
Percayalah, tidak ada manusia yang baik baik saja di dunia ini, semuanya sedang berjuang untuk berdamai dengan keadaan nya masing masing.
***
"Nova, segera pecat karyawan yang sudah berbuat masalah di acara pesta tadi malam, jangan lupa, kasih dia uang pesangon nya!" seorang Direktur muda, dengan telpon yang ada di antara pundak dan telinganya membuka buka berkas laporan yang di terima nya dari kepala pelayan yang bertugas mengawasi kinerja karyawan karyawan baru,
" baik tuan!" Ucap Nova, selaku kaki tangan Direktur muda tersebut,
Adalah Robi, seorang putra pemilik hotel berbintang 5 Diamond sea, yang anak cabang nya sudah menjamur di seluruh pelosok negri, hari ini adalah pertama kali nya dia menjabat sebagai kepala Direktur, setelah sekian lama berkutat dengan dunia pendidikan nya di luar Negri, tidak ada perkenalan secara khusus untuk nya, sebab semua karyawan yang ada disana sudah tahu, siapa itu Robi, desas desus yang mengatakan Robi akan menggantikan posisi Tuan Haris sudah senter terdengar sejak beberapa bulan yang lalu.
"Tiara, tuan Nova memanggil mu untuk datang ke ruangan nya!" ujar seorang karyawan yang ada disana, Tiara yang sedang asik mengepel lantai, merasa sedikit khawatir dengan panggilan itu, sebab sejak semalam penuh, dia tidak bisa tidur memikirkan hal ini, dia sangat takut di pecat atas insiden tidak menyenangkan yang di alami nya tadi malam, dengan langkah yang sedikit gontai dia berjalan menyusuri koridor koridor hotel untuk segera menemui atasan nya tersebut.
" permisi pak!" ucap Tiara yang sudah sampai di ruangan Nova,
" iya, masuk saja!" Nova mempersilakan Tiara untuk masuk kedalam ruangan nya, Tiara tidak berani memandang wajah laki laki muda yang ada di hadapan nya itu, meskipun wajah Nova sama sekali jauh dari kata menakutkan,
" Tiara, saya mendapat berita yang kurang menyenangkan untuk kamu hari ini, saya mohon maaf, Direktur utama meminta saya untuk memberhentikan kamu dari pekerjaan ini!" ucap laki laki berwajah kalem tersebut,
" apa? Jadi saya benar benar di pecat pak? tolonglah beri saya kesempatan lagi untuk memperbaiki kualitas kerja saya pak!" Tiara benar benar kecewa dengan keputusan Presdir yang memecatnya secara sepihak, menurutnya, kesalahan yang dia lakukan tidak begitu besar, tapi para orang kaya itu benar benar tidak memiliki hati dengan membesar besarkan masalah itu sampai harus memecat seorang karyawan seperti nya.
" tidak bisa Tiara ini sudah keputusan dari Presdir kita!" sembari menyodorkan kertas pemberhentian kerja, serta amplop yang berisi beberapa lembar uang sebagai pesangon, untuk bekal mencari kerja di tempat lain.
Tiara dengan berat hati menandatangi beberapa lembar kertas berisi pernyataan pemberhentian kerja oleh hotel tempat nya bekerja itu, matanya terlihat berkaca kaca dia menahan air mata nya agar tidak jatuh membasahi kertas kertas yang ada di hadapan nya itu.
" ini pak!" dengan sedikit gemetaran dia mengembalikan kertas kertas itu kepada Nova,
" sekali lagi saya mohon maaf Tiara, atas keputusan yang tidak menyenangkan ini!" sebenar nya Nova kasihan melihat gadis yang penuh semangat ini,namun nasi sudah menjadi bubur, dia tak mampu berbuat apa apa untuk perempuan yang ada di hadapan nya itu.
" tidak apa apa Pak, saya tahu ini sudah keputusan terbaik, kalau begitu saya permisi dulu!" dengan penuh rasa kecewa dan amarah, Tiara segera meninggalkan tempat itu, dan bergegas menuju ke dapur kantor khusus karyawan, untuk mengambil sesuatu yang tertinggal disana.
__ADS_1
Emosi nya benar benar terkumpul saat dia sedang sendirian seperti ini, dia menendang nendang meja yang ada di dapur tersebut,sesekali dia menangis dan berteriak kesal,
"presdir sialan!" teriak nya dengan tangan yang menggebrak gebrak meja,
Saat dia sedang larut dalam kesedihan nya, tiba tiba seseorang masuk kedalam dapur itu, dari wangi nya Tiara sudah bisa menebak siapa yang datang kesana,
Dan benar saja, seorang dengan setelan jas dengan ekspresi datar berdiri di hadapan nya untuk membuat secangkir kopi.
"ehemm" laki laki itu berdehem melihat Tiara yang dipenuhi dengan rasa emosi,
" asisten nya Pak Haris y? Wah, tidak menyangka kita bertemu lagi disini!" Tiara yang semula begitu sangat emosi, secara tiba tiba berubah menjadi ramah seperti biasanya dan tersenyum ke arah Robi.
" ada apa dengan mu? saya lihat kamu sangat emosi?" laki laki itu bertanya dengan tanpa ekspresi di wajah nya,
" hari ini hari terakhir saya kerja disini, semua itu gara gara si Presdir botak sialan itu!" ujar nya memaki maki tuan Haris, nampak nya perempuan ini belum tahu siapa laki laki yang ada di hadapan nya tersebut.
" oh, jadi kamu karyawan itu?" tanya laki laki itu,
dia tidak menyangka, ternyata karyawan yang dia pecat adalah wanita yang ditemuinya di dapur ini dengan tangan yang penuh luka saat sedang ada pesta ulang tahun nyonya Raisa di hotel itu tadi malam.
" tuan Haris memberitahuku!" Robi tidak mau menunjukan identitas aslinya kepada Tiara,
" saya do'akan semoga anak Presdir itu tidak akan menemukan jodoh nya di luaran sana!" ucap nya penuh amarah, Robi menelan ludah, dia sedikit takut dengan do'a do'a bruk yang di ucapkan Tiara untuk nya,
" kenapa bisa jadi anak Presdir yang kena sasaran?" tanya Robi, sembari mengaduk kopi yang sudah di tambahkan nya gula tersebut.
" emm, kan Presdir udah menikah!" jawaban Tiara begitu polos, Robi menahan tawa melihat kepolosan Tiara, dia baru menyadari, ini adalah momen pertama kali dia mampu tersenyum setelah sekian lama hidup dalam kehampaan,
" kamu tau berapa putra putri Presdir?" tanya Robi,
" bukan urusan ku, yang jelas Aku benar benar sakit hati dengan Presdir botak itu, dia tidak tahu bagaimana rasanya jadi orang susah, lagian wajah nya jelek, anak anak nya pasti mukanya juga jelek, sekarang ini Aku sedang bingung, setelah ini harus mencari kerja kemana lagi?"
__ADS_1
" memang iya anak Presdir jelek?" Robi kembali bertanya, nampak nya dia memang benar benar yakin Tiara tidak mengetahui siapa dia sebenar nya,
"iya jelas jelek, kayak bapak nya, jelek rupa nya, jelek hati nya, dia gak tau gimana susah nya hidup sebagai orang miskin, main pecat seenak nya, orang kaya itu rata rata gak punya perasaan, kalo mereka yang kehilangan pekerjaan masih ada kemungkinan untuk bisa makan selama berbulan bulan, sedang kan orang miskin seperti saya, sekarang kehilangan pekerjaan, besok sudah tidak bisa makan!" Tiara mulai menangis saat mengingat ibu nya dirumah, Robi lagi lagi menelan ludah melihat sifat Tiara yang begitu polos dan ceplas ceplos berani mengutarakan isi hati nya kepada siapapun, meskipun dengan orang yang baru di kenal nya,
" jangan menangis please!" Robi memang paling tidak bisa melihat orang menangis dihadapan nya,
" Aku butuh uang buat berobat ibuku!" ucap nya dengan tangisan yang semakin kencang, Robi hanya bisa menatap nya saja, tanpa tahu harus berbuat apa.
" siapa nama mu?" tanya Robi
" Aku Tiara!" Tiara menjawab dengan keadaan masih menangis.
" perkenalkan Aku Doni, asisten tuan Haris yang baru, akan Aku usahakan supaya Tuan Haris mau berubah pikiran!" ucap Robi, entah kenapa Robi seperti nya tertarik dengan gadis ini, baru kali ini dia melihat seorang gadis yang benar benar polos seperti Tiara.
" benarkah?" Tiara menghentikan tangisan nya, dan secara spontan memeluk Robi sebab diri nya terlalu bahagia saat ini,
" i, iya!" Robi sedikit Grogi, jantung nya bergetar hebat, baru kali ini ada seorang wanita dengan se enak nya menyentuh tubuh nya, apa lagi sampai memeluk seperti itu, Tiara melepaskan pelukan nya, sembari mendekat kan wajah nya ke hadapan Robi sembari berkedip kedip manja, Robi yang notabene sangat pendiam dan kaku, semakin di buat grogi oleh Tiara,
" Terima kasih!" ucap Tiara,
" i, iya, kemasi dulu barang barang mu, kasih kesempatan Tuan Haris untuk berpikir ulang!" ucap Robi,
setelah menikmati kopi terakhir nya, dia segera pergi dari ruangan itu, dan membiarkan Tiara mengemasi barang baran nya untuk segera angkat kaki dari hotel yang sudah membuat nya bangga, pernah diterima kerja disana, meskipun hanya menjadi seorang pelayan.
Berkat harapan yang diberikan Robi, Tiara tidak terlalu larut dalam kesedihan, meskipun tau peluang harapan itu sangat sangat lah tipis,
Setelah selesai berkemas, Tiara segera pergi dari sana, dengan membawa semua barang barang nya, teman teman yang baru di kenal nya pun ikut merasakan kesedihan Tiara, dan melepas kepergian nya.
" jaga dirimu baik baik Tiara, kami akan selalu merindukan mu!" ucap Nancy selaku teman seperjuangan nya di sana
" ya, kalau gak ada kamu, pekerjaan kami semakin berat!" ucap Dinar, yang juga bekerja sebagai pelayan disana,
__ADS_1
" selamat tinggal teman teman, maafkan jika Aku punya salah sama kalian,!" meskipun dalam keadaan bersedih, Tiara masih menyempatkan tersenyum melihat teman teman nya yang sudah mengantar nya sampai di pintu lobi hotel.
Tiara melambaikan tangan nya, sebelum akhirnya punggung nya benar benar sudah tidak terlihat dari mata mereka.