
Raisa tenggelam dalam pelukan Angga yang hangat, laki laki itu menenggelamkan kepala Raisa di dada nya yang bidang.
' Perasaan apa ini? Pelukan nya begitu hangat, Aku tidak pernah merasakan ini sebelum nya, tapi ini semua tidak boleh terjadi, dia masih anak anak yang belum genap 20 tahun' Raisa berceletuk di dalam hati nya.
" Tidak, Anda tidak boleh jatuh cinta kepada ku!" Raisa mendorong tubuh Angga dengan keras,
" Maafkan Aku nyonya!" Angga sedikit menyesal dengan perlakuan nya itu kepada Raisa, yang tiba tiba memeluk nya tanpa aba aba.
" Aku akan pergi dari sini, mencari perlindungan ke kantor polisi!"
Raisa bergegas keluar dari kamar Angga dengan perasaan yang penuh gejolak, di dalam benak nya, dia tidak mungkin kembali ke rumah suami nya, hati nya sudah terlanjur sakit atas semua penghinaan penghinaan yang di lakukan oleh suami nya itu, dia bukan lagi istri boneka yang berpura pura bahagia saat berada di hadapan nya, namun hati nya terus menangis ketika Suami nya itu mencampak kan nya begitu saja.
Raisa berjalan terseok Seok ke arah pintu rumah, langkah nya masih tertatih dengan menahan luka luka nya yang belum mengering itu, sedangkan Angga hanya terdiam terpaku, melihat wanita pujaan nya itu pergi meninggalkan tempat kediaman nya, Dia tidak mungkin menahan perempuan yang sudah bersuami itu, biarlah Raisa pergi mencari kebahagiaan nya, bagi nya menghapus air mata Raisa adalah tugas nya, meskipun terbesit luka yang amat dalam di hati nya, perempuan itu adalah segala nya di hidup nya.
" Aku mencintaimu Raisa!" Tangan nya mengepal memukul mukul kan nya ke lantai,usia bukanlah penghalang bagi nya untuk mencintai Perempuan itu, kecantikan hati Raisa, sudah membuat nya jatuh cinta sejak pandangan pertama.
Semakin lama bayangan Raisa semakin menghilang dari pandangan mata Angga, menutup rasa kecewa nya atas kepergian perempuan itu yang meninggalkan nya begitu saja di ruangan kecil ini.
***
Raisa berjalan menuju kantor polisi terdekat untuk mencari perlindungan sementara waktu.
Langit bergemuruh, menyelimuti wajah nya dengan warna abu abu pekat,seperti nya hujan masih tidak rela melepaskan pelukan nya dari Kota besar itu setelah semalam dia bercumbu dengan tanah, kini tetes demi tetes air hujan mulai berjatuhan membasahi dedaunan yang belum kering, Kantor Polisi sudah semakin dekat dari pandangan nya, Seperti tersesat dalam persimpangan jalan, dia kebingungan untuk menentukan arah mana yang harus dia tempuh, Seperti itulah perasaan nya saat ini, Tidak mungkin dia kembali kepada laki laki yang sudah menyakiti jiwa dan raga nya itu, Di sisi lain dia juga tidak mungkin kembali Galeri Angga meskipun sebenar nya dia merasa nyaman di dalam nya, Apa lagi harus kembali ke rumah kedua orang tuan nya itu, sama sekali tidak mungkin sebab kedua orang tua nya akan mempertemukan nya kembali dengan Rudi,laki laki yang sudah tidak ingin di temui nya itu.
Langkah nya sudah semakin dekat untuk sampai di halaman kantor Polisi yang dia tuju itu, Belum sempat dia melangkah kan kaki nya ke halaman itu, dia melihat sebuah mobil Fortuner warna putih terparkir di halaman Kantor Polisi itu, tampaknya Raisa mengenali plat nomor mobil itu dengan benar, dia masih ingat betul dengan beberapa digit nomor yang tertera di bak belakang mobil tersebut.
Mata nya tertuju pada dua orang yang sedang turun dari mobil itu, dua orang Laki laki dan Perempuan yang sudah di kenal nya selama menjalani biduk Rumah tangga bersama seorang Rudi Hartono.
Dua orang Laki laki dan Perempuan itu tidak lain adalah Rudi dan Megan dua wajah yang sudah membuat hidup Raisa menderita selama ini.
Di lihat nya tangan mereka yang saling bertaut, bergandengan mesra seperti seorang Suami Istri yang sedang di mabuk asmara, Rudi merangkul tubuh Megan yang seperti nya sedang menangis tersedu.
Hati Raisa bergetar hebat, melihat pemandangan menyakitkan di depan mata nya itu!
'Rudi, kenapa kau begitu lembut dengan perempuan itu? Sedang kan dengan istrimu sendiri kau hancurkan tubuh dan perasaan nya? Kau cabik cabik hati nya setiap kali kau bersedih atas sikap perempuan itu yang dingin kepa Mu? Rudi, terbuat dari apakah hati Mu? Yang dengan tega merampas kebahagiaan dan kebebasan Istrimu tanpa mempedulikan tentang kebebasan nya dalam mencari kebahagiaan?'.
Raisa tak kuasa melihat nya, lagi dan lagi hati nya di buat sakit oleh orang yang benar benar di cintai nya sejak masih Remaja itu.
__ADS_1
Dia mengurungkan niat nya untuk mencari perlindungan kepada Kepolisian setempat, mata nya sudah tak Sudi melihat kehadiran Rudi lagi, dengan tenaga yang tersisa, dia berlari menjauhi tempat itu tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Tak peduli dengan deras nya air hujan yang kembali mengguyur tubuh nya,tak peduli seberapa sakit rintik air hujan itu menusuk nusuk tubuh nya yang penuh lebam, harapan nya sudah kandas untuk memperbaiki hubungan nya dengan Rudi.
Langit semakin menggelap, jalanan yang rata dipenuhi oleh genangan genangan air, Raisa jatuh tersungkur diatas tanah tubuh nya lemas di iringi air mata yang ikut jatuh bersama rintik hujan, dia menangis di tengah hamparan hujan, mengingat semua kenyataan pahit yang menimpa diri nya secara bertubi tubi, tubuh nya meringkuk di tengah dingin nya hujan.
" Mari kita pulang nyonya!"
Remaja tampan itu melindungi tubuh Raisa dengan payung hitam yang di bawa nya, Raisa mendongak kan kepala nya memandang wajah Remaja yang penuh ketulusan itu.
Angga mengulurkan tangan nya untuk membantu Raisa berdiri, Perempuan 30 tahun itu, menatap mata Angga, Pandangan nya nanar tertutup Air mata yang masih membasahi mata nya, seperti anak kecil yang menuruti perintah Ayah nya, Perempuan itu mengikuti langkah Angga tanpa kata atau pun suara, Mereka hanyut dalam keheningan.
" Nyonya!"
Suara Angga memecah kan keheningan diantara mereka,
" I,iya!"
Wajah nya kembali memerah, terbesit rasa sungkan di hati nya, bagaimana pun dia sudah menolak Remaja laki laki itu dengan kasar.
" Apa hal yang paling menyenangkan yang tidak pernah Anda lakukan selama ini?"
" Tidak pernah ada yang ingin Aku lakukan di dunia ini!"
Perempuan itu terlampau serius dalam menjalani hidup nya.
" Bagaimana dengan ini?"
Angga membuang payung hitam itu, dan membiarkan tubuh nya kuyup oleh air hujan,
" Jangan Angga,nanti kamu kehujanan!"
Raisa mengambil kembali payung itu, namun Angga menepisnya sembari menggandeng tangan Raisa, dia mengajak perempuan itu berlari di tengah deras nya hujan,
" Konon kata nya, Air hujan itu mampu menyembuhkan penyakit, terutama ketika kita sedang merasakan sakit hati, dengarkan suara nya, Anda akan mendengar gelombang Suara yang indah yang mampu menentramkan jiwa!" Angga merentangkan kedua tangan nya dan merasakan rintik rintik hujan itu menerpa tubuh nya, Raisa mengikuti apa yang Angga lakukan dan mendengarkan suara air hujan yang berjatuhan dari langit, benar kata pemuda itu, Suara air hujan memang sedikit menenangkan perasaan nya.
' Orang bilang, bukan suara hujan yang menenangkan, tapi bersama siapa kita mendengarkan dan merasakan nya'.
__ADS_1
Angga tertawa kecil melihat Raisa yang mengikuti gerakan nya,
"Kenapa kau tertawa?"
" Anda terlihat lucu Nyonya!" dia menyiratkan sedikit air yang menggenang ke wajah Raisa,
" Jangan, itu kotor!" Perempuan itu menutupi wajah nya dengan tangan, tetapi Angga terus mnciprati wajah Raisa dengan air, Raisa membalas Angga dengan menyiratkan Air juga ke wajah Angga,
" Rasakan!" ucap Raisa,
Mereka pun larut dalam Senda gurau di tengah guyuran air hujan yang seakan tak berhenti mengguyur Kota itu.
" Nyonya, ikut Aku!"
Angga kembali menggandeng tangan Raisa, dia mengajak Perempuan itu ke sebuah lapangan bermain anak anak yang ada di kota tersebut.
" Mau kemana lagi kita?"
" ikuti saja Aku!" Angga masih menggandeng tangan Raisa dengan erat.
Sampailah mereka di sebuah lapangan dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain bola.
" Adik-adik! boleh kami ikut bermain?"
Angga menawarkan diri nya untuk ikut bermain bola di sana.
"Boleh kak!" Beberapa anak itu menjawab dengan serempak.
" Ayo, kita main!"
Angga menarik tangan Raisa, untuk masuk ke dalam lapangan untuk ikut bermain bola.
" Tidak, Aku sudah terlalu Tua untuk bermain seperti ini!" Raisa melepaskan genggaman tangan Angga.
" Tidak ada alasan umur untuk mencari kebahagiaan!"
Angga menarik tangan Raisa lagi, kemudian membagi tim untuk bertanding satu sama lain, Meskipun Awal nya Raisa menolak, namun pada Akhir nya dia menikmati suasana itu dengan hati nya yang penuh gembira.
__ADS_1
Ada kebahagiaan tersendiri, ketika dia melihat anak anak kecil tersenyum riang penuh kebebasan.