ARISTOKRAT

ARISTOKRAT
AUTOPHILE 6


__ADS_3

waktu sudah menunjukan angka 14:00, itu arti nya pelajaran sekolah sudah usai, beberapa siswa memilih menetap dan tidak pulang dari sekolahan untuk mengikuti ekstra kulikuler yang menjadi favorit mereka masing masing, termasuk Dirga yang mengikuti Ekskul basket bersama Martin.


Disamping dia adalah seorang kutu buku yang suka menyendiri, Dirga juga sesosok yang sangat menggilai dunia olahraga, hampir semua cabang olahraga di kuasai nya, termasuk panjat tebing dan naik gunung yang menjadi hobi nya, sudah beberapa gunung di pulau Jawa dia taklukan, dia juga aktif sebagai ketua PA ( Pecinta Alam ) di sekolahan nya, sebab bagi nya, tidak ada kenikmatan yang luar biasa selain bercengkrama dengan alam.


Sementara Bebi dan dua orang sahabat nya itu, lebih memilih Ekskul menari dance, hampir setiap hari dia tidak pernah absen untuk mengikuti Ekskul tersebut, karena bagi nya, dengan menari seseorang bisa melepaskan semua beban pikiran nya, dia bisa menyalurkan energi yang positif ke seluruh badan nya dengan cara bergerak dan menari, seperti yang dia lakukan selama ini.


"Hari ini Gue absen ya!" ujar Bebi, dia hari ini berjalan malas tidak seperti biasa nya, sembari menenteng tas merah jambu di punggung nya, ia menyusuri anak tangga satu persatu dengan pelan,Tingkat energik nya merosot jauh, seperti orang yang tak memiliki tenaga.


"Tumben? Biasanya kan Lo yang paling semangat buat latihan? Ada apa Beb?" Tanya Cika.


"Gak tau kenapa? Rasanya kayak kurang fit aja,Gue pulang duluan ya Cik, An!" ujar nya, masih tanpa semangat seperti tadi.


"oh ya, Lo nanti klo pulang ikut Cika aja y? Gue pulang dulu!" wajah perempuan itu tampak murung, kemudian dia berlalu tanpa sepatah kata meninggalkan Cika dan Ani yang kebingungan dengan sikap Bebi yang begitu cepat berubah.


***


"Martin, oper bola nya kesini!" teriak Dirga yang sedang bermain basket bersama teman teman satu tim nya.


Martin dengan gesit menggiring bola, mengecoh lawan lawan nya dengan gerakan yang tak tertebak, inilah salah satu keahlian Martin yang tidak di miliki pemain pemain basket lain, yang ada di dalam lapangan tersebut.


Dia bergerak cepat, dengan mudah membela melewati lawan lawan yang ada di depan mata nya, kemudian dia melemparkan bola untuk di oper kepada Dirga teman satu tim nya, Tubuh Dirga yang tinggi dengan mudah menangkap operan bola dari Martin, kemudian laki laki itu berlari mendekati Ring basket, bersiap untuk melakukan shooting dari jarak yang lumayan jauh dari tempat nya berdiri, kemudian dia pun melemparkan bola dengan satu tangan nya, dan benar sekali, bola basket itu mendarat dengan sempurna, hingga membuat perolehan nilai mereka kembali unggul beberapa angka dari tim lawan nya.


Semua penonton yang mayoritas perempuan di sana, bersorak ramai, ada yang saling berpelukan, saking bahagia nya melihat tim kesayangan mereka kembali unggul beberapa angka berkat tangan dingin Dirga.


"Wih, hebat bro!" Martin berlari mendekati Dirga kemudian mengangkat tubuh Dirga bersama teman teman satu tim nya, sembari bersorak ria, sebagai bentuk selebrasi atas skor yang di cetak sahabat nya itu, Martin dan Dirga adalah dua pebasket yang sangat di andalkan oleh sekolahan tersebut untuk menghadiri beberapa turnamen basket baik tingkat nasional maupun internasional, Martin yang mempunyai kemampuan mengecoh lawan, dan Dirga yang sangat jago melakukan shooting bola, membuat nya menjadi satu kesatuan yang klop saat sedang bertanding.


Dirga tertawa lebar, dengan poni nya yang sedikit basah akibat keringat yang keluar dari kening nya, saat di lapangan dia memang jauh berbeda dari ketika dia di dalam kelas, Dirga yang sangat pendiam dan cuek ketika di dalam kelas, menjelma menjadi cowok yang friendly dan cool saat sedang bertanding, hal itu yang membuat diri nya banyak di idolakan kaum hawa di sekolahan tersebut.


"Ih,, gemes banget liat Dirga, ya ampun!" teriak seorang cewek dengan make up yang menor dari teman teman yang lain nya.


"Iya, apa lagi kalau berkeringat seperti itu, ya ampun.. bikin meleleh banget tuh cowok!" ucap teman satu nya, yang berdiri berdekatan dengan cewek menor tadi.


Masing masing dari mereka membawa spanduk berisikan foto Dirga, sembari mengibar kan spanduk itu di barisan bangku paling ata.


"Dirga I LOVE YOU!" teriak mereka bersamaan.


Bebi yang sedari tadi duduk di barisan bangku paling atas, merasa ilfil dengan tingkah mereka.


"Ganteng apa nya? Biasa saja!" gumam nya, entah apa yang membuat perempuan itu tertarik untuk melihat pertandingan bola basket yang di gawangi oleh Dirga dan kawan kawan nya, padahal sebelum nya dia mengeluh sakit, dan meninggalkan Ekskul nge dance nya begitu saja.


Sekali lagi Bebi melihat Dirga dengan menggunakan kaca mata minus nya yang tidak pernah dia pakai sebelum nya, gadis cantik itu memperjelas pandangan nya dengan membelah kerumunan cewek cewek yang berjubel untuk mendapatkan posisi bangku terdepan untuk melihat pertandingan bola basket tersebut dari dekat.


Dilihat nya Dirga yang kembali melakukan shooting ke dalam Ring, kali ini dengan gaya menggantung di udara, dia berhasil mencetak satu point lagi untuk tim nya.


Semua yang ada di sana kembali bersorak ramai, merayakan kemenangan tim Dirga, kali ini Bebi berada di bangku terdepan, dia ikut berdiri diantara kerumunan cewek cewek yang mengidolakan Dirga dan Martin, cukup jelas di penglihatan nya, Senyum Dirga yang begitu indah dengan poni basah yang menutupi kening nya, dia benar benar tampak keren hari ini.

__ADS_1


Sejenak Bebi larut dalam pemandangan indah yang memanjakan mata nya itu, dia yang menggunakan kaca mata dan rambut yang di Gelung ala kadar nya,tampak tidak di kenali oleh siswa siswi yang ada di sana, di tambah dengan jaket Hoodie hitam yang dia kenakan, Bebi memang sengaja tidak terlalu menampakkan diri demi melihat Dirga yang sedang bertanding, agar tidak di curigai oleh orang orang di sana, sebab hampir tidak pernah di sepanjang hidup Bebi, menginjak kan Kaki nya di ruangan khusus olah raga, terutama saat sedang ada pertandingan seperti ini.


Euforia kemenangan tim Dirga semakin menggema, ciwi ciwi yang ada di sana berjingkrak kan saat melihat Martin memberikan ciuman jarak jauh nya kepada seluruh penggemar yang mendukung nya, Seorang siswi dengan tubuh yang tinggi, secara tidak sengaja menyenggol tubuh Bebi, hingga membuat kaca mata yang ia kenakan jatuh dan meluncur ke garis terdepan yang berseberangan langsung dengan arena pertandingan basket tersebut.


"Aduh!" Bebi menahan sakit saat tergencet badan cewek cewek yang ada di sana.


"Maaf!" ucap siswi bertubuh tinggi tersebut,


Bebi hanya diam seraya maju ke depan untuk mengambil kaca mata nya yang meluncur bebas ke garis Arena tadi, saat gadis itu berjongkok hendak mengambil kaca mata nya,secara tidak sengaja Dirga yang sedang fokus berlari mengejar bola, tidak melihat keberadaan Bebi yang berada di garis Arena tersebut, lutut nya yang keras itu, menghantam wajah Bebi, hingga menyebabkan darah segar keluar dari hidung nya, sontak gadis itu pun jatuh dan tak sadarkan diri.


Sesaat Arena yang semula ramai menjadi hening seketika, semua yang ada di sana, syok saat melihat seorang gadis berjaket hitam tepar di sisi lapangan, sontak semua yang ada di sana panik, terutama Dirga selaku orang yang secara tidak sengaja sudah menabrak nya tadi.


"Ya Tuhan!"


Laki laki itu refleks memangku tubuh gadis itu, dan menyingkap poni yang menutupi wajah nya.


"Bebi!" teriak nya, saat mengetahui gadis yang di tabrak nya itu adalah Bebi.


Martin yang melihat itu terperangah, dia benar benar tidak menyangka, bahwasanya Bebi begitu nekat mendekat ke Arena pertandingan,tak biasanya gadis itu masuk ke dalam gedung olah raga.


"Angkat dia Dir, bawa ke UKS!" seru Martin,


Dengan bersusah payah Dirga membopong tubuh Bebi, sedang Martin dan kawan kawan membuka jalan di antara banyak nya siswa siswi yang kepo dengan wajah gadis berjaket hitam tersebut.


***


Dokter mencoba menenangkan Dirga yang sedang duduk di kursi sebelah ranjang UKS, laki laki itu merasa sangat bersalah, tampak mata nya yang berkaca kaca saat melihat wajah Bebi yang tergolek lemah tak sadarkan diri.


"Kenapa dia tak kunjung sadarkan diri Dok?"


Dirga mulai panik, dia takut terjadi apa apa dengan gadis itu.


"Dia terlalu syok Dir, membuat tekanan darah nya naik begitu cepat!" ucap Dokter jaga yang sudah mengenal Dirga dengan baik.


Perempuan yang kerap di sapa sebagai Dokter Nina itu, tampak mendekatkan kapas yang sudah berisi Alkohol ke hidung Bebi, guna memancing respon syaraf nya, agar membuat gadis itu cepat sadar dari pingsan nya.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian gadis itu terbangun dari pingsan nya.


"Auh, sakit!" ujar perempuan yang baru sadar dari pingsan nya itu, dia memegangi hidung nya yang memerah karena hantaman dari lutut Dirga.


"Bagus lah, kalau kau sudah sadar!" Dirga menyambut Bebi dengan muka datar nya, meskipun tadi dia sangat ketakutan saat Bebi tak kunjung sadarkan diri.


"Lho, Gue ada dimana?"


Bebi tampak kebingungan dengan keadaan sekitar nya, seolah olah dia lupa dengan kejadian yang menimpa nya barusan.

__ADS_1


"Maaf!"


laki laki tampan itu hanya mengucapkan sedikit kalimat permintaan maaf nya, dia kembali ke mode cuek nya, meskipun sebenarnya dia sangat senang melihat Bebi yang baik baik saja, dan tidak ada luka serius yang di alami nya.


"Kak Dirga!"


Perempuan itu segera segera menyambar tas nya yang ada di meja sebelah ranjang UKS, dia mencari cari sesuatu yang ada di dalam tas nya tersebut, sebelum akhir nya dia mendapatkan sesuatu yang di cari nya itu.


Tanpa sepatah kata, dia membuka kaca yang biasa di bawanya kemana mana, gadis itu mendapati diri nya yang berantakan dengan hidung memar yang menghiasi wajah nya saat ini.


"Tidak!" teriak nya.


Dia berusaha menyembunyikan wajah berantakan nya dengan Hoodie yang di kenakan nya, seolah olah tak ingin seseorang melihat nya dengan wajah yang berantakan seperti itu.


"A,Apa yang terjadi dengan Ku?"


Bebi memalingkan Muka nya dari Dirga, perempuan itu duduk dan menatap kosong ke arah jendela, tak ingin Dirga melihat nya dalam keadaan seperti itu.


Dirga yang duduk di belakang nya, beralih posisi untuk menghadap langsung ke Muka Bebi yang polos tanpa make up itu, Dia menatap wajah Bebi Lamat Lamat.


"Ih, apaan sih? Jangan lihat wajah gue kayak gini!"


Bebi menyembunyikan muka nya dengan menutupi wajah nya menggunakan kedua tangan nya, Dirga semakin mendekati wajah Bebi, kemudian dengan paksa membuka kedua tangan Bebi yang menutupi wajah nya itu.


"Hmm!"


Dirga tersenyum tipis melihat wajah Bebi yang sangat polos itu, entah apa maksud dari senyuman itu, yang jelas membuat Bebi terlihat salah tingkah di hadapan laki laki tampan tersebut, kemudian Dirga memberikan beberapa obat pereda nyeri di atas tangan Bebi yang kini sedang di pegang nya itu.


"Jangan lupa minum obat ini 3x sehari!" ucap Dirga kemudian berlalu pergi meninggalkan Bebi bersama Dokter Nina di UKS tersebut.


"Ih, dasar cowok nyebelin, gara gara elo gue jadi sakit begini!" teriak Bebi yang sudah sangat kesal dengan tingkah Dirga yang di nilai nya sangat keterlaluan itu.


Namun Dirga tak menggubrisnya, dia hanya mengangkat tangan tanpa melihat Bebi sama sekali.


Dokter Nina tertawa kecil melihat tingkah laku Dirga yang menggemaskan itu,perempuan cantik itu cekikikan melihat ekspresi Bebi yang sangat kesal.


"Padahal tadi dia yang paling panik dan mondar mandir seperti anak kecil saat kamu sedang pingsan tadi lho!" ucap Dokter Nina, mencoba menjelaskan situasi yang sebenar nya kepada Bebi.


"Iya kah?"


Gadis itu terbelalak dengan mata yang membulat sempurna, seolah tak percaya atas apa yang di ucapkan Dokter Nina kepada nya.


"Dasar anak Remaja!"


Dokter Nina menggelengkan kepala nya, kemudian kembali duduk di kursi kebesaran nya, untuk menulis resep resep obat yang harus di tebus.

__ADS_1


Bebi tersenyum, wajah nya bersemu merah, antara malu dan kesal menghadapi Dirga yang benar benar sangat cuek dan sok ja'im saat berada di hadapan nya.


__ADS_2