Assalamualaikum Ya Fatimah

Assalamualaikum Ya Fatimah
Malam meralaihan


__ADS_3

Ali langsung mengajak Fatimah untuk ke kamarnya yang ada di lantai dua.


Dengan membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Ali pertama-tama mempersilahkan Fatimah untuk masuk.


Setelah Fatimah masuk, Ali pun kemudian menutup pintunya kembali.


"Assalamualaikum Fatimah, selamat datang di kehidupanku. Lebih tepatnya di kehidupan kita." ucap Ali.


Baik Ali dan Fatimah, mereka masih sama-sama berdiri dengan penuh rasa tegang menyelimuti hati dan diri mereka masing-masing.


Ali saat itu berdiri beberapa langkah dari Fatimah. Kemudian ia melangkahkan kakinya untuk mendekati Fatimah.


Fatimah yang kala itu masih mengenakan cadarnya. Rasa gugup dan sangat gemetaran menyerang Fatmah. Ketika Ali semakin mendekatinya.


Setelah kini Ali berada di hadapan Fatimah, dengan perlahan kali kemudian membuka cadar memiliki Fatimah. Wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.


"Masyaaallah cantiknya." puji Ali terhadap sang istri ketika ia membuka cadar tersebut.

__ADS_1


Ali kemudian mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan di kening Fatimah.


"Kita sudah menjadi sepasang suami istri. Kalau ada apa-apa, jangan malu untuk berkata dan jangan malu untuk mengoreksi semua perilaku dan sikap ku. Yang mungkin tidak kamu sukai. Aku ingin kita menjalani pernikahan ini dengan sama-sama bersikap jujur. Aku tidak ingin ada kebohongan. Dan juga tidak ada suatu hal yang kita ditutupi. Aku ingin kita terbuka." ucap Ali kepada Fatimah.


"Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Semoga kita bisa menjalani pernikahan kita dengan bahagia, sakinah, mawadah warohmah. Jangan ragu untuk menegur ku."


Setelah mereka sedikit mengobrol pada malam itu. Dan hari pun semakin malam. Bahkan semakin larut. Tapi Ali dan Fatimah sepertinya semakin deg-degan. Karena mereka tahu meskipun mereka baru menikah setidaknya mereka paham, jika malam itu adalah malam pertama mereka.


Fatimah hanya duduk di atas tempat tidur sambil membaca sebuah buku.


Ali saat itu berada di sudut ruangan. Tanpa mengalihkan memperhatikan kepada Fatimah. Karena dirinya sendiri pun juga deg-degan.


Ali merasa telah bersikap bodoh di dalam kamarnya sendiri. Bahkan saat itu ia sudah memiliki istri. Ia merasa masih takut untuk mendekati wanita yang duduk di atas tempat tidurnya itu.


Dengan memberanikan diri. Ali kemudian berjalan ke arah ranjang dan langsung duduk di sisi Fatimah.


"Ini adalah sebuah hal baru yang baru kita lalui. Dan jujur aku tidak tahu jika rasanya akan seperti apa. Apa kamu siap malam ini." ucap Ali kepada Fatimah.

__ADS_1


Fatimah dengan sedikit malu-malu kemudian menoleh ke arah Ali.


"Aku tidak pernah punya pengalaman dekat dengan seorang laki-laki. Jika aku dekat dengan seorang laki-laki, itu hanya dirimu." ucap Fatimah lembut.


Ali kemudian mengangkat tangannya dan meletakkan tangannya di sisi pipi Fatimah.


"Apa kita akan mencobanya malam?" suara Ali bergetar saat mengucapkan kata-kata itu kepada Fatimah.


Saat wajahnya di tatap Ali seperti itu. Membuat Fatimah semakin deg-degan. Karena ia tidak bisa menjawab pertanyaan Ali dengan kata kata. Fatimah yang sangat mengerti apa yang dimaksud dengan Ali. Hanya bisa mengangguk kepalanya.


"Fatimah, aku mencintaimu. Kamu sangat cantik, saat pertama kali melihatmu. Dan aku sudah jatuh cinta padamu."


"Terima kasih sudah memilihku untuk menjadikan aku seorang istri. Tuntun aku agar aku bisa menjadi seorang istri yang baik. Aku akan berusaha untuk menunjukkan kepadamu. Sikap ku sebagai seorang istri yang berbakti pada suaminya."


Mendengar ucapan itu, Ali pun tersenyum.


Dan akhirnya, pada malam itu juga. Kedua pengantin muda, dan pasangan pengantin baru itu pun melakukan ritual melepaskan masa lajang mereka sama sama.

__ADS_1


Melepaskan status mereka sebagai seorang gadis dan perjaka.


__ADS_2