ARISTOKRAT

ARISTOKRAT
DISGUISE 5


__ADS_3

Perjalanan itu terus berlanjut, menenggelamkan Tiara dalam lautan sepi yang hening, tanpa ada kata tanpa ada suara yang terucap dari kedua buah bibir yang saling bersebelahan itu.


Pilar pilar gedung yang berdiri megah, memanjakan mata Tiara yang diam tak bersuara, hanya kedipan mata nya yang takjub akan bangunan bangunan tinggi yang menghiasi setiap sudut ibu kota.


Memang ini bukanlah kali pertama Ia menginjakan kaki di kota yang berjuluk Megapolitan ini, sudah lama sekali rasa nya, dia tak lagi melihat pemandangan super padat yang merayapi kota itu, sejak kematian Ayah nya yang ditemukan bunuh diri melompat kedalam sungai yang menjadi sumber mata air PAM sekaligus tempat pembuangan limbah limbah pabrik yang kurang bertanggung jawab.


Sesekali Gadis itu menyeka Airmata nya yang tiba tiba keluar dengan sendiri nya, saat dia kembali bernostalgia dengan kenangan masa kecil nya yang berharga.


Robi, yang semula merasa jengkel dengan suara nyaring Tiara, menghentikan aktifitas jari jemari nya yang entah sudah berapa lama menyetubuhi laptop yang di pegang nya, mata laki laki itu melirik Tiara yang hanya memperlihatkan rambutnya yang tergerai dari belakang.


Dia tampak aneh dan keheranan, mendapati Tiara yang tiba tiba terdiam membisu, menempelkan wajah nya di jendela mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu.


Ingin dia mengusik Gadis itu, agar kembali menunjukan gigi gingsul nya yang acap kali di rindukan nya,tapi sepertinya momen itu tidak begitu tepat untuk gadis yang saat ini terlihat sedang merasakan kesedihan dari gurat wajah nya.


Nova melirik Bos nya itu melalui spion dalam mobil, dia tau betul, jika Bos yang sudah di layani nya selama dua tahun terakhir ini sedang jatuh Cinta dengan Gadis sederhana yang kini berada dekat di samping nya tersebut.


"Ada apa?"


Suara Robi yang besar sedikit serak itu membuyarkan lamunan Tiara, Gadis lugu itu sedikit terkejut, lantaran pikiran nya yang sudah melayang terlalu jauh, meninggalkan segenap kenyataan pahit yang harus di hadapi nya seorang diri.


"Tidak apa apa!"


Tiara hanya menjawab singkat, sembari berpura pura menyeka keringat sekaligus membersihkan pipi nya yang sudah basah oleh air mata.


"Sebentar lagi kita sampai, bersiap siap lah!"


Robi mematikan laptop nya, kemudian meletakkan nya kembali kedalam tas jinjing berwarna hitam yang memang sudah dia siapkan untuk mengistirahatkan sejenak perangkat nya itu.


Laki laki itu kembali menatap Tiara dalam, dia tau, ada sesuatu yang sedang di sembunyikan gadis itu jauh di dalam lubuk hati nya, hanya saja dia tidak mau membagi kisah pilu nya kepada diri Robi.


Kembali mereka larut dalam keheningan, saat Tiara hanya menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan jika dia tak memiliki banyak tenaga untuk sekedar berkata 'IYA' kepada bos nya tersebut.

__ADS_1


***


Mobil yang di kemudikan Nova bergerak lurus ke depan, sesaat kemudian tampak sebuah bangunan bertingkat dengan beberapa kamar yang bersekat sekat sudah berada di jarak beberapa meter dari laju mobil yang sudah semakin mendekat.


Seperti nya Rumah itulah yang mereka tuju, Rumah kosan yang tampak lebih besar dari rumah rumah kosan lain nya.


Nova menghentikan mobilnya tepat di depan pagar dengan dinding dinding yang tinggi yang di cat warna Putih oleh pemilik nya.


"Akhirnya Kita sampai juga!" ucap Robi sembari menarik nafas panjang.


Tiara sedikit bingung dengan pemandangan yang ada di depan mata nya kini, apa benar ini adalah kosan Robi yang sudah lama tidak di huni? gadis itu tampak takjub dengan kemegahan bangunan yang terpampang indah di manik matanya tersebut, yang jika dibandingkan dengan rumah kontrakan nya benar benar sangat jauh tingkat level nya.


"Wah, ini mah Kosan mewah Don!"


gadis itu terperangah masih tidak percaya dia akan menempati kosan dengan fasilitas lengkap itu.


"Kamu suka?" tanya Robi, yang berdiri keren di samping Tiara dengan kedua tangan yang dia masukan ke dalam saku celana.


Sejenak Tiara terdiam, mata nya tertuju pada sebuah tulisan yang terpampang dengan besar di depan gerbang 'KOSAN KHUSUS PEREMPUAN'.


"Tunggu, tunggu!" sembari melirik Robi penuh curiga.


"Ehemm" Nova berdehem, memperingat kan Robi yang tak menyadari tentang papan peringatan.


"Kenapa Ra?" Robi masih sok cool menunggu pelayan membukakan gerbang.


"Jadi, selama ini Kamu ngekos bareng cewek cewek?" Tiara menodong Robi dengan pertanyaan yang tidak terduga.


"Ha?" Robi terkejut, laki laki itu terperangah mendapati Ekspresi Tiara yang penuh curiga.


"Gila, Mana mungkin Aku tinggal di kosan perempuan?" Robi Mundur satu langkah, ia sedikit ketakutan melihat Tiara yang menatap nya tajam.

__ADS_1


"Trus, papan sebesar itu tulisan nya apa?" Tiara kembali menunjukan sebuah papan hitam yang di penuhi huruf kapital.


Robi menepuk jidat, kaki nya menggeser nggeser Kaki Nova, menyalahkan Pria yang kurang teliti dalam menjalankan tugas nya.


"Emm, Anu, maaf Ra, sebenar nya Kosan ini milik pacar Nova, bukan milik Saya!" Robi mencoba beralibi, wajah nya di penuhi keringat.


"Kenapa pakek bohong sih Don?" Tiara sedikit kesal atas ketidak jujuran Robi.


"Maaf Nona Tiara, sebenar nya Kami mau mengantar Nona ke Kosan Tuan Doni, namun berdasarkan diskusi bersama, kami memutuskan untuk mengurungkan niat kami, sebab Kosan Tuan Doni ternyata khusus Pria, jadi mau tidak mau Kami mengantar Nona ke Kosan ini, yang khusus Putri!"


Robi,sedikit lega, akhir nya dia punya alasan untuk menutupi kebohongan nya.


"Terus Pacar Pak Nova gimana?" Tiara terus melontarkan pertanyaan yang mengejutkan, gadis cantik ini memang tabiat nya Kritis sejak kecil.


Nova menelan ludah, jangankan pacar, kenalan wanita saja dia tidak punya, Bujang lapuk berumur 32 tahun itu sedikit gemetar saat Tiara bertanya tentang pacar kepada nya.


"Pacar saya, anu! Pacar saya!" Nova mulai gusar, sebab ini adalah kelemahan nya, saat di singgung tentang pacar, dia akan menjadi sangat grogi.


"Pacar nya kabur dengan Laki laki lain!" celetuk Robi.


Laki laki itu berbicara tentang fakta yang selama ini Nova sembunyikan, sebuah kenyataan yang membuat Nova tak mau lagi berkutat dengan dunia percintaan, rasa trauma nya yang amat dalam lah yang menjadi alasan utama nya.


"Kasian pak Nova, yang sabar ya Pak!" Tiara mendekati Nova, seraya memeluk Bujang lapuk tersebut.


Robi kembali terperangah, dia tidak terima Tiara memeluk Doni begitu saja, seketika wajah nya bersungut kesal melihat pemandangan tidak menyenangkan itu.


Apa lagi melihat Nova yang sengaja melepas kaca mata nya untuk meledek Robi dengan menaik turunkan alis nya.


"Sudah, sudah, gak ada acara peluk memeluk, Kamu itu perempuan, jangan asal peluk orang!" Robi menarik lengan Tiara, laki laki itu tidak tahan memendam rasa dongkol di hati nya.


"Ih, apaan sih? Kan sudah seharus nya kita menghibur perasaan orang yang sedang patah seperti pak Nova!" Tiara marah kepada Robi.

__ADS_1


"Tapi tidak begitu cara nya, Jaga sikap Kamu sebagai perempuan, jangan memposisikan dirimu seperti perempuan gampangan!" Robi semakin kesal, ini adalah kali pertamanya dia membentak Tiara, dan ini juga kali pertama nya dia tidak bersikap Cuek dan masa bodoh kepada seorang wanita.


Sementara Nova hanya tersenyum kecil, dia sudah bisa bernafas lega, sebab Atasan nya itu sudah bisa membuka diri dengan orang lain, terlebih lagi dengan lawan jenis, sebab selama ini dia hanya terkukung dalam rasa sepi dan kesedihan yang di pendam nya seorang diri.


__ADS_2