Assalamualaikum Ya Fatimah

Assalamualaikum Ya Fatimah
Saling setuju


__ADS_3

Ali merasa bahagia dan juga begitu deg-degan ketika ternyata niatan taarufnya dengan Fatimah diterima dengan baik oleh keluarga Fatimah.


Bahkan Hasan, selaku Ayah Fatimah terkesan sangat menyetujui apa yang sudah diniatkan oleh Ali.


Ali merasa, keluarga Fatimah sudah menyetujui. Semua itu bisa di liat dari bagaimana raut wajah Hasan ketika menyampaikan kesediaan Fatimah untuk menjalani ta'aruf dengannya.


Mendengar kabar yang meyakinkan itu membuat Ali kemudian memberitahukan hal tersebut kepada kedua orang tuanya.


Tiga hari setelah itu, Prasetya mengajak Hanin bersama dengan Ali dan juga salah satu kerabat mereka yang seorang ustad menyambangi rumah Hasan. Untuk bersilaturahmi sekaligus untuk melakukan musyawarah mengenai anak-anak mereka. Dan semuanya pun berjalan lancar.


Ketika Prasetya mengajak keluarganya, beserta Ali dan beberapa kerabatnya menuju ke rumah Hasan, dan musyawarahkan. Semua yang mereka ingin telah di sepakati bersama. Semuanya ternyata disambut dengan baik dan juga disetujui oleh kedua belah pihak.

__ADS_1


Bahkan pada saat itu Fatimah juga berada di sana duduk ke persis di tengah-tengah kedua orang tuanya. Dengan wajah tertunduk dan tetap mengenakan cadarnya. Fatimah duduk berseberangan dengan Ali. Yang di mana Ali juga didampingi oleh Hanin dan Prasetya pada hari itu.


Mereka dilakukan musyawarah sampai mereka semua saling menyetujui beberapa poin penting untuk menuju ke ikatan yang lebih serius di antara Ali dan juga Fatimah.


"Karena kita semua sudah setuju dan sepakat dengan apa yang sudah kita bicarakan. Bolehkah saya menanyakan sesuatu kepada nak Ali?" ucap Hasan, dan kemudian membuat Ali melayangkan pandangannya kepada Hasan.


"Tentu saja boleh paman. Silakan menanyakan apapun yang ingin yang ingin Paman tanyakan." ucap Ali.


"Karena Ali punya niatan untuk menikahi putri saya. Saya menanyakan apakah kamu sudah siap untuk menafkahi putri saya secara lahir dan batin." ucap Hasan kepada Ali.


"Saya siap, saya siap untuk bisa memberikan nafkah kepada Fatimah. Dan untuk pekerjaan. Sebagai mata pencaharian yang harus saya miliki saya sudah memulai bekerja di perusahaan ayah saya. Setelah itu saya juga punya niatan untuk membuka bisnis sendiri. Sebagai bukti jika saya sudah siap untuk menekuni dunia kerja. Sebagai usaha saya untuk memberikan nafkah kepada Fatimah kedepannya nanti."

__ADS_1


"Baiklah, hanya itu yang saya tanyakan. Karena saya tidak ingin anak saya disia-siakan. Karena saya sebagai orang tua sangat menyayangi Fatimah. Saat Fatimah masih bersama kami. Dia benar-benar kami jaga dengan baik, kami rawat dengan baik, dan kami hargai dengan baik. Di saat peralihan tanggung jawab itu beralih kepada dirimu. Maka aku berhak untuk bertanyakan ini padamu. Karena kamu sudah menjawab. Maka sudah tidak ada kekhawatiran bagi saya untuk melepaskan anak saya kepada dirimu." Ujar Hasan.


"Saya akan menjaga amanah itu Paman." jawab Ali.


Karena semua sudah saling setuju. Selang tiga bulan ke depan Fatimah dan juga Ali sudah dijadwalkan untuk ditentukan tanggal pernikahan mereka.


Dan untuk acara resepsi semua akan di atur oleh pihak laki-laki.


Sebagai pihak laki-laki, maka pihak keluarga adalah yang akan mengurusi semuanya.


Setelah musyawarah pada malam itu sama-sama dilakukan dan sama-sama disetuju kedua belah pihak Ali dan Fatimah kemudian saling bertukar nomor telepon nomor ponsel. Untuk memudahkan mereka berkomunikasi.

__ADS_1


Dan itulah babak pertama dan awal awal Ali dan Fatimah bisa saling berkomunikasi.


__ADS_2