Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 19 : Full Day With You


__ADS_3

CIPP CIPP ...


Suara burung terdengar menghiasi suasana pagi yang indah. Mentari juga sudah memberikan sinarnya ke bumi. Dan seorang pembunuh berantai masih tampak sedang berbaring di atas sebuah tempat tidur King Size bersama istrinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08:45. Tapi, sejoli yang masih dibalut piyama itu sama sekali tidak menampakkan adanya tanda-tanda mereka akan segera bangun.


Khusus untuk sang istri, mungkin masih bisa di maklumi karena kondisinya yang bisa dikatakan sedang sakit.


Tapi untuk sang suami, ia malah masih tertidur pulas di sebelah istrinya yang cantik itu.


Dan anggota keluarga lain, sepertinya sudah meninggalkan rumah untuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Jadi, di pagi hari yang cerah tersebut, Sepasang suami istri itu masih bermesraan di dalam kamar. Walaupun pada kenyataannya mereka sedang tertidur pulas.


Sang istri yang memiliki nama Rikka akhirnya membuka mata onix indahnya secara perlahan. Wajahnya terlihat sembab. Entah itu dikarenakan oleh demam yang ia derita, atau dia habis menangis. Yang pasti, Rikka masih merasa pusing sekarang.


"Uuggh ... kepalaku sakit sekali ..."


Rikka tampak sedang merintih sambil memegang kepalanya.


"Sejak kapan aku ada di tempat tidur?" gumamnya.


Secara perlahan Rikka ingin duduk, tapi tubuhnya seperti terhalang sesuatu. Dan yang menghalanginya adalah sepasang tangan yang saling bertautan. Tangan tersebut adalah tangan kiri miliknya sendiri dan tangan kanan milik Aldo.


"Aldo?" ucapnya bergumam.


Rikka perlahan menarik tangan miliknya, tapi genggaman Aldo terlalu kuat hingga wanita berkepala indigo itu tak bisa melepaskannya.


Menyadari posisinya sekarang, Rikka merasa ingin berontak dan teriak. Tapi ia terlalu lemas untuk melakukan itu semua. Bahkan suaranya saja sedikit parau.


Akhirnya, Rikka pun hanya bisa pasrah dan kembali merebahkan tubuhnya sembari menikmati pelukan sang suami yang menggenggam tangannya.


"Apa yang terjadi padaku semalam?"


"Kalau tidak salah, aku pulang di antar oleh Shasha ... lalu masuk ke dalam rumah, kemudian aku sudah terbangun di sebelah Al-ADUH!"


Rikka berusaha mengingat kejadian yang sebelumnya. Tapi benjolan di kepala indigo tersebut kembali berdenyut dan menimbulkan rasa nyeri.


"Jangan memaksakan dirimu," kata Aldo tiba-tiba.


Rikka mengkerutkan dahinya setelah mendengar suara sang suami.


"Kalau kau sudah bangun, kenapa tidak segera melepaskanku?" komplain Rikka masih dengan suara parau.


"Aku tak ingin meninggalkanmu~," balas Aldo asal.


Rikka sedikit tertegun mendengarnya.


"Aldo, tolong ... tanganmu berat!" mohon Rikka.


Aldo mengernyit. "Tumben kau tidak marah?"


Rikka menghela nafas. Sepertinya ia terlalu lemas untuk berargumen dengan suaminya sekarang.


"Aku lelah ..." lirih Rikka.


"Lelah hidup bersamaku?" Aldo memastikan dengan ekspresi sedih.


Rikka hanya menggeleng tanpa menjawab apa pun.


Aldo semakin mengkerutkan dahi setelah melihat tingkah istrinya yang sedikit berbeda.


"Rikka,"


"Ya?" sahut Rikka.


"Aku rasa sakitmu semakin parah."


"Apa aku sakit?"


"Tentu saja kau sakit!"


"Dari mana kau tahu?"


"Biasanya kau akan langsung menghajarku jika aku memelukmu begini?" ucap Aldo polos.


Rikka cengo seketika melihat sang suami yang kini sudah duduk di sebelahnya.


"Bodoh!" umpat Rikka masih dengan suara parau.


"Kau harus ke rumah sakit!" cetus Aldo.


Spontan Rikka terbelalak dan menutup wajahnya menggunakan selimut.


Aldo pun hanya bisa terheran melihat tingkah istrinya.


"Kau kenapa? Ayo ke rumah sakit?" paksa Aldo.


Tak menjawab, Rikka hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Kalau tidak, kau akan semakin parah!" cerocos Aldo.


"TIDAAKK!!!" teriak Rikka di dalam selimut.


"Kenapa?"


"Pokoknya tidak!"


"Beritahu aku alasannya?"


Rikka tak mau menjawab lagi dan kembali menggelengkan kepalanya di dalam selimut.


"Kalau begitu kau akan kugendong ke rumah sakit!"


Aldo semakin memaksa Rikka dan ingin menggendong istrinya bersama selimut yang masih melekat.


"JANGAN!" bentak Rikka sambil mengeluarkan kepalanya dari selimut.


"Kenapa?"


"Aku ..."


"Iya?"


"Aku ... aku ..."


"Iya ...? iya ...?"


"Aku ... takut disuntik!" tegas Rikka dengan Suara yang amat sangat pelan sekali.


Aldo hanya bisa memberikan ekspresi aneh yang sama sekali tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan bahasa dari negara manapun.


"Aku akan meminta ibumu datang supaya kau dimarahi!" cetus Aldo sembari meraih ponsel.


"Mama lagi di luar negeri~!"


Sepertinya Rikka menyangkal ucapan Aldo dengan logat khas anak kecil yang manja.


"Apa?"


"Semenjak kita menikah, mama selalu pergi jalan-jalan ke luar negeri bersama papa!"


"Bukan itu maksudku,"


"Lalu?" tanya Rikka bingung.


"Logatmu!"


"Kenapa logatku?"


"Membuatku mabuk kepayang~."


Setelah mengucapkan itu Aldo malah mengeluarkan jurus tinju mabuk ala Bruce Lee.


"Bo-bodoh!" umpat Rikka.


"Kalau begitu sarapan, ya?" Aldo menawarkan.


Dengan polosnya Rikka menganggukkan kepala seperti anak kecil.


"Tapi aku belum sikat gigi!" ucapnya setelah itu.


"Tidak perlu, nafasmu harum, kok!" Tegas Aldo.


"Dari mana kau tahu?"


"Semalaman aku menghirup dan menikmatinya."


Rikka sweatdrop. "Jorok!"


"Tidak masalah asal orang itu istriku!" balas Aldo dengan senyuman.


Kemudian pria berkepala coklat itu segera beranjak meninggalkan kamar untuk mengambil sarapan.


Sedangkan Rikka malah mengembangkan senyuman setelah sosok suaminya tak terlihat.


Tak lama kemudian, Aldo datang kembali bersama sarapan berupa bubur dan segelas air putih.


"Aaaak~," ucap Aldo.


Tampaknya Aldo ingin menyuapi istrinya.


"Aku bisa makan sendiri."


"Tidak apa-apa."


"Tapi ..."


"Ssstt ... sekarang aaaak~," Aldo bersikeras.


"Aaaaak."


Masih dengan polosnya Rikka membuka mulut selebar yang ia bisa.


"Bagaimana?"


"Enak!" ucap Rikka setelah menelan.


"Kau yang buat bubur ini?" lanjut Rikka bertanya.


Aldo menggeleng. "Tidak."


"Lalu?"


"Eriya yang membuatnya."


"Dimana dia sekarang?"


"Sudah pergi bekerja."


Setelah kembali menelan suapan bubur dari suaminya, Rikka tiba-tiba teringat akan sesuatu.


"Hari apa sekarang, Aldo?"


"Senin," jawab Aldo enteng.


Spontan Rikka terbelalak di atas tempat tidurnya.


"Gawat ... hari ini hari pertama Leon dan Elli masuk sekolah!"


Aldo tersenyum. "Tenang, tidak perlu khawatir."


"Tentu saja aku khawatir!"


"Pokoknya, semua sudah berjalan sesuai rencana."


Rikka memiringkan kepala. "Maksudmu?"


"Aku sudah minta tolong Chika untuk mengurus mereka," kata Aldo menjelaskan.


Rikka menghela nafas. "Syukurlah."


"Intinya kau harus beristirahat penuh hari ini!" perintah Aldo.


"Kau tidak bekerja?"


Aldo menggeleng. "Aku tak harus ada di Green Goblin setiap saat."


"Kenapa?"


"Apa kau lupa, kalau suamimu ini pemilik Green Goblin? Aaaaak~," ucap Aldo masih menyuapi.


"benar juga ... aaaaak ..." balas Rikka sambil membuka mulut.


Setelah Rikka selesai sarapan, suasana menjadi hening sejenak.


Aldo yang tadinya menyuapi Rikka kini sudah duduk di tepi tempat tidur tepat di sebelahnya sembari memberikan obat.


"Rikka ..." panggil Aldo lirih.


Rikka menoleh. "Ya?"


"Kenapa kau suka sekali bertindak ceroboh?"


Aldo mulai melemparkan pertanyaan untuk istrinya yang tiba-tiba saja mengkerutkan dahi.


"Maksudmu?"


"Aku sudah mendengar semuanya dari asistenmu."

__ADS_1


Rikka tak menjawab, gadis bermata onix itu hanya melihat ke bawah dengan kepala yang tertunduk.


"Kenapa kau harus berbohong?"


Aldo kembali melempar pertanyaan yang membuat istrinya terdiam.


"Maaf ..." ucap Rikka lirih.


"Apa maaf bisa membuat waktu berputar kembali?"


Sepertinya Aldo semakin menyudutkan istrinya yang tak tahu harus berbuat apa.


"A-aku sebenarnya tak ingin membohongimu. Tapi ..."


Rikka sengaja menjeda kalimatnya karena bingung harus berkata apa lagi.


"Tapi apa?" tanya Aldo.


"Aku hanya tak ingin membuatmu khawatir!" tegas Rikka.


"Bagaimana aku tidak khawatir? Kau bilang padaku kalau kau pusing karena terlalu banyak bekerja sampai-sampai harus diantar pulang oleh asistenmu ..."


Aldo menarik nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan.


"... sedangkan asistenmu bilang, kau jatuh di tangga saat bekerja!"


"Eeh?" Rikka cengo seketika.


Dari cara Rikka berekspresi, sepertinya telah terjadi sebuah kesalahpahaman disini.


Dan sepertinya Rikka juga sudah salah dalam berasumsi tentang ucapan Aldo yang mengatakan kalau dia telah berbohong.


"Aldo?" panggil Rikka.


"Apa!?" jawab Aldo sedikit kesal.


"Maksudmu tentang aku berbohong itu ... tentang aku yang jatuh dari tangga?" tanya Rikka polos.


"Memangnya apa lagi?" Aldo mendesis seperti ular sambil mencondongkan kepala coklatnya ke wajah Rikka.


Rikka langsung tersenyum kikuk karena salah mengerti maksud dari ucapan suaminya dari awal.


"O-oh ... begitu, ya? A-aku kira ..." ucapnya gagap.


Aldo menajamkan tatapan matanya masih dengan posisi yang sama.


"Kau kira ...?"


"Ti-tidak ada ... ehehehe ..."


"Mencurigakan ..." Aldo masih mendesis.


"Benar, tidak ada apa-apa!"


Sambil mengayunkan tangannya beberapa kali, Rikka tampak panik untuk membela diri.


"Hmmmm~ ....?"


Aldo semakin mengintimidasi istrinya dengan gumaman yang sengaja dibuat-buat.


"... mmmhhhhmmm."


"Kenapa kau jadi mendesah?" kata Rikka cengo.


"Aku masih curiga padamu!" cetus Aldo.


"Curiga?" Rikka bertanya dengan polosnya.


Aldo menganggukkan kepala beberapa kali secara perlahan dengan mata coklat yang tak lepas dari mata onix milik istrinya.


"Apa maksudmu curiga?"


"Kau selingkuh?" tukas Aldo asal.


"HAAAAAHHHH???!!!"


Rikka seperti tersambar petir karena telah di tuduh yang bukan-bukan oleh suaminya. Ekspresi wanita berkepala indigo itu juga telah berubah drastis.


"Kenapa kau terlihat marah begitu?"


"Tentu saja aku marah! Kau menuduhku tanpa alasan!"


"Kalau kau marah berarti benar!"


"Berani sekali kau menuduhku selingkuh! Lagi pula, mengurus seorang suami sepertimu saja aku sudah kewalahan, bagaimana bisa aku selingkuh dan menduakanmu!?" cerocos Rikka tak terima.


Mendengar ocehan isrinya itu, Aldo masih menatap Rikka dengan tampang sinis.


"Kalau kau tidak percaya padaku, itu hakmu ... yang pasti aku tidak ada niat untuk selingkuh!"


Rikka masih membela dirinya dengan tangan yang disedekapkan.


"Benar kau tidak selingkuh?"


Aldo kembali mengintrogasi istrinya dan semakin mencondongkan kepala coklat itu ke wajah Rikka.


Istrinya tak menjawab, hanya mengaggukkan kepala dengan wajah yang penuh amarah.


"Berarti kau mencintaiku?" lanjut Aldo bertanya.


"Tent-"


Rikka segera menghentikan kalimatnya yang hampir saja terucap secara spontan.


"Aku tak bisa bilang!" kata Rikka setelah mengkoreksi.


"Kenapa?" kata Aldo polos.


"Po-pokoknya tidak bisa!" balas Rikka.


Tapi, tanpa disadari, Rikka telah mengeluarkan semburat merah di pipinya.


Aldo yang melihat semburat merah itu malah mengeluarkan seringaian andalannya.


"Tapi aku ini suamimu."


"Y-ya tetap saja aku tak bisa bilang!"


"Sepe-"


"Kau sendiri bagaimana? Apa kau mencintaiku?"


Masih dengan rona merah di wajah, Rikka gantian melemparkan pertanyaan setelah memotong ucapan suaminya.


"Eeh?"


"A-aku ..."


Dengan setia Rikka menunggu jawaban suaminya yang tak lama lagi akan ia dengar.


"Te-tentu saja!"


Rikka mengernyit. "Tentu saja apa?"


"Tentu saja aku mencintaimu ..."


DIG DUG ...


Spontan Rikka terkejut dan tersipu akibat penuturan dari suaminya. Semburat merah pun semakin menari-nari di pipi merah milik wanita kepolisian tersebut.


"Lagi pula, suami macam apa yang tidak mencintai istrinya!?"


Aldo menambahkan penjelasan di belakang, tapi entah apa tujuan dia melakukan hal itu.


Rikka sama sekali tak mendengar ucapan Aldo yang terakhir. Wanita itu malah sedang asyik menikmati debaran jantungnya yang semakin kencang.


"Kesampingkan itu ... bagaimana keadaanmu sekarang?"


Aldo kembali bertanya kepada istrinya. Tapi Sang kepala intelijen masi terbengong tanpa merespon ucapan Aldo sedikitpun.


"Rikka!"


"Y-ya?" sahutnya


Sepertinya Rikka telah tersadar dari lamunannya.


"Kau mendengarku?" tanya Aldo lagi.


Wanita kepolisian itu hanya menggelengkan kepala indigonya.


Aldo menghela nafas. "Bagaimana keadanmu? Apa kepalamu masih sakit?"


Dengan penuh perhatian Aldo meraih kepala istrinya sebelum mengelus kepala indigo tersebut tepat di benjolan.


"Aduh!" pekik Rikka.


"Demammu sudah turun, tapi benjolan di kepalamu masih belum kempes."


"Benjolan?" Rikka tampak bingung.


Aldo menganggukkan kepalanya untuk membenarkan.


"Apa kau tak tahu kepalamu ini benjol?"


Rikka menggeleng. "Tidak."


Pada saat yang sama Rikka berusaha mengingat kembali kejadian sebelum dia pingsan sembari mengelus kepalanya.


"Mungkin ini perbuatan pembunuh sialan itu," bisiknya pelan.


Aldo mengernyit setelah mendengar ucapan istrinya yang berbisik.


"Kau bilang apa?"


Rikka menggeleng lagi. "Tidak ada!"


"Ya sudah kalau begitu ... kau tetaplah beristirahat. Aku mau mandi lalu sarapan."


"Baik," balas Rikka menurut.


Aldo pun mulai beranjak dari sana dan berjalan ke arah pintu.


"Aldo ..."


Rikka memanggilnya saat pria bermata coklat itu berada tepat di ambang pintu.


"Hm?" sahutnya.


"Terima kasih ..."


Aldo tersenyum. "Sama-sama."


Setelah memberikan senyuman andalannya, Aldo kembali melangkahkan kaki keluar kamar.


"Dan maaf ..."


Suara Rikka terdengar lirih setelah Aldo benar-benar menghilang dari sana. Alhasil, tidak ada yang mendengarkan ucapan itu selain dirinya sendiri.


Tak terasa hari sudah siang, matahari sudah berada tepat di atas kepala. Tapi sayangnya, matahari yang seharusnya bersinar itu harus tertutup oleh gumpalan awan hitam yang menandakan hujan akan segera turun.


Pada saat yang sama, Aldo tampak sedang menonton televisi di ruang keluarga sambil menerima telepon dari seseorang, dan Rikka sepertinya masih beristirahat di dalam kamar.


"Jadi begitu ... baiklah, terima kasih, kuserahkan padamu sisanya."


Setelah mengucapkan hal itu kepada lawan bicara melalui sambungan telepon, Aldo pun menutup panggilan tersebut.


Sepertinya yang menghubungi pria berkepala coklat itu barusan adalah salah satu rekan satu timnya.


"Haaahh ... Taka benar-benar membuatku repot kemarin ..." keluh Aldo.


"Tapi tetap saja, aku dan Rikka hampir mati ... dan sepertinya, peralatan buatan Kawa dan Taka perlu di revisi," gumamnya melanjutkan.


ZAAAAASSSHHH ...


Hujan pun akhirnya turun dan membahasi pekarangan rumah Aldo dengan cukup deras.


"Hujan, ya? Aku jadi khawatir pada Leon dan Elli," gumamnya Lagi.


Aldo berjalan ke arah jendela dan melihat keluar rumah. Disana ia mendapati air hujan sudah sepenuhnya membasahi bumi. Terutama pekarangan rumahnya.


"Aldo ..."


Saat sedang asyik melihat keluar jendela, pria berkepala coklat itu mendengar ada seseorang yang memanggilnya.


"Rikka?" ucapnya setelah menoleh ke sumber suara.


Tampak oleh mata coklatnya, Rikka sedang berjalan menghampiri sofa di ruang keluarga masih dengan piyama yang setia melekat.


"Kau sudah baikan?" tanya Aldo lagi.


Rikka mengangguk. "Sedikit."


Aldo pun ikut menghampiri Rikka yang kini sudah duduk di atas sofa lalu ikut duduk di sebelah istrinya.


"Kalau cuma sedikit, kenapa kau keluar dari kamar?" ujar Aldo.


"Aku bosan!" celetuk Rikka.

__ADS_1


"Apa kau lapar?"


Rikka menggeleng sebelum menyandarkan dirinya di sofa.


"Tapi kau harus makan dan minum obat!" Tegas Aldo.


Rikka tak menjawab, dia hanya diam dan menghela nafas panjang.


"Ayolah Rikka ... jangan manja begitu, aku akan ikut makan bersamamu!" lanjut Aldo.


Rikka menghela nafas lagi. Sepertinya dia kesal karena harus menuruti sang suami. Kalau tidak, suaminya yang berkepala coklat itu akan terus memaksa.


"Baiklah ... Tuan Pemaksa!" balasnya ketus.


Aldo tersenyum. "Bagus, Nyonya manja!"


Dengan sigap layaknya seorang butler handal, Aldo membawa semua makanan yang ada di dapur dan meletakkannya di atas meja.


Kemudian dia dan sang istri segera menikmati makanan tersebut dengan lahap. Dan tak lupa, makanan itu, Eriyalah yang sudah memasaknya sebelum berangkat kerja.


"Enak ... apa Eriya juga yang memasaknya?" tanya Rikka.


"Bwenwar!" jawab Aldo sambil mengunyah.


Rikka sweatdrop. "Telan dulu makananmu!"


Tak menjawab, pria berkepala coklat itu hanya tersenyum.


"Tempura ini renyah sekali ... aku tak tahu kalau Eriya hebat dalam hal memasak!" cetus Rikka.


"Mungkin ini hasil dari belajarnya sewaktu bersama Dr.Ethan," respon Aldo.


"Benar juga ... aku akan minta dia mengajariku nanti."


"Kau yakin?"


"Ini demi masa depanku dan anak-anakku kelak!" tegas Rikka.


Aldo sumringah seketika, ia seperti baru saja mendapatkan wahyu dari Yang Maha Kuasa.


"Berarti ... kau sudah siap untuk mengandung anak-anakku?"


Pada saat yang sama, Rikka akhirnya tersadar dengan maksud dari ucapannya sendiri.


Di dalam hatinya, ia menyesal mengucapkan hal itu secara sembarangan. Karena wanita yang sedang sakit itu tahu, pasti suaminya akan terus menggoda dia menggunakan masalah ini sebagai senjata.


Tapi tak lupa, semburat merah yang sedang menari indah di wajahnya, sudah dengan setia menemani.


"Bo-bodoh!"


"Mumpung anak-anak tidak ada, bagaimana kalau kita buat sekarang?"


Dengan kedua alis yang sengaja diangkat beberap kali, Aldo memberikan penawaran spesial untuk Rikka layaknya seorang sales door to door.


"Aku sedang sakit, nanti kau bisa tertular," tolak Rika secara lembut.


"Tidak masalah, tubuhku cukup kuat untuk melawan demam!"


"Tapi aku lelah," Rikka masih menolak secara halus.


"Aku akan menggendongmu ke kamar!"


"Aldo ... aku tidak bisa, maaf!"


"Kenapa?"


Aldo memasang tampang sedih seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


"SUDAH KUBILANG AKU INI SEDANG SAKIT!!" teriak Rikka sekuat tenaga.


"Bagaimana kalau kau sudah sembuh?"


Bukannya takut, Aldo malah memberikan penawaran spesial yang lainnya.


"Cukup, jangan dilanjutkan ... Atau aku akan melaporkanmu ke polisi!" ancam Rikka.


Aldo mengernyit. "Polisi? Bukankah kau itu po- uhem ... istriku?"


Rikka ikut mengernyit dengan tatapan tajam ke wajah Aldo.


"Kau ingin bilang apa barusan?"


"Yang mana?" Aldo pura-pura bodoh.


"Bukankah aku itu ... apa?"


"Kau istriku?"


Wanita kepolisian itu hanya menatap kesal tanpa menjawab perkataan suaminya.


Pada saat itu, Rikka seperti merasakan dejavu dan sukses membuat kepalanya mendidih hingga ia harus menggertakkan giginya sampai berbunyi.


Lalu, dengan kasar istri Aldo itu menyuapkan sendok ke dalam mulutnya hingga menimbulkan bunyi yang bisa membuat ngilu bagi siapa saja yang mendengar.


Masih dengan tampang pura-pura bodohnya, sang suami pun melanjutkan makan siangnya sambil bersiul beberapa kali.


●●


Waktu pun sudah beranjak sore dan hujan masih turun menyelimuti bumi dengan airnya yang sejuk. Tapi sudah tidak sederas beberapa waktu yang lalu.


Aldo dan Rikka kini sedang duduk bersebelahan sembari menonton televisi di atas sofa dengan kaki yang di selonjorkan ke atas meja.


Sebenarnya prilaku mereka itu tidak patut dicontoh. Apa lagi jika ada anak-anak disana. Karena prilaku itu sangat tidak sopan.


Tapi, karena mereka terlalu malas untuk mencari tumpuan kaki, maka apa saja akan di halalkan untuk menyamankan diri.


"Sudah lama sekali kita tidak berduaan seperti ini," ujar Aldo.


"Memangnya kita pernah berduaan seperti sekarang?" tanya Rikka sambil memeluk sebuah bantal hias.


"Apa kau lupa dengan bulan madu kita?" kata Aldo mengingatkan.


"Benar juga."


Bersamaan dengan itu, dan dengan penuh perhatian, Aldo kembali menyentuh kepala indigo istrinya. Tapi, yang biasanya Rikka langsung terkejut dan berontak, kini ia hanya pasrah saja.


Pria berkepala coklat itu sepertinya ingin mengecek suhu tubuh dan benjolan yang ada di kepala istrinya.


"Benjolan di kepalamu sudah mulai hilang," ucap Aldo.


Mendengar perkataan sang suami, Rikka ikut menyentuh kepalanya secara perlahan. Dan dia juga bisa merasakan, benjolan di kepala indigonya sudah mengempes.


"Sepertinya begitu," balasnya.


"Oh iya, tadi sebelum asistenmu pergi ... dia bilang dia akan mengurus semua pekerjaan kalian, jadi kau bisa istirahat dengan tenang di rumah untuk beberapa hari," ungkap Aldo.


Rikka sedikit mengernyit. "Shasha? Dia menginap?"


Aldo mengangguk. "Benar."


"Tumben sekali dia mau menginap di rumah orang lain?"


"Aku yang menyuruhnya!"


Rikka tampak menoleh ke arah suaminya.


"Kau menyuruhnya?"


Aldo mengangguk lagi. "Iya."


"Entah kenapa aku bisa membayangkan bagaimana ekspresinya sewaktu kau menyuruhnya untuk menginap."


"Coba tebak?" kata Aldo.


"Wajah memerah, gagap berbicara, kepala tertunduk, jempol tangan dimainkan ..." jelas Rikka.


Aldo sweatdrop. "Kau ibunya, ya?"


"Aku sudah bertahun-tahun bekerja bersamanya, pastinya aku tahu bagaimana sifat dia!"


Rikka menegaskan kepada suaminya dengan rasa bangga.


"Aku rasa dia asisten yang sangat setia," cetus Aldo.


Rikka menganggukkan kepalanya pelan. "Tentu saja ..."


"... dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri."


"Kurasa dia juga begitu," balas Aldo


"Maksudmu?" tanya Rikka bingung.


"Saat kau tiba-tiba pingsan ... wajah gadis itu juga ikut pucat dan terlihat panik," ungkap Aldo lagi.


Rikka tersenyum. "Sudah kuduga."


Aldo ikut tersenyum. "Tapi aku senang kau punya asisten yang selalu bisa diandalkan."


"Jika kau senang, aku malah lebih bahagia," respon Rikka.


Setelah itu mereka terdiam sejenak, hanya suara televisi dan hujanlah yang mengisi suasana mereka.


Aldo sepertinya terlihat mulai mengantuk, mata coklatnya sudah terasa sangat berat dan berkedip beberapa kali.


Apa lagi dengan suara hujan yang sangat menenangkan. Benar-benar suasana tenang yang sangat mendamaikan hati.


"Rikka ... aku mengantuk," ujar Aldo dengan tatapan yang tak lepas dari televisi.


Rikka tak menjawab, istrinya itu hanya diam seribu bahasa.


"Hey, Rikka ..."


Sekali lagi Aldo memanggil istrinya tanpa menoleh. Tapi sang istri berkepala indigo masih tak memperdulikan pria berkepala coklat tersebut.


"Ri-"


Tubuh Rikka tiba-tiba roboh ke arah Aldo dengan posisi kepala yang bersandar tepat di pundaknya tanpa sempat ia mengucapkan kata-kata.


Awalnya Aldo khawatir, tapi setelah melihat wajah tidur istrinya yang sangat cantik, pria yang berprofesi sebagai pembunuh berantai itu pun menghela nafas dengan lega.


Sesaat ia berpikir untuk menggendong Rikka ke kamar. Tapi karena tidak ingin mengganggu istirahat istrinya, Aldo hanya membenarkan posisi mereka berdua supaya bisa lebih nyaman.


Tiba-tiba Aldo juga merasa seperti dejavu. Kemudian ia mengingat kembali kenangan dirinya bersama Rikka di pesawat sewaktu mereka berbulan madu


Waktu itu posisi mereka sama seperti sekarang. Kepala Rikka yang sedang bersandar di pundak Aldo sambil tertidur. Hanya saja, waktu itu Rikka tidak sedang sakit.


Aldo tampak mengembangkan senyuman setelahnya. Lalu ikut memejamkan mata di sebelah Rikka yang sedang tertidur pulas.


Aldo juga menyandarkan kepalanya di kepala Rikka. Sehingga posisi kepala mereka tampak seperti tumpang tindih. Tapi Aldo terlihat sangat berhati-hati supaya tidak membangunkan istrinya.


Beberapa jam setelah itu, hujan pun mulai Reda. Sinar mentari juga sudah mulai mengintip dari balik awan seperti lampu sorot yang menyinari sebuah panggung.


Tapi, kedua sejoli yang sedang bermesraan itu, sedang tidur lebih tepatnya, masih dengan santainya memanjakan diri di ruang keluarga dengan TV yang masih menyala.


"Kami pulang~ ..."


Ucapan salam yang dilakukan oleh beberapa orang pun terdengar dengan semangat.


Setelah itu, Terdengar juga dua pasang langkah kaki sedang berlari menuju ruang keluarga. Pemilik langkah kaki itu adalah Leon dan Elli yang baru saja pulang sekolah.


Lalu, di belakang mereka mengikuti sosok gadis cantik yang memiliki mata indah seperti emerald bernama Eriya.


Sepertinya Leon dan Elli di jemput oleh kakaknya yang bernama Eriya setelah gadis pirang itu selesai bekerja.


"Leon ... Elli ... jangan berlari di lorong!" ujar Eriya menasehati.


Kedua adik kecilnya hanya tersenyum tanpa merasa menyesal. Karena hal itu, Eriya hanya bisa menggelengkan kepala sambil mendengus pasrah.


"Kak Aldo, Kak Rikka, kami pulang ..."


Eriya mengucapkan salam pada sepasang suami istri itu yang tampak sedang duduk membelakanginya di depan televisi.


Tak mendapat jawaban, Eriya sedikit mengkerutkan dahinya sembari menghampiri kedua kakaknya itu. Begitu juga dengan Leon dan Elli yang mengikuti dari belakang.


Setelah menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi, Eriya mengembangkan senyuman manisnya.


"Lelap sekali mereka," celetuk Leon.


"Benar!" Elli menyetujui dengan anggukan.


"Ssssttt ... jangan ganggu mereka ... kalian, cepat mandi!" perintah Eriya dengan suara yang pelan.


Kedua adiknya hanya membalas dengan anggukan sembari berlari meninggalkan ruang keluarga.


Eriya masih tersenyum ketika memperhatikan pose mesra Aldo dan Rikka sekali lagi. Lalu, beranjak dari sana meninggalkan mereka berdua.


Seperti yang dilihat oleh mata emerald Eriya, posisi Aldo dan Rikka tampak sangat mesra. Yaitu kepala yang saling berhadapan dengan jarak tidak lebih dari 1 jengkal dan dengan tangan yang saling bertautan serta diletakkan tepat di antara wajah mereka.


Jika dilihat dengan sekilas, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang saling mencintai satu sama lainnya.


-----


Maaf baru up, karena ada urusan sedikit..


Jangan Lupa untuk LIKE, VOTE DAN COMMENT ya teman teman


Thank you... 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2