Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 5 : Honeymoon, Arrival.


__ADS_3

Malam hari setelah pesta pernikahan selesai, Aldo, Rikka, dan kedua orang tuanya tampak sedang berbincang dengan di sebuah pekarangan rumah yang cukup besar. Sepertinya rumah tersebut adalah rumah orang tua Rikka.


"Baiklah Aldo, kami pulang dulu," kata Isana


"Jangan lupa bulan madu kalian minggu depan!" sambungnya.


"Baik, Nek!" sahut Aldo.


Rikka dan kedua orang tuanya hanya menanggapi dengan senyuman.


"Jangan merepotkan mertuamu ya, Aldo?" ujar Chika tiba - tiba.


"Baik!"


"Urusan perpindahan Rikka nanti, serahkan saja padaku!" kata Mega setelahnya.


Aldo mengangguk. "Terima kasih, Kak."


Kemudian Aldo mengantarkan keluarganya hingga masuk ke dalam mobil.


"Sampai jumpa!"


Setelah memberi salam, Nenek dan kedua kakaknya bersama keluarga mereka pergi meninggalkan rumah tersebut. Lalu Aldo beranjak masuk ke dalam rumah.


"Rikka, persiapkan semua perlengkapanmu dari sekarang sebelum pindah ke rumah Aldo."


"Mama ... hari pernikahanku saja belum lewat dua puluh empat jam!"


"Iya, tapi ada baiknya kalau sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari."


"Mama!"


Saat berjalan ke ruang keluarga, Aldo mendengar perdebatan kecil antara Rikka dan ibunya. Pria berkacamata itu sedikit tersenyum lalu duduk di atas sofa.


"Tidak apa-apa, Bu!" ujar Aldo menegaskan.


"Sebelum pindah nanti, katanya Rikka ingin bermanja-manja dengan ibunya."


Rina menoleh ke arah Rikka yang sedang menundukkan kepala dengan semburat merah di wajah cantiknya.


"Dasar!" kata Rina sambil memegang kepalanya.


"Hehe ... maaf ya, Mam!" ucap Rikka sambil memeluk Rina yang berada tepat di sebelahnya.


Akhirnya, mereka memutuskan untuk makan malam. Setelah itu, Aldo pun memutuskan untuk mandi karena merasa badannya sudah agak lengket akibat keringat.


Malam pun semakin larut, kini Aldo dan Rikka sudah berada di kamar. Awalnya Aldo ingin tidur di kamar yang berbeda. Namun, karena mengingat mereka sudah menikah, maka ia harus tidur di satu kamar yang sama dengan Rikka dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri.


Duduk bersebelahan di atas tempat tidur dan mengenakan piyama, Aldo dan Rikka hanya berdiam diri. Wajah mereka sudah semerah tomat. Terlebih lagi, tatapan mereka malah di arah yang berlawanan. Jika Aldo menghadap ke kiri, maka Rikka menghadap ke sebelah kanan.


Lima belas menit berlalu, tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Entah itu karena malu atau karena takut untuk berbicara. Tapi di dalam hati Aldo, ia tak ingin membuat Rikka merasa terpaksa untuk tidur bersamanya.


" ...Rikka?" Kata Aldo memecahkan keheningan.


Dengan kikuk, Rikka menoleh ke arah suaminya. "Y-ya?"


"Aku tidur dibawah saja, boleh aku minta selimut?"


"Apa? Dibawah?" tanya Rikka sedikit terkejut.


Aldo hanya mengangguk menjawab pertanyaan Rikka.


"Tidak, aku saja yang di bawah!"


"Mana mungkin aku membiarkan istriku tidur di bawah!" kata Aldo menegaskan dan sukses membuat Rikka tersipu.


"Kalau begitu ... k-kita berdua tidur di atas," ujar Rikka dengan suara yang sangat pelan.


"Kau yakin?"


Tidak mengeluarkan suara, Rikka hanya mengangguk.


"Baiklah kalau begitu," lanjut Aldo santai dengan senyuman.


Kemudian mereka berdua mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, tapi masih dengan arah yang berlawanan.


Beberapa menit kemudian, Aldo menyadari kehadirannya disana membuat Rikka merasa sedikit tidak nyaman. Maklum saja, baru kali ini Rikka tidur bersama seseorang selain ibunya. Apa lagi orang tersebut adalah seorang laki-laki. Dan terlebih lagi, laki-laki tersebut baru dikenalnya selama satu bulan.


Walaupun status mereka kini sudah menjadi sepasang suami istri yang sah. Hal itu tetap tidak bisa membuat Rikka rileks.


Aldo mencoba memejamkan matanya dan pura-pura tertidur supaya Rikka merasa sedikit lebih santai.


Setelah mendengar dengkuran kecil Aldo, Rikka pun berkata dengan suara yang sangat pelan, "bisa - bisanya dia tidur!"


Sepertinya hal itu membuat Rikka sedikit kesal. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa dengan kekesalannya. Bagaimana pun kini Aldo sudah menjadi suaminya.


Gadis cantik yang sedang memakai piyama berwarna biru muda itu mencoba memaklumi situasinya sekarang. Tapi jantungnya yang terus berdetak kencang tak kunjung reda juga.


Saat ingin mengubah posisi tidurnya, tanpa sengaja Aldo menyentuh tubuh Rikka dengan lembut. Hal itu sukses membuat Rikka merinding dan secara refleks memukul bagian tubuh Aldo yang sebelah kanan. Tepatnya di dekat tulang rusuk.


"JANGAN SENTUH AKU!" pekiknya dengan kepalan tangan yang cukup kuat.


"UAAGGHH!!" teriak Aldo tak mau kalah.


Pukulan tersebut sepertinya cukup membuat Aldo terpantal dari atas kasur dan membuatnya tersungkur di lantai.


"Ke-kenapa kau ... me-memukulku, Rikka?" tanya Aldo sambil meringis.


"Ma-maaf, aku tidak sengaja!"


"Kau sendiri yang bilang kalau kita berdua bisa tidur di atas, kan?"


"I-iya, tapi ..."


Tak menyelesaikan kalimatnya, Rikka langsung menghampiri Aldo yang dilihatnya sedang meringkuk dilantai.


Karena merasa kasihan melihat Aldo yang sepertinya sedang tak berdaya, Rikka juga ikut duduk di lantai tepat disebelah Aldo secara sembarang.


Posisi duduk Rikka saat ini terlihat sangat imut. Apa lagi jika melihat rambutnya yang digerai. Semakin membuat keimutannya bertambah berkali-kali lipat.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Rikka khawatir.


Aldo melirik. "Apa aku terlihat baik - baik saja?"


"Maaf."


Melihat ekspresi wajah Rikka yang merasa sangat bersalah itu membuat pikiran jail Aldo timbul ke permukaan.


Kemudian pria berambut coklat itu sedikit menyeringai dan duduk bersila di depan istrinya sambil meringis kesakitan. Entah itu pura-pura atau tidak hanya Aldo lah yang tahu.


"Kau harus bertanggung jawab!" celoteh Aldo.


Dengan tatapan bingung, Rikka melihat wajah Aldo. "Caranya?"


"Apa perlu aku jelaskan?"


Tak menjawab Rikka malah mengangguk pelan.


Betapa polosnya wanita yang ada di depannya ini. Sebagai pimpinan intelijensi kepolisian, ekspresi imut Rikka ini benar-benar sangat tidak cocok menurut pembunuh berantai kelas kakap itu.


"Kemarikan kedua tanganmu!" kata Aldo.


Masih dengan kebingungannya, Rikka menjulurkan kedua lengannya ke arah Aldo.


"Beginilah caranya kau bertanggung jawab!" lanjut Aldo sambil meraih tangan Rikka.


Setelah menggenggam erat kedua lengan mulus yang membuat istrinya itu sedikit terkejut, Aldo mulai menatap intens kedua bola mata Rikka. Rikka hanya terdiam dan secara perlahan rona merah wajahnya mulai menampakkan diri.


Perlahan tapi pasti, wajah Aldo mulai mendekati wajah istrinya. Dan pada saat jarak di antara keduanya sudah tinggal 1 inci lagi, wajah cantik Rikka pun semakin memerah seperti kepiting rebus.


Tanpa disadarinya, Rikka mulai melakukan gerakan refleks. Yaitu menyundul kepala Aldo sekeras mungkin sembari menutup kedua matanya.


Pada detik yang sama, dengan gesit Aldo sukses menghindari sundulan tersebut dengan cara menggeser sedikit kepalanya kebelakang.


"Aku tak akan jatuh ke lubang yang sama," desis Aldo.


Sesaat kemudian, mata Rikka terbelalak seakan dia terkejut karena sesuatu. Dirasakan olehnya ada sesuatu yang lembut menyentuh dahinya.


Lebih tepatnya, sentuhan itu adalah sebuah kecupan yang diberikan Aldo untuknya. Kecupan hangat yang sukses membuat Rikka tak berkutik sedikitpun.


Setelah kecupan itu selesai, Aldo mengelus kepala istrinya dengan lembut dan memamerken senyuman khasnya yang menenangkan hati.


"Maaf membuatmu tidak nyaman," ujar Aldo.


Mendengar penuturan Aldo tersebut, mata Rikka mulai berkaca-kaca dan hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berkata sedikitpun.


"Aku tidur di bawah saja," sambungnya.


"Tapi ..." Kata Rikka bingung harus bagaimana.


"Tak perlu memaksakan diri!"


Rikka menundukan kepalanya lagi. "Maaf."


"Baiklah, ayo tidur?"


Aldo mulai merapikan alas tempat tidurnya di lantai yang sudah diselimuti oleh karpet merah bermotif unik.


Rikka pun mulai beranjak ke tempat tidurnya, tapi mendadak ia menghentikan langkahnya sambil menatap ke bawah.


"Aldo ..."


"Hm?" Aldo menoleh.


"Maaf, padahal malam ini adalah malam pertama kita, tapi aku malah mengacaukannya."


Lagi-lagi Aldo menyeringai. "Jika kau benar-benar merasa bersalah, ayo kita lakukan?"


Sesaat setelah Aldo menyelesaikan kalimatnya, bantal empuk pun berhasil mendarat di wajah maskulinnya dengan mulus.


"Bodoh!" cibir Rikka sambil mencari posisi nyaman di atas kasurnya.


Aldo hanya tersenyum dan mulai merebahkan tubuhnya dengan santai.


"Aku butuh waktu ..." lanjutnya lirih.


"Kau bilang apa?"


"Selamat tidur!"


"Ooh oke ... selamat tidur," balas Aldo dengan wajah bingung.


●●


Seminggu pun berlalu tanpa adanya masalah. Aldo dan Rika kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Tapi Khusus buat Rikka, dia sudah cuti bekerja satu hari sebelum hari pernikahannya.


Mungkin sekitar dua minggu wanita beriris hitam pekat itu cuti dari pekerjaannya, karena ia juga ingin berlibur sekaligus pergi berbulan madu bersama Aldo.


Kini mereka sedang berada di bandara bersama keluarga masing-masing, termasuk teman satu tim Aldo.


"Aldo, semua kebutuhan kalian tidak ada yang terlupa, kan?" ujar Isana mengingatkan.


"Tidak, Nek. semuanya sudah kupersiapkan dengan matang!" jawab Aldo menggeleng.


"Rikka, hati-hati disana. Aldo, tolong jaga Rikka, ya?" Kata Rina perhatian.


"Siap, Ibu!" Sahut Aldo dengan semangat. Sementara Rikka merespon perkataan Ibunya dengan anggukan kepala.


Dalam benak Aldo, sebenarnya agak lucu memanggil ibu pada mertua perempuannya. Tapi pada saat yang sama, muncul sebersit perasaan senang di hati pria yang memakai kemeja santai tersebut. Mungkin hal itu dikarenakan orang tua Aldo yang sudah bertahun-tahun meninggal.


"Rikka, sesampainya di jepang nanti sudah ada yang menjemput kalian. Jadi, tolong ingatkan Aldo untuk tidak pergi kemana-mana sebelum kalian tiba di hotel!" jelas Chika panjang lebar.


"Baik, kak ... dan terima kasih sudah mengurus liburan kami."


"Ingat, Aldo itu matanya liar. Dia suka pergi kemana saja yang dianggapnya menarik. Kalau bisa, borgol dia supaya tak bisa kemana-mana!" Cetus Mega yang sukses membuat Rikka sweatdrop.


"B-baik," sahut Rikka kikuk sambil membayangkan tangan Aldo yang diborgol.


"Rikka, jangan lupa oleh-oleh, ya?" celoteh Kawa tak mau kalah.

__ADS_1


Rikka tersenyum. "Oke," ucapnya sambil mengelus kepala kawa.


"Oh iya, Aldo. Ngomong-ngomong, bagaimana malam pertama kalian?" Nana mulai berbicara dengan niat menggoda.


Aldo sedikit tersentak sedangkan Rikka yang kebetulan mendengar hanya bisa menundukkan kepalanya malu saat mengingat malam pertama mereka yang kacau.


"Y- yah, tentu saja lancar!"


"Hee ... benarkah?" tanya Nana curiga.


"Tentu saja! Benarkan, Rikka?"


Karena tak tahu harus berkata apa lagi, Aldo pun meminta bantuan istrinya supaya pembicaraan ini segera selesai.


Mendengar namanya dipanggil, Rikka sedikit kelabakan. "T- tentu saja ... ahaha ..."


"Sudah jangan menggoda mereka lagi, Nana!" tegur Zedd sementara Nana yang belum puas dengan jawaban ambigu tersebut tampak kesal.


"Semoga aku segera mendapatkan cicit," celetuk Isana tiba-tiba dengan wajah penuh harapan.


Mendengar hal itu wajah Aldo dan Rikka semakin memerah.


"Ditunggu saja ya, Nek?" sahut Rikka masih dengan semburat merah di wajahnya.


"Semoga liburan kalian menyenangkan!" kata Syndi dengan senyuman.


"Boss, jangan lupa Action Figure Miku titipanku!" kata Taka mengingatkan Aldo.


"Kau kan bisa beli online, Taka!" ujar Myra menyela.


"Tidak apa-apa, Myra!" Kata Aldo menegaskan.


"Terserahlah, yang penting nikmatilah liburan kalian."


Aldo tersenyum. "Kau tidak ingin titip sesuatu?"


Mendengar tawaran Aldo, Myra mulai memejamkan matanya sambil menyentuh dagunya dengan jari telunjuk yang sebelah kanan seolah berfikir.


"Aku rasa tidak."


"Apa kau yakin?" tanya Aldo memastikan.


Myra hanya menganggukkan kepala dan tersenyum seolah yakin dengan keputusannya. Aldo pun membalasnya dengan senyuman dan mengelus pelan kepala Myra.


"Aku bukan Kawa!" cibir Myra dengan mulutnya yang dikerucutkan kedepan.


Aldo masih tersenyum sementara Myra terlihat sangat menikmati elusan dari leadernya tersebut.


"Padahal kau sangat menikmatinya!" kata Taka menyindir.


"Diam kau!"


"Zedd, aku titip Green Goblin padamu!" ucap Aldo.


"Siap, Boss!" sahut Zedd.


Setelah berpamitan dengan keluarga dan teman-teman mereka, Aldo dan Rikka mulai beranjak masuk ke dalam ruang tunggu bandara.


Sekitar kurang lebih satu setengah jam mereka menunggu, lalu terdengarlah panggilan kepada penumpang untuk penerbangan dengan tujuan Narita International Airport - Tokyo, Jepang.


Mereka segera bergegas berjalan menuju pesawat yang sudah setia menunggu disana. Setelah pilot dan pramugari memastikan semuanya aman, benda yang berbentuk seperti capung itupun lepas landas dan terbang ke angkasa menuju negari sakura, Jepang.


Mereka duduk bersebelahan di dalam kabin pesawat di dekat jendela sebelah kiri di bagian Business Class. Rikka tepat di sebelah jendela dan Aldo di sebelah kanan istrinya.


Rikka terlihat cantik hari ini, Walaupun gayanya bisa dibilang simpel, dengan T-shirt kuning yang agak longgar dan hotpant biru terangnya, istri Aldo itu berhasil membuatnya terpesona.


Apa lagi kulit putih yang terpampang di paha mulus Rikka, sedikit membuat Aldo menarik nafas ketika melihatnya.


"Kau cantik hari ini!" kata Aldo sambil melirik istrinya.


Rikka menoleh, dan gerakan kepalanya sukses membuat rambut indigo yang disanggul secara sembarang menggunakan keep berwarna kuning itu bergoyang.


"T-terima kasih," sahut Rikka sedikit malu.


Setelah itu Rikka mulai mengotak-atik tablet yang sudah disediakan oleh pihak maskapai penerbangan. Entah apa yang dikerjakan wanita itu hingga membuatnya asyik berkutat dengan tablet tersebut.


Aldo sepertinya mulai bosan menunggu, itu terlihat jelas dari kaki yang sudah dibungkus dengan sepatu sneaker tersebut terus digoyangkan dengan sengaja.


"Lama!" cibir Aldo.


Rikka tersenyum. "Sabar, baru juga setengah jam kita lepas landas!"


Rikka berusaha menenangkan Aldo yang bosan dan gelisah.


"Kau sepertinya sangat gelisah?" tanya Rikka penasaran melihat tingkah suaminya.


"Aku paling benci menunggu!"


"Aku kira kau takut dengan ketinggian," kata Rikka menggoda.


"E-enak saja!"


"Lagi pula, masih sekitar 6 jam lagi kita sampai di jepang!" Kata Rikka menegaskan.


"Haah ..." keluh Aldo pasrah.


sedangkan Rikka masih tersenyum melihat tingkah suaminya yang seperti anak-anak ketika diajak orang tuanya berlibur.


Pramugari pun tampak mulai beraktifitas, mereka berpatroli di dalam kabin pesawat untuk memberikan pelayanan kepada para penumpang termasuk Aldo dan Rikka.


Aldo mengambil beberapa cemilan yang di tawarkan oleh pramugari yang sepertinya berasal dari jepang, lalu memberikannya kepada Rikka.


"Anything else, Mister?" tanya pramugari.


"Nope, thank you ... Ayumi-san!" balas Aldo sempat menjeda kalimatnya untuk memastikan nama pramugari tersebut melalui bet nama miliknya.


Rikka terlihat bingung mendengar Aldo menyebutkan nama sang pramugari. Tapi setelah dia juga melihat bet nama milik pramugari yang bertuliskan 'AYUMI TACHIBANA', Rikka hanya mengengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti.


"You're welcome. Please, enjoy your flight!" ucap Ayumi dengan senyuman yang teramat manis sebelum meninggalkan seat Aldo.


"Wanita jepang benar-benar beda," tutur Aldo mengagumi.


"Senyumannya."


"Kenapa senyumannya?"


"Membuat orang meleleh!"


"Kau meleleh?"


"Hampir!"


"Dasar laki-laki!" cibir Rika sedikit kesal sambil buang muka ke arah jendela.


Aldo sedikit bingung dan menoleh ke arah istrinya. "K-kau cemburu?"


"Tida~ak!" Balas Rikka dengan sedikit penekanan.


Aldo hanya bisa sweatdrop dan tersenyum kikuk melihat tingkah aneh istrinya. Sesaat dia juga sedikit menyesal karena telah membuat mood Rikka jadi jelek.


Sejenak suasana menjadi hening, lalu terdengarlah suara pilot dari dalam kokpit melalui pengeras suara. Pilot yang memperkenalkan dirinya sebagai Masayuki Kenichirou itu menjelaskan tentang posisi ketinggian pesawat, cuaca, dan estimasi waktu perjalanan mereka ke jepang.


Berdasarkan penjelasan pilot yang memiliki nama sedikit rumit itu, sepertinya tidak ada masalah untuk cuaca hari ini. Sehingga mereka akan sampai tepat waktu di negeri sakura tersebut jika tidak ada kendala sedikipun.


"Oh iya, Aldo?" Rikka memanggil setelah pilot selesai berbicara.


"Hmm?" sahut Aldo sambil membaca majalah panduan berwisata.


"Green Goblin itu apa?"


"Green Goblin?"


"Yang kau titipkan pada Zedd sewaktu di bandara tadi!" ucap Rika menegaskan.


Aldo mengernyit berusaha mengingat kejadian sewaktu di bandara. Kemudian mulutnya membentuk huruf 'O' seolah berhasil mengingat kejadian tadi.


"Green Goblin itu adalah nama kedai kopi yang kami kelola," kata Aldo menjelaskan.


"Kau mengelola kedai kopi?"


"Apa aku belum pernah cerita?" kata Aldo bertanya.


"Belum," jawab Rikka sambil menggeleng.


"Oh, belum, ya? Maaf kalau begitu."


"Green Goblin itu nama kedai kopi yang ku kelola. Zedd dan lainnya membantuku menjalankan bisnis kedai kopi itu. Awalnya kedai kopi yang kami kelola tidak begitu ramai. Tapi berkat teman-teman, sekarang kedai kopi kami sudah punya nama karena ciri khasnya. Alhasil, Green Goblin pun bisa berdiri selama tujuh tahun," sambung Aldo panjang lebar.


"Oh, begitu ... aku kira kalian memelihara Goblin!" celetuk Rikka.


Aldo sweatdrop. "Kau kira ini dunia fantasi!"


Rikka pun tertawa kecil mendengar perkataan Aldo. "Lalu, kenapa kau menggunakan Green Goblin untuk namanya?"


"Benar juga ... kalau aku tidak salah ingat, karena temanya ku buat berwarna hijau gelap," ucap Aldo sambil mengingat-ingat kembali.


"Lalu Goblinnya?"


"Biar terdengar keren saja!"


"Nanti sepulangnya kita dari jepang, akan ku ajak kau kesana," lanjut Aldo.


"Baiklah, akan ku tunggu!"


"Lalu kau sendiri, bagaimana dengan pekerjaanmu?" Aldo balik bertanya sambil kembali membuka halaman majalah yang tadi dibaca olehnya.


Tidak mendapat jawaban dari istrinya, Aldo malah mendapati Rikka yang tiba-tiba meletakkan kepalanya di pundak milik pria berkaca mata tersebut.


"Hmm?" Aldo menoleh.


Tampak oleh Aldo di sana Rikka sedang memejamkan mata sambil merebahkan kepala indigonya.


"Ditanya malah tidur!" cibir Aldo setelah mendengar dengkuran lembut dari sang istri.


Melihat Rikka yang sepertinya sangat lelap, mata Aldo pun terasa berat. Sepertinya Aldo juga ikut mengantuk. Lalu ia menutup kaca jendela, menyamankan posisinya, dan ikut tertidur di sebelah Rikka.


Perjalanan ke jepang masih tersisa kurang lebih 4 jam lagi. Tampak di dalam kabin pesawat banyak yang juga ikut tertidur karena merasa nyaman.


Pramugari yang berpatroli di dalam kabin pesawat terlihat mengembangkan senyumannya ketika melihat penumpang yang sedang tertidur, terutama anak-anak yang tertidur dengan posisi selimut yang berantakan. Dengan perhatian dan cekatannya, pramugari membantu merapikan selimut tersebut dan di balas dengan senyuman oleh orang tua mereka sebagai ucapan terima kasih.


Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di Narita International Airport. Pramugari mulai mengarahkan dan menghimbau para penumpang agar turun dengan tertib dan hati-hati.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Aldo dan Rikka keluar dari pesawat. Lalu mereka beranjak ke tempat pengambilan bagasi.


Setelah yakin semua koper dan tas sudah mereka ambil, mereka berjalan ke arah terminal kedatangan. Karena, sudah ada yang menjemput mereka di sana.


Saat sedang berjalan menuju terminal kedatangan, mata Aldo jelalatan ke sana kemari. Bukan wanita cantik yang dilihatnya, tapi cemilan dan makanan enak yang di bidik oleh mata coklat itu.


Tiba-tiba, tanpa memberikan aba-aba sedikitpun, Aldo singgah ke konter cemilan khas jepang meninggalkan Rikka bersama dua koper mereka.


Rikka yang sedari tadi sedang mengotak-atik ponselnya, baru menyadari sosok Aldo sudah menghilang di sana. Wanita yang mengenakan baju berwarna kuning itu mulai kebingungan dan menoleh ke sana kemari.


Sesaat Rikka pun mengingat kembali perkataan kakak iparnya yang mengatakan kalau Aldo suka pergi seenaknya kalau sedang berlibur. Dan sejenak dia berfikir kalau ada baiknya jika Aldo diborgol. Tapi sayang sekali, Rikka tak membawa benda yang terbuat dari besi putih tersebut.


"Rikka!" terdengar suara bariton yang tak asing memanggil namanya.


Rikka menoleh dan mendapati Aldo sedang melenggang tanpa dosa ke arahnya.


"Kenapa kau tiba-tiba menghilang!" cerocos Rikka kesal.


"Hehehe ... maaf! Apa kau punya uang tiga ribu yen?" tanya Aldo sambil cengengesan.


"Untuk apa?"


"Beli cemilan, kemarin aku lupa menukarkan uang di money changer!" sahut Aldo masih dengan cengiran andalannya.


Walau pun merasa kesal, Rikka tetap memberikan uang tersebut pada Aldo. "Ini!"


Awalnya Rikka ingin menolak karena merasa kesal. Tapi, setelah melihat wajah Aldo yang tiba-tiba berubah sangat manis seperti anak kecil, hati Rikka pun luluh dibuatnya.

__ADS_1


"Terima kasih ... tunggu sebentar, ya?" ujar Aldo semangat kemudian berlari ke arah konter cemilan.


Setelah beberapa menit, Aldo kembali menghampiri Rikka yang sedang berdiri sambil berkutat dengan ponselnya menunggu Aldo.


"Mau?" kata Aldo menawari permen sembari mengulum permen yang sama.


Tak menjawab, Rikka hanya mengangguk dan meraih permen yang ditawarkan oleh suaminya, lalu membuka bungkusnya, dan melahap permen tersebut.


"Ayo?" ajak Aldo.


Rikka pun menyimpan ponselnya ke dalam tas, kemudian Aldo meraih tangan Rikka dan menggandeng tangan istrinya itu sambil menarik koper menggunakan tangan yang masih kosong.


Sesampainya di terminal kedatangan, tampak di sana seorang wanita cantik berambut panjang yang diikat seperti ekor kuda sedang memegang sebuah board bertuliskan 'Aldo & Rikka'.


Wanita tersebut memakai kacamata bulat bergagang hitam dan mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna merah serta jeans biru gelap. Melihat hal itu, Aldo dan Rikka langsung menghampirinya.


"Selamat datang di jepang, Aldo dan Rikka!" sapa wanita berkacamata itu.


"Terima kasih!" balas Rikka.


"Sepertinya aku pernah meilhatmu?" Kata Aldo mengernyit.


Wanita berponytail itu pun tersenyum ke arah mereka berdua.


"Aku kira kau sudah lupa ... perkenalkan, namaku Erin. Senang bertemu dengan kalian."


"Aaah, aku ingat ... kau adalah Erin si gorila pirang!"


Erin mulai mengedutkan alisnya kesal karena penuturan Aldo yang blak-blakan.


"Tak bisakah kau lupakan julukan anehmu itu?" ucapnya.


"Kau mengenalnya, Aldo?" tanya Rikka penasaran.


"Tentu saja ... dulu dia itu preman! Tak hanya di sekolah, tapi juga di rumah!"


"Dan pasangan emasnya adalah kak Chika!" lanjut Aldo


"Waktu mereka masih SMP, mereka suka bolos sekolah!" cerocos Aldo masih melanjutkan.


"Aldooo ..." desis Erin dengan tatapan dingin yang sangat mematikan.


karena mendengar suara Erin yang sangat menyeramkan, Aldo pun menoleh dengan gerakan yang patah-patah dan dengan wajahnya yang tampak mulai pucat.


"Bisa kah kau tutup mulutmu supaya kita bisa segera berangkat ke hotel?" sambung Erin dengan senyuman yang menyerupai iblis.


"M-maaf, Boss! Maafkan aku yang sembarangan bicara!" balas Aldo dengan pose militer.


"Bagus, Ayo kita bergegas!" ajak Erin kepada mereka berdua.


"Siap, Boss!"


Melihat hal itu, Rikka tertawa kecil dan mulai berjalan bersama Aldo dan Erin ke parkiran mobil.


Perjalanan menuju hotel mereka tempuh menggunakan mobil SUV putih keluaran jepang. Sebenarnya, mobil tersebut terlalu besar dan gagah untuk ukuran seorang wanita seperti Erin. Tapi jika mengingat sikapnya, mungkin mobil itu cocok untuk wanita sepertinya.


di dalam mobil tampak Aldo mulai memperkenalkan dan menceritakan siapa sosok Erin yang sebenarnya kepada Rikka.


Erin adalah sahabat Chika, kakak kedua Aldo. Dulu mereka sering sekali berbuat onar dan merepotkan Isana. Tapi walaupun sudah menerima ceramah seribu tahun dari nenek berwajah baby face itu, Chika dan Erin masih saja melakukan keisengan dimana-mana.


Mendengar penjelasan Aldo yang membuat Erin sedikit kesal tapi merasakan nostalgia, Rikka hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil.


"Jadi ... sekarang kau ibu rumah tangga?" tanya Aldo dari bangku sebelah sopir.


Sedangkan Rikka menjadi pendengar yang budiman di bangku belakang.


Erin mengangguk. "Begitulah!"


"Heee ... aku masih tak habis pikir ada yang suka padamu," celetuk Aldo.


"Apa maksudmu?" cibir Erin.


"Ti-tidak apa-apa!"


"Aku juga sudah punya seorang putri sekarang," sambung Erin pamer.


"Benarkah?" Aldo tampak antusias mendengarnya.


Erin menganggukkan kepalanya. "Ya, dan dia sangat nakal, kau tahu!"


"Aku rasa sifat ibunya menurun," ucap Aldo asal.


"Begitu juga yang dikatakan ayahnya padaku."


"Oh iya, apa aku tak merepotkanmu?" Tiba-tiba Aldo merubah topik pembicaraan.


Erin menggeleng. "Tidak apa - apa. Lagi pula, aku sudah lama tak melihatmu. Sepertinya kau sudah bertambah tinggi sekarang?"


"Tolong jangan ungkit masalah tinggi badan di depanku."


"Kenapa, kau malu pada istrimu?" lanjut Erin menggoda.


"Ti-tidak, justru dia suka padaku karena postur tubuhku yang keren ini!" Balas Aldo asal dengan pose sok keren.


"Hahaha ..." Erin tertawa sambil menggosok kepala Aldo dengan tangan kirinya.


"Apa kalian pernah ke jepang sebelumnya?" tanya Erin.


Aldo menggelengkan kepala coklatnya. "Aku belum."


"Kalau aku sudah pernah dua kali," kata Rikka dari belakang.


"Oh begitu ... bagaimana menurutmu, Rikka?" kata Erin bertanya lagi.


"Aku suka negara ini. Apa lagi festival!" balas Rikka.


"Oh, benar juga ... lima hari lagi ada festival kembang api di daerah tempatku tinggal. Apa kalian mau kesana?"


"Jauh?" tanya Aldo.


"Tidak begitu jauh. Tapi tenang saja, aku akan menjemput kalian nanti!" ucap Erin.


"Maaf merepotkanmu, Erin!" kata Aldo dan Rikka serentak.


Erin pun tersenyum. "Tidak masalah, anggap saja service dari kakakmu yang cantik ini!"


"Sejak kapan kita bersaudara?" Aldo menoleh dengan tatapan aneh.


"Sejak kau mengintipku di kamar mandi waktu itu!" sahut Erin dengan senyuman jahil.


"Oi ... jangan mencari masalah denganku!"


"Tapi itu kenyataan, kan?"


"Kapan aku mengintipmu!" cerocos Aldo sedikit berteriak.


"Apa kau lupa kalau kau sering mengintipku mandi saat aku menginap di rumah kalian?"


"Jangan mengarang cerita!"


Jitakan pun mendarat sukses di kepala coklat Aldo.


"Apa kau kira aku sudah lupa dengan perkataanmu yang menyebutku Dada Lepes waktu kau masih kecil?"


Aldo hanya bisa membuang muka ke arah jendela sembari bersiul-siul tidak jelas setelah mendengar penuturan Erin.


Melihat suaminya yang berdebat, Rikka pun memandang heran Aldo dan Erin secara bergantian.


"Tak kusangka Aldo punya hobi yang aneh!" ucapnya.


"Begitulah, Rikka. Aku sering dijadikan sebagai bahan untuk fantasinya!" ucap Erin menimpali sambil memeluk tubuhnya sendiri dan menggeliat aneh.


"Wah ... pantas saja saat aku mandi, seperti ada orang yang selalu memperhatikanku," Rikka pun mulai ikut menggoda Aldo.


"Itu sudah pasti si bodoh ini, Rikka!" tegas Erin.


"Padahal aku ini istrinya, kenapa dia tak bilang saja," kata Rikka dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.


"Itu karena hobi gilanya itu!" tegas Erin sekali lagi.


Aldo sweatdrop. "Kenapa kalian jadi berkonspirasi!"


Gelak tawa Erin dan Rikka akhirnya terlepas setelah mendengar dan melihat ekspresi Aldo yang tampak sangat kesal.


"Dan kau, Rikka ... apa sebegitu ingginnya kau ku intip saat mandi?" Aldo menoleh ke belakang dengan tatapan horor.


Rikka terbengong seketika dengan semburat merah yang mulai mengintip keluar dari wajahnya.


"Coba saja kalau berani!" cibir Rikka sembari buang muka ke arah jendela.


"Aku kan suamimu, Rikka!"


Wajah mulus Rikka semakin memerah hingga ke kuping. Mungkin saat ini Rikka sedang membayangkan Aldo mengintip dirinya yang sedang mandi.


"Bodoh!" cibir Rikka tanpa menoleh sedikit pun.


Rikka yang awalnya berniat menggoda Aldo, kini malah dia yang salah tingkah sendiri akibat perkataan suaminya itu.


Erin yang sedari tadi memperhatikan mereka, hanya bisa tersenyum bahagia melihat Aldo yang sudah dianggap seperti adik baginya, saling meggoda bersama sang istri.


Perjalanan pun terus berlanjut dan melewati beberapa tempat wisata yang ada di jepang seperti Menara Tokyo, Tokyo Skytree, dan beberapa yang lainnya.


Tak terasa hari pun mulai senja dan matahari sudah mulai menyembunyikan dirinya di sebelah barat. Begitu juga dengan perjalanan Aldo dan Rikka yang akhirnya sampai di tempat tujuan.


Tempat tujuan mereka adalah salah satu hotel atau lebih tepatnya penginapan yang disebut Ryokan dengan gaya tradisional. Hal itu tampak dari arsitektur bangunannya yang masih terlihat seperti bangunan tua namun sangat mewah dan elegan.


Aldo sengaja meminta kepada Chika untuk menginap di tempat seperti ini agar ia bisa merasakan budaya asli jepang yang sangat ingin dia alami.


Apa lagi setelah merasakan oleh-oleh sake yang pernah dibawa oleh Chika dari jepang, membuat pria berkepala coklat itu ingin menikmatinya lagi dengan tambahan fasilitas dan pemandangan jepang yang menakjubkan.


Setelah berterima kasih pada Erin yang sudah mereka repotkan, sepasang suami istri itu masuk ke dalam hotel dan melakukan check in di meja resepsionis.


Tak lama kemudian, mereka digiring oleh petugas hotel ke kamarnya. Saat perjalanan menuju kamar, Aldo dan Rikka merasakan nuansa yang berbeda. Yaitu nuansa lantai yang terbuat dari kayu berwarna coklat di sepanjang koridornya. Jadi, mereka harus melepas alas kaki seperti sepatu dan sendal sebelum memasuki area ini.


Sesampainya di kamar, Aldo sepertinya sangat puas dengan suasana kamarnya. Kamar tersebut cukup luas dan berlantaikan tatami.


Kamar itu juga memiliki dua sisi yang dipisah oleh pintu geser atau disebut shoji yang berlapis kertas sintetis.


Salah satu sisi tersebut adalah sisi yang di lengkapi dengan meja berkaki pendek dengan alas duduk atau yang disebut dengan Zabuton disetiap sisinya. Tak lupa teko dan gelas ala jepang juga ikut menghiasi meja tersebut. Sepertinya isi dari teko itu adalah teh atau matcha.


Sisi ini juga dilengkapi dengan fasilitas lainnya seperti LED TV dan kulkas supaya semakin memanjakan pengunjungnya.


Satu sisi lagi sepertinya digunakan untuk meletakan kasur atau yang disebut dengan Futon untuk mereka tidur nanti.


Lukisan bernuansa tradisional juga ikut menghiasi dinding kamar tersebut. Dan yang membuat Aldo semakin puas adalah, pemandangan alam yang menakjubkan saat ia melihat dan berjalan ke arah balkoni kamarnya.


Tampak olehnya pemandangan alam yang indah padahal posisi hotel tempatnya menginap masih termasuk di dalam area perkotaan.


Tak henti-hentinya pembunuh berantai itu merasa takjub dan puas dengan pelayanan dan fasilitas hotel yang ia dapatkan.


Setelah memberikan tips kepada pegawai hotel, Aldo dan Rikka memutuskan untuk mandi secara bergantian lalu mengenakan kimono khas jepang yang sudah dipersiapkan oleh pihak hotel.


Awalnya Aldo ingin mencoba pemandian air panas yang ada di hotel tersebut. Namun, karena dia merasa sangat gerah, pria itu pun mengurungkan niatnya dan mandi air dingin di fasilitas yang sudah disediakan di dalam kamarnya


Makan malam yang disediakan hotel tersebut pun sangat luar biasa. Makanan tersebut adalah makanan laut yang dimasak dengan matang dan sukses membuat Aldo dan Rikka menambah porsi makannya. Aldo tidak suka dengan makanan setengah masak, jadi ia memesan makanan yang benar-benar matang kepada petugas hotel.


Tak lupa juga Aldo memesan sake kepada petugas hotel dan menikmatinya setelah makan sambil menonton TV di dalam kamarnya.


Awalnya Aldo menawarkan minuman tersebut pada Rikka. Namun istrinya itu menolak setelah mengetahui minuman itu adalah sake yang termasuk dalam salah satu minuman beralkohol.


Malam pun semakin larut. Mereka memutuskan untuk tidur dan langsung beranjak ke Futon yang sudah disediakan.


Karena mengingat bagaimana kejadian di malam pertama mereka, Aldo menggeser sedikit futon miliknya dan memberikan sekat berupa bantal guling sebagai pemisah dirinya dan Rikka. Setelah itu, mereka pun memejamkan matanya dan tertidur pulas.


-----


Jangan lupa dukung terus ya teman-teman dengan LIKE, VOTE DAN COMMENT nya..


Thank you...😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2