Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 9 : Festival Bersamamu


__ADS_3

Dengan tatapan seram layaknya Raja Iblis, Aldo menatap istrinya yang baru saja kembali ke hotel.


"A-aku pulang ..." kata Rikka dengan senyuman kikuk.


Aldo hanya diam dan masih menatap horor istrinya tanpa berkedip sedikit pun.


"K-kau kenapa, Aldo?"


Rikka pun mulai bertanya karena merasa tidak nyaman dengan tatapan suaminya yang mengerikan.


Namun, Aldo belum membuka suaranya sama sekali dan masih menatap Rikka tanpa berkedip.


"H-hey, Aldo ..."


"Dari mana kau?" tanya Aldo mulai buka suara.


"Jalan-jalan bersama teman ... aku sudah mengatakannya padamu, kan?"


Aldo menyipitkan matanya seperti mencurigai sesuatu.


"Aku tanya ... kau dari mana?"


Rika mengernyitkan dahinya. Wanita bermata onix itu pun mulai gelisah dengan intimidasi dari sang suami.


"Hey, jawab aku!"


Rikka menundukkan kepalanya, lalu mendengar suara TV yang menyiarkan berita tentang pembunuhan yang baru saja terjadi.


Lalu mata onixnya melihat sosok Shion di dalam televisi yang di duga menjadi saksi pembunuhan tersebut.


Rikka pun mulai berspekulasi di dalam pikirannya sendiri, dan membayangkan semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


"Rikka?"


"Ya ...?" sahut Rikka lirih sambil menatap suaminya.


"Kenapa kau berbohong?"


Rikka diam sejenak dan menundukkan kepala lagi sambil menutup matanya dengan paksa.


Rikka pun menghela nafas. "Maaf sebenarnya aku tak ingin me-"


"Kau tahu ini sudah jam berapa?" lanjut Aldo memotong kalimat istrinya.


Rikka kembali mengernyit. "Jam setengah dua belas malam?"


"Lalu kenapa kau mengatakan padaku kalau kau akan pulang tepat jam sembilan malam!?"


Rikka terdiam, Rikka terbengong, dan Rikka tak tahu harus berkata apa pada suaminya. Senyuman yang dibuat terpaksa pun menghiasi wajah Rikka.


"J-jadi kau marah karena hal itu?" tanya Rikka.


"Apa maksudmu karena hal itu!?"


"Tentu saja aku marah karena hal itu ... apa kau tak tahu betapa kesepiannya diriku tanpa dirimu malam-malam begini, hahh!?" Ocehan Aldo pun mulai keluar dari mulutnya.


"Kau bilang padaku kau akan pulang jam sembilan ... tapi lihat, sudah dua jam lebih kau terlambat dan meninggalkanku sendirian disini!" lanjut Aldo masih dengan ocehannya.


"Maaf ...", kata Rikka sambil tersenyum.


Rikka pun merasa lega dan tak bisa menahan senyumannya karena yang ia khawatirkan ternyata hanya sia-sia.


"Kenapa kau malah senyum!?" cerocos Aldo dengan tatapan horor sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Rikka.


"Ti-tidak apa-apa ... hanya saja ... kau terlihat lebih tampan saat sedang marah," balas Rikka asal.


Spontan wajah Aldo merona. "A-apa-apaan kau!"


Rikka hanya tersenyum dengan kepala yang sedikit dimiringkan.


"Kau harus dihukum!" Kata Aldo sembari duduk di depan meja dan menghadap ke TV.


"Baiklah ... aku siap menerima hukuman darimu."


"Bagus ... sekarang pijat bahu suamimu ini!"


Tak mau membuat suaminya semakin mengoceh, Rikka langsung duduk bersimpuh di belakang Aldo dan mulai memberikan pijatan untuk sang suami.


"Kenapa kau pulang terlambat?" kata Aldo sambil menikmati pijatan istrinya.


"Ma-maaf ... sebelum pulang tadi, kami mampir ke pusat kota dan lupa waktu." jawab Rikka berbohong


"Dasar wanita!" umpat Aldo kesal.


"Hehehe ... maaf," kata Rikka masih memijat suaminya.


"Dari tadi di TV terus menyiarkan berita pembunuhan ... membosankan sekali!" umpat Aldo ke arah TV.


"Pembunuhan?" tanya Rikka pura-pura tidak tahu sambil mencondongkan kepalanya ke depan, tepatnya di sebelah kepala Aldo.


Wajah mereka sudah sangat dekat sekarang, tapi pasangan tersebut tidak menyadarinya sama sekali. Seolah hal itu sudah menjadi hal yang lumrah.


Aldo mengangguk. "Iya ... lihat saja!"


Rikka sedikit menyipitkan matanya. "Tentu saja ini akan terus disiarkan ... yang menjadi pelakunya adalah Thousand Face Reaper."


"Pembunuh berantai itu?"


"Benar."


"Dari mana kau tahu?"


Rikka terjebak dengan sandiwaranya sendiri. Lalu ia membuat otaknya segera berfikir keras untuk mencari alasan.


"Lihat itu?" balas Rikka sambil menunjuk Televisi.


Untunglah berita tersebut menampilkan tulisan yang mengatakan bahwa orang yang diduga menjadi tersangka adalah Thousand Face Reaper. Saksi pembunuhan tersebut yang tak lain adalah Shion juga mengatakan hal yang sama.


"Saksi pembunuhan itu wanita, ya?"


"Sepertinya begitu ..." kata Rikka.


"Tapi sayang wajahnya di blur ... padahal dadanya sangat besar!" celetuk Aldo melihat pemberitaan di TV.


"Lalu apa hubungannya?"


"Seharusnya wajah wanita berdada besar ini juga di tampilkan!" seru Aldo yang tampak bersemangat.


Rikka menghela nafas dengan malas. "Dasar laki-laki ..."


"Rikka ..."


"Ya?"


"Terima kasih ... pijatanmu sangat nikmat."


"Sama-sama," kata Rikka lalu tersenyum.


"Pergilah mandi."


Rikka mengangguk. "Baiklah."


"Setelah itu, kau harus melayaniku di kamar!" perintah Aldo dengan entengnya.


BUUUGGHH ...


Zabuton pun menerjang kepala Aldo dan membuatnya sedikit terpental kesamping.


"Itu juga termasuk hukumanmu!" kata Aldo sambil meringis.


"Hmmphh ...!"


Setelah memalingkan mukanya, Rikka beranjak ke kamar mandi dan melakukan ritualnya untuk membersihkan diri.


"Mampir ke pusat kota ... ya?" desis Aldo tersenyum lalu meneguk sake setelahnya.


●●


Tak terasa tiga hari pun berlalu sejak kedatangan mereka di Jepang. Di sore hari yang cerah ini, Aldo tampak sedang bersantai dengan seorang pria berbadan tambun di taman hotel tempatnya menginap.


Mereka terlihat sedang berbincang di dekat kolam kecil yang berisi ikan koi.


"Jadi ... kau melamarnya saat dia sedang mabuk?" tanya Aldo dengan senyuman kikuk.


"Begitulah ... tapi kau tahu apa yang dia lakukan setelah itu?" balas pria tambun dengan suara yang terdengar berat.


"Apa?"


"Dia malah mengancamku dan mengatakan bahwa aku harus menjadi suami yang baik untuknya sambil mencengkram kerah bajuku!" lanjut pria tambun.


"A-apa-apaan itu?" Kata aldo cengo.


"Bagiku itu termasuk daya tarik yang sangat mempesona!"


"A-aku masih tak percaya ada orang yang menyukai gadis kasar seperti Erin."


"Tentu saja ... apa lagi saat dia sedang marah dan mendorongku ke dinding. Erin tampak sangat gagah!" tegas pria tambun dengan bangga.


"Cukup Hiroshi ... jangan kau lanjutkan lagi. Aku sudah bisa menebak pembicaraan ini akan berakhir dimana!" kata Aldo dengan tampang aneh.


Tampaknya pria tambun tersebut bernama Hiroshi dan sepertinya dia adalah suami Erin.


"Ayah ...!" teriak seorang gadis kecil.


Saat Aldo dan Hiroshi menoleh ke sumber suara, tampaklah seorang gadis kecil yang mengenakan Yukata sedang berlari ke arah mereka. Rambut hitam yang dicepol dua pun menjadi daya tarik untuk gadis kecil itu.


Hiroshi tersenyum ketika melihat gadis kecil tersebut.


"Hey ... di mana ibumu, Hikari?" kata Hiroshi setelah memeluk anaknya.


"Mereka sedang menuju kemari," balas anak bercepol dua.


"Anakmu sangat mirip dengan ibunya, ya?" sela Aldo.


Hiroshi mengangguk. "Bukan hanya wajahnya, kelakuannya juga sama persis!"


"Hehehe ..." Hikari memamerkan cengirannya ke Aldo.


Melihat cengiran anak kecil yang menenangkan hati, pria berambut coklat itu pun ikut tersenyum dan mengelus kepala gadis kecil tersebut.


"Mau permen?" kata Aldo menawarkan permen khas jepang.


"Um!" jawab Hikari mengangguk sambil menyambar permen di tangan Aldo.


"Woaah ... benar-benar duplikat ibunya!" ujar Aldo terkejut.


Kemudian Aldo dan Hiroshi pun tertawa melihat tingkah Hikari yang sedang menikmati permen.


"Maaf menunggu ..." Suara seorang wanita yang sepertinya milik Erin terdengar.


Tampak di sana dua orang wanita yang sudah di balut Yukata sedang berjalan ke arah mereka. Kedua wanita tersebut adalah Erin yang mengenakan Yukata berwarna hitam bercorak bunga putih dan Rikka yang mengenakan Yukata berwarna ungu pucat dengan corak bunga lavender sebagai penghiasnya.


Suara Geta yang menghiasi kaki kedua wanita itu pun terdengar jelas di telinga Aldo dan membuatnya melihat sosok Rikka dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Kuku jari kaki Rikka yang mengintip di bawah Yukata tersebut sudah di hiasi dengan cat kuku berwarna merah senada dengan kuku jari tangannya.


Rambut Rikka pun tampak disanggul menggunakan jepit rambut bernama Kanzashi berwarna ungu dengan replika bunga lavender yang menjuntai.


Wajah yang sudah di beri make-up membuat Rikka benar-benar seperti wanita asli jepang. Bibir merahnya yang mempesona juga psangat enak dilihat. Apa lagi ketika wanita bermata onix itu sedang tersenyum.


Semburat merah mulai menari di wajah Aldo setelah melihat penampilan Rikka. Dan membuat pembunuh berantai itu sempat berpikiran kalau wanita yang ada di sebelah Erin itu bukanlah istrinya.


"Kenapa kau malah bengong!" kata Erin menyentil jidat Aldo.


Aldo hanya terdiam sambil menggosok-gosok dahinya dengan tatapan yang tak lepas dari sosok Rikka.


"Hey, ayo berangkat!" Tegas Erin.


Rikka mengangguk dan tersenyum. "Ayo ..."


Kemudian Rikka berjalan ke sebelah Aldo dan menggandeng lengan suaminya yang masih terbengong.


"Kau ... Rikka?" tanya Aldo asal sambil berjalan.


Rikka menoleh. "Tentu saja aku Rikka!"


"Berarti benar ... istriku adalah seorang malaikat yang turun dari surga," celoteh Aldo kembali asal masih dengan kekagumannya.


Rikka hanya terdiam dan berusaha menutupi wajahnya yang kini sudah semerah tomat.


Erin dan Hiroshi yang mulai menggendong anaknya hanya bisa tersenyum melihat mereka. Kemudian berjalan menuju ke parkiran mobil.


Hari ini adalah adalah hari dimana festival kembang api akan di adakan di daerah tempat tinggal Erin. Sesuai janjinya, Erin mengajak pengantin baru tersebut untuk melihat dan menikmatinya. Hanya saja, Aldo dan Hiroshi tidak ingin menggunakan hakama dengan alasan yang sama. Yaitu, merepotkan.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mereka pun langsung meluncur ke tempat tujuan. Yaitu, distrik Setagaya, Tokyo.


Di dalam mobil, mereka tampak sedang bernyanyi lagu jepang untuk anak-anak. Walaupun Rikka dan Aldo tak mengetahui lagunya, mereka tetap ikut bersenandung bersama Hikari yang sepertinya sangat bersemangat.


Hiroshi yang sedang mengemudikan mobil tampak sedang berbincang dengan Aldo di barisan depan. Topik pembicaraan mereka adalah Hikari. Gadis kecil berumur 6 tahun yang sangat energik.


Hiroshi pun menceritakan bagaimana kelakuan Hikari sehari-hari. Sepertinya, berdasarkan penjelasan dari sang ayah, hikari memang benar-benar duplikat dari seorang Erin.


Apa lagi saat pertama kali gadis kecil itu masuk sekolah. Bukannya mencari teman, ia malah membully anak laki-laki teman sebangkunya dan berhasil membuat bocah tersebut menjadi anak buah yang setia. Benar-benar mencerminkan ibunya.


Perjalanan pun mereka lalui dengan tawa yang meriah akibat tingkah laku Hikari yang lucu. Sesaat Rikka sempat berharap, anak yang akan dia hasilkan bersama Aldo nantinya akan menjadi selucu dan seimut Hikari.


Tapi setelah menyadari harus ada tahap untuk menuju kesana, Rikka malah salah tingkah sendiri dan mamalingkan wajahnya ke arah jendela.


Di sana wanita berkepala indigo itu pun bisa melihat bayangan wajah Aldo yang terpantul melalui kaca jendela.


"Anak ... ya?" katanya lirih dan tak terdengar oleh siap pun.


Setelah sampai di tempat tujuan dan memarkirkan mobil di garasi rumah Erin, mereka memutuskan untuk berjalan kaki ke tempat festival diadakan.


Dengan semangat, Hikari pun menarik lengan Aldo dan Rikka sambil tersenyum bahagia.


"Hikari ... jangan berlarian di jalan!" kata Erin dari belakang menasehati anaknya.


"Ok, Bu ..." sahut Hikari tanpa mengindahkan nasehat ibunya.


Rikka memberikan kode pada Erin supaya tidak perlu khawatir. Lalu ikut berlari kecil bersama Hikari dan juga Aldo.


Selang 10 menit, akhirnya mereka sampai di tempat festival. Banyak sekali stand yang menjual makanan. Tak hanya itu, stand permainan juga banyak di sana. Seperti permainan menembak, menangkap ikan, melempar gelang, dan lain sebagainya.


Hikari mulai berlari ke arah orang tuanya dan meminta mereka untuk membelikan jajanan.


"Aldo, kami ingin membelikan Hikari Takoyaki. Kalian mau ikut?" tanya Erin sambil menggendong anaknya.


Aldo menoleh ke arah Rikka, lalu menggeleng setelah mengerti maksud tatapan istrinya.


"Tidak ... kami akan berkeliling saja."


"Baiklah, berhati-hatilah ... kalau kalian kesasar, hubungi aku!" tegas Erin lalu beranjak meninggalkan mereka berdua.


Aldo dan Rikka pun mulai berjalan di tengah keramaian festival tersebut. Lalu mereka membeli makanan seperti gulali, dango, dan lain sebagainya.


"Aku tak tahu kalau kau sebegitu inginnya untuk berdua saja denganku," celoteh Aldo menggoda istrinya.


"Aku hanya tak ingin menganggu momen keluarga mereka ..." kata Rikka.


"... lagi pula, aku ingin menikmati festival ini tanpa adanya anak kecil!" sambungnya.


"Apakah maksudmu ... ingin menikmati festival ini berdua saja denganku?" balas Aldo masih menggoda.


"Bodoh!"


Aldo hanya tertawa melihat tingkah sang istri yang berusaha menyembunyikan Rona merah di wajah cantiknya.


"Hey, Rikka ..."


"Ya?"


"Mau main itu?" ucap Aldo sambil menunjuk ke arah stand permainan menembak.


Rikka menoleh ke arah tersebut. "Boleh saja!"


Dengan semangat Rikka menerima tantangan Aldo dan melenggang kesana bersama suaminya.


"Ok. the rule is, you have to shoot the target within three meters distance. You can take the prize with you if the prize that you want fall from where it is,"


(Ok. Peraturannya adalah, Kalian harus menembak target dari jarak tiga meter. Kalian dapat mengambil hadiahnya jika hadiah yang kalian inginkan jatuh dari tempatnya). kata pemilik stand menjelaskan.


"Ok!" kata Rikka dan Aldo hanya menganggukkan kepalanya.


"Alright ... here is your Rifle and five bullets each!"


(Baiklah... Ini senapan kalian dan masing-masing 5 peluru)


Aldo dan Rikka mengambil senapan dan pelurunya yang berupa gabus berwarna coklat tersebut.


"Mau bertanding?" tantang Aldo sambil melirik istrinya.


"Siapa takut!" balas Rikka.


Mereka berdua pun memasang kuda-kuda ala sniper dan menarik pelatuk senapan tersebut sambil membidik targetnya.


PLOK ... PLOK ... PLOK ...


Suara peluru gabus yang mengenai targetnya pun mulai menjatuhkan beberapa benda incaran pengantin baru tersebut.


"Wo-woah!" ucap pemilik stand.


"Hebat juga kau!" kata Aldo.


"Kau juga!" balas Rikka.


Sepertinya Aldo dan Rikka kehabisan peluru dan mereka memesan set peluru yang baru.


"Ronde kedua ... bagaimana kalau target yang lebih kecil?" tantang Aldo lagi.


"Boleh saja!"


Sama seperti ronde pertama, Aldo dan Rikka berhasil menjatuhkan target-targetnya dengan mudah. Pemilik stand pun bingung harus kagum atau kecewa melihat penampilan mereka berdua.


"Hey, you two ... please stop! if you don't, i'll be broke!" (Hey, kalian berdua... Tolong hentikan! Jika tidak aku akan rugi). seru pemilik.


Mendengarnya Aldo dan Rikka hanya bisa tersenyum kikuk.


"One more left," (Sisa satu lagi ). kata Aldo.


Seperti yang dikatakannya, Aldo dan Rikka sengaja menyisakan peluru terakhir untuk ronde ketiga. Lalu mata Aldo menyusuri hadiah yang sedang dipajang dan mencari target yang sulit untuk di tembak.


Setelah menemukannya, Aldo pun menyeringai seperti iblis.


"Ronde ketiga ... bagaimana kalau benda kecil berwarna biru itu?"


"Maksudmu aksesoris kalung itu?" tanya Rikka memastikan.


"Itu kalung?"


"Memangnya apa lagi?"


Rikka menghela nafas. "Baiklah ... kuterima tantanganmu!"


"Ok!" Balas Aldo.


Rikka tampak sedang membidik, sedangkan Aldo hanya melirik istrinya dan memperhatikan dengan seksama.


"Aku menang!" seru Rika setelah berhasil menarik pelatuk senapannya.


"Jangan senang dulu ..." kata Aldo menyeringai.


PLOK ...


Peluru Aldo tampaknya melesat dan mengenai peluru senapan Rikka yang sedang terbang ke arah targetnya. layaknya katak melompat, peluru milik Aldo menjadikan peluru gabus istrinya sebagai pijakan sebelum melesat ke arah hadiah.


Alhasil, targetpun terjatuh dari tempatnya berkat tembakan dari Aldo.


"Aaahh ... kau Curang!" pekik Rikka setelah melihat kenyataan pahit yang ada di depannya.


"He ... he ... he ..." Aldo cengengesan sambil menggosok-gosok hidungnya.


"Itu adalah strategi!" tegas pria berkepala coklat itu.


"Tetap saja curang!" cerocos Rikka sembari mengembalikan senapan yang di pegangnya.


Aldo pun ikut mengembalikan senapan tersebut dan melihat semua hadiah yang berhasil mereka dapatkan.


"Sorry for the trouble ... i'll take this and this. Just keep the rest!" (Maaf atas kekacauan ini... Aku akan mengambil ini dan ini. Simpan saja sisanya). Kata Aldo sambil meraih sebuah boneka kelinci dan aksesoris kalung berwarna biru.


Setelah mengambil hadiah mereka, Aldo dan Rikka pun ingin beranjak dari sana. Tapi, mereka malah mendapatkan tepuk tangan yang meriah.


PROK ... PROK ... PROK ...


Suara tepuk tangan terdengar menggema di tempat tersebut.


Ternyata, pertunjukkan menembak mereka barusan di tonton oleh para pengunjung festival yang lain. Para pengunjung itu sepertinya sangat takjub saat menyaksikan kemampuan menembak mereka berdua.


Rikka hanya bisa tersenyum sambil menunduk-nundukkan kepalanya. Sementara Aldo malah cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pengantin baru itu mendapat banyak pujian dari orang-orang sekitar, lalu pergi dari sana setelah berpamitan dengan penonton sesopan mungkin.


Mereka kembali berjalan dan berkeliling di sana sambil menikmati cemilan yang baru saja di beli berupa waffle bentuk ikan bernama Taiyaki.


"Boneka itu untuk apa?" tanya Rikka setelah melihat boneka di tangan Aldo.


"Untuk Hikari,"


"Lalu untukku?"


"Bukankah aku sudah menjadi hadiah yang sangat bagus untukmu?" jawab Aldo sebelum mengunyah makanannya.


"Yah~ ... sangat bagus~ ... sekali~" balas Rikka dengan nada menyindir.


"Aku tak suka nada bicaramu?" kata Aldo melirik istrinya.


"Itu hanya perasaanmu saja, Aldo~ ..."


Kemudian Rikka tampak berlari kecil di depan Aldo yang sedang mengunyah makanan.


"Hati-hati, nanti kau jatuh!"


"Lalu apa gunanya kau, Aldo?" tanya Rikka polos.


Aldo pun mengejar Rikka setelah menghabiskan makanannya. Lalu meraih lengan istrinya dan menggenggamnya dengan erat.


"Apa ini sudah termasuk berguna?" tanya Aldo sambil menunjukkan genggaman tangannya.


Rikka sedikit terkejut lalu tersenyum ke arah Aldo sambil menganggukkan kepala.


Mereka pun melanjutkan acara berkelilingnya untuk menikmati festival sambil terus bergandengan tangan. Senyuman dan tawa juga ikut menghiasi wajah mereka yang tampak bahagia.


Erin yang sedang bersama suami dan anaknya, tanpa sengaja melihat pengantin baru itu berjalan sambil bergandengan. Awalnya ia ingin memanggil pasangan tersebut. Tapi setelah melihat ekspresi mereka yang tampak sangat bahagia, ia pun mengurungkan niatnya dan kembali berjalan disebelah suaminya sambil tersenyum.


"Ada apa?" tanya Hiroshi.


"Aku baru saja melihat kebahagiaan sepasang kekasih."


"Aldo dan Rikka?"


Erin hanya menganggukkan kepalanya sembari menggandeng tangan Hikari yang kini berjalan di antara dia dan suaminya.


"Sebaiknya kita jangan menganggu mereka."


"Kau benar!" balas Erin.


Setelah beberapa jam berlalu, pengumuman pertunjukan kembang api pun berkumandang. Sepertinya pertunjukan tersebut akan segera dimulai.


Kini Aldo dan Rikka tampak sedang berjalan di tepi sungai besar dengan rumput hijau yang sangat indah. Tempat tersebut sangat luas dan benar-benar cocok dijadikan spot untuk menonton kembang api.


Aldo menawarkan istrinya untuk duduk di sana. Karena Aldo merasa tempat tersebut adalah tempat yang sempurna untuk melihat kembang api.


Sebelum mereka duduk, Aldo menggelar alas yang terbuat dari plastik seperti terpal berwarna putih berukuran dua meter persegi. Entah dari mana Aldo mendapatkannya. Yang pasti, pria berkacamata itu ingin menyaksikan pertunjukkan kembang api dengan nyaman bersama istrinya.


"Mau?" Aldo menawarkan Taiyaki yang masih tersisa setelah duduk bersebelahan dengan sang istri.


Rikka mengangguk dan mengambil makanan tersebut dari tangan Aldo.


"Terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama."


Angin sepoy pun mulai bertiup ke arah mereka dan membuat replika bunga lavender yang menjuntai di kepala Rikka bergoyang dengan indahnya.


Aldo melihat istrinya yang memeluk tubuhnya sendiri karena tiupan angin. Sepertinya Rikka sedikit merasa kedinginan akibat tiupan tersebut.


"Kau kedinginan?"


"Sedikit, tapi tak apa-apa!" kata Rikka menegaskan.


"Seharusnya aku bawa jaket tadi."


Rikka menggeleng, "Tidak apa-apa, angin yang begini saja tidak akan membuatku sakit."


"Apa kau yakin?"


Rikka menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.

__ADS_1


"Apa perlu ku peluk?" kata Aldo mulai menggoda.


"Coba kalau kau berani!" cerocos Rikka spontan.


"Tapi aku 'kan suamimu!" Aldo pun semakin menggoda istrinya.


Skakmat, Rikka tak bisa berkata apa-apa lagi setelah Aldo mengucapkan kata-kata yang menjadi kartu as-nya tersebut.


Aldo hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang kini memalingkan wajah ke arah lain.


"Hey ..." kata Aldo memanggil masih dengan senyumannya.


"Apa?" kata Rikka tanpa menoleh.


"Lihat sini!"


"Kau ingin menggodaku, kan?" kata Rikka lagi tanpa menoleh.


"Pokoknya lihat sini!" paksa Aldo.


"Kenapa?" ucap Rikka yang akhirnya menoleh.


Aldo kembali tersenyum, lalu tangan kekar pria tersebut terangkat ke wajah istrinya bersama sebuah kotak berisi aksesoris kalung berwarna biru.


"Apa itu?" tanya Rikka dengan kepala yang dimiringkan.


"Hadiah untukmu."


Senyuman pun mulai menampakkan dirinya di wajah Rikka.


"Terima kasih," ucap Rikka sambil meraih benda tersebut.


"Maaf, aku cuma bisa memberikan barang murahan seperti itu!"


Rikka masih tersenyum sambil memperhatikan hadiah yang diberikan oleh suaminya.


Lalu ia pun menggeleng. "Setidaknya kau mendapatkan benda ini dengan usaha keras."


"Maksudmu?"


"Walaupun kau harus curang, setidaknya kau berhasil mendapatkan benda ini untukku," jelas Rikka


"Sudah kubilang, itu adalah strategi!" sangkal Aldo dengan ekspresi pura-pura bodoh.


Tak menjawab, Rikka hanya tersenyum manis sambil membuka kotak kalung tersebut.


"Bisa kau pakaikan?" mohon Rikka pada sang suami sambil melonggarkan sedikit kerah yukata yang ia kenakan.


"Ok!"


Aldo meraih kalung tersebut lalu melingkarkannya di leher mulus milik Rikka. Sebelum ia mengaitkan kalung itu, Aldo sedikit tergoda ketika melihat pemandangan leher istrinya yang sangat mulus tanpa cacat. Benar-benar menggoda, pikirnya.


Segera Aldo membuang jauh-jauh pikiran mesumnya dan memasang pengait kalung tersebut sebelum Rikka merasa curiga.


"Terima kasih," kata Rikka setelah Aldo selesai memasangkan kalung di lehernya.


Tampaklah sebuah kalung dengan sepasang lumba-lumba berwarna biru terang yang saling bertautan sebagai liontinnya menghiasi leher mulus milik wanita berkepala indigo tersebut.


DUAARRR ... DUAARR ... DUAARRR ...


Kembang api pun mulai bermunculan dan menghiasi langit setagaya yang indah.


"Lihat, pertunjukkannya sudah dimulai!" seru Rikka tampak senang.


"Kau benar," kata Aldo santai.


Dengan senyuman bahagia, Aldo dan Rikka pun menikmati pertunjukkan tersebut dengan sepenuh hati.


Selagi kembang api yang berwarna-warni tampak terpantul di wajah mereka, Aldo pun mulai meraih dan menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Rikka juga melakukan hal yang sama setelah menyadari apa yang akan dilakukan sang suami. Alhasil, jari mereka pun saling bertautan satu sama lain.


Siapa saja yang melihat sejoli itu, pasti akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Pada kenyataannya adalah, tidak ada yang tahu apakah mereka saling mencintai atau tidak.


Yang pasti, mereka adalah musuh bebuyutan yang telah sepakat untuk menikah dan membangun rumah tangga. Benar-benar sebuah kenyataan yang sangat ironis. Semoga saja mereka bisa bahagia di masa depan nanti.


Perlahan kembang api yang sedang menari di udara mulai tampak berkurang karena pertunjukkan sebentar lagi akan selesai. Sementara Aldo dan Rikka terlihat saling pandang, lalu tersenyum bersama.


"Tante Rikkaa~ ... Om Aldoo~ ...!" Suara teriakan khas seorang gadis kecil pun terdengar.


Aldo dan Rikka menoleh ke arah teriakan tersebut dan mendapati sosok Hikari yang sedang berlari diikuti oleh kedua orang tuanya.


Rikka melambaikan tangan lalu memeluk Hikari yang melompat dan menerjangnya.


"Hikari ... jaga sikapmu!" oceh Erin


Rikka hanya tersenyum sambil mengelus pelan kepala Hikari yang dicepol dua.


"Jadi kalian juga disini?" kata Hiroshi.


"Begitulah." balas Aldo.


"Sebelum pulang, bagaimana kalau kita makan dulu?" kata Hiroshi menawarkan makanan yang ada di tangannya berupa set makanan untuk lima orang.


"Boleh!" sahut Aldo sambil menggaruk kepalanya.


Mereka pun mulai melakukan piknik di tempat tersebut dan menikmati makanan yang sudah dibeli oleh Hiroshi.


Aldo dan Hikari tampak berlomba untuk menghabiskan makanannya, sementara Rikka, Erin, dan Hiroshi sedang berbincang membahas kembang api yang barusan mereka saksikan.


"Bagaimana, Rikka? Apa kau menyukai festivalnya?" tanya Erin.


"Tentu ... kembang api nya sangat indah!" balas Rikka.


"Untung saja kami datang ke Jepang di waktu yang tepat," lanjutnya.


Erin mengangguk, lalu tersenyum sebelum kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Oh iya ... kapan rencana kalian untuk pulang?" Kali ini Hiroshi yang bertanya.


Rikka melirik ke atas seolah berfikir. "Besok lusa."


"Kalau begitu, biar kami saja yang mengantar kalian ke bandara," sela Erin.


"Tidak usah repot-repot."


"Jangan sungkan begitu ..." ujar Hiroshi ikut meyakinkan.


"Aku ikut mengantar tanteee~ ...!" pekik Hikari tiba-tiba setelah selesai menghabiskan makanannya.


"Lihat, Hikari saja bersemangat begitu," kata Erin menunjuk anaknya.


Melihat tingkah Hikari, istri dari seorang pembunuh berantai tersebut hanya bisa mengembangkan senyuman terbaik miliknya.


"Hey, Hikari ... aku punya hadiah untukmu!" kata Aldo setelah selesai makan.


"Benarkah?" Mata gadis kecil itu pun mulai berbinar-binar.


"Taadaa~ ..." Aldo memamerkan sebuah boneka kelinci.


"Usagi-san!" seru Hikari dengan kedua tangan di atas tampak senang.


"Halo Nona Hikari, apa kabar?" ucap Aldo dengan suara anak kecil yang dibuat-buat.


Tak menjawab, Hikari langsung memeluk boneka tersebut dengan gemasnya. Aldo, Rikka, dan kedua orang tuanya pun tertawa melihat tingkah lucu gadis kecil tersebut.


Setelah sedikit berbincang-bincang, mereka pun memutuskan untuk pulang. Tapi tak lupa, sebelum itu mereka harus membereskan tempat mereka duduk tadi dan membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Lalu beranjak dari sana menuju rumah Erin.


Di perjalanan ke rumah, Hikari tampak sudah tertidur dipelukan Ayahnya. Ketika melihat sang makhluk kecil tidur dengan pulas, rasanya Rikka ingin segera mencium pipi gadis bercepol dua tersebut.


"Bagaimana ... dia lucu, kan?" celetuk Erin setelah menyadari tatapan Rikka.


Rikka hanya mengangguk.


Aldo menoleh. "Aku penasaran, apa dulu kau juga lucu seperti dia, Erin?"


"Tentu saja!" tegas Erin dengan bangga.


"Entah kenapa aku tidak yakin."


BLETAKK ...


Jitakan Erin berhasil mendarat di kepala coklat Aldo dengan mulus.


"Sakiit~ ..." kata Aldo meringis.


"Kenapa kalian tidak cepat-cepat punya anak saja?" sela Hiroshi yang berhasil membuat Rikka tersenyum kikuk.


"Benar juga ..." kata Aldo sambil memegang dagunya seolah berpikir.


"Baiklah ... Rikka, ayo kita buat malam ini juga!" kata Aldo mendengus ke arah istrinya.


Spontan wajah Rikka merah padam. "Bo-bodoh!"


"Kenapa, aku suamimu, kan?"


"Jangan mengatakannya di depan umum!" cerocos Rikka.


"Mereka ini sudah seperti keluarga, kenapa kau harus malu?" sangkal Aldo.


"Tetap saja!"


"Hahaha ..." Erin dan Hiroshi tertawa bersama melihat tingkah pengantin baru tersebut.


Tiba-tiba Aldo mendekati istrinya dan berbisik, "Kalau aku mengatakannya di kamar nanti, apa kau mau melakukannya?"


Aldo pun semakin menggoda istrinya tanpa henti dan tak memberikan Rikka kesempatan untuk berdalih.


"Bo-bodoh!" bisik Rikka sambil menjulurkan tangannya ke perut Aldo.


Aldo melihat tangan langsing itu sedang dijulurkan ke perutnya, lalu ekspresi wajah maskulin tersebut berubah seperti orang yang kesakitan.


"Adudududuh ...!" pekik Aldo.


Dengan senyuman kikuk Rikka mencubit perut suaminya sekeras mungkin untuk membungkam mulut Aldo yang dari tadi mengoceh seperti ibu tiri.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di rumah Erin dan Hiroshi. Lalu mengantarkan Aldo dan Rikka ke hotel menggunakan mobil. Tapi Erin tidak ikut, karena harus mengurus Hikari yang sudah tertidur sejak tadi.


"Terima kasih, Hiroshi!"


Aldo dan Rikka pun berterima kasih kepada Hiroshi yang bersedia mengantarkan mereka sampai ke hotel.


"Hmm, sama-sama."


"Oh iya ... ingat, kami yang akan mengantar kalian ke bandara besok lusa!" lanjut Hiroshi mengingatkan


"Apa kau yakin?"


"Tentu!"


"Maaf, kami jadi merepotkanmu, Hiroshi!" ujar Aldo merasa tidak enak.


Hiroshi tersenyum. "Santai saja ... lagi pula, Hikari pasti akan sangat marah jika dia tidak ikut mengantar kalian."


Mendengar nama Hikari, Aldo dan Rikka pun mengembangkan senyumannya.


"Baiklah ... sampai jumpa lagi!" ucap Hiroshi pamit.


"Sampai jumpa," balas pengantin baru tersebut bersamaan.


Mereka pun masuk ke dalam hotel dan berjalan di lorong yang berlantaikan kayu menuju kamar.


"Hey, Rikka?"


"Ya?"


"Bagaimana?"


"Apanya?" Tanya Rikka bingung.


"Buat anak, malam ini!?"


Rikka tak menjawab lalu tersenyum sambil berjalan dengan santai.


"Aaaakkkkhhhhhh~ ...!!!" pekik Aldo sembari meringkuk di lantai setelah merasakan cubitan maut sang istri.


Masih dengan senyuman, Rikka masuk ke dalam kamar dan menutupnya dengan kasar.


-----


Jangan Lupa terus dukung karya ku ya


LIKE, VOTE DAN COMMENT


Thank you...😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2