dan bangga pada adik perempuannya yang satu itu.
Pada suatu malam yang cerah, gadis pirang bernama Eriya itu tampak sedang duduk di sebuah ruang keluarga bersama kedua adik kecilnya yang sedang menonton televisi.
Saat sedang asyik menonton TV, deringan ponsel pertanda pesan masuk berbunyi. Dengan sigap, gadis yang juga memiliki mata seperti emerald indah itu mengambil ponselnya yang diletakkan di atas meja.
"Kak Rikka juga pulang terlambat?" gumamnya setelah melihat pesan di ponsel.
Kedua makhluk kecil bernama Leon dan Elli menghampirinya dengan tatapan bingung.
"Ada apa, kak Eriya?" tanya Leon.
Eriya tersenyum. "Sepertinya hari ini Kak Aldo dan Kak Rikka akan pulang terlambat."
"Mereka lembur?" gantian Elli bertanya.
"Sepertinya begitu," jawab Eriya dengan anggukkan.
"Apa kak Aldo sedang menjalankan misi?" tanya Leon lagi.
"Dan Kak Rikka sedang mengejarnya?" timpal Elli.
Eriya menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu."
"Apa mereka akan baik-baik saja?"
Leon dan Elli tampak mulai khawatir. Itu terlihat jelas di wajah dan gelagat mereka yang gelisah.
Eriya kembali tersenyum, kemudian secara perlahan ia mengelus pelan kepala kedua adik kecilnya.
"Tenanglah, percayakan semuanya pada kak Aldo. Lagi pula, kita juga punya tanggung jawab, kan?" ujar Eriya.
Leon dan Elli menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Benar! Walaupun mereka sedang berkelahi di luar, kita harus tetap membuat mereka akur di rumah!" tegas Leon.
"Benar!" pekik Elli dengan sebelah tangan yang dikepalkan di udara.
Eriya hanya bisa kembali tersenyum tanpa merespon adik-adiknya dengan tatapan kosong seolah berpikir akan sesuatu.
Sementara itu di tempat lain dan di waktu yang sama, tampak seseorang sedang memarkirkan sebuah mobil sport berwarna hitam pekat di dekat sebuah taman.
Seseorang itu sepertinya sosok pria berpakaian rapi dan memiliki wajah yang sangat oriental. Kemungkinan pria tersebut berasal dari Tiongkok atau Jepang.
Setelah ia memarkirkan mobilnya, pria oriental itu pun berjalan masuk ke area taman yang tampaknya dijadikan sebagai tempat pesta.
Tepat di pintu masuk, pria oriental yang juga menggunakan kacamata itu di cegah oleh dua orang pria kekar. Yang satu botak dan yang satu lagi berambut hitam cepak.
"Undangan Anda, Tuan?" kata salah satu pria kekar yang botak.
Tanpa banyak kata pria oriental menunjukkan sebuah undangan berwarna merah yang dikemas secara unik dan apik.
Kedua pria kekar hanya menganggukkan kepalanya setelah melihat undangan tersebut, kemudian mengizinkan sang pria oriental masuk ke area taman.
Pesta di taman tersebut tampak sangat meriah walaupun tidak berisik. Musik klasik yang mengiringinya pun terdengar indah di telinga setiap orang.
Sepertinya pesta itu hanya dihadiri oleh orang-orang elit saja. Itu tampak dari mata sang pria oriental yang sedari tadi hanya melihat sosok seperti bangsawan, penggerak ekonomi, dan juga pakar politik di negara tersebut.
Sembari mata liarnya melirik ke sana kemari, sang pria oriental mulai berjalan menghampiri meja yang menyediakan minuman.
Kemudian ia meminta segelas cocktail kepada pelayan yang bertugas di sana, lalu menyeruput minuman yang kelihatannya sangat nikmat tersebut.
Mata coklat pria oriental tiba-tiba menangkap sosok pria yang glamor di hadapannya. Walaupun jarak mereka sekitar 10 meter, setidaknya pria glamor itu sedang berdiri di depannya.
"Ok, Baron lock on!" ucapnya pelan dengan senyuman.
"Yang mana dia, Leader?" tanya suara yang sepertinya milik Kawa melalui earphone.
__ADS_1
"Pria berjas merah yang memakai kalung emas tebal di lehernya," jelas pria oriental.
"Pffttt ... apa-apaan gayanya itu!" Kawa terdengar menahan tawa.
"Sudah, kau tetaplah fokus pada leadermu yang tampan ini!"
"Baiklah, Leaderku yang tampan~!"
"Padahal dia cukup tampan, tapi kenapa pakaiannya seperti itu?" tiba-tiba suara Myra ikut bergabung.
pria oriental mengernyit. "Dari mana kau tahu, Myra?"
"Aku di sebelah Kawa sekarang," balasnya enteng.
"Posisi?"
"Hampir empat kilometer di sebelah timur dari tempatmu berada," kata Myra menjelaskan.
Aldo tampak cengo. "Teropong apa yang kau gunakan?"
"Seperti biasa, mainan buatan Kawa dan Taka!" Myra menegaskan.
"Tumben kau tidak kencan?"
"Tidak ada pria bodoh yang mengajakku kencan hari ini!"
"Bagaimana dengan Taka?" cetus pria oriental masih melalui earphone.
"Dia memang bodoh ... tapi dia tak pernah mengajakku kencan!"
"Oi oi ... aku bisa mendengar kalian di sini!" sela Taka komplain.
"Ngomong-ngomong, Syndi imut sekali dengan penampilan seperti itu!" ujar Myra memuji.
"Terima kasih, Myra," sahut Syndi yang sedang menyamar sebagai pelayan.
Aldo melirik ke sana kemari mencari sosok Syndi yang dibilang imut oleh Myra.
"Benar juga, dimana dia?"
"Di sebelahmu, Aldo!"
Syndi tampak tersenyum sambil menawarkan cocktail yang baru untuk sang leader tepat di sebelahnya.
"Penampilanmu hari ini benar-benar membuatku pangling," bisik Aldo.
"Terima kasih," balas Syndi ramah masih tersenyum.
Benar sekali apa yang dikatakan Aldo. malam itu Syndi sangat cantik dan imut, ia menyamar sebagai maid seksi dengan rambut dicepol dua.
"Syndi, boleh aku berfoto denganmu setelah ini?" celetuk suara Taka.
"Boleh, asal dengan bayaran yang tinggi di setiap fotonya!" jawab Syndi asal.
"Pelit!" cibir suara Taka.
"Teman-teman, seriuslah sedikit!" tegur suara Zedd.
"Zedd, apa Reno ada di sini?" tanya Aldo melalui earphone.
"Apa kau tak melihatnya?" Zedd balik bertanya.
"Aku rasa dia pria tampan berambut pirang dengan pakaian sedikit selengekan itu!" cetus Myra.
Aldo melirik sosok yang di maksud oleh Myra.
"Maksudmu pria gondrong yang wajahnya seperti wanita itu?" Aldo memastikan.
"Bukankah dia tampan?"
"Pffttt ... aku rasa dia gay!" celoteh suara Kawa sambil menahan tawa.
"Bisa jadi ..." respon Aldo.
"... baiklah, akan kumulai sekarang! Kalian, bersiaplah!" lanjut Aldo.
"Ok, Leader!"
Aldo mulai membaca situasi dengan mata coklatnya yang sedang menulusuri taman.
Tampak di sana Reno selaku elit militer yang selalu menjaga sosok Baron sedang berbincang dengan seseorang. Sedangkan Baron sendiri sedang berjalan dengan santainya bersama seorang wanita cantik.
"Ada berapa serangga yang mengitarinya?" desis Aldo bertanya melalui earphone.
"Sekitar sebelas sampai tiga belas orang termasuk penjaga di depan pintu!" balas Zedd.
Aldo mengangguk. "Ok!"
Aldo kemudian memperhatikan arah tujuan Baron yang sedang berjalan, lalu ia melihat ada bangku taman yang cukup panjang di sana. Tak banyak kata, ia pun segera mengikuti pria glamor tersebut.
"Sekali lagi, aku turut berduka cita atas meninggalnya kerabatmu, Tuan Baron," ujar wanita cantik di sebelah Baron.
Wanita itu mengenakan dress hitam panjang yang sangat indah. Benar-benar sangat mendukung kulit putihnya yang seperti susu.
"Terima Kasih, Nona Viona," sahut baron.
"Kalau begitu, aku permisi ... sampai jumpa!" pamit wanita bernama Viona.
Baron mengangguk. "Sampai jumpa!"
Aldo menyeringai setelah melihat wanita yang sedang bersama Baron itu beranjak pergi dan meninggalkannya sendirian.
"Selamat malam, Tuan Baron?" sapa Aldo berlagak ramah.
Baron menoleh ke sumber suara yang menyapanya.
Dia tersenyum ramah. "Selamat malam!"
"Apa kabar? ... oh iya, aku dengar kerabatmu bernama Hugo meninggal dunia?"
"Itu benar ... tapi, siapa kau?"
Aldo menyeringai lalu merangkul bahu pria glamor tersebut layaknya seorang sahabat lama.
"Apa kau lupa siapa aku?" tanya Aldo.
Baron memiringkan kepalanya. "Karena itu aku tanya, siapa kau?"
"Aku adalah pencabut nyawamu ..." desis Aldo ditelinga baron.
"Ka-"
DOORR ...
tembakan dilepas Aldo tepat di ulu hati targetnya menggunakan penyadap suara. Berkat musik yang mengiringi pesta, suara pistol yang sudah di lengkapi dengan penyadap itupun tak terdengar sama sekali.
"Bagaimana kalau kita duduk?"
Dengan itu Aldo segera menarik dan mengarahkan tubuh Baron yang mulai lemas untuk duduk di bangku taman yang sudah dia incar sebelumnya.
Gerakan pembunuh berantai itu sangat mulus. Benar-benar gerakan yang biasa dilakukan oleh seorang profesional. Sangkin mulusnya, tak ada yang menyadari apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Aldo.
Mereka pun jadi terlihat seperti dua orang sahabat lama yang saling bercengkerama satu sama lain.
"U-UGGHH!" Baron tampak meringis kesakitan.
"Percuma ... suaramu tak akan bisa keluar. Ulu hati milikmu sudah rusak sekarang!" tegas Aldo dengan senyuman.
"Kau punya empat detik sebelum mati ...
"... tidak, tiga detik lagi sebelum racun itu membunuhmu ..."
Baron hanya bisa melotot ke arah Aldo yang sedang bersandar di sebelahnya tanpa mengeluarkan suara.
"... apa mungkin dua detik lagi, ya?" Aldo bergumam smabil memegang dagunya seolah berpikir.
"Tidak tidak, satu detik!"
Aldo kembali tersenyum sembari menoleh ke targetnya yang mulai terkulai lemas dengan kepala yang tertunduk.
"Selamat jalan!" salamnya tanpa dosa masih dengan senyuman.
Tindakan Aldo memang sangat mulus tanpa cacat. Tapi, ternyata Reno segera memperhatikan mereka dan terbelalak seketika setelah menyadari sesuatu.
"Pembunuh! Thousand Face Reaper disini! Tangkap dia!" teriak Reno sembari mulai berlari.
"Tch ..." decak Aldo sembari beranjak dari sana.
Tapi sayang, anak buah Reno segera mengepungnya sambil mengarahkan pistol di tangan mereka.
DOORR ... DOORR ..
tembakan melesat ke arah beberapa anak buah Reno yang kini sudah tergeletak tak bernyawa.
Suasana menjadi riuh seketika setelah robohnya beberapa orang anak buah dari Reno.
"Bagus, Kawa! Tiga orang, KO!" seru suara Myra melalui earphone.
Aldo menyeringai lalu segera bergerak untuk melumpuhkan sisa anak buah Reno yang mengepungnya.
DOORR ... DOORR ...
Tembakkan dilepaskan ke Aldo. Tapi sayang pembunuh profesional itu bisa dengan mudah membaca dan menghindari peluru tersebut sebelum menerjang orang yang menembaknya.
"Bodoh, Apa yang kalian lakukan?!"
Sembari berlari menghampiri sang pembunuh, Reno terlihat sedang mengumpat anak buahnya yang telah dilumpuhkan.
"KYAAA!!!" teriak seorang pelayan wanita bercepol dua.
"Eeh? Aku rasa suara teriakkan Syndi yang barusan terdengar sangat seksi?" celetuk Myra melalui earphone.
PRAANG ...
sepertinya Reno menabrak seorang pelayan yang sedang membawa beberapa gelas sehingga mengakibatkan gelas-gelas itu pecah dan berserakan.
Reno sempat terpukau melihat wajah cantik pelayan yang ditabraknya. Lalu membantu pelayan bermata giok tersebut untuk berdiri.
"Maaf ... apa kau tidak terluka?" tanya Reno yang sempat-sempatnya khawatir.
Syndi mengangguk pelan. "Te-terima kasih, a-aku baik-baik saja."
"Kuuuhhh!!! Syndi~!!! Bisa-bisanya kau bertingkah imut seperti itu!"
Myra yang memantau dari jauh sepertinya merasa kesal sekaligus gemas ketika menyaksikan tingkah Syndi yang sedang beracting.
Sepertinya Syndi sengaja melakukan aksinya untuk mengulur waktu agar leadernya tidak kewalahan.
Aldo ikut cengo menyaksikan tingkah Syndi tersebut sambil bertarung dengan sekumpulan orang yang mengepungnya.
"Baik, segera mengungsi dari sini!" ucap Reno perhatian pada Syndi.
Setelah mengatakan itu, Reno segera berlari menghampiri sang pembunuh berantai.
"Sudah kuduga kau akan muncul!" desis Reno setelah berhadapan dengan Aldo.
"Jadi kau menungguku?" jawab Aldo setelah melumpuhkan seseorang berjas hitam.
"Tentu saja!"
Aldo kembali menerjang salah satu pengepungnya dan melumpuhkan orang tersebut. Kemudian tersenyum lembut ke arah Reno.
"Aku jadi tersanjung!"
"Tapi maaf, kau akan berakhir di sini!" ungkap Reno sembari menerjang Aldo.
"Benarkah?" respon Aldo terkesan menantang.
DOOORRR ... DOOORRR ...
Reno mulai melepaskan tembakkan ke pembunuh berantai.
Aldo menghela nafas. "Berapa kali harus kukatakan pada kalian ... pistol murahan tak akan bisa menyentuhku!"
Aldo menghindari peluru tersebut sebelum ikut menerjang Reno.
BUGHH ... BUGHH ...
Pukulan mendarat di ulu hati Reno dan membuatnya sedikit meringkuk di tanah.
DOORR ... DOORR ...
Tembakan dilepaskan lagi dan sukses membuat beberapa anak buah Reno terkulai lemas tak bernyawa.
"Ok, Kawa! Sepuluh orang, KO!"
Bukannya membantu, Myra malah menyemangati Kawa yang sedang menembak targetnya.
Reno tampak ingin kembali menerjang Aldo. Tapi ...
DOOOR ...
Peluru kawa melesat ke arahnya. Namun sayang, gadis mungil itu hanya mengenai pangkal lengan Reno saja.
"Tch ..." Reno mendecak tampak kesal sambil memegang lengannya yang terluka.
Aldo berdiri tegak dengan kepala yang sengaja dimiringkan.
"Ada apa? Cuma segitu saja?" ujar Aldo menantang.
Reno tersenyum remeh. "Apa kau kira aku tidak punya kartu AS?"
Aldo mengernyit. "Apa maksudmu?"
DOORR ...
Dengan refleks yang sangat bagus, Aldo berhasil menghindari tembakkan yang melesat ke arahnya.
"Ternyata benar ... kau sedang bermain disini, Thousand Face Reaper!" desis suara wanita dengan intonasi yang menyeramkan.
Aldo pun menoleh ke sumber suara setelah berguling beberapa kali.
"Halo ... kita ketemu lagi ... apa kabar?" respon Aldo polos.
Tampak oleh mata coklat milik Aldo seorang wanita berambut indigo sedang mengarahkan pistol ke arahnya. Wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.
-----
Gimana teman-teman serukan ceritanya
__ADS_1
ayo dukung terus dengan LIKE,VOTE dan COMMENT kalian ya
Thank you...😊😊😊