Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 23.5 : Nana and Her Sorrow (Part 2)


__ADS_3

"KIRIYAAAA!!!"


Suara teriakan Nana menggema di lorong laboratorium.


DOORR ... DOORR ... DOORR ...


Tembakan melesat dan sukses membuat ketiga staf terjatuh tak berdaya di lantai.


"Kau memanggilku?"


Dengan pose heroik, Kiriya berkata layaknya seorang pahlawan.


Bola mata Nana yang tadinya tampak sangat kosong seperti mayat hidup, kini sudah berisi kembali dan memantulkan sosok Kiriya yang sedang berpose di sana.


Nana tersenyum lega setelah melihat sosok pahlawannya telah datang tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun.


Kiriya segera berlari menghampiri Nana yang terikat dan tergeletak di lantai. Lalu pria itu langsung membantu Nana untuk melepaskan ikatan tali di tubuh moleknya.


"Apa kau terluka?" tanya Kiriya.


Nana hanya menggeleng dengan air mata yang sudah merusak riasan makeup di wajah cantiknya.


"Kau tahu, wajahmu sekarang sudah seperti badut!" celetuk Kiriya.


Nana tak menjawab. Wanita itu masih tersenyum sembari ia mengedip-kedipkan kedua matanya seperti orang bodoh.


"Ayo berdiri," ucap Kiriya sembari membantu.


TEEEET ... TEEEET ...


Suara alarm terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan laboratorium.


Nana menoleh ke sembarang arah berusaha mendengarkan dan memahami arti alarm tersebut.


"Bomnya sudah mulai bereaksi!" cetus Nana.


DUAARR ...


Dari kejauhan, mereka berdua bisa mendengar dengan jelas suara ledakan di salah satu ruangan laboratorium.


"Sepertinya begitu," balas Kiriya.


Setelah mendengar respon dari Kiriya, mereka berdua segera lari dari sana untuk mencari jalan keluar.


"Di mana jalan keluarnya?" tanya Nana.


"Maaf ... aku juga lupa," jawab Kiriya.


Nana cengo seketika sembari memberikan jitakan dahsyat tepat di kepala asistennya.


"Sakiiiiit, Dokter Nana!" rintih Kiriya.


"Bodoh! Bisa-bisanya kau melupakan jalan keluar dari sini!" oceh Nana.


Kiriya hanya diam sembari berlari dengan senyuman di wajahnya.


"Sekarang bagaimana cara kita menyelamatkan diri dari bom-bom itu?!" lanjut Nana mengoceh.


"Jika kita bersama, kita pasti bisa menemukan jalan keluarnya!" tegas Kiriya.


Nana mendengus kesal. "Kau selalu saja membuatku kesal!"


Kiriya tersenyum. "Setidaknya, rasa kesal itu bisa membuatmu kembali menjadi dirimu yang biasanya."


Nana hanya terdiam tanpa memberikan sedikit pun respon pada mantan asistennya sembari mereka berlari.


Tiba-tiba, muncul dua orang kekar menggunakan atribut khas petugas keamanan mencegat mereka di depan.


"Jadi ... kalian dalangnya?"


Spontan mereka menghentikan langkah kaki karena munculnya dua orang petugas keamanan tersebut.


"Tch ..." decak Kiriya.


"Sepertinya aku harus melumpuhkan kalian di sini!" ucap salah satu petugas sembari menerjang.


DOORR ... DOORR ...


Dua peluru melesat tepat ke arah dahi kedua petugas keamanan.


Kedua petugas berbadan kekar itu pun langsung terkapar di lantai tanpa bisa melakukan apa pun.


Nana mengernyit. "Aku tak tahu kau hebat dalam menggunakan pistol?"


"He ... he ... he ... apa kau sekarang terpukau padaku?"


Dengan sombong, Kiriya berkata sambil menyentuh hidungnya.


Nana sweatdrop. "Cepat bawa kita keluar dari sini!"


"Ma-maaf!" balas Kiriya.


Sepertinya pria keriting itu malu dengan tingkahnya sendiri.


Mereka kembali berlari. Lalu kembali dicegat oleh seorang petugas keamanan yang memiliki tubuh jauh lebih kekar dari petugas keamanan sebelumnya.


"Tch ... kenapa ada pemain gulat di sini!?"


Sekali lagi Kiriya mendecak dan mengucapkan kata-kata yang tidak penting.


Nana dan Kiriya kini sedang di cegah oleh petugas berbadan kekar tepat di depan sebuah ruangan laboratorium.


"Kiriya ... jika kau tak bisa melumpuhkannya, lebih baik kita mundur sebelum bomnya meledak ..." bisik Nana.


Kiriya mengangguk. "Aku tahu, setidaknya peluru ini pasti bisa merobohkan dia!"


DOORR ...


Kiriya kembali menembakkan pistol.


Petugas keamanan sedikit menghindar. Tapi kecepatan peluru tersebut sempat melubangi pangkal lengan kekarnya.


Walaupun pangkal lengan tersebut sudah bersarang sebuah peluru, sang pria kekar yang menyerupai pegulat sama sekali tak bergeming. Hal itu sukses membuat Nana bersama asistennya berkedip beberapa kali seperti orang bodoh.


"O-orang ini ... tidak punya saraf sakit, ya?" celetuk Kiriya asal.


"OOOAAARRRGGHH!!!"


petugas kekar menjerit sembari menerjang Kiriya menggunakan tinjunya yang tampak amat sangat besar.


BUUUGGHH ...


Pukulan telak mendarat di kepala Kiriya bagian samping. Hal itu membuat sang pria keriting terpental ke samping menghantam kaca bening ruangan laboratorium.


"Uugghhh ..." rintih Kiriya kesakitan.


"Kiriya!" pekik Nana hendak menghampiri Asisten keritingnya.


Tapi petugas kekar segera menarik dan mencekik serta mengangkat tubuh Kiriya di udara.


"Kau ingin tahu, rasa yang sedang kurasakan di tanganku ini?" desis petugas dengan suara berat.


Sembari menahan rasa sakit akibat cekikan, Kiriya masih sempat-sempatnya memberikan anggukan untuk merespon sang petugas kekar dengan sebelah mata yang tertutup.


Petugas menyeringai. "Beginilah rasanya!"


Sang petugas kekar semakin memperkuat cengkeraman tangannya di leher Kiriya.


"Uuugghhh ..."


Kiriya semakin mengerang sembari menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung akibat rasa sakit.


Nana terlihat panik. Tapi sesekali wanita itu melirik ke arah ruangan lab melalui kaca bening yang ada di sana.


"Kalau begini terus, Kiriya akan terhempas oleh ledakan ..." gumamnya.


Tiap detiknya waktu terus berjalan, dan tiap detiknya juga, rasa panik Nana terus bertambah.


Wanita itu bingung harus melakukan apa. Tapi, tak sengaja ia melihat sebuah pistol di lantai. Kemudian berusaha meraih benda itu secepat mungkin. Lalu ...


DUUUAARRR ...


Ledakan dahsyat terjadi dan menghempaskan semua benda yang ada di sana. Termasuk kaca yang sudah pecah berkeping-keping.


Alhasil, api akibat ledakan berhasil menghiasi tempat tersebut dengan warna kuning kemerahan khas miliknya.


Nana yang kebetulan sedang membungkukkan tubuhnya saat mengambil pistol, berhasil selamat dari hempasan ledakan tersebut.


Tapi tidak untuk dua orang pria yang ada di depannya. Sang petugas kekar terduduk dengan mata melotot bersama pecahan kaca yang menancap tepat di ulu hatinya.


Sedangkan Kiriya, tergeletak dan merintih di lantai akibat sayatan dari serpihan kaca yang terhempas ke arahnya. Sayatan itu tampak sangat dalam, lebar, dan panjang.


"Kiriya!?"


Nana tampak histeris dengan kondisi Kiriya. Namun wanita itu segera berlari menghampiri asistennya hendak memberikan pertolongan.


"Jangan banyak bergerak. Aku akan segera memberikan pertolongan pertama!" perintahnya.


Pria keriting itu hanya bisa menurut sembari memegangi lengan sebelah kanannya yang terluka untuk menahan sakit.

__ADS_1


Darah sudah banyak yang merembes keluar melalui daging dan kulitnya. Wajah pria itu mulai pucat. Tubuhnya juga mulai kejang akibat rasa sakit yang amat sangat luar biasa.


"Ku-kumohon bertahanlah, obat ini akan mengurangi sakitnya!"


Dengan suara bergetar, Nana menyuntikkan sebuah cairan tepat di sebelah luka tersebut. Saat suntikan mulai menembus kulit Kiriya, pria itu menarik nafas dengan kasar karena terkejut.


"Kumohon, Kiriya ... bertahanlah ..." ucap Nana sembari mengambil beberapa peralatan lagi di balik snellinya.


Dari saku bagian dalam snelli yang Nana gunakan, wanita itu mengambil sebuah perban dan mulai membalutkan benda itu di luka Kiriya. Kelihatannya, pakaian itu memiliki fungsi yang sama seperti kantong ajaibnya seekor robot kucing bernama Doraemon, bisa mengeluarkan benda apa saja.


Selang beberapa menit, nafas Kiriya mulai stabil. Begitu juga dengan Nana, rasa panik yang ia alami sudah mereda.


Tapi, ketenangan mereka itu seperti sebuah ketenangan sebelum datangnya badai katrina. Bagaimana tidak, di sana sudah ada dua petugas lagi yang berlari menghampiri mereka.


"Itu penyusupnya!" seru petugas.


"Nana ... pergilah ... kalau kau sendiri, pasti bisa melakukannya ..." lirih Kiriya.


Nana mengernyit. "Lalu, bagaimana dengan, 'jika kita bersama, kita pasti bisa menemukan jalan keluarnya'?"


"Kau sendiri yang mengatakan itu, kan?" lanjut Nana.


Kiriya tersenyum kecut. "Benar ... tapi ..."


"Akan kukatakan sesuatu padamu, Kiriya ..."


Nana sengaja menjeda ucapannya sebelum mengambil beberapa benda dari saku dalam snellinya.


"... Thousand Face Reaper, merecruit seorang Poison Ivy bukan karena sebuah kebetulan ..."


"... tapi karena, kemampuan yang dimiliki oleh wanita itu sendiri!" lanjutnya menegaskan.


Nana berdiri tegak sembari berlari kecil ke arah dua petugas keamanan yang sedang menghampirinya.


"Petugas! Pria itu yang sudah meledakkan laboratorium ini!" pekiknya sambil menunjuk ke arah Kiriya.


"Eh?"


Pria keriting yang sedang terbaring itu hanya bisa cengo ketika mendengar penuturan dari mentornya.


"Benarkah? Kau yang melumpuhkan dia?" tanya salah seorang petugas.


Nana menggeleng. "Tidak, aku menemukannya sudah tergeletak di sana setelah terjadi ledakan."


"Bagus, kami akan segera membawanya!" balas petugas.


Kedua petugas itu segera menghampiri Kiriya yang sedang tak berdaya. Sementara Nana berseringai di belakang petugas tersebut.


Kiriya berusaha melihat ke arah mantan mentornya. Tampak jelas di mata lelah pria itu, Nana sedang berseringai sembari mengeluarkan dua buah alat injeksi tanpa jarum dari saku pakaian yang ia kenakan.


Beberapa saat kemudian, Nana menancapkan kedua benda seperti tabung kecil tersebut sekuat mungkin tepat di tengkuk masing-masing petugas keamanan.


Kedua petugas terbelalak seketika, lalu berusaha menoleh ke belakang. Namun, Nana segera mengantukkan kepala mereka berdua sekuat yang ia bisa hingga keduanya roboh dan tak sadarkan diri.


"Poison Ivy memang hebat!" cetus Kiriya.


Nana tersenyum. "Sudah kubilang, kan?"


Kiriya ikut tersenyum bersama mentornya dengan tubuh yang masih terbaring di lantai.


Wanita yang pernah menjadi mentor Kiriya itu kembali menghampirinya. Lalu membantu pria keriting tersebut untuk duduk.


"Apa kau bisa berjalan?" tanya Nana.


Kiriya mengangguk. "Kurasa bisa."


"Bagus, sekarang ayo kita cari jalan keluar?" ajak Nana.


"Baik!" balas Kiriya.


Setelah itu Nana membantu Kiriya untuk berjalan dengan cara memapahnya. Mereka mulai berjalan menyusuri laboratorium yang perlahan-lahan terlahap oleh si jago merah.


Terkadang, mereka juga mendengarkan ledakan dari sisa bom yang belum meledak saat sedang mencari jalan keluar.


Sesekali, mereka juga melihat petugas yang sedang sibuk berpatroli untuk mengevakuasi para staf laboratorium. Tapi, saat mereka hampir ketahuan, sepasang mentor dan asistennya itu segera sembunyi di balik dinding sampai keadaan aman sebelum kembali berjalan.


Tepat setelah keduanya sampai di depan pintu keluar, mereka sedikit diinterogasi oleh petugas keamanan. Berkat penyamaran dan pengenal palsu, mereka akhirnya bisa melewati penjagaan tanpa masalah sedikit pun.


●●


Selang setengah jam, kini mereka sudah berada di sebuah tempat yang banyak pepohonannya. Mungkin tempat itu masih di sekitar laboratorium. Yang pasti, tempat itu bukanlah sebuah hutan. Karena mereka masih bisa melihat langit dengan jelas bersama sinar mentari sore yang berwarna kejinggaan.


Nana sekarang sedang duduk bersandar di sebuah pohon besar sembari memangku kepala Kiriya yang sedang terkulai lemas di sana.


"Semoga saja pesan SOS-ku segera dibaca Goblin's," ucapnya.


"Dokter Nana ..." panggil Kiriya lirih.


"Hm?" sahut Nana menoleh ke bawah.


"Terima kasih ..."


"Untuk?"


"Untuk tidak meninggalkanku di sana,"


Wajah cantik Nana yang sudah tidak karuan akibat lunturan makeup, tampak mengembangkan senyuman manis.


"Mana mungkin aku meninggalkanmu di sana!" tegas Nana.


"Kalau begini jadinya, kesempatanku untuk menggantikan posisi Loki di hatimu terasa semakin kecil," celetuk Kiriya.


"Bodoh! Sempat-sempatnya kau mengocehkan hal yang tidak penting!" cibir Nana.


"Tentu saja ini penti- aduh!"


Kiriya meringis sembari memegang tangannya yang terluka.


"Jangan memaksakan dirimu ..." ucap Nana.


"Lagi pula, apa hubungannya menolongmu dengan kesempatan yang selalu kau bangga-banggakan itu?" lanjutnya bertanya.


"Hubungannya adalah ... jika aku berhasil melakukan aksi heroik di sana, sudah pasti kau akan jatuh hati padaku ..."


"... ini malah aku yang ditolong oleh wanita yang seharusnya kubuat jatuh hati padaku!" jelas Kiriya tampak kecewa.


Nana cengo. "Kau bodoh ya?"


"Benar ... aku bodoh ... bodoh karena selalu saja mengikuti ke mana pun kau pergi!" tegas Kiriya.


"Kalau begitu, jadilah pintar dan berhenti mengikutiku!" balas Nana.


"Tidak bisa!"


Kiriya sedikit membentak dengan posisi yang masih terbaring.


"Kenapa?"


Nana bingung, kepalanya tampak dimiringkan sembari ia bertanya.


"Karena itu adalah sumpahku!" tegas Kiriya lagi.


Sontak Nana membelalakkan matanya. Pada saat yang sama, wanita itu mengingat kembali saat-saat Loki pernah mengatakan hal yang sama sebelum ia meninggal.


"Aku bersumpah akan melelehkan dinding esmu dan akan membuatmu tersenyum!"


Begitulah kata-kata yang selalu di ucapkan Loki kepada Nana saat sedang bekerja di laboratorium.


Tanpa sadar, Nana meneteskan air matanya. Kemudian tersenyum kecut sembari meliat ke arah langit.


"Kenapa kau menangis?" tanya Kiriya bingung.


"Jangan pernah membuat sumpah jika suatu saat nanti kau akan mengingkarinya!" ungkap Nana.


"Selama 10 tahun terakhir, apa aku pernah meninggalkanmu?" tanya Kiriya lagi.


Nana terdiam seribu bahasa. Untuk yang ke sekian kalinya, gadis itu dibuat skakmat oleh sang asisten bernama Kiriya.


"Bahkan, sebelum kau bertemu dengan Loki, aku sudah mengikutimu seperti anak ayam yang baru menetas!" lanjut Kiriya menegaskan.


Nana masih diam dan bingung harus berkata apa.


"Dan terkadang, aku berpikir ... apa hebatnya Loki hingga ia bisa melakukan hal yang tidak bisa kulakukan ..."


"... apa karena dia tampan? Apa karena dia bodoh? Kalau begitu, aku bersedia menjadi bodoh demi dirimu!" lanjut Kiriya panjang lebar.


Nana kembali mengembangkan senyuman kecut di wajah cantiknya.


"Kau selalu bisa membuatku terlihat bodoh!"


"Tapi aku suka degan ekspresi bodohmu itu!"


Kiriya berkata dengan santainya sembari ikut tersenyum. Tapi tidak berkesan kecut. Melainkan terlihat sangat lembut.


"Kiriya ... " Nana memanggil.


"Hm?"


Setelah Kiriya menjawab, sebuah pukulan chop mendarat tepat di tengah dahi pria keriting tersebut dan sukses membuatnya pingsan dengan raut wajah yang lucu.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kau harus meniru Loki ...?" lirih Nana.


"Apa sebesar itu, keinginanmu untuk terus bersamaku?" gumamnya.


Nana kembali mengalihkan pandangannya ke arah langit.


"Rasanya ... kau seperti terlahir kembali di dalam tubuh pria ini, Loki ..."


Bersama suara lirihnya, Nana tampak mengembangkan senyuman manis di sana.


"Loki ..."


Sekali lagi Nana mengucapkan nama itu dengan suara lirih sembari melihat ke wajah Kiriya dan mengelus kepala keriting tersebut.


"Sepertinya, bantuanku datang di saat yang tidak tepat."


Suara baritone yang sangat tidak asing terdengar di telinga wanita berjuluk Poison Ivy itu.


"A-Aldo?" ucap Nana.


Dengan ekspresi cengo, Nana berkedip-kedip sambil mengucapkan nama sang leader yang tiba-tiba muncul tepat di depan mata lentiknya.


Aldo tersenyum. "Hai."


"Kenapa kau yang datang?" tanya Nana setelah itu.


"Aldo memaksa untuk ikut!"


Tiba-tiba, terdengar lagi suara seorang pria yang menyusul Aldo dari belakang.


"Zedd? Kenapa?" kata Nana.


"Seharian boss khawatir padamu," balas Zedd santai.


"Ayolah, Zedd!" sangkal Aldo.


"Aku cuma berkata hal yang sesungguhnya," kata Zedd.


"Hehehe ..."


Aldo hanya bisa cengengesan saat mata Nana tertuju pada dirinya.


"Baiklah ... lebih baik kita segera pergi dari sini."


Zedd mengajak kedua temannya itu sembari mengangkat tubuh Kiriya yang sedang tergeletak di sana.


"Okay!" balas Aldo.


Zedd mulai berjalan meninggalkan mereka berdua sambil membopong tubuh Kiriya seperti sebuah boneka yang tak bernyawa.


Sementara Aldo tampak berdiri dengan tatapan yang tertuju pada Nana.


"Aku berani bertaruh ... kau pasti telah mengungkap sebuah rahasia tentang Eksperimen Homunculus, kan?" ungkap Aldo.


Nana terdiam. Tatapannya melihat kosong ke sembarang arah dengan posisi yang masih terduduk.


"Kenapa kau selalu saja bisa menebakku?" ucapnya setelah itu.


"Sebagai seorang leader, bukankah aku harus bisa memahami rekan-rekanku?" balas Aldo.


"Apa ada hubungannya dengan Loki?" tanya Aldo melanjutkan.


Nana mengangguk. "Begitulah ... aku tak menyangka, ternyata orang yang selama ini kucintai adalah kelinci percobaanku sendiri!"


Aldo diam dan menatap Nana dengan sendu melalui mata cokelat tersebut.


Gadis berambut gonjes itu pun mulai berdiri dari tempat duduknya.


"Hidup ini benar-benar kejam!" lanjut Nana.


Aldo masih diam sembari memperhatikan gerak-gerik rekan eksentriknya itu.


Tak lama kemudian, Mata Nana mulai meneteskan air mata di pipi mulusnya.


"Kenapa? Kenapa harus aku yang berperan besar dalam kasus itu, Aldo ... hiks ... hiks ..."


Pundak Nana pun ikut bergetar naik dan turun akibat isakan tangis.


"Kenapa dulu aku menerima tawaran dari mereka? Hiks ... huuu ..."


"Kenapa harus Loki yang menjadi korban!? Kenapa harus Loki yang kubunuh!? Kenapa Aldo ... kenapa ... hiks ... huuu ... hiks ..."


Zedd yang tadi sedang berjalan menuju mobil, kini menghentikan langkah kakinya dengan tatapan sendu ke bawah karena ucapan Nana yang tak sengaja ia dengar.


Sementara Aldo tak bisa menjawab, pria berambut cokelat itu hanya bisa memberikan sebuah pelukan untuk Nana sembari mengelus kepala gonjes tersebut dengan lembut.


"Huuuu ... kenapa dunia ini sangat kejam padaku, Aldo!? ... huuu... kenapa!? ... hiks ..."


Tangisan Nana semakin menjadi-jadi di dalam pelukan leadernya.


"Kenapa aku tak ikut mati saja!? Kenapa saat itu kau harus datang padaku!? ... huuu ... huuu ..."


"Sssshhh ... menangislah ... tapi kau tak boleh menyesali yang sudah berlalu ..."


Aldo berusaha menenangkan Nana yang menangis masih dengan elusan lembut di kepalanya.


"Kalau kau tidak datang waktu itu ... aku pasti sudah bersama Loki sekarang ... hiks ..." ujar Nana.


"Aku mengerti, tapi apa kau tega membiarkan orang yang selalu setia padamu sendirian di dunia yang sudah gila ini?"


Aldo menyangkal salah satu rekan satu timnya itu dengan ucapan yang sedikit ambigu.


"Maksudmu? ... hiks ..."


Masih dengan isakan tangis, Nana bertanya.


Aldo melepaskan pelukannya, lalu menunjuk ke arah pria keriting yang sedang dibopong oleh Zedd.


"Bukankah pria itu pantas, untuk mendapatkan perhatian darimu?"


Nana tertegun setelah mendengar nasehat dari leadernya.


"Jika kau tidak ada di dunia ini, bukankah pria itu akan merasakan hal yang sama sepertimu?"


Mendengar ucapan Aldo, Nana semakin menundukkan kepalanya ke bawah.


"Aku rasa, kau harus menghentikan putaran roda kesedihan ini, Nana!" Aldo menegaskan.


"Aku mengerti, bagaimana rasa cintamu dan bagaimana rasa sakit akan kehilangan yang telah kau rasakan ..."


"Tapi, kau tidak sendirian di dunia ini! Kau masih punya aku, Zedd, Kawa, Myra, Taka, dan Syndi!"


Aldo terus menasehati Nana seperti seorang ayah yang sedang menasehati anak perempuannya yang mulai beranjak dewasa.


"Dan juga ... kau masih punya tempat untuk pulang, bukan?"


"Aldo ..." ucap Nana lirih ke arah leadernya.


Aldo tersenyum. "Green Goblin! Itulah rumahmu sekarang!"


Nana terduduk kembali di atas tanah sembari menutupi wajahnya yang mulai di banjiri air mata untuk ke sekian kalinya.


"Aldo ... hiks ... huuu ..."


Aldo ikut berjongkok di depan Nana dengan kaki yang di tekuk sebelah.


"Kami akan selalu ada untukmu ... terutama pria keriting itu!" balas Aldo masih dengan senyuman.


Spontan Nana memeluk Aldo dan sukses membuat leadernya itu terkejut hingga jatuh terduduk di atas tanah.


"Huuu ... hiks ... terima kasih ..." ujar Nana.


Aldo mengelus kepala Nana yang sedang memeluknya sekali lagi.


"Sama-sama ... sekarang, ayo pulang?"


Nana tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala gonjes tersebut masih dengan posisi memeluk Aldo.


"Kalian berdua! Sampai kapan kalian ingin bermesraan di sana?" ujar Zedd dari kejauhan.


Aldo hanya bisa tersenyum kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah itu, mereka semua pun beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut menggunakan mobil SUV putih yang dikemudikan oleh Zedd.


Nana yang berada di bangku belakang bersama sang mantan asisten yang masih tak sadarkan diri di pangkuannya, kini sedang melihat ke arah langit. Pandangannya tampak jauh menerawang di sana.


"Loki ... terima kasih ... kau telah menunjukkan jalan yang harus aku tempuh ..."


Nana berucap di dalam hati sembari menoleh ke arah wajah Kiriya yang berada di atas pangkuannya. Kemudian tersenyum sebelum mengelus lembut kepala keriting tersebut.


Sementara Aldo dan Zedd, tampak sedang berdebat tentang musik apa yang harus mereka mainkan pertama kali di dalam mobil.


-----


Terus dukung aku ya..


Jangan lupa LIKE VOTE DAN COMMENT


Thank you.. 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2