Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 7 : Drunkard and The Encounter


__ADS_3

Akhirnya, Aldo dan Rikka bisa bersantai di hotel setelah melalui peristiwa tak terduga di Akihabara.


Sepertinya sekarang Aldo sedang menikmati fasilitas pemandian air panas terbuka di hotel tempat mereka menginap. Dia berendam dengan santainya sambil meneguk sake menggunakan cangkir pipih berwarna hitam pekat.


Aldo sengaja membawa sake ke tempat tersebut sebagai teman berendam menggunakan benda bulat seperti talam yang terbuat dari kayu. Supaya, sake yang ia bawa bisa mengapung di atas air saat pria berkepala coklat itu berendam.


Tak hanya dia yang melakukan hal tersebut. Beberapa pengunjung hotel lainnya juga melakukan hal yang sama seperti Aldo.


Sama seperti suaminya, Rikka juga sedang menikmati pemandian air panas sambil bersandar pada dinding batu di tepi kolam tersebut tapi di sisi yang berbeda.


Jika Aldo sedang berendam di kolam khusus pria, maka Rikka sedang berendam di kolam khusus wanita.


Mata lentik wanita itu tampak terpejam seolah ia sangat menikmati suasana yang ada di tempat pemandian tersebut. Itu terbukti dari suara helaan nafas panjang namun terdengar lembut yang keluar dari mulutnya.


Entah karena apa, tiba-tiba sepasang pengantin baru itu mengingat kejadian saat mereka dikejar-kejar oleh gerombolan otaku. Lalu, senyuman pun mengembang di wajah mereka secara bersamaan di tempat yang berbeda.


Setelah setengah jam berlalu, sejoli itu memutuskan kembali ke kamar dengan kimono yang sudah melekat di tubuh masing-masing.


Walaupun biasa saja, tapi Rikka tetap tampak cantik dengan kimono tersebut. Begitu juga dengan Aldo yang tampak gagah.


Mereka memutuskan untuk makan malam di restoran hotel. Karena, Aldo ingin menikmati ramen khas jepang yang sangat terkenal. Melihat suaminya yang sangat antusias, Rikka pun memutuskan untuk makan ramen juga.


Seperti biasa, Aldo tak lupa memesan sake untuk dinikmati setelah makan ramen nanti.


Sepertinya tak hanya Aldo yang sangat lahap saat memakan ramennya. Rikka juga terlihat sangat menikmati ramen tersebut hingga tetes kuah yang terakhir.


Terdengar suara sendawa yang cukup keras keluar dari mulut Rikka. Hal itu sukses membuat wajah mulusnya mengeluarkan semburat merah.


Aldo pun terkikik melihat tingkah istrinya tersebut, lalu mulai menyeruput kuah ramennya langsung melalui bibir mangkok hingga tetes terakhir.


"Aldo, kita lupa membeli Action Figure yang diminta Taka!" kata Rikka tiba-tiba.


Aldo menggeleng. "Tidak."


"Maksudmu?"


"Aku sudah membelinya tadi," ucap Aldo sambil meneguk sake.


"Kapan?"


"Saat kau hampir dijamah orang-orang gila tadi!" jelas Aldo.


"Maksudmu saat kau pergi meninggalkanku sendirian?"


Tak menjawab, Aldo hanya menganggukkan kepalanya.


Rikka menghela nafas. "Tapi sungguh ... tatapan mereka benar-benar membuatku merinding!"


"Aku kira kau menikmatinya?" balas Aldo asal lalu tertawa.


Sambil menenggak minuman, Rikka mendengus kesal ke arah suaminya.


"Dan aku masih tak percaya kau tega meninggalkanku!"


"Rikka, ka-"


"Apa kau lihat wajah menjijikan mereka tadi, hah!?"


Aldo berusaha mengatakan sesuatu pada Rikka, tapi wanita pemilik iris onix itu tak mendengarkan suaminya dan menenggak minumannya sekali lagi.


"Uumm, Nona Rikka ..."


"Aku bukan Nona lagi. Sekarang aku sudah menjadi Nyonya!"


"I-iya, itu maksudku ..."


Rikka mulai menenggak minumannya lagi. "Coba kau bayangkan jika aku sampai dijamah mereka?"


"Apa kau tak merasa bersalah sedikitpun!?" Lanjutnya.


"Apa kau tak takut jika istrimu ini sampai diambil oleh orang lain!?"


Aldo hanya terdiam dan tersenyum kikuk seperti seorang anak yang diceramahi oleh orang tuanya.


Mata Rikka mulai berkaca-kaca. "Kau sungguh tega, Aldo ..."


"Ma-maaf!" sahut Aldo.


"MAAF!?" teriak Rikka yang membuat semua orang melirik mereka.


Merasa semua orang di sekitar sedang melihatnya, Aldo hanya bisa tersenyum aneh ke arah mereka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tiada maaf bagi pria sepertimu!" kata Rikka menghujat. Lalu menenggak minuman untuk yang kesekian kalinya.


"Kau harus dihukum!" lanjutnya sambil menunjuk Aldo dengan posisi sedikit mencondong ke depan.


"Rikka!!!" bentak Aldo.


"APA!?" pekik Rikka tak mau kalah.


"Kau mabuk!" Tegas Aldo.


"Aku tidak mabuk!"


"Kau sudah menghabiskan dua botol sake yang ku pesan!" tutur Aldo sambil menunjuk botol sake.


Rikka berkedip beberapa kali dengan wajah yang mulai memerah karena mabuk. Lalu melirik botol sake yang ada di atas meja, kemudian melihat botol sake yang sedang digenggamnya.


"Ah ... kau benar ... hick!" ucapnya enteng.


Aldo pun menepuk jidatnya dengan keras karena tak habis pikir dengan kecerobohan kepala intelijen tersebut.


Sedangkan Rikka malah duduk manis di kursi dan mulai merebahkan bagian tubuhnya yang sebelah atas di atas meja.


"Hehehe ... hick!" Rikka mulai cengengesan karena tingkahnya sendiri.


"H-hey ... jangan tidur disini, ayo ke kamar?"


"Gendong ... hick!" kata Rikka dengan air liur yang mulai mengintip di sudut bibirnya.


"Kau bisa jalan sendirikan?"


"Gendooong~!!!" rengek Rikka seperti anak kecil.


Aldo menghela nafas pasrah, lalu mulai menggendong tubuh istrinya ala bridal style dan berjalan menuju kamar mereka.


Semua orang yang menyaksikan adegan tersebut, terkikik ke arah Aldo yang wajahnya kini berwarna seperti tomat karena malu.


Saat berjalan ke kamar, Rikka malah bersenandung ria di pelukan Aldo. Entah apa yang disenandungkan oleh wanita yang sedang mabuk itu.


"Kenapa kau bisa seceroboh itu?" tanya Aldo yang sepertinya sia-sia.


Rikka mendongakkan kepalanya ke arah Aldo. "Heee ...?"


"Dasar anak manja!" cerocos Aldo sambil berjalan.


"Hehehe ..."


Kemudian Rikka melingkarkan kedua lengannya di leher Aldo.


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Memeluk suamiku!" ucap Rikka lalu merebahkan kepalanya di dada kekar Aldo.


"Bo-bodoh!" ucap Aldo dengan rona merah di wajahnya.


Sementara Rikka hanya tersenyum dan menikmati aroma citrus dari tubuh Aldo.


Tak lama kemudian mereka sampai di kamar. Tingkah Rikka benar-benar berbeda saat sedang mabuk. Dia benar-benar sangat manja pada Aldo.


Apa lagi saat Aldo ingin menurunkannya untuk mengunci pintu, Rikka malah semakin erat memeluk suaminya. Sehingga Aldo harus kerepotan mengunci pintu kamar sambil menggendong istrinya.


Kemudian, pria beriris coklat itu ingin merebahkan tubuh langsing istrinya di atas futon. Tapi, Rikka malah menarik kimono Aldo dan membuat suaminya ikut terbaring disebelahnya.


Wajah mereka begitu dekat, deruan nafas keduanya pun terdengar di telinga masing-masing. Cukup lama mereka saling pandang sehingga Aldo bisa melihat dengan jelas wajah cantik Rikka yang merona.


"Jangan kemana-mana ..." kata Rikka lirih sembari memeluk suaminya.


"Memangnya aku mau kemana?" Balas Aldo.


Rikka pun tersenyum dan mulai memejamkan matanya di hadapan sang suami.


Aldo ikut tersenyum, lalu menatap istrinya. Secara perlahan, pria berkepala coklat itu menyentuh dagu Rikka kemudian mencium bibir peach tersebut dengan lembut.


Saat bibir mereka bersentuhan, Aldo bisa merasakan dengan jelas rasa manis yang berasal dari bibir Rikka akibat sake yang diminumnya tadi.


Setelah bibir mereka terlepas, Aldo kembali tersenyum ke arah istrinya.


"Selamat tidur," ucapnya setelah itu lalu ikut memejamkan mata di sebelah Rikka yang kini sudah tertidur pulas.


Keesokan harinya, Rikka tampak mulai tersadar dan merasa kepalanya sedikit pusing akibat mabuk semalam. Dia pun mulai memijat pelan kepalanya yang masih terasa sakit.


"Apa aku mabuk semalam?" ucapnya pelan entah kepada siapa.


Ketika wanita itu sedang asyik memijat kepalanya, terdengar suara dengkuran seseorang tepat di telinganya yang sebelah kiri dengan sangat jelas.


Dia pun menoleh ke kiri secara perlahan. Kemudian, tampaklah Aldo yang sedang tertidur pulas tepat di sebelahnya dengan wajah tanpa dosa sedikit pun.


Rona merah mulai menampakkan diri mulai dari leher hingga ujung kepala Rikka. Bagaimana tidak, kini wajah Aldo hanya berjarak beberapa inci saja dari wajah cantiknya.


"A-A-A-APA YANG KAU LAKUKAN!!!"


Rikka pun berteriak histeris sembari memukul Aldo dengan tinjunya secara refleks dan sukses membuat Aldo terpental ke samping.


Sepertinya Aldo langsung terbangun akibat kejutan dari istrinya. kini ia tampak sedang meringkuk di lantai dengan posisi menghadap dan merapat ke dinding.


"Se-selamat pagi ..." ucap Aldo terbata.


Spontan Rikka langsung duduk dan bergerak menjauhi Aldo sambil memeluk selimut yang diselipkan di kedua ketiaknya.


"A-Apa yang sudah kau lakukan padaku?"


Aldo hanya diam dan masih terlihat sedang meringkuk di lantai.


"Hey ...!" teriak Rikka lagi.


Aldo bingung harus menjelaskan dari mana. Tapi yang pasti ia harus merapikan posisinya terlebih dahulu. Lalu merangkak ke arah Rikka secara perlahan.


"Jangan mendekat!" bentak Rikka masih dengan posisi yang sama.


Aldo menghentikan gerakannya seperti patung. kemudian ia duduk di depan Rikka dengan jarak 2 meter.


"Cepat jawab aku!"


"Aku tahu apa yang kau pikirkan sekarang ..." kata Aldo sengaja menjeda kalimatnya.


"... tapi sebelum itu, coba kau rasakan di setiap inci tubuhmu, apakah ada rasa yang berbeda atau tidak?" lanjut Aldo bertanya.


"Aku hanya merasa sedikit pusing," jawab Rikka polos.


"Selain di kepala?"

__ADS_1


Rikka terlihat bingung ketika mendengarkan pertanyaan suaminya.


"Mulai dari atas sampai ke bawah," lanjut Aldo lagi dengan gerakan yang sangat aneh.


Mengerti maksud suaminya, wajah Rikka semakin memerah dan melempar bantal yang entah dari mana dia dapatkan ke wajah Aldo.


Bantal tersebut sukses mendarat di wajah Aldo dengan mulus dan membuat kepalanya sedikit terpental ke belakang.


"Kenapa kau malah melemparku?" cerocos Aldo tak terima.


Kali ini Rikka yang terdiam dengan rona merah yang masih setia menghiasi wajahnya.


"Hey, jawab aku!"


Rikka menggeleng. Ternyata wanita itu sedari tadi sedang meraba tubuhnya sendiri untuk memastikan tidak ada rasa yang aneh disana.


"Lalu, kenapa kau memukulku?"


Rikka menunduk. "Ma-maafkan aku."


"Apa kau tahu, betapa sakitnya pukulanmu itu?"


"Maaf!" ujar Rikka semakin menundukkan kepalanya.


Aldo menghela nafasnya. "Lagi pula, apa kau ingat apa yang terjadi semalam?"


Rikka hanya menggelengkan kepalanya sambil melirik ke arah suaminya.


"Tadi malam kau mabuk ... dan sepanjang malam kau terus memelukku tanpa melepasku sedikit pun!" jelas Aldo.


"Bahkan saat kembali dari restoran tadi malam ... kau minta ku gendong dan me-"


Belum sempat Aldo menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba selimut sudah menerjang dan menutupi kepalanya.


Aldo pun berusaha melepaskan diri dari selimut tersebut dan melihat Rikka yang sudah berjalan ke kamar mandi.


"Mau kemana?" tanya Aldo.


"Mandi!" jawab Rikka masih dengan semburat merah di wajahnya yang mempesona.


"Ikuut~!" celoteh Aldo menggoda.


BLAMM ...


terdengar suara pintu kamar mandi yang di tutup dengan sangat keras.


Aldo tersenyum lebar melihat tingkah Rikka yang lucu tersebut. Dan sepertinya dia mulai ketagihan untuk terus menggoda instrinya.


"Oh iya, Aldo?" Suara Rikka terdengar dari dalam kamar mandi.


"Ya?" ucap Aldo sedikit berteriak.


"Jam enam nanti aku ingin menemui temanku yang tinggal di tokyo, apa kau mau ikut?"


"Memangnya kau punya teman di sini?" celetuk Aldo.


"Tentu saja ada!" balas Rikka yang sepertinya terdengar kesal.


"Aku di hotel saja ... apa kau tidak apa-apa pergi sendirian?"


"Tidak masalah, lagi pula tempat kami bertemu tidak terlalu jauh dari sini."


"Kau sampai malam perginya?" tanya Aldo lagi.


"Mungkin sekitar jam sembilan aku sudah sampai hotel."


Seringaian mulai tampak menghiasi wajah Aldo.


"Sepertinya aku tak perlu repot harus mengarang cerita lagi ..." desisnya.


Dewi fortuna sepertinya berada di pihak Aldo kali ini. Karena, ia tak perlu pergi sembunyi-sembunyi untuk menjalankan misinya nanti. Padahal, awalnya Aldo sudah mulai bingung harus beralasan apa kepada Rikka.


"Kau bilang apa?" Gantian Rikka yang bertanya.


"Aku bilang, yang penting kau hati-hati!"


"Ok!" balas Rikka yang diikuti dengan suara shower dari dalam kamar mandi.


●●


Siang hari pun mereka lalui di hotel saja. untuk Aldo, pria berkepala coklat itu hanya bermalas-malasan di kamar. mungkin ia melakukan hal tersebut untuk menyimpan tenaganya sampai malam nanti.


Sedangkan Rikka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan di sekitar hotel dan mendapatkan teman baru yang juga pengunjung hotel tersebut.


Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 05.45 p.m waktu setempat. Rikka yang sudah berdandan rapi dengan pakaian casualnya kini sedang bersiap-siap untuk menemui temannya yang berada di tokyo.


"Aldo, aku berangkat!" pamit Rikka pada suaminya.


"Ok. Hati-hati di jalan ..." sahut Aldo sambil menonton TV dengan lambaian tangan.


Rikka berjalan keluar dari hotel dan memanggil taksi. Lalu wanita beriris onix itu meminta supir untuk mengantarkannya ke sebuah kedai kopi atau cafe lebih tepatnya. Cafe tersebut berjarak sekitar 3 km dari hotel.


Selang sepuluh menit Rikka akhirnya tiba di tempat tersebut dan melenggang masuk ke dalam. Kepalanya celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.


"Rikka~!" Terdengar suara seorang wanita di pojok cafe dekat jendela sambil melambaikan tangan.


Wanita itu menggunakan T-Shirt hitam dan berambut pendek seperti Nana. Namun memiliki ukuran dada yang bisa dibilang besar. F-cup, mungkin sekitar itulah ukuran dada wanita tersebut.


Rikka pun tersenyum dan langsung berjalan ke arah wanita itu.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap Rikka setelah duduk di depan temannya.


"Penampilanmu tak banyak berubah, Shion?" ucap Rikka memulai percakapan.


Sepertinya wanita berdada besar itu bernama Shion. Lalu ia pun tersenyum.


"Sebelum ngobrol, bagaimana kalau kita pesan sesuatu dulu?"


"Baiklah!" jawab Rikka.


Kemudian Shion memanggil pelayan yang sepertinya seorang pria. Lalu memesan minuman dan beberapa cemilan untuk teman mengobrol.


Setelah mencatat semua pesanan kedua wanita cantik itu, pelayan pria tersebut pergi meninggalkan mereka dengan langkah yang berat.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Shion.


"Baik. Kalau kau bagaimana?" balas Rikka.


"Aku juga baik-baik saja."


Rikka mengangguk. "Tapi sungguh ... dadamu itu selalu menarik perhatian!"


Shion terbengong sejenak. "A-apa maksudmu?"


"Apa kau tidak lihat pelayan yang barusan?"


"Kenapa?"


Rikka menghela nafas. "Dia terus memperhatikan dadamu yang jumbo itu!"


"Be-benarkah?" kata Shion terbata.


Rikka mengangguk lagi. "Kesampingkan itu. Bagaimana kehidupanmu setelah kembali ke jepang?"


"Tak banyak yang berubah ... hanya saja sekarang aku bekerja sebagai Public Relations di salah satu perusahaan pembuat game," jelas Shion panjang lebar.


"Kau benar-benar mengubah haluan, ya?"


Shion tersenyum aneh. "Suatu saat nanti, kau juga akan mengerti."


Melihat senyuman tersebut, Rikka merasa sedikit curiga. "Apa jangan-jangan kau sudah punya pacar?"


"Hehehe ..." Shion hanya bisa cengengesan.


"Aku tak percaya kau meninggalkan karirmu hanya demi seorang pria, Shion?"


"Jangan salah sangka!" Shion langsung menyangkal sahabatnya.


"Salah sangka bagaimana?"


"Bukan karena dia aku berhenti menjadi agen rahasia!"


"Lalu?" tanya Rikka.


Pada saat itu juga, pesanan mereka pun datang dan diantarkan oleh pelayan yang sama.


Sama seperti sebelumnya, pelayan tersebut terus memperhatikan buah dada Shion yang mempesona.


Shion menoleh ke arah pelayan yang sedang menatapnya, lalu tersenyum manis ke arah pria tersebut. Dan pelayan itu juga terlihat mengembangkan senyumannya.


"Waiter-san. Sore wa~ ... sekuhara desuyo~ ...!" ucapnya dengan intonasi yang terdengar sangat menggoda.


"PFFTT ..." Rikka berusaha menahan tawa.


Spontan, wajah pelayan tersebut semakin memerah. Lalu, dengan secepat kilat ia menghidangkan pesanan Rikka dan Shion di atas meja.


"Go-Gomen!"


Pelayan meminta maaf pada Shion sembari membungkukkan tubuhnya sembilan 90 derajat. Lalu berlari meninggalkan mereka.


"Blooming Rose memang selalu membuat orang tergoda!" ujar Rikka terkikik.


"Ayolah Violet. Jangan menggunakan Code Name itu lagi padaku!" balas Shion tampak sedikit kesal.


"Kau sendiri menyebutku dengan Code Name!" seru Rikka.


"Karena kau yang mulai," kata Shion dengan pipi menggembung.


Kemudian mereka saling pandang dan tertawa secara bersamaan.


"Lalu, bagaimana kelanjutan ceritamu tadi?" Rikka kembali bertanya sambil menyeruput minuman yang terlihat seperti Caffe Latte.


"Oh iya ... aku berhenti menjadi agen rahasia karena aku ingin menjalani kehidupan yang normal," ucapnya setelah mengunyah kentang goreng.


"Aku ingin menjadi warga negara yang normal, menikah dengan pria yang normal, dan membangun rumah tangga yang normal!" sambungnya.


"Jadi itu sebabnya kau kembali ke jepang?"


Shion menganggukkan kepalanya. "Benar!"


Rikka pun tersenyum dan menepuk pundak Shion pelan seolah mendukung keputusan temannya tersebut.


"Cukup tentangku. Bagaimana denganmu?" Shion gantian bertanya.


"Kenapa denganku?"


"Apa kau masih menjadi agen rahasia?" ucap Shion sambil menyeruput minuman yang sama seperti Rikka.


"Tidak," Rikka menggeleng.


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku sekarang menjadi kepala intelijensi kepolisian di negaraku!" jelas Rikka dengan tegas.


"A-apa aku tidak salah dengar?" tanya Shion sedikit terbata.


Rikka menggeleng sambil menyeruput minumannya sekali lagi. Lalu memotong cake pesanannya dengan sendok kecil, kemudian melahapnya dengan senyuman manis.


"Pekerjaan itu kan sangat merepotkan!"


"Itu benar. Tapi aku punya alasan sendiri kenapa aku mau menjadi kepala intelijen."


"Alasan?" tanya Shion semakin penasaran.


"Kau masih ingat dengan Thousand Face Reaper, kan?"


Shion sedikit membelalakkan matanya. "Jangan bilang ..."


"Benar. Sekarang aku punya kuasa penuh untuk menangkap orang brengsek itu!" tegas Rikka sambil menganggukkan kepalanya.


Shion menghela nafasnya panjang. "Rikka ... apa kau tak tahu, selama lima belas tahun terakhir belum ada yang bisa menangkapnya?"


Rikka hanya menganggukkan kepala lagi sambil menikmati Caffe latte miliknya.


"Jangankan menangkapnya, mengetahui sedikit informasi tentangnya saja tidak bisa!"


"Karena itu ... akulah yang akan menguak semuanya!" tegas Rikka.


Shion menghela nafas panjang sekali lagi. "Baiklah, cukup dengan cerita pekerjaanmu yang terdengar sangat merepotkan."


"Apa kau sudah punya pacar sekarang?" lanjutnya bertanya.


Mendadak wajah dan Ekspresi Rikka berubah drastis. Kini semburat merah di wajahnya mulai menampakkan diri di sana.


"A-aku ... S-sudah menikah!" ucapnya terbata dengan suara yang pelan.


"APAAAA!?" teriak Shion sambil menggebrak meja dengan kedua tangannya.


Hampir saja makanan dan minuman di meja tersebut terpental ke sana kemari. Berkat Rikka, makanan pun masih bisa mereka nikmati.


"Pelankan suaramu, pelankan suaramu ..." kata Rikka sembari melirik ke sana kemari.


"Ceritakan padaku ..." desis Shion dengan tatapan horor.


"Ya begitu ... aku sudah menikah," kata Rikka dengan senyuman kikuk.


"Sejak kapan?" Shion mulai mengintrogasi.


"Ku-kurang lebih sepuluh hari."


"Kenapa kau tidak mengundangku?"


"Maaf. Lagi pula, pesta pernikahan kami tidak begitu besar. Hanya keluarga dan beberapa kerabat saja yang diundang," kata Rikka mulai menjelaskan.


"Apa aku tak berarti apa-apa bagimu?" ucap Shion masih dengan tampang horornya.


"Ma-maaf!"


Untuk kesekian kalinya Shion menghela nafas panjang. "Seorang Rikka selalu saja berjalan selangkah di depanku."


Sementara Rikka masih dengan senyuman kikuknya dan tak tahu harus berkata apa lagi kepada sahabatnya tersebut.


"Siapa nama pria beruntung itu? Apa dia tampan?" lanjut Shion mengintrogasi.


"Namanya Aldo ..." Lalu Rikka mengambil ponselnya dan mengutak-atik smartphone tersebut.


"... kau bisa menilainya sendiri," lanjutnya sambil menyodorkan ponsel yang menampilkan foto dirinya bersama Aldo di Kuil Meiji.


"Cukup tampan ... tapi tidak terlalu tinggi!" celetuk Shion mengomentari postur tubuh Aldo.


"Dia paling benci jika orang lain mengomentari postur tubuhnya!" ujar Rikka sebelum melahap Cakenya lagi.


Tiba-tiba, mata Shion terbelalak karena menyadari suatu kenyataan yang baru saja terbersit di dalam pikirannya.


"Jangan bilang ... kau sedang berbulan madu di jepang?" ucapnya


"Begitulah," balas Rikka enteng.


"Pantas saja kau langsung mengubah foto profil di media sosial milikmu!"


"Tapi aku bersyukur, kau langsung menghubungiku setelah itu." Kata Rikka tersenyum.


"Rikka~ ... aku iri padamu~!" rengek Shion.


Lagi-lagi Rikka hanya bisa tersenyum ke arah sahabatnya yang berdada besar tersebut.


"Ngomong-ngomong ... bagaimana kalian bertemu?" Shion bertanya lagi.


"Kami dijodohkan," jawab Rikka singkat.


Setelah itu Shion terus melontarkan pertanyaan kepada Rikka. Dengan senyuman manis di wajah cantiknya, Shion pun menjadi pendengar yang budiman.


Tak terasa sudah dua jam mereka mengobrol. Rikka dan Shion memutuskan untuk menyudahi obrolannya dan keluar dari cafe tersebut lalu berjalan ke arah pusat kota untuk cuci mata sebelum kembali ke tempat masing-masing.


VROOOOM ...


Tiba-tiba terdengar suara deruan sepeda motor yang sangat keras keluar dari arah parkiran bawah tanah sebuah hotel megah berbintang lima.


Pengendara sepeda motor itu memakai helm dan baju ketat berwarna hitam seperti cat suit. Sepertinya sang pengendara adalah seorang wanita. Hal itu tampak dari tubuhnya yang sangat langsing dan berlekuk layaknya gitar spanyol.


Dan sepeda motor yang dikendarainya adalah sepeda motor keluaran jepang. Sepeda motor yang sama seperti yang dikendarai oleh Valentino Rossi saat balapan.


Rikka dan Shion hanya terbengong melihat pengendara tersebut melintasi mereka seperti orang yang sedang terburu-buru.


Beberapa detik kemudian, ujung mata Rikka menangkap sosok pria yang sedang berlari sembari memasang topeng di wajahnya juga keluar dari tempat yang sama.


Pria tersebut menghentikan langkah kakinya di tepi jalan kemudian menoleh ke sana kemari seperti mencari sesuatu.


Kemudian pria yang sudah mengenakan topeng rubah itu menoleh lagi ke arah Rikka dan melakukan gerakan seperti memberi hormat dengan dua jari. Lalu berlari menyeberangi jalan raya dan menghilang di balik pepohonan hias kota Tokyo.


"Rikka ... apa kau ingin duet seperti dulu?" desis Shion seperti memahami situasi.


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Rikka.


"Kau kira sudah berapa lama aku mengenalmu?"


"Apa kau yakin?" tanya Rikka lagi untuk memastikan.


Shion mengangguk. "Anggap saja ini aksi terakhirku dan juga hadiah pernikahan dariku!"


Rika pun tersenyum mendengar penuturan sahabatnya. "Bodoh. Tapi ... baiklah!"


Mereka pun langsung berlari dan memanggil taksi. Kemudian meminta supir untuk segera mengikuti sepeda motor yang mengebut tadi.


Untung saja jalanan tak begitu macet. Sehingga mereka masih bisa mengejar pengendara sepeda motor tersebut.


Dari dalam taksi, Rikka melihat sosok pria bertopeng yang di lihatnya tadi sedang berlari di jalur pejalan kaki. Sepertinya pria itu juga sedang mengejar sang pengendara bermotor.


Tampak dari dalam taksi, pengendara sepeda motor sport berbelok kiri di persimpangan yang ada di depan mereka. Sayangnya, ketika taksi yang mereka kendarai ingin berbelok, lampu lalu lintas berubah menjadi merah dan membuat mereka harus berhenti.


Rikka sangat kesal saat menerima kenyataan bahwa mereka harus berhenti di sana. Tapi mau tak mau ia harus menaati peraturan yang sudah ada.


Sepertinya sosok pria bertopeng masih mengejar sang pengendara bermotor dengan gigihnya. Dia masuk ke dalam sela-sela gedung berusaha menyamakan posisinya agar tak terpaut jauh.


Taksi yang dikendarai Rikka pun mulai berjalan lagi dan mengikuti arah sepeda motor yang sedang mereka ikuti. Tapi sepertinya sosok tersebut sudah menghilang entah kemana.


Dengan intuisi tajamnya, Rikka mulai memberikan panduan kepada sang supir untuk berjalan ke arah yang ia inginkan. Awalnya sang supir sedikit ragu. Tapi setelah diyakinkan oleh Shion yang berdada besar, sang supir pun menurut.


Seperti yang dikatakan Taka waktu itu, intuisi Rikka benar-benar tak bisa dianggap remeh. Mereka bisa melihat sang pengendara sepeda motor sudah memarkirkan sepeda motornya dan berlari menuju gedung pencakar langit bernama Skytree.


Kedua mantan agen rahasia itu pun segera turun dan langsung berlari mengikuti sang pengendara yang sudah menghilang entah kemana.


"Sialan kita kehilangan jejak lagi!" ujar Shion mendengus.


Rikka hanya mengangguk dan mulai menyusuri tempat tersebut dengan kedua mata lentiknya. Kemudian, sejenak ia memejamkan matanya lalu menghirup nafas dalam-dalam.


"Ikuti aku, Shion!" kata Rikka mulai berlari.


"Oke!"


Mereka pun berlari memasuki Skytree dan mencari sang pengendara disana. Tapi hasilnya nihil, lalu Rikka dan Shion memutuskan untuk pergi ke lantai paling atas dari bangunan Skytree tersebut menggunakan elevator.


Kebetulan sekali di dalam elevator tersebut hanya mereka berdua yang mengisinya. Mungkin karena hari yang sudah malam dan tempat wisata tersebut sebentar lagi akan segera tutup.


Di dalam elevator Shion memberikan sesuatu pada Rikka.


"Rikka, kau gunakan ini untuk maju ke depan!" kata Shion sembari menyerahkan sesuatu yang dibungkus oleh sapu tangan.


Dilihat dari bentuknya, sepertinya benda itu adalah pisau belati. Rikka langsung meraih dan menggenggamnya seperti boneka.


"Aku akan melindungimu dari belakang dengan ini," sambung Shion sambil menujukkan pistol yang ada di dalam tasnya.


"Seperti biasa, kau selalu siap sedia!" balas Rikka kagum.


Shion tersenyum. "Karena itulah ... hanya aku yang cocok berpasangan denganmu."


"Bukankah kau sudah pensiun?" tanya Rikka untuk memastikan.


"Hanya untuk jaga diri," jawab Shion mengerti maksud dari sahabatnya.


Tak lama kemudian sampailah mereka di lantai paling atas bangunan tersebut. Ketika pintu terbuka, Rikka dan Shion langsung keluar dan mulai mencari disana.


Di lantai paling atas Skytree tampak sangat sepi. Lalu Rikka mendengar suara seperti suara tembakkan dari arah ruangan yang pintunya terbuka setengah.


Sepertinya ruangan tersebut hanya Staff saja yang boleh memasukinya. Karena rasa penasaran dan ditambah intuisi yang kuat, Rikka berjalan ke sana diikuti oleh Shion.


Tepat di ambang pintu, mereka melakukan pose layaknya polisi saat melakukan penggerebekan. Merasa situasi aman, kedua wanita cantik itu masuk secara perlahan dengan kuda-kuda yang terlihat keren.


Tampaknya ruangan itu dipisah oleh dinding dan menyebabkan ruangan tersebut memiliki dua sisi yang berbeda. Tapi, dinding tersebut tidak benar-benar memisahkan ruangan secara total. Karena diujung dekat jendela, dinding pemisah sudah tak terlihat lagi.


Mereka berjalan dengan hati-hati sambil mengeluarkan senjata yang sudah dipersiapkan. Rikka memegang pisau dan berjalan di depan. Sedangkan Shion yang sudah bersiap dengan pistolnya, berjalan di belakang Rikka.


Beberapa langkah setelah itu mereka berbelok dan tampaklah sesosok pria sedang berdiri menghadap mayat seorang wanita cantik berambut pirang.


Pria itu menggunakan pakaian seperti butler dengan rambut klimis yang ditata rapi ke belakang. Sayangnya posisi pria itu sedang membelakangi kedua mantan agen rahasia tersebut. Sehingga wajahnya tidak terlihat.


"Jangan bergerak!" ucap Rikka dengan lantang setelah memberi aba-aba pada Shion.


Sang pria berambut klimis hanya diam dan tetap menghadap ke arah mayat yang ada di depannya.


"Letakkan tanganmu di atas kepala, dan segera berbalik!" lanjut Rikka sembari perlahan maju kedepan.


Sebelum dia menuruti perintah Rikka, pria berpakaian butler itu memasang topeng terlebih dahulu di wajahnya, kemudian meletakkan tangan di atas kepelanya sambil berbalik menghadap Rikka dan Shion yang sudah memasang kuda-kuda.


Ekspresi Wajah Rikka berubah menjadi sangat dingin. Seperti predator yang sedang bersiap menangkap mangsa.


"Sudah kuduga..." desis Rikka


"...Lepaskan topengmu dan letakkan di lantai lalu tiarap dengan tangan di kepala!" lanjutnya.


Pria butler memiringkan kepalanya sedikit dengan posisi tangan yang masih di letakkan di atas kepala.


"Maaf, Nona-Nona ... jika aku melepas topeng ini, kalian berdua pasti akan jatuh cinta padaku!" celetuk pria tersebut dengan suara yang sangat aneh.

__ADS_1


__ADS_2