
"Kalian mau pesan apa? Biar Gue ambilin!" lagi lagi Bebi menunjukan sifat tak biasa kepada dua sahabat nya itu.
"Beneran Beb?" Ucap Ani yang masih tidak percaya dengan perubahan Bebi yang begitu cepat.
"Beneran lah, Buruan, mau pesan apa?"
"Ice lemon tea aja deh!" Ani sedikit sungkan dengan sifat Bebi yang berubah itu.
"Kalo Elo Cik?"
"Gue,gue Strawberry milk shake aja!" Cika juga merasa sedikit takut dengan perubahan yang di alami Bebi.
kemudian perempuan cantik itu berjalan menuju outlet outlet penjual makanan yang sudah di sediakan di kantin tersebut.
"Pengumuman, pengumuman, kami para anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah sedang mencari calon siswa atau siswi baru yang mau ikut bergabung dengan kami, silakan di baca selembaran ini!"
Seorang siswa berpawakan gendut dengan kacamata dan rambut yang berponi sedang memberikan pengumuman di hadapan para murid yang sedang asik menikmati makan Siang nya di kantin, siswa itu bersama beberapa teman nya berjalan dengan membawa tumpukan selebaran yang berisi tata cara untuk menjadi calon OSIS.
"Hai Beb!" Siswa yang bernama Evo itu menghampiri Bebi sembari mengerlingkan satu mata nya seperti orang orang genit pada umum nya.
"Hai juga!" Bebi membalas kerlingan itu dengan centil,
"Nih, kalo elo minat, ambil nih, buat persyaratan barang kali elo mau jadi OSIS!" ucap siswa kece itu.
"Oke, gue ambil tiga, tapi Elo harus terima gue jadi OSIS!" ucap Bebi.
Mendadak mata Evo membulat, dia terkejut dengan keputusan Bebi yang benar benar mau daftar menjadi anggota OSIS di sekolahan itu.
"Elo yakin? Mau jadi bagian anggota kami?" Evo menyiutkan nyali Bebi.
"Kenapa enggak? Gue juga siswi di sini kan? Lagian OSIS mah kecil!" ucap Bebi, yang belum tau bagaimana dunia OSIS yang sebenar nya.
"Oke deh, nih formulir buat Elo dan selebaran persyaratan yang harus Lo penuhi biar bisa jadi OSIS sejati, ambil tuh!" Cowok lenjeh itu mengisyaratkan dengan gerakan kepala kepada dua teman nya untuk memberikan selebaran yang mereka bawa kepada Bebi.
"Oke, terimakasih!" perempuan manja itu tersenyum menyipitkan mata nya.
"Sama sama Beb!" sembari mencowel pipi Bebi yang lembut. Kemudian dia melanjutkan pengumuman ke seluruh sekolah.
Bebi berjalan menuju tempat duduk sahabat sahabat nya itu dengan hati yang riang dan gembira, bibir nya seolah olah tidak berhenti tersenyum, mendapati kertas dengan berisi banyak tulisan yang ada di tangan nya itu.
__ADS_1
"Gue ada kabar gembira buat kalian!" dia mendekati kedua sahabat nya seraya merangkul mereka dari belakang.
"Kabar gembira apa nih? Tumben?" Cika melihat ada sesuatu yang aneh dari dalam diri Bebi.
"Lihat!" perempuan itu menyodorkan beberapa kertas dengan berbagai warna dan bentuk tulisan yang berbeda di dalam nya.
"Persyaratan pendaftaran OSIS?" Ani dan Cika sama sama membaca bagian tulisan yang di cetak paling tebal di sisi atas kertas tersebut, sejenak mereka kembali saling pandang, menyampaikan keresahan hati nya dengan mimik muka masing masing.
"Gue mau kita daftar jadi anggota OSIS tahun ini!" ujar Bebi, yang memutuskan semua nya secara sepihak.
"Tapi Beb, menjadi OSIS itu berat Lo!" ujar Ani.
"Gue gak mau tau, pokok nya kalian juga harus ikut gue daftarin diri menjadi calon OSIS sekarang juga!"
Ani dan Cika menelan ludah, jika Bebi sudah bicara demikian, mau tidak mau mereka harus menuruti nya tanpa debat.
"O,oke deh!" ucap Ani
"Lha, gitu dong itu nama nya sahabat gue, gimana Elo Cik?" tanya Bebi.
"Gue ngikut aja deh!" ucap Cika dengan senyum yang terpaksa.
"Syarat menjadi OSIS, tidak boleh manja, harus disiplin waktu, mempunyai mental baja untuk siap bertanggung jawab atas kesalahan yang di perbuat, mampu bertahan dalam situasi apa pun, mempunyai jiwa sosial yang tinggi, mandiri dalam segala hal, tidak suka merepotkan anggota tim!" Cika mencoba membaca persyaratan itu dengan keras, agar di dengar oleh Bebi,
"Bebi, Elo tau kan? Persyaratan ini semua!" Cika tak yakin Bebi mampu melewati ini semua.
"Tau,!" perempuan itu cukup santai menanggapi keresahan hati Cika, dia terus fokus untuk mengisi formulir pendaftaran.
"Kontak Person, Dirga kelas XI IPA A!" Ani membaca bagian terpenting yang di lewatkan Cika sebelum nya.
Mendengar kata Dirga, Bebi merasa sedikit tegang, biar bagaimana pun, dia adalah satu satu nya laki laki yang berani menantang nya dengan kesombongan yang sudah di atas level Dewa bagi Bebi.
"Coba ulangi lagi!" Bebi masih tak yakin
"Kontak Person, Dirga XI IPA A!" Ani membacakan nya dengan lebih keras,
"Itu arti nya kita harus menyerahkan Formulir ini kepada Dirga setelah ini!" imbuh Cika.
Bebi sedikit gelisah, dia benar benar ragu jika harus bertemu kembali dengan laki laki yang sudah membuat nya kesal sejak pagi tadi, biar bagaimana pun, laki laki itu sangat berbeda dengan yang lain nya, dia dengan terang terangan menolak keberadaan Bebi, dan sudah memukul perasaan nya dengan keras melalui ucapan ucapan nya yang menyakitkan, hingga membuat dia sedikit frustasi atas apa yang di ucapkan oleh siswa sombong tersebut.
__ADS_1
"Oke!" Bebi menggigit ujung pulpen nya, untuk menghilangkan kegusaran di hati nya.
Mereka bertiga sudah selesai mengisi formulir pendaftaran tersebut, kini hanya tinggal mencari keberadaan laki laki sombong yang sudah mencabik cabik harga diri Bebi tadi.
Dengan berjalan bak Putri Raja yang selalu menjadi pusat perhatian, Bebi dan dua sahabat nya membelah siswa siswi yang sedang ramai memadati koridor kelas nya masing masing, siapa yang tidak tertarik dengan Bebi? Perempuan yang di juluki Ratu kecantikan sekaligus Nenek sihir itu memang sangat pantas mendapat gelar itu, dengan kepopuleran di atas rata rata, hampir semua penghuni sekolahan itu mengenal Bebi.
Namun satu hal yang tak pernah mereka lihat dari sosok Bebi, meskipun banyak cowok cowok yang di buat nya bertekuk lutut di hadapan nya, namun Bebi sang Ratu kecantikan berhati Nenek sihir ini tidak pernah sekalipun terdengar sedang berpacaran atau sekedar dengan cowok yang ada di sana, termasuk Martin si pebasket terkenal yang super kece itu, bagi nya pacaran hanya membuang buang waktu, dia berencana untuk langsung menikah saja setelah lulus dari kuliah nanti.
Mereka terus mencari keberadaan Dirga yang benar benar sangat sulit untuk dicari keberadaan nya itu, Bebi dan dua sahabat nya itu sudah mencari Dirga di seluruh penjuru sekolah, namun tak juga dia temui laki laki sombong itu. Hingga akhir nya mereka sampai di Perpustakaan sekolah itu, dan benar saja, Dirga yang mereka cari cari sedang duduk di bangku paling pojok ditemani keheningan.
"Kasihkan Formulir ini ke dia!" Ujar Bebi, kepada Ani.
"Elo aja!" Ani menyikut lengan Cika, dia tak berani berhadapan langsung dengan Mr. cuek tersebut.
"Gak mau, Elo aja!" Cika membalas Ani, dia mengikut lengan Ani, dia juga enggan mengganggu Dirga yang sedang dalam mode serius.
Bebi merasa geram di buatnya, saat melihat tingkah kedua sahabat nya, sebenar nya dia juga merasa takut melihat wajah Dirga yang selalu menekuk alis nya itu.
"Kenapa bukan elo sendiri Beb?" Cika memberi saran.
"I,iya elo sendiri aja!" Ani ikut menimpali nya, mereka bersembunyi di balik tubuh Bebi yang lebih tinggi dari tubuh mereka.
"Ih, kog gue sih?" Bebi sedikit kesal.
"Hello, yang ngebet pengen jadi OSIS siapa?" ucap Cika.
Bak menelan ludah sendiri, Bebi dengan terpaksa berjalan menuju bangku yang di tempati oleh Dirga seorang diri, sesekali dia menghentikan langkah nya, namun kedua sahabat nya itu mendorong tubuh Bebi dari belakang untuk berani menghadapi Dirga.
Baru kali ini, Bebi merasa takut menghadapi sesama siswa yang ada disana, terlebih Dirga terbilang siswa yang keadaan ekonomi nya kurang mampu di mata Bebi, biasa nya yang seperti ini menjadi sasaran empuk bagi Bebi untuk mem bully nya, namun kali ini kasus nya berbeda, Dirga bukan orang lemah seperti yang dia kira.
"Auh,!" Bebi merintih kesakitan saat tubuh nya menabrak bangku yang ada disana, akibat dorongan sahabat nya dari belakang.
"ssssttt!" beberapa pasang mata mengintimidasi Bebi dan kawan kawan nya, hampir semua yang ada di sana adalah anak anak kutu buku yang memakai kaca mata.
"maaf!" ucap Ani, dengan wajah polos nya, bak orang yang tidak bersalah.
"Dilarang membuat kegaduhan di ruangan ini!" Dirga mulai berdiri dan menutup buku yang di bacanya, seperti nya dia beranjak pergi dari ruangan itu.
"Tunggu dulu kak!" Bebi secara refleks memegang tangan Dirga yang sudah ingin beranjak pergi itu.
__ADS_1
Dirga memandangi raut wajah Bebi yang masih memegang tangan nya, seolah olah waktu berhenti dalam sepersekian detik, dia tak menyangka Bebi memanggil nya dengan sebutan 'Kak', sejak kapan perempuan ini berubah?