
Rikka tampak sedang berjalan di sebuah ruangan besar yang mirip dengan aula teater, sepertinya ia hendak menghampiri seseorang disana. Seorang wanita bermata sayu bernama Shasha
Kelihatannya Shasha sedang melakukan pendataan terhadap barang lelang, atau orang lebih tepatnya, yang sedang berbaris di atas panggung bersama sindikat yang bersangkutan.
"Bagaimana, Shasha?" Rikka bertanya.
"Sepertinya barang le-ehem ... sebagian besar dari korban pelelangan malam ini adalah mantan kriminal kelas teri, Bu Rikka,"
Rikka mengernyit. "Mantan?"
Shasha mengangguk. "Rata-rata dari mereka pernah melakukan tindak kriminal, seperti pencurian di sebuah supermarket!"
"Lalu?"
"Mereka tidak di bawa ke kantor polisi. Melainkan di jual kepada sindikat Human Trafficking dan dianggap sebagai ikan penghasil emas,"
"Dunia ini kejam sekali ... kalau begitu, apa gunanya polisi?' ucap Rikka tertegun.
"Bagaimana dengan ketiga anak ini?" sambung Rikka sambil menunjuk ke sampingnya.
Shasha menoleh, lalu mengangguk. "Sebentar."
Setelah itu, Shasha menggiring ketiga orang titipan Aldo tersebut untuk di data ulang dan dicari tahu informasinya. Shasha tampak sedang mengintrogasi mereka sambil menghadap ke sebuah laptop.
Selang beberapa menit, Shasha kembali menghampiri Rikka yang sedang menunggu.
"Untuk anak bernama Leon dan Elli, mereka bersih. Tapi untuk gadis bernama Eriya ..." kata Shasha sedikit ragu.
"Kenapa dia?"
"Bisa kita berbicara di tempat yang lebih privasi, Bu Rikka?"
Wanita kepala intelijen tersebut mengangguk dan berjalan bersama Shasha menuju tempat yang sepi di dekat sana. Sedangkan ketiga anak yang dititipkan Aldo tidak ikut dan diminta untuk menunggu di tempat mereka berdiri sebelumnya.
"Ada apa, Shasha?" tanya Rikka penasaran.
"Ini tentang gadis bernama Eriya itu, Bu Rikka,"
"Ada masalah dengannya, kenapa harus rahasia?"
"Ini bisa dibilang rahasia," ujar Shasha lalu melirik ke sana kemari memastikan tidak ada orang lain di sana.
"Apa kau pernah mendengar sebuah kasus bernama Eksperimen Homunculus?"
Rikka mengernyit. "Aku pernah mendengar rumornya sewaktu aku masih menjadi agen rahasia."
"Sudah kuduga, karena kasus itu sudah di tutup sejak 15 tahun yang lalu!"
"Lalu?" tanya Rikka lagi.
"Sepertinya gadis bernama Eriya itu ada hubungannya dengan Kasus Eksperimen Homunculus."
"Jadi dia itu manusia buatan?"
Shasha menggeleng. "Tidak, bukan itu maksudku ..."
"Aku semakin tidak mengerti."
"Eksperimen Homunculus bukanlah semata-mata sebuah eksperimen yang menciptakan seorang manusia tanpa adanya sistem reproduksi ..."
"Tapi rumor yang kudengar tentang kasus itu adalah, sebuah eksperimen yang menciptakan manusia dengan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk senjata militer."
Shasha kembali menggeleng. "Apa ada di dunia ini yang bisa menciptakan manusia tanpa adanya sistem reproduksi selain Tuhan?"
"Lalu?" Rikka ikut menggeleng.
"Aku pernah membacanya di arsip rahasia kepolisian ... tujuan sebenarnya eksperimen itu adalah untuk membuat bayi manusia yang dipelihara agar menjadi manusia yang memiliki talenta di atas rata-rata..."
"... contohnya, manusia yang bisa berlari sejauh puluhan kilometer tanpa lelah sedikit pun."
"Bisa kau jelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti?!" cerocos Rikka karena tak mengerti sama sekali.
Shasha menghela nafas. "Intinya, Eksperimen Homunculus adalah eksperimen untuk memodifikasi manusia!"
Rikka sedikit tersentak. "Berarti, rumor yang kudengar tidak sepenuhnya salah."
"Sepertinya begitu. Hanya saja ... sekali lagi kukatakan, Eksperimen itu bukan menciptakan manusia tanpa adanya sistem reproduksi. Melainkan, memodifikasi manusia dimulai dari mereka masih bayi melalui tahap-tahap tertentu!" tegas Shasha menjelaskan.
"Apa itu juga di jelaskan di arsip rahasia?"
Shasha mengangguk. "Benar!"
"Bayi siapa yang mereka pakai?"
"Arsip rahasia mengatakan bahwa mereka mengumpulkan dan menggunakan bayi yang di buang oleh orang tuanya dari segala penjuru dunia. Biasanya bayi yang dilahirkan oleh prostitusi."
Rikka memegang dagunya seolah mengerti sambil bergumam beberapa kali.
"Bukankah lebih cocok jika eksperimen itu di beri nama ekperimen manusia modifikasi atau sesuatu seperti itu?"
"Sepertinya mereka menggunakan kata Homunculus untuk menghindari kecurigaan dunia."
"Bukankah kata Homunculus saja sudah terdengar mencurigakan?" sangkal Rikka.
"Setidaknya Homunculus masih bisa menjadi tabir untuk menutupi eksperimen mereka yang dianggap tabu dan bertentangan dengan Hak Asasi Manusia."
"Shasha, tolong ... aku semakin tidak mengerti!" komplain Rikka yang semakin bingung.
Shasha kembali menghela nafas. "Baik ... akan kujelaskan. Jadi tolong dengarkan ..."
Rikka hanya menganggukkan kepalanya seperti anak kecil.
"... Homunculus dan Eksperimen Homunculus itu berbeda ... Homunculus adalah sebuah hasil dari penelitian para ahli alkimia untuk membuat model tubuh manusia dengan skala yang jauh lebih kecil dari ukuran aslinya. Tujuannya adalah untuk mengilustrasikan ilmu Fisiologi dan juga Psikologi. Sehingga dunia masih menerima visi dan misi dari para ahli alkimia tersebut ..."
"... sedangkan Eksperimen Homunculus Adalah sebuah eksperimen untuk memodifikasi tubuh manusia sejak manusia itu masih bayi supaya manusia itu bisa berkembang menjadi seorang manusia yan memiliki talenta diatas rata-rata agar bisa dijadikan senjata militer suatu saat nanti..."
"... nah, berdasarkan konsep ini. Dunia menganggap itu sesuatu yang tabu karena melanggar Hak Asasi Manusia itu sendiri, walaupun mereka masih bayi. Alhasil, agar eksperimen mereka terus berjalan, para pencetusnya menggunakan nama Homunculus sebagai kedok untuk menyembunyikan penelitian mereka ..."
"... tapi, lima belas tahun yang lalu. Ada seseorang yang berhasil mengungkap dan membuka tabirnya hingga dunia pun mengetahuinya. Dan sejak itu, Eksperimen Homunculus resmi ditutup!" jelas Shasha panjang dan lebar.
"Apa itu juga ditulis di arsip rahasia?"
"Benar."
"Kalau begitu, apa nama eksperimen mereka sebelum menggunakan nama Homunculus?" Rikka nampak tertarik.
"Entahlah ... tidak dijelaskan di arsip rahasia."
"Siapa yang mengungkap kasus itu?" Rikka tampak semakin penasaran.
"Di arsip rahasia juga tidak menjelaskan tentang orang tersebut. Yang pasti orang itu bekerja sama dengan petinggi dunia sebagai mata-mata." balas Shasha menjelaskan lagi.
"Haaah ... sepertinya aku masih harus banyak belajar," keluh Rikka.
"Tidak juga, Bu Rikka ... lagi pula kasus itu sudah lama ditutup."
"Lalu ... apa gadis itu juga memiliki talenta khusus?" tanya Rikka dengan pandangan yang mengarah ke Eriya.
Shasha menggelengkan kepalanya. "Aku rasa dia produk gagal."
"Apa maksudmu dengan produk gagal?"
"Arsip rahasia juga menjelaskan bahwa terdapat banyak manusia yang gagal dimodifikasi."
"Lanjutkan!" perintah Rikka.
"Manusia yang gagal dimodifikasi adalah subjek eksperimen yang tidak memiliki bakat khusus. Biasanya, mereka akan mati setelah menimbulkan gejala khusus semasa karantina mereka. Namun, ada juga yang beruntung tetap hidup sampai tua tapi akan memiliki kecacatan seperti buta, bisu-tuli, ataupun cacat mental seperti autis ..."
"... sedangkan manusia yang berhasil dimodifikasi akan beradaptasi dengan serum yang diberikan pada mereka semasa karantina. Sehingga hasil adaptasi tersebut akan mendongkrak bakat atau talenta yang mereka miliki hingga di atas rata-rata. Biasanya bakat mereka akan berhubungan dengan kekuatan fisik atau kepintaran otak."
"Tapi aku tak bisa melihat ada kecacatan pada gadis bernama Eriya itu," ucap Rikka berargumen.
"Di sinilah sisi menariknya, Bu Rikka ..." kata Shasha kembali menjelaskan.
"Walaupun dia mungkin termasuk produk gagal. Tapi, menurutku dia itu termasuk produk yang sempurna."
"Jaga ucapanmu, dia juga manusia!" umpat Rikka.
"Maaf."
Rikka menganggukkan kepalanya. "Lanjutkan!"
"Aku rasa, Eriya itu berhasil beradaptasi tapi dari sisi yang berbeda."
"Berbeda?"
"Ada sedikit penjelasan yang aku rasa agak rancu, tapi masuk akal. Yaitu, disetiap satu banding seribu, terdapat beberapa subjek eksperimen yang bisa beradaptasi tanpa mendongkrak bakat terpendamnya."
Rikka hanya memandang asistennya untuk melanjutkan penjelasan.
"Nah disini, penjelasan dari arsip rahasia tidak begitu jelas, Bu Rikka!"
"Maksudmu?" kata Rikka semakin mengerutkan dahinya.
"Penjelasannya, subjek tersebut akan mengalami perubahan fisik secara signifikan, maksudku perubahan dari segi visual. Pokoknya sesuatu yang mendekati kata sempurna!" tegas Shasha.
"Perubahan visual secara signifikan? Sempurna? Bukankah itu sebuah keberhasilan?"
"Berarti anggapan kita sama ... menurutku, alasan gadis bernama Eriya bisa memiliki bentuk fisik yang sangat indah seperti itu karena hasil dari adaptasinya ..."
" ... kalau boleh ku katakan, dia itu seperti makhluk hidup dari dunia fantasi. Tapi sayang, aku lupa apa namanya."
"Elf?" cetus Rikka.
"Benar. Itu dia!" seru Shasha bersemangat.
"Lalu, dari mana kau tahu kalau dia itu ada hubungannya dengan kasus tersebut?"
"Saat aku membuka data base tentang informasi individu di negara ini, dan mencari informasi tentangnya barusan, aku malah di arahkan ke kasus Eksperimen Homunculus."
"Berarti dia memang hasil dari eksperimen aneh itu!"
"Kurasa memang begitu," balas Shasha mengangguk.
"Tapi kenapa dia dibilang produk gagal?"
Rikka tampak menekan dahinya berulang-ulang menggunakan jempol seperti seorang ilmuan yang sedang berfikir keras.
"Kemungkinannya hanya satu. Yaitu, dia tidak memenuhi ekspektasi dari Eksperimen Homunculus yang hanya mengincar bakat terpendam saja!" tegas Shasha kembali menjelaskan.
"Benar juga ... bakat yang bisa digunakan sebagai senjata militer," desis Rikka.
"Tapi ini masih spesikulasiku berdasarkan arsip saja. Kebenarannya siapa yang tahu?" respon Shasha sambil mengangkat kedua bahunya.
Tiba-tiba terdengar suara melalui earphone milik Rikka.
"Maaf, Bu Rikka ... aku gagal menangkap Thousand Face Reaper."
"Tidak masalah, William. Kembalilah ke sini!" perintah Rikka.
"Roger!"
Setelah menutup sambungan earphone, Rikka melihat salah satu anggota dari Tim Alpha yaitu Gio datang menghampirinya.
"Mayat Hugo sudah diamankan, Bu Rikka," kata Gio.
"Bagus ... segera bereskan semuanya dan kembali ke markas!"
"Siap!" balas Gio lalu pergi meninggalkan atasannya.
"Bu Rikka, bagaimana dengan nasib korban pelelangan?" Shasha bertanya.
"Benar juga ..." ujar Rikka sembari berfikir.
"Untuk kategori kriminal, bawa mereka ke tempat karantina. Untuk kategori Clear, bawa mereka ke shelter. Aku akan mengajukan proposal ke petinggi negara untuk mempekerjakan mereka sesuai kemampuan masing-masing ... Khusus untuk anak-anak, masukkan mereka ke panti asuhan!"
"Siap, Bu Rikka!" seru Shasha dengan lantang dan beranjak pergi.
"Oh iya, Shasha ..."
"Ya?" Shasha menoleh.
__ADS_1
"Khusus untuk Eriya, aku akan membawanya pulang!"
Shasha memiringkan kepalanya. "Kenapa, kalau saya boleh tahu?"
"Dia itu hasil eksperimen, apa kau lupa?"
"Benar juga ... setidaknya dia harus dilindungi dari mata pemerintahan."
Rikka mengangguk. "Karena itu, aku ingin memberikannya kehidupan yang layak."
Shasha tersenyum dan tampak terharu mendengar pernyataan atasannya.
"Anda sangat baik hati, Bu Rikka."
"Se-setidaknya itu yang bisa ku lakukan sebagai kepala intelijen kepolisian!" balas Rikka tampak malu-malu.
"Tapi ..."
Tiba-tiba Shasha ingin memberikan argumen miliknya.
"Tapi apa?" tanya Rikka bingung.
"Jika hanya orang yang paling mencolok saja yang anda bawa, bukankah itu akan sangat mencurigakan?"
"Benar juga."
"Bagaimana kalau anda juga membawa Leon dan Elli?" cetus Shasha.
Rikka berfikir sejenak dengan dahi yang sengaja dikerutkan olehnya.
"Tambahan dua orang, ya?"
"Aku sih tidak masalah. Tapi ... bagaimana caranya aku menjelaskan ini kepada Aldo?" lanjut Rikka tampak bingung.
Shasha menepuk pelan pundak atasannya lalu tersenyum seperti menyemangati.
"Berjuanglah, Bu Rikka!" kata Shasha sebelum pergi membereskan peralatannya.
Rikka pun mendengus pasrah kemudian berjalan ke arah William yang baru saja sampai. Tiba-tiba wanita bermata onix itu melihat sosok Bobby sedang berdiri bersama Jack. Ia pun menghapiri mereka dan diikuti oleh William dari belakang.
"Tidak buruk!" ujar Rikka setelah berada ditempat Bobby dan Jack.
Jack tersenyum puas, sementara Bobby tak bersuara namun menganggukkan kepalanya.
"Tingkatkan kinerja kalian di masa depan!"
"Siap, Bu Rikka!" balas Jack lantang.
Mungkin Bobby masih merasa kesal dengan atasannya, sehingga pria gendut itu tidak merespon sedikitpun.
"Bagaimana menurutmu, William?"
Rikka mulai melemparkan pertanyaan kepada pemimpin Tim Alpha sambil berjalan meninggalkan Bobby dan juga Jack.
Merasa mengerti maksud atasannya, William tampak seperti orang yang menyesal. Kemudian menundukkan kepalanya.
"Sesuai rumor yang beredar. Dia benar-benar diluar jangkauan, Bu Rikka."
Rikka tersenyum kecut. "Benarkah?"
"Aku bahkan sempat berfikir, bagaimana caramu bisa melakukan kontak fisik dengan orang seperti itu?"
"Karena itu, Thousand Face Reaper tidaklah di luar jangkauan. Hanya saja, perlu sebuah taktik untuk mendekatinya," kata Rikka menjelaskan.
"Taktik ... ya?" lirih William.
"Baiklah ... segera bersiap-siap, kita kembali ke markas!"
"Siap!"
Rikka menyentuh earphone, sepertinya dia ingin menghubungi semua anak buahnya.
"Kepada semua tim, terima kasih atas kerja sama kalian. Bersiap-siaplah, Kita akan segera kembali ke markas!"
"Roger!!!"
Kemudian Rikka menghampiri Leon, Elli dan Eriya.
"Kalian bertiga, ikutlah denganku," ajak Rikka dan direspon dengan angukkan.
Membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk Rikka beserta timnya kembali ke markas. Setelah itu, Ia pun segera menyelesaikan tugas yang harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum wanita berkepala indigo tersebut memutuskan untuk pulang bersama Leon, Eriya, dan Elli.
Mereka tampak berjalan menuju ke arah sebuah bangunan tinggi dimana Rikka memarkirkan mobil kesayangannya.
Setelah sampai disana Rikka pun tersadar, lalu memasang wajah bingung. Dia berfikir bagaimana caranya mereka berempat bisa muat untuk masuk kedalam mobil tersebut. Karena, mobil eksotis miliknya hanya berkapasitas untuk dua orang dewasa saja.
"Apa kalian tidak masalah jika duduk berhimpitan?" tanya Rikka memastikan.
Leon, Elli, dan Eriya menjawab dengan anggukkan kepala secara serentak.
"Baiklah kalau begitu ... ayo masuk!"
Merasa sudah nyaman di dalam, Rikka pun mulai menjalankan mobilnya dari tempat tersebut menuju ke rumah dimana sang suami sudah menunggu dengan setia.
Posisi di dalam mobil yang sedang Rikka kendarai terlihat sedikit menarik. Di bangku penumpang, tampak Eriya sedang duduk berhimpitan bersama Leon. Sedangkan Elli duduk menyamping di atas pangkuan Rikka yang sedang mengemudi.
Untunglah tubuh Elli berukuran mungil, sehingga Rikka tidak begitu merasa terganggu saat mengemudikan mobilnya.
Maklum, mobil kesayangan Rikka tidak di desain untuk empat orang. Jadi mereka harus bersabar hingga sampai ke tempat tujuan.
"Anda wangi sekali, Nona!" ujar Elli dengan senyuman.
Sepertinya Aroma parfum milik Rikka keluar dan menggelitik hidung semua orang yang berada di dekatnya, terutama Elli.
"Benar!" kata Leon yang sedang mengendus ke segela arah.
Eriya tampak diam saja, tapi terlihat dengan jelas kalau dia juga sedang menikmati aroma manis dari parfum tersebut.
"Te-terima kasih," balas Rikka dengan wajah merona.
"Oh iya, kita belum berkenalan. Namaku Rikka, siapa nama kalian?" tanya Rikka ramah.
"Aku Elli."
"Saya Eriya."
"Salam kenal, semuanya!" balas Rikka masih ramah.
"Salam kenal, Nona Rikka!" respon ketiganya serentak.
"Jangan terlalu formal."
"Ibu Rikka?" Sela Leon.
"A-aku belum setua itu untuk dipanggil ibu," sangkal Rikka dengan senyuman kikuk.
"Nyonya Rikka?" Kata Elli.
"Nyonya ..." Rikka berpikir sejenak.
"Tidak tidak ... aku bukan majikan kalian!" sangkalnya lagi.
"Bagaimana kalau, kakak Rikka?" cetus Eriya.
Mendengarnya, wajah Rikka mendadak sumringah. Seperti ada sesuatu yang menggelitik di hatinya ketika mendengar kata itu.
"Bisa kau ulangi?" pinta Rikka.
"Kakak Rikka~!!" Leon dan Elli berseru dengan semangatnya.
Rikka pun semakin mengembangkan senyumannya melihat tingkah kedua bocah tersebut. Entah kenapa, Rikka sangat senang sekarang. Seperti seseorang yang baru saja mendapatkan jackpot.
Maklum saja, Rikka adalah anak tunggal. Dan tiba-tiba saja, dia menemukan tiga sosok yang memanggilnya dengan sebutan kakak.
Apa lagi ketiganya akan selalu bersama Rikka di masa depan. Pastinya, ia akan merasa sangat senang dengan kehadiran tiga sosok yang akan di panggilnya dengan sebutan, adik.
"Mulai sekarang dan seterusnya, kalian bisa hidup tenang bersamaku dan suamiku. Jadi tolong, jangan kecewakan aku, ya?" ujar Rikka dengan senyuman.
"Terima kasih, Kakak Rikka!" balas ketiganya serentak.
Rikka hanya bisa mengembangkan senyuman manisnya untuk yang kesekian kali.
"Ok ... Sebentar lagi kita akan segera sampai dirumah. Tapi, sebelum itu kalian harus berjanji padaku."
"Apa itu?" tanya ketiganya.
"Jangan pernah mengatakan pada suamiku kalau aku adalah seorang polisi!" tegas Rikka mengingatkan.
"Oh iya, Kakak sudah menikah?" tanya Eriya.
Rikka mengangguk. "Sudah, dan suamiku itu sedikit cerewet. Jadi tolong, jangan mengatakan hal yang tidak perlu, ok?"
"Ok!" seru Leon.
"Baik," balas Eriya
Sedangkan Elli malah memberikan kode dengan menarik resleting tak terlihat di mulutnya. Seolah mengatakan, 'mulutku telah terkunci'. Tapi entah kenapa, Rikka malah semakin gemas melihatnya.
Tak lama kemudian. Sampailah mereka di sebuah rumah bergaya minimalis namun tampak apik dan mewah walaupun tidak terlalu besar. Tepatnya rumah milik Aldo yang juga menjadi rumah Rikka sekarang.
Saat di depan pintu gerbang, Rikka menekan tombol sebuah remot yang ada di dalam mobilnya. Bersamaan dengan itu, pintu gerbang pun terbuka. Lalu menutup kembali setelah Rikka dan mobil beserta ketiga adik barunya berada di dalam.
Merasa yakin telah memarkirkan mobilnya dengan rapi, Rikka turun bersama Elli, Eriya, dan Leon. Lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
Telinga Rikka mendengar suara TV di ruang keluarga dengan cukup jelas. Sepertinya Aldo belum tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 00:21 a.m.
"Kau belum tidur?"
Rikka menyapa suaminya melalui ambang pintu ruang keluarga dengan pose yang bisa dibilang menggoda. Tapi itu tidak disadari oleh si empunya sendiri.
Melihat sang istri sedang berpose, Aldo menghentikan aktivitasnya seketika. Yaitu menyeruput secangkir teh yang masih melekat di bibirnya.
"Kau ingin merayuku?" kata Aldo dengan seringaian.
"Apa maksudmu?" tanya Rikka bingung.
Perlahan Aldo beranjak dari kursinya, lalu menghampiri Rikka yang terlihat sedang bingung.
"Posemu ini untuk apa, kalau bukan untuk merayuku, hah?"
Aldo pun menjawab istrinya tepat di telinga dengan bisikkan yang tak kalah menggoda.
"Bo-bodoh!"
Tiba-tiba, tanpa adanya aba-aba sedikitpun. Secara satu persatu bermunculan kepala tiga sosok orang di belakang tubuh Rikka.
Kepala yang pertama adalah milik Leon, lalu disusul di tempat kedua ada kepala milik Elli, dan ditempat ketiga adalah kepala milik Eriya.
"Apa-apaan ini ... Rikka?"
Dengan wajah datar Aldo bertanya pada Rikka dan berharap kalau istrinya itu mau menjelaskan dengan sejelas-sejalasnya alasan ia membawa orang asing masuk ke dalam rumah.
"Hehehe ... "
Bukannya menjawab, Rikka malah cengengesan di depan wajah suaminya yang sedang bertanya.
"A-aku pulang?"
"Salammu terlambat!" balas Aldo ketus.
"Maaf?" Rikka tersenyum.
"Jangan minta maaf dengan wajah seperti itu!"
Rikka sudah tak bisa berkutik lagi. Sekarang ia harus segera memaksa otaknya untuk berfikir keras dan menemukan alasan terbaik supaya bisa membuat Aldo menerima penjelasan darinya.
"Siapa mereka?" tanya Aldo sambil bersedekap.
"Mereka itu ... mereka ..." jawab Rikka bingung.
"Mereka?" Aldo menekankan.
__ADS_1
"Mereka itu anak ... mereka anak ..."
"Jadi kau sudah punya anak sebelum kita menikah?" cetus Aldo asal.
"Bu-bukaaaan!!" pekik Rikka.
"Lalu?"
"Intinya ... mari kita duduk dan berbicara dengan kepala dingin,"
Aldo merespon hanya dengan sebelah alis yang terangkat. Lalu mereka semua beranjak ke ruang keluarga dan duduk di sana dengan rapi.
Aldo tampak duduk di sofa satu dudukkan berwarna cream. Sedangkan Rikka dan lainnya duduk berbaris di sofa panjang dengan warna yang senada.
Aldo masih terlihat bersedekap dengan gagahnya. Ia melihat ke arah empat orang yang ada di depan mata coklatnya dengan tatapan tegas. Seperti seorang ayah yang siap memarahi anak-anaknya.
"Bisa kau jelaskan sekarang?" tanya Aldo.
Rikka mengangguk lalu menarik nafas sedalam-dalamnya sambil sedikit menepuk pipi mulusnya dengan kedua tangan.
"Baik ... Aldo, mereka adalah Eriya, Elli, dan Leon. Mereka adalah anak yang berhasil melarikan diri dari tindakan Human Traficking dan berakhir bertemu denganku di jalan!" tegas Rikka berbohong.
Aldo mengernyit. "Human Trafficking?"
Rikka mengangguk lagi. "Awalnya aku ingin membawa mereka ke kantor polisi atau panti asuhan. Tapi ..."
"Tapi?"
"Apa kau tega melihat anak semanis ini di telantarkan begitu saja?" ucap Rikka sambil memeluk Elli.
Aldo semakin mengkerutkan dahinya. "Ok, aku mengerti kalau dia manis. Bagaimana dengan mereka berdua?"
Aldo menunjuk sosok Eriya yang cantik dan Leon yang terlihat bingung.
"Mereka ... mereka adalah kakak-kakaknya Elli!" Sekali lagi Rikka berbohong.
"Tunggu dulu tunggu ... kalau dia bernama Elli, berarti gadis cantik di sebelahmu itu, Eriya?" ujar Aldo sambil menunjuk.
Eriya merespon dengan anggukkan yang terlihat sangat anggun.
"Dan setan kecil ini pasti Leon!"
"Aku memang Leon, tapi aku bukan setan, Tuan!" balas Leon polos.
Aldo sweatdrop. "Tuan?"
Kemudian pria berkacamata itu menyipitkan matanya dengan sengaja ke arah Rikka.
"Tapi entah kenapa ... aku merasa kalau istriku sedang berbohong," ujar Aldo tepat sasaran.
Rikka sedikit terbelalak karena kebohongannya bisa terlihat dengan mudah, sementara Aldo tampak menyeringaikan mulutnya walaupun sedikit.
"A-aku tidak berbohong!"
"Benarkah~?" tanya Aldo sengaja ditekan.
"Be-benar, aku tidak berbohong!"
"Benarkah kau benar tidak berbohong?"
"Aku benar-benar tidak berbohong!"
"Benarkah kau benar-benar tidak berbohong?"
Elli dan Leon menoleh ke arah pasangan suami istri itu secara bergantian dengan wajah bingung. Sedangkan Eriya malah tertawa kecil.
Rikka menghela nafas. "Cukup ... Aldo, kumohon izinkan mereka tinggal bersama kita?"
Rikka memohon dengan kedua tangan yang di satukan di depan wajahnya, lalu memasang wajah memelas seperti anak kucing.
Lengan Aldo masih disedekapkan di dadanya sambil memejamkan mata seolah berfikir keras akan sesuatu.
Kemudian pria berkepala coklat itu berdiri sambil menghentakkan kakinya di lantai hingga menimbulkan suara 'BUM'. Tapi masih dengan tangan yang bersedekap.
"Aldo ..." kata Rikka pasrah.
Aldo mendengus. "Baiklah ... panggil aku Ayah!"
Seketika ekspresi wajah Rikka berubah drastis menjadi sangat senang. Dan tanpa disadari olehnya, ia melompat ke arah Aldo dan memeluk sang suami yang terbengong dengan santainya.
"Terima kasih, suamiku!"
"Sama-sama ... tapi kalau bisa, kau harus lebih sering melakukan ini padaku!" kata Aldo ambigu.
"Melakukan apa?" tanya Rikka bingung dengan posisi wajah yang sangat dekat dengan suaminya.
"Yang kau lakukan sekarang," bisik Aldo di telinga Rikka yang sedang memeluknya.
Setelah menyadari maksud Aldo, wajah Rikka kembali berubah drastis menjadi seperti kepiting rebus yang siap di santap.
BRUAAAKK ...
Dengan dahsyatnya Aldo terjungkal kebelakang bersama sofa yang ikut terbalik akibat dorongan maut Rikka hingga membuat sang pembunuh berantai tak berdaya di lantai.
Elli, Eriya, dan Leon hanya bisa syok di tempat karena melihat dengan jelas momen-momen saat aldo terjungkal.
"Kalau tahu begini, aku diam saja tadi ..." lirih Aldo masih tak berdaya.
"Baiklah, anak-anak ... ayo kita mandi air hangat?" ajak Rikka.
"Ayo~" balas Elli
Eriya hanya mengangguk dan mengikuti Rikka dari belakang. Sementara Leon malah tampak malu-malu.
"Kakak Rikka?" panggil Leon.
Rikka menoleh ke kebelakang. "Ya?"
"Aku mandi sendiri saja,"
"Kenapa?" tanya Rikka dengan polosnya.
"Aduduh ... tentu saja karena dia itu laki-laki!" sela Aldo tiba-tiba sambil meringis dan membenarkan posisinya.
Rikka tersenyum. "Tapi dia masih kecil, kan?"
"Tetap saja dia adalah seorang pria yang memiliki harga diri!"
"Benar begitu, Leon?" tanya Rikka lagi.
"I-iya," jawab Leon mengangguk.
"Baiklah, kau boleh mandi di kamar mandi yang lain!" respon Rikka sembari beranjak dari sana.
"Tunggu!" cegah Aldo dengan pose Heroic.
Rikka menghentikan langkahnya "Ada apa lagi?"
"Kenapa kalian memanggil istriku dengan sebutan kakak?"
"Benar juga," gumam Rikka.
"Karena kalian akan memanggilku Ayah, maka kalian harus memanggil istriku dengan sebutan Ibu!" sambung Aldo.
"Tapi ..." sela Eriya ragu.
"Tapi apa, Eriya?" Rikka bertanya.
"Aku sudah berusia 17 tahun ... apa tidak aneh memanggil kakak Rikka dengan sebutan Ibu?
"Benar juga ..." Aldo bergumam.
"Kalau begitu, kalian harus memanggil suamiku dengan sebutan kakak juga!" cetus Rikka.
Secara serentak ketiga anggota baru keluarga Aldo menganggukkan kepalanya dengan mantap. Lalu beranjak pergi dari sana.
"Hey, Leon ... jika aku jadi kau, aku akan menerima tawaran istriku tadi untuk berendam air panas bersama tiga wanita cantik!"
"Eeh?" Leon menatap Aldo dengan ekspresi aneh.
"Aldo~?" Suara Rikka memanggil.
"Ya?" Aldo menoleh.
BUAGGHHH ...
Aldo kembali terjungkal karena terjangan bantal hias yang entah Rikka dapatkan dari mana.
"Jangan mengajarkan hal yang tidak perlu!" cerocos Rikka.
"Siap, Nyonya Rikka yang cantik!"
"Bo-bodoh!" balas Rikka sedikit merona.
Setengah jam setelah itu, Rika beserta adik-adiknya selesai membersihkan diri. Kini mereka sudah menggunakan piyama yang entah sejak kapan telah dipersiapkan oleh Rikka.
Mereka bertiga termasuk Aldo dan Rikka tampak sedang berjalan menaiki tangga menuju kamar di lantai dua yang sudah di persiapkan. Mungkin pria berkepala coklat bernama Aldo-lah yang menyiapkan kamar untuk ketiga anggota baru tersebut.
"Ngomong-ngomong kalian sudah makan?" Aldo bertanya.
Elli, Eriya, dan Leon hanya menganggukkan kepalanya untuk merespon.
"Sudah ... sebelum pulang tadi, kami sudah makan di perjalanan." jawab Rikka.
Setidaknya, untuk yang kali ini, Rikka tidak sepenuhnya berbohong pada sang suami. Mereka memang sudah makan sebelum pulang. Tapi tidak diperjalanan, Melainkan makan di kantornya Rikka. Atau kantor polisi lebih tepatnya.
Setelah beberapa saat, mereka sampai di kamar tersebut dan masuk ke dalamnya. Di dalam sana sudah tersedia tempat tidur bertingkat. Hanya saja untuk dua orang.
"Baiklah anak-anak ... untuk sementara kalian boleh menggunakan kamar ini sampai aku selesai mempersiapkan kamar yang lainnya.!" jelas Aldo.
"Aldo ... tempat tidurnya kenapa cuma ada dua?" kata Rikka bertanya.
Aldo tersenyum seolah mengerti. "Kalau untuk itu ..."
Tiba-tiba Aldo menarik sebuah benda dari bawah tempat tidur bertingkat tersebut. Ternyata yang di tarik Aldo juga sebuah tempat tidur. Sehingga tempat tidurnya sekarang cukup untuk tiga orang.
"Oh jadi itu untuk tiga orang?" Rikka memastikan dan Aldo hanya mengangguk.
"Kalau begitu, selamat malam!"
Setelah mengucapkan salam, Aldo menghampiri sang istri yang dari tadi menyandarkan dirinya di dinding dekat ambang pintu.
"Uumm, Kak Aldo?" panggil ketiganya serentak.
"Ya?" kata Aldo berbalik.
"Terima kasih!" ucap ketiganya sedikit terharu.
Aldo tersenyum, lalu kembali menghampiri mereka yang sedang berbaris dengan rapi. Kemudian mengelus kepala adik-adiknya satu persatu.
"Aku sudah bilang, kan ..." kata Aldo sengaja menjeda.
"... aku akan menitipkan kalian ke orang yang tepat!" lanjutnya menyeringai.
Sontak wajah ketiganya berubah sumringah seolah akhirnya menyadari sebuah fakta yang sangat mengejutkan.
"Ja-"
"Ssssttttt ..."
Aldo segera menghentikan Eriya yang ingin mengucapkan sesuatu menggunakan jari telunjuknya yang di tempelkan ke bibir.
"Rahasia~" ujar Aldo sambil mengedipkan matanya sebelah.
Masih secara serentak, ketiganya menganggukkan kepala seolah mengerti apa yang harus mereka lakukan.
Lalu Aldo beranjak menghampiri istrinya yang terlihat bingung. Kemudian sejoli itu pergi meninggalkan kamar tersebut dan menuju kamar pribadi mereka.
-----
Makin seru kan teman-teman..
__ADS_1
Terus dukung aku ya dengan LIKE, VOTE dan COMMENT kalian
Thank you...😊😊😊