ARISTOKRAT

ARISTOKRAT
ALIEN 2


__ADS_3

" bukan kah itu baik? Jika orang tua sudah menyiapkan pendidikan anak anak nya jauh jauh hari?"


Perempuan itu menekuk lututnya dan menopang kepalanya di atas kedua siku yang ditekuk di atas lutut nya, dia memperhatikan wajah pemuda itu dengan seksama,


" Aku tahu semua itu memang untuk kebaikan ku, tapi lambat Laun cara dia mendidik ku, semakin membuatku tertekan, setiap hari Aku harus berkutat dengan buku buku tebal untuk bisa menguasai semua mata pelajaran yang di ajarkan di sekolah, semua nya agar kelak Aku bisa kuliah di universitas terbaik yang ada di dunia!"


Dia menyandarkan kepalanya, memfokuskan pandangan nya untuk melihat senja yang bersinar indah di ufuk barat, momen ini sangat jarang dia rasakan sebelum nya,


" lalu apa yang membuat mu se frustasi itu?" perempuan itu masih melontarkan pertanyaan demi pertanyaan kepada laki laki yang sedang meratapi kepedihan di hati nya itu.


" Ayahku mempunyai pesaing bisnis yang sangat dia benci, entah karena alasan apa? Keluarga kita selalu bermusuhan dalam segala macam hal, meskipun permusuhan itu tidak begitu nampak jika dilihat orang orang awam, seolah olah kita sedang melakukan sebuah perang dingin yang perlahan lahan membunuh jiwa dan ragaku!"


baru kali ini pemuda itu bisa leluasa menceritakan masalah nya kepada seseorang yang bahkan dia tidak mengetahui nama dan tempat tinggal nya, dia merasa sangat beruntung bisa dipertemukan dengan gadis yang secara tidak sengaja sudah menyelamatkan nyawa nya itu,


" apa yang di perbuat Ayah mu? Sehingga kau menjadi seperti ini? Tidak bisa menikmati hidup mu yang seharusnya lebih indah dari kehidupan orang orang kelas bawah yang untuk mencari makan saja susah nya setengah mati,bahkan sampai ada seorang bapak yang rela menjual ginjal nya untuk biaya sekolah anak anak nya?"


dia menghela kan nafas panjang, merasakan atmosfer dunia dengan berbagai macam cerita yang miris dan tragis, seolah olah seluruh manusia di bumi ini, mengemban sebuah beban besar di kepala nya sehingga membuat siapapun yang menyangga nya akan berjalan dengan terseok Seok dan bersusah payah untuk sampai kepada tujuan nya masing masing.

__ADS_1


" yang membuat Aku benci, Ayah ku selalu memaksaku untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik, terutama saat bersaing dengan anak dari musuh bebuyutan Ayah ku, kebetulan kami satu sekolahan, mengenyam pendidikan yang sama di sekolah yang sama dan kelas yang juga sama, dari situ penderitaan ku terus berlanjut, setiap nilaiku lebih rendah dari nilai anak pesaing bisnis Ayah ku itu dia tidak segan segan memukul dan menghajar ku habis habisan!"


Pemuda itu tak kuasa menahan air mata nya, ternyata kehidupan yang dia alami begitu berat, dia lahir di keluarga yang kurang menghargai pendapat dan prinsip orang lain, keluarga yang hanya memperhatikan strata sosial di dalam nya, keluarga yang hanya memikirkan harta dan dunia nya saja, tanpa memikirkan hati dan perasaan anak nya.


Melihat pemuda itu menangis, perempuan itu memeluk pemuda tersebut sembari menepuk nepuk punggung nya, sebuah pelukan kasih sayang yang hampir tidak pernah dia dapatkan dari kedua orang tua nya, pemuda itu tersenyum dalam tangis nya, merasakan betapa hangat nya perasaan yang mengalir di sekujur tubuh nya saat ini,


" siapa namamu?"


perempuan yang masih mendekap pemuda itu, sudah mulai membuka hati nya untuk mengenal nya lebih dalam.


" kenapa kamu gemetaran?"


Perempuan itu tertawa kecil melihat ekspresi Rudi yang terlihat sangat grogi, ternyata di dalam wajah garang nya, masih ada sedikit kelembutan di dalam nya.


" kamu memeluk ku secara tiba tiba!" ucap nya tanpa rasa sungkan, sesekali dia mengusap wajah nya yang bersemu merah dengan sapu tangan yang di bawa nya, entah mengapa keringat dingin tiba tiba menghiasi wajah nya begitu saja, perempuan yang melihat itu tertawa semakin renyah di buat nya.


Dengan tanpa seizin Rudi, perempuan yang ada di hadapan nya itu, mendaratkan sebuah ciuman di bibir Rudi yang benar benar sedang diselimuti rasa grogi saat ini, sebuah ciuman lembut yang tak pernah di rasakan oleh Rudi sebelum nya, jantung nya berdetak dengan kencang, darah nya berdesir hebat, memenuhi rongga rongga tubuh nya yang lemah, sekali lagi dia dikejutkan dengan tingkah perempuan itu yang begitu tak terduga, sebelum akhir nya perempuan itu melepaskan ciuman nya dari bibir Rudi yang lembut itu,

__ADS_1


Rudi yang tanpa kata kata menatap kembali mata perempuan itu dengan tajam, tatapan yang tak pernah dia berikan kepada siapapun sebelumnya, tatapan yang hanya untuk perempuan yang ada di hadapan nya itu, tangan nya yang cukup besar merangkul tubuh kecil perempuan itu, dan benar, sekali lagi dia menyambar bibir gadis itu, jiwa laki laki nya seolah bangkit begitu saja, dia mengulum bibir wanita itu lebih lembut dari sebelum nya, mereka menikmati perasaan demi perasaan yang bergejolak di dadanya, dan di tengah hamparan senja, mereka tenggelam dalam lautan asmara.


Perempuan itu melepaskan ciuman Rudi dari bibir nya, setelah puas merasakan desiran hangat dari perasaan Rudi yang membuncah, Rudi merangkul tubuh perempuan yang kecil itu, dan kembali bersandar sembari menikmati lagi kehangatan senja sore itu.


" Hey Rudi, bukankah kau juga alien?"


Pertanyaan yang absurd itu keluar dari bibir wanita yang kini ada dalam rangkulan Rudi.


" kenapa bisa begitu? Kau selalu membahas alien?" Rudi menatap wajah gadis bertubuh kecil yang ada di rangkulan nya itu.


" meskipun kau satu rumah dengan kedua orang tua mu, tapi mereka tetap orang asing bagi mu, bukankah manusia yang tidak saling mengenal Kepribadian seseorang dengan benar adalah alien? Kita asing di mata mereka, kita tidak satu visi dan misi di planet yang berbeda!" Gadis itu meringkuk dalam kehangatan tubuh Rudi, merasakan aroma wangi yang terus menggoda hidung nya untuk tidak melepaskan tubuh Rudi begitu saja.


" Akhir nya Aku paham dengan apa yang kau maksud, hey gadis hitam, maukah kau tinggal di planet yang sama dengan ku?"


Perempuan itu tersenyum melihat wajah Rudi yang terlihat lebih berseri-seri dari sebelum mereka saling mengenal, tanpa menjawab pertanyaan Rudi.


" Rudi, pegang janjimu untuk ku, jangan pernah kembali berfikiran untuk mengakhiri hidup mu lagi, jangan lagi kalah dengan seseorang yang sudah bersusah payah membangun kehidupan nya yang lebih sulit dari mu!" perempuan itu melepaskan rangkulan Rudi, dan kembali duduk meringkuk dengan lutut nya yang di tekuk, Rudi melihat pancaran kesedihan dari wajah wanita yang menemani nya itu, dia baru menyadari satu hal, bahwasanya dia lebih banyak bercerita tentang kesedihannya, di banding mendengarkan keluh kesah wanita berbaju hitam yang sedang duduk mematung menikmati siluet senja.

__ADS_1


__ADS_2