
Bukankah semua manusia yang tidak saling mengenal itu adalah Alien? yang tinggal di planet nya masing masing?
***
Seorang pemuda yang masih berstatus sebagai siswa, di sebuah sekolahan internasional swasta paling elite tempat mencetak para generasi muda berprestasi itu, sedang mondar mandir mondar mandir di atas sebuah gedung kosong yang sudah puluhan tahun terbengkalai, dengan wajah nya yang pucat pasi dan nafas nya yang sedikit tersengal, dia terlihat sangat frustasi dengan keadaan nya, sesekali dia berteriak seolah olah ingin menyampaikan sebuah rasa penyesalan yang selama ini terpendam.
Tampak airmata menghiasi kedua bola mata nya yang sedikit sipit itu, kadang kala dia berjalan maju ke ujung gedung, namun sesaat kemudian dia kembali mundur beberapa langkah dari ujung gedung, seperti nya pergulatan batin pemuda itu sedang sangat tersiksa saat ini, sehingga harus mengantarkan nya ke sebuah lembah penderitaan antara hidup dan mati.
" kalau ingin mati ya sekalian lompat, kalau masih ingin hidup, pergi sejauh mungkin dari sini!"
Suara seorang wanita memecah suasana, dia toleh kan kepala nya ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara itu, namun tidak dia temukan siapa siapa disana, pemuda itu mulai panik, tubuh nya bergidik ngeri, mungkin kah suara itu berasal dari seorang malaikat yang sedang mengikuti nya untuk pergi ke alam baka?
Dia menepuk nepuk wajah nya untuk memastikan apakah masih terasa sakit atau tidak? Barang kali memang dia sudah berada di alam baka saat ini.
Auh!
"sakit!" gumam nya, yang arti nya dia tidak sedang di alam baka,
"ha ha ha, dasar bocah aneh!" suara itu kembali terdengar, namun sekali lagi, dia tak juga menemukan sumber suara itu dengan benar
" hey, siapa kau? berani berani nya menertawakan ku?" teriak pemuda itu dengan penuh emosi, sifat nya yang koleris memang membuat nya tidak mudah menerima sebuah kekalahan apa lagi hinaan dari seseorang untuk nya.
" untuk mencari keberadaan ku saja kau susah? Lantas kau ingin mencari keberadaan alam baka? Sungguh sangat di sayangkan!" perempuan itu kemudian turun dari bangunan yang agak sedikit tinggi dari tempat pemuda itu berdiri, bangunan yang di khususkan untuk penyimpanan toren Air di gedung tersebut, kemudian dia turun dan berjalan mendekat ke arah pemuda menyedihkan itu.
Pemuda itu merasa sangat bersyukur, ternyata suara tadi bukanlah hantu atau malaikat, melainkan seorang bidadari yang sangat cantik nan anggun dengan dress hitam panjang menutupi tumit nya, berdiri tepat di hadapan nya.
Perempuan itu tampak seusia nya, tidak lebih dan tidak kurang.
__ADS_1
" siapa kau?" Tanya pemuda itu dengan mata nya yang terperangah melihat kecantikan perempuan itu,
" apa untuk mengetahui nama ku itu penting bagi mu?"
Perempuan itu berbicara dengan angkuh tanpa menatap wajah pemuda yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMA tersebut,
" kalau begitu, dari mana asal mu?" pemuda itu kembali bertanya dengan rasa penasaran nya.
" panggil saja Aku alien, Aku tinggal di planet dengan alien alien yang sama seperti diriku!" ungkap nya, sembari menikmati udara sore di kota itu,
" Sungguh Aku serius ingin mengenal mu!"
seperti nya pemuda itu sudah mulai berdamai dengan perasaan nya saat ini.
" kau tidak akan tahu siapa Aku! karena Aku adalah alien yang tinggal di planet berbeda dengan planet mu saat ini!" perempuan itu masih berbicara dengan gaya angkuh nan elegan nya, rasa nya baru kali ini, pemuda itu melihat seorang wanita seusia nya yang terlihat sangat berwibawa seperti diri nya.
" sungguh nona, Aku tidak mengerti dengan apa yang nona ucapkan!"
" lupakan tentang itu, kenapa kau mengunjungi tempat ini?" perempuan itu bersikeras tidak mau menunjukan identitas asli nya kepada pemuda itu, dengan mengalihkan topik pembicaraan,
" baiklah, jika nona tidak mau menceritakan siapa nona yang sebenar nya, aku tidak akan memaksa!"
pemuda itu sedikit kecewa dengan keputusan perempuan itu untuk tidak memberi tahu prihal nama nya.
" bagus jika kau tidak ingin tau siapa Aku!" perempuan itu beranjak pergi meninggalkan pemuda itu seorang diri disana.
" nona, tunggu!" dia mencegah perempuan itu untuk pergi dari sana, dari balik topi lebar yang dia kenakan, perempuan itu tersenyum tipis, tanda kemenangan nya untuk menaklukan pemuda putus asa tersebut, seraya kembali memutar badan nya ke arah pemuda yang baru di kenal nya itu.
" Sudi kah Nona menemani saya disini untuk sesaat?"
__ADS_1
Pemuda itu merasa sangat tertarik dengan wanita yang bergaya seperti wanita wanita bangsawan pada umum nya ini.
" boleh, asalkan kau mau berjanji!"
perempuan itu mengajukan sebuah syarat untuk pemuda yang masih mengenakan baju SMA itu lengkap dengan tas ransel di punggung nya.
" jangan pernah mencoba coba untuk mengakhiri hidup, sesakit apapun kehidupan yang kau jalani!"
Ucap perempuan itu, sembari mengangkat jari kelingking nya, pemuda itu tersenyum melihat nya, dan dengan antusias menyambar tangan perempuan itu sembari menautkan jari kelingking mereka, meskipun pemuda itu tersenyum lebar di hadapan nya, tidak dengan perempuan itu, yang masih tetap tanpa ekspresi.
Mereka duduk bersama, saling menyandarkan diri diri di tembok yang mengeliling atap gedung tersebut, wangi angin sore bertiup semilir menggerakkan rambut panjang perempuan itu yang tergerai, siluet jingga menghiasi cakrawala di ujung barat, sebuah pemandangan indah yang memberikan kesan tersendiri bagi para penikmat senja,
" jadi, kenapa kau ingin lompat dari atas sini? Aku sudah lama memperhatikan mu disini, tapi baru kali ini kau ingin sekali melompat? Why?"
Perempuan itu mulai membuka pertanyaan dari hening nya Susana di gedung tersebut.
" jadi selama ini kau ada disini?" tanya pemuda itu, perempuan yang mengenakan topi khas seperti Noni Noni Belanda itu mengangguk, sebagian wajah anggun nya terlihat, dari balik topi lebar nya itu.
" sebenar nya Aku bukan orang yang suka keramaian, Aku lebih suka menyendiri seperti ini saat sedang dalam keadaan sedih atau terluka!"
Pemuda itu mulai membuka cerita nya,
" lalu kenapa kau ingin sekali lompat dari atas ketinggian gedung ini? Bukankah Aku melihat hidup mu sudah serba berkecukupan?"
perempuan itu tahu betul seragam yang di gunakan pemuda itu adalah seragam dari sekolahan dengan kasta ter tinggi di negri ini.
" Ayah ku seorang koleris yang sangat tidak menyukai kekalahan!" pemuda itu menundukkan kepala nya, dia merasa sangat malu jika harus bercerita tentang keluarganya yang berantakan itu.
" lantas apa hubungan nya dengan dirimu?" sebuah pertanyaan yang rasional keluar dari mulut perempuan itu
__ADS_1
"Aku adalah anak tunggal dari keluarga ku, sejak kecil Ayah ku mendidik ku cukup keras, dengan harapan agar Aku bisa meneruskan perusahaan Ayah ku yang sangat maju dengan berbagai sektor, dia mempersiapkan segala nya dengan baik untuk pendidikan ku!"
pemuda itu mencoba menceritakan semua keluh kesah nya di bawa kolong langit bersama perempuan yang mengaku bahwa dirinya seorang Alien.