Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 2 : Perjodohan


__ADS_3

Aldo dan keluarganya kini sudah berkumpul di tengah taman dan mengisi set meja berbentuk lingkaran yang sudah disediakan sebelumnya.


Tampak disana mereka sudah duduk rapi. Jika diurutkan, maka posisinya dimulai dari kakak tertua Aldo, Mega bersama suami dan kedua anaknya, Chika bersama Suami dan putrinya, nenek Isana, dan Aldo. Lalu di sebelah Aldo ada Rikka yang sengaja dibuat bersebelahan, kemudian ada Rina ibu dari Rikka sendiri dan diikuti dengan ayahnya membentuk lingkaran.


Sedangkan anggota keluarga yang lain duduk di set meja bundar yang ada disekitar mereka.


"Sebelumnya maaf ... kedua orang tua Aldo tidak bisa hadir di sini karena mereka sudah meninggal dunia," kata Isana membuka pembicaraan.


Semua orang langsung memasang wajah sendu karena turut prihatin, namun tidak untuk Aldo. Ia merasa itu hal yang sudah biasa.


"Tapi tenang saja ... sebagai wali Aldo, saya yang akan memimpin acara ini!" dengan bijaksana nenek Isana melanjutkan.


Semua orang di sana hanya bisa berangguk ria dan merasa sedikit kagum pada wanita tua berwajah cantik tersebut.


"Jadi ... Tuan Roberta dan Nyonya Rina. Dengan ini saya berkehendak ingin melamar putri tunggal anda berdua untuk menjadi istri cucu laki-laki saya, apa kalian menerimanya?" Nenek Isana pun langsung keinti pembicaraan.


Kedua orang tua Rikka pun tersenyum puas dan menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja kami akan menerimanya!" tegas Roberto yang sedari tadi hanya berdiam diri.


"Itu benar ... tapi biar lebih jelas lagi, bagaimana kalau kita tanyakan juga pada kedua anak kita?" sambung Rina.


Sontak Aldo dan Rikka saling pandang karena terkejut. Pada saat itu juga iris kedua mata pasangan tersebut saling bertautan. Seakan ada sebuah chemistry, wajah mereka sedikit memerah seketika dan saling tersenyum satu sama lain.


"Lihat-lihat, Wajah Aldo merona!" ujar Nana dengan pelan tapi terlihat antusias.


"Pfftt ... aku tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang," bisik Myra sambil menahan tawa.


"Hey, kalian!" seru Zedd menegur kedua temannya tapi dengan suara yang pelan.


"Bagaimana Rikka?" tanya Rina pada anaknya dan sukses membuyarkan lamunan sejoli tersebut.


"A-aku ... aku bersedia, apa lagi jika itu adalah pria pilihan Mama," jawab Rikka yang awalnya terbata.


"Lagi pula, sepertinya Aldo adalah pria yang baik!" sambungnya sambil tersenyum ke arah Aldo.


Wajah Aldo pun semakin merona setelah mendengar pujian itu. Jika diibaratkan, maka wajah Aldo sekarang sudah seperti Kepiting rebus. Padahal dia adalah laki-laki, tapi entah kenapa Aldo malah tampak tersipu malu.


"Aldo, bagaimana denganmu?" kali ini nenek Isana yang bertanya pada cucunya.


"Tentu saja aku mau, Nek. apa lagi Rikka adalah wanita pilihan Nenek, sudah pasti dia adalah wanita yang sangat luar biasa!"


Tak mau kalah, Aldo juga membalas pujian Rika secara tidak langsung dan membuat kedua orang tua Rikka tersenyum puas, sedangkan Rikka hanya tersenyum kecil.


"Kalau begitu, mari kita pilih tanggal pernikahannya?" kata nenek berparas cantik itu dengan suara yang berwibawa.


"Tapi sebelum itu ... aku ingin mengatakan sesuatu pada Nenek Isana dan Aldo!" Tiba - tiba Rikka angkat bicara yang membuat semua perhatian tertuju padanya.


"Apa itu?" tanya Isana penasaran termasuk Aldo.


"Setelah menikah nanti, apa tidak masalah jika aku masih tetap bekerja seperti biasa?" jawab Rikka dengan pertanyaan.


"Jadi ... Nak Rikka sedang bekerja?"


Rikka mengaggukkan kepalanya. "Iya."


"Kalau beleh tau apa pekerjaanmu, Rikka?" tanya Isana lagi.


"Aku ... aku adalah manager di perusahaan yang bergerak di bidang jasa yang sedang dikelola oleh pamanku!" jawab Rikka tegas, sedangkan nenek Isana melirik ke arah orang tua Rikka secara begantian.


"Be- begitulah!" jawab Rina dan Roberto sambil tersenyum kikuk.


Tentu saja mereka akan melakukan hal tersebut setelah mendengar penuturan dari putri tercintanya. Apalagi ditambah dengan tatapan bertanya Isana yang sangat tajam.


Mau tak mau orang tua Rikka harus melakukan kebohongan diawal hubungan mereka. Karena Rikka sudah memutuskan untuk merahasiakan profesinya kepada Aldo dan keluarganya.


"Wah ... sandiwara apa yang ingin dia mainkan?" bisik Taka pada teman-temannya.


"Entahlah?" kata Zedd.


"Kita lihat saja bagaimana respon Aldo," sambungnya.


"Aku rasa itu tidak masalah!" sela Aldo tiba - tiba mengindahkan permintaan Rikka.


"Terkadang pekerjaanku juga sering lembur. Jadi mungkin Rikka akan kesepian jika menungguku pulang kerja sepanjang hari," sambungnya dengan percaya diri, namun sukses membuat Rikka salah tingkah.


"Apa - apaan respon si kepala cepak itu!" ucap Nana sedikit kesal karena melihat leadernya yang begitu santai.


"Mereka sangat cocok," ujar Myra.


"Cocok dalam memainkan sandiwara ini!" tegasnya yang direspon dengan gelengan kepala oleh teman-temannya.


"Karena Aldo sudah berkata begitu, maka tidak ada lagi yang perlu ku pertanyakan!" ucap Isana.


"Tapi, setidaknya nikmatilah bulan madu kalian setelah pernikahan nanti."


Isana tampak antusias saat mengatakan hal tersebut dengan senyuman licik dan ditutup menggunakan tangan sebelah kanannya.


"Nenek, jangan menggoda mereka!" tegur Mega pada neneknya sambil menunjuk Aldo dan Rikka.


"Lihat, wajah mereka sudah semerah tomat!" lanjutnya


Suasana menjadi penuh tawa karena tingkah laku kedua bintang utama acara tersebut yang kikuk karena digoda oleh sang nenek.


Acara tiba - tiba berubah menjadi seperti tempat diskusi. Mereka mulai memilih tanggal yang pas untuk pernikahan Aldo dan Rikka. Senyuman, tawa, dan keseriusan pun memenuhi taman tersebut.


Aldo dan Rika juga ikut andil dalam pemilihan tanggal pernikahan mereka. Dan setelah diskusi yang cukup panjang, akhirnya tanggal pernikahan mereka ditetapkan.


"Baiklah, tanggal pernikahan kalian akan diadakan bulan depan ... tepatnya tanggal 8 Mei!" ucap Isana.


Sepertinya semua anggota keluarga sangat menyetujuinya, itu tampak dari senyuman yang terpampang di wajah mereka.


"Kalau begitu, Aldo ... ajaklah calon istrimu jalan - jalan di sekitar sini. Supaya kalian bisa mengenal lebih dekat lagi!" kata nenek cantik tersebut.


"Apa kau tidak keberatan?" tanya Aldo setelahnya sambil mengulurkan tangan untuk menggandeng Rikka.


Rikka mengangguk. "Dengan senang hati," sahutnya dengan senyuman sembari menggenggam tangan Aldo.


Mulus, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan acara perjodohan Aldo dan Rikka. Tidak ada yang keberatan, apa lagi yang menentang keputusan yang telah dibuat untuk mereka.


Acara kembali menjadi acara yang santai dan menyenangkan. Tampak disana seluruh anggota keluarga sedang bersenda gurau satu sama lain sambil menikmati makanan yang sudah tersedia.


Tampak juga anak - anak yang sedang bermain bersama saudara mereka masing - masing. Termasuk Kawa yang sedang bermain dengan anak - anak dari kedua kakaknya Aldo.


Zedd dan lainnya juga tampak sedang menikmati obrolan dan makanan mereka. Senyuman dan sedikit tawa pun menjadi pelengkap di tempat mereka mengobrol sekarang.


Sedangkan Aldo dan Rikka, mereka tampak saling menggoda satu sama lain untuk mengenal diri pasangannya masing-masing. Mereka berbicara sambil berjalan ke arah pohon yang cukup besar disana. Pohon rimbun yang sangat cocok untuk bersantai. Apa lagi disana sudah tersedia bangku taman berwarna putih. Dilihat dari ukurannya, bangku itu cukup untuk diduduki oleh tiga orang ukuran dewasa.


Aldo menawarkan untuk duduk bersama di bangku tersebut. Sedangkan Rikka hanya mengangguk kecil dan tersenyum untuk mengindahkan. Tiba - tiba seorang pelayan pria lewat dan menawarkan minuman.


Aldo merespon dengan anggukkan dan meraih dua buah gelas cantik berisi minuman berwarna merah lalu memberikannya satu kepada Rikka. Lagi - lagi Rikka hanya tersenyum manis dan mengambil gelas berisi minuman tersebut.


Entah minuman apa yang diberikan pada mereka. Yang pasti, jika dilihat dari cara Aldo meminumnya, sepertinya minuman tersebut sangat nikmat.


"Jadi ... kau benar - benar tak keberatan, kan?" tanya Aldo basa - basi yang sepertinya sangat basi.


"Keberatan?" tanya Rikka bingung.


"Iya ... keberatan menjadi istriku?" Balas Aldo sambil menggaruk kepala belakangnya yang sama sekali tidak gatal.


Rikka tersenyum. "Sudah sejauh ini, mana mungkin aku mengatakan keberatan padamu, kan?"


"Lagi pula ... aku bosan selalu ditanya oleh semua orang kapan akan menikah!" kata Rikka sambil melihat daun yang jatuh.


Aldo sweatdrop. "Ja-jadi ... karena itu kau mau menikah denganku?"


"Bu-bukan begitu maksudku," ucap Rikka terbata karena panik dan merasa bersalah.

__ADS_1


"Maksudku ... aku bosan melihat orang - orang bertanya kepada ibuku kapan anaknya akan menikah!"


"Bayangkan saja, aku baru berumur dua puluh delapan tahun. Tapi semua semua orang di komunitas ibuku selalu saja ikut campur dan bertanya tentang siapa yang akan menjadi pasanganku!" sambungnya panjang lebar.


"Baru dua puluh delapan?" ucap Aldo terheran di dalam hati.


"Pernah suatu hari aku ikut menemani ibuku pergi arisan dengan koleganya ... awalnya memang menyenangkan, tapi setelah melihat ibuku dipermalukan seperti itu membuatku muak!" lanjut Rikka sedikit kesal ketika mengingat hal tersebut.


"Mempermalukan bagaimana?"


Mata indah Rikka melirik kearah Aldo sedikit ragu setelah mendengar pertanyaan itu.


"Pantas saja sampai sekarang putri Rina belum mendapatkan suami! Lihat teman - teman, dia masih menempel di ketiak ibunya!" cerocos Rikka tanpa jeda.


"Haah?" Aldo kebingungan dan agak mencondongkan tubuhnya ke arah Rikka.


Wajah Rikka kembali merona dan dengan samar, Rikka dapat merasakan aroma citrus yang berasal dari tubuh Aldo menggelitik hidung mancungnya .


Rikka menundukkan kepalanya. "Pada saat itu ... aku terus menempel dan menggandeng lengan ibuku."


"Kapan hal itu terjadi?" tanya Aldo sedikit memiringkan kepalanya.


"3 bulan yang lalu," ucap Rikka santai sebelum meneguk minuman merahnya.


"PFFTT." Aldo mati-matian menahan tawa.


"Kenapa?" kali ini gantian Rikka yang bertanya karena bingung melihat tingkah Aldo.


"Ti-tidak ... tidak apa-apa!" jawab Aldo sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


Saat Aldo kembali menoleh kearah Rikka, wajah wanita cantik itu sudah berjarak 10 centimeter dari wajah maskulinnya yang sontak membuat Aldo sedikit tersipu.


Untuk kesekian kalinya, iris coklat Aldo kembali bertemu dengan iris onix milik Rikka.


"Hmm!?" kata Rika bertanya dengan ambigu sambil menggembungkan pipinya kesal.


"Apa-apaan makhluk imut ini?" ujar Aldo dalam hati yang masih terpesona melihat wajah calon istrinya.


"Kau ingin menertawakanku?"


Aldo hanya diam dan tersenyum kikuk. Takut menyinggung Rikka yang tepat ada dihadapannya.


"Hmph!" Dengan ketus Rikka langsung memalingkan wajahnya tanpa menyadari tingkah lakunya barusan.


"Silahkan saja jika kau ingin menertawaiku seperti yang lainnya!" Sambungnya masih kesal.


"Maaf - maaf ... lagi pula, tiga bulan yang lalu itu berarti umurmu sudah dua puluh delapan tahun, kan?" tanya Aldo yang dibalas dengan anggukan oleh Rikka.


"Bukankah itu aneh, seorang wanita dewasa masih menempel pada ibunya di usia yang sangat matang sepertimu?" sambung Aldo.


"Kurasa itu tidak aneh!" balas Rikka ketus.


"Kau itu anak kangguru ya?" ujar Aldo yang disertai dengan gelak tawa.


"Wajar saja, kan? Pada saat itu aku baru saja kembali dari luar negeri setelah dua bulan lamanya karena urusan pekerjaanku!" cerocos Rikka sambil meneguk minumannya dan berdiri tegak di sana.


"Lalu ... apa hubungannya?" Tanya Aldo sembari memperhatikan tingkah calon istrinya.


"Tentu saja ada ... dua bulan tidak bertemu dengan ibuku itu membuatku kangen setengah mati, kau tahu!"


"Dasar anak manja!" cibir Aldo, tapi tidak direspon oleh sang lawan bicara.


"Kudengar kau itu tinggal sendirian di apartemen?" Lanjutnya.


"Itu benar!" Tegas Rikka.


"Lalu bagaimana bisa kau masih manja dengan ibumu?"


"Biasannya ibuku selalu datang dua atau tiga hari sekali ke apartemenku," kata Rikka memperjelas sembari kembali duduk di bangku taman.


"Lalu apa gunanya kau tinggal terpisah dengan orang tuamu, Rikka?"


Rikka tak menjawab, hanya membuang muka ke arah lain sambil menikmati angin yang menerpa dirinya. Angin tersebut mengayunkan rambut indahnya yang menggantung di belakang kepala.


Tiba - tiba lagu dari Ed Sheeren yang berjudul Perfect terdengar di seluruh penjuru taman. Spontan Rikka menoleh ke arah Aldo yang masih memperhatikannya.


Dengan tatapan manis Rikka pun berkata, "Mau berdansa?"


Aldo tekejut dan tak percaya mendengar ucapan wanita cantik yang ada didepannya. "De- dengan senang hati," balasnya sedikit terbata karena malu.


Setelah meletakkan gelasnya dengan rapi, mereka pun berdansa dengan indahnya di bawah pohon yang rindang. Diiringi dengan lagu romantis tersebut, membuat mereka semakin nyaman untuk berdansa. Setiap gerakan mereka benar - benar sempurna. Tidak ada yang kurang dan tidak ada yang lebih.


Tapi hal ini benar - benar jarang terjadi. Seumur hidup Aldo, baru kali ini dia melihat wanita yang pertama kali mengajak seorang pria untuk berdansa. Apa lagi dengan tema musik yang sangat romantis. Aldo pun bertanya - tanya, apakah memang seagresif ini wanita yang akan menjadi istrinya kelak?.


Dari sisi lain, neneknya Aldo dan orang tua Rikka memperhatikan tingkah laku putra-putrinya dengan senyuman lembut. Tingkah Aldo dan Rikka membuat mereka teringat masa mudanya masing - masing.


Begitu juga dengan kedua kakak Aldo yang sedang memperhatikan mereka dari sana bersama suami masing - masing. Sang suami memeluk erat istri mereka dan memberikan kenyamanan untuk istrinya. Sedangkan keenam teman Aldo juga ikut meyaksikan pemandangan romantis tersebut tak jauh dari sana.


Sambil berdansa, kepala Rikka kini diletakkan di atas pundak Aldo. Padahal tinggi badan mereka bisa dibilang hampir sama. Tapi, posisi Rikka terlihat seperti sedang memeluk Aldo. Sedangkan Aldo, malah menikmati aroma harum yang manis dari tubuh pasangannya.


"Aku tak tahu kau bisa berdansa?" kata Rikka sambil menikmati alunan musik di pelukan Aldo.


"Seorang pria harus bisa melakukan segala hal untuk pasangannya, bukan?" balas Aldo dengan percaya diri.


Rikka pun tersenyum kemudian memeluk Aldo dengan erat. Hal itu spontan membuat pria berkacamata itu kembali terkejut dan semakin menambah rasa penasaran Aldo.


"Aku penasaran ... apa dia suka padaku?" kata Aldo bertanya - tanya entah kepada siapa.


"Tentu saja!" sahut Rikka dengan enteng, "hick."


"Hick?" Aldo bingung dan memiringkan kepalanya, kemudian menoleh ke arah wajah Rikka.


"Tentu saja ... kau mabuk!" cetus Aldo sedikit kesal setelah melihat wajah polos gadis yang sedang ada dipelukannya dalam keadan mabuk.


Namun, Aldo tersenyum melihat wajah polos tersebut. Entah kenapa, wajah Rikka saat ini membuat hati Aldo seperti terbang melayang di angkasa. Semakin diperhatikannya, semakin ingin Aldo menciumnya. Tapi mengingat ini adalah tempat umum, ia mengurungkan niat tersebut.


Perlahan Aldo menggiring Rikka yang berada dipelukannya untuk duduk di tempat semula mereka mengobrol. Rikka pun mulai tertidur sedangkan Aldo hanya bisa menikmati wajah cantik milik Rika dari samping. Tapi, mendadak Rikka menyandarkan kepalanya ke bahu Aldo. Merasa sangat nyaman, Rikka pun tersenyum puas sembari menutup matanya.


JEPRET


Suara kamera yang berasal dari handphone Taka sukses mengabadikan moment indah tersebut. Kemudian, Aldo pun menoleh ke sumber suara dan mendapati teman - temannya sedang menghampirinya.


Tampak juga Kawa yang sedang melambaikan tangan kearahnya, kemudian duduk tepat di sebalah Rikka dengan santai.


"Sungguh romantis!" celoteh Syndi dan yang lainnya hanya tersenyum.


"Dia kenapa, Aldo?" tanya Myra sembari melipat kedua tangannya.


"Aku rasa dia mabuk," jawab Aldo sembari meraih dan mencium aroma di gelas minuman mereka tadi.


"Benarkan!" sambungnya setelah mengetahui bahwa dugaanya benar.


"Inikan minuman beralkohol!" Tegas Nana setelah mengambil salah satu gelas di sana.


"Dari mana kalian mendapatkannya?" kali ini Zedd yang bertanya.


"Entahlah ... aku rasa ini ulah nenek!" ujar Aldo menebak - nebak.


"Dia tidur pulas sekali?" Kawa pun ikut berbicara ketika sedang memperhatikan Rikka yang sedang tertidur di sebelah kiri Aldo.


Aldo tersenyum. "Mungkin dia lemah dengan minuman beralkohol."


Mereka pun mulai mengobrol disana. Tapi tidak membicarakan tentang misi dan pekerjaan mereka. Karena mengingat di sana ada sang kepala intelijensi kepolisian yang sedang memanjakan diri dipelukan Aldo.


Siapa yang tahu, jika saja tiba - tiba Rikka terbangun dan mendengar pembicaraan mereka. Maka situasi akan menjadi runyam nantinya.


Dan benar saja, Tak lama kemudian, Rikka akhirnya terbangun dan membuka matanya perlahan. Didapatinya wajah maskulin Aldo yang sukses membuat jantungnya berdetak lebih cepat, dan masih dapat dirasakannya juga aroma citrus milik Aldo tersebut.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan Putri?" celetuk Kawa sedikit menggoda.


"A- apa yang terjadi padaku?" tanya Rikka bingung.


"Kau hanya tertidur," jawab Aldo lembut disertai senyuman.


"Maaf, aku merepotkanmu."


Rikka mulai membenarkan posisi duduknya di sebelah Aldo.


"Tak masalah ... lagi pula aku sangat menikmatinya!" ucap Aldo ikut menggoda.


Wajah Rikka pun merona, Zedd hanya bisa tersenyum bersama Syndi. Karena merasa sedikit kesal melihat tingkah Aldo, Myra dan Nana pura - pura tidak mendengar. Sedangkan Kawa memberikan jempol untuk leader kesayangannya.


"Sepertinya ... kau lemah dengan minuman beralkohol, ya?" kata Aldo bertanya pada Rikka.


"Jadi aku mabuk?"


Saat Rikka bertanya untuk memastikan, Aldo hanya memberikan tanggapan dengan anggukan kecil.


"Begitulah ... karena itu aku sering menolak ajakan kolega ku untuk ke restoran sepulang kerja!" lanjut Rikka.


"Berarti kau sama seperti dia!" tunjuk Aldo kearah Myra.


"Kenapa kau menunjuk ke arahku?" cerocos Myra tak terima.


"Sudahlah, Myra ... akui saja kalau kau itu tidak bisa minum minuman beralkohol," sela Zedd mendukung.


"Si-siapa bilang!?" kata Myra masih tak terima.


"Hey, Myra ... setidaknya contohlah calon istri Aldo yang mau menerima kekurangannya!" ujar Taka Ikut menimpali.


Myra pun semakin kesal dan mulai mengeratkan kepalan tangannya, "Diam kau maniak komputer brengsek! Kau sendiri, apa kau bisa minum sekaleng bir tanpa mabuk?"


"Tentu!" tegas Taka sambil bermain game konsol yang ada di tangannya tanpa menoleh sedikitpun.


"Tch ... awas kau!" umpat Myra yang akhirnya menerima kenyataan.


"Hihi ..." Suara tawa Rikka terdengar.


"Kenapa tertawa?" tanya Aldo.


"Kalian menarik!"


"Kalau boleh tahu mereka siapa?" sambung Rikka setelah itu sambil menunjuk ke enam teman Aldo.


"Oh iya ... perkenalkan teman - temanku," ujar Aldo setelah menyadari kalau dia lupa memperkenalkan teman - temannya.


"Si mungil yang duduk disebelahmu itu adalah Kawa," lanjut Aldo mulai memperkenalkan.


"Hai!" sapa Kawa penuh semangat yang dibalas dengan senyuman manis oleh Rikka.


"Lalu wanita yang berdiri disebelahnya itu Syndi!"


"Halo," sapa Syndi ramah.


"Kemudian wanita cerewet di sebelahnya itu Myra!"


"Siapa yang cerewet!?" pekik Myra kesal,


"Halo Rikka," lanjutnya menyapa dengan ramah.


"Pria rapi yang tepat berada di depan kita itu adalah Zedd. Makhluk paling bijaksana yang pernah kukenal."


"Dan wanita yang di sebelah kanan ku ini bernama Nana ... wanita paling nyentrik dalam berpakaian."


"Hai ... jangan dengarkan ocehan Aldo tentang ku ya, Rikka?" sapa Nana ramah dan tampak kesal dengan penjelasan tak penting Aldo.


Rikka hanya tersenyum dan diiringi dengan tawa kecil yang terlihat imut.


"Sedangkan pria yang dibelakangku ini Taka ... si maniak komputer tingkat akut!"


"Hey ... lebih tepatnya softwere komputer, mengerti?"


Taka membenarkan statement Aldo sambil bersandar menggunakan pinggangnya di bangku taman. Tapi, mata pria gondrong tersebut tetap tidak lepas dari game konsol yang sedang dia mainkan.


"Tetap saja kau itu seorang maniak, Taka!" celoteh Myra menimpali.


"Tch ... diam kau!" cetus Taka.


"Salam kenal semua, namaku Rikka," sapa Rikka memperkanalkan dirinya.


Semua orang yang ada disana pun tersenyum lembut kearah Rikka.


Merasa karena sudah menjadi teman, Kawa langsung menempel pada tubuh langsing Rikka sambil menyandarkan kepala mungilnya di pundak calon istri Aldo tersebut.


"Oi, Kawa ... kenapa kau curi start?" oceh Aldo tampak tak terima dengan tingkah sahabat mungilnya.


"Apa maksudmu, Aldo?" tanya Kawa heran tapi tetap menempel pada Rikka.


"Aku yang calon suaminya saja belum melakukan hal itu!" tegas Aldo sedangkan Rikka hanya sedikit tersipu.


Kawa pun tersenyum licik. "Siapa cepat, dia dapat!"


"A- apa!?" kata Aldo dengan suara yang terdengar frustasi.


Kawa yang merasa menang pun tertawa dan menjulurkan lidahnya ke arah Aldo. Sedangkan Aldo masih mengumpat sahabat mungilnya itu.


"Kalian sangat akrab, ya?" Kata Rikka.


"Begitulah ... karena kami adalah keluarga!" sahut Aldo dengan bangga.


Mengerti maksud dari calon suami, Rikka menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ke arah teman - teman Aldo dengan hangat.


Dalam lubuk hatinya, Rikka merasa sedikit iri pada keakraban mereka. Karena ia yakin, kalau ke enam teman Aldo yang baru dikenalnya barusan pasti sangat setia dan sayang pada calon suaminya. Apa lagi jika dilihat dari cara mereka berinteraksi.


Tidak seperti Rikka. Dia memang memiliki orang kepercayaan, tapi itu hanya sebatas pekerjaan dan segan karena posisi Rikka yang sekarang.


Lalu Rikka pun melihat kearah langit sambil membayangkan semua anak buahnya sedang berbaris dihadapannya.


Tampak disana semua anak buah Rikka tersenyum padanya. Tapi wanita berpangkat kolonel itu mengetahui, bahwa senyuman itu hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Karena hampir tujuh puluh persen di intelijensi kepolisian merasa tak suka dan iri kepada Rikka.


"Hey ... apa yang kau lamunkan?" tanya Aldo sambil menepuk kepala Rikka pelan dan sukses membuyarkan semua lamunan miliknya.


Rikka menoleh. "Tidak ada," ucapnya setelah itu sambil tersenyum ke arah Aldo.


Aldo pun ikut tersenyum, lalu pria berkacamata itu menjulurkan lengannya ke arah Rikka sambil berkata, "Ayo kita ke tempat nenek?"


"Ayo!" sahut Rikka masih dengan senyuman sembari meraih tangan Aldo dan berdiri tepat di samping calon suaminya.


Mereka pun mulai berjalan ke tempat di mana nenek Isana dan yang lainnya berada. Tak lupa ke enam teman setia Aldo juga mengikuti mereka dari belakang.


Tapi, sepertinya Myra dan Taka sedang berdebat akan sesuatu dan berusaha ditengahi oleh si mungil Kawa dengan bijaksananya.


"Zedd ... apa menurutmu ini akan baik - baik saja?" sambil berjalan disebelah kanan Zedd, Syndi bertanya.


Zedd menoleh. "Entahlah ... tapi ada baiknya jika semua ini kita serahkan pada Aldo."


"Kurasa juga begitu," Nana pun ikut buka suara menyetujui.


Setelah mendengar ucapan Zedd yang menurutnya cukup meyakinkan, Syndi hanya bisa menganggukkan kepalanya dan tetap berjalan mengikuti leadernya dari belakang bersama yang lain.


Tak lupa, suara perdebatan antara Myra dan Taka yang masih belum selesai seakan menjadi back sound untuk mereka yang sedang berjalan.


------


Kalau suka ceritanya jangan lupa di like ya 😊

__ADS_1


__ADS_2