Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 20 : Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui


__ADS_3

Di suatu pagi yang cerah dengan sinar mentari lembut yang menyinari sebuah gedung besar bergaya inggris, Tampak Rikka sedang berbincang dengan dua orang anak kecil di depannya.


Tempat itu adalah sebuah sekolah ternama yang juga menjadi tempat untuk kedua anak kecil bernama Leon dan Elli bersekolah.


'Lektion International School', begitulah tulisan besar yang tertulis di gerbang depan bangunan yang menyerupai istana tersebut.


Dan wanita berkepala indigo bersama dengan kedua adiknya itu sedang berdiri di pintu masuk bangunan. Sepertinya Rikka baru saja mengantarkan kedua adiknya.


"Leon ... Elli ... belajar yang rajin, ya?" ujar Rikka.


"Baik, Kak Rikka!"


Kedua anak kecil itu menjawab dengan semangat yang disertai dengan anggukkan kepala.


Rikka tersenyum. "Baiklah ... pulang sekolah nanti, aku dan Eriya yang akan menjemput kalian."


"Ok!"


Sekali lagi kedua anak kecil itu menganggukkan kepalanya dengan semangat.


TENG ... TENG ...


Suara lonceng pertanda masuk pun berbunyi.


"Ya sudah, lonceng sudah berbunyi, kalian bergegaslah!" perintah Rikka.


"Sampai ketemu, Kak Rikka!"


Setelah memberi anggukkan, Leon dan Elli pun berlari menuju kelasnya masing-masing. Semoga saja mereka tiba di kelas sebelum guru yang datang.


Rikka tersenyum melihat adik kecilnya yang sudah berlari. Kemudian wanita itu juga mulai beranjak menuju mobil kesayangannya untuk pergi bekerja.


"Baiklah ... saatnya kembali beraktivitas," gumam Rikka.


Mobil sport keluaran Italia itu pun melaju meninggalkan tempat tersebut dengan suara knalpot yang cukup untuk membuat orang terpukau.


Hari itu adalah beberapa hari setelah Rikka mendadak sakit akibat pertarungannya melawan Thousand Face Reaper yang mengharuskan mereka untuk terjun ke sungai dari ketinggian 30 meter.


Benjolan di kepala Rikka juga sudah hilang sepenuhnya, sehingga kondisi tubuh wanita bermata onix itu benar-benar fit sekarang.


Tak membutuhkan waktu lama Rikka sampai ke kantornya setelah ia menumpang parkir di gedung sebelah kantor Badan Intelijen Kepolisian.


Maklum saja, Rikka masih merahasiakan identitasnya kepada suami dan kerabat-kerabat dari pihak Aldo. Jadi, wanita kepolisian itu tak ingin ada seseorang yang melihat dia masuk ke dalam kantor dinasnya menggunakan mobil tersebut.


Apa lagi kendaraan roda empat kesayangannya itu sangat mencolok. Sudah pasti siapa saja yang mengenali, pasti akan segera menyadari siapa pengemudi dan pemilik mobil berwarna sebiru langit tersebut.


Dengan langkah kaki yang sudah dihiasi dengan sepatu pansus berhak tinggi khas wanita, Rikka melenggang masuk dan berjalan ke arah ruangannya setelah ia mendapat salam hangat dari beberapa orang di sana.


"Selamat pagi, Shasha."


Rikka memberi salam pada seseorang yang sudah menunggunya di ruangan tersebut setelah membuka pintu.


Shasha menoleh. "Selamat pagi, Bu Rikka."


"Apa anda sudah baik-baik saja sekarang?" lanjutnya bertanya.


Rikka menganggukkan kepala indigo itu dengan pelan sembari meraih kursi satu dudukan di depan meja sebelum mendudukinya.


"Kurasa aku sudah fit sekarang!" tegasnya.


Shasha tersenyum. "Syukurlah."


"Apa yang terjadi selama aku absen?" Rikka mulai bertanya kepada sang asisten.


Shasha memberi anggukan sebelum ikut duduk berhadapan dengan atasannya di depan meja.


"Tidak ada masalah serius, hanya saja kita mendapat keluhan dari warga sipil yang merasa dirugikan akibat aksi Thousand Face Reaper beberapa hari yang lalu," kata Shasha menjelaskan.


"Apa kerugiannya dalam bentuk materi?" tanya Rikka lagi.


Shasha menggeleng. "Tidak, kerugian dalam bentuk materi hanya dialami oleh pihak pemerintahan kota saja."


"Lalu?"


"Warga sipil merasa dirugikan karena kenyamanan mereka untuk hidup di kota ini jadi terganggu akibat aksi Thousand Face Reaper ..."


"... awalnya mereka tidak begitu memperdulikan soal pembunuh berantai itu karena merasa Thousand Face Reaper tidak akan mungkin mengincar warga sipil seperti mereka ..."


"... tapi, akibat aksi yang dilakukannya bersama pihak kepolisian, mereka jadi merasa tidak nyaman."


Shasha mulai menjelaskan keluhan warga sipil kepada atasannya yang hanya diam dan menyimak.


"Dengan kata lain dan secara tidak langsung, warga sipil di kota ini juga memberikan teguran untuk kita selaku aparat negara," sambung Shasha.


"Begitu ya ... sepertinya kita telah terjebak oleh permainan pembunuh sialan itu!" cerocos Rikka.


"Maksud anda?" Shasha tampak bingung.


"Shasha, apa kau pernah mendengar kata pepatah yang berbunyi, 'Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui'?"


"Pernah, tapi apa hubungannya?"


Rikka menghela nafas. "Aku rasa, Thousand Face Reaper sengaja memancing pihak kepolisian ke wajah publik dan membuat keonaran agar pihak kepolisian terlihat ceroboh di mata warga sipil, sehingga mereka akan memandang kita aparat negara, seperti sampah yang tidak berguna ..."


"... tak hanya itu, pada waktu yang sama, ia juga menggunakan kesempatan itu untuk menghancurkan beberapa aset kepolisian yang menurutku sebagai bentuk ancaman untuk kita aparat negara!"


Shasha mengernyit dengan dagu yang sengaja dipegang. Posenya benar-benar sangat manis, apa lagi ia juga sedang mengigit bibir bagian bawah miliknya.


"Aku rasa hipotesa anda benar. Ah ... dan coba lihat ini?"


Ekspresi wanita bermata sayu itu mendadak berubah setelah ia menyadari sesuatu dan menyodorkan sebuah tablet berukuran 10 inci ke atasannya.


"TFR Fans Club? Apa ini?" tanya Rikka bingung.


"Itu adalah berita terkini ... berdasarkan berita tersebut, ada beberapa pihak warga sipil yang membuat sebuah fans club untuk Thousand Face Reaper!" tegas Shasha.


"Dan jika hipotesa anda benar, berarti berita ini adalah salah satu tujuan dari Thousand Face Reaper!" lanjutnya menegaskan.


"Tunggu, kesampingkan hipotesaku ... yang jadi permasalahan sekarang adalah, kenapa fans club ini tidak ditangkap?" tanya Rikka menyela.


Shasha menggeleng. "Tidak bisa, Bu Rikka."


Rikka mengernyit. "Kenapa tidak bisa? Yang mereka idolakan adalah soerang pembunuh kelas kakap yang sudah banyak merugikan orang lain ..."


"... dengan kata lain, ini juga salah satu tindakan yang menyalahi hukum karena mendukung perbuatan pembunuhan itu sendiri!" lanjutnya menegaskan.


"Maka dari itu saya katakan tidak bisa, Bu Rikka."


Shasha menyangkal atasannya dengan mata yang terpejam setelah ia menghela nafas.


"Kenapa?" tanya Rikka tak terima.


"Komunitas itu memiliki badan hukum yang bisa melindungi mereka!" tegas Shasha.


"Haaaaa ...? Badan hukum? Melindungi? Apa maksudnya itu?"


Rikka semakin tak terima dan memberendeng pertanyaan untuk asistennya.


Lagi-lagi Shasha menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya.


"Saya sudah memerintahkan Lilian dari salah satu Unit Pelaksana untuk menyelidiki masalah ini. Tapi ..."


Rikka hanya diam menunggu kelanjutannya dengan dahi yang sengaja dikerutkan.


"... berdasarkan penyelidikan dan penjelasan dari badan hukum yang melindungi mereka, komunitas tersebut memiliki alasan kuat untuk mengidolakan Thousand Face Reaper," Shasha kembali menjelaskan.


"Alasan?" Rikka tampak semakin bingung.


"Benar, Bu Rikka."


"Apa alasannya?"


Rikka sepertinya sangat tidak sabar kali ini, itu benar-benar tampak dari ekspresi di wajahnya.


"TFR Fans Club didirikan oleh beberapa warga sipil yang tergolong sebagai pengamat politik di negara ini, dan mereka telah melakukan penelilitian sebelum mendirikan komunitas tersebut ..."


"... bentuk dari penelitian mereka antara lain adalah, melakukan investigasi dari kasus pembunuhan yang telah dilakukan oleh Thousand Face Reaper. Lalu, berdasarkan penelitian tersebut, mereka menyimpulkan bahwa Thousand Face Reaper adalah pemberantas koruptor yang merugikan negara ini yang juga menjadi tempat mereka tinggal," kata Shasha menjelaskan kembali.


"Tu-tunggu tunggu ... aku semakin tidak mengerti."


"Apa anda lupa siapa sebenarnya sebagian besar dari korban Thousand Face Reaper?"


Detik itu juga Rikka membelalakkan mata karena akhirnya menyadari sesuatu.


"Benar juga ... Gino, Tony, Hugo ..." gumam Rikka.


"Dan Baron Seagate ..." ucap Shasha menambahkan.


"Benar juga ... selain tiga orang yang kusebutkan, apa hasil dari ivestigasi terhadap Baron Seagate?" tanya Rikka lagi.


"Sama seperti kerabatnya Hugo, mereka termasuk penggerak ekonomi di negara ini yang telah melakukan penyuapan terhadap Gino, Tony, dan beberapa pejabat parlemen lainnya untuk sebuah aksi mencurigakan," jelas Shasha.


"Aksi mencurigakan? Apa kau tahu apa itu?"


Shasha menggeleng kembali. "Belum ada informasi terbaru tentang apa yang mereka rencanakan. Lagi pula, mereka sudah meninggal dunia dan semua antek-antek mereka juga tidak diketahui identitasnya."


Rikka menggigit bibir bawah sembari menopang dagu dengan tangannya.


"Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang sangat besar sedang terjadi." ucap Rikka.


"Aku juga beranggapan seperti itu."


"Baiklah, kembali ke permasalahan sebelumnya ... jadi karena hal itu, salah satu Badan Hukum mau mendukung mereka?" tanya Rikka memastikan.


Shasha memberikan anggukan. "Benar!”


"Aku tak menyangka dia akan mendapatkan dukungan dari warga sipil."


"Aku rasa ini adalah salah satu bentuk dari hipotesa anda."


Rikka mengernyit. "Maksudmu, semua hipotesaku barusan tentang Thousand Face Reaper itu benar?"


Shasha mengangguk. "Seperti yang anda katakan ... Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui ...


"... menghancurkan aset kepolisian secara perlahan, membuat warga sipil membenci polisi, dan mendapatkan simpati publik, hanya dengan satu tindakan. Yaitu, membunuh!" lanjut Shasha menegaskan.


Rikka menghela nafas lagi dan tertunduk dengan dahi yang ditopang menggunakan tangannya.


"Aku jadi merasa seperti pecundang sekarang," sesal Rikka.


"Tapi aku yakin, jika itu anda, pasti semua masalah ini akan teratasi!"


Shasha menyemangati atasannya yang sedikit depresi bersama senyuman manis semanis madu.


"Terima kasih, Shasha!"


Rikka juga ikut tersenyum setelah berterima kasih pada anak buahnya.


●●

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain yang bernuansa temaram dan ditemani cahaya proyektor, sekelompok orang tampak sedang berdiskusi.


Dan sekelompok orang tersebut adalah Aldo bersama dengan rekan satu timnya yang berjumlah tujuh orang termasuk dia sendiri.


"Tunggu ... maksudmu, akulah orang yang merusak GTR, begitu?" ucap Aldo.


Pria gondrong bernama Taka menganggukkan kepalanya dengan santai.


"Secara teknis iya ... kau lah yang menyebabkanya!"


"Bukankah GTR rusak karena software yang abal-abal?!" sangkal Aldo.


"Software ciptaanku bukan abal-abal jika kau tidak melakukan hal gila!" umpat Taka.


"Jadi maksudmu, aku harus santai saja dan menyerahkan diriku pada polisi supaya aku bisa diusut oleh mereka, lalu kalian semua tertangkap, kemudian kita semua berakhir di penjara, begitu?"


"Ka-kalau itu ..."


Maniak komputer itu sepertinya tersudut dan terjebak dengan argumennya sendiri.


"Benar yang dikatakan oleh leader, Taka!" tegas seorang gadis bernama Myra.


"Myra, Kau juga menyalahkanku?"


"Tapi aku juga setuju dengan Aldo!" Syndi ikut menyela.


Nana tampak menganggukkan kepala sembari memainkan ballpoint di jari lentiknya.


Sementara Kawa hanya terdiam dengan ekspresi yang terlihat sedih.


Sedari tadi Zedd hanya mendengus malas melihat leader dan salah satu rekan satu timnya sedang berdebat.


"Bisa kita sudahi perdebatan yang tak ada akhirnya ini?" ucap Zedd dengan tampang bosan.


"Aku sih tidak masalah jika Taka mau menerima kenyataannya," kata Aldo.


Myra juga terdengar menghela nafas bosan di sana.


"Intinya adalah, Taka cuma takut jika Kawa benar-benar menyarangkan peluru di dalam kepala gondrongnya!" ungkapnya.


"Jangan mengarang cerita, Myra!"


"Lalu kenapa kau bersikeras, Taka?" Nana akhirnya ikut menimpali.


"Aku hanya ... aku ..." kata Taka gagap.


"Sepertinya yang dikatakan Myra benar ... sungguh sosok seorang kekasih yang pengertian," celetuk Syndi.


"Siapa yang kekasih siapa, Syndi!?"


Myra tampak memberikan tatapan horor ke arah Syndi. Tapi wanita bermata giok itu hanya tertawa kecil karenanya.


"Baiklah ..." ujar Aldo tiba-tiba.


Pria berkepala coklat itu berdiri dan menghampiri Kawa yang sedang tertunduk. Teman-temannya yang lain hanya bisa menatap heran.


"Kawa ... maafkan aku, ya?" ucap Aldo.


Sepertinya Aldo sedang berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Kawa yang sedang duduk.


Kawa menoleh tanpa menjawab. Tapi wajah sedihnya belum hilang juga.


"Aku harus merusak GTR demi keselamatanku ... sekali lagi maaf."


Kawa menggeleng. "Tidak ... itu bukan salahmu ..."


"Kau merusak GTR karena kau ingin menyelamatkan Rikka, kan?"


Skakmat, Aldo tertegun seketika karena si gadis mungil bernama Kawa bisa melihat langsung ke dalam hatinya.


"Aku juga melihat semuanya, Leader ... kau melakukan manuver yang berbahaya supaya Rikka menghentikan tindakan cerobohnya," lanjut Kawa.


Aldo hanya diam dan tersenyum kecut.


"Tidak, bukan hanya itu ... kau merusak GTR juga untuk keselamatan kami, karena jika kau tertangkap maka kami juga akan begitu. Benar, kan?" kata Kawa masih melanjutkan.


Aldo tersenyum kembali tanpa bisa berkata apapun.


"Kawa, aku juga minta maaf karena tidak menyelesaikan software tepat pada waktunya."


Tiba-tiba, Taka berdiri di sebalah Aldo dan meminta maaf pada sang gadis mungil.


Sepertinya di belakang Taka ada sosok orang sedang mendorongnya. Sosok itu adalah Myra sedangkan Nana dan Syndi hanya mengikuti.


Sementara Zedd, ikut berdiri di sebelah Aldo di sisi yang lain.


"Teman-teman ..." ucap Kawa lirih.


"Lagi pula, GTR masih bisa diperbaiki, kan?" cetus Myra.


"Benar, aku rasa GTR tidak sepenuhnya rusak," Syndi ikut mendukung.


Zedd tampak mengelus kepala Kawa dengan lembut sembari tersenyum.


"Kita semua akan membantumu memperbakinya, jadi tenang saja," ucapnya.


"Benar, kami semua akan memberikan bantuan yang kami bisa untuk membantumu ..." kata Aldo.


"... dan aku juga akan memotong separuh dari separuh sisa gaji Taka untuk biaya perbaikannya!" lanjutnya menegaskan.


"BOSS ..." sela Taka tak terima.


"Tapi ..."


"Kau memilih peluru atau kehilangan uang?" timpal Myra.


Kawa mulai tersenyum sumringah dengan kepala yang ditegakkan.


"Terima kasih, teman-teman!"


Sementara Taka yang merasa dirugikan secara sepihak hanya bisa merasa depresi dengan kepala tertunduk.


"Baiklah, mari kita lanjutkan rapatnya!" cetus Zedd.


Mendengar ucapan Zedd, semua anggota tim kembali ke tempat duduknya masing-masing.


"Ok ... aku akan menjelaskan kondisi kita sekarang!" lanjut Zedd.


"Sepertinya, Organisasi Revolusi telah bekerja sama dengan kepolisian untuk melakukan perburuan terhadap goblin's ..."


"... itu terbukti dari tindakan Reno yang sudah mempersiapkan Rikka bersama tim spesialnya saat kita menjalankan misi untuk membunuh Baron Seagate!" tegas Zedd.


"Jadi dugaan kita benar?" sela Nana.


Zedd mengangguk. "Berdasarkan data dari Taka dan informasi dari mata-mata Goblin's, semuanya mengarah pada satu titik yang sama. Yaitu, Organisasi Revolusi berniat untuk mengenyahkan kita semua karena menjadi hambatan bagi mereka."


"Lalu apa tujuan mereka yang sebenarnya?" tanya Aldo.


"Tujuan mereka masih belum diketahui. Tapi, aku beranggapan bahwa tujuan mereka ada hubungannya dengan kasus yang berhubungan dengan Thousand Face Reaper generasi pertama yang juga menjadi tujuan utama kita," kata Zedd mengungkapkan dengan kalimat yang rumit.


"Eksperimen Homunculus?" sela Aldo.


Mendengar ucapan Aldo, Kawa mendadak mengeluarkan Ekspresi sendu di wajahnya.


"Benar," jawab Zedd dengan anggukan.


"Tapi kita hanya ingin mencari tahu tentang Thousand Face Reaper generasi pertama, kan?" ucap Myra.


"Tapi untuk menuju kesana, kita juga harus mengetahui apa saja yang sudah pernah dia lakukan. Karena jejak dan keberadaannya seperti ditelan bumi!" balas Zedd.


"Kenapa kau bisa beranggapan seperti itu?" tanya Aldo.


"Apa kau lupa, siapa saja petinggi dari Organisasi Revolusi?


Bukannya menjawab, Zedd malah balik melemparkan pertanyaan kepada leadernya.


"Aku hanya ingat wanita bernama Vivian."


Aldo menjawab dengan ekspresi aneh sembari menggaruk bagian samping kepalanya menggunakan ballpoint.


"Blanco Theodore, Bianca Wilona, Dion Tatsumi, Reno Schwart, Veranda Lianca, Vivian Sakurai, dan ... Andro Giovani yang bekerja sebagai mata-mata mereka!" cetus Syndi.


"Jadi, ada orang jepang juga di antara mereka?" ucap Nana kembali menyela.


"Blanco? Aku rasa aku pernah mendengar namanya?" kata Myra menerka-nerka.


Zedd mengangguk. "Tentu saja, kau pernah membantunya lepas dari kepungan FBI waktu itu."


"Ah, aku ingat ... kalau tidak salah, itu sebelum FBI dan Organisasi Revolusi berdamai ... dan dia adalah pria kurus tinggi yang terluka waktu aku tak sengaja terjebak di kepungan FBI saat aku sedang menjalankan misi ..."


"... dan aku bersumpah, aku tak mau lagi memakai pakaian ketat seperti itu!" cerocos Myra.


"Tapi kau tampak sangat seksi dengan pakaian itu!" celetuk Taka.


"Kalau aku terus menggunakan pakaian itu, dadaku ini tak akan bisa sebesar Rikka nanti!"


Myra menyangkal ucapan Taka dengan argumen yang sukses membuat teman-temannya cengo di tempat.


"Me-memangnya kau masih 15 tahun?" kata Nana terbata.


"Benar, dadamu sudah tak bisa membesar lagi, Myra!" timpal Taka.


"Apa D-Cup masih belum bisa membuatmu puas?" Syndi ikut menimpali.


"Targetku adalah E-Cup seperti milik Rikka!" ungkap Myra antusias.


Aldo dan Zedd hanya terdiam dengan ekspresi masam yang sudah menjadi asin.


Sementara Kawa tak merespon dan malah asyik menyentuh dada mungil miliknya menggunakan kedua telapak tangan dengan ekspresi kecewa.


"KAWAAA!!"


suara teriakan Aldo tiba-tiba mengagetkan semua peserta rapat yang ada disana.


"Jangan khawatir, kau akan tumbuh menjadi wanita yang sangat seksi dan menawan nantinya!" tegas Aldo melanjutkan.


Kawa yang tidak mengerti maksud dari sang leader, hanya bisa memiringkan kepala dengan tatapan bingung.


"Lolicon!" umpat Myra.


Taka mengangguk. "Lolicon!"


"Pedophil!" tukas Nana.


"Padahal sudah punya istri!" Kata Syndi sambil menepuk pelan wajahnya dengan sebelah tangan.


"Haaaaahh~ ..." Zedd hanya bisa mendesah pasrah.


"A-apa-apaan kalian?"

__ADS_1


Dengan wajah sweatdropnya, Aldo hanya bisa tersenyum kikuk dengan alis yang berkedut beberapa kali.


"Tapi, Zedd ... aku penasaran dengan orang bernama Andro Giovani ini ... apa dia itu Andro si detektif gadungan?"


Aldo kembali ke topik utama dengan bertanya sesuatu kepada Zedd.


Zedd menggeleng. "Aku belum bisa memastikannya, tapi aku juga mencurigai dia!"


"Kalau memang benar dia juga salah satu anggota Organisasi Revolusi, maka ini akan sangat merepotkan," ucap Aldo.


"Merepotkan?" tanya Taka.


"Tentu saja ... dia itu juga teman lama Rikka! Kau juga sudah mengetahuinya melalui e-mail Rikka, kan?" tegas Aldo.


"Tch ..." decak Taka.


"Semoga saja Andro Giovani yang ini berbeda dengan Andro yang kau maksud," ujar Syndi.


"Semoga saja begitu," balas Aldo.


"Ok, akan kulanjut ..." ujar Zedd.


"Nah, berdasarkan informasi dari data yang Taka dapatkan, para petinggi Organisasi Revolusi itu adalah hasil dari Eksperimen Homunculus yang sangat sempurna!" lanjut Zedd menegaskan.


Kawa dan Myra terbelalak mendengar penjelasan Zedd.


"Menarik," desis Nana.


"Hhmmmm~,"


Nada gumaman Syndi terdengar semakin tinggi seolah tertarik dengan penjelasan Zedd.


Aldo hanya berseringai tidak jelas, sedangkan Taka sedang asyik dengan laptopnya untuk mengulas data.


Setelah itu Myra tampak mengangkat tangannya sebelah seperti ingin bertanya.


"Ini tentang Eksperimen Homunculus ... apa maksudmu tadi dengan hasil yang sempurna?" ucapnya bertanya.


"Biar aku yang menjelaskan pada si bodoh ini ..." sela Taka.


"Aku tidak bodoh! Aku hanya kurang mengerti!"


"Karena itulah kau tersusul oleh Kawa di universitas!"


"Tch ... Kawa itu jenius!"


"Dan otakmu isinya otot semua!"


"Tch ..." Myra mendecak sambil memalingkan wajah.


"Ok ... Myra, dengarkan!" perintah Taka.


Sementara Myra hanya memberikan anggukan seperti anak SD.


"Kenapa mereka dikatakan sempurna adalah, karena mereka berhasil beradaptasi dengan proses penelitian tersebut dan berhasil mengeluarkan bakat terpendam yang ada pada diri mereka. Sesuai dengan tujuan dari Eksperimen Homunculus itu sendiri ... paham?" jelas Taka seperti seorang guru.


"Kalau begitu, jika ada yang sempurna, maka ada yang gagal?" Myra bertanya lagi.


"Tentu saja!" jawab Taka.


"Nasib yang gagal bagaimana?"


"Aku benci mengatakan ini, tapi baiklah ..." kata Taka sebelum melanjutkan.


"Produk gagal dari penelitian itu akan dianggap tidak berguna. Dan biasanya, mereka akan dibuang, dibunuh, atau dijual kepada sindikat Human Trafficking."


Myra tertegun. "Kejam sekali!"


"Aku tak mau mendengar itu dari seseorang sepertimu, Myra!" cibir Taka.


"Apa maksudmu?" Myra tak terima.


"Apa kau sadar betapa kejamnya dirimu saat sedang bertarung?"


Taka berusaha mengingatkan teman satu timnya itu untuk sadar diri. Tapi yang diingatkan malah cengengesan tidak jelas.


"Ehehhe ... mau bagaimana lagi, memang begitulah gayaku!"


"Nah, berdasarkan semua informasi yang sudah kita dapat, aku punya sebuah ide!" cetus Zedd menyela.


"Apa itu?" Aldo bertanya.


"Aku ingin membuat sebuah pengalihan. Tapi ..."


Zedd tampaknya ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Tapi Aldo malah terlihat seperti menyadari sesuatu.


"Tidak, Zedd! Aku rasa idemu itu sangat biriliant!" ungkap Aldo.


"Maksudmu, Boss?" tanya Zedd bingung.


"Aku ingin kita membuat pengalihan sebagai umpan agar pihak kepolisian, Organisasi Revolusi, dan juga warga sipil saling bertolak belakang!"


"Bertolak belakang? Bukankah Thousand Face Reaper sudah mendapatkan dukungan dari fans clubnya? Sekarang kau malah ingin membuat mereka ikut berperang?"


Rentetan pertanyaan pun keluar dari bibir seksi milik Nana.


Aldo menggeleng. "Bukan itu maksudku!"


"Lalu?" Nana masih bertanya.


"Sama seperti pihak kepolisian ... aku ingin membuat warga sipil mengetahui dan menolak tindakan Organisasi Revolusi itu melalui pengalihan yang akan kita buat," kata Aldo menjelaskan.


"Caranya?" Zedd bertanya.


Sepertinya Zedd tertarik untuk ikut andil dalam ide gila leadernya.


Aldo menyeringai. "Memprovokasi mereka untuk melakukan demo!'


"Walaupun hanya beberapa persen, setidaknya itu akan membuat pihak kepolisian mulai mencurigai Organisasi Revolusi, dan juga akan mengalihkan pandangan mereka dari Goblin's!" lanjut Aldo menegaskan.


Zedd mengangguk. "Secara garis besar aku mengerti."


"Nah ... di saat mereka sudah mengalihkan pandangannya, di situlah kita akan melakukan serangan!" tegas Aldo lagi.


"Serangan? Kemana?" tanya Kawa.


Gadis mungil yang sedari tadi itu hanya menutup mulut, akhirnya ia buka suara untuk memberikan aspirasinya kepada tim.


"Tentu saja, tepat ke jantung Organisasi Revolusi!" tegas Aldo lagi.


"Maksudmu ke pimpinan Organisasi Revolusi?" tanya Kawa masih bingung.


Aldo mengangguk. "Kau benar!"


"Bukankah identitasnya masih belum di ketahui?" Kawa bertanya lagi.


Aldo menyeringai sekali lagi dengan tatapan licik.


"Apa kau masih belum mengerti juga Kawa? Kenapa aku memutuskan untuk melakukan pengalihan?"


Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya Kawa tersenyum. Sepertinya sniper mungil itu sudah mengerti maksud dari semua perkataan leadernya.


"Tolong ... yang tidak mengerti disini adalah aku!" tutur Myra dengan wajah polos.


Taka mendadak cengo sebelum menepuk jidatnya sekeras mungkin.


Aldo menghela nafas yang terasa sangat berat ketika mendengar penuturan salah satu rekannya itu.


"Bigini ... pengalihan ini akan dan harus memprovokasi terjadinya demo terhadap Organisasi Revolusi. Dengan begitu, pemerintah akan mengerahkan aparatnya, kita sebut saja Rikka, untuk melakukan investigasi. Pada saat yang sama, aparat negara akan kebingungan dengan alasan di balik aksi kita selama ini yang berbau kebaikan, terutama untuk negara ..."


"... alhasil, Organisasi Revolusi akan merasa tersudutkan dan mau tak mau pimpinan mereka harus menunjukkan wajahnya ke publik untuk melakukan klarifikasi. Dan setelah itu, kita bisa dengan mudah menyerang dan mengorek semua informasi mengenai target kita selama ini. Yaitu Thousand Face Reaper generasi pertama!"


Setelah Aldo menjelaskan dengan panjang dan lebar, akhirnya Myra mengerti dan tersenyum sebelum menganggukkan kepala.


"Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui," cetus Syndi.


Zedd mengangguk. "Hanya dengan pengalihan, kita akan semakin mendapatkan simpati publik dan celah dari pihak kepolisian, serta sebuah cahaya menuju kemenangan!"


"Oi oi ... jangan mengucapkan kata-kata yang bisa membuatku merinding!" sangkal Taka.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk membuat pengalihan?" tanya Nana.


"Hmmmm ..." Aldo bergumam.


"... aku ingin Taka mencari tiga atau empat aset Organisasi Revolusi yang berbau kecurangan. Lalu, aku juga ingin kalian membuat sebuah tim yang terdiri dari dua orang untuk menghancurkan aset tersebut dengan mengatas namakan Thousand Face Reaper agar para fansnya mencari tahu alasan pembunuh kesayangan mereka melakukan tindakan itu."


"Ok, baiklah!" respon Taka.


"Lalu kau sendiri, akan melakukan apa?" Nana menyela.


"Bukankah sudah jelas ... Thousand Face Reaper yang asli akan bersembunyi untuk sementara waktu!" tegas Zedd.


Sepertinya Zedd menggantikan Aldo menjawab pertanyaan Nana yang membuat wanita nyentrik itu sedikit bingung.


"Seperti biasa, kau selalu bisa menebakku, Zedd!" ujar Aldo yang dibalas dengan senyuman.


"Dan untuk pembagian timnya, aku serahkan padamu, Zedd!" lanjutnya memerintah.


"Ok, Boss!"


TOK TOK ...


Suara pintu yang sengaja diketok terdengar.


"Masuk!" Teriak Aldo dari dalam.


Setelah teriakan Aldo, sebuah kepala pirang muncul dan mengintip dari balik pintu dengan ekspresi yang mempesona.


"Eriya? Ada apa?" tanya Aldo bingung.


"Oooh ... Elf ... Elfku ... dia datang menjemputku ... Elf!"


Taka mulai merapalkan mantra andalannya setiap kali melihat sosok Eriya yang mempesona. Sementara sang gadis Elf, malah tersenyum kikuk dengan wajah cengo.


BRUAKK ...


Seperti biasa, tendangan maut Myra berhasil membuat Taka terbang menghantam sesuatu dan merusaknya.


"Green Goblin butuh bantuan para senior, tolong ..."


Bersama dengan seragam maid bercorak hijau dan coklat yang saling berpadu, Eriya meminta tolong seniornya untuk membantu pekerjaan di Green Goblin Sembari membungkukkan tubuhnya 90 derajat.


Ketujuh orang yang ada di dalam pun tersenyum bersamaan sebelum beranjak menuju Green Goblin Cafe.


-----


Jangan lupa LIKE VOTE DAN COMMENT ya teman teman.


Thank you...😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2