
Dengan membanting tasnya di atas tempat tidur. Ali begitu gusar dan merasa sedikit marah dengan apa yang terjadi saat ini. Ali menganggap apa yang dialami ini gara-gara gadis bercadar yang hampir ia tabrak.
Jika saja dirinya tidak hampir menabraknya. Pasti hal buruk ini tidak akan semakin Ali rasakan. Guman Ali.
"Ini gara-gara dia. Aku jadi ingin tau siapa sih gadis itu sok banget itu. Yang sok pakai cadar segala. Liat saja, aku akan buat perhitungan dengannya. Atau jangan-jangan dia yang menyebarkan video waktu itu. Yang akhirnya video geng motorku jadi tersebar luas di media sosial. Kalau memang dia orangnya. Awas aja, aku tidak takut walaupun kamu itu bercadar. Awas aja." ucap Ali, sedikit menahan kesal pada gadis yang hampir ia tabrak.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Bagaimana dengan orang yang ayah antar tadi. Apa sudah sampai di keluarganya?" tanya Fatimah kepada sang ayah. Saat Ayahnya baru saja kembali dari mengantarkan Ali.
"Sudah. Ayah sudah antara dia sampai ke rumah. Bahkan Ayah sempat mengobrol dengan kedua orang tuanya. Pria itu namanya Ali. Anaknya sepertinya sopan, dan keluarganya juga ramah. Ayah tadi ngobrol sama mereka." jawab Hasan pada putrinya.
"Alhamdulillah kalau dia sudah sampai di rumahnya dengan selamat. Aku takut kalau dia kenapa-napa."
"Kenapa kamu malah yang ketakutan?" tanya Hasan.
__ADS_1
"Karena Fatimah merasa kurang berhati-hati dalam menyeberang. Jadi menyebabkan dia jatuh."
"Jangan salahkan dirimu. Dia pun juga mungkin salah
Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Menurut Ayah dia yang lebih salah. Karena saat itu dia juga tidak hati hati. Padahal kamu sudah benar. Dia mengendarai motornya terlalu kencang. Makanya dia terjatuh saat mengerem motornya."
"Iya, tapi tetap saja Ayah. Dia kan terjatuh akibat ulah ku juga mungkin."
"Sudah jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Ini sudah takdir dari Allah. Anggap aja ini ujian dan pelajaran bagi kalian berdua. Agar kalian lebih hati-hati lagi saat mau menyeberang. Dan dia juga mendapat pelajaran untuk berhati-hati untuk mengendarai motor. Pasti ada sisi baiknya dalam sebuah kejadian. Sudah jangan khawatir. Ayah mau salat ashar dulu. Waktunya sudah mau habis." Ujar Hasan, kemudian ia berlalu dari Fatimah dan pergi ke musholla.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Kata ayah sih sudah bunda. Ayah sekarang sedang sholat ashar di mushola." jawab Fatimah, ketika Zaenab baru saja datang.
"Pesan Bunda hati-hati Fatimah sayang. Bunda khawatir jika sesuatu terjadi sama kamu."
__ADS_1
"Iya Bunda, Fatimah akan lebih hati-hati. Sepertinya Fatima pernah melihatnya Bunda. Bahkan aku pernah melihat dia sering mondar-mandir bersama dengan beberapa kawannya yang lain."
"Maksud mu melihat siapa Fatimah?" tanya sang Bunda bingung.
"Pria yang hampir menabrak Fatimah."
"Fatimah pernah cerita tentang geng motor kan sama bunda. Aku pernah melihat pria itu berada dalam rombongan geng motor itu."
"Jangan salah bicara Fatimah. Mungkin kamu salah. Jangan asal menuduh."
"Fatimah tidak asal tuduh Bunda. Fatimah melihat dengan mata kepala sendiri. Mana mungkin Fatimah salah ngomong. Nanti kan jatuhnya fitnah."
"Ya sudah, lupakan saja. Mau seperti apa itu urusan dia. Yang penting Putri Ibu ini baik-baik saja. Ingat pesan bunda untuk selalu hati-hati."
"Iya Bunda, kemudian Fatimah memeluk bundanya dengan sayang."
__ADS_1