
Setelah beberapa jam ditangani oleh seorang dokter di UGD. Kini dokter yang memeriksa keadaan Ali. Menemui Fatimah dan juga Hasan untuk memberitahukan keadaan pria yang mereka bawa ke rumah sakit. Kala itu baik Hasan dan juga Fatimah. Belum tau tentang Ali.
"Apa pasien adalah anggota keluarga kalian?" tanya sang dokter kepada Hasan dan juga Fatimah yang saat itu menemui sang dokter di ruangannya.
"Bukan dokter. Dia bukan keluarga kami. Dia adalah seorang pengendara motor yang kebetulan hampir saja menabrak putri saya. Tetapi dari keterangan yang putri saya jelaskan. Pesepeda motor itu melaju dengan kecepatan tinggi dari arah sebelah kiri ketika putri saya hendak menyeberang. Mungkin karena syok, pria itu melakukan pengereman mendadak sehingga membuat keseimbangannya terganggu. Kemudian dia terjatuh dan terpelanting ke bahu jalan." Ucap Hasan, mencoba untuk menceritakan kronologi kejadian tersebut kepada sang dokter.
"Jadi pria itu bukanlah anggota keluarga kalian ya."
"Bukan dok. Bahkan kami tidak mengenalnya."
"Baiklah, nanti saya akan menyuruh perawat untuk mengecek identitas pria tersebut. Agar kita bisa mengetahui identitasnya."
"Ini saya akan menginformasikan tentang keadaan pria itu. Dia tidak mengalami luka serius. Dia hanya tergores di bagian pelipisnya. Sekarang ini juga dia sudah sadar dan sedang ditangani oleh perawat. Untuk informasi tentang dia. Selebihnya tanyakan langsung kepada pria itu sendiri. Karena kecelakaan itu berkaitan dengan kalian kan." ujar sang dokter.
"Baik dokter. Saya akan berkomunikasi dengan dia langsung."
__ADS_1
Setelah bicara dengan dokter. Hasan kemudian menyuruh Fatimah untuk menunggu di sebuah koridor yang ada di rumah sakit.
Dan Hasan berpesan kepada Fatimah untuk sebaiknya ia tidak banyak bicara untuk urusan kecelakaan itu.
Karena Hasan yang akan mengurusinya.
Hasan kemudian mendatangi Ali yang saat ini sudah siuman dari pingsannya. Yang saat ini masih berada di ruang UGD.
Ketika Hasan tiba, kepala Ali sudah diperban.
"Assalamu'alaikum" sapa Hasan pada Ali.
"Bagaimana keadaan mu. Apa ada yang dirasa sakit?" tanya Hasan pada Ali.
"Saya lupa di bagian kepala. Kepala saat masih terasa pusing. Maaf anda siapa ya? Apa anda yang menolong saya." tanya Ali balik.
__ADS_1
"Kenalkan aku Hasan. Aku ayah dari Fatimah. Putri ku yang hampir saja kamu tabrak. Jika putri ku yang salah dan membuat kamu terluka seperti saat ini. Aku minta maaf. Saya akan bertanggung jawab untuk semua biaya pengobatan mu." ucap Hasan.
"Oh, kejadian itu hanya sebuah kecelakaan. Saya juga salah. Karena melaju dengan kecepatan tinggi. Apa putri bapak terluka? Soalnya saya sudah tidak ingat apa apa setelah kejadian itu." tutur Ali.
"Putri ku tidak terluka sedikitpun. Justru ia sangat mengkhawatirkan kamu. Boleh tau siapa nama mu?" tanya Hasan."
"Nama saya Ali."
"Ali, kamu tinggal dimana? Soalnya tadi dokter menanyakan tentang kamu. Mungkin sekarang kamu bisa hubungi keluarga mu. Agar mereka tau." ucap Hasan memberi saran.
"Tidak, jangan kasih tau orang tua saya. Saya tidak apa apa ko. Luka saya tidak serius. Setelah ini juga saya bisa kembali balik pulang. Terimakasih sudah membawa saya kemari." ucap Ali berterimakasih pada Hasan.
"Keadaan mu belum stabil jika kamu mau memaksakan untuk mengendarai motor lagi. Jika memang kamu sudah di perbolehkan untuk pulang. Biar saya yang antar kan nak Ali pulang ke rumah." Hasan nampak menawarkan pilihan.
"Tidak, tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri. Jika tak memungkinkan naik motor. Saya bisa pulang dengan taksi. Oya, bagaimana dengan barang barang saya. Apa semua aman."
__ADS_1
"Barang barang nak Ali ada sama saya. Semua sudah saya amankan." Hasan kemudian memberikan kembali barang barang milik Ali yang sudah ia amankan.
"Terimakasih."