
"Tiga ribu Dolar ..."
"Tiga ribu lima ratus ...!"
"Empat ribu Dolar!"
"Lima ribu ..."
Aldo yang sedang berjalan di sebuah lorong dapat mendengar dengan jelas suara peserta lelang sedang berkompetisi untuk memperebutkan manusia yang sedang dipamerkan. Atau seorang wanita lebih tepatnya. Sepertinya mata uang yang digunakan di tempat itu adalah Dolar.
Dengan senyuman di balik penyamaran topeng sintetisnya, Aldo berjalan masuk ke dalam ruangan yang terhubung dengan aula panggung. Sepertinya ruangan itu adalah tempat VIP peserta lelang yang berada di lantai dua.
Dari sana Aldo dapat melihat seluruh isi aula dengan jelas. Tapi, pria berkepala coklat itu ke sana bukan untuk melihat-lihat. Melainkan menghampiri seorang pria dengan bekas luka di wajah setelah ia melumpuhkan beberapa orang yang berjaga di tempat tersebut.
"Halo, Ming ... kita bertemu lagi," sapa Aldo setelah duduk di belakang seorang pria.
Pria yang bernama Ming tersebut tersentak ketika mendengar desisan Aldo yang mengerikan.
"Ooops ... jangan bergerak, atau Sniper handalku akan mencabut nyawamu!" ungkap Aldo.
Tampak Aldo memegang pundak pria bernama Ming sambil menunjukkan sinar laser yang mengarah tepat di jantung pria oriental tersebut. Setelah itu, laser pun menghilang.
"A-apa maumu?" tanya Ming mulai berkeringat.
"Ayolah ... tak perlu gugup begitu," balas Aldo santai.
"Bukankah kau sudah kuberi akses langsung untuk masuk ke tempat ini?"
"Benar!" balas Aldo ketus.
"Lalu, apa lagi yang kau inginkan?" tanya Ming semakin berkeringat.
Aldo mendengus malas. "Aku ingin berterima kasih ..."
Mendengarnya, Ming malah gemetaran dan semakin banyak menghasilkan keringat dingin di dahinya.
"Hey, ayolah ... aku kemari bukan untuk mengincar nyawamu. Jangan ketakutan begitu ..." kata Aldo mulai kesal.
"... seperti yang kukatakan. Aku kemari ingin berterima kasih padamu!"
"Dan sebagai rasa terima kasih, aku ingin memberitahukan sesuatu padamu," lanjut Aldo menjelaskan.
"A-apa maksudmu?"
"Ada orang yang sedang mengincar kepalamu ..." bisik Aldo di telinga Ming.
Spontan Ming membelalakkan matanya.
"Yang pasti bukan aku."
"Kalau bukan kau, siapa lagi?" cerocos Ming.
"Tentunya salah satu ... tidak, beberapa orang yang berada di dalam gedung ini kecuali aku," jawab Aldo setelah mengkoreksi kalimatnya.
Ming hanya diam dan mulai menoleh ke sana kemari berusaha memperhatikan gerak-gerik peserta lelang yang mencurigakan di dalam gedung tersebut.
"Baiklah, itu saja ... sampai jumpa," pamit Aldo mulai beranjak dari sana.
"Tunggu."
Aldo menoleh. "Ada apa?"
"Kau melumpuhkan anak buahku. Kau harus bertanggung jawab!"
Aldo menyeringai. "Kau menantangku?"
"Bu-bukan ... ma-maksudku ... bagaimana aku bisa melindungi diri dari orang yang mengincarku?" sangkal Ming terbata.
"Kalau soal itu ... penawar racun untuk anak buahmu akan datang beberapa menit lagi. Santai saja!"
"Apa kau tak berbohong?"
"Percayalah padaku ... kalau begitu, semoga berhasil!"
Setelah berpamitan dengan Ming, Aldo melenggang keluar dari sana dengan santainya. Sementara Ming termenung di tempat duduknya dengan keringat yang mengucur deras.
Seperti yang dikatakan Aldo, beberapa menit kemudian datanglah seorang pelayan wanita sambil membawa sebuah talam dengan segelas minuman berwarna merah dan juga beberapa spuit injeksi yang sudah terisi berukuran 1 ml.
Pelayan bermata giok tersebut tersenyum kepada Ming setelah mereka saling pandang. Lalu pergi meninggalkan pria yang memiliki bekas luka di wajah itu sendirian. Sepertinya wanita itu adalah Syndi dengan penyamaran barunya.
Dengan panik, Ming mengambil spuit injeksi tersebut dan menghampiri anak buahnya. Sangkin paniknya, pria itu sempat menjatuhkan salah satu spuit di lantai, kemudian berhasil mengambilnya lagi. Tapi sayang, nasib Ming malah berkata lain.
"Jangan bergerak ... kau ditahan!"
Terdengar suara seorang pria berpakaian ala Men In Black sedang mengarahkan pistol tepat di kepala ming.
Beralih ketempat Rikka berada, tampaknya wanita bermata onix itu mulai merasa jijik dengan suasana di tempatnya berada sekarang.
Ia melihat dengan jelas wajah-wajah penuh gairah peserta lelang yang sangat menginginkan sosok wanita di atas panggung. Dan wanita itu adalah sosok manusia yang sedang di lelang.
"Sepuluh ribu ..."
Dengan jelas juga, ia mendengar suara lantang penawaran dari seorang pria gendut seperti bola yang sudah mencapai sepuluh ribu Dolar.
Maklum saja jika harganya semakin tinggi. Paras wanita itu sangat cantik. Rambutnya pirang layaknya emas, kulitnya putih bersinar seperti mutiara, matanya lentik dan berwarna hijau cerah seperti emerald, hidungnya kecil dan mancung, serta bibir tipisnya tampak seksi.
Apa lagi dengan tubuh seksinya yang di pamerkan tanpa busana. Membuat Dada besarnya yang mirip melon berkualitas tinggi itu sangat menggoda. Lekukan tubuhnya pun seperti gitar spanyol. Jika ini adalah dunia fantasi, maka sosok wanita itu benar-benar menyerupai sosok Elf. Hanya saja tidak dengan telinga yang runcing.
Jika dinilai dari fisiknya, kemungkinan besar penawaran harga untuk wanita itu akan terus melonjak hingga menyentuh angka tiga puluh ribu Dolar.
Dan berdasarkan pengamatan Rikka, sepertinya wanita yang sedang di pamerkan itu adalah korban perang di daerah timur tengah. Entah dari mana seorang Gabriel Ming bisa mendapatkannya. Setidaknya, begitulah anggapan sang kepala intelijen ketika melihat ciri khas dari wajah wanita yang ada di atas panggung tersebut.
"Delapan belas Ribu!" teriak seorang pria kurus di depan Rikka menawarkan harga terbaiknya.
Semua orang di sana terkejut dengan penawaran harga tersebut. Sejenak suasana pun menjadi riuh seperti sebuah tempat berdiskusi.
"Dua puluh ribu!" teriak pria gendut seperti bola tak mau kalah.
"Dua puluh dua ribu!"
Nampaknya pria kurus di depan rikka masih tak mau menyerah dan semakin meningkatkan harga penawarannya.
Pria gendut seperti bola pun mulai berdiri dengan tampang kesal.
"Dua pulih lima ribu dolar!" ujarnya dengan lantang.
"Dua puluh enam ribu!" Pria kurus masih tak mau kalah.
Rikka hanya bisa menoleh ke arah dua pria tersebut secara bergantian karena tingkah mereka yang seperti anak kecil ketika berebut mainan.
Pria gendut tampak menyeringai. "Tiga piluh Ribu!"
Tawaran dengan nilai yang bukan main-main itu sukses membuat seisi aula tercengang. Suasana pun menjadi semakin riuh. Bukannya menaikkan penawarannya, Pria kurus di depan Rikka malah terdiam dengan kepala yang tertunduk.
"Tiga puluh ribu ... ada lagi yang ingin menambah?" tanya pembawa acara melalui mikrofon.
Tak ada yang menjawab, pria gendut seperti bola semakin melebarkan senyuman sembari kembali duduk di kursinya.
"Tiga puluh lima ribu ..." ujar seorang pria yang tampak sangat muda.
Seluruh isi bangunan tercengang mendengarnya. Penawaran fantastis yang hanya bisa dilakukan oleh orang kaya.
"Tch ... empat puluh ribu dolar!" teriak pria gendut.
Sepertinya pria gendut masih bersikeras untuk memiliki wanita cantik yang ada di atas panggung.
"Empat puluh ribu ... empat puluh ribu ... jika tidak ada, maka aku akan mulai menghitung ..."
"Empat puluh lima ribu dolar!"
Suara seorang pria berkacamata yang juga tampak masih muda terdengar menggema di penjuru aula.
Pria gendut tampak sangat kesal dan membelalakkan matanya. Lalu ia mengeratkan genggaman tangannya sambil berdiri.
"LIMA PULUH RIBU DOLAR!" teriak pria gendut dengan air liur yang ikut terbang dari mulutnya
Dengan penawaran tinggi tersebut, pria muda berkacamata tersenyum licik sambil kembali duduk di kursinya.
"Lima puluh ribu ... adakah lagi yang berani menantangnya?" ujar pembawa acara memprovokasi.
Suasana pun menjadi hening seperti kuburan. Mungkin semua peserta lelang sedang menunggu seseorang untuk melawan penawaran dari pria gendut.
"Baiklah kalau begitu ... lima puluh ribu ..."
"... tiga ..."
"... dua ..."
"... satu!"
"Pemenang barang lelang pertama adalah Tuan dengan nomor 12 disana!"
pembawa acara pun menyerukan pemenang lelang pertama yang diikuti dengan tepuk tangan meriah dari peserta lain.
"Barang? Kau kira manusia itu benda mati?!" gerutu Rikka tampak kesal.
Ekspresi Rikka berubah menjadi sangat marah. Rasanya ia ingin mengobrak-abrik tempat yang menjijikan itu. Tapi ia harus tetap tenang, karena masih ada misi yang harus dilakukannya terlebih dahulu.
Pria gendut pun mulai berjalan sambil menggenggam benda seperti bet tenis meja yang terbuat dari kertas tebal bertuliskan angka 12. Sepertinya ia menuju ke belakang panggung untuk menjemput barang yang dia menangkan. Atau seorang wanita lebih tepatnya.
"Bu Rikka, Ming berhasil diamankan," bisik pria berbadan kekar tiba-tiba.
"Dimana posisinya, William?"
"Arah jam dua, tepatnya dilantai dua," jelas William
"Bagus. Aku akan segera kesana, kau tetap disini untuk tahap selanjutnya!"
"Roger!"
Perlahan Rikka mulai beranjak dari sana dan menuju ke tempat yang di maksud oleh anak buahnya, William.
Sesampainya di disana, Rikka dapat melihat empat orang pria yang sudah diborgol dan duduk berlutut di lantai bersama beberapa bawahannya dari Tim Alpha yang sedang mengawasi.
Satu persatu mata onix itu memperhatikan keempat pria yang diborgol tersebut. Lalu pandangannya berhenti pada sosok pria yang tidak asing. Yaitu pria oriental yang memiliki bekas luka di wajahnya, Gabriel Ming.
"Kerja bagus!" kata Rikka pada anak buahnya.
__ADS_1
Anak buahnya pun merespon Rikka dengan hormat.
"Selamat malam, Tuan Ming," sapa Rikka datar sembari berjalan ke arah Ming.
Ming hanya menolehkan wajah setelah mendengar namanya di panggil.
Rikka tampak sedikit berjongkok di depan Ming, lalu ia menatap intens pria oriental tersebut.
"Aku rasa ini adalah akhir dari karirmu," desis Rikka melanjutkan.
Ming tersenyum kecut. "Dari pada menangkapku ... bukankah lebih baik jika kau meringkus orang yang lebih berbahaya?"
"Apa maksudmu?" tanya Rikka dengan dahi yang di kerutkan.
Masih dengan senyuman kecutnya, Ming menghela nafas sambil melihat ke lantai.
"Thousand Face Reaper ... disini!"
Rikka terbelalak seketika, lalu menarik kerah baju sang pria oriental dengan paksa.
"Bicara yang jelas!"
"Seperti yang kukatakan, dia ada disini untuk mengincar nyawa seseorang."
"Jadi kau bekerja sama dengan pria itu?"
Ming menggeleng dengan keringat dingin yang terjun bebas dari pelipisnya.
"Kalau bisa, aku juga tak ingin berurusan dengannya!" tegas Ming.
"Dimana dia sekarang?" desis Rikka bertanya.
Ming kembali menggeleng. "Aku tidak tahu. Yang pasti setelah dia keluar, pria itu menghilang entah kemana."
"Kau bisa mati jika kau berbohong padaku," ancam Rikka dengan nada dingin.
"A-aku bersumpah!"
Kemudian Rikka melepaskan cengkramannya dengan paksa hingga membuat Ming terdorong ke belakang.
"Kalian, tetap awasi dia!" perintah Rikka pada beberapa anak buahnya.
"Siap!"
Rikka lalu berjalan keluar ruangan tersebut sambil menyentuh earphone miliknya seperti hendak menghubungi seseorang.
"Perubahan rencana untuk Tim Alpha. William, segera ikuti aku ke belakang panggung. Shasha, segera bersiap dengan Unit A dan B. Gio, gantikan posisi William dan lepaskan tembakkan setelah aba-abaku!" perintah Rikka.
"Siap!!"
Rikka tampak berjalan di sebuah lorong dan menuju ke belakang panggung.
"Sekarang!" teriaknya melalui earphone.
DORR ... DORR ...
Suara tembakan terdengar menggema di ruangan besar seperti aula tersebut. orang yang melepaskan tembakkan itu adalah Gio. Pria yang juga salah satu anggota Tim Alpha dan memiliki model rambut belah tengah ala boyband korea.
Setelah tembakkan di lepaskan, Shasha beserta Unit A dan Unit B langsung mendobrak masuk ke dalam sana untuk mencegah kericuhan yang diakibatkan oleh suara tembakkan.
"Jangan ada yang bergerak. Tempat ini sudah dikepung. Angkat tangan kalian di kepala!" perintah Shasha dengan lantang.
●●
Kembali ke tempat Aldo yang sedang berjalan santai mencari sesuatu, atau seseorang lebih tepatnya. Ia tampak membuka pintu ruangan yang ada di sana secara satu persatu. Namun pria berkepala coklat itu tidak menemukan siapapun.
Aldo mulai berjalan kembali di lorong, lalu terdengar suara dari earphone yang sedang bertengger di telinganya.
"Boss, polisi sudah mengepung tempat itu. Berhati-hatilah!"
Sepertinya suara Taka yang terdengar di telinga Aldo.
"Ok!" kata Aldo dengan seringaian.
Bersamaan dengan itu, Aldo kembali membuka pintu lalu masuk ke dalam sebuah ruangan masih dengan santainya.
Di dalam ruangan itu ia mendapati dua anak kecil berbeda gender dan berbeda fisik sedang berpelukan karena terkejut. Jika yang satu adalah seorang anak laki-laki maka yang satu lagi adalah anak perempuan dengan tubuh yang lebih pendek.
"Oi, kalian yang disana ... apa benar disini ruangannya Hugo?" tanya Aldo polos.
Aldo berjalan masuk lalu menghampiri kedua anak tersebut. Tapi kedua anak di depannya malah ketakutan dan gemetaran.
"Jangan takut. Aku hanya ingin bertanya," lanjut Aldo.
Tak menjawab, salah satu anak kecil dengan tampang lusuh dan wajahnya yang tirus itu hanya menganggukkan kepala. Lebih tepatnya anak laki-laki. Sedangkan anak perempuan berpipi tembem yang juga berwajah lusuh hanya diam saja.
Setelah menghela nafas lega, Aldo tampak duduk di sebuah sofa. Lalu ia memperhatikan lagi kedua anak kecil tersebut dengan mata yang sedikit disipitkan.
"Kalau boleh kutebak ... kalian ini barang lelangan ya?"
Masih tak menjawab, kedua anak yang sedang berpelukan itu kembali mengangguk pelan.
"Siapa nama kalian?"
"Leon," balas anak laki-laki.
"E-Elli," ucap anak perempuan tampak ragu.
"Aku 11 tahun," ungkap Leon.
"A-aku 10 tahun," jawab Elli.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Kami menunggu giliran untuk dijual,"
Mendengar penuturan dari anak kecil bernama Leon, Aldo hanya bisa menatap mereka dengan sendu.
"Apa Hugo yang ingin menjual kalian?" tanya Aldo lagi.
Leon dan Elli kembali mengangguk dengan pakaian yang tampak rapi. Tapi, walaupun pakaian mereka terlihat rapi, wajah lusuh itu tidak bisa disembunyikan. Dan Aldo pun mulai ragu jika nantinya kedua anak kecil itu tidak akan laku saat dipajang di pelelangan.
"Bagaimana kalian bisa bertemu dengan Hugo?"
"Dia membeli kami dari orang tua yang merawat kami,"
"Haaah? Orang tua kalian menjual kalian?!"
Leon dan Elli menutup matanya ketakutan dan kembali gemetar ketika mendengar suara Aldo yang tiba-tiba meninggi.
"Orang tua macam apa yang menjual anaknya sendiri!" cerocos Aldo.
"Mereka bukan orang tua kami. Mereka hanya orang yang mengadopsi kami,"
"Mengadopsi?" tanya Aldo sembari menoleh dan direspon dengan anggukkan.
"Bisa kau ceritakan?" Aldo bertanya lagi.
"Orang tua kami meninggal sejak kami masih kecil. Lalu, kami di adopsi oleh pasangan suami istri yang tidak memiliki anak ... Tapi, kehidupan mereka yang miskin malah semakin parah setelah kami menjadi anggota keluarga mereka ..."
"... awalnya kehidupan kami normal-normal saja. Tapi beberapa tahun setelah kehadiran kami, keuangan keluarga itu semakin merosot. Si suami yang juga ayah angkat kami tidak pernah lagi mendapat panggilan kerja sebagai pekerja lepas ... Singkat cerita, mereka pun membenci dan menganggap kami sebagai pembawa sial. Lalu menjual kami kepada orang bernama Hugo." jelas Leon panjang lebar.
"Lalu, Hugo juga ingin menjual kalian?"
"Sepertinya begitu,"
Aldo kembali menghela nafas. "Benar-benar cerita yang sangat tragis!"
"Lalu bagaimana kehidupan kalian dengan Hugo?" lanjut Aldo bertanya.
Setelah Aldo bertanya, Tiba-tiba wajah Elli berubah ketakutan dan matanya tampak sangat kosong. Gadis itu bergetar hebat sambil terduduk di lantai.
"Elli tenanglah, jangan takut, ada aku disini," kata Leon menenangkan.
"Dia kenapa?"
"Elli sepertinya mengalami trauma akibat perlakuan pria bernama Hugo."
"Apa yang dia lakukan?"
"Pria itu hanya menginginkan tubuh Elli saja,"
Tatapan Aldo berubah tajam seketika dan ekspresinya sangat dingin setelah mendengar ucapan tersebut.
"Beberapa ka-"
"Cukup ... kau masih terlalu kecil untuk mengucapkan kata-kata menjijikan itu!"
Aldo menghentikan kalimat Leon sesegera mungkin sebelum kata-kata yang dianggapnya menjijikan itu keluar dari mulut anak laki-laki tersebut.
Leon hanya menundukkan kepalanya karena bingung harus berbuat dan berkata apa lagi. Disebelahnya Elli masih tampak bergetar, tapi Leon segera mengelus punggungnya untuk menenangkan.
"Semakin hari semakin bejat saja pria itu ... anak kecil juga ingin di nikmatinya. Ciiih!!" cibir Aldo marah.
CKREEK ...
Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dan tampak dua orang mulai masuk kedalam.
Dengan gesit, Aldo segera menyembunyikan dirinya di balik lemari yang ada disana. Lalu memberikan kode untuk diam kepada Leon dan Elli yang sedang melihatnya menggunakan jari telunjuk.
Kedua anak kecil itu hanya menganggukkan kepala tanda menurut.
Kelihatannya, orang yang memasuki ruangan tersebut adalah pria gendut seperti bola yang memiliki janggut lebar dan keriting dengan kepala botak di bagian depan serta rambut tipis yang juga keriting di bagian belakang kepalanya.
Di belakang pria itu menyusul seorang wanita cantik berambut pirang dan bermata hijau cerah dengan pakaian seperti jubah mandi yang melekat di tubuhnya.
"Mulai sekarang kau adalah milikku, kau mengerti?" kata pria gendut.
Tak menjawab, wanita pirang itu hanya menganggukkan kepalanya dengan tatapan kosong.
"Namaku Hugo. Siapa namamu?" sambung pria gendut memperkenalkan dirinya.
Aldo mengernyitkan dahinya tampak serius di balik lemari.
"Eriya," balas datar wanita cantik itu.
"Baiklah, Eriya ... setelah aku melelang mereka berdua, kita akan segera pulang ke rumahku," jelas Hugo sambil menunjuk Leon dan Elli.
__ADS_1
Kemudian Hugo berjalan ke arah benda seperti meja rias yang unik dan membuka lacinya seperti mencari sesuatu.
Melihat Hugo yang sedang membelakanginya, Aldo langsung menghampiri pria berjanggut itu dengan secepat kilat tanpa menimbulkan suara sedikit pun dan sukses membuat Leon, Elli, serta Eriya terbengong seketika.
Di waktu yang sama, Aldo mengarahkan lengannya ke punggung Hugo tepat di posisi jantung berada. Dari lengan pria bermata coklat yang sedang menggantung itu keluar sebuah pisau tajam dan tipis berwarna perak.
Sepertinya pisau itu berasal dari sabuk lengan yang ada di pergelangan tangan Aldo. Sabuk lengan futuristik serba guna kebanggaan miliknya.
Pisau tipis tersebut menerjang pria bundar berjangkut itu dari jarak 30 cm dengan tangan Aldo dan sukses menembus kulit beserta daging Hugo sebelum bersarang tepat di jantungnya.
"AAARRRGGHH!" pekik Hugo tak berdaya.
Hugo pun mulai jatuh ke lantai tanpa bisa berbuat apa-apa kecuali membelalakkan mata sembari mencari sosok yang menusuknya.
"Ka- kau!" kata Hugo.
Aldo menoleh ke Hugo yang sedang terbaring menatapnya di lantai.
"Ada masalah?" tanya dia santai.
Leon, Elli, dan Eriya terbelalak seketika setelah melihat aksi Aldo yang mencengangkan. Mereka tak berkutik di tempatnya berdiri. Getaran hebat pun berhasil menguasai tubuh mereka.
Tak lama kemudian, Hugo akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan kasar. Tapi matanya masih melotot dengan tatapan kosong.
Aldo berjongkok dan mengelus wajah Hugo untuk menutup matanya yang terlihat menyeramkan saat terbuka lebar seperti itu.
"Rest In Piece!" kata Aldo.
BRUGGHH ...
Aldo mendengar suara seperti benda jatuh. Tapi yang bisa ia lihat di sana hanyalah seorang wanita berambut pirang sedang terduduk sambil menutup mulutnya dengan mata yang terbelalak seperti ketakutan.
Aldo memiringkan kepalanya sembari memperhatikan wanita pirang itu.
"Ada apa?" tanya Aldo tanpa dosa.
Wanita itu hanya bisa menggeleng ketakutan dengan rahang mulutnya yang ikut bergetar.
Tidak hanya wanita pirang bernama Eriya, kedua anak kecil bernama Leon dan Elli juga melakukan hal yang sama saat melihat pembunuh berantai tersebut.
Aldo menoleh ke arah mereka secara bergantian. Kemudian menghela nafas malas karena bingung harus pergi dari sana atau menenangkan ketiga orang di hadapannya.
"Baiklah ... kalian, duduklah di kursi!" perintah Aldo setelahnya.
Tanpa banyak kata, ketiga orang itu menuruti perkataan Aldo dengan rasa takut yang menghantui.
"Aku tidak akan melakukan apapun pada kalian, jadi tenang saja ..." kata Aldo.
"Urusanku hanya dengan pria berjenggot itu!" lanjutnya meyakinkan sambil menunjuk Hugo.
Helaan nafas lega pun terdengar di telinga Aldo. Ketiga orang dihadapannya kini tidak merasa ketakutan seperti sebelumnya.
"A-aku tak mengerti kenapa kau melakukannya. Tapi aku senang kau telah membunuh pria bejat itu," ungkap Leon masih dengan ekspresi lega.
Tak hanya Leon, Elli juga menunjukkan ekspresi lega dengan tatapan jijik ke arah mayat Hugo.
Aldo mengernyit. "Wow ... kau sadis juga."
Sementara Eriya hanya terdiam dan memperhatikan Aldo yang masih dalam bentuk penyamaran. Mungkin wanita yang mirip Elf itu merasa terpukau dengan wajah tampan milik sang pembunuh berantai.
"Baiklah ... semoga kita tidak bertemu lagi," ujar Aldo ironis sembari mulai beranjak dari sana.
"Jangan tinggalkan kami!" pekik Eriya tiba-tiba.
Spontan Aldo menghentikan langkahnya sambil melirik ke arah Eriya.
Elli tampak mengangguk. "Ku-kumohon, bawalah kami."
"Benar, Tuan ... bawalah kami. Ajarkan kami cara bertarung sepertimu!"
Aldo mengangkat alisnya sebelah sembari mengedipkan-kedipkan kedua mata coklatnya.
"Apa kalian tidak sadar kalau aku ini pembunuh?" Aldo malah melempar pertanyaan.
Ketiga orang di hadapannya merespon dengan anggukkan kepala.
"Apa kalian sadar dengan yang kalian katakan?"
Elli, Eriya, dan Leon kembali menganggukkan kepalanya dengan polosnya.
"Tu-tunggu dulu. aku bisa mengerti dengan keadaan Leon dan Elli ... kau, wanita cantik di sana, kenapa kau juga ingin ikut bersamaku?" kata Aldo seperti menghujat Eriya.
Eriya hanya diam sambil menundukkan kepalanya dengan ekspresi yang sangat sedih.
"Aku bahkan tak tahu siapa kau. Lagi pula, bagaimana bisa wanita secantik dirimu berakhir di tempat seperti ini?"
Eriya semakin menundukkan kepalanya dan mulai gemetar kembali setelah menerima hujatan Aldo yang terdengar seperti memuji.
"A-aku ... aku ... aku adalah budak s*x yang sengaja dipelihara untuk dijual kepada bangsawan serakah yang mau membeliku," jelas Eriya lirih.
"Cukup ... aku bosan mendengar cerita yang berbau vulgar!" balas Aldo.
"Jadi tolong, bawalah aku juga. Setidaknya sampai aku bisa hidup mandiri."
"Benar, ajari kami cara bertahan hidup sepertimu," timpal Leon.
"Bagaimana kalau ke panti asuhan?" tawar Aldo.
"Ku-kumohon jangan ... kami tidak ingin kejadian yang berlalu terulang kembali," sangkal Elli.
DORR ... DORR ...
Setelah suara tembakkan dilepaskan, Aldo melirik ke sembarang arah seolah sedang memahami situasi. Lalu berjalan menuju sofa. Sementara ketiga orang di depannya terkejut dan tampak kebingungan.
"Haaah ... baiklah." keluh Aldo menghela nafas.
"Aku tidak bisa membawa kalian sekarang. Tapi ..." katanya sengaja menjeda.
"... setidaknya aku bisa menitipkan kalian kepada orang yang tepat," lanjut Aldo sembari duduk di sofa.
Elli, Eriya, dan Leon memasang wajah bingung karena tidak mengerti dengan ucapan pembunuh berantai di depan mereka. Sementara Aldo malah semakin menyamankan dirinya di sofa.
CKREKK ...
Aldo menyeringai setelah mendengar suara pintu kembali dibuka.
"Jemputan kalian kalian sudah datang," ujarnya."
"Disini kau ternyata," desis Rikka di ambang pintu sembari mengacungkan pistol.
Aldo menoleh. "Yo, apa kabar ... aku sudah menunggumu dari tadi."
Mendengar Aldo, Rikka mengernyitkan dahinya seolah tak mengerti.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu kalau ini aku?" tanya Aldo polos setelahnya.
"Orang bodoh mana yang masih terlihat santai setelah melihat polisi mengacungkan pistol ke arahnya kecuali kau, Thousand Face Reaper!?"
Spontan ketiga barang lelang, atau orang lebih tepatnya, kembali membelalakkan mata mereka setelah mendengar nama pembunuh berantai yang sangat terkenal itu.
"Tch ... seperti biasa, intuisimu sangat menyebalkan!"
Setelah mengatakan itu, dengan santainya Aldo berdiri dan mulai menghampiri Rikka.
"Jangan bergerak!" perintah Rikka.
Aldo menghentikan langkahnya. "Oi oi, tenang ... aku tak akan berbuat macam-macam. Hanya saja ..."
Rikka menunggu ucapan Aldo yang berikutnya sembari mengkerutkan dahi.
"... kutitipkan anak-anak ini padamu!"
Bersamaan dengan itu, Aldo menerjang istrinya dengan kecepatan yang di luar nalar. Kemudian menyentuh pistol Rikka tanpa mengambilnya. Lalu berlari entah kemana setelah sampai di depan pintu.
"Sampai jumpa, anak-anak!" teriaknya sebelum benar-benar menghilang.
KLIK ... KLIK ...
Bukannya peluru, melainkan hanya suara seperti mouse komputer yang keluar dari pistol Rikka.
"Tch ...!" decak Rikka kesal.
Sepertinya Aldo berhasil merampas magasin pistol tersebut tanpa di sadari oleh istrinya.
Sebenarnya Rikka ingin segera mengejar Thousand Face Reaper. Tapi karena dia punya misi yang harus lebih diprioritaskan, wanita berambut indigo itu mengurungkan niatnya. Lalu menghampiri mayat Hugo yang terkulai lemas tak berdaya.
"Apa pria tadi yang melakukannya?" tanya Rikka pada ketiga orang di sampingnya.
Mereka bertiga hanya menganggukkan kepala.
"William, Thosand Face Reaper berhasil lolos, tolong lacak dia di sekitar. Tim Beta, Lakukan pengamanan radius dua kilometer dan lacak keberadaan Thousand Face Reaper disana ..."
"... Unit C dan Unit D blokir jalan dengan jarak radius satu kilometer dari lokasi, dan tangkap setiap orang mencurigakan yang berhasil kabur dari sini!"
"Gio, bawa beberapa orang dari Unit B ke ruangan yang ada dibelakang panggung!" perintah Rikka melalui earphone.
"Roger!"
Setelah memberikan perintah, Rikka menghampiri ketiga orang yang sedang berdiri disana.
"Kalian, ikut aku!" kata Rikka lantang.
Selang lima belas menit, tempat pelelangan pun berhasil diamankan tanpa harus membuat kericuhan di jalan raya.
Sepertinya ada beberapa tersangka yang mencoba kabur. Namun, berkat pemblokiran yang dilakukan oleh Unit C dan D. Mereka berhasil diringkus dengan mudah.
Sedangkan Tim Beta masih menunggu sesuatu di tempat mereka berjaga.
"Yo, selamat malam ..."
Aldo mendesis setelah keluar dari bayangan gedung, kemudian melumpuhkan salah satu anggota dari Tim Beta yang tak bisa memberikan perlawanan. Lalu kembali melarikan diri di dalam gelapnya malam.
Ternyata dari tadi ia dikejar oleh sosok pria kekar bernama William. Pria itu langsung menghentikan langkah setelah melihat salah satu rekannya tergeletak di sebuah gang yang sangat gelap.
"Tch!" decaknya kesal karena gagal menangkap sang pembunuh berantai.
-----
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, VOTE dan COMMENT ya teman-teman
Thank you... 😊😊😊