
"Maaf!" ucap Robi.
Laki laki itu menyadari kesalahan nya, jika ucapan nya sudah menyakiti perasaan Tiara.
"Nggak papa! Kamu memang benar, Aku suka kelewatan kalo terlalu senang atau terlalu simpati kepada orang!" Jawab Tiara, suasana menjadi hening.
Dari kejauhan, seorang perempuan berambut ikal dengan make up tebal, datang menghampiri mereka, seraya membuka pintu gerbang yang terkunci itu.
"Eh, Pak Nova! Maaf ya Saya telat, habis menyusui!" ucap nya centil.
"Ha? Menyusui?" ucap mereka bertiga kompak, sebab tak ada tanda tanda wanita itu habis melahirkan, atau sekedar ada anak kecil di dalam sana.
"Iya, menyusui Anabul!" Wanita itu tertawa memperlihatkan gigi yang di lapisi perhiasan, yang memantulkan cahaya saat terkena sinar Matahari.
"Owh,!" mereka kembali menjawab dengan kompak.
"Mari Pak Nova silahkan masuk!" Wanita itu mempersilahkan mereka masuk dengan gaya centil nya.
"Btw, siapa ini Pak Nova? Tampan sekali seperti artis artis China?" Wanita itu men towel lengan Robi yang kekar.
"Itu, Asisten nya Pak Haris, selaku pemilik perusahaan tempat saya bekerja!" jawab Nova.
"Auh, lengan nya keras sekali, pasti perut nya kotak kotak kayak roti sobek!" wanita itu mengeringkan satu mata nya, mencoba menggoda Robi yang memang sangat mempesona.
Robi hanya tersenyum ramah, tidak menanggapi godaan wanita genit tersebut.
"Aduh, senyum nya buat Aku melting, ganteng banget sih!" Wanita itu kembali men towel lengan Robi.
Tiara tertawa kecil melihat ekspresi Robi yang sedikit tidak nyaman itu.
__ADS_1
"Ayo silahkan masuk!"
Akhir nya mereka sampai di depan pintu Kosan yang menjulang tinggi tersebut, Wanita pemilik kosan itu membukakan pintu untuk mereka bertiga, dan mempersilahkan mereka untuk melihat lihat isi Kosan itu.
"Wah, lengkap sekali furnitur nya!" Tiara sangat takjub, melihat kosan yang sudah seperti apartemen itu, di dalam ruangan yang besar itu, sudah terdapat furnitur lengkap, termasuk kasur dan perlengkapan memasak.
"Pak Nova, apa betul Aku boleh tinggal di sini?" tanya Tiara yang masih terperangah dengan kemewahan tempat itu.
"Tentu saja, ini untuk Nona Tiara, atas rekomendasi dari Pak Doni!" tutur Nova.
"Terima kasih ya Don!"
"Sudah lah, kamu istirahat saja dulu, besok Kamu sudah mulai bekerja!" terang Robi,
"Untuk berangkat pulang dan pergi nya, Nona Tiara bisa memesan ojek online atau Bus kota, kebetulan jarak nya tidak jauh dari sini!" tutur Nova.
Tiara mengangguk, menyetujui usul Nova, kemudian kembali melihat lihat isi Kosan tersebut, sembari kembali mengingat diri nya 12 tahun yang lalu, saat Ayah nya masih hidup dan menjadi seorang pengusaha sukses, namun semua nya menjadi berbanding terbalik saat Sang Ayah gagal memenangkan tender dalam sebuah proyek pembangunan jalan Tol lintas pula Jawa.
Untung tak pernah di dapat, tapi hutang semakin menumpuk untuk menggaji karyawan karyawan yang meminta hak nya.
Sampai pada suatu Hari, tempat tinggal Tiara dan keluarga nya, di satroni oleh pihak Bank yang selama ini memberikan pinjaman modal kepada Ayah Tiara, dengan jaminan Rumah dan beberapa aset yang mereka miliki.
Tiara dan keluarga nya, terpaksa harus mengontrak di sebuah kontrakan kecil yang kini di tempati oleh Tiara dan Ibu nya.
Suatu Hari di malam yang dingin, Ayah Tiara pergi meninggalkan Rumah dengan menggunakan motor bebek usang peninggalan Kakek nya.
Lengkap dengan jaket Hitam dan Topi putih, dia berpamitan dengan Tiara dan Ibu nya untuk menemui seseorang, Namun takdir berkata lain, Tiara tidak pernah menyangka jika itu adalah pertemuan terakhir nya bersama Ayah yang amat di cintai nya itu.
Angin dingin berhembus, menerpa tubuh Tiara yang kecil, perasaan dingin yang menembus tulang, mengantarkan nya pada firasat buruk yang membuat hati nya gelisah tak tentu arah, mendapati Ayah nya yang sudah larut malam tak kunjung pulang.
__ADS_1
Berkali kali Ibu menelpon Ayah, Namun tak pernah ada jawaban, dengan Wajah yang pucat Pasih, Ibu terus berusaha menghubungi Ayah nya, setidak nya mendengar suara nya sedikit saja dia sudah lega.
Tiara yang sudah panik, segera berlari ke rumah Tante Mela tetangga baru nya yang baik itu, dia mengadukan semua kegundahan nya kepada Tante Mela, bahwasanya Ayah nya tak kunjung pulang sejak selepas Maghrib, dan nomor HP nya tidak bisa di hubungi sama sekali.
Mendengar cerita Tiara, Tante Mela beserta warga berusaha mencari keberadaan Ayah nya, Namun pencarian itu tak membuah kan hasil.
Hari itu, Tiara dan Ibu nya harus tidur dengan perasaan gundah, berkali kali mereka berusaha memejamkan mata, namun tak bisa, bayangan Ayah nya yang segera pulang ke rumah terus menggelayuti Pikiran nya.
Tiara terus mondar mandir mengintip ke jendela, setiap ada bunyi motor yang lewat di depan rumah nya, barangkali motor itu adalah Ayahnya yang pulang dari pergi nya Maghrib tadi.
Namun itu tidak benar, Suara suara motor itu bukanlah motor Ayah nya, Wajah nya lesu saat melihat kenyataan itu, dia terpaksa harus kembali ke kamar nya dengan perasaan kecewa.
Hingga pagi menjelang, sebuah titik terang di temukan, Motor yang di kendarai Ayah Tiara semalam, terparkir di atas jembatan penghubung kota, lengkap dengan sandal dan dompet nya.
Namun, tidak ada satu pun surat yang tertulis sebagai pesan permintaan maaf atau hanya sekedar salam perpisahan dari Ayah nya.
Beredar kabar jika Ayah Tiara telah melompat ke dalam sungai yang aliran nya deras itu, padahal semua orang tau, jika dia tidak bisa berenang sama sekali.
Hati Tiara dan Ibu nya hancur mendengar kabar itu, bagaikan di pukul dengan besi raksasa, hati nya remuk namun tak meninggalkan darah.
Dia berjalan menghampiri Motor yang digunakan Ayah nya tersebut, namun semakin dia mendekati motor itu, kaki nya semakin lemas seperti tak bertulang, gadis itu ambruk bersama harapan nya yang seketika menghilang.
Dua Hari kemudian, Jasad Ayah nya ditemukan mengambang di hulu sungai yang berjarak berkilo kilo meter dari titik pusat, Setidak nya Tiara lega, bisa melihat Ayah nya dikebumikan dengan layak di pemakaman umum Desa setempat.
Semenjak kejadian itu, Ibu Tiara selalu menangisi kepergian Ayah nya, berhari hari dia tidak mau makan, apa lagi hanya sekedar bangun dari tempat tidur nya, Wanita itu mengalami guncangan yang sangat hebat, akibat rentetan peristiwa buruk yang terus di alaminya.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, Dia harus rela hidup miskin akibat krisi ekonomi yang di alami nya, sekaligus harus kehilangan suami yang menjadi harapan nya selama ini, sebab sebelum kepergian nya, Ayah Tiara selalu berjanji untuk mengembalikan perekonomian keluarga nya agar membaik kembali.
Hari demi Hari mereka lalui, kesehatan Ibu Tiara menjadi semakin memburuk, depresi yang di alami nya sangat dalam, hingga menyerang sistem syaraf yang ada di otak nya, sampai pada akhir nya Ibu Tiara dinyatakan lumpuh akibat pendarahan di otak nya.
__ADS_1
Di usia nya yang masih 12 tahun, dia harus mengemban beban yang amat dalam, beruntung Tante Mela selalu membantu nya, wanita itulah yang bersedia membiayai sekolah Tiara hingga lulus SMA, serta merawat Ibu Tiara yang kini lumpuh.
Entah harus membalasnya dengan apa? Yang jelas, Tante Mela adalah malaikat yang menyamar menjadi Manusia di mata Tiara, sampai saat ini, Tante Mela terus menerus membantu kehidupan nya yang rumit itu.