ARISTOKRAT

ARISTOKRAT
KUPU KUPU MONARCH 4


__ADS_3

" Jadi kamu masih ingin disini?" tanya Tuan Herman kepada Raisa,


" Kalau Papa ingin pulang sama Mama, silahkan pulang terlebih dahulu, Aku masih ingin di sini, sampai acara selesai!" Ucap Perempuan cantik itu.


" Baiklah, Papa dan Mama pulang dulu, kamu telpon aja kalau sudah ingin pulang!"


Ucap Nyonya Herman, kemudian berpamitan dengan saling menempelkan pipi kanan dan pipi kiri mereka,


" dah,kami pulang dulu, hati hati nanti kalau pulang!" Nyonya Herman melambaikan tangan nya di dalam mobil, Raisa menanggapinya dengan menganggukkan kepala, sebelum akhir nya mobil yang di tumpangi Tuan dan Nyonya Herman lepas landas dari pandangan Raisa.


Kini, hanya menyisakan Raisa dengan segelintir orang yang masih setia di tempat itu.


Waktu sudah menunjukan pukul 22:45 yang artinya tinggal satu jaman lagi sudah akan memasuki tengah malam, Raisa dengan muka gelisah masih mengharapkan seseorang yang sangat ingin di temui nya datang ke acara istimewa nya tersebut, namun tak ada sedikit pun tanda tanda yang menunjukan bahwa dia akan datang ke gedung tersebut untuk sekedar memberi nya dukungan atau pun selamat.


Pukul 22:30 hujan mengguyur kota itu dengan deras, semua orang yang ada di gedung tersebut satu persatu sudah meninggalkan tempat itu, kini hanya menyisakan Raisa seorang diri, lampu lampu yang semula menyala terang satu persatu telah padam.


Dengan sangat terpaksa, Raisa harus pulang kerumah nya sekarang juga, segera dia mengambil HP nya yang ada di tas untuk menghubungi supir pribadi nya, dia meraba raba isi tas nya untuk mencari HP tersebut, namun dia tidak menemukan HP itu sama sekali, wajah nya sudah mulai panik,


'Bagaimana kalau HP itu ternyata tertinggal di rumah?'


Tidak mungkin dia menemukan taksi di tengah malam begini!


Jarak antara gedung itu dengan rumah nya sangat jauh,apa lagi dia seorang perempuan tidak mungkin dia berjalan kaki seorang diri di tengah guyuran hujan begini.


Setelah sekian lama dia mengerondai isi tas nya, Kini dia menyadari jika HP itu memang benar benar tertinggal di kamar nya.


"Astaga, Aku harus bagaimana setelah ini?"


Raisa terduduk lesu, melepaskan pikiran nya yang kacau.

__ADS_1


Hujan masih setia menyelimuti Kota dengan udara dingin nya, memeluk tubuh orang orang yang lelah setelah seharian bergelut dengan Dunia.


Lampu lampu gedung itu sudah padam sepenuh nya, tak menyisakan satu orang pun disana, kecuali Raisa yang sedang meringkuk kedinginan di pelataran Gedung itu, Dia merasa kebingungan harus bagaimana? Mau tidak mau dia harus berjalan menyusuri setiap sudut kota untuk sampai di Istana megah nya.


Raisa berjalan ditengah guyuran hujan, sesekali dia menoleh ke kanan dan ke kiri, barang kali ada taksi yang masih beroperasi ditengah malam begini, namun tak ada satupun tanda tanda manusia yang lewat atau hanya sekedar duduk duduk di pos untuk melakukan ronda malam.


Terlihat siluet hitam dari tubuh nya yang membelakangi cahaya lampu, sejenak dia berhenti, dia merasakan kehadiran seseorang yang membuntuti nya dari belakang.


Sekujur tubuh nya bergemetaran, jantung nya terpacu lebih kencang ketika dia benar benar menyadari ada orang yang memang mengintai nya sedari tadi, tanpa melihat ke belakang dia melepaskan sepatu hak tinggi nya mengambil posisi kuda kuda untuk bersiap berlari,


" Mau kemana? Kenapa terburu buru?"


Terdengar suara seorang laki laki menegur nya,


Raisa sudah tidak mampu berkata apa apa, wajah nya semakin memucat ketika mendengar suara itu begitu dekat dengan nya, dia benar benar ketakutan saat itu hingga tak sedikitpun dia menoleh ke arah suara itu,


" Jangan takut, Aku orang baik baik!"


" Alan?" Raisa membalik kan badan nya, dan ternyata dia benar benar tidak salah, suara itu adalah suara Alan.


" Iya, ini Aku!"


Ada sedikit lega di dalam hati Raisa, tapi juga ada rasa kecewa di dalam dada nya, seseorang yang di harapkan benar benar di harapkan tidak datang,


" Kenapa kamu ada disini?" dia merasa heran kenapa Alan bisa tau jika dia sedang mengikuti pameran lukisan di gedung ini.


" Kebetulan Aku lewat sini, dan kebetulan juga Aku lihat kamu berjalan kaki kayak orang ilang di tengah malam gini!"


Alan cukup santai menjawab nya, padahal sebenar nya dia tau Raisa mengadakan pameran lukisan di gedung itu, secara tidak sengaja dia mendengar percakapan Raisa dengan Rudi di ruang Perpustakaan tadi Siang.

__ADS_1


" Naik lah ke mobil Ku!"


Alan menggandeng tangan Raisa yang basah oleh air hujan.


Mereka menuju mobil Alan yang terparkir di seberang jalan, kali ini Alan sudah seperti Dewa penyelamat bagi Raisa, berkat dia Raisa bisa pulang dengan selamat.


" Aku minta maaf atas kejadian kemarin di sekolah!" Alan membuka percakapan di tengah keheningan laju kendaraan nya.


" Ti,tidak apa apa! Aku tahu kamu tidak sengaja?" ucap Raisa.


'Oh Tuhan, gadis ini begitu menawan'


Gejolak di hati Alan sudah tidak terbendung, perasaan cinta nya kepada Raisa semakin menyala nyala, Namun apa daya? Dia tak mampu mengungkapkan perasaan nya, sebab bisa habis nasib nya, jika orang tua nya tau kalau dia berpacaran,Bagi keluarga Alan, pendidikan adalah yang paling utama.


Akhir nya, mereka sampai di depan Istana Raisa yang sangat megah,


" Terima kasih Alan!" Ucap Raisa yang sudah berdiri di depan gerbang rumah nya,


" Sama sama, lain kali jangan tinggalkan HP mu di rumah!" ucap Alan dengan kepalanya yang sedikit keluar dari jendela mobil.


" Kok kamu bisa tau tentang HP ku yang tertinggal?"


Alan mulai salah tingkah, bingung mencari jawaban yang tepat.


" emm, i, iya gak mungkin lah kalau kamu bawa HP terus memilih jalan kaki, jelas kamu lebih memilih telpon orang rumah dari pada jalan kaki!"


Sudah kebiasaan Alan, yang bergemetaran saat dia sedang panik.


"Iya, ya? Ya sudah Aku masuk dulu ke rumah, kamu hati hati y di jalan!"

__ADS_1


Senyum perempuan itu merekah, membuat Alan tak sanggup lagi melihat nya, hati nya bergetar hebat, jiwa nya menari riang, seperti berada di hamparan taman bunga yang indah, Dimana harum nya mampu tercium dari kejauhan.


Tapi Alan sadar, perasaan Raisa hanya untuk Rudi, dia tahu betul cara Raisa menatap nya dan cara Raisa menatap Rudi sangat jauh berbeda, tapi apalah daya, bukan kah cinta yang sesungguh nya adalah cinta yang selalu ada meskipun tak mampu memiliki raga nya,Tugas Alan hanyalah memupuk perasaan itu, Agar terus tumbuh subur seiring berjalan nya waktu, tak peduli kepada siapa Raisa akan berlabuh, yang jelas dengan melihat Raisa saja hati nya sudah sangat bahagia.


__ADS_2