ARISTOKRAT

ARISTOKRAT
ISTRI BONEKA 7


__ADS_3

"Sebaik nya Nyonya bersihkan badan Nyonya terlebih dahulu!"


Laki laki itu menyodorkan handuk Merah Muda yang di ambil nya dari lemari pakaian nya, dia tahu betul apa yang di rasakan perempuan yang ada di hadapan nya kini, pakaian kotor bercampur lumpur yang di kenakan nya itu jelas sangat membuat nya tidak nyaman.


"Terima kasih" Ucap Raisa, kemudian dia bergegas menuju kamar mandi yang bersebelahan langsung dengan dapur, khas rumah rumah orang Indonesia pada umum nya.


Sementara Angga mengeluarkan semua barang belanjaan nya dari kantong plastik yang lazim mereka dapat kan saat berbelanja barang barang di toko, kemudian menyimpan sebagian bahan makanan mentah di lemari pendingin untuk di jadikan nya stok agar tidak perlu repot repot untuk berbelanja lagi besok.


Memang Angga masih remaja, terlebih dia adalah seorang laki laki, namun untuk urusan dapur atau mengurus rumah itu sudah menjadi hal biasa bagi nya, sejak masih duduk di bangku SMP dia sudah mandiri, dan lebih memilih hidup sendiri di rumah peninggalan kakek nya ini, meskipun hanya rumah kecil sederhana yang memiliki satu kamar saja, namun rumah ini menyimpan begitu banyak kenangan indah bersama kakek nya, yang notabene berjiwa Seni.


Bisa di bilang, bakat alami Angga menurun dari kakek nya yang seorang seniman sekaligus guru besar di fakultas kesenian yang berada di Kampus paling terkenal se Antero Negri.


Beberapa saat kemudian, Raisa menyelesaikan mandi nya, dan keluar dari Kamar Mandi dengan handuk yang di taruh nya di atas kepala, untuk membungkus rambut nya yang masih basah.


"Sekarang giliran kamu, sebaik nya kamu bersihkan juga badan Mu yang sudah kotor sekali itu!" ucap perempuan itu, sembari menggosok nggosok rambut nya yang basah dengan handuk yang kini sudah tak lagi di letak kan di atas kepala nya.


"Baik!" Laki laki berdiri dari tempat nya tadi, dan segera menuju ke kamar mandi.


Raisa meneruskan pekerjaan yang di lakukan Angga tadi, kemudian mengambil beberapa bahan masakan untuk di masak nya hari ini, sebagai seorang Nyonya besar, sebenar nya dia tidak pernah menyentuh dunia perdapuran, apa lagi harus memasak makanan sendiri secara langsung, hal ini dikarenakan sejak lahir Raisa tidak pernah merasakan pahit nya kehidupan menjadi orang tidak mampu, sejak kecil dia diperlakukan seperti seorang Putri Raja, yang apa apa sudah di siapkan oleh pelayan di rumah nya, bahkan untuk urusan pakaian sekalipun, dia tidak pernah di ijinkan untuk memilih pakaian nya sendiri, baik dari segi warna atau pun motif ke sukaan nya, dalam kata lain, Raisa tidak bisa menikmati hidup nya seperti orang orang pada umum nya yang memiliki hak untuk melakukan apapun yang mereka ingin lakukan.


"Jamur, Ayam, wortel, bawang Bombay!" perempuan itu mengambil beberapa bahan yang sudah di catat nya tersebut, kemudian membawa nya ke dapur untuk segera di eksekusi.


"Gimana y? Caranya motong wortel?" gumam nya, dia sangat kebingungan bagaimana caranya memotong wortel dan jamur yang baik dan benar.


Cukup lama dia hanya melihati sayuran sayuran segar yang ada di hadapan nya tersebut, memikirkan bagaimana cara yang tepat agar masakan nya segera matang sebelum Angga keluar dari kamar mandi, setelah lama berfikir, beberapa saat kemudian terlintas sebuah ide di kepala nya untuk mengambil mistar yang ada di ruang mengajar di galeri rumah itu.


Perempuan itu segera menuju ruang galeri untuk mengambil mistar, guna untuk mengukur ketebalan sayuran sayuran itu dengan ukuran yang pas.


Raisa cukup bersemangat untuk memotong Wortel dan Jamur tersebut, dia begitu serius memandangi garis garis kecil yang terdapat di sisi sisi penggaris.


Angga yang sudah keluar dari Kamar mandi tadi, tertawa tawa sendiri saat melihat apa yang di lakukan oleh Raisa dari kejauhan.


"Memang dasar tuan Putri!" laki laki itu menggeleng geleng kan kepalanya sembari bersedekap dan bersandar di sisi sisi pintu ruangan.


Raisa masih sibuk dengan sayuran nya, setelah beberapa lama dia memotong sayuran itu dengan hasil yang acak kadut,sekarang dia mulai meracik bumbu, dan disinilah penderitaan nya di mulai, Raisa tak kenal sama sekali dengan bumbu bumbu dapur,apa yang harus dia lakukan?

__ADS_1


Sejauh ini dia hanya tahu tentang bawang putih dan garam, sembari menyalakan kompor yang sudah di taruh wajan dan sedikit minyak diatas nya,dia merajang bawang putih yang sudah di beli nya tadi, tangan nya cukup kesulitan untuk memotong bawang itu, karena kompor yang sedari tadi sudah di nyalakan membuat minyak yang ada di atas wajan itu menjadi sangat panas dan sedikit berasap.


Raisa merasa sangat panik, kemudian membuat nya bergegas memasukan bawang putih yang belum selesai di ranjang itu ke dalam wajan yang berisi minyak panas tersebut, membuat api yang berada di bawah wajan itu naik ke atas menciptakan kobaran api yang lumayan besar.


"Tolong, uhuk uhuk uhuk!" Raisa semakin panik ketika melihat api menyambar permukaan wajan nya.


Angga yang melihat itu segera datang dan mematikan kompor tersebut. Raisa benar benar sangat ketakutan, dia menyembunyikan wajah nya di balik kedua telapak tangan nya,


"Sudah, jangan panik!" ucap Angga, menenangkan hati Raisa.


"Ma,maaf, Aku memang tidak becus!" wajah nya murung penuh penyesalan.


"Tidak apa apa, setidak nya Anda sudah belajar menyalakan kompor!" Ucap Angga,


Entah mengapa Raisa menjadi sangat sensitif, dia merasa kata kata yang di ucapkan oleh Angga barusan, merupakan sebuah penghinaan bagi nya yang tak pernah tau urusan dapur.


"Aku memang bodoh, perempuan yang tidak bisa masak memang sangat bodoh!" perempuan itu merasa frustasi, lagi lagi air mata nya berjatuhan, menunjukan sisi kewanitaan nya yang lembut.


"Maaf, Aku tadi cuma bercanda, mari Aku ajari memasak!" laki laki tampan itu memang paling tidak bisa membuat wanita menangis.


Raisa mengangguk, kemudian memperhatikan Angga yang menunjukan nya bagaimana cara memotong sayur dan daging yang benar.


"Hey Angga, sejak kapan kau tinggal sendiri? Dimana Ayah dan Ibu Mu?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Raisa.


Sejenak Angga menghentikan aktifitas nya, dia melirik Wanita cantik yang ada di hadapan nya itu.


"Sejak Aku masuk kelas 2 SMA!" ucap nya,kemudian melanjutkan aktifitas nya untuk meracik bumbu.


"Sebelum nya kamu tinggal dengan siapa disini?" Raisa kembali bertanya, dia mulai sedikit kepo dengan kehidupan Angga sebelum nya.


"Selama ini Aku tinggal bersama kakek dan seorang pembantu disini, kebetulan kakek ku seorang Rektor disebuah perguruan tinggi yang paling terkenal di Indonesia ini, kebetulan fakultas yang dia pimpin adalah fakultas Seni, sudah banyak karya karya nya yang mendunia!" Angga membuka sedikit tabir kehidupan nya kepada Raisa.


"Jadi darah seni di tubuh mu itu turunan dari kakek kamu?"


"Ya, begitulah, kakek orang yang baik dan bijak, dia yang sudah mendidik ku untuk tumbuh menjadi laki laki mandiri sejak kecil, jadi meskipun kami tinggal dengan pembantu, dia tak membiarkan Aku bermalas malasan begitu saja, Aku harus membantu semua pekerjaan pembantu kami termasuk memasak!" ucap nya, sembari mencicipi masakan yang sudah hampir matang.

__ADS_1


"Kamu hebat ya?" Puji Raisa, yang sedari tadi tidak melakukan apa apa, dia hanya menjadi juri untuk masakan Angga.


"Tidak Nyonya, Aku tidak sehebat yang Nyonya kira!" Laki laki itu lebih suka merendah dari pada menyombongkan diri.


Raisa begitu iri melihat sosok seperti Angga, di usia nya yang masih 17 tahun, dia terlihat lebih dewasa dari pada orang orang dewasa lain nya, belum lagi dia begitu tenang dalam keadaan apapun, tanpa merepotkan orang orang dewasa yang ada di sekitar nya.


Acara masak memasak pun sudah selesai, sebelum akhir nya mereka menikmati hidangan lezat yang di buat langsung oleh Angga.


"Enak!" Raisa sangat menikmati masakan itu, masakan yang berbeda dari yang biasa dia makan, Angga memasak nya dengan sempurna, dari segi rasa atau pun tekstur nya.


"Terima kasih Nyonya sudah sangat menikmati masakan dengan bahan ala kadar nya!" ucap Angga, dia bahagia melihat Raisa bahagia.


"Besok Aku berjanji, akan belajar memasak lebih baik lagi!" ucap Raisa,


"Tidak usah terlalu memaksakan diri Nyonya, Aku akan selalu berusaha melayani sebaik mungkin!"


"Jangan, Aku sudah cukup banyak merepotkan Mu!" perempuan itu merasa malu, sebab dia tak mampu menjadi perempuan yang sempurna lantaran tak jago dalam urusan dapur.


Angga hanya mengangguk, menyetujui keinginan Raisa, bagi nya asal Raisa bahagia dan bisa menjadi diri nya sendiri, itu semua sudah sangat cukup.


***


Mereka pun menyelesaikan makan nya, kemudian berniat untuk istirahat setelah ber beres peralatan makan dan masak nya tadi.


Raisa bergegas menuju satu satu nya kamar yang ada di Rumah tersebut, sebab kamar yang semula menjadi kamar pembantu sudah di rombak menjadi gudang tempat penyimpanan barang barang bekas, wanita itu sudah tidak tahan dengan rasa lelah akibat aktifitas nya seharian ini, dia berniat untuk tidur mengistirahatkan otot otot nya yang kaku.


"Angga,kamu tidur di mana?" tanya Raisa kepada Angga yang sedang mengambil selimut di dalam lemari pakaian nya yang ada di kamar itu.


"Aku tidur di Ruangan Galeri nyonya!"


"Apa kamu tidak kedinginan? Tidurlah di sini, di sofa itu!" sembari menunjuk sofa yang biasa di gunakan Angga untuk bersantai melihat pemandangan di luar jendela, Raisa merasa bersalah lantaran sudah merebut kamar ini dari Angga.


"Biar bagaimanapun Aku adalah seorang laki laki yang sudah tumbuh dewasa Nyonya, Aku juga punya hasrat seperti laki laki dewasa pada umum nya, lebih baik Aku tidur di luar dari pada harus menghadapi situasi yang tidak nyaman!" Ucap Angga, yang membuat Raisa kembali mengingat saat laki laki Remaja itu mencium nya di pinggiran Danau tadi sore.


"Emm, ya sudah, kamu tidur saja di luar!"

__ADS_1


"Permisi Nyonya!" Kemudian Angga beranjak pergi dari tempat itu menuju ruangan Galeri.


Raisa benar benar terkesima, Angga sangat menjaga harkat dan martabat nya sebagai seorang Wanita, dia benar benar bersyukur telah mengenal Angga yang benar benar sangat baik dimata nya, Sebelum Akhir nya dia merebahkan tubuh nya diatas kasur, kemudian memejamkan mata nya, untuk bersiap menyambut mimpi yang paling indah.


__ADS_2