Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 12 : Asumsi & Perdagangan Manusia


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah, Rikka tampak sedang turun dari mobil kesayangannya di parkiran bawah tanah sebuah gedung besar bertuliskan Eco-Motion. Sepertinya bangunan itu adalah kantor sebuah perusahaan. Saat ini ia sedang mengenakan pakaian kerja lengkap dengan atributnya.


Tapi, bukannya masuk ke dalam elevator di tempat parkiran, wanita itu malah keluar menuju jalan raya sambil menoleh ke sana kemari. Setelah itu, ia berjalan ke arah sebuah gedung yang tak kalah besar dan luas di sebelah gedung Eco-Motion.


"Haaah ... karena sandiwaraku, setiap hari aku harus repot berjalan kesana kemari untuk pergi ke kantor," keluh Rikka entah pada siapa.


Lalu, ia berjalan memasuki area pekarangan gedung tersebut dengan kaki langsingnya yang menawan.


"Selamat pagi, Bu Rikka!" sapa seorang satpam dengan ramah.


"Selamat pagi," balas Rikka.


Setelah sedikit beramah-tamah, Rikka pun langsung melenggang masuk ke dalam gedung megah yang bertuliskan 'BADAN INTELIJEN KEPOLISIAN'.


Saat di dalam Rikka disambut oleh beberapa bawahannya dengan hormat. Layaknya kantor pemerintahan pada umumnya, Badan Intelijen tersebut pun dipenuhi oleh orang-orang yang nampak sibuk berlalu-lalang ke sana kemari.


Dengan langkah yang cepat, Rikka berjalan menuju ke sebuah ruangan. Sepertinya ruangan itu adalah ruangan pribadinya. Dan di dalam ruangan tersebut tampak seseorang sedang menunggu.


Orang itu adalah seorang wanita bermata Sayu bernama Shasha. Wanita itu sedang berdiri dan memegang sebuah map yang berisi laporan tentang beberapa kasus kriminal.


"Selamat pagi, Bu Rikka!"


"Selamat pagi, Shasha!" balas Rikka sambil meletakkan tasnya.


"Bagaimana tentang laporan yang kukirim dua minggu lalu?" lanjut Rikka bertanya.


Secara bersamaan mereka berdua duduk berhadapan di depan meja kerja Rikka dan mulai membahas tentang kasus yang dimaksud oleh Kepala Intelijen tersebut.


"Sepertinya hipotesa anda benar, Bu Rikka!" kata Shasha.


Rikka terdiam sejenak, lalu menatap instens Shasha dengan kedua mata onixnya.


"Diplomat Gino dan pejabat Tony diduga telah melakukan tindakan korupsi. Serta telah melakukan penyuapan terhadap pihak terkait supaya tindakan mereka tidak tercium kemana-mana." lanjutnya menjelaskan.


"Aku benci untuk mengatakannya, tapi sepertinya dugaanku semakin menjurus kesana," desis Rikka.


"Maksud anda?"


"Apa kau lupa siapa pembunuh mereka berdua?"


Shasha sedikit tersentak. "Thousand Face Reaper."


Rikka mengangguk. "Entah kenapa aku merasa, pembunuh berantai itu melakukan aksinya untuk melindungi negara ini."


"Tapi ..."


"Tapi?" tanya Shasha bingung.


"Jika dia memang bekerja untuk negara dari balik bayangan, kenapa dia juga mengincar nyawa beberapa mantan agen rahasia?"


"Agen rahasia?"


"Benar ..." kata Rikka mengangguk lagi.


"... sewaktu di jepang, aku sempat menyelidiki kasus yang dilakukan oleh Thousand Face Reaper. Dia merenggut nyawa seorang agen rahasia yang sudah pensiun."


"Dari mana anda mengetahuinya?"


"Aku menyelidiki kasus itu bersama seorang teman lama yang juga mantan agen rahasia."


"Apa ada hasil dari penyelidikan anda?"


"Hasilnya malah semakin membuatku bingung."


"Saya semakin tidak mengerti?"


"Jika memang dia melakukan aksinya untuk kebaikan negara, kenapa dia harus berurusan dengan orang yang ada hubungannya dengan Organisasi Revolusi ..." kata Rikka menjeda kalimatnya.


"... karena setahuku, walaupun terdengar mencurigakan, Organisasi Revolusi dibentuk oleh petinggi-petinggi dunia untuk meluruskan kesalahan hukum pada sebuah negara yang ada di dunia ini!"


Shasha terkejut dan membelalakkan matanya. Lalu gadis bermata sayu itu menatap atasannya dengan ekspresi yang seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Rikka setelah melihat wajah asistennya.


"Maksud anda dengan Organisasi Revolusi ... Organisasi yang pernah berseteru dengan FBI itu?" balas Shasha dengan pertanyaan.


Rikka menganggukkan kepalanya lagi. "Benar!"


"Bukankah organisasi itu adalah organisasi yang bertujuan untuk mengubah hukum dunia berdasarkan idealisme mereka?"


"Sudah kuduga kau akan mengatakan itu ... tapi, yang kau katakan itu hanyalah sebuah rumor!"


"Rumor?"


"Benar ... aku sudah menanyakannya langsung pada pamanku."


"Pak Andreas Anderson?"


Rikka kembali menganggukkan kepala. "Andreas Anderson selaku pimpinan FBI yang pernah berseteru dengan Organisasi Revolusi mengatakan bahwa organisasi itu memiliki tujuan untuk meluruskan penyalahgunaan hukum yang digunakan oleh negara-negara di dunia ini ..."


"... nah, dengan visi dan misi yang seperti itu, pihak FBI pun akhirnya setuju untuk menghentikan perseteruan mereka dengan Organisasi Revolusi!" sambung Rikka panjang lebar.


"Lalu kenapa mereka menggunakan nama Revolusi?"


"Aku pun tak mengetahui detailnya. Tapi, mungkin karena tindakan mereka yang berbau revolusi untuk mengubah pandangan sebuah negara yang bertindak semena-mena dengan mengatasnamakan hukum."


"Apa anda yakin?"


"Aku rasa ucapan Andreas Andersonlah yang paling masuk akal untuk dipercayai ..." kata Rikka meyakinkan anak buahnya.


"... setidaknya untuk saat ini," sambungnya.


Suasana menjadi hening bersamaan dengan Shasha yang menuangkan teh ke cangkir atasannya. Tiba-tiba, pintu ruangan tersebut terbuka dan menampakkan sosok wanita cantik dan rapi yang mengenakan seragam khas intelijen kepolisian.


"Maaf mengganggu, Bu Rikka. Anda sudah ditunggu oleh Unit Pelaksana di ruang rapat."


Rikka memberikan anggukannya. "Ok!"


Setelah itu, wanita cantik tersebut melanggang begitu saja dari ruangan Rikka.


Shasha menghela nafas. "Tak punya sopan santun!"


"Sudahlah ... suatu saat nanti mereka pasti akan berubah," kata Rikka merespon cibiran asistennya.


Tak lama kemudian, Rikka dan Shasha sudah berada di ruangan rapat dan mulai melakukan pembahasan tentang sebuah kasus yang sedang marak.


Di ruangan yang cukup luas dan panjang itu, anggota rapat hanya terdiri dari Rikka, Shasha dan empat orang pimpinan dari Unit Pelaksana.


"Jadi ... bagaimana penyelidikan kalian?" tanya Rikka berwibawa.


Seorang pria jangkung tampak berdiri dan ingin menjelaskan sesuatu.


"Sesuai perintah Anda, kami sudah menyelidiki kasus Human Trafficking yang sedang marak di kota ini, tidak di negara ini," kata pria tersebut.


"Lalu?" tanya Rikka lagi.


"Kami menemukan fakta bahwa petinggi negara yang menangani hal tentang perlindungan hak asasi manusia, yang tak lain adalah Bapak Doan, hanya tutup mata dengan masalah terkait."


Rikka mengernyit. "Apa penyebabnya?"


"Saat di introgasi, beliau tak mau mengatakan apapun. Tapi kami selaku Unit Pelaksana telah menyelidiki dan menemukan sebuah fakta baru yang menyebabkan petinggi negara tersebut tak mau buka suara ..." jelas pria jangkung sambil menyerahkan sebuah map berisi file terkait.


Rikka membukanya, lalu sedikit tersentak melihat isi file tersebut.


"... seperti yang anda bisa lihat, penyebab dari diamnya Pak Doan adalah pria yang ada di dalam file itu!" lanjutnya sambil menunjuk.


"Lanjutkan, Vick!" perintah pria jangkung pada temannya.


"Oke, Jack!" balas pria botak sambil berdiri.


"Pria itu bernama Gabriel Ming. Dia adalah mafia kelas kakap yang berasal dari Tiongkok dan meraja lela dikota ini dengan melakukan tindakan Human Trafficking."


Rikka masih memperhatikan file laporan tersebut yang berisi foto pria dengan wajah khas oriental. Di wajah pria bernama Gabriel Ming terdapat bekas luka memanjang ke bawah tepat di pipinya.


"Ada hubungan apa pria ini dengan Doan?" Kata Rikka bertanya.


"Berdasarkan penyelidikan, Doan punya hutang budi pada Gabriel Ming. Sehingga beliau mau tak mau harus tutup mata tentang masalah terkait."


"Haaah ... " Rikka menghela nafasnya.


"... ada hasil yang lain?" lanjut Rikka masih bertanya.


"Biarkan saya yang menjelaskan, Bu Rikka!" Satu-satunya wanita dari keempat orang tersebut angkat bicara.


"Silahkan, Lilian," Rikka mempersilahkan.


"Terima kasih, ehem ... ehem ..."


Dengan gaya yang sedikit centil dan kaca mata mungilnya, wanita bernama Lilian berdehem sebelum berbicara. Sedangkan Pria botak bernama Vick kembali duduk. Dan pria terakhir yang tampak gendut masih diam dan memperhatikan.


"Kami telah berhasil menangkap sindikat lainnya yang melakukan tindakan Human Trafficking dan juga berhasil mengorek informasi tentang kasus terkait." lanjut Lilian.


"Apa itu?" tanya Rikka.


"Mereka sering melakukan pelelangan manusia untuk di jual kepada oknum yang tidak bertanggung jawab!"


"Pelelangan?" tanya Rikka mengernyit.


Lilian mengangguk. "Benar ... mereka memamerkan manusia dari berbagai ras dan negara untuk dijual dengan penawaran tertinggi ..."


"... dan biasanya manusia yang dipamerkan adalah manusia yang tidak memiliki keluarga seperti korban perang, penculikan, dan lain sebagainya."


"Tujuan para oknum tersebut membeli mereka biasanya untuk dijadikan budak atau pekerja s*x. Yang lebih parah lagi, ada juga yang membeli mereka untuk diambil organ dalamnya supaya bisa di transplantasikan," kata Lilian menjelaskan dengan panjang lebar.


Rikka dan Shasha spontan terbelalak mendengar penjelasan yang terakhir dari Lilian.


"Apa kalian tahu dimana lokasi pelelangannya?" tanya Rikka kembali.


Lilian tersenyum dengan semangat. "Kebetulan sekali, Bu Rikka ... lokasinya adalah di kota ini. Tepatnya daerah pusat kota, di sebuah gedung bergaya belanda yang berseberangan dengan pusat perbelanjaan bernama Centorio Plaza."


"Apa kau tahu kapan pelelangan yang berikutnya dilakukan?"


Masih dengan senyumannya Lilian berkata, "Sekali lagi sebuah kebetulan, Bu Rikka ... berdasarkan informasi yang kita dapat, pelelangan berikutnya akan dilakukan malam ini tepat jam 9 malam!"


Rikka tampak puas dengan presentase dari anak buahnya. Lalu kembali membuka file yang ada di tangannya.


"Baiklah kalau begitu ... lalukan operasi eksekusi di tempat pelelangan tersebut dan tangkap siapa saja yang ada di dalam sana tanpa terkecuali" Rikka memberikan perintah.


Keempat orang dari Unit Pelaksanaan terkejut mendengar perintah dari atasannya.


"Ka-kapan, Bu Rikka?" tanya Jack sedikit ragu.


"Malam ini!" balas Rikka.


"Malam ini?"


Rikka mengangguk yakin. "Iya, ada masalah?"

__ADS_1


BRAKK...


Suara meja yang digebrak oleh seseorang menggema di ruangan tersebut.


"Bu Rikka, maaf jika aku lancang!" seru sang penggebrak meja yang tak lain adalah pria gendut dari Unit Pelaksana.


Rikka menahan emosinya sambil menghela nafas panjang.


"Apa masalahmu, Bobby?"


"Informasi yang didapat masih berupa pengakuan tersangka yang belum pasti kebenarannya ... dan lagi, kau malah meminta kami mengerahkan pasukan untuk melakukan penggerebekan ke sana?"


"Benar!" tegas Rikka.


"Apa kau sudah gila?"


"Jaga ucapanmu, Bobby!"


Tampaknya Shasha merasa tersinggung karena prilaku Bobby yang semena-mena kepada atasannya.


"Kau tak perlu ikut campur!" cibir Bobby.


"Apa kau bilang?!" Shasha tampak semakin emosi.


"Cukup, Shasha ..." ujar Rikka menenangkan asistennya.


"... dan Bobby, bisa kau jelaskan argumenmu tentang keputusanku?" lanjut Rikka bertanya dengan intonasi yang serendah mungkin.


"Baik, akan ku jelaskan ..." ucap Bobby.


"Hanya dengan informasi yang masih sepenggal-sepanggal begitu, kau langsung mempercayai anak buahmu yang satu tanpa meminta pendapat dari anak buahmu yang lain, apa pantas kau disebut sebagai pemimpin?"


"Lagi pula, jika kita melakukan eksekusi tanpa membawa bekal bukti yang konkret, apakah tidak akan ada masalah sama sekali?"


"Dan terlebih lagi, Bu Rikka ... bagaimana jika setelah kita melakukan eksekusi, ternyata yang ada disana bukanlah sebuah pelelangan manusia, melainkan sebuah perangkap untuk pihak kepolisian, apakah kau mau bertanggung jawab?" jelas pria tambun panjang lebar.


"Itu saja?" tanya Rikka santai.


Bobby hanya diam dan menatap atasannya dengan penuh amarah.


"Ok, akan ku anggap itu sebagai 'Ya'," sambung Rikka.


"Pertama-tama ... aku tak mengerti kenapa kau bisa semarah itu padaku. Padahal aku tak pernah merepotkanmu melebihi kuota pekerjaan yang memang harus kau lakukan," ungkap Rikka.


"Lalu ... apakah aku, selaku pemimpin, perlu untuk meminta pendapat dari seorang bawahan yang suka malas-malasan seperti dirimu, Bobby?" cetus Rikka sambil melemparkan beberapa map di atas meja.


"Orang bodoh pun pasti tahu, jika melihat hasil laporanmu ini ... ayolah, apa kau masih anak sekolah?" cerocos Rikka melanjutkan.


"Apa maksudmu?!" tanya Bobby seperti tak terima.


"Semua laporan yang kau berikan padaku hanya menjelaskan teori yang berhubungan dengan Human Trafficking tanpa adanya hasil dari penyelidikanmu. Sebenarnya kau ini bekerja atau sekolah?"


"Dan saat rapat yang barusan, kau hanya diam seperti tak ingin ikut andil dalam permasalahan ini!"


"Aku diam untuk memperhatikan!" sangkal Bobby.


"Kalau begitu, bisa kau simpulkan inti dari hasil laporan ketiga rekanmu ini?" ucap Rikka menantang.


Bobby masih diam dan sama sekali tidak bisa mengeluarkan kata-kata.


"Itu sebabnya kau kubilang hanya malas-malasan!" umpat Rikka.


Semua anggota rapat termasuk Shasha tak berani mengeluarkan suaranya di depan Rikka yang sedang berdebat. Karena kelihatannya Rikka memiliki amunisi yang sangat banyak untuk menjatuhkan lawan debatnya.


"Dari hasil laporan ketiga rekanmu yang menjelaskan tentang Doan, Gabriel Ming, dan sindikat pelelangan, bukankah itu sudah menjadi bukti yang kuat untuk melakukan eksekusi?"


"Jika bukti ini masih belum bisa sepenuhnya mendukung, aku masih punya wewenang untuk melakukan penyelidikan langsung di lapangan dengan pasukanku."


"Dan jika di sana ternyata adalah sebuah perangkap untuk menjebak pihak kepolisian ... bukankah kau pantas untuk dicurigai?" tutur Rikka dengan tatapan merendah.


"Jadi kau menuduhku berkonspirasi?" sangkal Bobby masih tampak tak bisa menerima.


Dengan statement Rikka tersebut, ketiga rekan Bobby hanya bisa ikut menatap rendah ke arahnya.


"Aku bukan menuduhmu. Hanya saja ... bagaimana bisa, salah satu orang yang kuperintahkan untuk menyelidiki kasus terkait bisa berpikiran sampai sejauh itu?"


"Bukankah hanya satu jawabannya, Bobby?" sambung Rikka dengan nada bertanya.


Bobby hanya diam dan tampak kesal karena tak bisa melawan argumen dari atasannya.


"Kau malas ... itulah jawabannya!" desis Rikka.


Skakmat, Statement Rikka benar-benar tepat sasaran dan berhasil menghujam lawan debatnya tepat di dada. Mungkin Rikka belajar dari sang suami yang selalu menggodanya, sehingga ia berhasil membuat Bobby tak berkutik.


"Kau hanya bisa berhipotesa tanpa memberikanku bukti. Kau hanya melakukan pekerjaanmu di depan komputer tanpa bergerak ke lapangan. Kau bahkan tak memperhatikan bawahanmu yang memiliki potensi untuk membuat namamu harum!" umpat Rikka tanpa henti.


"Apa kau kira, aku tak pernah memperhatikan kalian selaku bawahanku?"


"Jika memang iya ... Kau salah besar, Bobby ..."


"Satu hal lagi ... sebagai pimpinan di intelijen kepolisian, aku sepenuhnya bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan oleh bawahanku dan juga apa yang akan terjadi dengan mereka. Jadi kau tak perlu khawatir!"


"Dan buang pikiran bodohmu yang mengira kalau aku ini hanya wanita beruntung yang kebetulan berhasil mendapatkan jabatan tertinggi disini!" kata Rikka dengan lantang sambil menyandarkan punggungnya.


Jack, Lilian, Shasha, dan Vick hanya bisa melotot sembari saling pandang satu sama lain karena tak berani mengeluarkan sedikitpun suaranya.


"Jika ada lagi yang punya pendapat, silahkan angkat tangan!" kata Rikka mempersilahkan.


Suasana pun masih tegang, tak ada yang berani buka suara dan Bobby hanya terdiam sembari kembali duduk di kursinya dengan ekspresi yang sangat masam.


Semua anggota rapat tersentak mendengarnya.


"Yang tidak setuju dengan keputusanku, angkat tangan!" tegas Rikka.


Tampak Bobby mengangkat tangannya lalu disusul oleh Vick yang juga ikut mengangkat tangan kanannya.


"Maaf, Bu Rikka ... penjelasanmu memang masuk akal, tapi aku masih setuju dengan Bobby," ujar Vick


"Ok ... yang setuju dengan keputusanku, angkat tangan!"


Jack, Lilian, dan Shasha mengangkat tangannya dengan semangat. Termasuk Rikka sendiri.


"Seperti yang kalian berdua lihat ... empat banding dua. Apa kalian keberatan, Bobby, Vick?" tanya Rikka memastikan.


Bobby masih diam dan Vick hanya bisa menggelengkan kepala lalu mendengus pasrah sambil bersandar di kursinya.


"Kalau begitu kita sepakat, dan malam ini kita akan melakukan eksekusi!"


"Bu Rikka ... bisa jelaskan mengenai operasi kita malam ini?" Tiba-tiba Shasha bertanya.


"Benar juga ..."


"... aku mau Unit pelaksana A dan B melakukan pergerakan ke dalam gedung setelah Tim Alpha dan aku menyusup ke sana!" perintah Rikka.


"Siap, Bu Rikka!"


Dengan semangatnya, Jack mengeluarkan suara lantang dari mulutnya. Sedangkan Bobby selaku pimpinan Unit Pelaksana B hanya diam saja.


"Anda juga ikut, Bu Rikka?" tanya Shasha heran.


"Tentu!"


"Lalu, unit C dan D melakukan kontak dengan warga sekitar supaya keadaan tetap terkendali bersama Tim Beta!" lanjut Rikka memberi perintah.


"Siap, Bu Rikka!" balas Lilian dan Vick.


"Shasha, hubungi Tim Alpha dan Beta untuk misi malam ini!"


"Bagaimana dengan Tim Omega?" sela Shasha kembali bertanya.


"Tugas Tim Omega adalah pengejaran. Operasi kita malam ini tidak membutuhkan mereka, jadi jangan libatkan mereka kali ini!" jawab Rikka.


"Siap, Bu Rikka!" balas Shasha setelah mengerti.


"Ok ... kita akan bergerak tepat di pukul 7 malam!"


"Siap, Bu Rikka!"


"Bagus ... kalian boleh bubar!"


Dengan itu, rapat pun dibubarkan oleh Rikka. Keempat orang dari Unit Pelaksana tampak beranjak dari kursinya menuju ke luar ruangan.


"Akan kulihat bagaimana performamu kali ini!" kata Rikka kepada Bobby saat pria tambun itu berjalan melewatinya.


Entah itu didengar atau tidak, yang pasti Rikka masih memberi kesempatan untuk anak buahnya yang malas itu agar bisa berubah.


Ruangan pun menjadi hening kembali setelah keempat anak buah Rikka keluar. Ia tampak menghela nafas seperti seorang calon mahasiswa yang baru saja melewati sebuah tes untuk masuk ke universitas favorit.


"Rasanya ... semakin hari semakin banyak saja yang tidak menyukaiku," ujar Rikka dengan tubuh yang disandarkan ke kursi.


"Tak perlu khawatir, Bu Rikka ... aku akan tetap berada di sisimu!" tegas Shasha dengan senyuman.


Rikka pun ikut tersenyum. "Terima kasih, Shasha."


Tak terasa waktu makan siang pun tiba, Rikka meminta Shasha untuk memesankan makanan dan meminta makanan tersebut agar diantar keruangannya. Karena ia terlalu malas untuk berjalan kemana pun akibat perdebatan yang baru saja ia lakukan.


Kini ia sedang melihat ke luar jendela di ruangannya sambil menikmati secangkir minuman, sepertinya minuman itu adalah teh hijau. Mata Rikka tampak sedang jauh memandang ke depan. Entah apa yang dipikirkan wanita berambut indigo tersebut.


Lalu ia berjalan dan duduk di atas sofa berwarna merah yang ada di sana setelah meletakkan cangkir dengan rapi. Kemudian Rikka mulai memperhatikan layar ponselnya. Wanita itu tiba-tiba tersenyum. Setelah diperhatikan lagi, ternyata ia sedang memandangi fotonya bersama Aldo sewaktu mereka bercosplay di Jepang.


Entah kenapa, Rikka tiba-tiba membuka log panggilan di ponselnya, lalu mengetik nama Aldo di kolom cari. Kemudian menekan tombol OK sebelum mengarahkan ponsel tersebut ke telinganya. Sepertinya ia rindu dengan suara sang suami.


"Halooo ..." suara baritone Aldo terdengar datar.


Rikka tersenyum, "kau sedang apa?"


"Sedang memikirkan istriku yang tadi malam ingin menggodaku dengan pakaian seksi," balas Aldo santai.


"Bo-bodoh! kenapa kau masih membahas hal itu?"


"Kenapa tidak, aku penasaran bagaimana wujudmu menggunakan pakaian itu,"


"Cukup ... jangan dibahas lagi!"


"Kau sudah makan?" tanya Aldo mengubah topik.


Rikka tampak menggeleng. "Aku sedang menunggu makanan yang kupesan ... kau sendiri?"


"Bagaimana bisa aku makan jika istriku belum makan?" Suara Aldo terdengar menggoda.


"Bisa tidak, satu menit saja untuk tidak menggodaku?" cerocos Rikka.


"Benar juga ... entah kenapa, aku selalu saja ingin menggodamu?"


Rikka sweatdrop. "Kau punya kelainan, ya?"


Aldo hanya tertawa garing setelah mendengar celaan istrinya.

__ADS_1


"TAKAAAAAAAAA!!!"


Terdengar jelas melalui telepon, suara Myra sedang meneriakkan nama rekan satu timnya.


"Sepertinya Myra dan Taka berulah lagi, ya?" ucap Rikka bertanya.


"Seperti biasa, pertengkaran antara sepasang kekasih!" jawab Aldo santai.


"SIAPA YANG SEPASANG KEKASIH!"


"Kenapa kalian bisa tahu aku sedang membicarakan kalian?"


mendengar perkataan sang suami di balik telepon, Rikka pun tertawa kecil.


Tak lama kemudian, Shasha masuk ke dalam ruangan bersama makanan pesanan mereka. Sepertinya gadis bermata sayu itu ingin makan bersama atasannya.


"Oh iya, sepertinya malam ini aku lembur. Mungkin aku akan pulang sedikit terlambat." ungkap Rikka menjelaskan.


"Apa perlu kujemput?"


"Tidak usah repot-repot. Lagi pula aku bawa mobil!"


"Baiklah, aku akan menunggumu sampai kau pulang," kata Aldo berlagak mesra di balik sambungan telepon.


"Terima kasih ... kalau begitu aku tutup teleponnya, ya?"


"Kenapa?"


"Makanan pesananku sudah datang!" tegas Rikka.


"Baiklah kalau begitu," balas Aldo.


"Sampai ketemu."


"Sampai ketemu."


Dengan itu Rikka pun menutup panggilan telepon tersebut dan menatap Shasha yang sedang tersenyum jail. Rikka mengangkat kedua alisnya seakan bertanya.


"Kalian mesra sekali,"


"Be-benarkah?"


Tak menjawab, Shasha hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku rasa ... kali ini pilihan mama sangat tepat!" lanjut Rikka.


"Aku harap hubungan kalian akan semakin harmonis, Bu Rikka."


"Te-terima kasih, Shasha," kata Rikka malu-malu.


"Sama-sama ... ayo makan?" ajak Shasha.


"Ayo!"


●●


Malam pun tiba, tampaknya cuaca disana sangat cerah dengan bulan sabit sebagai pendampingnya. Sesuai rencana, Rikka dan pasukannya akan melakukan penggerebekan disebuah tempat pelelangan manusia yang telah mereka bahas sebelumnya.


Rikka sudah merubah sosoknya menjadi seperti seorang bangsawan. Pakaiannya sangat rapi dan indah. Ia sengaja menyamar sebagai salah satu peserta lelang untuk menyusup ke dalam tempat pelelangan tersebut.


"Semua tim, bagaimana kondisi di tempat kalian?" Rikka bertanya melalui earphone wireless-nya.


"Tim Alpha ready!" balas suara berat seorang pria.


"Tim Beta, clear!" Terdengar suara santai seorang wanita.


"Unit A sudah mengepung lokasi!"


"Unit C clear!"


"Unit D sedang mengamankan jalan selatan!"


"Apa yang terjadi disana, Vick?" tanya Rikka bingung.


"Terjadi kecelakaan disini. Tapi jangan khawatir, dalam lima menit kondisi akan segera kondusif."


"Baik ... lalu bagaimana Unit B?"


tak ada jawaban, Rikka tampak mulai mengkerutkan dahinya.


"Unit B, tolong dijawab!" ucap Rikka.


"... Unit B sudah di lokasi bersama Unit A!"


"Tolong berpartisipasilah dengan baik, Unit B!" oceh Rikka.


Rikka tampak menghela nafas setelah menutup sambungan earphone miliknya.


Sepertinya ia sedang berada di dalam mobil bersama Shasha yang berada di kursi pengemudi. Dan kelihatannya mereka seperti menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penyusupan.


"Bu Rikka?"


"Ya?"


"Apa tidak masalah membawa Tim spesialmu untuk misi ini?" Shasha bertanya.


"Tim Alpha dan Beta?" balas Rikka memastikan.


Shasha hanya menganggukan kepalanya pelan.


"Aku ingin menunjukkan pada mereka, khususnya pimpinan Unit B bagaimana cara kinerja yang sesungguhnya dari Intelijen Kepolisian." jelas Rikka.


"Aku rasa menggunakan tim spesialmu sedikit berlebihan."


Rikka menggeleng. "Mereka berguna sebagai penjamin keberhasilan misi kali ini."


"Jadi kau masih ragu pada mereka?"


"Walaupun Vick jarang mau mengambil resiko di situasi apapun, tapi aku percaya pada intuisi tajamnya dalam memimpin Unit D. Karena itu ia kuperintahkan untuk bersama unit C dan Tim Beta..."


"... tidak dengan unit lainnya, aku sangat meragukan mereka yang seperti kurang bertanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan."


"Bukankah laporan mereka sudah sangat bagus?" tanya Shasha lagi.


"Kau benar, tapi ... aku masih sedikit kurang puas."


"Jadi ... kau menggunakan tim spesial hanya untuk meningkatkan performa Unit Pelaksana supaya mereka bisa memenuhi ekspektasimu di masa depan?"


"Seperti biasa ... kau selalu bisa menebakku, Shasha!"


Shasha merespon hanya dengan senyuman lebar di wajah cantiknya.


"Baiklah ... Tim Alpha, ayo kita mulai. Dan untuk Tim dan Unit lainnya bersiaplah!" perintah Rikka dengan lantang.


"Roger!"


Setelah turun dari mobil, Rikka yang bergaya ala bangsawan mulai berjalan dan dampingi oleh seorang pria kekar yang juga menggunakan setelan ala bangsawan. Sepertinya pria itu adalah pimpinan Tim Alpha.


Di belakang mereka, juga tampak beberapa pasang orang yang sedang mengikuti menggunakan gaya yang sama. Sepertinya orang-orang tersebut adalah anggota dari Tim Alpha.


Mereka pun masuk ke dalam gedung tersebut. Tapi saat di ambang pintu besar bergaya belanda, Mereka dicegah oleh petugas yang berjaga dan menanyakan sesuatu pada mereka.


"Tunjukan kartu keanggotaan kalian," kata petugas tersebut.


Rikka mengangkat alisnya sebelah. Lalu menoleh ke arah pemimpin Tim Alpha. Kemudian menoleh kebelakang. Setelah itu, Rikka menganggukkan kepalanya.


"Tunjukan kartu keanggota-"


Petugas penjaga pintu pingsan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Tapi tubuh yang terkulai lemas tersebut langsung di tangani oleh salah satu anggota Tim Alpha. Pada saat yang sama, anak buahnya yang lain menggantikan posisi pria petugas di depan pintu supaya pergerakan mereka tidak ketahuan.


Entah apa yang dilakukan pemimpin Tim Alpha itu hingga membuat pria petugas jatuh pingsan. Yang pasti, tindakannya membuat Rikka merasa sangat puas.


Dengan santai mereka pun masuk ke dalam bangunan tersebut. Di dalam sana tampak seperti sebuah aula teater yang sangat megah. Jika dilihat dari bentuk panggungnya, teater itu sepertinya berjenis Proscenium. Kemudian mereka mencari tempat duduk yang nyaman disana.


Di dalam bangunan tersebut sangat luas. Jika tempat itu adalah memang sebuah teater, maka tempat itu bisa menampung setidaknya 5.000 penonton. Tapi karena tempat itu adalah pelelangan, maka kursi yang digunakan oleh para peserta sengaja dibuat berjarak dan entah apa tujuannya.


Sepertinya kursi tidak hanya disediakan di bagian bawah saja. Di sisi atas ruangan yang seperti aula tersebut juga dipenuhi kursi untuk para penonton yang memiliki kartu keanggotaan. Jika di sisi bawah dibuat berjarak setiap dua kursinya, maka di bagian atas dibuat lebih rapat.


Di sisi atas ruangan besar tersebut tampak seorang pria menggunakan setelan jas dan topi ala Charlie Chaplin sedang duduk santai di temani oleh wanita cantik bermata giok.


Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang saling bergurau. Tapi, tak sengaja mata pria itu menangkap beberapa sosok mencurigakan sedang berpencar dan mencari tempat duduk yang nyaman.


Seringaian menghiasi wajah pria itu setelah matanya tertuju pada sosok wanita yang duduk di kursi penonton bagian bawah. Dengan jelas ia bisa melihat sosok Rikka sedang menunggu sesuatu ditemani oleh pria berbadan kekar.


"Sepertinya ini akan menarik," cetusnya masih dengan seringaian.


"Kau tidak cemburu, Aldo?" tanya wanita bermata giok.


Pria berjas yang ternyata adalah Aldo tersenyum kecut setelah mendengar perkataan rekannya.


"Ayolah, Syndi ... apa aku harus cemburu pada William yang sedang mengawal istriku?"


"Bisa saja mereka sedang berkencan!" balas wanita bermata giok yang tak lain adalah Syndi dalam penyamaran.


"Orang bodoh mana yang mau berkencan di tempat menjijikan seperti ini?"


"Lagi pula, apa kau tahu rumor tentang William?" lanjut Aldo bertanya.


Syndi hanya menggeleng sambil melihat ke arah leadernya.


"Yang ada di kepala pria itu hanyalah berkelahi dan bertarung ... Zedd mengatakan padaku, kalau William itu di rekrut oleh pihak kepolisian untuk dijadikan Meat Shield." ungkap Aldo.


"Wow ... benar-benar tipikal kepolisian yang menjijikan!"


Aldo mengangguk. "Tapi aku tak menyangka, dia masuk ke divisi pimpinan Rikka!"


"Aku rasa istrimu sengaja melakukannya,"


"Jika itu Rikka, setidaknya aku percaya kalau pria itu lepas dari takdirnya sebagai Meat Shield."


"Hey lihat, sepertinya sudah dimulai!"


Syndi tampak mengubah topik pembicaraan setelah mendengar suara pria menggunakan mikrofon seperti seorang pembawa acara.


Aldo menoleh ke arah panggung lalu berdiri di sebelah Syndi yang sedang duduk. Kemudian tersenyum kepada rekan wanitanya.


"Baiklah, aku pergi dulu ... sisanya kuserahkan padamu~ ..." ucap pembunuh bayaran itu sambil melambaikan tangan dan beranjak pergi dari sana.


Syndi terlihat menghela nafas panjang. Tapi Wanita bermata giok itu tak beranjak kemana-mana, hanya memperhatikan sekitar sambil duduk santai dengan kaki yang dilipat.


"Berhati-hatilah, leader ..." lirihnya setelah itu.


-----


Didukung terus ya teman-teman karyaku ini, jangan lupa LIKE, VOTE dan COMMENT.


Thank you ... 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2