
Setelah menunggu sekian lama, pada akhirnya Ali dan Fatimah pun menikah.
Atas kemauan Fatimah dan juga Ali. Mereka ingin pernikahannya digelar dengan secara sederhana. Mereka tidak ingin pernikahan mereka di selenggarakan secara mewah seperti pada orang-orang pada umumnya. Meskipun mereka mampu untuk melakukan itu itu.
Baik kedua orang tua mereka pun menyetujui keinginan anak-anak mereka.
Aura kebahagiaan tanpak terpancar dari wajah Ali. Sebagai seseorang yang sebentar lagi akan menjadi seorang suami dari seorang wanita yang secara singkat dia kenal lalu ia berkeinginan untuk menikahinya, yaitu Fatimah.
Si hadapan orang tua Fatimah, Hasan. Ali mengucapkan akad tersebut.
Dengan mengucapkannya secara fasih dan lancar. Ali dengan lancar mengucap Ahad tersebut.
Dan pada hari itu akhirnya Fatimah dan juga ahli telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Aura kelegaan pun juga terlihat jelas di wajah kedua orang tua mereka. Prasetya dan Hanin selalu orang tua Ali. Dan Zaenab serta Hasan sebagai orang tua Fatimah.
__ADS_1
Sesuaikan perjanjian yang telah di sepakati. Setelah menikah, Ali memang tidak langsung akan tinggal di rumah mereka sendiri. Padahal Prasetya sudah membeli rumah baru untuk putranya tersebut.
Tapi, Ali sendiri yang berkeinginan lain
Ali ingin mempersembahkan rumah untuk kehidupan rumah tangganya dari hasil keringatnya sendiri. Dan Ali memang sangat teguh pendirian untuk mewujudkan itu. Untuk membuktikan jika ia mampu bisa menafkahi Fatimah dengan caranya sendiri. Tidak tergantung pada pemberian orang tuanya.
Maka untuk sementara, Ali memboyong Fatimah untuk tinggal bersama keluarganya.
"Jadilah istri yang baik ya sayang. Taati lah pada suamimu. Karena kamu sekarang sudah punya imam. Dan nurut sama suami mu. Jangan melawannya, dan patuh lah padanya." ucap Zaenab, memberikan pesan kepada Fatimah ketika seusai mereka hendak berpisah pada hari itu.
"Iya Bunda. Saya insyaallah Fatimah akan menjadi seorang istri yang baik. Dan juga amanah." ucap Fatimah, dengan meneteskan air matanya. Fatimah merasakan sedikit rasa kesedihan saat harus berpisah dengan ke-dua orang tuanya. Terutama sang bunda. Kemudian banak dan Ibu pun saling berpelukan.
Bagi Fatimah, Hasan bukanlah sekedar seorang ayah biasa. Tapi, bagi Fatimah, Hasan adalah cinta pertamanya. Seorang ayah yang penyayang, penyabar dan selalu menyayanginya.
Setelah acara pamitan tersebut. Ali yang juga saat itu pamitan kepada mertuanya langsung membawa Fatimah untuk diajak pergi ke rumahnya.
__ADS_1
Untuk tinggal sementara bersama kedua orang tuanya Hanin dan Prasetya.
Saat itu Ali, Fatimah, Prasetya dan juga Hanin berada di dalam satu mobil ketika mereka menuju pulang ke rumah.
Ali dan Fatimah nampak duduk di kursi belakang. Mereka masih sedikit malu-malu meskipun kini mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.
"Fatimah, kalau ada apa-apa, nanti kalau sudah sampai di rumah. Jangan malu untuk bertanya atau apapun di rumah ya. Karena semenjak kamu menikah dengan Ali, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami." ucap Hanin kepada Fatimah.
Berpesan agar Fatimah tidak usah merasa tidak enak jika nanti ia sudah berada di rumah dari orang tuanya Ali.
"Iya Bunda." sahut Fatimah yang saat itu juga memanggil Hanin dengan sebutan Bunda, seperti ia memanggil Zainab ibu nya.
Ali tampak menegang di tempat duduknya. Sejauh ini, ia masih belum pernah bermesraan dengan seorang wanita. Dan sekarang situasinya berbeda.
Kini ia memiliki istri dan ia bebas untuk melakukan apa saja terhadap wanita yang ada di sampingnya itu. Karena ia telah menjadi istrinya.
__ADS_1
"Ayah pesan, jadilah suami yang baik seperti apa yang sudah Ayah katakan sama kamu. Jangan pernah menyakiti wanita. Karena itu tidak akan membuat seorang laki-laki bermartabat. Seseorang laki-laki yang bermartabat dan juga baik sikap dan tingkah lakunya adalah yang baik pada istrinya. Ayah yakin kalian akan bisa menjalani pernikahan yang sakinah mawadah warohmah.
"Aamiin." ucap Ali mengaminkan ucapan orang tuanya.