
Bebi terperangah dengan wajah tampan yang di miliki Dirga, tatapan mata yang tajam, alis tebal dengan hidung yang mancung, membuat Bebi merasa gugup saat sedekat ini berhadapan langsung dengan siswa yang di nilai nya sombong tersebut.
Bebi, tersadar dari lamunan nya, dia melepaskan genggaman tangan nya dari tangan Dirga yang berdiri mematung di hadapan nya itu.
"Ma,maaf Kak!" ucap Bebi, wajah nya bersemu merah, sembari merasakan detak jantung nya yang memacu lebih kencang dari biasa nya.
"Ada urusan apa?" Laki laki itu menggiring Bebi dan kawan kawan nya untuk keluar dari ruang hening tersebut.
Mereka mengikuti langkah Dirga, mengekor di belakang nya, kemudian laki laki itu berhenti di koridor ruang Perpustakaan tersebut.
"Emm, Anu kak, Aku,Aku mau daftar jadi anggota OSIS!" ujar Bebi, perempuan itu menyerahkan tumpukan kertas formulir pendaftaran mereka bertiga.
Dalam benak Dirga, dia merasa aneh dengan perubahan sifat Bebi yang mulai menggunakan Aku Kamu dalam percakapan mereka, perempuan ini tampak manis jika sikap nya tak seperti Nenek sihir seperti biasa nya.
Pun dengan Cika dan Ani, yang merasa aneh dengan perubahan Bebi, kenapa segampang itu dia luluh dengan Dirga, seperti dengan melupakan masalah nya tadi pagi begitu saja.
Dirga menerima selebaran itu, tanpa kata kata atau pun tanpa ekspresi, laki laki ini memang sangat angkuh dan sombong, tidak semua cowok bisa berkesempatan langsung untuk berbincang bincang dengan Bebi, Dirga benar benar menyia nyiakan kesempatan ini.
"Yasudah, Minggu depan datang lebih awal untuk seleksi perekrutan calon anggota OSIS!" ucap nya masih tanpa ekspresi.
Dirga memang berbeda dari cowok cowok lain nya, dia tak pernah memanfaatkan kedudukan atau ketampanan wajah nya untuk meraih popularitas agar di senangi atau di kejar kejar para cewek untuk meminta tanda tangan nya atau meminta nya untuk dijadikan pacar, Dirga bukan orang seperti itu, hidupnya sangat lurus dan terarah, bagi nya nilai akademis yang tinggi adalah prioritas utama nya.
"i,iya sudah kak, kami pamit!" Bebi sedikit salah tingkah dengan sikap Dirga yang super duper cuek, tapi itu yang membuat Bebi semakin penasaran dengan sosok Dirga.
"Tunggu!" Dirga memanggil kembali Bebi yang sudah selangkah pergi dari hadapan nya.
"Nama kamu belum tercantum!"
ternyata Dirga cukup selektif.
Astaga, bikin malu saja! kenapa sampai lupa gak tulis nama?
Bebi, mengambil kembali kertas formulir itu, namun dia lupa tidak membawa bulpen.
"Cik,An, lo bawa bulpen nggak?" bisik Bebi, sembari senyum senyum untuk menahan malu di hadapan Dirga yang hanya melirik nya itu.
"Ya enggak lah, ya kali harus bawa bawa bulpen ke kemana mana? kayak pejabat aja!" ucap Cika,
__ADS_1
"Ambilin bulpen ke kelas cepat!" gumam Bebi menyuruh Ani untuk mengambilkan bulpen, perempuan itu masih tersenyum senyum di hadapan Dirga untuk membunuh rasa malu nya.
"Yang benar saja, jarak kelas kita jauh, keburu bel masuk!" ucap Ani lesu.
Dari kejauhan, terlihat gadis berkacamata yang di tolong Dirga dalam insiden bakso tumpah tadi pagi, sedang berjalan menghampiri Dirga dengan membawa selembar kertas dan bulpen di tangan nya.
"Hey kak!" perempuan cantik berkaca mata itu tersenyum ke arah Dirga, begitupun dengan Dirga menyambut nya dengan senyuman yang tulus.
" Hey Klara!" ucap Dirga, menyambut kedatangan Klara dengan hangat.
Gila, giliran cewek culun ini aja, dia tersenyum semanis itu, apa sih kelebihan cewek udik bermata empat itu?
Bebi, bergumam tak karuan, hati nya merasa sangat kesal dengan apa yang di lihat nya itu, secara fisik gadis itu jauh dengan Bebi yang cantik paripurna, kenapa Dirga sama sekali tidak terpengaruh dengan kecantikan Bebi?
"Nah, kebetulan ada bulpen!" teriak Ani, yang melihat Klara membawa bulpen di tangan nya.
"Owh, kakak butuh ini? Ambil saja, Aku punya banyak di tas!"
Klara tersenyum tulus melihat Bebi yang memasang muka jutek itu, dengan sangat terpaksa dia menerima bulpen pemberian Klara.
"Iya kak, Aku mau jadi seperti kakak yang super duper hebat di mata Aku!" Klara memegangi tangan Dirga, terlihat mesra, seperti orang orang yang berpacaran pada umum nya.
Bebi, menuliskan nama nya di di kolom paling atas, bagaimana bisa? Dia bisa melupakan hal terpenting dalam pendaftaran tersebut, tapi begitulah Bebi, tidak ceroboh tidak asik.
"Sudah Kak!" Bebi menyerahkan lembaran formulir itu kepada Dirga, sembari melirik sinis Klara yang sok kecentilan itu di hadapan Dirga.
Dirga menerima formulir itu, tanpa melihat Bebi sedikit pun, pandangan nya hanya terfokus pada Klara,
Anjir,di kacangin gue!!
"Nih, bulpen Lo!" Bebi mengembalikan bulpen itu kepada Klara.
"Nggak usah kak, ambil aja buat kakak!" ucap Klara yang tersenyum tulus kepada nya.
"Eh, Elo kira gue miskin gitu? Sampek gak bisa buat beli bulpen? Bokap gue tajir melintir, saham nya di mana mana, dia juga donatur terbanyak di sekolahan swasta ini, buat apa gue memungut bulpen jelek milik cewek udik kampungan kayak elo!"
Bebi sudah kepalang kesal, dia membuang bulpen itu kelantai kemudian menginjak injak nya, hingga patah menjadi beberapa bagian, kemudian meninggalkan Klara dan Dirga dengan raut wajah yang penuh emosi, sebenar nya bukan masalah bulpen atau apa yang membuat Bebi kesal, melainkan sifat dingin Dirga yang membuat nya merasa sangat kesal dan tidak di hargai, dia beranjak pergi tanpa sedikit pun kata maaf atau pun terimakasih kepada Klara.
__ADS_1
Ani dan Cika membuntutinya di belakang, mereka tak menyangka, Bebi bisa selesai itu dengan Klara yang sudah berniat baik memberikan bulpen nya kepada Bebi, tanpa di sadari, air mata Bebi mengalir begitu saja, dia menangis dalam rasa kesal nya sendiri, Cika dan Ani merasa bingung dengan apa yang di alami oleh sahabat nya tersebut.
"Kenapa lo nangis Beb?" ucap Cika menenangkan perasaan sahabat nya tersebut.
"Gue kesel, kenapa Dirga cuek banget sama gue!" ucap nya,
"Apa jangan jangan?" Cika dan Ani sama sama menebak perasaan Bebi.
"Elo jatuh cinta sama Dirga?" tanya Ani.
"Ih, enak aja! gak ada di kamus gue jatuh cinta duluan sama cowok,dimana mana Bebi yang di taksir, bukan Bebi yang naksir!" ucap nya, sembari terus menangis mengeluarkan kekecewaan nya.
"Jangan bohong, dari raut muka lu, gue tau elo cemburu sama Klara, yang dengan mudah mendapatkan senyum Dirga!" Ani terus meledek sahabatnya itu,
"Diem Lo,banyak cincong kali mulut Lo!" Bebi menendang sedikit kaki Ani.
"Auh, sakit Beb!" ujar Ani,
"Tapi gue dukung elo Beb, Ratu kecantikan, sama Raja cuek, cocok kog!" Cika tersenyum puas, melihat sahabat nya mulai tumbuh menjadi perempuan dewasa yang tertarik dengan lawan jenis.
"Ih, apaan gak ada nggak ada, Dirga itu musuh gue, dia udah bikin gue sakit hati, gue harus membalas dendam gue!" ucap Bebi, sembari mengepalkan tangan nya.
"Ya dah, terserah elu deh!" ucap Cika, dia tersenyum senyum kecil bersama Ani, di belakang Bebi yang sedang kesal.
Sementara di lain tempat, Dirga dan Klara saling pandang, kemudian tertawa renyah melihat sikap Bebi yang terlihat sangat kesal tadi, laki laki itu mengacak acak rambut Klara yang pendek itu, dia gemas melihat perempuan yang ada di hadapan nya itu, baru kali ini Dirga tertawa dengan renyah, setelah sekian lama hanya mengurung diri dalam kesendirian, bagi nya kehadiran Klara adalah obat untuk keresahan keresahan hati nya yang menjalar hingga pusat otak nya.
"Kamu tidak marah Ra?" tanya Dirga
"Buat apa marah kak? dia hanya berusaha menyampaikan perasaan nya kepadaku!"
Klara sangat bijak, dengan tidak membalas perbuatan Bebi yang sudah sangat keterlaluan di hadapan nya itu.
"Kamu memang berbeda Klara!" sejenak Dirga memandang Klara dengan tulus, seraya merangkul perempuan cantik itu dalam dekapan nya.
"Maafkan Aku, yang tidak bisa menjaga mu kali ini!" ucap Dirga.
"Tidak apa apa kak, Aku tahu kog posisi kakak!" ucap Klara, yang memanggil Dirga dengan sebutan kakak, kedua nya memang sering berbagi Memon romantis di dalam kedekatan mereka.
__ADS_1