Archenemy Get Married

Archenemy Get Married
Chapter 17 : Archenemy In Action.


__ADS_3

CKIIIIITTTT ...


Tampak mobil sport keren berwana hitam pekat sedang melakukan manuver di persimpangan jalan raya sebelum kembali melaju kencang.


VROOOM ... VROOOM ...


Mobil yang moncongnya bertuliskan GTR itu memiliki suara knalpot yang sangat keras. Suara yang dikeluarkannya bisa saja memekakkan telinga orang.


Mobil sport hitam yang melaju kencang sambil sesekali mengeluarkan api biru berpadu dengan kuning itu sangat meresahkan pengguna jalan yang lainnya.


Bagaimana tidak, selain suara, kecepatannya juga melebihi batas dari aturan yang sudah ada.


Tapi, alasan mobil tersebut melaju kencang dan melakukan manuver berbahaya adalah kumpulan mobil yang menggunakan sirine di belakangnya.


Tampaknya itu adalah kumpulan mobil polisi yang sedang melakukan pengejaran terhadap mobil sport hitam tersebut.


Dan kelihatannya, mobil-mobil yang sedang melakukan pengejaran itu juga berseragam. Yaitu mobil bertenaga besar keluaran Amerika bernama Hellcat dengan jumlah 10 unit. Kumpulan mobil itu juga memiliki warna yang serupa, yaitu hitam metalic.


"Kepada Tim Omega, terus sudutkan dia dari segala sisi!" perintah seorang wanita melalui earphone sambil mengemudi.


"ROGER!"


Dan ternyata, wanita itu adalah Rikka yang masih mengenakan pakaian kantornya. Yaitu setelan jas wanita dengan rok span yang menawan dan sepatu pansus berhak tinggi.


Tapi kelihatannya ia melepas sepatu tersebut agar memudahkan dirinya untuk melakukan manuver dalam misi pengejaran kali ini.


"Kali ini kau tak akan bisa lari, Thousand Face Reaper!" desisnya.


Seperti yang di katakan oleh Rikka, mereka sedang melakukan pengejaran terhadap pembunuh berantai yang berjuluk Thousand Face Reaper.


Setelah pembunuh berantai itu melakukan aksi di sebuah pesta sebelumnya. Ia berhasil memporak-porandakan tempat pesta tersebut dan melarikan diri menggunakan mobil sport bertenaga seperti monster.


Alhasil, mereka pun berakhir dengan kejar-kejaran di jalan raya menggunakan mobil. Hanya saja, tidak cuma Rikka dan sang pembunuh saja yang saling kejar. Tetapi juga bersama tim spesial miliknya, yaitu Tim Omega.


Sementara itu di dalam mobil sport keluaran Jepang bermodel GTR, dengan santainya seorang pria berkepala coklat yang sudah menggunakan topeng berbentuk rubah sedang melakukan headbang. Sepertinya pria itu sedang mendengarkan musik metal.


Entah sejak kapan pembunuh itu sudah merubah penampilannya. Yang pasti, ia sedang menikmati musik sekarang.


Ia terlihat sangat santai sekali, padahal sudah ada 10 unit mobil yang sedang mengejarnya. Sesekali ia pun melirik kaca spion untuk melihat keadaan di sekitar.


"Tch ... lambat sekali mereka!" decaknya kesal.


"Aldo ..."


Tiba-tiba terdengar suara dari earphone yang digunakan oleh pria bertopeng bernama Aldo.


"Ada apa Taka?"


"KENAPA KAU TIDAK BILANG KALAU KAU INGIN KEJAR-KEJARAN DENGAN POLISI!!??" amuk Taka melalui earphone.


Aldo cengo seketika. "Kau berisik sekali! Memangnya kenapa?"


"GTR belum seratus persen bisa digunakan untuk bermanuver melawan Tim Spesial Rikka, wahai Leaderku yang bodoh!"


"KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI AWAL!!??" Aldo gantian mengamuk melalui earphone.


"KAU TIDAK BERTANYA!!"


"UNTUK APA AKU BERTANYA DENGAN HAL SEDETAIL ITU. LAGI PULA, KAU SENDIRI YANG BILANG, DALAM JANGKA DUA HARI SEMUA SOFTWARE PENDUKUNG GTR AKAN SELESAI!!"


"Memang benar, tapi ..."


Intonasi suara Taka terdengar mengecil di earphone milik Aldo.


"TAPI APA!!??"


"TAPI KAU TAK PERNAH BILANG KAU INGIN KEJAR-KEJARAN DENGAN MEREKA!!"


Bersamaan dengan beberapa teriakan, mobil Aldo tampak bergoyang ke kanan dan ke kiri. Hingga membuat Rikka yang mengekor di belakang mengernyitkan dahinya.


"MEMANGNYA AKU TAHU KALAU ISTRIKU AKAN MENGERAHKAN TIM YANG MEREPOTKAN ITU??!!"


"KALIAN BERISIK SEKALIII!!!"


Sepertinya suara Syndi juga ikut mengamuk melalui earphone.


"Oi Taka, yang barusan suara Syndi, ya?"


"Kurasa begitu, Aldo!"


"Aku baru tahu dia bisa mengamuk seperti Myra?" celetuk Aldo.


"Aku juga," balas Taka.


"Apa maksud kalian, hah!!??" sela Suara Myra.


"Haaah ... tolong jangan membuat keributan di sambungan wireless ini!" keluh Zedd.


"Ma-maaf!" respon Aldo dan Taka bersamaan.


"Hey, Leaderku yang tampan~?"


Tiba-tiba mendesis suara yang sedikit familiar di telinga Aldo.


"Kawa?"


"Benar ... ini aku, si mungil Kawa."


"Ke-kenapa suaramu sangat menyeramkan?"


"Kesampingkan itu ... aku hanya ingin memastikan."


Aldo mengangguk. "Apa itu?


"Dengar baik-baik ..."


"... Jika kau menghancurkan Masterpiece milik Goblin's bernama GTR, peluru Rifle ini akan melesat tepat ke jantungmu!" tegas Kawa masih mendesis.


Aldo menelan ludah seketika. Baru kali ini ia mendengar suara Kawa sangat menyeramkan ketika sedang mengancam.


"Si-siap, Nona Kawa yang cantik!" balas Aldo.


"AHAHAHAHAHA ... RASAKAN ITU, ALDO!"


"Tch ... sialan kau, Taka!"


"Dan kau, wahai rekanku yang bernama Taka?" Kawa masih mendesis.


"Y-ya?"


"Jika leader menghancurkan Masterpiece Goblin's hanya karena software bodohmu yang tidak sempurna, peluru ini akan bersarang di kepalamu!"


"Baik, Nona muda!"


"Dan kumohon, Aldo ... jangan hancurkan si manis GTR!!"


Kali ini Kawa menjerit dengan suara yang sangat imut seperti anak kecil sedang merengek pada orang tuanya.


Aldo tersenyum. "Serahkan padaku!"


VROOOMMM ... CKIIIITT ...


Salah satu mobil pengejar menyusul Aldo dan hendak menabraknya dari samping. Tapi sayang, Aldo langsung mengerem hingga mobil pengejar tersebut terperosok ke timbunan pasir di tepi jalan.


Aldo tak boleh senang dulu, karena di belakangnya sudah ada mobil yang siap menabrak saat ia sedang menginjak rem.


Detik itu juga, Aldo menarik tuas Rem tangan dan melakukan manuver seperti slalom kemudian membanting setir ke kanan hingga mobil yang ia kendarai berputar 180 derajat. Jadi, posisinya saat itu adalah, sedang menghadap ke belakang dengan posisi mundur ke depan.


Itu sengaja ia lakukan untuk berpindah sisi supaya bisa menghindari benturan keras yang akan diterimanya dari belakang. Tapi sayang, mobil serupa sudah menyusulnya di sisi Aldo berada sekarang.


Dengan posisi mundur, mobil Aldo berhadapan dengan salah satu mobil polisi yang sengaja mendempetkan moncongnya ke GTR yang ia kemudikan. Lalu, lengan seorang wanita keluar dari jendela dan menembakkan pistol ke arahnya.


DOORR ... DOORR...


Sepertinya hal itu percuma, karena GTR milik Aldo sudah didesain oleh Kawa dan Taka menggunakan fitur Anti peluru, jangankan pecah, goresan saja tidak menampakkan diri di sana.


Dari dalam mobil, Aldo pun bisa melihat dengan jelas siapa yang menembaknya. Yaitu sosok wanita yang tak lain adalah Rikka.


Aldo segera membenarkan posisi mobilnya dengan melakukan manuver yang sama. Tapi sekali lagi sayang, setelah ia berhasil membenarkan posisinya, mobil Aldo sudah terkepung oleh empat mobil polisi dari segala sisi. Depan, belakang, kiri, maupun kanan.


Keempat mobil itu semakin mendempet dan menjepit GTR yang Aldo kemudikan dan mengurangi kecepatan mereka agar bisa membuat sang pembunuh berantai menghentikan mobilnya.


"Bagus! Pertahankan itu! Setelah mobil benar-benar berhenti, langsung ringkus dia!" perintah Rikka yang masih mengekor di belakang.


Tindakan yang dilakukan oleh Rikka dan tim spesialnya memang sangat hebat. Tapi seorang pembunuh berantai berjuluk Thousand Face Reaper tidaklah senaif itu.


Setelah pria berkepala coklat itu mengeluarkan seringaian di dalam mobilnya. Tiba-tiba ia menekan sebuah tombol di tablet berlayar sentuh yang sengaja di instal di sana.


Tombol itu bertuliskan Monster Mode. Kemungkinan itu adalah indikator pengubah mode berkendara yang ada pada mobil tersebut.


Beberapa detik kemudian, dari dalam kap mesin mobil itu mengeluarkan bunyi, 'CNGIIIIT ... TFUU ... TFUU ...'


Setelah mendengar suara merdu itu, Aldo menyeringai dan menekan pedal gas mobilnya berulang-ulang.


VROOM ... DUARR ...


Suara knalpot yang bersatu padu dengan ledakan berhasil menggema di jalan raya.


Tak hanya itu, api yang terus keluar melalui knalpot akibat ledakan tersebut menyembur ke mobil pengejar yang ada di belakang Aldo dan perlahan mulai melelehkan sesuatu disana.


Mau tak mau, mobil tersebut harus memberikan sedikit jarak agar mesinnya tidak terbakar dan meledak.


Aldo menyeringai kembali setelah melihat mobil di belakangnya memberikan jarak, walaupun sedikit. Lalu ia melakukan manuver dengan mengerem secara mendadak selama beberapa detik yang juga diikuti oleh mobil pengejarnya di sisi kanan dan kiri.


Setelah mendapatkan celah di sisi kanan depan, Aldo kembali menekan pedal gasnya dan mengarahkan setir ke kanan. Perlahan dan pasti, ia pun masuk kedalam celah tersebut sembari memberikan dorongan pada mobil yang ada di sebelah kanan.


VROOOMMM .... VROOOMM ....


Aldo akhirnya berhasil keluar dari jebakan itu setelah membuat mobil pengejar di sebelah kanan berputar beberapa kali akibat dorongan yang ia lakukan sebelumnya.


Mobil pengejar yang tadinya di depan untuk mencegat Aldo, kini malah tampak kebingungan ketika melihat sebuah GTR hitam sedang melintas begitu saja seperti tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.


Rikka mulai kesal saat melihat anak buahnya seperti sedang dipermainkan. Lalu ia mempercepat laju mobilnya sembari menghindari beberapa mobil di kanan dan berusaha menyusul sang pembunuh berantai dengan kecepatan tinggi.


"Tch ... sebenarnya siapa pria ini ... bahkan dia juga hebat dalam mengemudi!" cibir Rikka di dalam mobilnya.


Tinggal 6 unit mobil hitam termasuk Rikka yang tersisa sedang mengejar pembunuh berantai berjuluk Thousand Face Reaper.


Dengan sirine yang terus menjerit, mereka masih mengekori GTR hitam yang sedang dikemudikan oleh Aldo. Dan berusaha mencari celah agar bisa menyudutkan mobil tersebut.


Tak lama kemudian, helikopter pun datang dan tampak sedang menghampiri mobil yang sedang Rikka kendarai.


"Kepada Violet, unit dragonfly disini, ganti ..." terdengar suara pria melalui earphone Rikka.


"Violet disini, apa ini kau, William?"


"Benar ... aku akan mengejarnya dari udara bersama pilot!" balas William.


"Baik ... tapi jangan melepaskan tembakkan sebelum dia keluar dari kendaraan!"


"Roger!"


Setelah itu helikopter terbang melesat mengikut GTR milik aldo tepat di atasnya dengan jarak sekitar 10 meter.


"Sialan ... kenapa helikopter juga ikut-ikutan!?" umpat Aldo sambil menyetir.


"Woah ... sepertinya kau sedang beruntung hari ini, Boss!" respon suara Zedd.


"Apa maksudmu, Zedd!" Aldo tampak kesal.


"Tidak perlu khawatir ... helikopter itu cuma akan mengikutimu saja," sela Taka.


"Dari mana kau tahu, Taka?" Aldo bertanya.


"Tadi aku mendengar percakapan mereka melalui sambungan wireless."


"Kau bisa melakukan itu?"


"Kau kira aku ini siapa, Boss?"


Aldo menyeringai. " Dasar, Hacker sialan!"


"Baiklah, terima kasih ..."

__ADS_1


"... Kawa, tolong urus helikopter itu, aku akan membereskan sisanya!" lanjut Aldo memberi perintah.


"Ok, Leader!" balas Kawa lantang.


"Taka, apa kau tahu yang mana mobil Rikka?" tanya Aldo.


"Sebentar ..."


Sepertinya Taka sedang melakukan peretasan terhadap satelit pemantau untuk melihat mobil Rikka berada.


"Sialan, sulit sekali membedakannya!" umpat Taka.


"Bagaimana?" tanya Aldo lagi.


"Ok ... sepertinya dia ada di dalam mobil yang berada di ... belakangmu! Tepat di belakangmu!” jawab Taka.


"Ok!"


Pada saat yang sama, Aldo langsung bermanuver dan berputar menghadap ke belakang dengan posisi mundur. Lalu ia menembak lampu mobil yang tepat berada di belakangnya.


DOORR ... DOORR ...


Lampu mobil Rikka pun pecah berkeping-keping di aspal dan menyebabkan istri Aldo tersebut sedikit oleng karena terkejut.


"Sialan! Apa yang ingin dia lakukan!?"


Rikka tampak kesal karena tembakkan tersebut.


Sementara itu, Aldo kembali melakukan aksi yang sama untuk membenarkan posisi mobilnya. Tapi kali ini dia langsung berbelok ke kanan di sebuah simpang yang banyak kendaraan sedang berlalu-lalang.


"Dengan begini, aku mudah untuk membedakannya," desis Aldo.


CKIIITTT .....


Aldo kembali melakukan aksi slalomnya di persimpangan tersebut untuk menghindari kendaraan lain yang mengganggu jalannya.


Para pengejar tak hanya diam. Mereka juga ikut berbelok ke kanan dan mengikuti GTR Aldo tanpa kesulitan sedikit pun.


Suara sirine yang menggema di jalanan kota sukses membuat pengendara lain menyingkir ke tepi jalan.


Untung saja para pengendara itu sadar kalau Rikka bersama dengan timnya yang membunyikan sirene sedang melakukan pengejaran. Jika tidak, maka hal yang tidak diinginkan pasti terjadi.


Helikopter yang sedang melintas di udara pun masih mengikuti mobil Aldo dan terus memantau pergerakan pembunuh berantai tersebut agar Rikka bersama tim spesialnya tidak kehilangan jejak.


Tiba-tiba mobil Aldo tampak mengurangi kecepatannya. Dengan kesempatan itu, salah satu Tim Omega bersama mobilnya menambah kecepatan dan ingin menabrak Aldo.


Tapi sekali lagi sayang, Aldo segera menghindar ke kanan dan menyebabkan salah satu tim omega menabrak mobil box yang sedang parkir disana.


Alhasil, salah satu tim omega bersama dengan mobilnya itu terperosok ke bawah kolong mobil box dan membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.


"Tch ..."


Rikka yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa mendecak kesal di dalam mobilnya.


Pria berkepala coklat itu kembali mempercepat laju mobilnya di jalan raya. Para pengejar pun juga masih dengan setia mengekori GTR hitam tersebut.


"Ok, lima lagi!" gumam Aldo.


Sesekali Aldo melirik indikator di tablet yang ada di dalam mobilnya. Tampaknya ia benar-benar mengingat perkataan Taka yang mengatakan bahwa GTR belum bisa sepenuhnya melakukan aksi kejar-kejaran dengan polisi.


Jadi, Aldo harus memperhatikan indikator tersebut, barangkali ada sebuah pertanda bahwa GTR tak lagi bisa digunakan.


Tapi sejauh ini, mobil kencang keluaran Jepang itu masih belum menunjukkan gelagat adanya sebuah eror pada sistem software. Sehingga Aldo masih bisa santai dalam melajukan mobilnya.


Aldo kembali mengeluarkan seringaiannya setelah melirik sebuah rambu-rambu yang ada di tepi jalan raya tersebut. Lalu mengarahkan mobilnya ke sebuah taman kota.


Di dalam taman tersebut Aldo tampak melaju kencang ke arah sebuah telaga yang tidak terlalu besar dengan jembatan di tengahnya.


Sepertinya jembatan itu cukup untuk satu mobil melintas. Tapi sayang sekali, Aldo kembali tergepit oleh dua mobil Tim Omega yang berhasil menyusul. Sementara Rikka masih tepat di belakang mengekorinya.


Mendadak Aldo membuka kedua sisi kaca mobil menggunakan power window. Lalu menembakkan pistol ke arah anggota Tim Omega yang sedang menggepitnya.


Spontan mereka terkejut dan berusaha membanting setir. Tapi sayang beribu sayang, mereka terkecoh dan tidak memperhatikan jalan di depan. Sehingga membuat kedua mobil bertenaga besar itu terperosok masuk ke dalam telaga dengan indahnya.


"Dua mobil, Shut down!" desis Aldo.


"Wow ... boleh juga, Boss!" celetuk Zedd melalui earphone.


"Tentu saja!" balas Aldo.


Sementara di dalam mobilnya, Rikka semakin tampak kesal dan semakin mempercepat laju kendaraan tersebut. Tapi, kecepatan mobil Aldo juga tidak bisa dianggap remeh. Jangankan menyusulnya, mengekorinya saja sudah sulit.


Terlebih lagi, Rikka juga harus hati-hati untuk tidak sembarangan di jalanan kota. Ia tidak ingin jika sesuatu yang buruk terjadi pada warga kota.


Aldo bersama pengejarnya kembali ke jalan raya. Pria itu pun kembali menyeringai setelah melihat rambu penunjuk jalan yang menuliskan jarak gerbang masuk jalan tol sekitar 500 meter lagi.


Tanpa banyak menunggu lagi, Aldo menginjak pedal gasnya semakin dalam untuk mempercepat laju mobil yang sedang ia kemudikan.


Para pengejar termasuk Rikka juga tak mau kalah. Mereka ikut mempercepat laju mobilnya di belakang Aldo.


Tepat di depan gerbang masuk jalan tol, sepertinya ada truk bermuatan peti kemas yang berjalan sangat lambat dan menutupi gerbang tersebut.


"Sialan ... kalau aku mengurangi kecepatan, maka habislah sudah!" umpat Aldo entah pada siapa.


Pada saat yang sama, Aldo tampak menyipitkan matanya seolah mencari celah. Kemudian semakin menambah kecepatan mobilnya.


Aldo berniat untuk masuk ke jalan tol tersebut. Tapi ia tak ingin mengurangi kecepatan mobilnya untuk menunggu truk peti kemas melintas. Maka dari itu ia semakin menambah laju mobilnya secepat mungkin.


Dan di saat ia sedang bersebelahan dengan peti kemas. Di sana pria berkepala coklat itu melihat celah yang cukup besar. Tanpa banyak kata lagi, Aldo kembali menekan sebuah tombol di tablet dekat setir mobilnya.


Melihat gelagat mencurigakan mobil sang pembunuh berantai, Rikka bersama anak buahnya ikut menambah kecepatan mobil mereka dan berhasil menyamakan posisi tepat di sebelah kanan.


Pada saat itu juga, ketinggian GTR hitam yang dikendarai oleh Aldo tiba-tiba merendah dan hampir menyentuh aspal. Kemungkinan jarak bodi mobil dan aspal tersebut tidak sampai 1 inci.


CKIIIITTT ... VROOMMM ...


Aldo tiba-tiba menarik tuas rem tangan untuk yang kesekian kali dan membanting setir ke kiri hingga membuat mobilnya kembali bermanuver.


Manuver yang Aldo lakukan kali ini sangat berbahaya. Dengan santainya ia melintas masuk ke dalam kolong peti kemas yang ada di sebelah kiri. Mungkin itulah sebab pria berkepala coklat tersebut merendahkan ketinggian mobilnya


Ia ingin melewati truk peti kemas yang menganggu melalui kolong peti kemas itu sendiri dengan manuver andalannya.


Spertinya Aldo berhasil melewati kolong truk tersebut dan berputar sekali sebelum kembali melaju kencang ke arah jalan tol.


Rikka yang juga menyadari hal tersebut langsung menginjak pedal rem mobilnya dan melewatkan gerbang masuk jalan tol sekitar 15 meter.


Karena tidak ingin membiarkan sang target lolos begitu saja, Rikka ikut membanting setir ke kiri dan masuk ke jalan tol melalui pintu keluar dengan kecepatan tinggi. Dengan kata lain, ia mengejar Aldo dari sisi jalan yang berlawanan.


Tidak seperti Rikka yang masih melakukan pengejaran. Dua mobil anak buahnya yang tersisa malah terjebak di bawah kolong truk tersebut akibat gaya dorong yang barusan.


Kembali ke tempat Aldo yang masih berjalan dengan kecepatan tinggi bersama mobilnya di jalan tol, ia melihat keadaan sekitar melalui kaca spion.


"Dengan ini, hanya tinggal helikopter itu saja ..."


"Aku rasa tidak, Boss!" sela Taka masih melalui earphone.


Aldo mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Lihat saja sendiri ..."


VROOOMMM ... WIIIUUWIIUUW...


bersamaan dengan berakhirnya ucapan Taka, dengan jelas Aldo menyaksikan sebuah mobil bersirine masih mengejarnya dari arus yang berlawanan.


"Oi oi ... aku rasa istriku sudah gila hari ini!" cerocos Aldo.


"Selamat menikmati kegilaan istrimu, Boss!" sindir Taka.


"Tch ... dia benar-benar ceroboh sekali" decak Aldo sedikit kesal.


"Taka, apa kau bisa menyambungkanku dengan Rikka?"


"Baiklah, akan kucoba!" respon Taka.


Aldo berusaha mengarahkan mobil yang ia kemudikan mendempet ke pembatas jalan di sebelah kanannya. Mendekati mobil Rikka yang sedang melawan arus lebih tepatnya.


"Ok, Boss ... kalian sudah terhubung. selamat bermesraan!" ucap Taka sebelum memutuskan sambungannya dengan sang Leader.


Aldo tak merespon dan tetap berkonsentrasi mengemudi sambil sesekali memperhatikan gerak-gerik mobil Rikka.


Untunglah lampu sirine yang digunakan Rikka sangat terang. Sehingga membuat mobil yang melaju ke arahnya segera menghindar ke samping.


"Halooo ... tes ... tes ..."


Aldo sepertinya mencoba untuk berkomunikasi dengan Rikka menggunakan teknik Ventriloquisme andalannya.


"Hey, cantik ... apa kau sudah kehilangan akal?" celetuk Aldo melalui earphone.


Di dalam mobil, Rikka tampak mengkerutkan dahinya karena mendengar suara yang bukan milik anak buahnya.


"Siapa kau?" desia Rikka bertanya melalui sambungan earphone.


"Kejamnya dirimu sudah melupakanku begitu cepat! Coba lihat ke samping?"


Rikka melirik kesamping dan mendapati sosok Thousand Face Reaper dengan topeng andalannya sedang melambaikan tangan keluar jendela.


Rikka sedikit terbelalak dan kembali melihat kedepan.


"Tch ... bagaimana bisa kau masuk ke sambungan ini?"


"Bukan aku yang masuk ... tapi kita berdua yang masuk ke chanel khusus ini," kata Aldo menjelaskan.


"Apa maksudmu?"


Aldo terdengar menghela nafas. "Aku membuat kau dan aku berada di satu chanel khusus agar kita berdua bisa bermesraan di sini!"


"Tapi aku lebih memilih berbicara denganmu jika kau sudah berada di dalam penjara!" cibir Rikka.


"Hey, ayolah ... jangan bersikap dingin padaku, aku bisa menjadi kekasih yang setia, lho!"


"Maaf, tapi aku sudah punya suami!"


"Suami~ ...?" kata Aldo dengan nada yang dibuat-buat.


"Baiklah, akan kubunuh suamimu besok!" lanjutnya asal.


"Coba saja kalau kau berani!"


"Kenapa kau marah~? Kau mencintai suamimu~?" tanya Aldo masih dengan nada yang dibuat-buat.


"Bukan urusanmu!"


"Baiklah baiklah ... kalau begitu boleh aku meminta sesuatu?"


"Kau kira aku akan mengabulkannya?" balas Rikka ketus.


"Bisa kau perintahkan helikopter itu untuk menyingkir?"


Aldo tetap berbicara tanpa memperdulikan jawaban Rikka yang terakhir.


"Sudah kubilang, apa kau kira aku akan mengabulkannya?"


Rikka terdengar seperti menantang.


"Baiklah jika kau bersikeras ... jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada helikoptermu!"


Rikka mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Aldo yang terakhir.


Sedetik kemudian ...


TRAANG ... DUUAARR ...


Suara ledakan yang berasal dari baling-baling ekor helikopter tersebut terdengar sangat keras.


Sepertinya Kawa berhasil menembak helikopter yang sedang mengejar leadernya tanpa harus menyebabkan kerusakan fatal.


Tapi tetap saja, helikopter itu mulai oleng dan akan segera jatuh ke pepohonan di sekitar jalan tol.


DUUUAAAARRRR ...


helikopter pun berhasil jatuh dan membuat ledakan yang cukup dahsyat.


"Sudah kubilang, kan?" ucap Aldo menasehati.

__ADS_1


"DRAGONFLY, DRAGONFLY, GANTI ..."


Tersengar suara jeritan Rikka yang sepertinya sedikit panik.


"Hey ... tidak perlu khawatir. Mereka belum mati," ungkap Aldo santai.


"Apa yang kau lakukan pada mereka, sialan!"


"Inilah akibatnya jika kau tidak mendengar ucapanku!"


Rikka tak merespon, ia masih tampak serius mengemudi di arus yang berlawanan.


Lalu, dengan santainya Aldo mengeluarkan kepala bersama sebelah tangannya melalui jendela yang terbuka.


"Hey, cantik ... lebih baik kau kembali pulang saja. Tindakanmu ini sangat berbahaya!"


DOORR ...


Rikka menembakkan pistolnya tepat ke wajah Aldo tanpa merespon sedikit pun.


"Woaah!!!"


Aldo berteriak sembari berusaha menghindari peluru tersebut.


Bagaikan slow motion, Aldo melihat dengan jelas peluru itu melesat ke wajah bertopengnya. Tapi di detik-detik terakhir, pria berkepala coklat itu menggerakkan kepala dan tubuhnya ke sandaran kursi dengan selisih jarak tak lebih dari 1 inci.


"WOI ... AKU BISA MATI!!??"


Aldo mengocehkan komplainnya pada Rikka setelah berhasil menghindari peluru.


Sementara Rikka sedang berusaha mengganti magasin pistolnya sembari mengemudi.


"Kau kira aku pe-"


"AWAAS!!! Aldo berteriak menyela perkataan istrinya.


TOOOOONNN ...


Pada saat yang sama truk bermuatan peti kemas melaju kencang tepat ke arah Rikka yang sedang melawan arus.


Spontan Rikka membelalakkan matanya selebar mungkin. Ia juga menarik nafas secara paksa saat truk tersebut sudah hampir menabraknya.


Tapi Rikka langsung tersadar dan membanting setir ke kanan guna menghindari truk tersebut.


Alhasil, Rikka pun berhasil terlepas dari ambang kematian yang sempat menjemputnya barusan.


Tapi tak itu saja, mobil yang melintas di sisi lain juga hendak menghantam mobil yang sedang ia kemudikan.


"Tch ..." decaknya kesal tanpa panik sedikit pun.


Dengan jarak yang sangat tipis, Rikka kembali membanting setirnya ke kanan untuk menghindari hantaman mobil tersebut. Kemudian kembali merapat ke pembatas jalan mendekati Aldo yang sedang terpukau melihat performa istrinya.


"LUAR BIASAAA!!!" teriak Aldo girang.


"Kau sangat hebat, Rikka! Aku tak menyangka kau bisa selamat dari pintu kematian itu!" celetuknya melanjutkan.


Rikka hanya diam tanpa merespon. Kemudian ia berusaha mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil sebelah kiri.


Karena mobil yang di kemudikan Rikka adalah mobil keluaran Amerika, secara kebetulan mobil itu menggunakan kemudi di sebelah kiri. Tidak seperti mobil Aldo yang buatan Jepang, menggunakan kemudi di sebelah kanan.


Rikka masih tampak berusaha mengeluarkan separuh badannya sambil tetap menginjak pedal gas dan membuat mobilnya tetap berjalan lurus.


Aldo yang menyadari apa yang akan dilakukan sang istri menyipitkan matanya, lalu dengan sengaja menabrak pembatas besi tengah yang memisahkan mereka hingga penyok dan berleluk.


Hempasan mobil Aldo juga berpengaruh ke Rikka dan membuatnya sedikit oleng hingga membuat wanita bermata onix itu harus kembali masuk ke dalam mobil.


"Apa kau kira aku akan membiarkannya?" bisik Aldo entah pada siapa.


Setelah itu, Aldo kembali melakukan manuver dan berputar 180 derajat. Lalu ia kembali melaju kencang melawan arus.


Saat Rikka melihat sang target melakukan hal tersebut. Wanita berkepala indigo itu juga melakukan hal yang sama dan kembali mengejar sang pembunuh berantai.


Sekarang keadaan mereka terbalik. Yang awalnya Rikka berjalan melawan arus. Sekarang Aldolah yang melaju cepat melawan arus.


Aldo kembali melihat lekukan pembatas jalan yang ia buat tadi. Lalu menyeringai sembari mengarahkan mobilnya ke sisi sebelah kanan. Sepertinya Aldo ingin melakukan sebuah manuver lagi.


Dan benar saja, Aldo menarik tuas rem tangannya lalu membanting setir ke kiri dan melakukan slalom hingga mobilnya kembali berputar 180 derajat layaknya pengemudi profesional. Kemudian menabrak pembatas jalan yang berlekuk itu hingga jebol dan hancur.


Alhasil, Aldo pun berpindah jalur ke tempat yang sama dengan Rikka sekarang.


Setelah pria berkepala coklat itu berhasil menembus pembatas jalan, ia berhenti sejenak untuk menunggu Rikka yang sedikit tertinggal.


Rikka yang melihat aksi tersebut, ikut menghentikan mobilnya setelah matanya terbelalak akibat aksi keren dari sang Thousand Face Reaper.


VROMMMM ... VROMMMM ...


Aldo masih berhenti dan menghadap ke arah mobil Rikka sembari beberapa kali menggeber GTR kebanggaannya.


Begitu juga dengan Rikka, ia berhenti tepat di depan mobil Aldo sembari menggeber mobilnya seperti seorang pembalap yang siap melaju kencang.


"Baiklah ... sekarang aku akan serius," kata Aldo datar melalui earphone.


"Aku akan meladenimu sampai kau menyerah!" cibir Rikka.


Mendengar ucapan istrinya, Aldo hanya tersenyum kecut. Lalu ...


CKIIIITTT .... VROOMMM ...


Tanpa adanya aba-aba, Aldo bergerak mundur secepat mungkin dengan mobilnya sebelum kembali membenarkan posisi mobil tersebut ke arah yang benar.


Rikka juga tak mau kalah, ia segera menginjak pedal gasnya sedalam mungkin untuk mengejar Aldo yang berada di dalam mobil tersebut.


Sepasang suami istri itupun kembali kejar-kejaran di jalan tol seakan tempat itu adalah halaman belakang rumah mereka.


TIIIT ... TIIIT ... TIIIT ...


Suara indikator mobil Aldo mulai menjerit seolah ingin memberitahunya sesuatu.


"Tch ..." decak Aldo.


Aldo melihat tablet dan membaca tulisan 'CAUTION'


"Sialan ... jadi ini maksudnya!?" umpat Aldo semakin kesal.


Sepertinya indikator itu sedang memberitahukan Aldo bahwa inti software mengalami gangguan akibat benturan-benturan yang diterima mobil tersebut. Terutama benturan terakhir di pembatas jalan.


"Padahal baru dua fitur yang kucoba, tapi sistemnya malah rusak!" oceh Aldo entah pada siapa.


"Sepertinya kau mengalami gangguan teknis di sana?" sela suara Rikka.


Aldo sedikit terkejut mendengar suara istrinya. Sepertinya pria itu lupa kalau dia masih tersambung dengan Rikka melalui wireless.


"Apa kau butuh bantuan?" desis Rikka ironis.


"Kau mengejekku, ya?" respon Aldo.


"Tidak juga!"


Setelah mengucapkan itu, Rikka dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke mobil Aldo dan mengakibatkan bodi mobil mereka pecah berserakan di aspal.


"Kau bilang kau ingin membantuku, tapi kenapa kau malah terlihat seperti ingin membunuhku?" komplain Aldo kesal.


"Ini juga salah satu bentuk bantuan, bodoh!" cibir Rikka.


VROOOMMMM ... BRUUAAKKK ...


Rikka kembali menabrakkan mobilnya dengan sengaja.


"Tch ..." Aldo kembali mendecak untuk kesekian kalinya.


"Ada apa, Tuan Pembunuh?" kata Rikka dengan nada mengejek.


"Baiklah, aku tak punya pilihan lain!" Balas Aldo.


Rikka mengkerutkan dahinya karena bingung apa maksud dari perkataan Aldo.


CKIIITTT ...


Aldo kembali melakukan slalom dan membuat posisi mobilnya menyamping ke kanan seperti sedang memblokade jalan.


DOORRR ... DOORRR ...


Pada saat yang sama ia menembakkan pistol ke arah mobil istrinya. Ke arah kedua ban depan mobil Rikka lebih tepatnya.


Rikka terbelalak dan mobilnya pun menjadi tak terkendali hingga menabrak mobil Aldo yang sedang dalam posisi menyamping dengan cukup kuat.


Aldo segera keluar dari mobil untuk melarikan diri. Tapi Rikka tak sebodoh itu, wanita kepala intelijen tersebut juga keluar dan berlari mengejarnya tanpa mengenakan alas kaki. Tidak, hanya stocking hitam yang menjadi alasnya.


Kini mereka sedang berlari kejar-kejaran seperti anak kecil di sebuah jembatan jalan tol yang sangat sepi. Kemungkinan mereka sudah berlari sejauh 500 meter dari tempat mereka meletakkan mobilnya.


DOORR ... DOORR ...


Rikka menembakkan pistol ke Aldo yang sedang berlari tapi tidak mengenainya sama sekali.


Sembari berlari, Aldo membuang earphone yang ia gunakan. Lalu meraih sebuah ponsel di sakunya kemudian menghubungi seseorang.


"Aku meninggalkan GTR di kordinat yang sama dengan GPS-nya ... segera lakukan penjemputan sebelum bantuan polisi datang, kalian punya waktu lima belas menit!" perintah Aldo melalui telepon.


"Siap, Boss!"


Setelah Aldo mendengar respon dari salah satu rekan satu timnya, Aldo langsung menutup panggilan tersebut dan menambah kecepatan larinya.


Di belakang, Rikka masih mengejar sang pembunuh berantai dengan gigih. Tapi, ekspresi lelah di wajahnya mulai terlihat oleh Aldo.


Dengan sengaja Aldo malah mengurangi kecepatan larinya, lalu menoleh ke sana-kemari seperti mencari sesuatu.


DOOR ...


Rikka kembali melepaskan tembakkan. Sedangkan Aldo melompat ke sungai yang ada di bawah jembatan tersebut.


"Tch ..."


Rikka tampak semakin kesal di balik wajah lelahnya karena melihat betapa gigihnya pembunuh berantai itu untuk melarikan diri.


Tapi Rikka juga tak menyerah sampai disitu. Ia berlari ke tepi jembatan dan berusaha mencari sosok targetnya.


Rikka tersenyum. "Sepertinya kau tersangkut, Tuan Pembunuh?"


Tampak di mata Rikka, sang pembunuh berantai yang berjuluk Thousand Face Reaper sedang bergelantungan menggunakan tali berwarna perak yang berasal dari sabuk lengannya.


DOORR ...


Rikka kembali melesatkan peluru ke arah Aldo. Tapi pelurunya hanya memantul di sabuk lengan futuristik milik sang pembunuh saja.


Sepertinya tembakan Rikka barusan juga berhasil merusak sabuk lengan futuristik tersebut. Itu terbukti dari sabuk lengan yang di kenakan Aldo di pergelangan tangan kirinya sedikit mengeluarkan asap.


"Sedikit!" balas Aldo asal.


"Kalau begitu aku akan membantumu!" teriak Rikka ironis.


KLIK ... KLIK ...


Sepertinya Rikka sudah kehabisan peluru.


"Tch ..." Rikka lagi-lagi mendecakkan lidahnya.


Aldo mengernyit, lalu beberapa saat kemudian Rikka terlihat sedang ingin melompat ke arahnya yang sedang bergelantungan.


"Kau pasti sudah gila, Rikka!" cerocos Aldo.


"Kutangkap kau!"


Bersamaan dengan itu, Rikka melompat ke bawah, ke arah Aldo lebih tepatnya, sambil mengarahkan sebuah belati yang baru diambil dari holster pisau di paha mulus miliknya.


"A-apa-apaan ka-"


Pria berkepala coklat itu pun terbelalak tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya.


-----


Jangan lupa LIKE, VOTE DAN COMMENT kalian ya


Thank you... 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2