
Akhirnya, Hari yang di janjikan itu pun tiba, Doni menjemput Tiara dengan menggunakan mobil mewah nya,dengan di antar Nova sebagai sekertaris pribadi nya.
"Apa kamu benar ini Alamat rumah nya?" tanya Robi yang duduk di belakang kemudi, Pria tampan itu berkali kali melirik jam tangan nya, sebab sudah beberapa menit mereka berada di depan gang arah ke rumah Tiara, namun gadis itu tak kunjung menampak kan batang hidung nya.
"Iya Tuan, Saya sudah memeriksa Alamat rumah nya berkali kali, seperti nya memang tidak ada kekeliruan sama sekali, Alamat nya memang benar ada di sini!" tutur Nova yang juga sedikit kebingungan, takut jika memang alamat yang mereka tuju itu memang salah.
"Ya sudah, kita tunggu beberapa menit lagi, siapa tau memang dia sedang sibuk!"
ujar Robi.
Nova hanya diam tak bergeming, menatap Tuan nya itu dari spion belakang mobil, Robi benar benar berubah 'pikir nya', sebab selama ini, Robi adalah atasan yang terkenal tidak mau kompromi dengan urusan waktu, dia sangat benci dengan orang yang telat, apa lagi harus menunggu selama ini, hanya untuk sebuah pertemuan yang tidak begitu penting.
"Stop stop stop!" terdengar suara Tiara dari kejauhan.
Gadis itu memberhentikan seseorang yang mengantarkan nya menggunakan motor, Suara nya yang khas itu mudah sekali dikenali oleh orang orang di sekitar nya.
"Kamu yakin? Dia menunggumu disini?" tanya Ari, selaku orang yang mengantarkan nya menggunakan motor itu.
"Iya, perjanjian nya sih jam segini, tapi kog Aku nggak Lihat Doni sama sekali y?" ucap Tiara, sembari mendongak kan kepala nya kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang bingung.
"Ehemmm!" Doni membuka kaca mobil nya sembari berdehem, membuat pandangan Gadis itu tertuju pada nya.
"Doni, ya ampun.. Aku sudah nunggu lama banget disini, tau nya kamu baru datang!"
Robi dan Nova mengernyitkan Dahi, sama sama menahan kesal atas tingkah gadis polos tersebut, bukankah mereka yang menunggu hampir satu jam di depan gang itu?
"Masuk lah!" ucap Robi, tanpa ber bisa basi atau pun protes dengan pernyataan Tiara yang memutar balik kan fakta itu.
"Aku berangkat dulu ya Ar, tolong bilang sama ibu Mu, Aku titip Ibu ku, minta tolong supaya merawat dia dengan baik, untuk urusan uang bulanan nanti saya transfer kalau gajian!" sembari mengembalikan helm yang dia kenakan tadi.
"Sudah, kamu jangan khawatir, Ibu mu aman bersama kami!" ucap Ari.
"Terimakasih ya Ar!"
"Sama sama!" laki laki itu tersenyum manis, melepas kepergian sahabat nya itu.
Kemudian dengan membawa beberapa tas pakaian, Gadis lugu itu bergegas masuk ke dalam mobil mewah yang di kemudikan oleh Nova tersebut.
"Jadi ini mobil Kamu Don?"
Tiara tak henti henti nya memandangi interior mobil itu yang terkesan lebih bagus dari mobil mobil yang biasa dia sewa, saat membawa ibu nya berobat ke rumah sakit.
"Bukan, ini mobil nya Tuan Haris!" ucap Doni yang sibuk dengan laptop nya.
"Ya iya sih, GK mungkin juga kan kamu bisa membeli mobil sebagus ini? Iya nggak Pak Nova?" gadis itu memang terkesan sangat blak blakan dalam menilai suatu hal.
__ADS_1
"i, iya!" jawab Nova ragu ragu.
"ehemm, kenapa ibu Mu tidak ikut?"
"Emm, anu.. Beliau tidak mau ikut! Kata nya takut merepotkan Ku, dia lebih memilih ikut tetangga ku dari pada ikut dengan ku!" Gadis itu masih tampak ceria, meski harus terpisah jarak dengan Ibu nya, mau tidak mau Tiara harus menerima pekerjaan ini, Toh itu juga demi Ibu nya, meskipun konsekuensi nya, dia tidak bisa leluasa untuk bertemu dengan Ibu nya seperti kemarin kemarin.
"Ya sudah, Kamu bisa mengunjungi nya setiap Minggu!" Ujar Robi yang masih sibuk dengan Laptop nya.
"Siap!"
Perempuan itu tampak tersenyum dengan tangan nya yang hormat menghadap Muka Robi yang sedang serius sekali berkutat dengan pekerjaan nya yang harus dia selesaikan Hari ini juga.
"Kamu serius sekali Don kerja nya, apa kamu takut dengan Kumis Tuan botak itu!"
uhuk uhuk uhuk
Mendengar pernyataan itu, Nova terbatuk batuk, laki laki itu terkejut dengan keberanian Tiara yang menyebut Ayah kandung dari Tuan Robi itu dengan sebutan botak, padahal laki laki itu sudah berbaik hati memberikan pekerjaan kepada nya.
"Tidak, ini hanya Formalitas!" Ucap Robi dengan santai, tangan nya masih sibuk mengetik sesuatu di layar laptop nya.
"Apa benar? Kantor pusat itu di pimpin langsung oleh anak dari Tuan Haris?"
Tiara kembali bertanya.
"hemm!" Robi hanya menjawab singkat pertanyaan Tiara itu.
Sebab sejak kecil dia sudah mempunyai prinsip, jika orang yang terlalu banyak bertanya adalah orang yang pemalas, mereka hanya menyukai sesuatu yang instan tanpa ada kata kerja keras.
Bagi Robi, seharusnya orang yang sudah di bekali akal pikiran sejak lahir, tidak perlu terlalu banyak bertanya tentang sesuatu hal yang tidak berguna, bukankah mereka bisa mencari dan menganalisa
Mobil yang semula sepi, menjadi bising oleh suara Tiara yang terus bertanya dan berbicara sepanjang perjalanan menuju Kantor pusat.
"Jadi penasaran, apakah anak dari Tuan Haris benar benar jelek seperti dugaan Ku y? Atau mungkin kepala nya juga botak? hahahaha!"
Perempuan itu tertawa lebar, membayangkan bagaimana wajah Anak dari pemilik Hotel Diamond sea itu, di kepala nya tergambar seorang pemuda yang gendut dengan kepala botak yang mirip dengan Tuan Haris.
"Ehemm!" Nova berdehem,
Wajah nya terasa kaku dan tegang mendengar celoteh Tiara yang terus terusan membuly Tuan Haris, apa lagi ini berkaitan langsung dengan Tuan Muda Robi yang kini duduk di samping nya.
"Ada apa Pak Nova? Apa anda harus?"
Tiara menghentikan tawa nya, kemudian menawarkan sebotol minuman yang di bawa nya di dalam tas merah buntut nya itu.
"Ini minum!" Tiara membuka kan tutup botol minuman tersebut.
__ADS_1
"Ti, tidak usah Nona!" Nova menolak nya dengan halus,
"Owh, ya sudah!"
Perempuan itu kembali menutup botol minuman nya, dan menaruh nya kembali ke dalam tas buntut nya.
Robi tidak menggubris sama sekali pendapat Tiara tentang Ayah nya, dia terus memfokuskan pandangan ke layar laptop nya itu.
"Doni, Kamu denger Aku nggak sih?"
Tiara mulai kesal dengan Robi yang tidak memperhatikan nya, entah sejak kapan dia merasa akrab dengan laki laki yang disapa nya dengan Nama Doni tersebut.
"Iya, Aku tau kamu sedang berekspektasi tentang Robi anak Tuan Haris!" Akhir nya Doni menjawab perkataan Tiara.
"Apa Kamu pernah melihat nya Don? Kamu kan asisten pribadi nya Tuan Haris, pasti Kamu tau wajah anak nya yang sok keren itu, yang kata nya kejam dan suka bertindak semena mena kepada bawahan nya itu!"
"Buat apa Kamu penasaran dengan anak Tuan Haris? Bukankah Kamu benci dengan dia?" tanya Robi, yang lagi lagi sibuk dengan Laptop nya.
"Ya, Aku, Aku,Aku cuma penasaran aja!" tutur Tiara yang sedikit kebingungan harus menjawab apa?
Robi menutup Laptop nya, kemudian menatap wajah Tiara dengan serius, hal itu membuat gadis yang berada di samping nya itu menjadi salah tingkah dan sedikit grogi.
"Ada apa?" tanya Tiara yang sedang gugup
Robi tidak menjawab pertanyaan itu, dengan perlahan dia mendekati wajah Tiara yang innocence itu.
Kini, wajah mereka semakin dekat, Robi menatap mata Tiara begitu dalam, Tiara yang kini sangat gugup secara spontan memejamkan mata nya.
"Robi, memang laki laki kejam, wajah nya jelek, kepala nya botak dan tubuh nya gemuk sedikit pendek, jadi kamu harus hati hati!"
Tiara merasa sedikit ketakutan dengan tatapan mata Robi yang bersinar itu.
"I, iya kah?" Tiara sedikit takut, dengan wajah mereka yang masih saling berdekatan.
"Iya, jadi nanti Kamu jangan jauh jauh dari Ku, agar Robi tidak menangkap Mu, dan menjadikan Mu tawanan nya untuk di jadikan tumbal proyek jembatan yang sedang di kerjakan nya!"
Robi semakin membuat Tiara takut dengan cara ber takhayul membawa bawa setan di dalam nya.
"Hi, Takut!"
Tiara yang semula gugup, secara spontan memeluk lengan Robi dengan erat, sembari tetap menutup mata nya seperti anak kecil, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Mitos tentang tumbal pembangunan jembatan itu memang benar benar ada.
Robi yang melihat ekspresi lucu Tiara, tertawa puas, sebab dia sudah berhasil menakut nakuti gadis cerewet tersebut.
Ha ha ha ha
__ADS_1
"Mana ada tumbal proyek di jaman modern ini!" ujar Robi yang menertawakan ekspresi Tiara yang ketakutan.