
"Aku senang jika mendengar Ali akhirnya bisa berpikir sedewasa itu. Padahal belakangan ini kita memikirkan tentang pergaulan dia yang mengkhawatirkan kan. Tapi kenapa dia bisa tiba-tiba menjadi berpikir dewasa itu. Tapi bagaimanapun aku cukup bersyukur karena dia memiliki pemikiran seperti itu." ucap Prasetya yang sangat setuju jika anaknya berkeinginan untuk memanggang kerja di kantornya.
"Ali memang harus dewasa Mas. Dia sudah 21 tahun. Umur yang sudah tidak lagi untuk bisa dia hanya sekedar bermain-main saja. Dia harus mulai membangun karir. Apalagi sebentar lagi dia kan akan lulus kuliah. Dan akan memasuki dunia kerja. Sebagai seorang orang tua kita harus mampu menjembatani Ali. Agar kita mampu untuk bisa membantu dia untuk bisa meraih masa depan." Ujar Hanin.
"Besok pagi aku akan bicara langsung kepada Ali mengenai hal ini. Agar aku bisa tahu sendiri tentang keinginannya yang ingin bekerja itu."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ketika mereka selesai makan pagi, saat mereka masih berada di meja makan. Prasetya mengatakan sesuatu pada Ali.
"Al, mama sudah bicara sama ayah tentang keinginan Ali yang ingin magang di perusahaan ayah. Jadi, kamu tanya langsung saja soal itu kepada ayah."
"Lalu bagaimana ayah?"
__ADS_1
"Ayah pikir, Ayah setuju dengan keinginan kamu. Jika kamu memang ingin belajar tentang perusahaan. Ayah akan memberikan ruang untukmu untuk bisa belajar. Tapi ayah ingin kamu belajar dari bawah. Meskipun kamu adalah anak Ayah. Ayah tidak ingin kamu langsung seperti kerja dengan posisi enak. Yang sudah memiliki jabatan penting. Karena dalam sebuah struktur perusahaan. Kamu tidak akan memahami bagaimana sebuah perusahaan itu bisa maju. Jika kamu tidak belajar dari bawah. Dan oleh sebab itu, Ayah nanti akan pikirkan pekerjaan apa yang cocok untukmu."
"Itu tidak masalah yah. Terserah ayah saja mau kasih aku pekerjaan apa. Yang penting aku belajar bekerja."
"Bagus, nanti ayah akan siapkan. Ya udah kalau gitu. Papa mau ke ruang kerja dulu. Sekaligus memikirkan pekerjaan apa yang akan papa berikan sama kamu. Selama kamu nanti magang di kantor ayah." ucap Prasetya, sambil menepuk pundak sang putra.
Kemudian ia pergi untuk menuju ke ruang kerjanya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Berada di rumahnya saat itu. Fatimah dan juga kedua orang tuanya sedang menikmati makan malam bersama.
Sambil menikmati makan malam. Mereka pun berbincang-bincang membicarakan hal-hal yang ringan yang selalu mereka berbincangkan dikala mereka sedang tengah berkumpul seperti itu.
__ADS_1
"Kemarin kamu menghadiri pesta pernikahan ya. Kata Bunda kamu menghadiri pesta pernikahan. Waktu itu memang siapa yang menikah?" tanya Hasan kepada Fatimah.
"Hilda Ayah, Hilda yang menikah."
"Hilda, yang sering main ke rumah itu. Bukankah dia seusiamu." tanya Hasan.
"Iya, dia memang seusia Fatimah. Lebih tua sedikit. Tapi Fatimah ada sedikit rasa salut sama dia. Karena mereka menikah dengan cara taaruf. Dan itu sungguh membuat Fatimah sangat berkesan." ucap Fatimah pada ayahnya.
"Dulu ayah sama Bunda juga nikahnya taaruf. Ke-dua orang tua kami tidak pernah membiarkan anak-anaknya berpacaran. Kamu pasti sudah tahu kan bagaimana pertemuan Ayah sama Bunda dulu itu. Kami hanya bertemu sekali. Tapi saat itu Ayah langsung menaruh perasaan sama Bunda. Karena ayah tidak ingin kehilangan kesempatan, maka Ayah pun bergerak cepat dengan melakukan ta'aruf sama Bunda."
"Ternyata taaruf kami berjalan dengan lancar. Kami menikah dan kami berpacaran setelah kami sudah sah menjadi suami istri. Jadi jika kita bermesraan pun itu tidak akan berdosa. Maka oleh karena itu. Jika seseorang ingin menikah Fatimah kelak. Ayah ingin ada seorang laki-laki yang mendatangi kamu dengan tujuan yang baik dari keluarga yang baik dan dia mempunyai akhlak yang baik. Kalau sudah seperti itu insyaallah, ayah akan menerimanya sebagai calon imam kamu."
Dan Fatimah pun hanya bisa menundukkan wajahnya ketika sudah menyinggung soal pernikahan.
__ADS_1