
" ceritakan sedikit tentang dirimu untuk ku!"
Rudi mulai tertarik untuk mendengarkan kisah perempuan yang sedang meringkuk dalam kesedihan nya itu.
" Rudi, sebenar nya Aku juga sama dengan mu, lebih suka menyendiri menikmati kesedihan tanpa ada seorang pun yang mengetahui tentang perasaan ku yang sebenar nya!"
Perempuan itu duduk membelakangi Rudi,
" apa maksud mu? Aku masih belum bisa memahami nya!"
" kau tau? Hampir setiap hari Aku ingin mengakhiri hidupku disini, tetapi Aku selalu mengurungkan niat ku, sebab kau selalu datang di waktu yang bersamaan!"
Perempuan itu membuka sedikit kisah nya yang juga sama sama menyedihkan kepada pemuda yang ada di hadapan nya itu,
" ternyata kau juga sama seperti ku, kita sama sama saling menyelamat kan!"
Rudi menghampiri perempuan itu, dan kembali memeluk tubuh kecil nya, dia merasakan ada sesuatu yang membasahi kedua tangan nya,
" kamu menangis?"
Rudi memutar tubuh gadis itu untuk menghadap nya, wajah nya yang cantik itu kini dipenuhi oleh air mata yang membasahi pipi nya.
" Aku juga ingin meneruskan pendidikan dan cita citaku seperti orang orang pada umum nya!" air mata itu mengalir semakin deras hingga membasahi baju nya, bagi nya, dengan melihat Rudi, dia bisa menemukan lagi secercah harapan baru, bersama Rudi, dia tidak lagi menjadi Alien yang asing Dimata orang orang yang memandang nya dengan pandangan yang penuh kepalsuan, hidup sendirian di tengah kota besar yang penuh mara bahaya, dengan usia nya yang baru menginjak 18 tahun, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia tidak bertemu Rudi, mungkin diri nya sudah di temukan tidak bernyawa di tempat itu.
" kalau begitu ayo kita lanjutkan bersama sama, apa cita cita mu yang selama ini terpendam?"
Rudi bertanya dengan penuh antusias kepada perempuan itu, bagi nya akan sangat muda jika dia mau menerima Rudi di dalam hidup nya, dan sama sama menggapai cita cita mereka.
" Aku ingin menjadi seorang fashion desainer, sejak kecil Aku sudah hobi menggambar, tetapi kedua orang tua ku tidak pernah mendukung ku untuk menjadi seorang desainer!"
" pada dasar nya kita sama, kedua orang tua ku tak mengijinkan Aku untuk melanjutkan cita cita sebagai seorang Fotografer, mereka hanya menginginkan Aku untuk melanjutkan kuliah di bidang bisnis, untuk melanjutkan cita cita Ayah ku, yang menginginkan anak nya untuk menjadi pebisnis seperti diri nya!"
mereka kembali larut dalam pelik nya masa lalu,
" kamu sekolah dimana?" Rudi menanyakan sesuatu hal yang tak mungkin bisa di jawab oleh perempuan itu.
" emmm, Aku, aku!" perempuan itu mencoba mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Rudi.
" kenapa? Jangan bilang kamu tidak lagi bersekolah!"
Rudi seakan tau apa yang akan di bicarakan perempuan yang ada di hadapan nya itu.
" kedua orang tuaku sudah mati dalam sebuah kecelakaan tragis, jadi sekarang Aku tinggal seorang diri di sini!"
perempuan kecil itu memang sangat pandai berbohong, khusus nya dalam membohongi diri nya sendiri.
" tinggal lah bersamaku, Aku akan meminta kedua orangtuaku untuk menyekolahkan mu di sekolahan ku, kita bisa berangkat bersama sama setiap hari!"
__ADS_1
Perempuan itu menyadari tentang satu hal, tidak mungkin dunia yang kejam ini kembali memihak nya,tidak mungkin pula harapan harapan terealisasikan, sebab dia tau siapa diri nya yang sebenar nya, untuk berbicara dengan seseorang saja dia sudah mulai kaku, apa lagi harus menemui kedua orang tua Rudi, dan meminta tolong kepada mereka untuk membantu nya kembali mengenyam pendidikan di bangku sekolah lagi, dunia sudah membuang nya, tidak ada lagi tempat bagi nya untuk mendapatkan hak hak nya sebagai manusia, bukan kah semua manusia di bumi ini munafik? Mereka enggan memegang melihat sesuatu yang kotor, sedang kan di dalam tubuh nya menampung berbagai macam kotoran yang tak terlihat?
" Aku sudah tidak ingin kembali bersekolah Rud, Aku ingin fokus memulai karir ku sebagai seorang fashion desainer mulai sekarang!"
Dia berkelit, berharap Rudi tak lagi membahas pendidikan dengan nya,
"baik lah, Aku menghargai keputusan mu!"
Perempuan itu mengangguk, kemudian sesaat mereka terdiam, menikmati cakrawala yang mulai menghitam, beberapa bintang bermunculan menghiasi langit kelam di iringi cahaya rembulan yang temaram, mereka mulai turun dari gedung itu, berjalan saling beriringan menikmati suasana malam, ramai orang berjualan membuka lapak di trotoar trotoar jalan, perempuan itu tertunduk lesu saat mendengar cacing cacing di perut mulai rusuh.
" astaga, kau lapar?" Rudi menertawakan ekspresi perempuan itu, yang berhenti secara tiba tiba dengan perut nya yang bersuara.
" he he he!" bibir nya menyeringai memandang Rudi yang tertawa di hadapan nya, wajah nya bersemu merah, menahan malu di dada.
" kau mau makan apa?" Rudi kembali bertanya, dia mempercayakan kepada gadis itu untuk memilih menu makanan yang hendak di santap nya.
" boleh nih kalo Aku yang milih?"
Perempuan itu tak yakin Rudi mau memakan makanan pilihan nya.
"hey, Aku sudah menyerahkan semua nya kepadamu, kenapa masih bertanya?"
Rudi memperlakukan perempuan itu dengan lembut,
" baik, ikuti Aku!" sembari menggandeng tangan Rudi, perempuan itu mengajak Rudi kesebuah warung tenda yang berada di seberang jalan, sebuah warung yang menjual aneka penyetan.
Rudi yang notabene orang kaya raya, merasa asing dengan suasana di sekitaran warung itu, bangku dari kayu panjang yang bisa di duduki beberapa orang, serta makanan yang di di pajang di Aquarium, pemandangan absurd itu membuat nya sedikit bingung.
pertanyaan Rudi membuat seorang ibuk ibuk yang sedang menunggu antrian nasi bungkus tertawa kecil sembari berbisik bisik kepada suami nya yang juga ikut menunggu di samping nya.
" Rud, itu bukan aquarium, itu memang etalase khusus untuk menaruh lauk pauk sebelum akhirnya di goreng dan di sajikan kepada pelanggan,!"
Perempuan itu sedikit malu dengan orang orang di sekitar sana yang menatap aneh kepada Rudi dan diri nya,
" oh, jadi itu bukan Aquarium?" Rudi terkekeh mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai etalase itu.
" duh, emang dasar orang kaya!" gumam perempuan itu, menyembunyikan mukanya agar suara nya tak didengar oleh Rudi.
setelah menunggu beberapa lama, akhir nya makanan yang di nanti nantikan itu di hidangkan juga, dua piring nasi dengan lauk ayam goreng beserta sambal di taruh di hadapan mereka berdua,
Rudi hanya memandangi makanan itu tanpa berkutik, dia bingung bagaimana caranya makan makanan itu dia tak melihat ada sendok atau pun garpu di atas piring tersebut.
" ayo makan Rud, tunggu apa lagi?"
Perempuan itu menggunakan tangan nya untuk menyantap sesuap nasi di hadapan nya.
" jadi kita harus makan pakai tangan?" tanya Rudi yang kebingungan.
__ADS_1
Pada dasar nya Rudi memang tidak pernah sekalipun menginjakan kaki nya untuk makan di warung pinggir jalan seperti ini, semua makanan nya terjaga dan terjamin kebersihan nya,
" iya lah Rud, pakai apa lagi!"
Rudi mengernyitkan dahi, dia merasa sudah untuk memakan nya, apa lagi makanan itu masih panas,
" begini Caranya!"
Perempuan itu memberi tahu Rudi bagaimana cara makan dengan tangan secara langsung,
" kumpulkan nasi dan lauk dengan jari jari tangan mu, seperti ini, kemudian ketika hendak kau masukan mulut, dorong dengan ibu jari mu!"
Perempuan itu mempraktekan caranya kepada Rudi, agar dia bisa makan dengan benar, kemudian Rudi menirukan nya dengan gaya yang agak sedikit berantakan.
" akhir nya Aku bisa!" dia tertawa riang, sebuah prestasi yang membanggakan akhir nya berhasil dia torehkan,
Perempuan berbaju hitam itu hanya tertawa melihat tingkah laku orang kaya itu,
" terimakasih ya perempuan hitam!" ucap Rudi,
Perempuan itu memperhatikan warna kulit pergelangan tanganya.
" sepertinya Aku gak hitam hitam amat, kenapa kau memanggilku perempuan hitam?"
dia sedikit kesal jika Rudi memanggil nya perempuan Hitam.
" sudahlah, anggap saja itu panggilan sayang ku!"
Ujar Rudi.
Mereka pun selesai dengan makan nya, dan bersiap untuk pulang kerumah nya masing masing, dengan menggunakan bis kota.
Di dalam bis mereka saling bergandengan tangan,
" perempuan hitam, terimakasih untuk hari ini,!"
Dia menatap perempuan itu dengan penuh rasa kasih sayang,
" sama sama,!" perempuan itu tersenyum menunjukan wajah manis nya kepada Rudi.
" maukah kamu menikah dengan ku?" mendengar ucapan Rudi, perempuan itu terbelalak terkejut dengan pernyataan Rudi yang begitu spontan, tidak mungkin usia mereka masih terlampau muda, bahkan Rudi belum lulus dari Sekolah Menengah Atas, dia tidak menjawab pertanyaan Rudi.
" berjanjilah, jika kelak kau sudah lulus kuliah dan menjadi orang yang lebih dewasa, jemput lah Aku disini, di halte Bus ini!"
" iya, Aku janji!" Rudi menyanggupinya,
Mereka saling menautkan jari kelingking nya,
__ADS_1
Entah apa yang membuat perempuan yang belum memberitahu namanya kepada Rudi itu, begitu seenak nya membuat janji dengan seseorang yang baru dikenal nya, bukankah janji itu lebih mahal dari segala macam perhiasan yang ada di bumi ini?
Mereka pun pulang ke rumah mereka masing masing dan tenggelam dalam perasaan cinta yang baru saja terjalin itu.