ARISTOKRAT

ARISTOKRAT
KUPU KUPU MONARCH 2


__ADS_3

" Aku berhak ikut campur sekarang, karena Aku sudah menjadi bagian dari sekolahan ini, dan Aku benci melihat seorang laki laki yang dengan se enak nya tidak mau meminta maaf setelah melakukan kesalahan!" teriak Siswa baru itu.


" banyak cincong kau!"


Alan secara refleks melayangkan tinju ke wajah Siswa itu, namun dengan cepat Raisa mendorong tubuh siswa baru itu sehingga pukulan Alan mendarat tepat di wajah nya, membuat darah segar keluar dari hidung dan bibir nya, Raisa memang sengaja melakukan hal itu, semata mata hanya untuk melindungi Rudi agar tidak terjadi konflik berkepanjangan antara mereka berdua, pukulan yang di lakukan Alan yang secara tak sengaja itu, membuat Alan yang berperan sebagai pelaku tertegun dan sejenak melihati telapak tangan nya yang bagi nya kini benar benar menyeramkan itu, tubuh nya ber gemetar hebat saat melihat wajah cantik Raisa yang dipenuhi darah oleh pukulan nya yang terlampau keras tadi, wajah nya pucat Pasih tak kuasa melihat pemandangan suram yang ada di hadapan nya itu, seketika dia memundurkan tubuh nya satu langkah, bersiap untuk berlari meninggalkan tempat itu sekuat tenaga,tanpa mempedulikan Raisa yang babak belur akibat pukulan nya tadi, entah kemana tujuan nya pergi, hal itu membuat para siswa siswi yang melihat nya bersorak ramai atas perbuatan pengecut yang di lakukan Alan.


" berhenti kau Alan!"


Siswa baru itu mengejar Alan,


" jangan!" teriak Raisa, dia melarang siswa baru itu untuk mengejar dan menghajar Alan,


" tapi, kau terluka!" ucap siswa baru itu.


" Aku baik baik saja!"


jawab Raisa, dia berdiri dengan dibantu Irene,


" Aku akan mengantar kan mu ke UKS!" siswa baru itu menawarkan diri kepada Raisa untuk mengantarkan nya ke UKS sekolah, agar gadis itu segera mendapatkan perawatan dari dokter yang bertugas di sana.


" teri makasih!" Suara Raisa yang lembut terdengar lirih, siswa baru itu memapah tubuh Raisa hingga sampai ke UKS sekolah.


" siapa namamu? Kita belum berkenalan!" ucap siswa baru itu, yang masih memapah tubuh Raisa,

__ADS_1


" Aku Raisa!" jawab gadis itu,


" Aku Rudi!" siswa baru itu lagi lagi tersenyum ke arah Raisa, membuat wajah Raisa yang tirus itu, kembali bersemu merah, dia merasa sangat malu sekaligus grogi saat berada di hadapan Rudi, sebab baru kali ini dia melihat siswa laki laki yang sangat baik, yang sama sekali tidak menganggap nya aneh seperti kebanyakan para siswa lain nya yang enggan menyapa Raisa karena sifat nya yang memang notabene sangat jarang berinteraksi dengan teman teman nya disana, hal itu semata mata karena dia memiliki kecenderungan sifat Social Anxiety Disorder yang membuat dirinya merasa gugup berlebihan ketika berinteraksi sosial dengan orang lain.


Alan, meringkuk sendirian di dalam toilet khusus siswa laki laki, dia menumpukan tubuhnya pada tembok tembok toilet, menangis tersungkur mengingat ingat apa yang sudah dia perbuat, apa lagi harus melihat wajah Raisa yang penuh dengan darah di sertai luka lebam, laki laki ini memang sangat garang jika di lihat dengan kasat mata, tapi sebenar nya dia adalah siswa yang benar benar baik, yang menorehkan berbagai macam piagam dan penghargaan sebagai siswa berprestasi, puluhan piala di raih nya, dari olimpiade olimpiade yang dia ikuti, di samping keahlian nya dalam berbagai macam pelajaran, dia juga menguasai banyak bidang olah raga, dalam artian, laki laki ini memang memiliki kehidupan yang nyaris sempurna, prestasi nya tak pernah terkalahkan, hal itu yang membuat Rudi merasa tersaingi dan berusaha mati Matian untuk mengejar ketertinggalan nya.


***


Guru Bimbingan konseling menatap tajam ke arah Alan yang sedang duduk di kursi panas di ruangan BK tersebut, dia menelan ludah melihat tatapan tajam guru itu, yang seolah olah mengintimidasi nya.


" jadi kamu, yang sudah melempar bola basket dan melayangkan pukulan keras ke wajah Raisa?" Guru perempuan yang berpawakan besar dengan mata yang melotot lebar, membuat Alan semakin grogi dan merasa ketakutan untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Guru BK itu.


Alan hanya terdiam menundukkan kepala nya, sedangkan Raisa yang duduk di sebelah nya, mulai angkat bicara saat melihat tangan Alan yang ber gemetaran,


Raisa memohon kepada Guru itu, agar mengampuni Alan dan tidak menghukum nya secara sepihak,


" lalu bagaimana dengan luka memar di wajah mu itu? Apa itu bukan karena pukulan Alan?" Guru itu kembali mengintimidasi, kali ini sorot mata nya tajam memperhatikan wajah Raisa yang penuh lebam.


" ini karena Saya terjatuh di lantai saat bola itu secara tidak disangka mengenai tubuh saya!" Raisa kembali ber alibi, dia benar benar tidak tega melihat Alan yang terlihat begitu ketakutan, sebab ini kali pertamanya dia berurusan dengan Guru BK


" benar begitu Alan?"


" i, iya Buk!"

__ADS_1


Alan meng iya kan nya, meskipun apapun yang di ucapkan Raisa adalah bohong, dia memang sengaja melempar bola itu ketika melihat Raisa lewat di dekat lapangan basket tersebut, namun dia tidak sengaja melayangkan pukulan di wajah Raisa, sebenar nya dia hanya ingin menarik perhatian Raisa yang cukup berbeda dari perempuan lain nya, sebab hanya dia yang sama sekali tidak bersorak untuk nya seperti perempuan perempuan lain yang ada di sana, gadis itu cukup menarik perhatian nya, sejak setahun terakhir ini.


" ya sudah, kalian boleh kembali ke kelas kalian masing masing!" ucap Ibu Guru judes yang terkenal killer tersebut.


" terima kasih Bu!" ucap Raisa,


" ya, sama sama, cepat kalian masuk ke kelas, jangan ada acara belok ke kantin!" tutur Guru itu, dia sangat tahu dengan kebiasaan anak didik nya, yang pamit ke toilet nyatanya malah pergi ke kantin untuk jajan, Raisa dan Alan mengangguk secara bersamaan.


Sepanjang perjalanan, Alan mencuri curi pandang untuk melihat wajah Raisa, bagi nya perempuan itu benar benar berhati malaikat, bagaimana dia tidak marah sama sekali dengan sikap nya yang sudah sangat keterlaluan itu, seperti nya hanya ada seribu satu perempuan yang seperti Raisa di Dunia ini, mereka berjalan tanpa sepatah kata pun, sesekali Raisa melirik Alan, apakah tangan nya masih ber gemetaran? Namun belum sempat dia melihat nya, mereka harus berpisah di persimpangan koridor kelas, dan kembali ke kelas nya masing masing.


Raisa masih merasa aneh dengan Alan, kenapa dirinya seakan tak memiliki ekspresi? Bahkan sampai detik ini, tak ada ucapan maaf atau pun terimakasih sama sekali dari mulut nya, laki laki itu berjalan membelakangi Raisa tanpa menoleh sedikit pun ke arah nya.


" Aneh!" ujar Raisa, baru pertama kali ini memang dia melihat laki laki dengan sifat yang seperti Alan.


***


Sepanjang pelajaran di dalam kelas, fokus Raisa benar benar terganggu oleh sosok Rudi, bayangan wajah laki laki itu terus berputar putar di dalam ingatan nya, ada sebuah rasa tak biasa yang terbesit di dalam hati nya, senyuman Rudi yang khas itu benar benar membekas di dalam sanubari rasa nya.


Ah, ini kah yang dinamakan Cinta? Yang bisa hinggap kepada siapa saja, dan mengkontaminasi hati inang nya dengan perasaan perasaan aneh yang bisa membuat jiwa resah dan gelisah sekaligus bahagia.


Waktu pelajaran pun usai dengan sendiri nya, bel panjang kedua kembali terdengar riuh memecah keheningan para siswa siswi yang tengah fokus dengan tugas tugas nya, itu arti nya waktu istirahat untuk tidur siang sejenak telah tiba, sekolah ini memang menganut sistem full day, yang dimana siswa siswi disini memang di gembleng secara khusus untuk mencetak generasi baru yang membanggakan dengan berbagai macam prestasi.


Adalah Rudi yang notabene Siswa baru di sana, lebih memilih menghabiskan waktu nya di dalam perpustakaan untuk fokus kedalam tulisan tulisan di dalam buku tebal yang di bawa nya kemana mana itu, dia memang orang yang sangat gila belajar, hampir sebagian waktu nya ia dedikasikan untuk belajar dan membaca, karena bagi nya, menghabiskan waktu untuk membaca lebih baik dari pada harus menghabiskan waktu untuk tidur.

__ADS_1


Ditengah suasana hening yang ada di kelas nya, Raisa juga lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk meneruskan kembali buku bacaan yang belum sempat ia selesaikan sebelum nya.


__ADS_2