
TJEENG ... TJEENG ...
Terdengar suara seperti generator yang tiba-tiba mati secara bersambut.
Pada saat yang sama, semua lampu bersama seluruh perangkat elektronik yang ada di gedung tersebut mati total termasuk CCTV. Hal itu membuat semua pegawai panik dan frustasi karena ada pekerjaan yang tanggung untuk diselesaikan.
TJEEEEENNNNGGGG ....
Beberapa detik setelah itu, terdengar kembali suara yang sama dan membuat semua lampu di sana kembali menyala, termasuk CCTV.
"Okay, Myra! Sekarang menjauhlah dari sana, aku akan mengaktifkan mode Self Destruction di tablet yang kuberikan padamu tadi!" perintah Taka.
"Self destruct?"
Sepertinya Myra bingung maksud dari rekan satu timnya yang bernama Taka itu.
"Benar, aku akan meledakkan semua perangkat keras servernya," jelas Taka.
"Oh iya, jangan lupa gunakan teknik bertarung leader saat kau menghadapi gerombolan yang akan datang!" tegas Taka melanjutkan.
Myra segera berlari ke arah tangga menjauhi perangkat keras server. Tapi pada saat yang sama, sesuai prediksi Taka, di sana sudah ada segerombolan petugas yang juga sedang berlari ke arahnya.
"Teknik bertarung leader?" gumam Myra mengernyit.
"Penyusup!" seru salah seorang petugas Fenrir Corps.
"Tch ... mereka sudah datang, ya?" gumam Myra lagi.
Tanpa banyak menunggu lagi, Myra mempercepat larinya ke arah gerombolan petugas yang berjumlah kurang lebih 10 orang, lalu menerjang mereka dengan lompatan indah.
DUUAGHH ... DUUAGHH ...
Myra berhasil menendang dua orang penjaga dengan teknik tendangan berputar secara bergantian.
Kedua penjaga tersebut sedikit terpental dan jatuh. Tapi mereka masih sadar dan berusaha berdiri di tempatnya masing-masing.
Setelah sedikit pemanasan dengan tendangan berputar, Myra memasang kuda-kuda sebelum kembali menyerang target berikutnya.
"To-topeng itu ... Tho-Thousand Face Reaper!?" ucap salah satu penjaga terbata.
"Aku tak tahu kalau dia itu seorang wanita?" balas penjaga yang lain.
"Tidak ada yang tahu dia itu wanita atau bukan, yang pasti ayo kita ringkus dia!" kata penjaga yang lainnya.
8 penjaga yang masih belum menerima serangan segera menerjang Myra menggunakan senjata seperti baton. Tapi Myra segera bersiap untuk melakukan serangan balik dengan teknik taekwondo.
Myra mengangkat kaki sebelah kanannya, memasang kuda-kuda ala taekwondo. Tapi untung saja dia sudah menggunakan celana short di sana, sehingga celana dalam yang mungkin berwarna pink yang sedang dipakainya sekarang, jadi tidak kelihatan.
Gadis ahli bela diri itu kembali memberikan serangan menggunakan kakinya. Yaitu tendangan mencangkul ke arah kepala menggunakan tumit. Petugas yang terkena tendangan ala taekwondo itu terjatuh dengan wajah yang menghantam lantai. Hidung mancung petugas tersebut sepertinya patah sebelum ia tak sadarkan diri.
Sedetik setelah gadis itu melakukan serangan pertama, masih dengan kaki yang sama, ia berputar dan mengarahkan sebuah tendangan pisau kaki tepat di ulu hati target yang berikutnya.
Petugas yang menerima tendangan pisau tersebut terpental beberapa meter ke belakang dengan sedikit memuntahkan air liur. Sepertinya tendangan itu benar-benar sangat kuat daya serangnya.
"Taekwondo, ya?" kata salah satu petugas yang lain.
Myra hanya diam, lalu mengubah kuda-kudanya seperti kuda-kuda khas judo. Tapi dua orang penjaga segera berlari menyerang gadis itu menggunakan baton.
Salah satunya berhasil dilumpuhkan gadis itu dengan cara memberikan pukulan uppercut tepat di lengan petugas. Lalu menarik tubuh itu, kemudian mengangkatnya di udara sebelum membanting petugas tersebut menggunakan teknik bantingan khas judo.
Pada saat petugas tergeletak di sana, Myra segera memukul hidungnya tanpa memberi sedikit pun kesempatan. Tak hanya itu saja, pada saat yang sama, gadis bermata hazel itu juga memberikan tendangan ke belakang ala karate dengan sedikit membungkukkan tubuhnya ke samping untuk mengantisipasi serangan dari petugas kedua yang sedang menerjang.
Tendangan itu berhasil mendarat tepat di bagian ******** petugas dan sukses membuatnya menjerit sebelum roboh di atas lantai.
Myra kembali membenarkan posisi berdirinya. Tapi, mata lentik di balik topeng itu melihat dua orang petugas yang tadi terkena tendangan berputar di awal, sudah bisa berdiri tegak.
Pegawai Green Goblin itu tak tinggal diam. Ia segera mengangkat salah satu baton yang tergeletak di sana menggunakan punggung kaki. Lalu melempar baton tersebut ke arah mereka sekuat mungkin hingga berputar.
PLETOK ... PLETOK ...
Baton yang melesat itu berhasil menghantam kepala mereka secara bergantian. Alhasil, kedua orang petugas itu jatuh tak sadarkan diri.
Masih tersisa empat orang petugas lagi yang harus Myra bereskan. Keempatnya memiliki tubuh cukup kekar dan tinggi. Myra berdiri tegak di sana sambil membaca gerak-gerik musuhnya dengan teliti.
Tiga orang petugas segera berlari menerjang Myra. Begitu juga dengan gadis itu. Ia berlari ke arah musuhnya, lalu sedikit melompat ke depan seperti ingin berguling. Tapi, Myra tidak berguling. Melainkan mengarahkan tangannya ke bawah untuk mengambil posisi handstand.
Pada saat yang sama, ketiga petugas itu bingung dengan apa yang akan di lakukan oleh Myra. Tapi mereka terkecoh. Gadis yang sedang menggunakan topeng itu segera melakukan tendangan sembari berputar dengan tangannya sebagai pondasi di lantai. Ia tampak seperti menari layaknya petarung capoeira.
Tendangan berputarnya menghantam dagu ketiga targetnya tanpa ampun. Tak hanya sekali, bahkan tendangan berputar itu berkali-kali menghantam ketiga orang petugas tersebut hingga mereka tak sadarkan diri di sana.
Setelah itu Myra membenarkan posisi berdirinya lagi sebelum memasang kuda-kuda untuk menyerang target yang terakhir.
"Tak hanya karate ... taekwondo dan judo ... bahkan teknik capoeira juga bisa kau gunakan dengan mudah ..."
"... benar-benar sosok pembunuh yang mengerikan!" ujar petugas terakhir yang masih berdiri.
Myra masih diam tak bersuara. Ia kembali memperhatikan gerak-gerik targetnya untuk melakukan gerakan antisipasi jika musuh yang ada di hadapannya melakukan serangan.
"Kalau begitu ... bagaimana dengan yang ini!"
Petugas terakhir berseru sembari mengeluarkan pistol dan mengacungkan benda tersebut tepat ke arah Myra yang sedang berdiri.
DOORR ... DOORR ...
Dua tembakan di lepas ke arah Myra.
Peluru tersebut melesat ke arahnya dengan sangat cepat. Tapi gadis ahli bela diri itu tak hanya diam. Ia segera menghindar dengan cara membungkukkan tubuhnya sebelum berlari menerjang sang petugas terakhir.
DOORR ... DOORR ...
Sang petugas menembaknya lagi. Tapi karena gerakan Myra yang terlalu cepat, peluru itu hanya bisa memantul di sembarang arah.
Myra yang sudah berada di depan petugas langsung menyambar dan melemparkan pistol tersebut entah ke mana. Lalu memberikan sebuah tinju ke ulu hati targetnya.
Tapi sayang, petugas itu segera menangkis serangan tersebut sembari ia mundur ke belakang. Dari caranya bergerak, sepertinya sang petugas juga menguasai salah satu teknik bela diri. Yaitu tinju ala barat.
"Bukan kau saja yang bisa menggunakan teknik bela diri!"
Petugas tersebut memasang pose ala petinju profesional sembari bergerak seperti lompatan-lompatan kecil dengan kedua tangan yang dikepal dan di letakkan di depan wajahnya.
Myra tersenyum di balik topengnya. Lalu berdiri tegak di sana sebelum menarik nafas panjang entah apa tujuannya.
Bersama hembusan nafas tersebut, Myra memasang sebuah kuda-kuda dengan melebarkan jarak di antara kedua kakinya. Lalu menggerakkan kedua tangannya dari atas kepala hingga ke depan wajahnya dengan posisi jari-jari tangan yang di luruskan.
Petugas mengernyit. “Sekarang taichi, ya?"
Myra masih tak menjawab. Gadis itu kini tampak sedang mengatur pola nafasnya. Posenya saat itu benar-benar persis seperti seorang master bela diri.
Merasa kesal karena hanya didiamkan, petugas menerjang Myra dengan teknik tinjunya yang memukau. Mungkin kemampuan pria itu setara dengan Mike Tyson.
Myra mengedipkan matanya sekali. sedetik kemudian, tinju dari petugas itu sudah berada dekat dengan wajahnya. Gadis itu segera menggerakkan kedua lengannya dengan gemulai seperti menangkis tapi dengan tujuan untuk mengubah arah serangan sang petugas.
Setelah serangan tersebut hanya mengarah ke tempat kosong. Tangan sebelah kanan Myra yang tadi diluruskan kini dikepalkan sebelum memberikan pukulan telak tepat di dada petugas menggunakan punggung lengan.
"Aargghhh!"
Petugas merintih sembari melangkah mundur akibat hempasan dari pukulan Myra.
Gadis bermata Hazel itu kembali memasang kuda-kuda ala taichi setelah menghembuskan nafas panjang.
Petugas kembali menyerang menggunakan jap andalannya ke arah Myra secara bertubi.
Sama seperti sebelumnya, Myra menggunakan kedua lengannya untuk menghindari serangan tersebut. Tapi kali ini, Myra tak bisa melakukan serangan balik. Karena petugas terus memberikannya pukulan jap, hook, bahkan uppercut secara bertubi.
Alhasil, Myra hanya bisa terus menghindar sambil mundur ke belakang. Sembari menghindari serangan, mata hazel gadis itu berusaha mencari celah agar ia bisa memberikan sebuah pukulan telak di sana. Tapi ...
TRRRTT ... DUSH ... DUUAARR ...
Ledakan terjadi tepat di sebelah Myra dengan jarak tidak lebih dari dua meter.
Ternyata Myra sudah menghindari serangan tersebut hingga membuat posisinya kembali ke tempat di mana letak perangkat keras server berada.
Kedua orang yang sedang bertarung itu melirik ke samping. Lalu terpental ke arah yang berlawanan akibat hempasan ledakan tersebut.
Mereka berdua tampak baik-baik saja. Namun keduanya tersungkur di lantai akibat hempasan yang barusan.
"Tch ... aku salah perhitungan karena terlalu asyik!"
Myra mengumpat dirinya sendiri karena kelalaian yang baru saja ia buat sambil melihat ke arah ledakan tersebut dengan posisi duduk.
Pada saat yang sama, petugas menjadikan momen itu sebagai kesempatan untuk menerjang Myra.
Tapi Myra tak senaif itu. Gadis berjuluk Princess Violent tersebut segera menggerakkan kakinya untuk menjegal kaki sang petugas. Alhasil. Petugas pun terjatuh.
Myra segera membalik keadaan dengan memberikan tendangan ke dada musuhnya sebelum sang petugas benar-benar jatuh di lantai. Akibat tendangan tersebut, petugas itu terpental ke dinding.
Myra tak membiarkannya begitu saja. Gadis itu segera memberikan serangan bertubi-tubi menggunakan pukulan dan tendangan tanpa jeda sedikit pun.
Benar-benar pemandangan yang sangat kejam dan sadis. Sesuai dengan julukannya, Princess Violent.
Setelah puas dengan aksinya, Myra mengakhiri serangan beruntun tersebut sembari menepuk kedua telapak tangan seperti membersihkan debu di sana.
Sementara sang petugas, roboh secara perlahan dengan wajah lebam dan darah yang keluar dari hidung. Serta, ada beberapa giginya yang patah.
"Tch ... aku kira dia cukup hebat! Padahal aku belum menggunakan teknik rahasiaku!" cibir Myra.
Sepertinya gadis itu tidak puas dengan lawan bertarungnya yang barusan.
TRRRTTT ... TRRRTTT ...
Tiba-tiba terdengar suara seperti setruman listrik yang sangat kuat.
DUAAARRR ...
Ledakan dahsyat menyusul suara setruman tersebut.
Myra menoleh, lalu segera melindungi kepala menggunakan kedua lengannya.
__ADS_1
Karena tindakan yang barusan, Myra tidak melihat ada beberapa pecahan besi yang terpental dari asal ledakan.
Ada sebuah pecahan besi cukup besar dengan ujung yang tajam sedang melesat ke arahnya dengan sangat cepat.
Awalnya Myra tak bisa melihat besi yang sedang melesat itu. Tapi, beberapa saat kemudian, gadis berhidung mancung itu segera membelalakkan matanya akibat hantaman besi yang sudah tak lagi bisa ia hindari.
"Aaakkkhhh!!!" Myra pun memekik sembari terpental entah ke mana.
●●
Sementara itu, di tempat sang programmer handal bernama Taka. Sepertinya pria itu sedang berada di dalam mobilnya sambil melakukan hacking melalui laptop.
Tapi, tiba-tiba terdengar suara ledakkan dahsyat melalui earphone yang sedang ia kenakan.
"Sukses besar ..." desisnya.
"Aaaakkkhhhh!!!"
Pada saat yang sama, terdengar juga suara yang sangat tidak asing di telinganya. Suara seperti seorang wanita yang berteriak kesakitan.
Taka mengernyit. "Myra? Apa itu kau?"
Taka mencoba mengonfirmasi suara tersebut dengan bertanya pada rekan satu timnya bernama Myra.
Taka menunggu jawaban sejenak. Tapi tak mendapatkan respon sama sekali dari sang lawan bicara.
"Myra ... hey, jawab aku, bodoh!"
Taka masih berusaha mengkonfirmasi suara tersebut. Tapi masih juga tak mendapatkan hasil apa-apa.
"MYRA!!!"
Taka membentak sembari memegang earphone di telinganya karena tak juga ada respon yang berarti.
"Tch ..." decaknya kesal.
Beberapa saat setelah itu, Taka tampak mengutak-atik laptopnya. Berusaha membuat saluran baru untuknya dan Myra.
"Myra ... kau bisa dengar aku? Myra, tolong di jawab!"
Taka mulai tampak panik karena tak mendengar jawaban apa pun dari gadis bermata hazel tersebut.
BRUUKK ...
Taka memukul dashboard mobilnya cukup kuat.
"Sialan! Pasti ledakan itu membuat Myra celaka!" umpat Taka.
Wajah Taka yang awalnya pucat malah semakin putih akibat imajinasi liar yang melintas di pikirannya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumamnya bertanya.
Taka tampak semakin pucat, dan dia juga semakin panik. Tapi dia berhasil menguasai diri sebelum bom waktu yang ada di dalam dirinya meledak.
Taka menghela nafas panjang. Berusaha memikirkan tindakan apa yang harus dia ambil selanjutnya.
Sekali lagi ia menghela nafas panjang sebelum membenarkan posisi duduknya yang tidak karuan akibat rasa panik.
"Baiklah ... aku akan menjemputnya!" gumamnya menegaskan.
Taka mulai merapikan dirinya dan mengenakan topeng sintetis untuk menyamar. Lalu menyambar ransel yang juga sedang tergelatak di dalam mobil tersebut.
"Tapi, aku harus benar-benar merusak CCTV di sana sebelum bergerak!"
Taka kembali mengutak-atik laptop. Sepertinya ia berniat untuk melakukan apa yang dia katakan sebelumnya.
"Okay ... semua sudah nonaktif. Sekarang tinggal melihat denah tiruan yang sempat kubuat di smartphone,"
Taka memperhatikan smartphonenya. Lalu mengangguk sebelum menaruh alat elektronik itu kedalam saku celana.
"Okay ... Myra, bertahanlah ..." lirihnya.
Setelah keluar dari mobil, pria gondrong itu segera melangkahkan kakinya ke arah pekarangan gedung Fenrir Corps.
Langkah kaki pria itu tampak seperti orang yang sedang terburu-buru. Tapi dia juga harus tetap tenang. Karena tidak artinya dia tergesa-gesa jika misi mereka gagal total.
Saat berada di pekarangan perusahaan tersebut, bersama dengan penyamaran topeng sintetis, Taka melihat smartphonenya untuk membaca denah tiruan gedung Fenrir Corps.
Taka sedikit mengernyit. "Okay, sepertinya ada jalan masuk di belakang."
Taka semakin mempercepat langkahnya untuk memutari gedung tersebut dan mencari sebuah pintu yang bisa menghubungkan dia dengan tangga darurat menuju lantai basement.
Programmer gondrong itu menyeringai setelah melihat sebuah pintu yang dia cari. Lalu menghampiri pintu tersebut, membukanya, dan menutupnya kembali sebelum berjalan menuju lantai basement menggunakan tangga darurat.
Saat sebelum membuka pintu lantai basement, Taka kembali melihat smartphonenya untuk memastikan tata letak B1 lantai basement melalui denah tiruan.
Dia mengangguk sebelum membuka pintu tersebut. Di dalam sana Taka bisa melihat sebuah ruangan yang cukup besar dan sedikit gelap. Aroma gosong pun tercium di hidung Taka bersama asap yang dilihatnya muncul dari arah tangga di tengah ruangan.
Taka mengernyit. "Suasana ini membuatku merinding ... kenapa tak ada seorang pun di sini setelah ledakan yang tadi."
Bersama dengan ucapan itu, secara hati-hati Taka melangkah ke arah tangga, lalu menuruni tangga tersebut secara perlahan dengan siaga tingkat tinggi.
Taka melangkahkan kakinya lagi menuju tangga untuk turun ke B3 lantai basement. Tiba-tiba ...
"Uaaagggh!!!"
Bersama dengan suara itu, Taka bisa melihat dengan jelas, ada seorang pria yang terpental melintasinya secara horizontal menuju arah dinding dengan sangat cepat.
BUUGGHH ...
Setelah menghantam dinding, pria yang terpental itu jatuh tak berdaya di lantai.
Masih dengan siaga, Taka melangkahkan kakinya lagi menuju tangga. Di sana ia melihat ada sosok wanita yang sedang terpincang-pincang sembari memegang pembatas tangga dengan deruan nafas yang tidak teratur.
Wanita itu bertelanjang kaki. Darah juga tampak mengalir di kaki sebelah kirinya. Begitu juga di pangkal lengan wanita itu.
Lirikan wanita itu mengarah ke Taka. Wajahnya memiliki noda hitam seperti arang yang gosong.
Setelah melirik Taka, wanita itu berjalan terpincang dengan tatapan tajam bersama hembusan nafas yang tidak beraturan.
"My-Myra!?" panggil Taka.
Wanita itu terbelalak sembari menghentikan langkahnya.
"Taka ..." ucapnya lirih.
Ternyata wanita itu adalah Myra. Gadis itu sudah babak belur akibat ledakan dan juga serangan dari petugas keamanan Fenrir Corps yang menyusul.
Myra tampak mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu mulai terjatuh lemas di lantai.
Dengan sigap, Taka melompat ke arah Myra untuk menangkap tubuh gadis itu agar tak menghantam lantai yang cukup keras. Lalu membaringkan tubuh molek tersebut di sana.
"Bagaimana bisa kau berakhir seperti ini?"
Taka bertanya dengan nada bicara yang terdengar seperti orang panik.
Myra tersenyum kecut. "Aku lengah ..."
"Maaf ... sepertinya ledakan itu terlalu kuat,"
Taka meminta maaf pada teman satu timnya itu sembari menggigit bibir bawahnya.
Tangan Myra yang tampak sedikit bergetar menyentuh pipi maskulin Taka yang masih dalam penyamaran. Lalu gadis itu menggeleng sembari tersenyum.
"Tidak ... akulah yang salah ... aku salah perhitungan tadi ..."
Taka hanya diam. Tapi linangan air mata sudah membasahi pipinya di sana.
Myra mengangkat alisnya sebelah lalu berusaha memukul kepala Taka sekeras yang ia bisa.
"Dari pada menangis ... cepat berikan aku pertolongan!" cibirnya.
Taka terbelalak. "Maaf ... aku lupa!"
"Bodoh!" balas Myra.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Taka segera mengambil dua buah alat suntik berisi cairan warna hijau. Sepertinya itu adalah obat penahan rasa sakit buatan Nana.
"Tahan, ya?" kata Taka memperingatkan.
Myra hanya menganggukkan kepala sembari menutup mata lentiknya dengan paksa.
Taka memberikan dua suntikan di tubuh Myra. Satu di dekat luka kakinya, satu lagi di lengannya.
Dari ekspresi Myra, sepertinya obat itu memiliki efek samping berupa rasa nyeri. Tapi, setelah sepuluh detik, darah yang perlahan merembes keluar dari luka Myra, berhenti seketika.
Pada saat yang sama, ekspresi Myra pun tampak lebih tenang. Begitu juga dengan hembusan nafas gadis itu yang perlahan mulai stabil.
"Sekarang ayo pulang dan gendong aku!" rengek Myra.
●●
Entah kapan dan bagaimana caranya, kedua sosok orang yang sering sekali bertengkar itu sudah keluar dari gedung Fenrir Corps.
Tapi mereka tidak menuju ke tempat mobil Taka parkir. Melainkan berjalan di sebuah gang yang sangat sepi dengan penyamaran yang sudah dihilangkan sepenuhnya.
Sepertinya, yang berjalan di sana hanyalah Taka seorang. Sedangkan Myra, sedang asyik menikmati gendongan sang programmer gondrong di belakang punggung pria tersebut.
"Kenapa kita lewat sini?"
Myra bertanya pada Taka di atas gendongan.
"Kalau kita pergi menuju mobil, polisi akan menginterogasi kita nanti," jawab Taka.
"Tapi apa jadinya kalau kita bertemu Rikka di sana, ya?" kata Myra menduga-duga.
"Pasti sangat merepotkan!" balas Taka masih berjalan sembari menggendong sahabatnya.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan misi kita?"
Myra masih bertanya sembari menunggangi Taka layaknya seekor kuda.
"Sukses besar, tapi dengan sedikit masalah!" jawab Taka.
Myra mengernyit. "Masalah?"
"Aku lupa meletakkan petunjuk yang mengarah ke Thousand Face Reaper," ungkap Taka.
"Memangnya itu perlu?"
Dengan entengnya Myra bertanya seperti seorang anak kecil.
"Tentu saja itu perlu!" cibir Taka.
"Tapi tak perlu khawatir ... petugas yang kusiksa tadi mengenaliku sebagai Thousand Face Reaper!" ungkap Myra dengan bangga.
Dahi Taka tampak berkerut karena tidak yakin dengan pernyataan sahabatnya.
"Kau yakin?"
Myra mengangguk. "Mereka sendiri yang bilang saat kami bertarung!"
Taka menghela nafas. "Syukurlah..."
"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa terluka separah itu?"
Taka mulai mengajukan pertanyaan pada rekan satu timnya yang bermata hazel tersebut.
Myra mengeratkan rangkulannya di leher Taka sebelum menjawab. tapi dalam batasan tertentu supaya sahabat gondrongnya itu tidak tercekik.
"Sewaktu kau meledakkan bom itu, ada serpihan besar yang terbuat dari besi terbang ke arahku ..." kata Myra.
"... awalnya aku tidak melihat benda itu. Tapi tiba-tiba saja, benda itu sudah menerjang lenganku." lanjutnya menjelaskan.
Taka hanya diam dengan tatapan sendu sembari berjalan pelan keluar dari gang dan menuju ke jalur pejalan kaki yang tampak sangat sepi.
"Aku ikut terpental dan menghantam dinding akibat terjangan benda itu. Lalu, benda yang berikutnya juga terbang ke arahku dan melukai kakiku yang sebelah kiri," lanjut Myra masih menjelaskan.
Taka menundukkan kepala dan menghentikan langkah kakinya tiba-tiba.
"Maaf!" ucapnya.
Myra mengernyit lalu mencondongkan kepalanya tepat di sebelah pipi Taka yang sebelah kanan.
"Untuk apa?"
"Gara-gara aku ... kau jadi terluka parah seperti sekarang," jawab Taka.
"Aku rasa ini sudah menjadi risiko kita sebagai anggota Goblin's yang hebat!" tegas Myra.
Taka hanya diam masih menundukkan kepalanya sembari berdiri di sana.
Kemudian Myra tersenyum sambil mengelus kepala Taka dengan lembut.
"Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu, bukankah sudah kubilang tadi? karena aku yang lengah, semua ini terjadi?"
"Tapi ... ini terjadi karena aku yang sembarangan saja meledakkan benda itu di sana!" balas Taka.
Myra mulai kesal, lalu memukul kepala gondrong Taka menggunakan telapak tangannya.
"Hey, kuda Taka! Cepat jalan!"
Bukannya memberikan respon, Myra malah menggoyang-goyangkan tubuh Taka seperti sebuah mainan kuda-kudaan.
Taka hanya bisa pasrah dan menuruti perintah sahabatnya yang bernama Myra itu.
Myra mencondongkan kepalanya ke telinga Taka, lalu berbisik di sana.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku ..."
Taka sedikit melirik ke belakang sembari berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Dan terima kasih, sudah memberanikan diri untuk menjemputku ..." bisik Myra lagi.
Taka tersenyum. "Aku bukan pengecut yang tega membiarkan seorang wanita cantik sedang terluka di sana!"
"Jadi ... kau akhirnya mengakui, kalau aku ini cantik?"
Myra bertanya untuk memastikan dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Untuk kali ini saja, aku akan menjawab dengan, ya!" tegas Taka.
"Bo-bodoh!" umpat Myra tersipu.
Mereka melanjutkan perjalanannya menuju markas dengan terdiam. Suasana pun menjadi hening sejenak.
Tampaknya Myra yang tidak tahan dengan suasana tersebut, lalu ia pun mulai buka suara.
"Hey, Taka ..."
"Hm?" sahut Taka.
"Aku masih menunggu kencan yang kau janjikan!" balas Myra.
Taka cengo tapi tersenyum setelahnya. Ada rasa bersyukur di dalam hatinya karena sikap Myra tidak berubah sama sekali, walaupun gadis itu sedang terluka.
"Baiklah ... aku akan mengajakmu kencan ke mana pun kau inginkan!" tegas Taka.
"Benarkah?" Myra memastikan.
Taka mengangguk. "Tentu!"
"Oke, kalau begitu aku ingin pergi ke Disney Land Jepang, lalu pergi ke Florance Italy, kemudian belanja di Paris, setelah itu makan di restoran bintang 5 di Perancis ..."
"Kau ingin membuatku bangkrut? Lagi pula, itu bukan kencan namanya! Tapi bulan madu!" cerocos Taka.
Myra tersenyum, lalu kembali mengeratkan rangkulannya di leher Taka.
"Apa bedanya?"
"Tentu saja beda! Bulan madu itu khusus untuk orang yang sudah menikah!" sangkal Taka.
Myra terdiam, wajahnya yang sedang di letakkan di belakang kepala Taka tampak memerah seperti lobster yang sudah siap untuk di santap.
"Be-begitu ya?" balas Myra terbata.
Sepertinya Myra mulai menyadari semua ucapannya menjurus ke arah mana. Sehingga ia terjebak dan malu akibat perkataannya sendiri.
"Bo-bodoh!" cibir Taka.
Tidak hanya Myra yang merasakan hal seperti itu. Taka juga salah tingkah sendiri karena ucapannya barusan. Wajahnya ikut memerah seperti kepiting rebus.
JEPRET ...
Suara kamera terdengar di telinga mereka berdua.
Taka dan Myra pun melihat ke arah sumber suara yang ada di depan mereka.
"Aku berhasil mengabadikan momen indah ini!"
Seorang wanita yang berpakaian eksentrik tersenyum menggoda setelah berhasil mengambil gambar menggunakan ponselnya.
"Mesra sekali sepasang burung merpati ini ...”
Wanita berwajah oriental yang memiliki mata seindah giok mengucapkan kalimat pengandaian.
"Sejak kapan kalian berpacaran?"
Gadis mungil berkucir dua bertanya sembari menutup mulutnya dengan tangan bersama rona merah yang menghiasi wajahnya.
"Tch ..."
Taka mendecak kesal tapi hanya bisa pasrah dengan keadaan yang di alaminya sekarang.
"Ka-kawa, Nana, Syndi?" ujar Myra terbata masih dengan wajah yang memerah.
"Hai..." balas Nana sambil melambaikan tangan.
Syndi hanya tersenyum dengan mata yang sedikit menyipit. Begitu juga dengan Kawa, ia masih tersenyum sambil menutup mulutnya dan melambaikan tangan dengan sebelah tangan yang lain.
Myra tertunduk setelah menghela nafas. Tiba-tiba aura kegelapan menyelimuti tubuhnya yang berada di gendongan Taka.
"Hapus foto itu ..." desisnya.
Taka yang mendengar suaranya saja, sudah bisa memastikan bagaimana ekspresi Myra sekarang. Alhasil, pria gondrong itu hanya bisa menelan ludah dengan wajah pucat yang semakin tampak pucat.
"Bye-bye~ ..."
Bukannya menjawab, Nana malah melenggang dan beranjak meninggalkan sepasang burung merpati yang sedang bergendongan itu dengan santainya. Begitu juga dengan Kawa dan Syndi, mereka melakukan hal yang sama seperti Nana.
Myra cengo seketika. "He-hey ..."
Sementara Taka hanya bisa diam dan pasrah dengan takdir yang harus dialaminya sekarang.
"TAKA, BODOH! CEPAT KEJAR MEREKA!?"
Myra menggeram sembari menggoyang-goyangkan tubuh Taka seperti seekor kuda yang sesungguhnya. Padahal kondisi wanita itu bisa dikatakan sangat parah.
"Haaaaa~h ..."
Sekali lagi, Taka cuma bisa menghela nafas pasrah akan takdir hidup yang harus di laluinya.
-----
Jangan Lupa untuk LIKE, VOTE DAN COMMENT ya
__ADS_1
Thank you...😊😊😊